<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SamRoads - It&#039;s Just Some Inspiration In My Private Roads &#187; Celoteh Sophie</title>
	<atom:link href="http://samroads.be-samyono.com/category/celoteh-sophie/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://samroads.be-samyono.com</link>
	<description>private, journey, words, thinking, jurnal, baby, renungan, pengalaman, sophie, perjalanan, kata, inspirasi, opini, catatan, pribadi, pemikiran, oppinion, kinanthi, ayah bunda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Apr 2010 09:36:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.3</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Rayuan Pagi</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/20/rayuan-pagi/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/20/rayuan-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 09:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pagi itu aku sudah mandi dan bersiap, seperti biasa aku akan mengantar ayah dan bunda kerja sebelum ikut abang Dika sekolah di PAUDnya.  Kelasku sendiri baru akan mulai Juli nanti rasanya tak sabar bila harus menunggu. Ikut kelas abang Dika sedikit banyak bisa menghiburku.  Kulihat pagi ini Bunda telah rapi namun ayah tak pergi bersama Bunda kali ini karena ayah ada pekerjaan di Papua.  Dua hari lagi Ayah akan kembali dan aku telah berpesan untuk membawakanku buku tempel kegemaranku belakangan ini.</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Jerapah" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG00023-20100227-1203.jpg" alt="" width="270" height="360" /></p>

<p style="text-align: justify;">"Bunda nanti aku antar-antar kerja yah" kataku di ruang keluarga.
"Iyah cantik ... duh baik hati sekali kamu" Ujar Bunda menyambut hangat tawaranku. akupun segera berlari masuk kamar untuk mengambil sesuatu.  Kuhampiri kembali Bunda, [........] ,</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (20042010.15.17)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi itu aku sudah mandi dan bersiap, seperti biasa aku akan mengantar ayah dan bunda kerja sebelum ikut abang Dika sekolah di PAUDnya.  Kelasku sendiri baru akan mulai Juli nanti rasanya tak sabar bila harus menunggu. Ikut kelas abang Dika sedikit banyak bisa menghiburku.  Kulihat pagi ini Bunda telah rapi namun ayah tak pergi bersama Bunda kali ini karena ayah ada pekerjaan di Papua.  Dua hari lagi Ayah akan kembali dan aku telah berpesan untuk membawakanku buku tempel kegemaranku belakangan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Jerapah" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG00023-20100227-1203.jpg" alt="" width="270" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bunda nanti aku antar-antar kerja yah&#8221; kataku di ruang keluarga.<br />
&#8220;Iyah cantik &#8230; duh baik hati sekali kamu&#8221; Ujar Bunda menyambut hangat tawaranku. akupun segera berlari masuk kamar untuk mengambil sesuatu.  Kuhampiri kembali Bunda,<br />
&#8220;Bunda aku mau buku ini yah&#8221; Pintaku sembari menyodorkan buku tempel berisi gambar-gambar dinosaurus, &#8220;dibuka, boleh tak?&#8221;<br />
&#8220;Loh katanya, nanti dibuka kalau ada ayah,&#8221;Ujar bunda sembari mengingatkanku, &#8220;nanti saja yah, khan mainnya bareng ayah supaya tempelnya benar.&#8221;<br />
&#8220;Iyah tapi aku mau dibuka sekarang,&#8221; Rayuku.<br />
&#8220;Trus nanti main apa dengan ayah kalau dibuka sekarang,&#8221; Bunda sepertinya tidak mengijinkan aku memainkan buku ini sendiri tanpa didampingi.  Karena seperti biasa aku akan menghabiskan semua tempelan dan menempelkannya di sembarang tempat dengan cepatnya.  Dalam sekejap!</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengalah, aku kembali berlari menaruh buku itu di lemari. sesegera itu aku keluar lagi menemui bunda.<br />
&#8220;Aku akan antar Bunda yah,&#8221; kembali aku menawarkan diri.<br />
&#8220;Iya sayang&#8221; Bunda meneima tawaranku sembari menuju kamar.<br />
&#8220;Bunda sepatunya aku bersihkan yah,&#8221; Kembali aku menawarkan diri begitu melihat sepatu bunda telah siap diluar namun belum dibersihkan.  Biasanya aku akan mencari tissue basah dan membersihkan sepatu ayah bila akan berangkat kerja.<br />
&#8220;Aduuuh kamu baik sekali, terima kasih sayang!&#8221; Ujar bunda menyambut.<br />
Segera kucari tissue basah dengan berlari kecil, mengelapnya dan membuang tissuenya di tempat sampah.  Bunda mengawasiku sambil tersenyum kecil.  Diciumnya aku sebagai rasa terima kasih. Kutinggalkan bunda di ruang tamu untuk masuk kamar mengambil sesuatu dan kembali menghampiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bunda &#8230;&#8221; Panggilku<br />
&#8220;Ya &#8230; sayang&#8221;<br />
&#8220;Sekarang Aku boleh buka buku tempel-tempel ini yah!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tawa Bunda dan kakek nenek pecah mendengar kegigihan dan rayuan pagiku ini.<br />
Ternyata Baby mungil ini telah tahu bagaimana merayu!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/20/rayuan-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anehnya Aku</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/26/anehnya-aku/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/26/anehnya-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 11:03:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beberapa waktu belakangan ini banyak orang yang merevisi pendapatnya mengenai aku.  Tak lagi mengatakan bahwa aku mirip ayah tapi justri sebaliknya Bundalah yang dominan mewariskan kecantikannya.  Ayah hanya menjulurkan lidahnya bila makin banyak yang berpendapat seperti ini dan Bunda terpingkal.  Bisa jadi benar yang mereka katakan.  Namun dibalik itu ternyata beberapa sikap dan sifatku lebih mirip dengan ayah.  Lihat caraku tidur, bengong dan kentut..ups hahaha. Bunda bilang ayah banget. Tidak itu saja kreatifitas dan keusilanku sangat Ayah banget, sampai sampai kakek-Nenek geleng geleng dibuatnya.  Namun ada yang sangat unik yang justru belakangan ini baru nampak di aku yang bisa dibilang aneh seperti:</p>
<p style="text-align: center;"></p>
<p style="text-align: center;"></p>

<p style="text-align: center;"><img class="alignnone" title="susu" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/P3070288.jpg" alt="" width="270" height="360" />
<span style="color: #ff6600;"> </span>

<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">
SUKA MUNTAH:</span>
Soal ini aku mirip banget dengan ayah apalagi kalau bukan soal makanan.  Bisa dibilang selera makan ayah adalah seleraku, bahkan acara makan ayah adalah cara makanku.  Aku suka makan makanan yang beragam, buah dan sayur yang tidak biasa Bunda makan.  Dan kebiasaanku untuk makan makanan tanpa kuah persis seperti Ayah.  Nasi goreng, terutama bubur adalah makanan yang tak ayah nikmati dan aku hindari.  Bila Ayah akan muntah bila saat kenyang lalu membaui makanan maka aku akan muntah bila melihat makanan bayi sebangsa bubur. Lah!  bukan itu saja aku akan sangat kelabakan dan muntah bila melihat muntahku sendiri atau melihat sisa susu di botol susuku.  waduh![.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (17032010-19.38)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa waktu belakangan ini banyak orang yang merevisi pendapatnya mengenai aku.  Tak lagi mengatakan bahwa aku mirip ayah tapi justri sebaliknya Bundalah yang dominan mewariskan kecantikannya.  Ayah hanya menjulurkan lidahnya bila makin banyak yang berpendapat seperti ini dan Bunda terpingkal.  Bisa jadi benar yang mereka katakan.  Namun dibalik itu ternyata beberapa sikap dan sifatku lebih mirip dengan ayah.  Lihat caraku tidur, bengong dan kentut..ups hahaha. Bunda bilang ayah banget. Tidak itu saja kreatifitas dan keusilanku sangat Ayah banget, sampai sampai kakek-Nenek geleng geleng dibuatnya.  Namun ada yang sangat unik yang justru belakangan ini baru nampak di aku yang bisa dibilang aneh seperti:</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone" title="susu" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/P3070288.jpg" alt="" width="270" height="360" /><br />
<span style="color: #ff6600;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><br />
SUKA MUNTAH:</span><br />
Soal ini aku mirip banget dengan ayah apalagi kalau bukan soal makanan.  Bisa dibilang selera makan ayah adalah seleraku, bahkan acara makan ayah adalah cara makanku.  Aku suka makan makanan yang beragam, buah dan sayur yang tidak biasa Bunda makan.  Dan kebiasaanku untuk makan makanan tanpa kuah persis seperti Ayah.  Nasi goreng, terutama bubur adalah makanan yang tak ayah nikmati dan aku hindari.  Bila Ayah akan muntah bila saat kenyang lalu membaui makanan maka aku akan muntah bila melihat makanan bayi sebangsa bubur. Lah!  bukan itu saja aku akan sangat kelabakan dan muntah bila melihat muntahku sendiri atau melihat sisa susu di botol susuku.  waduh!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SUKA JIJIK:</span><br />
Mungkin aku tak akan muntah namun aku akan merengek dan rewel atau menolak dengan  tegas bila berhadapan dengan sesuatu yang kotor.  Sandalku misalnya.  Bila jalan-jalan dan sandalku terkena air dan kotor aku akan langsung melepasnya dan minta gendong selama sandal itu belum bersih.  demikian juga dengan hal kotor lainnya. Aku akan langsung meneriakkan kata kotor.  Dan Ayah Bunda makin terheran saat aku tak mau menginjakkan kakiku ke pasir pantai dangan satu alasan: KOTOR!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SUKA MENCUBIT:</span><br />
Aku tahu Ayah Bunda tak mengijinkan dan sangat tak menyukainya.  Namun aku gemar sekali mencubit mbak Enny pembantu di rumah.  kadang dengan usilnya aku pura-pura mendekatinya dan mulai mencubit saat lengat.  Cubitankupun tak tanggung-tanggung kecil dan sakit.  Utamanya ini aku lakukan saat geregetan.  Ayah Bunda tahu prilakuku ini adalah dampak dari contoh tak baik yang dilakukan teman-temanku. yah mungkin aku harus bisa mengerti kalau hal ini memang tidak diperbolehkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SUKA CENGENG:</span><br />
Hingga umur 1,5 tahun aku bukanlah bayi yang suka menagis namun entah belakangan ini begitu banyak hal membuat aku merengek dan berujung tangisan meski masih terkendali.  Namun perubahan ini membuat Ayah tak sabar dan Bundapun kebingungan.  Semuanya menjadi serba salah. Ayah menyesalkan lingkungan rumah yang suka menggoda aku hanya untuk keisengan supaya aku merengek.  Dan alih-alih ini menjadi satu kebiasaan dan aku terima secara negatif.  Ayah benar benar menyesalkan hal ini.  Terlebih bila ada yang mulai menakut-nakuti aku.   Aku tahu ayah ingin sekali aku menjadi pribadi yang tegar dan mandiri.<br />
<span style="color: #ff6600;"><br />
SUKA AIR:</span><br />
Berenang utamanya.  Tak tanggung-tanggung aku kurang begitu meyukai berenang di air dangkal. Aku lebih suka dibawa Ayah di tempat yang dalam. Kolam air dingin taupun air panas tak masalah aku akan selalu semangat dan enggan untuk keluar air.  Pernah satu hari saat ayah menyiram halaman aku semangat untuk main air di ember besar.  Saat aku slip seluruh badanku masuk air dengan kepala dulu.  Untung Ayah cepat tanggap menolongku.  Tapi semua ini tidak membuatku takut air.<br />
<span style="color: #ff6600;"><br />
SUKA BERES-BERES:</span><br />
Kewajiban pertamaku bila bermain adalah membereskannya. hal ini sejak setahun lalu selalu Ayah Bunda ajarkan. Hingga kini akupun masih konsisten dengan hal itu meski aku kadang suka berpura-pura enggan untuk melakukannya.  Dan sepertinya aku lebih suka mendapat pujian sebagai anak pintar daripada mengabaikan kewajiban ini.  terutama membereskan buku-buku kesukaannku.  jadi aku tahu pasti dimana pensil, pena ataupun buku disimpan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SUKA BERCERMIN:</span><br />
Cermin bagiku sesuatu yang menarik.  Aku suka sekali bercermin. Bukan saja saat berdandan atau berpakaian. saat membaca ataupun bermain sesekali aku pergi ke kamar hanya sekedar untuk bercermin.  Tapi jangan salah aku tak suka mendandani rambutku.  Kucir, jepit akh ..no way!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">JAGO OMONG:</span><br />
Bukan aku kalau gak punya kata-kata bila harus berargumen atau berkomunikasi. Berbekal kefasihanku bicara rasanya semua omonganku hanaya akan bikin gemas orang-orang sekitarku.  Untuk ini memang bisa dibilang ayah banget hahahaha.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayah Bunda mengerti sekali bahwa setiap fase pertumbuhanku akan mengalami berbagai perubahan dan ketidak konsistenan.  Mungkin ada fase dimala aku perlu perhatian, mencari jatidiri ataupun ingin menunjukkan eksistensi.  Meski kawatir dengan beberapa perubahanku namun Ayah Bunda mencoba untuk berfikir positif dan berupaya membawaku pada hal yang semestinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Moga ini bisa membawaku ada pertumbuhan yang tepat dan terarah yah.<br />
<span style="color: #ff6600;">Semoga.</span></p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 60px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden; text-align: center;">http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/P3070288.jpg<img class="aligncenter" title="susu" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/P3070288.jpg" alt="" width="450" height="600" /></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/26/anehnya-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obsesi Sophie</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/18/obsesi-sophie/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/18/obsesi-sophie/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 10:24:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku tidak hanya menginginkannya, lebih dari akan mengucapkannya hampir setiap hari. Ya ... aku ingin SEKOLAH! kata sekolah seperti kata ajaib di telingaku.  membuatku bersemangat bangun pagi bahkan melecutku untuk mengerjakan ini dan itu.  Kulihat Bunda beberapa kali survey play group bahkan beberapa telah aku coba free trialnya.  Namun sepertinya ada yang tidak membuat Bunda berkenan.  Tidak saja kurikulumnya tapi juga fee-nya yang kadang membuat dahi mengernyit.  Kuingat bunda menjanjikan aku sekolah kalau aku sudah 2 tahun.  Dan di ulang tahunku yang kedua Bunda benar-benar menepatinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="rebah" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2307.jpg" alt="" width="383" height="256" /></p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari Bunda mendiskusikan masalah sekolah ini dengan ayah.  Sepertinya Ayah menginginkan agar aku sekolah di lembaga formal dengan pemikiran tidak saja kebutuhan sekolahku terpenuhi tapi juga kedisiplinanku bisa diasah.  Dan kembali pertimbangan geografis menjadi penentu pemilihan sekolah nantinya mengingat faktor kemacetan dan transportasi begitu dominan menjadi pemikiran di Jakarta.  Gugurlah sudah alternatif untuk menyekolahkanku di Gymboree atau Tumbletooth. [.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (17032010-18.40)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak hanya menginginkannya, lebih dari akan mengucapkannya hampir setiap hari. Ya &#8230; aku ingin SEKOLAH! kata sekolah seperti kata ajaib di telingaku.  membuatku bersemangat bangun pagi bahkan melecutku untuk mengerjakan ini dan itu.  Kulihat Bunda beberapa kali survey play group bahkan beberapa telah aku coba free trialnya.  Namun sepertinya ada yang tidak membuat Bunda berkenan.  Tidak saja kurikulumnya tapi juga fee-nya yang kadang membuat dahi mengernyit.  Kuingat bunda menjanjikan aku sekolah kalau aku sudah 2 tahun.  Dan di ulang tahunku yang kedua Bunda benar-benar menepatinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="rebah" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2307.jpg" alt="" width="383" height="256" /></p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari Bunda mendiskusikan masalah sekolah ini dengan ayah.  Sepertinya Ayah menginginkan agar aku sekolah di lembaga formal dengan pemikiran tidak saja kebutuhan sekolahku terpenuhi tapi juga kedisiplinanku bisa diasah.  Dan kembali pertimbangan geografis menjadi penentu pemilihan sekolah nantinya mengingat faktor kemacetan dan transportasi begitu dominan menjadi pemikiran di Jakarta.  Gugurlah sudah alternatif untuk menyekolahkanku di Gymboree atau Tumbletooth.  Meskipun keduanya cukup dekat dengan rumah tapi keduanya bukanlah sekolah formal. Pilihan di persempit dengan mengambil alternatif Al Azhar  Kemandoran atau Stella Duece di daerah yang sama.  Ayah dan ibu mengakui bahwa sekolah katolik mempunyai kurikulum yang handal, karena dulu ayahpun kuliah di Universitas Kristen dan Katolik.  Namun ternyata Ayah meminta Bunda untuk memilih Al Azhar.  Alasannya sederhana.  Ayah dan Bunda ingin memberikan dasar yang kuat bagi keimananku serta akhlakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah senangnya aku terlebih akhir Februari lalu dibuka pendaftaran tingkat toddler untuk masuk bulan Juli.  Setiap kali mengurus administrasi Ayah dan Bunda selalu mengajakku.  Tak kusiakan waktu ini untuk berkeliling, mencoba semua mainan yang ada, dan bermain sepuasnya.  Kulihat begitu banyak mainan, alat peraga, kelas bahkan kolam renang! Ayah Bunda tahu aku sudah tak sabar untuk masuk namun bagaimanapun aku tetap harus bersabar untuk bulan Juli nanti.  Selain itu Bunda bilang, aku akan bisa sekolah disini kalau lulus observasi. Oh&#8230;.aku baru 2 tahun harus ditest untuk masuk toddler? yang benar saja.  Ah aku tak takut.  ayah Bunda, Tante Nung dan semua sudah mengajari aku.  Aku yakin bakal lolos seleksi nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat waktu observasi tiba. Aku bangun begitu pagi karena tak sabar untuk segera masuk sekolah.  Namun ternyata Ada surat keterangan dokter untuk pendaftaran  yang harus diurus jadi kami ke rumah sakit dahulu sebelum kesekolah.  Akibatnya aku keburu lelah.  Sampai di Sekolah sudah jam 11.30 semua pendaftar sudah diobservasi dan tinggal guru-guru saja yang ada di kelas. Bunda menggendongku masuk kelas ditemani Tante Nung dan Ayah. Akh hebohlah kelas karena aku tak mau dibangunkan.  Ruangan ber ac dan tempat tidur dalam kelas yang penuh boneka membuatku makin nyenyak.  Ayah Bunda kelabakan membangunkanku.  Guru-guru memberi kelonggaran untuk kembali minggu depan.  Tapi Ayah tolak karena akan sulit mengantar aku di waktu hari kerja.  Akhirnya Ayah ada ide untuk mebangunkanku di kolam renang kesukaanku.  Walaupun ide ayah kliru karena ternyata begitu kami keluar kolam renangnya dikuras!  Dengan sedikit berupaya akhirnya aku bisa bangun meskipun seperti tak sadarkan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat observasipun menit menit pertama responku sangat lamban dan suaraku hampir gak kedengaran.  Ayah melihatku dengan putus asa. beberapa pertanyaan seperti masuk telinga kanan dan kluar telingan kiriku dengan tatapan kosong.  Sungguh aku masih ngantuk!  Namun Test tetap berjalan namun entah kenapa tiba-tiba aku terbangun begitu melihat banyaknya boneka dan mainan.  pertanyaan-pertanyaan beberapa gurupun dengan gampang aku selesaikan dan ujian-ujian kecil terasa terlalu mudah untukku. Kuliahat wajah Ayah Bunda berbinar.  Dan beberapa guru jadi terbahak karena aku malah menanyakan ini dan itu pada mereka.  Bahkan ada yang menyeletuk agar aku dimasukkan TK A saja. Ah!  saat pulang aku mendapat oleh-oleh payung serta beberapa balon yang akan aku bagikan buat abang Dika. Sampai-sampai Bunda menggeleng &#8220;Duh baik bener nih anak&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Hore &#8230; akhirnya aku diterima Di Toddler Al Azhar.  Ayah Bunda mengerti bahwa aku gembira.  Mereka mengijinkanku untuk menggunakan pensil warna, crayon dan buku-buku untuk aku corat-coret yang memang sudah Bunda siapkan jauh hari sebelumnya dan aku simpan di lemariku.  Ayahpun sudah membelikanku tas elmo warna merah. Wah semangatnya aku.  Meski masih 4 bulan lagi tapi aku tak surut semangat.  Bunda Janji akan membawaku ke sekolah untuk pengenalan dan bermain yang memang diijinkan oleh sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kudengar suatu malam Ayah Bunda bercakap.<br />
&#8220;Gak sangka Sophie begitu semangatnya sekolah, walau sebenarnya tanpa sekolah pembekalan dia dirumah cukup terpenuhi&#8221;<br />
Ayah tersenyum mendengar penuturan Bunda.  Ayah tahu bagaimana aku didik di lingkungan rumah ini sudah lebih dari cukup.<br />
&#8220;Yah mungkin dia memang harus kenal dunia luar dan teman-teman sebaya ya Yah?&#8221;<br />
&#8220;Benar &#8230; supaya pikirannya tidak <span style="color: #ff6600;">&#8220;TERLALU TUA&#8221;</span> seperti sekarang&#8221;.<br />
&#8220;Hahahhaha &#8230;&#8221;, Bunda terbahak dan membenarkan.  Lingkungan ini membentukku menjadi sangat mature untuk anak seusiaku.  Membuatku seringkali berfikir dan berbuat terlalu dewasa untuk usiaku,  seperti mempersilahkan orang untuk ini dan itu, memberi alternatif dan lainnya.  Rupanya memang Ayah Bunda tak ingin aku kehilangan masa anak-anakku dan tak ingin aku jadi <span style="color: #ff6600;">BABY TUWIR.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/18/obsesi-sophie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2 Januariku (catatan ayah)</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/03/2-januariku-catatan-ayah/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/03/2-januariku-catatan-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 18:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tak ada keajaiban bagi saya selain melihat Sophie tumbuh dengan segala kebisaannya serta berkembang dengan segala sifat dan raga yang mencerminkan paduan antara saya dan bundanya.  Bundanyalah yang mengisi ragawinya dengan kecantikan, kulit putih dan daya tahan tubuh yang luar biasa.  Sementara banyak sifat dirinya yang merefleksikan sifat kecil saya seperti banyak omong, keras kepala, sensitif, smart dan amat sangat kreatif.  Paduan yang membuat kami sebagai orang tua tak perlu lagi memperebutkan kehakikian kemiripannya dengan kami.  Karena bagaimanapun kehadiran dia di sisi kami sudah lebih dari kata rahmat yang harus kami syukuri dan kami pertanggungjawabkan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="tiup" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_1779.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tepat 2 januari kemarin genap 2 tahun usia Sophie.  Seperti tahun lalu, ulang tahunnyapun diadakan di Jogja dan Jakarta.  Bedanya tahun lalu ulang tahun di Yogya harus di dahului dengan sakit panas karena tumbuh gigi,  semeantara kali ini ulang tahun di Jakarta justru yang harus diundur karena sophie kelelahan selama roadshow pulang kampung dan tertularnya virus yang menyerupai cacar air selama 3 hari [.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (02022010-20.49) </span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tak ada keajaiban bagi saya selain melihat Sophie tumbuh dengan segala kebisaannya serta berkembang dengan segala sifat dan raga yang mencerminkan paduan antara saya dan bundanya.  Bundanyalah yang mengisi ragawinya dengan kecantikan, kulit putih dan daya tahan tubuh yang luar biasa.  Sementara banyak sifat dirinya yang merefleksikan sifat kecil saya seperti banyak omong, keras kepala, sensitif, smart dan amat sangat kreatif.  Paduan yang membuat kami sebagai orang tua tak perlu lagi memperebutkan kehakikian kemiripannya dengan kami.  Karena bagaimanapun kehadiran dia di sisi kami sudah lebih dari kata rahmat yang harus kami syukuri dan kami pertanggungjawabkan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="tiup" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_1779.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tepat 2 januari kemarin genap 2 tahun usia Sophie.  Seperti tahun lalu, ulang tahunnyapun diadakan di Jogja dan Jakarta.  Bedanya tahun lalu ulang tahun di Yogya harus di dahului dengan sakit panas karena tumbuh gigi,  semeantara kali ini ulang tahun di Jakarta justru yang harus diundur karena sophie kelelahan selama roadshow pulang kampung dan tertularnya virus yang menyerupai cacar air selama 3 hari.  Meski Sophie sangat antusias untuk menyambut acara tiup lilinnya namun dengan terpaksa saya meminta bundanya untuk memundurkan acara.  Karena bagaimanapun saya ingin Sophie bisa nyaman dan menikmati acaranya sendiri dan bukan menuruti keingina keluarganya semata.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak dapat dipungkiri usia 2 tahun sophie merupakan waktu yang menjungkir balikkan kesabaran dan emosi saya sebagai orang tua dalam mendidiknya.  Jika sebelumnya saya cukup tenang bagai memainkan layang-layang dengan kendali ditangan, kini semuanya serba labil.  Tak hanya layang-layang itu sendiri yang sudah punya kemauan namun anginpun memberi kemungkinan bergoyang.  Kini Sophie bukan lagi baby yang bisa  digendong dan di arahkan kemana kita mau.  Adanya keinginan, kemauan dan segala akal serta upayanya membuat semuanya harus di negosiasikan dan dikomunikasikan dengan tepat.  Bukan itu saja pengaruh lingkungan dan keluarga dalam rumah sangat memberi andil yang cukup besar bagi pertumbuhan dan daya nalarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin sesal saya dialami juga oleh hampir semua orang tua.  Kondisi kerja, lingkungan kota dan aktifitas membuat kita sebagai orang tua tidak bisa lagi mendidik dan merawatnya selama 24 jam penuh.  Tanggung jawab itu dengan terpaksa harus terbagikan.  Mungkin kami beruntung karena Kakek-Nenek Sophie cukup sehat dan mampu untuk mengambil tanggung jawab itu.  Namun bagaimanapun kondisi ini cukup berat karena kembali pola asuh dan pendidikannya di rumah harus dikompromikan dengan cara-cara orang tua kita yang bisa jadi kurang tepat untuk masa sekarang. Saya sendiri sadar bukanlah pendidik yang sempurna untuk Sophie.  Saya hanya selalu berusaha menyempurnakan di tengah keterbatasan saya dan Bunda Sophiepun tak kurang berupaya juga mendukung pola asuh yang kami sepakati.  Kami tak ingin timpang dan bersebrangan dalam menerapkan policy bagi Sophie.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih segar dalam ingatan saya bagaimana saya mengajari Sophie untuk tidak takut terhadap apapun, seperti  listrik mati, serangga, hantu atau hal-hal yang tak masuk akan lainnya.  Segalanya berjalan lancar namun belakangan ini kadang kala ketakutan itu muncul. Usut punya usut hal ini terjadi karena dia menirukan reaksi sepupunya yang selalu di takut-takuti apapun oleh orang tuanya untuk meredam kenakalannya.  Pun ketika kami mengajarkan dia untuk tidak memakai bahasa tangisan atau rengekan bila meminta sesuatu terlebih  dengan paksaan.  Semuanya berjalan lancar namun belakangan kami cukup dipusingkan dengan kecengengan Sophie.  Kembali usut punya usut ternyata dia suka digodain oleh orang rumah. Mungkin terbilang remeh seperti mau ditinggal pergi, digoda saat asyik nonton dan sebagainya.  Bisa dibilang lucu mendengar rengekan anak kecil namun amat sangat tidak lucu bila hal ini mengubah tabiatnya menjadi cengeng.  Kasihan nantinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sendiri cukup keras untuk mengajar Sophie mandiri dan Bundanyapun sepakat untuk itu.  Bahkan  di umur 2 tahun sophie tahu memilih baju dan memakainya, menyalakan DVD yang akan di tontonnya, menyikat gigi juga merapikan mainannya.  Saya pernah di protes bahwa ini &#8220;memperbudak&#8221; anak.  Namun saya bantah karena semua tindakan ini adalah untuk membentuk habit.  Bila semuanya terbiasa maka akan otomatis menjadi budaya positif. Bahkan harusnya orang tua bangga anak bisa mandiri tanpa tergantung pada siapapun.  Ternyata  hal ini kadang sulit dipertahankan karena rasa kasihan atau sayang dari orang rumah membuat dia harus diladenin terus menerus.  Akibatnya habitnya terbengkalai dan anak mulai tergantung pada orang tua.  Rasa sayang seharusnya justru akan memandirikan bukan menjerumuskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari itu semua kami belajar dan berfikir positif.  Dunia anak tidaklah selalu steril bisa orang tua kendalikan, justru keragaman pola asuh ini benar-benar jadi warna dan bisa dikomunikasikan ke anak hingga anak tahu mana yang tepat dan tidak untuk dirinya.  Pun mengenai prilaku anak, yakinilah bahwa anak harus diperkenalkan dengan berbagai macam hal, makanan dan aktifitas. Bisa jadi hari ini dia menolak namun usahakan untuk tak jera memperkenalkan dan mencobakan hal tersebut pada anak.  Saya hanya bisa berfikir logis saja bahwa masa-masa ini anak harus punya bekal, harus tahu banyak dan mencoba semua pengalaman hingga satu saat dia bisa tepat memilih untuk dirinya. Satu pilihan yang benar-benar dia inginkan hasil dari &#8220;pengalaman&#8221;nya, bukan karena ingin kita atau mau kita sebagai orang tua belaka.  Kembali harus disadari bahwa dia bersama kita, bukan untuk jadi milik kita &#8230; namun menjadi tanggung jawab kita untuk menjadikan dia seperti dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">&#8220;Anakku .. Tiada doa kami kecuali untuk harapan akan terbekati segala langkah dan pintamu, dan selalu tercukupkan bekal yang kami beri&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Amien!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/03/2-januariku-catatan-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayah Yang Aneh</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/01/11/ayah-yang-aneh/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/01/11/ayah-yang-aneh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 08:24:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ayah pernah bilang ke aku bahwa kami beruntung atas hadirnya Bunda.  Dan ayah selalu bilang bahwa dia berterima kasih kepada bunda yang bisa diandalkan dalam merawatku.  Tidak hanya tahu bagaimana merawat tapi juga punya strategi bagaimana mendidikku.  Cerita ayah, beliau sebenarnya tak berharap banyak akan kebisaan bunda ini mengingat betapa tomboy dan cueknya Bunda.  Hingga apa yang telah Bunda berikan kini bisa dikatakan sebagai hal luar biasa yang ayah dan aku terima.  Tak bisa dibayangkan bagaimana bila hanya ayah yang harus mengambil alih peran itu? aku yakin tak hanya berantakan tapi juga kekalangkabutan akan terjadi setiap harinya.  Bayangkan saja selama ini hanya sekali ayah mencebokiku.  Selebihnya ayah hanya bisa teriak memohon "Bundaaaaaa!" begitu aku bikin Creamy.  Pun kalau aku lagi sakit dan muntah, jangan harap bisa di bantu ayah. Karena ayah akan ikutan muntah dengan tidak kalah hebat.  Ayah benar-benar ayah yang aneh yah hahahaha.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="ngakak" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Senyum.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Apakah ayah memang benar-benar aneh seperti kataku? yaiyalah.  Kadang kakak, nenek atau tante suka geleng kepala melihat bagaimana cara ayah mengajakku bermain juga cara aku diajak belajar.  Pendek kata ayah mengajarku bermain dengan caranya sendiri.  Mungkin karena unik inilah aku lebih suka bermain dengan ayah daripada dengan bunda.  Ayah tak segan untuk bertingkah diluar nalar atau menirukan hal yang tak lazim untuk membuatku tertawa atau mengembangkan imajinasiku. Ayahpun jarang mencontohkan memainkan mainanku secara standart.  Biar kreatif begitulah dalihnya [........] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>By Be Samyono (29102009-11.14)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ayah pernah bilang ke aku bahwa kami beruntung atas hadirnya Bunda.  Dan ayah selalu bilang bahwa dia berterima kasih kepada bunda yang bisa diandalkan dalam merawatku.  Tidak hanya tahu bagaimana merawat tapi juga punya strategi bagaimana mendidikku.  Cerita ayah, beliau sebenarnya tak berharap banyak akan kebisaan bunda ini mengingat betapa tomboy dan cueknya Bunda.  Hingga apa yang telah Bunda berikan kini bisa dikatakan sebagai hal luar biasa yang ayah dan aku terima.  Tak bisa dibayangkan bagaimana bila hanya ayah yang harus mengambil alih peran itu? aku yakin tak hanya berantakan tapi juga kekalangkabutan akan terjadi setiap harinya.  Bayangkan saja selama ini hanya sekali ayah mencebokiku.  Selebihnya ayah hanya bisa teriak memohon &#8220;Bundaaaaaa!&#8221; begitu aku bikin Creamy.  Pun kalau aku lagi sakit dan muntah, jangan harap bisa di bantu ayah. Karena ayah akan ikutan muntah dengan tidak kalah hebat.  Ayah benar-benar ayah yang aneh yah hahahaha.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="ngakak" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Senyum.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Apakah ayah memang benar-benar aneh seperti kataku? yaiyalah.  Kadang kakak, nenek atau tante suka geleng kepala melihat bagaimana cara ayah mengajakku bermain juga cara aku diajak belajar.  Pendek kata ayah mengajarku bermain dengan caranya sendiri.  Mungkin karena unik inilah aku lebih suka bermain dengan ayah daripada dengan bunda.  Ayah tak segan untuk bertingkah diluar nalar atau menirukan hal yang tak lazim untuk membuatku tertawa atau mengembangkan imajinasiku. Ayahpun jarang mencontohkan memainkan mainanku secara standart.  Biar kreatif begitulah dalihnya.  Dan memang benar aku akhirnya terbiasa menggunakan imajinasiku untuk bermain.  Bukan itu saja ayah suka sekali mempelesetkan lagu ataupun dongeng yang dia bacakan dari buku.  Bunda suka jengkel kalo ayah lakukan ini karena tiba tiba cerita binatang jadinya cerita horor. Ah aku hanya tertawa-tawa saja.  Tapi sepertinya ayah sengaja lakukan ini supaya aku bisa melihat banyak sisi dalam satu hal. Bisa menghubung-hubungakan banyak hal secara logis.  Dan sepertinyapun aku terbawa dalam pola pikir ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam banyak hal sepertinya ayah dan bunda bisa berbagi dan saling mengisi memperkaya kebisaanku.  Namun soal rambutku kayaknya ini mutlak kekuasaan ayah.  Saat aku digundul umur 6 bulan ayahlah yang menggundul dan mengerok rambutku hingga licin.  Pun soal poniku yang tumbuh tiap bulan.  Disaat semua orang meributkan rambutku yang makin panjang dan membuatku gatal kena ujung rambut, ayah malah bilang anak perempuan harus terbiasa dengan rambut panjang.  Ayah tahu rambutku yang coklat dan ikal diujung membuatku tampak beda dan lucu.  Inilah yang ayah coba pertahankan.  Kemarin saat nenek menyarankan untuk memotong bob rambutku malah ayah secara sengaja membuat layer ekstrem di rambutku.  Hasilnya memang lucu sih, rambutku tetap panjang dan ikalnya tetap nampak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sini aku menyadari, mungkin ayah memang ayah yang berbeda dari ayah-ayah teman-temanku.  Ayah yang aneh dan unik.  Tapi bagaimanapun dia adalah ayahku yang aku tahu selalu ada ALASAN dibalik KEANEHAN-nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/01/11/ayah-yang-aneh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Aku Ingin Sekolah</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/12/23/227/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/12/23/227/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 06:20:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">"Bunda aku mau sekolah" Demikian rengekku. Dan kalang kabutlah Bundaku dibuatnya.  ini bukan permintaanku yang pertama juga bukan ke tiga.  Ini kesekian kalinya.  Dan keinginan ini makin besar tiap kali aku melihat kakak-kakak berbaju seragam atau ayah pamit untuk mengajar. Dan aku begitu riang begitu Bunda berjanji akan mencarikan tempat sekolah untukku.  Aku pikir keinginanku bersekolah tak berlebihan karena aku punya banyak buku, tas sekolah dan aku suka menyanyi.  Meski tante bilang sekolah itu melelahkan tapi aku melihat kegembiraan disana.</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Nulis" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Nulis.jpg" alt="" width="269" height="362" /></p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: justify;">Kakek dan nenek ikut meributkan hal ini.  Berbeda dari yang diharapkan mereka justru kawatir kalau aku ke sekolah.  Terlalu kecil itu alasannya disamping ketakutan bahwa aku akan menghadapi kebosanan.  Beda persepsi mungkin menjadi penyebabnya.  Di benak kakek-nenek sekolah adalah duduk dibelakang meja dengan setumpuk PR. sekolah ada kegiatan yang akan membuat anak makin tertekan dan menjadi jera bila masuk sekolah.  Mungkin mereka belum paham bahwa system pendidikan terus berkembangdan disesuaikan dengan kebutuhan anak.  Inilah yang harus Ayah Bunda komunikasikan hingga keinginanku untuk sekolah bisa direspon dengan tepat [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (09122009-11.19)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bunda aku mau sekolah&#8221; Demikian rengekku. Dan kalang kabutlah Bundaku dibuatnya.  ini bukan permintaanku yang pertama juga bukan ke tiga.  Ini kesekian kalinya.  Dan keinginan ini makin besar tiap kali aku melihat kakak-kakak berbaju seragam atau ayah pamit untuk mengajar. Dan aku begitu riang begitu Bunda berjanji akan mencarikan tempat sekolah untukku.  Aku pikir keinginanku bersekolah tak berlebihan karena aku punya banyak buku, tas sekolah dan aku suka menyanyi.  Meski tante bilang sekolah itu melelahkan tapi aku melihat kegembiraan disana.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Nulis" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Nulis.jpg" alt="" width="269" height="362" /></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kakek dan nenek ikut meributkan hal ini.  Berbeda dari yang diharapkan mereka justru kawatir kalau aku ke sekolah.  Terlalu kecil itu alasannya disamping ketakutan bahwa aku akan menghadapi kebosanan.  Beda persepsi mungkin menjadi penyebabnya.  Di benak kakek-nenek sekolah adalah duduk dibelakang meja dengan setumpuk PR. sekolah ada kegiatan yang akan membuat anak makin tertekan dan menjadi jera bila masuk sekolah.  Mungkin mereka belum paham bahwa system pendidikan terus berkembangdan disesuaikan dengan kebutuhan anak.  Inilah yang harus Ayah Bunda komunikasikan hingga keinginanku untuk sekolah bisa direspon dengan tepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat beberapa hari kemudian bunda pulang kerja dengan menunjukkan beberapa brosur preschool pada ayah.  Bunda berniat akan mengajakku untuk trial di Tumblee Toot &amp; Gymboree.  Akupun makin tak sabar untuk menunggu libur bunda di weekend untuk bisa mengantarku sekolah.  Untuk mengisi hari Bunda mengijinkan aku untuk ikut Bang Dika sepupuku untuk ikut sekolah di PAUD-pendidikan anak usia dini dekat rumah.  Bang Dika sekolah seminggu 3 kali (senin-rabu dan jumat).  Akupun tidak dari awal mengikuti.  Hanya ikut sesaat menjemput Abang Dika dan mengikuti permainannya disana sebentar.  Sengaja demikian karena PAUD ini mengajarkan pendidikan yang belum sesuai dengan umurku.  Seperti membaca dan menulis.  Sementara kebutuhanku lebih mengarah ke permainan untuk mengembangkan sensorik dan motorikku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mencoba dan membandingkan pendidikan di Gymboree Pondok Indah dan Tumble Toot Permata hijau, akhirnya bunda memutuskan untuk memasukkanku nantinya di Gymboree dengan berbagai alasan yang lebih mengarah pada kebutuhanku dan keunggulan metode belajar yang ada.  Bunda sepertinya masih penasaran dengan pertanyaan &#8220;Tepatkah menyekolahkan ku di usia dini?&#8221;.  Ternyata dari Psikolog rekan bunda diperoleh jawaban bahwa preschool sebenarnya di desain untuk memenuhi kebutuhan anak.  Bila memang kebutuhan anak akan pengembangan motorik, sensorik dan kebutuhan sosialnya tidak bisa dipenuhi di rumah, sekolah mejadi satu alternatif yang tepat.  Namun demikian bila kebutuhan itu telah di penuhi di rumah sepertinya pendidikan dirumah akan jauh lebih baik daripada sekedar bersekolah yang hanya berdurasi 45 menit perpertemuan dan 3 kali seminggu saja.  Karena bagaimanapun bukan biaya yang murah untuk memasukkan anak ke preschool.  Bahkan saat ayah menghitung-hitung biayanya lebih besar 3 kali lipat dari biaya kuliah persemester mahasiswa ayah! waaaaahhhhh!.</p>
<p style="text-align: justify;">Menelaah tentang diriku sebenarnya tak ada masalah dengan perkembangan motorik dan sensorikku.  Permainan yang ada di rumah cukup mendukung dan beragam. Buku dan nyanyian menjadi hal yang tak asing bagiku.  Bukan itu saja temen-temenku juga banyak hingga tak mengganggu sosialisasiku.  Kondisi ini akhirnya memberi kesimpulan buat Bunda untuk menunda mmasukkanku ke sekolah hingga usia 2 tahun nanti.  Karena apa yang didapat di rumah melebihi apa yang akan diberikan di sekolah nantinya.  Sebagai konpensasinya Aku masih bisa menikuti PAUD bang Dika di sesi main-main dan Ayah Bundapun lebih meluangkan waktu untuk mengajakku bermain-main lebih variatif.  semua ini tentunya tak akan memadamkan keinginanku untuk sekolah.  Namun aku mengerti Ayah dan Bunda Tahu yang terbaik buatku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/12/23/227/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Udel, Buku, Jalan-jalan Dan Kerupuk</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/30/antara-udel-buku-jalan-jalan-dan-kerupuk/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/30/antara-udel-buku-jalan-jalan-dan-kerupuk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 11:12:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kalau ditanya apakah hal yang aku sukai, ach...aku kebingungan menjawabnya karena ternyata banyak sekali.  Ayah dan bunda benera-benar membebaskanku untuk menyukai apa saja yang aku ingini tanpa mendoktrin ini dan itu.  semuanya ditawarkan padaku dan aku mempunyai hak untuk memilih.  Tentunya da rambu-rambunya. selama yang aku pilih  datau inginkan tidak tepat atau membahayakan.  Ayah dan Bunda akan cukup tegas bilang "TIdak".  Pun sama halnya bila aku ditanya apa yang aku takuti.  Aku tidak bisa menjawab spesifik.  Karena utamanya ayah sanagt tidak suka bisa aku ditakut-takuti dengan berbagai hal yang tidak masuk akal.  Entah itu binatang, benda-banda tertentu, kesendirian, apalagi setan.  Hal ini membuatku cukup berani dengan hewan apapun kalaupun aku takut karena aku bisa menilainya entah karena binatang itu jorok atau aku geli memegangnya.  Terhadap gelappun demikian.  Mungkin yang agak aku takutkan adalah orang asing terutama lelaki.  hahahaha entah aku mau bilang apa soal ini.  Kembali ke soal kesukaan ternyata ada yang benar-benar aku sukai hingga hampir tiap hari aku tak bisa melewatkannya, Yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Nan &#38; Bunda" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/NanBunda.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">UDEL:</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi malu aku kalau bercerita,  Kebiasaanku memegang udel akan muncul saat aku mikcu (mimik susu) atau nenen.  Mulanya bukan udel yang aku pegang, tapi janggut Ayah atau bunda.  Setelah satu tahun karena lebih didik mandiri maka kesukaan itu turun ke udel.  Parahnya aku tidak hanya suka mengelus tapi juga menarik-narik.  Aku sangat geram kalau bajuku tak bisa dibuka saat ritual itu akan kumulai.  Padahal Bunda yang sangat cerewet soal ini, beliau kawatir aku masuk angin karena sepanjang malam aku akan menyibakkan baju tidur sampai terangkat separuh perut.  Dan kekawatiran lain yaitu takutnya aku akan bodong karena udelku selalu kutarik... hah segitunyakah?</p>[........]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (22102009-19.55) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau ditanya apakah hal yang aku sukai, ach&#8230;aku kebingungan menjawabnya karena ternyata banyak sekali.  Ayah dan bunda benera-benar membebaskanku untuk menyukai apa saja yang aku ingini tanpa mendoktrin ini dan itu.  semuanya ditawarkan padaku dan aku mempunyai hak untuk memilih.  Tentunya da rambu-rambunya. selama yang aku pilih  datau inginkan tidak tepat atau membahayakan.  Ayah dan Bunda akan cukup tegas bilang &#8220;TIdak&#8221;.  Pun sama halnya bila aku ditanya apa yang aku takuti.  Aku tidak bisa menjawab spesifik.  Karena utamanya ayah sanagt tidak suka bisa aku ditakut-takuti dengan berbagai hal yang tidak masuk akal.  Entah itu binatang, benda-banda tertentu, kesendirian, apalagi setan.  Hal ini membuatku cukup berani dengan hewan apapun kalaupun aku takut karena aku bisa menilainya entah karena binatang itu jorok atau aku geli memegangnya.  Terhadap gelappun demikian.  Mungkin yang agak aku takutkan adalah orang asing terutama lelaki.  hahahaha entah aku mau bilang apa soal ini.  Kembali ke soal kesukaan ternyata ada yang benar-benar aku sukai hingga hampir tiap hari aku tak bisa melewatkannya, Yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Nan &amp; Bunda" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/NanBunda.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">UDEL:</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi malu aku kalau bercerita,  Kebiasaanku memegang udel akan muncul saat aku mikcu (mimik susu) atau nenen.  Mulanya bukan udel yang aku pegang, tapi janggut Ayah atau bunda.  Setelah satu tahun karena lebih didik mandiri maka kesukaan itu turun ke udel.  Parahnya aku tidak hanya suka mengelus tapi juga menarik-narik.  Aku sangat geram kalau bajuku tak bisa dibuka saat ritual itu akan kumulai.  Padahal Bunda yang sangat cerewet soal ini, beliau kawatir aku masuk angin karena sepanjang malam aku akan menyibakkan baju tidur sampai terangkat separuh perut.  Dan kekawatiran lain yaitu takutnya aku akan bodong karena udelku selalu kutarik&#8230; hah segitunyakah?</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>BUKU:</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak usiaku dibawah 1 tahun sepertinya buku menjadi mainan yang paling aku suka.  Terlebih lagi bunda suka membelikan buku-buku kecil dalam bentuk hardcover  yang berisi gambar binatang untuk mengenal huruf dan angka.  Buku itu itu selalu menjadi temanku sebelum bobo. Aku akan meminta ayah atau bunda untuk menunjukkan gambar-gambar yang ada.  Lambat laun aku hapal dengan berbagai binatang disana.  Dan tak hanya bila pergi keuar negri saat pulangpun buku selalu dibawa dan selalu menjadi oleh-oleh.  Biasanya aku akan tenang sepanjang perjalanan bila ada buku.  Dan sekarang bundapun suka membawakan buku-buku majalah untuk balita.  Mungkin sebagian aku belum tahu sehingga aku selain asyik membaca dan menempel selain mengorek-orek akupun masih suka meyobeknya.  Buku tertentu memang diperkenankan untuk disobek oleh bunda tapi bila buku yang punya suara atau hard cover bunda akan berhati-hati memberikannya padaku.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>JALAN-JALAN:</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tak ada hari tanpa jalan-jalan, mungkin inilah motoku.  Sampai Bunda pernah memarahiku karena disaat sakit aku tetep kekeuh untuk jalan-jalan.  Biasanya jalan-jalan ini aku lakukan pagi dan sore hari.  Pagi saat selesai mengantar Ayah dan Bunda berangkat kantor, aku akan meneruskan untuk berjalan-jalan untuk melihat kambing, monyet atau ikan atau sekedar bersosialisasi dengan teman-teman sebaya.  Demikian juga sore harinya.  Kadangpun akan naik odong-odong bila kebetulan ada yang lewat.  Aturan yang keras diterapkan Bunda adalah tidak boleh makan sambil jalan-jalan.  Makan terlebih dahulu harus diselesaikan dirumah baru boleh keluar jalan-jalan.  namun yang sangat aku sukai adalah jalan jalan dengan motor oom mumu atau mobil ayah.  kalau ini sudah dijanjikan wah jangan tanya aku akan menjadi sangat tidak sabar untuk memberi dadah ke semua orang.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>KERUPUK</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sering aku lafalkan dengan TEYUPUK adalah makanan favoritku.  Padahal bunda amat sangat melarangku makan kerupuk saat usia dibawah 1 tahun.  Dan begitu sudah lebih aturan itu lebih diperlonggar.  Mungkin alasan Bunda sangat masuk akal.  Kerupuk sama sekali tidak bergisi sehingga bunda lebih suka menyediakanku biskuit rasa plain dan berisi sayur kesukaanku.  Alasan lain adalah kerupuk menimbulkan batuk, dan ini memang benar adanya sehingga kerupuk yang lolos aku makan adalah kerupuk yang digoreng sendiri.  Yah mau bagaimana lagi bunda ini bener-benar favorite</p>
<p style="text-align: justify;">Beruntunglah Ayah dan Bunda selalu memantau apa yang aku suka atau tidak,  seiring perkembanganku bisa jadi akan ada perubahan.  Ayah ingin kesukaanku ataupun ketidak sukaanku ini mempunyai alasan yang jelas dan tahu konsekwensinya masing-masing.  Mungkin cara inilah yang diterapkan Ayah Bunda agar aku bisa mengenal bagitu beragamnya isi dunia ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/30/antara-udel-buku-jalan-jalan-dan-kerupuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Namaku Inan</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/04/namaku-inan/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/04/namaku-inan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 14:07:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">“<span style="color: #ff6600;">Kinanthi Sophia Ambalika</span>” mestinya begitu aku dipanggil secara lengkap. Ayah Bunda ingin namaku khas Jawa maka diambillah kata <span style="color: #ff6600;">KINANTHI</span> yang artinya tembang cinta/penuntun kehidupan, <span style="color: #ff6600;">AMBALIKA</span> diambil dari nama seorang dewi dalam pewayangan yang menurunkan generasi pandawa sementara <span style="color: #ff6600;">SOPHIA</span> mempunyai arti Bijaksana. Jadi kira-kira makna <span style="color: #ff6600;">KINANTHI SOPHIA AMBALIKA</span> = putri bijaksana yang menyenandungkan tembang cinta. Sengaja ayah merancang namaku dengan menggabungkan 3 kata.  Alasannya sederhana, supaya aku punya nama awal, tengah dan akhir.  Nama awal diambil dari bahasa kawi, tengah dari bahasa latin dan akhirku akan diberikan nama wayang.  Ayah berencana akan memakai dalil pada adekku kelak. Insyaallah!</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Ngakak" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Senyum.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Nama Kinanthi Sophia Ambalika yang melekat di aku ternyata berpinak saat kata panggil di tujukan padaku.  Banyak yang memanggilku Sophie, namun tak kalah banyak yang memanggilku Kinan kependekan dari Kinanthi.  Belum lagi yang memanggil Phiphie, Mpok Nan, Tembluk, Genduk dan seabrek-abrek panggilan lain yang beralasan merupakan panggilan sayang.  Lalu bagaimana aku memanggil diriku? [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (21102009-15.39) </span><br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">“<span style="color: #ff6600;">Kinanthi Sophia Ambalika</span>” mestinya begitu aku dipanggil secara lengkap. Ayah Bunda ingin namaku khas Jawa maka diambillah kata <span style="color: #ff6600;">KINANTHI</span> yang artinya tembang cinta/penuntun kehidupan, <span style="color: #ff6600;">AMBALIKA</span> diambil dari nama seorang dewi dalam pewayangan yang menurunkan generasi pandawa sementara <span style="color: #ff6600;">SOPHIA</span> mempunyai arti Bijaksana. Jadi kira-kira makna <span style="color: #ff6600;">KINANTHI SOPHIA AMBALIKA</span> = putri bijaksana yang menyenandungkan tembang cinta. Sengaja ayah merancang namaku dengan menggabungkan 3 kata.  Alasannya sederhana, supaya aku punya nama awal, tengah dan akhir.  Nama awal diambil dari bahasa kawi, tengah dari bahasa latin dan akhirku akan diberikan nama wayang.  Ayah berencana akan memakai dalil pada adekku kelak. Insyaallah!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Ngakak" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Senyum.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Nama Kinanthi Sophia Ambalika yang melekat di aku ternyata berpinak saat kata panggil di tujukan padaku.  Banyak yang memanggilku Sophie, namun tak kalah banyak yang memanggilku Kinan kependekan dari Kinanthi.  Belum lagi yang memanggil Phiphie, Mpok Nan, Tembluk, Genduk dan seabrek-abrek panggilan lain yang beralasan merupakan panggilan sayang.  Lalu bagaimana aku memanggil diriku?</p>
<p style="text-align: justify;">Lepas dari satu tahun aku sudah bisa menyebutkan namaku.  Bila ditanya siapa namaku maka aku akan segera jawab <span style="color: #ff6600;">&#8220;Inan!&#8221;</span>, bila mereka tidak puas dan kembali bertanya &#8220;Nan siapa?&#8221;.  Maka aku akan kembali menjawan dengan lengkap, &#8220;Nan Ndut-ndut!&#8221;  Nama NAN melekat karena di rumah Nenek nama Kinan lebih familier dipanggilkan ke aku oleh semua anggota keluarga.  Sementara nama NDUT-NDUT mengingatkan aku pada photoku saat usia 6 bulan yang sangatlah cuby.  Namun ini menjadi lain soal kalau aku ditanya nama lengkapku. Serta merta aku akan menjawab dengan faseh &#8220;Kinanthi Sophia Ambalika&#8221; dengan huruf &#8220;K&#8221; yang berubah menjadi &#8220;T&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam bercerita atau meminta sesuatupun aku selalu memakai kata ganti &#8220;Inan&#8221;.  Namun belakangan aku lebih suka memanggil diriku dengan &#8220;Aku&#8221;.  Bukan itu saja aku ternyata juga cukup fasih menyebut nama nama orang disekitarku secara lengkap.  Mulai dari nama panjang ayah, bunda, tante, kakek, nenek bahkan Mbah Ti.  Karena hal inilah aku seringkali memanggil mereka dengan lengkap antar sebutan dan namanya semisal, &#8220;ayah Bambang&#8221;, &#8220;Bunda Yeni&#8221;, &#8220;Papa Thotho&#8221;, &#8220;Mama Tyas&#8221;, &#8220;Mbak Nik&#8221; dan lainnya.  Karena kebiasaan memanggilku yang unik akhirnya ayah kadang memanggilku <span style="color: #ff6600;">&#8220;Anak Kinan&#8221;</span> akh &#8230;ayah selalu saja ikut-ikutan gak mau kalah!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/04/namaku-inan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pribadi Unik Seorang Baby (oleh Ayah)</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/19/pribadi-unik-seorang-baby-oleh-ayah/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/19/pribadi-unik-seorang-baby-oleh-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 16:35:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify; ">Suatu ketika saya lelah sekali dengan kondisi, tidak saja badan saya tapi juga pikiran.  Saat seperti ini, kondisi saya tak jauh dari kata autis - tak mampu merespon stimulasi dari luar.  Namun sungguh mengherankan, bila stimulasi itu berupa pertanyaan mengenai Baby saya hasilnya akan jauh beda.  Entah energi siapa yang membakar, seakan saya  tak bisa putus menceritakan baby mungil saya dengan mata terbinar dan kelelahan yang sirna.  Mungkin inilah kekuatan semangat yang dibarakan oleh seorang anak yang tak pernah kita sadari saat tersulut.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/01102009172RS.jpg" alt="" width="200" height="302" /></p>
<p style="text-align: justify; ">Cerita mengenai baby sophie selalu indah, selalu membuat tergelak dan gemas meski tak saya pungkiri disisi lain Baby Sophie adalah seorang anak yang kadang tak ubahnya berpolah seperti anak-anak sebayanya, tumbuh dan berkembangan dengan dinamisnya sekurun waktu yang dilaluinya.  Ngambek, malas, menangis, mogok ataupun protes  merupakan polah lainnya yang juga saya temukan pada sososknya.  Dalam menghadapinya reaksi sayapun tak jarang seperti orang tua yang lain yang menjadi jengkel, marah bahkan tak sabaran.[.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify; ">By Be Samyono (19102009-14.20)</p>
<p style="text-align: justify; ">Suatu ketika saya lelah sekali dengan kondisi, tidak saja badan saya tapi juga pikiran.  Saat seperti ini, kondisi saya tak jauh dari kata autis &#8211; tak mampu merespon stimulasi dari luar.  Namun sungguh mengherankan, bila stimulasi itu berupa pertanyaan mengenai Baby saya hasilnya akan jauh beda.  Entah energi siapa yang membakar, seakan saya  tak bisa putus menceritakan baby mungil saya dengan mata terbinar dan kelelahan yang sirna.  Mungkin inilah kekuatan semangat yang dibarakan oleh seorang anak yang tak pernah kita sadari saat tersulut.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/01102009172RS.jpg" alt="" width="200" height="302" /></p>
<p style="text-align: justify; ">Cerita mengenai baby sophie selalu indah, selalu membuat tergelak dan gemas meski tak saya pungkiri disisi lain Baby Sophie adalah seorang anak yang kadang tak ubahnya berpolah seperti anak-anak sebayanya, tumbuh dan berkembangan dengan dinamisnya sekurun waktu yang dilaluinya.  Ngambek, malas, menangis, mogok ataupun protes  merupakan polah lainnya yang juga saya temukan pada sososknya.  Dalam menghadapinya reaksi sayapun tak jarang seperti orang tua yang lain yang menjadi jengkel, marah bahkan tak sabaran.  Terlebih bila dia menunjukkan reaksi yang berlebihan dan mengada-ada.  Beruntung sejauh ini saya dan bunda Sophie bagai ada perjanjian dalam menghadapi kondisi force majeur seperti ini.  Yaitu kesepakatan kecil untuk bersikap dingin dan lebih mementingkan komunikasi.  Sikap dingin untuk tidak terpancing tingkah polahnya selalu berusaha mengajaknya komunikasi baby Sophie di segala kesempatan.  Saya dan Bunda Sophie percaya bahwa Sophie bisa diajak komunikasi layaknya orang dewasa tentunya dengan bahasa dan penalarannya.  Kami juga yakin baby Sophie bertindak atas dasar reaksi spontan dan duplikasi atas apa yang dirasa dan apa yang tiap hari dilihatnya.  Untuk itu koreksi atas benar dan salah atas apa yang dilakukan itulah yang paling penting untuk ditanamkan.  Dan yang lebih penting lagi bisa memposisikan diri atas gejolak emosi yang dia rasakan.</p>
<p style="text-align: justify; ">Saya Ingat sekali saat menjelang ulang tahunnya yang pertama dia sakit panas dengan suhu yang sangat tinggi.  Upaya ke dokter telah dilakukan obat-obatan tradisionalpun juga telah di buatkan.  Namun panasnya tak kunjung turun.  Kami cukup panik karena saat kejadian kami berada di jogja di rumah Nenek untuk liburan akhir tahun sekaligus merayakan ulang tahunnya.  Sehari menjelang ulang tahunnya secara drastis panasnya menghilang.  Neneknya meyakinkan bahwa panas ini karena Sophie akan bertambah kebisaannya.  Dan mungkin benar karena saat itu gigi Sophie yang lambat tumbuh, bertambah menjadi 2.  Malamnyapun Sophie seperti mendapat angin.  Meski Jam telah menunjukkan pukul 21.50 dia masih keasyikan berceloteh dan tertawa menggoda sepupunya yang lain tak hentinya.</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Phiphie boleh main sampai jam 10 yah, habis itu nanti bobo loh&#8221;. Ujar Bunda Sophie segera mengambil alih keadaan dengan mengajaknya bicara. Sophie meneruskan hahahihinya hingga jam 10 lewat, dan kembali Bunda Sophie mengajaknya tidur sesuai waktu yang dijanjikan.  Namun sepertinya ajakan ini tak mempan. Sayapun turun tangan dengan memangkunya dan mengajaknya bicara dengan menatap matanya.  Meski kosakata dan bahasanya belumlah mumpuni untuk merangkai kalimat namun saya yakin dia akan mengerti apa yang saya ucapkan.</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Phihie waktu main dah habis, bobo dulu yah!  besok boleh main&#8221;, Perlahan saya katakan, &#8220;Kau khan baru sembuh sakit, buat istirahat dulu badannya biar besok bisa tiup lilin sama teman-teman, ok.  Bobok yah!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify; ">Sedetik kemudian Sophie memandang saya dengan tajamtajam dan tangannya meniruka gerakan saya sambil bilang &#8220;Bobo!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify; ">Serta merta dia berguling turun dari pangkuan saya dan beringsut mendekati bundanya dengan kembali bilang &#8220;Bobo!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify; ">Antara heran dan takjub dengan reaksi ini saya dan bunda Sophiepun menahan geli.  Dari sinilah kami diyakinkan bahwa suatu yang salah bila kita menganggap bayi adalah makhluk yang lemah dan belum mampu merespon omongan dan prilaku kita.  Karena pada nyatanya dia bisa mengerti selama kita bisa mengkomunikasikannya dan menunjukkan alasan logis tanpa selalu menekankan kata <span style="color: #ff6600;">&#8220;JANGAN&#8221;</span>.</p>
<p style="text-align: justify; ">Pun ketika semalam menjelang tidur, ritual Sophie sudah dijalankan seperti biasa.  Mulai dari gosok gigi ganti baju tidur hingga berdoa dan minum susu.  Namun ditengah jalan matanya menemukan gampar tempel di meja.</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Ayah mau tempel-tempel&#8221;. Dia merajuk.</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Minta ijin Bunda ya!&#8221; jawab Saya</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Bunda boleh ya tempel-tempel,&#8221; Rajuknya manja.</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Boleh,&#8221; Ujar bundanya dilanjutkan dengan memberinya syarat, &#8220;Tiga gambar saja yah habis itu bobok&#8221;</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Iyah,&#8221; Jawab Sophie cepat sembari meminta dibukakan plastik pembungkus gambar tempel winnie the pooh kesukaannya.  Saya membiarkan dia berinisiatif menempelnya di dinding kamar diatas ranjang. Begitu tiga gambar usai ditempel tiba-tiba dia mempunyai inisiatif untuk memindahkan 3 gambar tersebut ke bagian dinding yang lain.</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Sophie khan janjinya tadi hanya tiga gambar, Yuk bobo sekarang!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify; ">Tak sangka Sophie bereaksi beda.  Dijatuhkannya badannya ke ranjang sembari memulai tangisnya. Hanya terisak tapi airmatanya mengucur deras.  Dalam keterkejutan atas reaksinya kami coba tenang dan saya berinisiatif bereaksi dengan mendekatinya serta memandang matanya mengajak bicara.</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Bukannya tadi janjinya hanya sampai menempel 3 gambar.  mainnya sudahan yah.  Gak usah pakai menangis.  Besok kita akan bangun pagi untuk ke rumah kakek.  Di sana mainannya bisa dilanjutkan. Tapi malam ini harus istirahat dulu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify; ">Bunda Sophiepun berkomentar mendukung pernyataan saya.  Terlihat tangis Sophie mereda menjadi isakan kecil dan bulir menetes dari pelupuknya.  Tak tega. tapi peraturan adalah peraturan.  Hingga Sophie membuka kalimat, &#8220;Bunda nenen ajah, aku mau bobo!&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify; ">Saya dan bunda Sophie saling berpandangan.  Memahami!</p>
<p style="text-align: justify; ">Sadar atau tidak fluktuasi perkembangan anak diusia batita sungguh dinamis dan mencengangkan.  Respon akan apa yang ditanggap oleh pancainderanya serta merta tercopy  sedemikian cepat dan diekspresikan.  Untuk itu rule model mutlak dilakukan secara benar.  Terlepas dari perkembangan reaksinya itu  pembelajaran akan hidup harus terus dijalankan dengan konsisten, sembari kita  ingat untuk selalu menyesuaikan keadaan karena bagaimanapun tiap anak adalah satu <span style="color: #ff6600;">pribadi yang unik</span>!.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/19/pribadi-unik-seorang-baby-oleh-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sophie di Usia 21 Bulan (Oleh Ayah)</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/08/sophie-di-usia-21-bulan/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/08/sophie-di-usia-21-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 16:40:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[<strong><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (08102009-19.47) </span></strong>
<p style="text-align: justify;">Genap berusia 21 bulan usia Baby Sophie tanggal 2 Oktober lalu.  Saya kadang tak sadar akan perkembangan serta perubahannya yang sangat cepat baik fisik maupun pemikirannya. Mungkin hal ini karena saya dan Bundanya selalu bersamanya setiap hari maka taklah terasa perubahan yang terjadi pada dirinya.  Baru saya akan terbelalak dan terkaget-kaget bila saya kembali membuka file photo-photo serta video dia yang tersimpan rapi di external disk andalan saya.  Terperangah melihat begitu berubah fisiknya tiap bulan dan begitu cepat kebisaannya berkembang.  Sepertinya ini menjadi berkah yang sangat saya syukuri  dimana saya dan Bunda masih mampu untuk membagi kasih kepadanya melalui tangan kami sendiri serta melihatnya tumbuh dipangkuan kami.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Sophie in Green" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/5368_99469553369_729063369_2080770_.jpg" alt="" width="197" height="296" /></p>
<p style="text-align: justify;">Satu hal yang bohong bila saya tak mempunyai kecemasan terhadap masa depan Baby Sophie.  Tidak saja kecemasan bahwa saya tak akan mampu untuk memberikan hal terbaik bagi dirinya, membentuk sesuai dengan kebutuhannya, mendidiknya secara tepat  namun juga ketakutan akan banyak hal diluar sana yang tidak bisa selalu kami kendalikan dan awasi. </p> [.......]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (08102009-19.47) </span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Genap berusia 21 bulan usia Baby Sophie tanggal 2 Oktober lalu.  Saya kadang tak sadar akan perkembangan serta perubahannya yang sangat cepat baik fisik maupun pemikirannya. Mungkin hal ini karena saya dan Bundanya selalu bersamanya setiap hari maka taklah terasa perubahan yang terjadi pada dirinya.  Baru saya akan terbelalak dan terkaget-kaget bila saya kembali membuka file photo-photo serta video dia yang tersimpan rapi di external disk andalan saya.  Terperangah melihat begitu berubah fisiknya tiap bulan dan begitu cepat kebisaannya berkembang.  Sepertinya ini menjadi berkah yang sangat saya syukuri  dimana saya dan Bunda masih mampu untuk membagi kasih kepadanya melalui tangan kami sendiri serta melihatnya tumbuh dipangkuan kami.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Sophie in Green" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/5368_99469553369_729063369_2080770_.jpg" alt="" width="197" height="296" /></p>
<p style="text-align: justify;">Satu hal yang bohong bila saya tak mempunyai kecemasan terhadap masa depan Baby Sophie.  Tidak saja kecemasan bahwa saya tak akan mampu untuk memberikan hal terbaik bagi dirinya, membentuk sesuai dengan kebutuhannya, mendidiknya secara tepat  namun juga ketakutan akan banyak hal diluar sana yang tidak bisa selalu kami kendalikan dan awasi. Namun kembali berulang saya yakinkan diri saya dan selalu meminta penguatan dari Bunda Sophie bahwa:</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Anak adalah kasih yang Allah titipkan.  Melalui dirinyalah seharusnya syukur dan tanggung jawab kami sebagai orang tua harus kami penuhi.  Tak perlu ada kecemasan selama selalu bersikap yakin dan menanamkan keihklasan disetiap langkah dalam memeliharanya tanpa mengharap balasan.  Hingga pada akhirnya tak pernah ada  beban dan hutang budi diantara kami.  Karena bagaimanapun hubungan antar anak dan orang tua adalah hubungan kasih dalam hak dan kewajiban serta pertanggungjawaban bukanlah hubungan hutang-piutang yang harus terlunasi.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Karena anak adalah titipan, dia bukanlah saya, bukan pula bundanya.  Dia adalah dirinya.  Kesadaran akan hal ini saya upayakan untuk dibawa dalam cara mendidiknya.  Kami hanya berperan sebagai pengarah dan pembentuk serta pemberi rambu, biarlah dia yang menentukan langkah dan inginnya.  Anak juga satu pribadi yang unik hingga wajar setiap cara didik haruslah berbeda pendekatannya dan metodenya.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Dan terakhir, keluarga adalah pendidik paling utama agar dia bisa  menentukan sikap di lingkuangan luar.  Prinsip hidup diupayakan ditanamkan sedari dini.  Dan dari keluargalah yang harus mempersiapkan semua itu hingga anak mengerti antara hak-kewajiban, salah-benar juga memahami kemana tujuan hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga hal ini bisa selalu saya sadari &#8230;.Semoga doa sederhana saya untuk selalu bisa bersyukur akan hadirnya serta pinta untuk selalu diberi keikhlasan dan kekuatan sebagai orang tua yang bisa memberi hal terbaik bagi langkahnya, bisa di dengarnya.  Tak lupa pinta agar dia bisa selalu meletakkan bunga seroja di telapak bundanya &#8230;&#8230;. tuk mengharumkan <span style="color: #ff6600;">SURGANYA</span> kelak.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Amin!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/08/sophie-di-usia-21-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aminnya Sophie</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/09/03/161/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/09/03/161/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 06:06:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (03092009.11.12) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lebih dari satu tahun ayah tak mengupdet celotehku.  Kesibukan kuliah ayah menjadi salah satu penyebab.  Agar tidak lupa akan perkembanganku ayah sering   menuliskan garis besarnya sebagai note di bukunya.  Namun kembali Begitu note itu makin panjang makin tidak sempatlah ayah menuliskannya kembali ke blog.    Inginnya ayah menuliskannya secara teratur kembali dari awal, namun melihat kondisi sepertinya itu tidak mungkin.  Akhirnya disepakati saja untuk   menuliskannya dengan disiplin pelan-pelan maju ke depan walau mungkin itu akan ada flash back pada cerita lama nantinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="copy" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/5_renamed_19351.jpg" alt="" width="237" height="179" /></p>
<p style="text-align: center;"></p>
<p style="text-align: justify;">Tanggal 2 september kemarin telah 20 bulan usiaku. Banyak loh yang memuji aku cantik dan pinter. Wah kalau sudah dipuji begini bunda bilang aku suka <span style="color: #ff6600;">"caper" </span>ah masa   sih. [........] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (03092009.11.12) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lebih dari satu tahun ayah tak mengupdet celotehku.  Kesibukan kuliah ayah menjadi salah satu penyebab.  Agar tidak lupa akan perkembanganku ayah sering   menuliskan garis besarnya sebagai note di bukunya.  Namun kembali Begitu note itu makin panjang makin tidak sempatlah ayah menuliskannya kembali ke blog.    Inginnya ayah menuliskannya secara teratur kembali dari awal, namun melihat kondisi sepertinya itu tidak mungkin.  Akhirnya disepakati saja untuk   menuliskannya dengan disiplin pelan-pelan maju ke depan walau mungkin itu akan ada flash back pada cerita lama nantinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="copy" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/5_renamed_19351.jpg" alt="" width="237" height="179" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Tanggal 2 september kemarin telah 20 bulan usiaku. Banyak loh yang memuji aku cantik dan pinter. Wah kalau sudah dipuji begini bunda bilang aku suka <span style="color: #ff6600;">&#8220;caper&#8221; </span>ah masa   sih. Yang pasti beberapa kebiasaan yang diajarkan bunda sudah bisa aku kerjakan secara rutin sekarang.  Bahkan kalau bunda lupa aku sering mengingatkan   dengan  memintanya sendiri.  Kalau sudah begini Tante Nur yang kan terkekeh sambil bilang &#8220;Tua banget sih kamu mikirnya!&#8221;.  Kebiasaan rutin malam yang tak   pernah aku lupakan sebelum tidur adalah sikat gigi, cuci kaki, ganti baju tidur dan berdoa.  Sikat gigi sudah aku lakukan saat umurku masih 13 bulan, waktu gigiku masih 4 buah.  Perkembangan gigiku memang lambat.  Umur satu tahun baru ada satu gigi   namun seiring umur, gigiku lumayan cepat tumbuh. Malah sekarang sudah hampir lengkap. Bunda memebelikan satu set sikat gigi yang bermacam-macam ujungnya.    Mulai yang berujung karet dan berujung sikat sesuai dengan penggunaan.  Tak ada penolakan dariku saat gosok gigi karena akupun sangat menyukai.  Biasanya   Bunda dulu yang menggosokkan gigiku baru selanjutnya aku yang menggosok sendiri atau mengigit-gigit tepatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah cuci kaki, bunda selalu menggantikan bajuku dengan baju tidur.  Ayahpun sering melakukannya.  Namun belakangan ini aku lebih senang mengambil sendiri   dan memakaikannya sendiri walau selalu ada teriakan &#8220;Wah &#8230; bajunya dilemari jadi berantakan deh&#8221;. Teriakan yang pada akhirya menyuruhku untuk membantu   mengemasi. Gak papa deh namanya juga sedang belajar.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdoa yang diajarkan bunda adalah membaca basmalah dan mengakirinya dengan kata amin.  Seringkali aku tak sabaran untuk mengakhirinya dengan amin karena   ingin cepat-cepat nenen.  Kalau sudah begini Bunda suka tertawa dan meminta aku mengulangnya kembali. Ah bunda khan dah ngantuk!  Aku tahu kalau amin itu   selalu diakhiri dengan mengusapkan dua telapak tangan di muka.  Itu yang sering aku lihat dan aku tirukan saat ayah bunda melakukan solat.  Aku khan sering   ikut-ikutan sholat makanya bunda menyediakan mukena kecil pula untuk aku pakai.  Biasanya abis sholat aku dipangku sama ayah bunda dan membaca basmallah   serta diakhiri dengan amin.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun kejadian lucu terjadi saat aku diajak bunda solat tarawih di rumah kemarin. Setelah sholat Isya&#8217; bunda memangku aku karena imam sedang membacakan doa.    setiap kalimat yang dibacakan imam disahut dengan kata <span style="color: #ff6600;">AMIN</span> oleh para jemaah, olehku, juga oleh bunda berulang-ulang.  Namun karena ingatku kalau selesai   bilang amin harus mengusap muka dengan dua belah telapak tangan, maka aku usapkanlah telapak tanganku berulang ulang begitu disebut kata amin.  Bunda tak   menyadari hal ini sampe beberapa saat hingga terpingkallah bunda begitu melihat!</p>
<p style="text-align: justify;">Kudengar bunda cerita ke ayah sambil terbahak &#8220;Bunda hanya bisa nahan geli saja, Abis bagaimana menjelaskannya yah soal amin ini!&#8221; Akh bunda aku khan malu &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/09/03/161/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kecemasan Ayah Bunda</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/03/22/kecemasan-ayah-bunda/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/03/22/kecemasan-ayah-bunda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 04:41:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hampir sepuluh bulan usiaku.  Saatnya Bunda membuka-buka buku untuk mengevaluasi pertumbuhanku.  Dan kembali Bunda menanyakan padaku.</p>
<p style="text-align: justify;">"Giginya mana?"</p>

"Hehe" Jawabku tertawa

"Blon juga nongol yah bunda?" Tanya ayah ikut kawatir.
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Together" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/HeaderSW0708.jpg" alt="" width="157" height="280" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tak dapat disangkat ocehanku memang dahsyat mulai umur 6 bulan.  Bahkan diusia sekarang aku sudah bisa memanggil kata ayah, bilang air, nenek, mimik, dan beberapa kata lain yang dengan amat jelas terucap fasih akupun telah bisa meminta sesuatu dengan menangkupkan tangan dan bilany "wun" atau bertepuk tangan saat aku gembira.  Namun untuk urusan gigi rasanya Bunda masih berharap-harap cemas.  Bukan itu saja kemampuanku untuk duduk dan merangkakpun menambah kecemasan itu.  Aku belum bisa du</p>[.......]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (03122008.14.36)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hampir sepuluh bulan usiaku.  Saatnya Bunda membuka-buka buku untuk mengevaluasi pertumbuhanku.  Dan kembali Bunda menanyakan padaku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Giginya mana?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hehe&#8221; Jawabku tertawa</p>
<p>&#8220;Blon juga nongol yah bunda?&#8221; Tanya ayah ikut kawatir.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Together" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/HeaderSW0708.jpg" alt="" width="157" height="280" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tak dapat disangkat ocehanku memang dahsyat mulai umur 6 bulan.  Bahkan diusia sekarang aku sudah bisa memanggil kata ayah, bilang air, nenek, mimik, dan beberapa kata lain yang dengan amat jelas terucap fasih akupun telah bisa meminta sesuatu dengan menangkupkan tangan dan bilany &#8220;wun&#8221; atau bertepuk tangan saat aku gembira.  Namun untuk urusan gigi rasanya Bunda masih berharap-harap cemas.  Bukan itu saja kemampuanku untuk duduk dan merangkakpun menambah kecemasan itu.  Aku belum bisa du</p>
<p style="text-align: justify;">duk sendiri dari posisi tengkurapku bahkan belum untuk merangkak.  Satu-satunya yang aku lakukan adalah merayap dengan tumpuan perut.  Kakek dan nenek menenangkan namun tetap saja ayah dan bunda cemas.  Internet, buku bahkan dokter Rini akhirnya jadi pelabuhan bertanya.  Merka bilang perkembanganku masih dalam batas normal.  Bisa jadi karena akau perempuan yang memang pada umumnya aktive secara oral dahulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi aku sangat tahu bagaimana membuat ayah tidak cemas. apalagi kalau tidak memangil &#8220;ayah&#8221; saat ayah dipintu begitu pulang kerja atau bilang &#8220;dada&#8221; saat ayah berangkat kerja.  Moga ini bisa mendamaikan kecemasan Ayah bunda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/03/22/kecemasan-ayah-bunda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rangkuman Buat Sophie &#8211; Oleh Ayah</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/03/18/rangkuman-buat-sophie-oleh-ayah/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/03/18/rangkuman-buat-sophie-oleh-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 14:36:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Lima bulan tepatnya banyak hal mengenai baby sophie yang luput untuk di tuliskan.  Meski point-point penting dicatat secara manual olehku.  Namun tetap saja kesibukan jadi kambing hitam untuk kealphaanku.  Celoteh Sophiepun menjadi sunyi semenjak kepulangan dari libur panjang di jogja bulan Juli lalu. Biasanya aku terlalu jauh menulis mundur mengenai baby Sophie dan saat kesibukan muncul semua jadi terbengkelai.  Mestinya aku mesti mengembalikan kebiasaan menulis ini dalam koridor kedisiplinan.  Pasti bisa dan harus! Dan berikut rangkumannya:</p>

<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">AWAL AGUSTUS 2008 - KANGEN DOKTER RINI:</span>

Baby Sophie tiba-tiba panas tanpa sebab, ini mencemaskan kami.  Namun seperti biasa Sophie terlihat santai jika sakit.  Tidak menunjukkan kesakitan ataupun rengekan yang berlebihan.  Dia sering tidur dan sesekali merasa kurang nyaman yang akan cepat teratasi begitu dia nenen.  Panasnya hingga mencapai 39 derajat. Sayangnya Kompres hanya bisa diberikan saat dia tertidur, selebihnya dia akan membuangnya.  Kakek neneknya berkomentar mungkin ini gejala mo tumbuh gigi atau pinter, sementara aku mencemaskan yang tidak-tidak.  Hari kedua karena keadaan tidak kunjung reda sementara obat penurun panas tak lagi kebal saya memutuskan membawa ke dokter Rini di RS. Gandaria tanpa Bunda yang mendadak ada pekerjaan kantor urgent.  Herannya saat berada di ruang tunggu panas Sophie berangsur turun.  Bahkan saat menemui dokter Rini dia sudah tertawa-tawa sembari memainkan sejumlah boneka di ruang praktek tersebut. [.......]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: rgb(255, 0, 0);" mce_style="color: #ff0000;"><b>By Be Samyono (03122008.11.05)</b></span></p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;">Lima bulan tepatnya banyak hal mengenai baby sophie yang luput untuk di tuliskan.&nbsp; Meski point-point penting dicatat secara manual olehku.&nbsp; Namun tetap saja kesibukan jadi kambing hitam untuk kealphaanku.&nbsp; Celoteh Sophiepun menjadi sunyi semenjak kepulangan dari libur panjang di jogja bulan Juli lalu. Biasanya aku terlalu jauh menulis mundur mengenai baby Sophie dan saat kesibukan muncul semua jadi terbengkelai.&nbsp; Mestinya aku mesti mengembalikan kebiasaan menulis ini dalam koridor kedisiplinan.&nbsp; Pasti bisa dan harus! Dan berikut rangkumannya:</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;"><span style="color: rgb(255, 102, 0);" mce_style="color: #ff6600;">AWAL AGUSTUS 2008 &#8211; KANGEN DOKTER RINI:</span></p>
<p>Baby Sophie tiba-tiba panas tanpa sebab, ini mencemaskan kami.&nbsp; Namun seperti biasa Sophie terlihat santai jika sakit.&nbsp; Tidak menunjukkan kesakitan ataupun rengekan yang berlebihan.&nbsp; Dia sering tidur dan sesekali merasa kurang nyaman yang akan cepat teratasi begitu dia nenen.&nbsp; Panasnya hingga mencapai 39 derajat. Sayangnya Kompres hanya bisa diberikan saat dia tertidur, selebihnya dia akan membuangnya.&nbsp; Kakek neneknya berkomentar mungkin ini gejala mo tumbuh gigi atau pinter, sementara aku mencemaskan yang tidak-tidak.&nbsp; Hari kedua karena keadaan tidak kunjung reda sementara obat penurun panas tak lagi kebal saya memutuskan membawa ke dokter Rini di RS. Gandaria tanpa Bunda yang mendadak ada pekerjaan kantor urgent.&nbsp; Herannya saat berada di ruang tunggu panas Sophie berangsur turun.&nbsp; Bahkan saat menemui dokter Rini dia sudah tertawa-tawa sembari memainkan sejumlah boneka di ruang praktek tersebut.&nbsp; Hingga pulangpun tak perlu lagi ada yang diresepkan.&nbsp; Nah kalau sudah begini jangan-jangan panasnya hanya perkara kangen saja untuk menemui dokternya! Wah berabe!</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;"><span style="color: rgb(255, 102, 0);" mce_style="color: #ff6600;">AWAL SEPTEMBER 2008 &#8211; DONT LIKE MONDAY:</span></p>
<p>Tiap weekend merupakan hari-hari special bagi sophie setidaknya begitu yang ingin kami berikan sebagai orang tuanya.&nbsp; Kami menyadari betapa sedikitnya waktu yang kami berikan di week days karena sebagaian pikiran dan tenaga kami hanya untuk pekerjaan.&nbsp; Sebagai konpensasi setiap malam kami berusaha untuk tidak cepat tidur sebelum mengajak baby sophie bermain demikian juga di akhir pekan.&nbsp; dan sepertinya Sophie paham betul.&nbsp; Tak ada rengekan atau kerewelan saat ditinggal bekerja.&nbsp; Kebanyakan waktu dihabiskan untuk main dan tidur sembari menunggu kami pulang. Kakek nenek yang mengasuhpun merasa Sophie sangat mudah diajak kerjasama.&nbsp; Dan saat weekend dia coba untuk mengurangi tidur agar lebih banyak waktu dengan kami.&nbsp; Tidak itu saja sepertinya dia sangat berusaha agar kami tak jauh-jauh dari dia terutama Bundanya.&nbsp; Susahnya bila hari senin tiba.&nbsp; Perubahan dari seharian bersama menjadi harus berpisah karena kerja membuat Baby Sophie sedikit sensitive.&nbsp; Tak jarang dia mencoba mengulur waktu berangkat kami dengan meminta nenen di last time kami akan berangkat.&nbsp; Tak tanggung-tanggung waktunyapun dia perlama.&nbsp; Kalaupun nanti kami harus berangkat Sophie enggan untuk menatap mata kami sembari memalingkan muka dan enggan melambaikan tangan.&nbsp; Benar-benar senin adalah hari yang berat!</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;"><span style="color: rgb(255, 102, 0);" mce_style="color: #ff6600;">PERTENGAHAN SEPTEMBER 2008 &#8211; LIKE GADGET:</span></p>
<p>Mainan pertama Sophie adalah sebuah boneka beruang warna pink kado dari teman Ayah saat kelahirannya.&nbsp; Seterusnya banyak mainan yang mengalir diberi oleh sahabat-sahabat mulai dari stroler (2 buah), kursi getar, ayunan, bunyi-buyian, buku musik, boneka dan boneka lagi hingga lego.&nbsp; Saya tak pernah menentukan mainan apa yang boleh dimainkan olehnya seperti hanya memperbolehkan memainkan mainan perempuan.&nbsp; Karena saya lihat Sophie bisa memilih sendiri mainan mana yang disuka dan tidak.&nbsp; Dan hingga 8 bulan umurnya terlihat ketertarikannya pada beberapa jenis mainan seperti:</p>
<p>1. <b>BUKU&nbsp; : </b> tak disangka mulai 6 bulanan Sophie sudah tertarik dengan benda ini.&nbsp; Dia akan senang bila tidur bersebelahan dengan seseorang yang menceritakan atau menunjukkan isi buku padanya.&nbsp; Hingga bundanya membawakan buku-buku untuk baby guna dimaikannya.</p>
<p>2. <b>BINATANG:</b> tak ada rasa takut yang ditunjukkan Sophie terhadap binatang seperti Kucing, cicak, ikan dan ayam.&nbsp; Reaksinya akan sangat bersemangat bila bertemu dengan mereka.&nbsp; Akupun sampai membongkar boneka-boneka lama yang kebanyakan berkarakter hewan untuk bisa dimainkannya.</p>
<p>3.<b> HANDPHONE: </b> Perhatian Sophie akan terpecah bila melihat handphone. Terutama handphone ayah yang model touchscreen. Dia akan bersemangat memainkannya, membolak balik dan mencoba membunyikannya sembari mengoceh layaknya orang berbicara.</p>
<p>4. <b>LAPTOP: </b> diujung manapun bila melihat laptop Sophie akan segera menghampiri. menggapaikan tangannya dan jemarinya di depan tuts layaknya orang mengetik sembari tertawa-tawa kegirangan tak mau dipindahkan.</p>
<p>Nada nadanya dia termasuk Gadged Freak seperti ayahnya hahahaha</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;"><span style="color: rgb(255, 102, 0);" mce_style="color: #ff6600;">AWAL OKTOBER 2008 &#8211; IN ACTION:</span></p>
<p>Tak dapat disangkal Sophie suka sekali di photo. Saat 3 bulanan matanya tak akan pernah berkedip bila di photo dan kinipun tak berubah.Â&nbsp; Dia akan menghentikan aktifitasnya hingga kamera berbunyi sembari memasang tampang serius.Â&nbsp; Meski pernah di beberapa Fase dia menghindari kamera tapi itu tak lama.Â&nbsp; Belakangan malah ekspresi dia makin menjadi.&nbsp; Dia suka menunjukkan wajah jelek atau memonyongkan bibirnya bila di photo. Meski hasilnya nampak seperti sedang menagis karena meringis Sophie sangat menikmati pemotretan ini dengan gayanya.&nbsp; Bahkan belakangan ini dia sudah ikut ikutan menghitung bila di photo.&nbsp; Bila aku memberi aba-aba satu &#8211; dua &#8211; ti &#8230; serta merta dia akan menyahut GA! sembari memasang tampang lucu atau beberapa kali bertepuk tangan.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;"><span style="color: rgb(255, 102, 0);" mce_style="color: #ff6600;">PERTENGAHAN OKTOBER 2008 &#8211; MAKAN:</span></p>
<p>Ada aturan bahwa bila makan Baby Sophie tidak boleh keluar rumah.&nbsp; Harus duduk!&nbsp; Untuk itu Bunda sudah membelikan kursi makan khusus.&nbsp; Karena hal ini sudah dibiasakan mulai bayi sepertinya Sophiepun tak keberatan.&nbsp; Dan menyenangkannya Sophie selalu menganggap makan adalah bagai berwisata.&nbsp; Dalam arti dia sangat menikmati sekali aktifitas makan ini.&nbsp; Apa saja bisa dimakannya.&nbsp; Hanya beberapa hal yang tak bisa dia makan seperti makanan yang terlalu manis ataupun makanan instant.&nbsp; Beruntunglah bunda dan nenek paling rajin membuatkan makanan rumah untuknya.&nbsp; Jenis campuran makanannyapun tak kalah heboh. Dari keju, salmon, ceker, hati dan favorite sophie adalah sayur-sayuran, tempe serta buah.&nbsp; Gemuk. Jangan tanya, meski makannya tergolong rakus tubuh Sophie tetap saja mungil. Padat mungkin begitu kelebihannya.&nbsp; Ini benar-benar berkah mengingat kedua orang tuanya paling susah bila dihadapkan dengan makanan.&nbsp; Cuman herannya Sophie selalu banjir keringat saat makan.&nbsp; wah seperti oom mamat banget yah.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;"><span style="color: rgb(255, 102, 0);" mce_style="color: #ff6600;">PERTENGAHAN OKTOBER 2008 &#8211; TEMAN:</span></p>
<p>Tak suka sendiri.&nbsp; Begitulah Sophie.&nbsp; Kegembiraan dan keriangannya muncul bila suasana heboh dengan banyaknya orang persis dengan kebiasaan papa koko.&nbsp; Hasilnya kamar depan selalu rame dengan oom, tante dan sepupu yang hanya ingin membuat sophie nyaman karena banyak orang.&nbsp; Sophie selalu terlihat bersemangat bila ada temen teman sebaya yang disukai.&nbsp; Tak jarang dia akan memanggil atau seperti mengajak bermain dengan keriuhannya sendiri.&nbsp; Entah maghnet apa yang sophie punyai tak jarang banyak membuat begitu banyak orang menyukainya.&nbsp; Orang asing sekalipun seringkali menyukainya hingga tak jarang saat makan di mall kami jadi bebas tugas karena dia diasuh oleh mbak-mbak waitress.&nbsp; Cara melihat sophie nyaman atau tidak dengan orang asing cukup mudah.&nbsp; Selama dia bisa tertawa dan teriak-teriak senang pasti dia nyaman.&nbsp; Bila sebaliknya mungkin Sophie sudah menunjukkan rasa tidak suka.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;"><span style="color: rgb(255, 102, 0);" mce_style="color: #ff6600;">AKHIR OKTOBER 2008 &#8211; CARSEAT:</span></p>
<p>Carseat dibeli dengan niatan keamanan dan kenyamanan Sophie saat jalan jauh.&nbsp; saat mula Sophie menyukai duduk disini namun belakangan keengganannya muncul.&nbsp; Sebabnya cukup jelas. Di carseat dia tidak bisa leluasa untuk melakukan apa saja sehingga ini sangat membelenggunya.&nbsp; Kamipun agak kualahan membujuknya.&nbsp; Hingga mau tak mau karena ini keharusan dia akan ditaruh di carseat saat tertidur.&nbsp; Untungnya Sophie adalah anak yang pelor begitu masuk mobil.&nbsp; So Bunda kita bisa selesaikan problem ini hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;"><span style="color: rgb(255, 102, 0);" mce_style="color: #ff6600;">AKHIR OKTOBER 2008 &#8211; TANGISAN:</span></p>
<p>Satu hal yang istimewa yang dipunyai sophie adalah tangisan.&nbsp; Entah mengapa Sophie termasuk baby yang jarang menagis.&nbsp; Dari sakit, dinakalin abang dika sampai ditinggal bekerja tak ada tangis yang merepotkan.&nbsp; Namun demikian tidak dengan makan, nenen dan bobo.&nbsp; Untuk 3 hal itu dia tidak mau kompromi.&nbsp; dia akan teriak dan menangis bila lapar apalagi haus.&nbsp; Soal tidur rulenya sederhana. jangan diganggu kalau dia ingin tidur karena dia akan bisa tidur dengan sendirinya.&nbsp; Tapi bila terusik. Ah Sophie marah berat!</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;"><span style="color: rgb(255, 102, 0);" mce_style="color: #ff6600;">AKHIR OKTOBER 2008 &#8211; CI LUK BA:</span></p>
<p>Cilukba, mulanya kami perkenalkan untuk melihat reaksi Sophie seperti biasa dia akan kegirangan dan tertawa terbahak-bahak.&nbsp; Bukan itu saja dia mulai penasaran untuk membuka lebih dahulu kain penutup atau tangan yang digunakan untuk cilukba.&nbsp; Bahkan akhir akhir ini dia berinisiatif sendiri untuk bermain dengan menangkupkan tangannya dan berteriak &#8220;BA!&#8221; sembari membuka telapak tangannya.&nbsp; Perkembangannya bukan telapak tangan saja.&nbsp; semua jenis kain bisa dia gunakan untuk bermain.&nbsp; Kalaupun tak ada yang menutupimukanya dia akan melakukannya sendiri dan dengan lantang akan dibukanya berulang kali dengan kata &#8220;BA!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;" mce_style="text-align: justify;"><span style="color: rgb(255, 102, 0);" mce_style="color: #ff6600;">BERSAMBUNG &#8230; </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/03/18/rangkuman-buat-sophie-oleh-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gundul &#8221; Buang Sial&#8221;</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/03/05/gundul-buang-sial/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/03/05/gundul-buang-sial/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 07:07:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">"Jadi di gundul Yah?"   Tanya Bunda di minggu pagi 20 Juli 2009 lalu.
"Jadilah"
"Bukan untuk membuang sial khan"
"Haha bukan, tapi buat mempercantik dia kok"
<p style="text-align: justify;">Ah ayah bagaimana bisa, gundul khan tidak membuat aku makin cantik.  Tapi bener juga mungkin.  Setelah umur empat puluh hari yang lalu aku di gundul saat upacara kekhahan, hingga hampir 7 bulan ini rambutku belum dipotong sama sekali.  Bagaimana akan dipotong, panjang rambutku seakan berhenti dan tumbuh tak merata.   Mau tak mau harus dirapikan dan cara yang paling tepat adalah dengan menggundulku kembali.   Dan biasanya dengan cara menggunduli kembali rambut akan tumbuh lebih lebat dan rata.</p>
<p style="text-align: justify;">"Tapi ini yang terakhir yah" Ujar ayah menyampaikan syarat. "Ayah gak tega melihat dia tanpa rambut".</p>
<p style="text-align: justify;">Jadilah minggu pagi itu ayah menyiapkan pisau cukur Gillete dan gunting.  Ayah yakin sekali akan menggundulku sendiri.   Kalau ditanya apakah berani dan tega, sepertinya ayah sudah bertekat bulat untuk melakukan itu sendiri.  Dan menggantikan peran Nenek yang tempo hari mencukur aku.   Bunda kebagian tugas menggendong aku sementara Ayah lebih dahulu mencukur semua rambutku dengan gunting.[.......]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (28092008.14.24)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jadi di gundul Yah?&#8221;   Tanya Bunda di minggu pagi 20 Juli 2009 lalu.<br />
&#8220;Jadilah&#8221;<br />
&#8220;Bukan untuk membuang sial khan&#8221;<br />
&#8220;Haha bukan, tapi buat mempercantik dia kok&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ah ayah bagaimana bisa, gundul khan tidak membuat aku makin cantik.  Tapi bener juga mungkin.  Setelah umur empat puluh hari yang lalu aku di gundul saat upacara kekhahan, hingga hampir 7 bulan ini rambutku belum dipotong sama sekali.  Bagaimana akan dipotong, panjang rambutku seakan berhenti dan tumbuh tak merata.   Mau tak mau harus dirapikan dan cara yang paling tepat adalah dengan menggundulku kembali.   Dan biasanya dengan cara menggunduli kembali rambut akan tumbuh lebih lebat dan rata.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tapi ini yang terakhir yah&#8221; Ujar ayah menyampaikan syarat. &#8220;Ayah gak tega melihat dia tanpa rambut&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadilah minggu pagi itu ayah menyiapkan pisau cukur Gillete dan gunting.  Ayah yakin sekali akan menggundulku sendiri.   Kalau ditanya apakah berani dan tega, sepertinya ayah sudah bertekat bulat untuk melakukan itu sendiri.  Dan menggantikan peran Nenek yang tempo hari mencukur aku.   Bunda kebagian tugas menggendong aku sementara Ayah lebih dahulu mencukur semua rambutku dengan gunting.   Agak kesulitan jug ayah karena rambut bayuku demikian halus.   Setelah semua rambutku rata pendek.   Ayah mulai mengeroknya dengan pisau cukur.   Bunda agak ngeri juga melihat kepalaku mulai dikerok.   Namun dilihatnya ayah bener-bener serius dan sangat berhati-hati membuatnya ikutan lega.   Hampir setengah jam ayah menyelesaikan pekerjaan ini.   Dan hasilnya, kepalaku benar-benar bersih mengkilap.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;wah cucu kakek bener-bener seperti shaolin nih,&#8221; Ujar kakek tertawa mengelus kepalaku yang botak.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">********</span></p>
<p style="text-align: justify;">Dan benar juga setelah kurang lebih dua bulan rambutku tumbuh lebat dan cepat. Meski nada-nadanya rambutku mengikuti rambut Bunda yang lurus dan tipis.   Tapi kayaknya ayah sendiri sudah gak sabar buat menguncrit rambutku.Sementara bunda berfikir bahwa model rambut yang tepat untukku adalah yang berponi untuk memberikan bentuk pada dahiku yang jenong.   Wah semua pada gak sabar!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/03/05/gundul-buang-sial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jogja Trip: Part 2 (Bad Journey)</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/20/jogja-trip-part-2-bad-journey/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/20/jogja-trip-part-2-bad-journey/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 11:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Lima tas! ayah terpekik.  itupun masih ada car seat yang harus dibawa di gerbong. Padahal hanya ayah, Bunda dan Tante Nung yang akan pulang dengan kereta bersama.   Ayah hanya membayangkan bagaimana membawa tas-tas ini.   Akhirnya ayah pikir gampang, toh ada porter yang akan bantu nanti di stasiun.   Jadi berangkatlah kami menggunakan kereta Tatsaka pagi untuk mengakhiri liburan selama seminggu ini di Jogja dan Magetan. Seperti juga keberangkatan kami, kepulangan kamipun aku lewati dengan gembira. Malah aku jarang tidur.   Ayah saja yang agak kebingungan karena Car-seatnya susah untuk diletakkan dibagasi.   tahu gitu ayah akan membeli 4 seat agar aku bisa duduk sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak ada masalah hingga perjalanan kami sampai disatu stasiun kecil di daerah subang tepat pukul 5 sore.   Tiba-tiba kereta berhenti lama hingga muncul satu pengumuman bila ada kereta terguling di depan sehingga kami harus menunggu selama 2 jam.   Aku lihat ayah jadi gelisah.   Ayah membicarakan hal terburuk dalam perjalanan ini. Apalagi kalau bukan tiba-tiba kami harus dioper karena biasanya kereta terguling akan lama penangannanya.   Kalau dioper ayah bingung bagaimana membawa semua tas ini belum lagi mengatasi kegaduhan selama proses oper.  Bunda menenangkan ayah dan berharap ini tak terjadi.   Sayangnya Tepat pukul 7 malam terbetik berita kalau proses evakuasi kereta masih lama sehingga penumpang akan dipindahkan ke 5 bus yang akan disediakan oleh PJKA. Nah![........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (17092008.13.13)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lima tas! ayah terpekik.  itupun masih ada car seat yang harus dibawa di gerbong. Padahal hanya ayah, Bunda dan Tante Nung yang akan pulang dengan kereta bersama.   Ayah hanya membayangkan bagaimana membawa tas-tas ini.   Akhirnya ayah pikir gampang, toh ada porter yang akan bantu nanti di stasiun.   Jadi berangkatlah kami menggunakan kereta Tatsaka pagi untuk mengakhiri liburan selama seminggu ini di Jogja dan Magetan. Seperti juga keberangkatan kami, kepulangan kamipun aku lewati dengan gembira. Malah aku jarang tidur.   Ayah saja yang agak kebingungan karena Car-seatnya susah untuk diletakkan dibagasi.   tahu gitu ayah akan membeli 4 seat agar aku bisa duduk sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak ada masalah hingga perjalanan kami sampai disatu stasiun kecil di daerah subang tepat pukul 5 sore.   Tiba-tiba kereta berhenti lama hingga muncul satu pengumuman bila ada kereta terguling di depan sehingga kami harus menunggu selama 2 jam.   Aku lihat ayah jadi gelisah.   Ayah membicarakan hal terburuk dalam perjalanan ini. Apalagi kalau bukan tiba-tiba kami harus dioper karena biasanya kereta terguling akan lama penangannanya.   Kalau dioper ayah bingung bagaimana membawa semua tas ini belum lagi mengatasi kegaduhan selama proses oper.  Bunda menenangkan ayah dan berharap ini tak terjadi.   Sayangnya Tepat pukul 7 malam terbetik berita kalau proses evakuasi kereta masih lama sehingga penumpang akan dipindahkan ke 5 bus yang akan disediakan oleh PJKA. Nah!</p>
<p style="text-align: justify;">Ayah melihat keluar gerbong.   Stasiun ini jauh dari jalan raya, gelap dan berada ditengah sawah.Â  Tak ada angkutan lain dan tak ada penginapan.   Sementara didalam gerbong orang mulai gelisah dan memikirkan kepentingannya sendiri.   Kasihan karena banyak diantara penumpang adalah orang-orang tua yang selesai berlibur.   Aku adalah bayi sendiri di kereta itu, itu yang ayah kuatirkan.   rencannya penumpang di 8 Gerbong akan dipindahkan ke 5 Bus.   Yang benar saja. Mana muat?   Tapi ini kondisi darurat, mau bagaimana lagi.   PJKA mengatur evakuasi ke bus per gerbong.   Gerbong lain sudah kacau balau.  Hanya gerbong kami yang lumayan tenang karena banyak berisi orang tua.   Ayah meminta seorang awak kereta untuk membantunya mengangkut barang dan mencarikan bus.   Ayahpun sesegera mungkin membuang makanan yang dibawa agar tak memberatkan, selain menghubungi rumah simprug agar membantu kami setiba di stasiun.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayah agak shock melihat semua bus telah penuh.    Terpaksa kami duduk terpisah meski dalam bus yang sama.   Aku, bunda dan tante Nung berada di dekat pintu belakang dengan semua bawaan kami sedang ayah mendapat tempat didepan tengah diantara tumpukan barang-barang orang.   Hp bunda low batt ayah sulit memantau.   Ayah cuman bisa berharap aku tidak rewel apalagi menangis.   Aku mengerti.   Ini kondisi yang sulit.   Aku memilih untuk diam dan tidur.Â  Aku tak ingin membuat kondisi lebih buruk lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 20.45 bus meninggalkan Stasiun Subang menuju Jakarta.   Perlu waktu 2,5 jam mencapai Gambir.   Selama perjalanan ayah sama sekali tak bisa tenang.   Ayah mencoba komunikasi dengan orang-orang rumah.   Bus akhirnya berhenti di Gambir bersama rombongan bus lain yang mengalami nasib serupa.   Oom Iwan, Oom Mumu dan Oom Mamat rupaya sudah siap sesuai instruksi ayah hingga kami bisa kumpul dengan cepat.   Kami benar-benar lega.Â  Aku sendiri lumayan lelah namun tetap ceria dan sehat.   Malah rupanya ayah yang tidak tahan.   Habis liburan ini ayah sakit batuk sedemikian parah.   Padahal kuliah dan mengajarnya di semester pendek mulai secara bersamaan.   Kasihan ayah.  Perjalanan yang tak terlupakan khan Ayah!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/20/jogja-trip-part-2-bad-journey/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jogja Trip: Part 1 (Great Journey)</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/17/jogja-trip-part-1-great-journey/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/17/jogja-trip-part-1-great-journey/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Oct 2008 12:57:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ada acara pernikahan!  begitu girang bunda menyambut acara milik mas Banu dan Mbak Novi ini karena bila dihitung-hitung aku sudah lebih dari 6 bulan yang artinya aku sudah bisa diajak pergi perjalanan jauh.   Bunda makin bersemangat karena acara ini juga sekaligus bisa digunakan untuk memperkenalkanku pada keluarga di Jogja dan Magetan.   Bunda telah ambil cuti panjang demikian juga dengan ayah sudah jauh hari mempersiapkannya.   Utamanya undangan dan photo-photo preweding pengantin yang ayah sendiri kerjakan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">JOGJA ... KULONUWUN</span></p>
<p style="text-align: justify;">Rencananya tak hanya aku, ayah dan Bunda yang akan berangkat.   kakek-Nenek juga tante Nungpun akan diajak serta.   Kami akan berangkat naik kereta dalam rombongan besar.   Selain kami ada Papa &#38; Mama Koko, Juga keluarga Oom Mamat yang sekalian ikut untuk berlibur.   Mereka ber-lima.   Wah bakalan rame di kereta. Dan pastinya akan sesak karena bawaan kami saja banyaknya bikin pusing mata.   Ayah bawa tas kamera serta 1 koper ukuran besar.   bunda bawa tas koper sedang dengan beberapa tas jinjing. Belum yang dibawa tante Nung juga nenek.  Itung-itung ada 7 tas besar.   itupun setelah dikurangi karena Kakek mendadak tak bisa ikut karena sakit.   Untung saja Strolerku bisa di ikutkan di mobil yang juga ke berangkat ke jogja.   Kalo tidak.   Pusing pasti.   Ayah cuman geleng-geleng karena katanya separuh barang adalah untuk kebutuhanku!.[..........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (17092008.11.32)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ada acara pernikahan!  begitu girang bunda menyambut acara milik mas Banu dan Mbak Novi ini karena bila dihitung-hitung aku sudah lebih dari 6 bulan yang artinya aku sudah bisa diajak pergi perjalanan jauh.   Bunda makin bersemangat karena acara ini juga sekaligus bisa digunakan untuk memperkenalkanku pada keluarga di Jogja dan Magetan.   Bunda telah ambil cuti panjang demikian juga dengan ayah sudah jauh hari mempersiapkannya.   Utamanya undangan dan photo-photo preweding pengantin yang ayah sendiri kerjakan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">JOGJA &#8230; KULONUWUN</span></p>
<p style="text-align: justify;">Rencananya tak hanya aku, ayah dan Bunda yang akan berangkat.   kakek-Nenek juga tante Nungpun akan diajak serta.   Kami akan berangkat naik kereta dalam rombongan besar.   Selain kami ada Papa &amp; Mama Koko, Juga keluarga Oom Mamat yang sekalian ikut untuk berlibur.   Mereka ber-lima.   Wah bakalan rame di kereta. Dan pastinya akan sesak karena bawaan kami saja banyaknya bikin pusing mata.   Ayah bawa tas kamera serta 1 koper ukuran besar.   bunda bawa tas koper sedang dengan beberapa tas jinjing. Belum yang dibawa tante Nung juga nenek.  Itung-itung ada 7 tas besar.   itupun setelah dikurangi karena Kakek mendadak tak bisa ikut karena sakit.   Untung saja Strolerku bisa di ikutkan di mobil yang juga ke berangkat ke jogja.   Kalo tidak.   Pusing pasti.   Ayah cuman geleng-geleng karena katanya separuh barang adalah untuk kebutuhanku!.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 9 pagi, Kamis tanggal 10 Juli lalu kereta tatsaka akhirnya berangkat memebawa kami.   Untung keretanya gak terseok menarik bawaan kami yang tak kalah heboh dibanding jumlah rombongan yang ada.   Hampir 2/3 perjalanan aku tertidur selebihnya jadi rebutan untuk dipangku ataupun digendong.   Bunda lega karena sepertinya aku menikmati perjalanan ini.   Tentunya ya, khan di kereta banyak makanan yang aku suka.   Kami tiba setelah petang merambat.   Begitu mobil oom indra yang menjemput kami tiba di rumah aku bener-bener gembira karena akhirnya bertemu dengan mbak maya dan Mas Bagus yang selama ini hanya aku kenal lewat pemberian dan kado-kadonya.   Merekapun langsung berebut menggendongku.   Sabar ya sabar, Aku khan ingin ketemu Mbak Thi dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Acara di Jogja cukup padat berkenaan dengan pernikahan itu.   Hampir tiap hari berturut-turut selalau ada acara.  Hari Jum&#8217;at misalnya ada midodareni, Sabtu pemberkatan dan resepsi.   dilanjutkan hari minggu berupa kunjungan balik ke keluarga pria.   Aku sih santai-santai saja.   Ayah dan Bunda yang agak keteter karena mesti pakai pakaian adat dan lain sebagainya yang tak praktis.   Untung saja disela acara ini temen-temen Ayah Dan bunda bisa datang dan bergabung jadi tetep rame dan heboh.   Mulai dari ikutan resepsi hingga join di acara ice skating dan karaoke, makan di kraton dan belanja batik.   Dan rupanya ayah tak lupa menyisipkan sesi photo session ketika aku mo renang di bathtub di rumah piyungan.  Bener-bener tak ada sela waktu untuk santai.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun demikian tak ada waktu yang tak menyenangkan untuk aku.   Bertemu dengan banyak orang baru membuat aku banyak mengoceh dan suka memamerkan tarian &#8220;geleng-geleng&#8221; aku.   Yang agak melelahkan mungkin karena semua orang berebut menggendongku.   Sampai-sampai papa koko tak kebagian dan Ayah menyingkirkan aku di kamar supaya bisa bobo.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">MAGETAN &#8230; ALOW</span></p>
<p style="text-align: justify;">Keputusan ayah untuk membelikan aku car seat ternyata tepat.   Perjalanan lanjutan 5 jam dari Jogja ke Magetan ternyata sangat melelahkan.   Tak kebayang bila aku harus dipangku terus.   Hampir selama perjalanan pagi ke magetan aku bisa tidur pulas di kursi itu meski mulanya aku sempet merasa gak nyaman.  Tak nyaman bukan karena kursinya gak asyik.   Tapi sesuai dengan petunjuk berat badan, kursiku harus menghadap belakang.   BT khan.   tapi setidaknya Ayah, bunda dan tante Nung bisa lebih istirahat selama perjalanan mengunjungi Adik Mbah Ti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata ayah yang masa kecilnya tingal disini Magetan menjadi semakin kecil.   semuanya jadi serba dekat, serba padat.   Ayah melihat semua disini menjadi makin tua dan usur, waktu begitu cepat berubah.   Aku sendiri merasa dingin yang berkepanjangan.   tak kecuali Bunda dan Tante Nung yang tak siap dengan baju hangat. Kami hanya semalam disana tapi ayah masih menyempatkan diri untuk mengenalkanku pada teman-teman sekolah ayah.   dan dihari terakhir kami pergi ke telaga Sarangan   Bersama Mbak sri Dan tante Iyul.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayah takjub karena telaga sarangan penuh.   Kamipun keliling pakai mobil lalu sempatkan beristirahat menikmati sate kelinci di bibir danau.   Setelah dikerubuti ayahpun akhirnya tertarik untuk mengajak kami naik perahu mengelilingi telaga.   Duh senengnya udah dingin dikit berkabut lagi.   Dan makin seru saat perahu itu direm mendadak dan dibelokin saat putaran hampir usai.   kami teriak. Tapi hanya ayah yang pucat karena takut aku terjatuh!.</p>
<p style="text-align: justify;">kami balik ke Jogja taklagi melalui jalur yang sama.   Saat berangkat kami lewat jalur Ngawi yang ditempuh dalam 5 jam-an dan 160-ribuan bensin.   Sedangkan saat pulang kami lewat jalur Tawangmangu-Solo karena jalannya telah bagus dan telah ada jalan tembus yang tak berbahaya.   Jarak menjadi lebih cepat 2 jam dan bensinpun hanya hilang 80-ribuan.   Hemat ternyata.   sampai di Jogja kami tak langsung pulang karena Tante Nung merengek untuk diantar ke Prambanan yang saat kami kesana masih di renovasi akibat gempa dahsyat 2 tahun lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih tersisa satu hari sebelum kami balik jakarta.   Kami tak banyak kegiatan keluar tapi kumpul keluarga.   Karena ayah bilang mungkin aku akan pulang lagi baru saat tahun baru sekalian merayakan ulang tahunku, dan itu masih lama.   jadi kesempatan ini banyak digunakan untuk kumpul.   Seperti rencana lebaran ini kami tak mudik ke Jogja karena ayah gak mungkin bisa handle sama kondisi lalu lintas, Jadi baru natal nanti kami pulang. Besok kami akan kembali ke jakarta.   Ucapkan Jakarta ALOHA!.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/17/jogja-trip-part-1-great-journey/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Uyut Meninggal</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/17/uyut-meninggal/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/17/uyut-meninggal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 17:21:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah meninggalnya Uyut Uti beberapa bulan lalu, tanggal 17 Juni 2008 Uyut Kakung dipanggil Allah.   Sedih rasanya.   Kami semua berencana pergi ke Subang untuk pemakaman.   Namun kembali ayah terbentur jadwal kuliah sehingga tidak bisa berangkat malam itu bersama-sama yang lain.   Akhirnya kami menyusul keesokan harinya diantar pak Ratno dengan jazzy merah.   Wah ini adalah perjalanan jauh pertama aku.   Mulanya Ayah dan Bunda kawatir aku akan rewel tapi jangan salah.   Aku paling suka AC mobil. Jadi begitu masuk mobil bobok deh.   Bangun-bangun sudah sampai Subang, sayang sekali aku melewatkan pemandangan selama perjalanan ke rumah Uyut padahal menurut ayah pemandangannya bagus banget karena melewati beberapa perkebunan karet.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami hanya berada di Subang selama setengah hari.   Kakek dan nenek masih tinggal sementara kami semua kembali ke Jakarta siang harinya. Kami terbagi dalam 2 mobil.   Ayah, bunda, aku dan tante Nung ada di mobil jazzy merah sementara yang lain termasuk baby kemal kemil ada di "alpart"nya oom iwan.   Kebut-kebutan deh kami saling mendahului.   Cuman malangnya ban belakang mobil oom Iwan kempes di tol.   Terpaksa kami berhenti dan Pak Ratno membantu menggantinya.   Untung kami berada belakangan bila tidak, bisa sampai tengah malam mereka baru sampai di rumah.   Kasihan khan.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (03092008.17.26)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah meninggalnya Uyut Uti beberapa bulan lalu, tanggal 17 Juni 2008 Uyut Kakung dipanggil Allah.   Sedih rasanya.   Kami semua berencana pergi ke Subang untuk pemakaman.   Namun kembali ayah terbentur jadwal kuliah sehingga tidak bisa berangkat malam itu bersama-sama yang lain.   Akhirnya kami menyusul keesokan harinya diantar pak Ratno dengan jazzy merah.   Wah ini adalah perjalanan jauh pertama aku.   Mulanya Ayah dan Bunda kawatir aku akan rewel tapi jangan salah.   Aku paling suka AC mobil. Jadi begitu masuk mobil bobok deh.   Bangun-bangun sudah sampai Subang, sayang sekali aku melewatkan pemandangan selama perjalanan ke rumah Uyut padahal menurut ayah pemandangannya bagus banget karena melewati beberapa perkebunan karet.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami hanya berada di Subang selama setengah hari.   Kakek dan nenek masih tinggal sementara kami semua kembali ke Jakarta siang harinya. Kami terbagi dalam 2 mobil.   Ayah, bunda, aku dan tante Nung ada di mobil jazzy merah sementara yang lain termasuk baby kemal kemil ada di &#8220;alpart&#8221;nya oom iwan.   Kebut-kebutan deh kami saling mendahului.   Cuman malangnya ban belakang mobil oom Iwan kempes di tol.   Terpaksa kami berhenti dan Pak Ratno membantu menggantinya.   Untung kami berada belakangan bila tidak, bisa sampai tengah malam mereka baru sampai di rumah.   Kasihan khan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/17/uyut-meninggal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makan Pertama</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/12/makan-pertama/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/12/makan-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 04:09:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pagi-pagi Bunda sudah sibuk mempersiapkan sesuatu yang baru untukku.   Makan siangku - makan pertamaku!.Â  Hari ini tanggal 12 Juni 2008 Bunda sudah meminta nenek untuk membelikan pisang untukku.  Rencananya siang nanti adalah waktu makan siang pertamaku.  Jauh sebelumnya Bunda sudah konsultasi dengan dokter Rini tentang makanku dan sepertinya aku telah siap untuk makan, mengingat<span style="color: #ff6600;"> "rakus"</span>nya aku belakangan ini ... Hehehe.   Dan pisang adalah makanan yang akan pertama aku coba.   Selain aman juga gak ada efek samping. Bunda memilih waktu makan ini tak hanya karena kesiapan aku tapi juga karena sebulan lagi aku akan ke Jogja menengok Eyang Ti.   Aku harus belajar makan, jangan sampai adaptasiku terlambat sehingga saat perjalanan malah bermasalah.   Bener juga rencana Bunda.</p>
<p style="text-align: justify;">Inginnya ayah berangkat siang hari ini untuk melihatku pertama kali makan tapi karena ada kuliah mau tak mau Ayah titip pesan pada Bunda untuk memfoto atau memvideokan aku. tetap yah!.   Tepatnya setengah satuan siang Bunda langsung menelephon ayah mengabarkan acara makanku.   Bunda panjang lebar cerita bagaimana ekspresi wajahku yang merasa aneh dengan pisang tapi tak berapa lama kemudian langsung tak sabar untuk menanti suapan-suapan berikutnya.   wah Rakus begitu komentar terakhir Bunda.   Ayah hanya tertawa terlebih setelah tahu aku dibiasakan makan di kursi specialku.   Pasti lucu!.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (03092008.16.36)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi-pagi Bunda sudah sibuk mempersiapkan sesuatu yang baru untukku.   Makan siangku &#8211; makan pertamaku!.Â  Hari ini tanggal 12 Juni 2008 Bunda sudah meminta nenek untuk membelikan pisang untukku.  Rencananya siang nanti adalah waktu makan siang pertamaku.  Jauh sebelumnya Bunda sudah konsultasi dengan dokter Rini tentang makanku dan sepertinya aku telah siap untuk makan, mengingat<span style="color: #ff6600;"> &#8220;rakus&#8221;</span>nya aku belakangan ini &#8230; Hehehe.   Dan pisang adalah makanan yang akan pertama aku coba.   Selain aman juga gak ada efek samping. Bunda memilih waktu makan ini tak hanya karena kesiapan aku tapi juga karena sebulan lagi aku akan ke Jogja menengok Eyang Ti.   Aku harus belajar makan, jangan sampai adaptasiku terlambat sehingga saat perjalanan malah bermasalah.   Bener juga rencana Bunda.</p>
<p style="text-align: justify;">Inginnya ayah berangkat siang hari ini untuk melihatku pertama kali makan tapi karena ada kuliah mau tak mau Ayah titip pesan pada Bunda untuk memfoto atau memvideokan aku. tetap yah!.   Tepatnya setengah satuan siang Bunda langsung menelephon ayah mengabarkan acara makanku.   Bunda panjang lebar cerita bagaimana ekspresi wajahku yang merasa aneh dengan pisang tapi tak berapa lama kemudian langsung tak sabar untuk menanti suapan-suapan berikutnya.   wah Rakus begitu komentar terakhir Bunda.   Ayah hanya tertawa terlebih setelah tahu aku dibiasakan makan di kursi specialku.   Pasti lucu!.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama dua tiga hari tak ada masalah dengan makanku namun setelah itu aku selalu menangis kalau pup. Selidik punya selidik ternyata pisang ini bisa mengakibatkan sembelit pada beberapa kasus. Wah! Bunda menghentikan makan pisangku dan menggantinya dengan makanan lain seperti jeruk baby.   Menunggu perutku berangsur menyesuaikan diri.   sejak kejadian itu Bunda memutar otak untuk membuat beberapa variasi makanan bagi aku.   Mulai beras merah, kacang hijau, bayam, salmon, roti dan apapun.  Apapun? &#8230; yah ternyata aku cukup bisa makan apa saja dengan senang hati dan penuh antusias.   Ini menghapus kekawatiran Bunda akan susahnya aku makan nanti mengingat baik Ayah ataupun Bunda mempunyai kebiasaan pilih-pilih makanan.   Kayaknya malah selera makanku lebih menyerupai Papa Koko yang hanya bisa membedakan makanan enak dan enak sekali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/12/makan-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hoby-Hoby Baruku</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/10/hoby-hoby-baruku/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/10/hoby-hoby-baruku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 13:50:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tiap hari banyak hal yang baru terjadi pada aku. Kebisaanku ataupun tingkah polah yang menyertai perkembanganku. Sambutan-sambutan kecilpun muncul dari setiap perubahan ini. Namun demikian ayah dan bunda meyakini bahwa setiap perkembangan anak adalah beda. sehingga mereka cukup sabar bila ada hal yang belum bisa aku lakukan sementara anak sebayaku bisa. Mereka mencermati perkembanganku lewat panduan buku-buku. dan selama perkembangan kemampuanku masih dalam range normal. Mereka tak perlu kawatir. Justru mereka menyemangatiku. Memang kadang menyenangkan juga berada ditengah keluarga yang banyak omong sehingga setiap hari terasa sangat ramai dan bersemangat. Bahkan tak jarang juga keramaian ini di tambah dengan pembicaraan ayah sama bunda yang panjang lebar sebelum tidur. Kalau sudah begini aku akan memperhatikan mereka dengan diam. Dan saat mereka menyadari kalau aku perhatikan lalu melihatku. Ah malu ... aku pasti berpura-pura melihat arah lain dengan tak bersalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Diantara kebisaanku menjelang 5 bulan umurku adalah aku suka sekali menjulurkan lidahku, memainkan bibir dan bikin balon dari ludah. Ah Bunda kadang tak suka aku begini karena jorok katanya. Tapi ini khan mengasyikkan. kayaknya ayah yang suka membiarkan aku mengikuti kata hariku selama tidak membahayakan aku. Aku memang suka ngeces, lumayan parah deh. Orang-orang bilang pasti dulu saat hamil ada keinginan bunda yang belum terpenuhi. Mendengar hal ini bunda yang malah bingung. Karena selama ini merasa tak menginginkan apa-apa. Namanya juga mitos bunda, begitu ayah menghibur.</p>
<p style="text-align: justify;">Akupun suka untuk mengeyot tanganku, bukan jariku. Hampir 5 jari aku masukan mulut dengan enaknya. Ayah dan Bunda mengalihkan dengan mainan bila melihat aku begini. tapi Tante Ninik mengajariku mengenyot jempol saja. Ah jengkelnya ayah melihat hal ini. Mungkin ayah berfikir bila ngenyot semua jari tak akan berakibat lama namun bila jempol doang pasti akan keterusan. Setidaknya kebiasaan ini membuat panggilanku bertambah menjadi <span style="color: #ff0000;">Miss Kenyot!</span>[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (28082008.08.45)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tiap hari banyak hal yang baru terjadi pada aku. Kebisaanku ataupun tingkah polah yang menyertai perkembanganku. Sambutan-sambutan kecilpun muncul dari setiap perubahan ini. Namun demikian ayah dan bunda meyakini bahwa setiap perkembangan anak adalah beda. sehingga mereka cukup sabar bila ada hal yang belum bisa aku lakukan sementara anak sebayaku bisa. Mereka mencermati perkembanganku lewat panduan buku-buku. dan selama perkembangan kemampuanku masih dalam range normal. Mereka tak perlu kawatir. Justru mereka menyemangatiku. Memang kadang menyenangkan juga berada ditengah keluarga yang banyak omong sehingga setiap hari terasa sangat ramai dan bersemangat. Bahkan tak jarang juga keramaian ini di tambah dengan pembicaraan ayah sama bunda yang panjang lebar sebelum tidur. Kalau sudah begini aku akan memperhatikan mereka dengan diam. Dan saat mereka menyadari kalau aku perhatikan lalu melihatku. Ah malu &#8230; aku pasti berpura-pura melihat arah lain dengan tak bersalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Diantara kebisaanku menjelang 5 bulan umurku adalah aku suka sekali menjulurkan lidahku, memainkan bibir dan bikin balon dari ludah. Ah Bunda kadang tak suka aku begini karena jorok katanya. Tapi ini khan mengasyikkan. kayaknya ayah yang suka membiarkan aku mengikuti kata hariku selama tidak membahayakan aku. Aku memang suka ngeces, lumayan parah deh. Orang-orang bilang pasti dulu saat hamil ada keinginan bunda yang belum terpenuhi. Mendengar hal ini bunda yang malah bingung. Karena selama ini merasa tak menginginkan apa-apa. Namanya juga mitos bunda, begitu ayah menghibur.</p>
<p style="text-align: justify;">Akupun suka untuk mengeyot tanganku, bukan jariku. Hampir 5 jari aku masukan mulut dengan enaknya. Ayah dan Bunda mengalihkan dengan mainan bila melihat aku begini. tapi Tante Ninik mengajariku mengenyot jempol saja. Ah jengkelnya ayah melihat hal ini. Mungkin ayah berfikir bila ngenyot semua jari tak akan berakibat lama namun bila jempol doang pasti akan keterusan. Setidaknya kebiasaan ini membuat panggilanku bertambah menjadi <span style="color: #ff0000;">Miss Kenyot!</span></p>
<p style="text-align: justify;">Ada lagi hobyku yang kali ini mendapat banyak dukungan. Apalagi kalo tidak tergila-gila dengan gambar winnie the pooh. Aku senang banget dengan winnie. Mungkin karena warnanya mencolok kuning. sampe-sampe mama koko membelikan aku lampu bergambar winnie, juga beberapa stiker aku terima semua berkarakter winnie. Bahkan saat ayah ke Johor Bahru membelikanku boneka Baby Pooh. Hal lain adalah buku. entah kenapa setiap melihat buku minatku bangkit. Seringkali ayah, bunda dan tante nung mengasuhku sambil membaca, mungkin ini yang membuatku sangat minat pada buku bukan pada yang lain, televisi misalnya!.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/10/hoby-hoby-baruku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bunda Masuk Kerja</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/09/bunda-masuk-kerja/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/09/bunda-masuk-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 13:09:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah lebih dari 3 bulan aku nyaman ditungguin Bunda karena cuti melahirkan. Hari ini 07 April 2008, Bunda harus kembali masuk kerja. Sedihnya. Aku tahu ini tidak saja berat buat aku tapi juga buat Bunda. hampir seminggu ini Bunda sudah mengatur jadwalku agar terbiasa untuk ditinggal. Misalnya jadwal bangun pagi, mandi pagi dan yang paling penting mempersiapkan aku untuk bisa minum dari botol. Masih aku ingat bagaimana pertama kali Bunda mengajariku minum dari botol. takjub bercampur gembira saat pertama kali botol susu disodorkan aku langsung melahapnya sampai habis. Tanpa kesulitan dan adaptasi yang merepotkan. bahkan untuk ganti dari nenen ke botol susu dan sebaliknyapun seakan tak ada masalah. Jempol deh begitu Bunda bilang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi ini aku lihat Bunda sibuk mondar mandir mempersiapkan keperluanku sementara aku dimandikan Nenek. Pandanganku tak lepas dari Bunda karena aku tahu akan seharian bunda meninggalkan aku untuk kerja. Tak hanya menyiapkan tas kerja Bundapun telah menyiapkan satu tas yang berisi botol-botol kosong untuk tempat ASI yang akan disedot Bunda Di kantor. Rencananya Bunda akan pulang tiap jam makan siang selama sebulanan ini agar aku bisa adaptasi. Duh kasihan juga Bunda yah. Pasti capek. Tapi Bunda memang bersikeras untuk tetap memberiku ASI selama mungkin. Paling tidak 6 bulan sampai 1 tahun. Karena bagaimanapun itu hal yang paling penting buat aku.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (28082008.08.45)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah lebih dari 3 bulan aku nyaman ditungguin Bunda karena cuti melahirkan. Hari ini 07 April 2008, Bunda harus kembali masuk kerja. Sedihnya. Aku tahu ini tidak saja berat buat aku tapi juga buat Bunda. hampir seminggu ini Bunda sudah mengatur jadwalku agar terbiasa untuk ditinggal. Misalnya jadwal bangun pagi, mandi pagi dan yang paling penting mempersiapkan aku untuk bisa minum dari botol. Masih aku ingat bagaimana pertama kali Bunda mengajariku minum dari botol. takjub bercampur gembira saat pertama kali botol susu disodorkan aku langsung melahapnya sampai habis. Tanpa kesulitan dan adaptasi yang merepotkan. bahkan untuk ganti dari nenen ke botol susu dan sebaliknyapun seakan tak ada masalah. Jempol deh begitu Bunda bilang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi ini aku lihat Bunda sibuk mondar mandir mempersiapkan keperluanku sementara aku dimandikan Nenek. Pandanganku tak lepas dari Bunda karena aku tahu akan seharian bunda meninggalkan aku untuk kerja. Tak hanya menyiapkan tas kerja Bundapun telah menyiapkan satu tas yang berisi botol-botol kosong untuk tempat ASI yang akan disedot Bunda Di kantor. Rencananya Bunda akan pulang tiap jam makan siang selama sebulanan ini agar aku bisa adaptasi. Duh kasihan juga Bunda yah. Pasti capek. Tapi Bunda memang bersikeras untuk tetap memberiku ASI selama mungkin. Paling tidak 6 bulan sampai 1 tahun. Karena bagaimanapun itu hal yang paling penting buat aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Bunda bareng ayah berangkat kerja duh sedihnya. Meski Bunda nengok aku saat makan siang dan ayah selalu menelepon tapi tetap saja beda. Untungnya kakek, nenek dan Tante Nung bisa menghiburku. Sejak Bunda masuk kerja ini pola tidurku berubah. Aku lebih suka tidur di siang hari. Dan akan bangun begitu Ayah dan Bunda datang. kadang tak sabar menunggu mereka pulang. Tapi kakek mengakui aku bukan baby yang cengeng. aku cukup tenang ditinggal ayah dan Bunda. Tangisku hanya terdengar saat aku minta minum saja. makanya Bunda gak pingin stock ASIku kurang. patinya bila di freezer Stock ASI tinggal 1 botol kakek dan nenek sudah ribut menelepon Bunda. maklum aku cukup tak sabaran bila menghadapi yang satu ini. Lapar! hihihi. Namun seminggu kemudian aku benar-benar ngambek, Aku enggan buat minum susu ASI dalam botol. Padahal ayah dan bunda sudah berangkat kerja. kakek nenek kebingungan mereka tahu aku akan menagis bila tak minum. tapi jangan salah ini khan kemauanku jadi aku memilih tidur saja seharian. Mogok nih&#8230; Ejek tante nung melihat ulahku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/10/09/bunda-masuk-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
