Tak ada yang lebih menyakitkan selain menghadapi rasa penolakan seorang anak. Saya tidak pernah membayangkan bila Sophie bisa melakukannya sedini ini. Saya dan Bundanya mencoba memahami kondisi yang tengah terjadi, mencoba tak membebankan kesalahan namun segera berupaya mencari solusi. Keyakinan kami cukup sederhana. Tak ada permasalahan yang tidak bisa dipecahkan. Itu saja. Dan lebih jelasnya kami tak ingin terlambat dan memdapat rasa bersalah yang akan kami tuai nantinya.

Tak disangka bulan Maret ini jadwal saya dan jadwal Bunda begitu padat. Beberapa kali kami tak bisa pulang tepat waktu. Kadang larut dan seringkali tiba disaat Sophie sudah tidur. Meskipun ada waktu 2 jam dipagi hari untuk bersamanya namun sepertinya tetap ada waktu kebersamaan yang kurang. Waktu sabtu minggu biasanya kami coba memaksimalkan kebersamaan dengan dirinya, sebagai waktu kompensasi. Mengajaknya main atau pergi yang memang khusus untuk dirinya. Harapannya Sophie bisa melihat kondisi ini lebih proporsional dan dia sama sekali tidak merasa di nomor duakan dibandingkan pekerjaaan kami. Karena kami telah mengajarkan pengertian kenapa kami harus meninggalkannya dan bekerja. Kembali ternyata semua ini belumlah cukup [........]
Media Release: “Mengenalkan sejak dini” mungkin inilah kata yang tepat untuk bisa dipikirkan lebih mendalam dan dijabarkan dalam tindakan kongkrit guna mengatasi keterpurukan dunia olah raga Indonesia. Tenis salah satu contoh olah raga tersebut. Pandangan tenis sebagai olah raga mahal dan teruntuk manula menghasilkan pembibitan yang gersang dan prestasi yang tumpul. Sejak era Yayuk Basuki dan Angelique Widjaja tak ada catatan anak negeri ini berhasil menapak 100 besar peringkat petenis dunia. Satu hal yang ironis padahal tennis merupakan olahraga yang menjanjikan serta mempunyai apresiasi serta struktur yang mapan bagi seorang atlet.

Berpijak pada kondisi itu di ulang tahunnya yang ke 5, MHI Tennis mengajak 40 anak Panti Asuhan kampung Melayu untuk mengikuti acara Tennis Coaching. Anak-anak setingkat SD dan SMP itu akan diperkenalkan pada tenis dan dibekali cara-cara bermain tennis secara langsung Pelatih. Serunya lagi anak-anak ini akan dipandu langsung oleh kakak-kakak MHI tennis dan akan dipadukan dengan fun game[........]
Lupakan untuk naik jejantas penghubung 2 menara kembar petronas. Kami bangun kesiangan, atau tepatnya dibangunkan oleh sophie saat sudah siang. Kami menikmati saja acara dikamar sambil main main dengan sophie yang tak mau melewatkan acara kesukaannya, mandi shower. Ada lega juga tak jadi naik ke petronas walau tiket gratis. apalagi kalau bukan ketakutanku soal ketinggian. Pukul 09.30 kami kumpul di restauran hotel untuk breakfast. Mengejutkannya rasa makanan disini lumayan enak. Saya pilih ala american karena tergoda sup kacang polong kesukaan saya dan menghindari nasi lemak yang berbumbu kari yang kembali “sangat India”!. Pukul 10.30 kami telah berada di KLCC twins tower. Niatan untuk naik jejantas kami urungkan dan kami ganti dengan mengambil photo siang hari di halaman depan dan belakang petronas sembari menunggu sholat jumat. Kamipun ada janji lain dengan Khatty untuk mengantar kami “pusing-pusing” dengan car rental yang akan kami sewa 2 hari.

Sholat jumat menjadi bagian yang menarik karena berlangsung mulai pukul 01.30 pm waktu setempat. Masjid KLCC yang berada 500 meter di belakang Twins tower cukup representatif, sejuk dan hijau. Arsitekturnya cukup modern, tak hanya bagian utama masjid yang didinginkan dengan AC. selasar terbukapun tak luput dari hembusan AC. Tak perlu kawatir untuk menaruh sepatu dan sandal di rak yang disediakan. Meski terbuka kasus kehilangan rasanya jauh dari kata mungkin. tatacaranyapun sedikit berbeda. Sebelum adzan terlebih dahulu diisi siraman rohani. Begitu selesai adzan bersama solat sunah dan selanjutnya dengan tata cara seperti yang kita lakukan. Hanya menariknya doa untuk keselamatan negara dan kesultanan amat dominan selain penggunaan LCD berlayar besar yang menayangkan isi ceramah yang disampaikan khotib. Satu sholat jumat yang sangat menambah wawasan [.......]
Jalan-jalan seakan menjadi satu prioritas tersendiri bagi saya dan utamanya buat Bunda Sophie. Bahkan kami sepakat untuk selalu mengalokasikan dana dan waktu 2-3 kali setahun untuk jalan-jalan entah keluar kota atau keluar negeri. Rupanya memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sophie anak kami ternyata amat menyukai jalan-jalan. Kondisi sakitpun akan dia abaikan bila mendengar kata jalan-jalan. Tidak hanya perjalanan keluar kota yang dia nikmati, ke luarnegeripun dia lalui dengan keriangan. Sepertinya Sophie amat mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru serta hebatnya dia bisa menciptakan kegembiraan tersendiri dari setiap suasana yang tercipta. Untuk itulah kami sangat enggan dan tak rela jika meninggalkan dia disaat ada renacana untuk jalan karena kami yakin dia cukup menikmati setiap perjalanan ini.

Sedikit cerita ketika pertama kami mengajaknya pergi ke Singapore di usia 14 bulan. Keraguan mulanya kami temui. Kekawatiran akan ribetnya membawa baby dan tak adanya bala bantuan di negeri orang membuat kami berfikir berulang. Namun kembali kami kuatkan diri bahwa perjalanan ini adalah pembelajaran bagi kami untuk mengurus Sophie tanpa bantuan siapapun. Mungkin menjadi berlebihan bila pada akhirnya kami membawa hampir semua barang keperluan dia secara berlebihan. Mulai dari stroller, obat-obatan, makanan, pampers dan segala macamnya. Bagasi kamipun menggelembung. Waktu 4 hari disana ternyata tak mengkawatirkan meski perjalanan lumayan melelahkan karena via Batam untuk sekalian menengok saudara. Sophie tetap ceria dan asyik menikmati perjalanan pun ketika kami harus antri dan berdesakan 3 jam lebih untuk bisa mencapai Johor Baru. Beruntung ada stroller dan buku, teman perjalanan Sophie yang amat sangat bermanfaat bagi dia. Belajar dari pengalaman itu kami tak ragu untuk kembali jalan dengan mengajak Sophie. [.......]
Dibanding dengan Baby lain seusiaku atau malah dengan sepupu ku yang seumur mungkin berkah yang terberi padaku adalah kemampuan bicara. Di umur 21 bulan aku cukup fasih untuk diajak komunikasi, bercerita ataupun bernyanyi juga berdoa. Bagi Ayah bunda ini cukup menghibur setelah masalah berat badanku yang cukup “ringan” dibanding rekan lain sebayaku. Soal omong aku tak tahu kenapa secepat ini aku bisa bisa berkomunikasi dengan tutur yang fasih dan tepat. Apakah lingkunganku yang memang mendukung budaya tutur atau karena Ayah Bunda tak pernah menerimaku menggunakan bahasa tangis sehingga aku lebih banyak diajak komunikasi secara verbal. Usil punya usul ternyata Ayah dan Bunda paling bisa memilah dan memperhatikan sikapku.

Katanya Aku Baby TUWIR:
Bagaimana tidak aku suka mengucapkan kalimat yang mereka pandang sangat tua untuk umurku misalkan saat aku mulai berlagak tuwir dengan kata-kata yang aku punya seperti. “Hati-hati ya bunda, be carefull” atau “hati-hati, jangan di jalan nanti ada motor” kala aku ucapkan di depan rumah sebelum Ayah dan Bunda berangkat kerja. Kalimat mempersilahkanpun mereka terima dengan geleng-geleng padahal aku cuman bilang “Ayo papa thotho makan dulu” atau “Ayah kaos kakinya lepas dulu” begitu papa thotho bertandang ke rumah atau Ayah baru pulang dari kantor. Tak jarang Nenekpun sering dapat nasehat dari aku saat aku sakit “nek makannya sudah, nanti aku muntah loh!” atau “gak mau minum susu nenek, nanti muntah” atau malah pernah mendengar ayah batuk aku langsung mengambilkan air minum buat ayah sembari bilang “Ayah batuk, minum dulu ya”[.......]






