SophiaIlona: Ivory & Ebony

Berbeda itulah yang semakin saya sadari bila melihat sosok dua gadis mungil saya Sophia dan Ilona. Memang seharusnya begitu.  Tidak ada anak yang sama.  Bila ada saya yakin itu hanyalah keinginan orang tua semata.  Keinginan untuk tetap berada pada zona nyaman. Sama seperti keinginan saya sebelum Ilona lahir.  Keinginan karena kekawatiran tidak bisa menerima satu perbedaan, kekawatiran bahwa sulit memberika perlakuan adil terhadap mereka.  Dan ternyata begitu semua ini berjalan, kekawatiran itu pupus juga.  Karena kekawatiran ini muncul bila saya terfokus pada perbedaan mereka, bukan pada kehebatan dan kelebihan yang mereka punya.

Telinga saya tergolong tipis bila mendengarkan betapa banyak saudara dan rekan yang selalu mengangkat topik perbedaan ini.  Meski perbincangan ini membawa kesenangan, namun akanlah sesaat.  Sisanya akan menjadi ajang persaingan dan olokan bagi yang dibandingkan. Satu masa yang tidak adil.  Saya lebih suka mereka ditunjukkan kelebihan yang mereka punyai untuk bisa dikembangkan menjadi satu kekuatan diri.  Juga, di perlihatkan kelemahan mereka untuk bisa saling di bantu dan dijaga.  Mereka adalah team.  Team yang hebat adalah yang bisa saling berkolaborasi bukan saling menggali jurang perbedaan diantara mereka.[…….]

Continue Reading

You may also like

Pinastikha Ilona Arhimbi Namaku

Lebih awal, begitulah pertemuan pertama aku dengan ayah bundaku.  Meski telah dua kali jadwal kelahiran berubah ternyata aku sendirilah yang lebih tidak sabar. Aku ingin menemui mereka lebih awal 2 hari dari hari yang ditentukan di tanggal 8 Desember 2012 pukul 07.05.  Memang ayah dan bunda telah merencanakan kelahiran ini dengan matang termasuk memilih tanggalnya.  Selain itu pengalaman dengan kehamilan pertama serasa akan memudahkan prosesnya.  Namun rupanya kehendak Allah berbicara lain.  Aku tidak lahir di tanggal 21/12 ataupun tanggal 10/12 namun dipagi hari karena ketuban Bunda lebih dahulu pecah di tanggal 8 Desember itu.

Karena perubahan jadwal melahirkan yang maju 2 minggu (mengingat operasi caesar) pilihan untukku lahir di tanggal 21 Desember di hari jumat yang sama dengan tanggal dan hari kelahiran bunda dibatalkan.  Tanggal 10 Desember menjadi pilihan karena merupakan hari baik menurut kakek sesuai kalender Jawa. Bundapun kebingungan dengan jadwal ini karena baru tanggal 10 Cuti dan belum mempersiapkan segala perlengkapan kelahiranku.  Hingga diputuskan mempercepat cuti di tanggal 7 Desember untuk mempersiapkan keperluan ini.  Bisa jadi percepatan ini karena Bunda capek dengan beban kerja selama seminggu ataupun karena persiapan ini di hari jum’at.  Tapi ayah percaya ini semua karena kehendak Allah.  Karena Allah menjawab doa Ayah untuk mempunyai anak kedua yang tegar yang akan menjadi pemimpin yang akan memberikan teladan dan melengkapi hal-hal positif yang dimiliki kakak Sophia.  Yang akan menjadikan keluarga kami saling terikat dalam cinta kasih.

[…….]

Continue Reading

You may also like