<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SamRoads - It&#039;s Just Some Inspiration In My Private Roads &#187; My Journey</title>
	<atom:link href="http://samroads.be-samyono.com/category/my-journey/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://samroads.be-samyono.com</link>
	<description>private, journey, words, thinking, jurnal, baby, renungan, pengalaman, sophie, perjalanan, kata, inspirasi, opini, catatan, pribadi, pemikiran, oppinion, kinanthi, ayah bunda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Jan 2012 09:06:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.3</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tanjung Pinang Bukanlah Pangkal Pinang</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2012/01/09/tanjung-pinang-bukanlah-pangkal-pinang/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2012/01/09/tanjung-pinang-bukanlah-pangkal-pinang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 05:56:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify; ">Sesaat sebelum boarding dengan pesawat Sriwijaya Air awal September lalu di terminal 1 Bandara Sutta saya sempat kecewa.  Saya memikirkan Pangkal Pinang saat saya menerima kesempatan mengajar kali ini.  Saya bayangkan setidaknya saya akan bertemu dengan pantai berpasir putih dan gugusan bebatuan koral yang menjulang.  Persis gambaran film laskar pelangi yang fenomenal itu.  Bahkan bila mungkin saya akan ekstent untuk sekedar mengeksplore kota ini hingga Bangka dan Belitung.  Saya Salah besar.  Di Tiket yang diberikan organizer tercantum Tanjung Pinang bukan PANGKAL PINANG!.</p>
</p>
<p style="text-align: center; "><img class="aligncenter" title="Pantai" src="http://inlinethumb12.webshots.com/48331/2943631670102971300S600x600Q85.jpg" alt="" width="288" height="432" /></p>
<p style="text-align: justify; ">Tak hanya kepanikan karena saya akan menuju tempat asing tapi juga kekecewaan karena peralatan pantai yang telah saya bawa sepertinya akan sia-sia.  Keterkejutan saya bertambah karena ternyata Tanjung Pinang adalah kota kecil di Pulau Bintan yang terletak di sebelah Batam. Kalau begini ceritanya mungkin hal lain yang saya bawa.  Passport misalnya, setidaknya saya bisa melarikan diri ke Singapura.  Panggilan Boarding kini malah terdengar bagaikan satu ejekan atas keteledoran saya [.........] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify; "><span style="color: #ff6600;"><strong>By Be Samyono [</strong><strong>06092011-23.08</strong><strong>]</strong></span><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify; ">Sesaat sebelum boarding dengan pesawat Sriwijaya Air awal September lalu di terminal 1 Bandara Sutta saya sempat kecewa.  Saya memikirkan Pangkal Pinang saat saya menerima kesempatan mengajar kali ini.  Saya bayangkan setidaknya saya akan bertemu dengan pantai berpasir putih dan gugusan bebatuan koral yang menjulang.  Persis gambaran film laskar pelangi yang fenomenal itu.  Bahkan bila mungkin saya akan ekstent untuk sekedar mengeksplore kota ini hingga Bangka dan Belitung.  Saya Salah besar.  Di Tiket yang diberikan organizer tercantum Tanjung Pinang bukan PANGKAL PINANG!.</p>
<p style="text-align: center; "><img class="aligncenter" title="Pantai" src="http://inlinethumb12.webshots.com/48331/2943631670102971300S600x600Q85.jpg" alt="" width="288" height="432" /></p>
<p style="text-align: justify; ">Tak hanya kepanikan karena saya akan menuju tempat asing tapi juga kekecewaan karena peralatan pantai yang telah saya bawa sepertinya akan sia-sia.  Keterkejutan saya bertambah karena ternyata Tanjung Pinang adalah kota kecil di Pulau Bintan yang terletak di sebelah Batam. Kalau begini ceritanya mungkin hal lain yang saya bawa.  Passport misalnya, setidaknya saya bisa melarikan diri ke Singapura.  Panggilan Boarding kini malah terdengar bagaikan satu ejekan atas keteledoran saya.</p>
<p style="text-align: justify; ">Beruntung menu penyambutan malam ini cukup menarik.  Ikan segar sebagai komodoti lokal pulau Bintan menjadi penawar suasana mencekam saat pendaratan tadi.  Saat diatas pesawat hati saya sudah kecil melihat cuaca hujan deras dan kilat yang tak berkesudahan.  Malah sempat diumumkan bahwa pesawat akan didaratkan di Batam bila kondisi cukup rawan.  Bila ini terjadi bisa ditebak akan makin panjangnya perjalanan yang kami tempuh.  Belum lagi jadwal mengajar besok.  Entah apa yang terjadi.</p>
<p style="text-align: justify; ">Hari telah larut saat saya masuk di Hotel Plaza.  Agak kurang menyamankan saya.  Komplek Bintan Plasa ini telah pudar dari masa jayanya.  Hotel yang dulunya adalah sebuah mall menyediakan fasilitas minim meski soal WIFI kita bisa berfoya2.  Pemandangan kanan kiri menyisakan ruko-ruko kosong atau berubah fungsi sebagai tempat karaoke murahan, tempat pijat ataupun rumah sarang wallet.  Konon tempat ini pernah berjaya saat Batam dan Bintan terbuka untuk tempat perjudian dengan segala bisnis kotor runtutannya.  Begitu pemerintah daerah menghentikan operasionalnya maka Bintan tak ubahnya bagai bunga yang luruh.</p>
<p style="text-align: justify; ">Tak banyak yang bisa dilakukan saat tugas mengajar usai.  Informasi minim membuat google menjadi tempat bertanya yang tepat.  Sedianya Batam akan menjadi tempat tujuan.  Namun tujuan kapal yang tidak merapat di Batam Center membuatku mengurungkan niat.  Demikian juga dengan Lagoi. Resort premium di ujung pulau ini tidak bisa dicapai dengan mudah dengan kendaraan umum, alamat saya tak bisa mengunjunginya. Hasilnya saya hanya mencoba membunuh waktu dengan keluar hotel menyewa ojek untuk mengantar saya keliling kota yang kecil ini hingga pelabuhan utama.</p>
<p style="text-align: justify; ">Namun mungkin inilah keajaiban sesuatu yang tak terencana.  Dari tukang ojek banyak tergulir informasi tempat2 yang menarik dikunjungi bahkan tidak itu saja dia bersedia untuk mengantar dan member petunjuk. Nah!.  Sepertinya petualangan dimulai.  Sayapun mengatur waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang disesuaikan dengan keterbatasan waktu yang ada.  Pilihan pertama saya adalah ke pulau Penyengat dan tengah hari kemudian akan meluncur ke pantai Trikora.  Semangat saya terbakar, meski saya harus meninggalkan banyak barang yang biasanya saya bawa kesana kesini.  Tas, kamera dan jaket serta celana renang adalah barang terminim yang sanggup saya bawa. Lupakan sunblock, topi bahkan sisir sekalipun.</p>
<p style="text-align: justify; "><span style="color: #ff0000;"><strong>PULAU PENYENGAT</strong></span></p>
<p style="text-align: justify; ">Pulau Penyengat adalah sebuah <a title="Pulau" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau">pulau</a> kecil yang berjarak kurang lebih 6 km dari <a title="Kota Tanjung Pinang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tanjung_Pinang">Kota Tanjung Pinang</a>, pusat pemerintahan <a title="Kepulauan Riau" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Riau">Provinsi Kepulauan Riau</a>. Pulau ini berukuran kurang lebih 2.500 meter x 750 meter, dan berjarak lebih kurang 35 km dari <a title="Pulau Batam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Batam">Pulau Batam</a>. Perahu bot atau lebih dikenal bot pompon adalah transportasi menuju kesana. Dengan menggunakan bot pompong, memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit dengan tariff 5 ribu sekali jalan.  Perjalanan menggunakan pompon tak kalah menarik. 20 orang akan menjejali perahu kecil ini dan tak akan berangkat bila jumlah kurang dari itu.  Demikian juga saat kembali nanti.</p>
<p style="text-align: justify; ">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Pemyengat" src="http://inlinethumb49.webshots.com/46704/2187133450102971300S600x600Q85.jpg" alt="" width="540" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify; ">Begitu merapat di Pulau Penyengat di gerbang utama telah disambut oleh Masjid raya sultan Riau yang konon terbangun dari campuran putih telur.  Beberapa orang menawarkan transportasi yang biasa digunakan disana, sepeda dan becak motor.  Saya memilih sewa becak motor yang akan membawa saya keliling pulau mengunjungi obyek2 yang ada dengan hanya merogoh 25 ribu.  Pengemudi yang membawa saya tak ubahnya seperti seorang pemandu wisata yang tahu jalan dan arah serta tempat mana yang harus dilewati d jalan kecil turun naik dan berkelok ini agar semua tempat bisa terkunjungi.  Saya menjadi teringat akan wisata di Johor Bahru Malaysia yang kebanyakan berupa makam dan makam. Dan nyata rumpun melayu masih mengkaitkan silsilah Johor dan riau.  Selama hampir satu jam satu-persatu obyek saya kunjungi. Mulai dari benteng, makam, kantor hingga gedung pertemuan yang kesemuanya adalah peninggalan budaya melayu termasuk makam Raja Ali Haji pencipta Gurindam 12, pahlawan nasional kita.  Dan perjalanan berakhir di Masjid raya Sultan Riau yang masih terawat termasuk adanya Al Qur’an kuno didalamnya. Luar biasa pantas bila pemerintah mencalonkan ke <a title="UNESCO" href="http://id.wikipedia.org/wiki/UNESCO">UNESCO</a> untuk dijadikan salah satu <a title="Situs Warisan Dunia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Warisan_Dunia">Situs Warisan Dunia</a>.  Hampir tengah hari saya meninggalkan pulau diiringi dengan music melalu yang mengalun dari rumah hajatan di samping Masjid.  Terasa sangat berbeda berada di  pulau kecil ini.</p>
<p style="text-align: justify; "><strong><span style="color: #ff0000;">PANTAI TRIKORA</span></strong></p>
<p style="text-align: justify; ">Kembali ke Tanjung Pinang saya menelepon ojek saya untuk menjemput saya untuk membawa saya ke Pantai Trikora.  Saya sempatkan makan Roti cane dan gulai kambing makanan yang banyak dijumpai disana.  Matahari belum tergelincir ke barat saat saya mulai duduk di boncengan tukang ojek saya.  Panas menyengat dan debu jalanan menyerbu kulit.  Saat itu pikiran saya hanya membayangkan pantai. Menjauhkan betapa menyengsarakannya duduk sejauh 35 Km di belakang boncengan motor.  Panasnya pantat saya terbayar saat mendekat ujung pantai yang memanjang.  Saya benar-benar kegirangan menyaksikan hamparan pantai memanjang di sisi barat Pulau ini yang sangat eksotik.  Tidak saja ombak setinggi 2 meter yang menerjang tapi juga gugusan batu batu koral yang memberi manik-manik pada bersih dan birunya pantai ini.   Konon Trikora diambil dari kata CORAL yang menjadi cirri pantai ini.  Saya tak sabar untuk meminta motor berhenti namun tukang ojek itu mencegah.  Dia menyarankan agar kita berjalan hingga ujung pantai yang mungkin hingga 5 KM lagi dan dari sana akan kembali.  Bila ada spot menarik dia tak keberatan untuk berhenti mengambil photo atau sekedar menikmati pantai. Saya hanya terbengong saat dikatakan ini baru ujungnya, saya segera menyetujui saran tukang ojek itu.  Pati banyak hal yang lebih mencengangkan didepan sana pikir saya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Trikora" src="http://inlinethumb30.webshots.com/48093/2740353100102971300S600x600Q85.jpg" alt="" width="480" height="320" /></p>
<p style="text-align: justify; ">Ternyata saya tidak salah.  Sepenjang perjalanan tak sadar beberapa kali saya berteriak kegirangan dan tak henti hentinya memberikan komentar kekaguman.  Baru kali ini saya mendapati pantai yang sedemikian bersih dan eksotiknya. Sampai sampai saat diujung perjalanan saya tak sabar untuk mengekspoler pantai yang penuh dengan bebatuan koral raksasa dan mengakhirinya dengan berenag disana. Ini hal yang lebih dari kata puas bagi saya.  Sayang sekali perjalanan ini saya lakukan sendiri.  Hingga terasa kurang lengkap kepuasan ini dibagikan.  Beberapa photo kembali saya ambil dan saya menyudahi permainan saya sebelum matahari condong.  Di jalur balik beberapa pantai yang menarik juga kampung-kampung nelayan menjadi obyek menarik utuk diphoto.  Bila mungkin saya akan meminta agar sore terlambat datang.  Supaya saya lebih puas menikmati keindahan fenomenal ini.</p>
<p style="text-align: justify; ">Menjelang maghrib saya sampai di hotel.  Uang 150 ribu saya berikan dari 75 ribu yang diminta. Saya benar-benar mengucapkan terima kasih telah dibantu menikmati perjalanan menarik ini.  Saya lihat kulit saya terbakar dan dipastikan akan menghitam hingga beberapa bulan kedepan.  Saya tak peduli selama ada PANTAI yang selalu bisa saya nikmat!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2012/01/09/tanjung-pinang-bukanlah-pangkal-pinang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belum Ada Kata Jaya di Jayapura</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2011/10/09/belum-ada-kata-jaya-di-jayapura/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2011/10/09/belum-ada-kata-jaya-di-jayapura/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 17:24:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Lima tahun lalu saat saya berkesempatan untuk mengunjungi propinsi paling barat Indonesia, Nangro Aceh Darusallam.  Perasaan saya begitu girang dan tak sabar hari itu datang.  Cerita tentang ketakjuban serambi mekkah ini layaknya dongeng di telinga saya.  Terlebih saat itu baru genap 1 tahun propinsi di ujung barat ini bangkit dari peristiwa tsunami yang berkategori bencana dunia. Suatu kesempatan luar biasa bisa mengunjungi propinsi paling ujung timur ini.  April tahun lalu kesempatan tak diduga datang untuk mengunjungi propinsi paling timur Negeri ini, Papua.  Meski sama-sama untuk urusan kerja namun ternyata perasaan saya tak sama saat menerima tawaran ini.  Meskipun Bunda Sophie yang telah 2 kali kesana dan selalu memaparkan keindahan propinsi ini namun perjalanan udara selama 8 jam membuat nyali saya mengecil.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Jayapura" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_3585.jpg" alt="" width="298" height="447" /></p>
<p style="text-align: justify;">Saya bisa jadi termasuk orang yang suka jalan, penikmat keindahan terutama laut dan landscape kota.  Saya bisa merelakan apapun untuk sekedar bisa jalan.  Satu bakat yang terlihat menurun pada anak kami.  Namun bila dihadapkan dengan perjalanan udara, tunggu dulu.  Perjalanan ke Jogja atau Singapura selama 1,5 jam sudah terasa begitu lama dan mengerikan.  Apalagi 8 jam, di waktu malam!.  Saya seperti kehilangan selera untuk kepergian ini. Tak kurang akal Bunda Sophie memberikan pil kina untuk jaga-jaga terhadap malaria serta antimo.  Ide yang bagus, pikir saya.  Saya tidak pernah mabuk perjalanan namun antimo ini saya rasa akan bisa menyenyakkan saya selama perjalanan. [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">By Be Samyono (15042010.08-30)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lima tahun lalu saat saya berkesempatan untuk mengunjungi propinsi paling barat Indonesia, Nangro Aceh Darusallam.  Perasaan saya begitu girang dan tak sabar hari itu datang.  Cerita tentang ketakjuban serambi mekkah ini layaknya dongeng di telinga saya.  Terlebih saat itu baru genap 1 tahun propinsi di ujung barat ini bangkit dari peristiwa tsunami yang berkategori bencana dunia. Suatu kesempatan luar biasa bisa mengunjungi propinsi paling ujung timur ini.  April tahun lalu kesempatan tak diduga datang untuk mengunjungi propinsi paling timur Negeri ini, Papua.  Meski sama-sama untuk urusan kerja namun ternyata perasaan saya tak sama saat menerima tawaran ini.  Meskipun Bunda Sophie yang telah 2 kali kesana dan selalu memaparkan keindahan propinsi ini namun perjalanan udara selama 8 jam membuat nyali saya mengecil.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Jayapura" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_3585.jpg" alt="" width="298" height="447" /></p>
<p style="text-align: justify;">Saya bisa jadi termasuk orang yang suka jalan, penikmat keindahan terutama laut dan landscape kota.  Saya bisa merelakan apapun untuk sekedar bisa jalan.  Satu bakat yang terlihat menurun pada anak kami.  Namun bila dihadapkan dengan perjalanan udara, tunggu dulu.  Perjalanan ke Jogja atau Singapura selama 1,5 jam sudah terasa begitu lama dan mengerikan.  Apalagi 8 jam, di waktu malam!.  Saya seperti kehilangan selera untuk kepergian ini. Tak kurang akal Bunda Sophie memberikan pil kina untuk jaga-jaga terhadap malaria serta antimo.  Ide yang bagus, pikir saya.  Saya tidak pernah mabuk perjalanan namun antimo ini saya rasa akan bisa menyenyakkan saya selama perjalanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat check in di counter garuda saya memperoleh informasi, pesawat GA yang saya tumpangi akan dua kali transit di Makasar dan Biak.  Sembari menunggu boarding pukul 20.50 saya bergegas ke executive lounge Bank Mandiri untuk charging blackberry dan mencari kesempatan meminum antimo saya, dua pekerjaan penting yang tak boleh saya lewatkan malam itu.  Televisi ramai menyiarkan penangkapan Susno Duadji yang terjadi sorenya.  Saya menyimaknya tak lebih dari melihat tayangan sinetron. Menggelikan.  Saya lebih tertarik untuk menelephon Sophie dan Bundanya.  Sophie mengerti keberangkatan saya dan dia hanya menginginkan saya membawakan buku tempel-tempel sepulang saya nanti.  Satu rule, saya tidak akan menyebutkan kepergian saya dengan pesawat terbang, karena sudah pasti dia tak akan merelakan saya berangkat ini tanpa keikutsertaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pesawat Boing 737 800 berisikan beberapa orang air crew setengah umur ramah menyambut kami yang rata-rata adalah pejabat daerah, expatriat dan pekerja tambang.  Saya duduk nyaman di kursi 8B.  Saya selalu bilang kursi pesawat didesain menganut badan saya yang kecil ini, jadi permintaan  maaf sedalamnya bila ada yang mempunyai badan lebih besar dari saya.  Tak berapa lamapun akhirnya saya tertidur dan terbangun saat mendarat di makasar.  Terulang kembali saat mendarat di biak dan kembali terulang saat akan mendarat di Jayapura.  Gangguan yang saya dapatkan hanyalah kegiatan pramugari yang membagikan makanan di dini hari.  Selebihnya antimo memang benar-benar bisa melelapkan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjelang pendaratan di pelabuhan Udara Sentani nampak gugusan lebatnya hutan dan luasnya danau sentani begitu menawan berbaur dengan kabut pagi.  Keindahan terelok yang tak terkatakan.  Saya bisa mengamini bahwa surga memang diletakkan di bumi ini.  Sayang pengaminan saya sepertinya sesaat terucap.  Saat pintu pesawat terbuka kekontrasan menyeruak.  Realitas dihamparkan.  Jayapura bukanlah kota yang indah.  Tak lebih dari kota-kota pelosok di pulau jawa yang tertinggal dan tak terawat.  Kesimpulan yang ingin saya katakan bukanlah suatu kritik tapi satu keprihatinan.  Bagai melihat kilau permata yang terbuang di kubangan.  Bukan waktu yang singkat untuk menjuk siapa yang bertanggung jawab tentunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak bisa dipungkiri bagaimana indah dan uniknya Danau Sentani, eloknya pahatan teluk yang menebarkan gugusan pulau kecil di hamparan pantai jayapura serta kontur pegunungan yang menakjubkan. Namun kembali itu serasa memprihatinkan bila dibandingkan dengan kondisi tata kota, kemajuan, sarana dan prasarana serta perawatan kota yang sangat minim.  Dan bukanlah hal yang murah untuk mendapatkan kebutuhan pokok disana. Tak dibantah, bagi saya ini bukanlah kota yang saya inginkan dan akan saya pertanyakan bagaimana saya bisa menikmati hidup disini.  Satu satunya kondisi yang membuat saya mampu mempertimbangkan adalah keragaman masakan asli papua yang sangat beragam dan kaya rasa.  Bahkan rasa kakap merah bakar yang saya santap dalam porsi besar disana belumlah tergantikan hingga sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga hari tinggal di hotel Matoa saya mencoba meresapkan semua pengalaman dan kehidupan kota ini dalam nadi saya.  Sayangnya kemauan saya menolaknya.  Pagi buta dihari ke 4 saya mengakhiri perjalanan di kota ini.  Berita tentang perang suku, pertikaian di perbatasan dan penembakan serta pesawat jatuh  seakan masih terus menjadi santapan harian selama disini, ditengah kondisi yang kita sebut kemerdekaan ini.  Dalam perjalanan di pesawat saya memikirkan kondisi disana, mengibaratkan melihat orang kelaparan di lumbung sendiri.  Lapar akan kemajuan yang belum sepenuhnya diberikan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2011/10/09/belum-ada-kata-jaya-di-jayapura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Matah Ati: Langendriyan Yang Dibesut Ala Broadway</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2011/05/20/matah-ati-langendriyan-yang-dibesut-ala-broadway/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2011/05/20/matah-ati-langendriyan-yang-dibesut-ala-broadway/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 11:59:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Siapa bilang kesenian tradisional Indonesia tidak mempunyai opera? <strong>Langendriyan</strong> adalah buktinya.  Seni berpakem jawa ini memadukan tari dengan nyayian / tembang dalam satu pertunjukan.  Dan ditangan Atilah Suryajaya warga turunan kraton Mangkunegaran Solo ini membesut episode opera jawa kuno langendriyan menjadi tontonan apik yang dibawa pada konteks kekinian.  Konsep yang harus ditampilkan untuk menyelipkan budaya lama ini pada era apresiasi budaya yang mulai pudar.</p>

<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/Q9PBSU8SuC8" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/Q9PBSU8SuC8"></embed></object>
<p style="text-align: justify;">Memadukan sendratari, ketoprak, tari klasik dan pagelaran wayang kulit yang digarap selama 2 tahun terciptalah<span style="color: #ff6600;"><strong> Matah Ati</strong></span>.  Seni kolosal yang pertama digelar di Explanade Singapura Nopember lalu bertepatan dengan pesta budaya Asia Tenggara.  Pertunjukan berdurasi 2,5 jam ini tak saja memperoleh sambutan yang gempita namun juga apresiasi yang bertubi akan kreatifitas menjadikan seni pertunjukan tradisional sejajar dengan pentas broadway si orang bule.  Tak salah bila Atila berupaya memboyong pertunjukan ini untuk di tonton di negrinya sendiri.  6 bulan berselang  barulah anak negri bisa melihat pertunjukan tradisional mereka di TIM yang terjadwal bulan ini selama 4 hari berturut-turut. [......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">By Be Samyono [14052011-00.30-01.30]</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Siapa bilang kesenian tradisional Indonesia tidak mempunyai opera? <strong>Langendriyan</strong> adalah buktinya.  Seni berpakem jawa ini memadukan tari dengan nyayian / tembang dalam satu pertunjukan.  Dan ditangan Atilah Suryajaya warga turunan kraton Mangkunegaran Solo ini membesut episode opera jawa kuno langendriyan menjadi tontonan apik yang dibawa pada konteks kekinian.  Konsep yang harus ditampilkan untuk menyelipkan budaya lama ini pada era apresiasi budaya yang mulai pudar.</p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/Q9PBSU8SuC8" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/Q9PBSU8SuC8"></embed></object></p>
<p style="text-align: justify;">Memadukan sendratari, ketoprak, tari klasik dan pagelaran wayang kulit yang digarap selama 2 tahun terciptalah<span style="color: #ff6600;"><strong> Matah Ati</strong></span>.  Seni kolosal yang pertama digelar di Explanade Singapura Nopember lalu bertepatan dengan pesta budaya Asia Tenggara.  Pertunjukan berdurasi 2,5 jam ini tak saja memperoleh sambutan yang gempita namun juga apresiasi yang bertubi akan kreatifitas menjadikan seni pertunjukan tradisional sejajar dengan pentas broadway si orang bule.  Tak salah bila Atila berupaya memboyong pertunjukan ini untuk di tonton di negrinya sendiri.  6 bulan berselang  barulah anak negri bisa melihat pertunjukan tradisional mereka di TIM yang terjadwal bulan ini selama 4 hari berturut-turut. Dengan tiket yang dibandrol Rp 200 ribu hingga 750 ribu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagelaran yang mengambil epik kisah nyata drama heroik Rubiah dari desa Matah dan bangsawan raden mas Said / Pangeran Samber Nyowo yang kelak akan menurunkan raja-raja Kraton Mangkunegaran Solo dikemas sangat cerdik tidak saja memadukan semua ragam tari, tata busa dan budaya asli solo namun juga penggunaan teknologi dan tata panggung yang cukup high tech.  Lihat saja panggung garapan Jay Subiyakto yang di beri kemiringan 15 derajat demi memanjakan mata penonton yang memberikan efek 3 dimensi.  Tak sekedar miring namun panggungpun bisa terbuka bagian tengahnya berikut efek tali sling dan bahan peledak di beberapa bagian.  Intinya kembali agar paket tradisional ini bisa dirasakan menjadi hal baru yang tidak ketinggalan jaman namun mampu untuk selaras dengan keinginan jaman itu sendiri tanpa meninggalkan hal yang bersifat pakem.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak berhenti disitu.  Update kekinianpun ditampilkan di tengah acara oleh sentilan segar ala “srimulat” yang dikemas apik.  Mengkritik tanpa memanaskan telinga.  Ambil contoh beberapa kasus suap yang marak belakangan ini.  Hingga guyonan fulgar ala Melinda Dee yang membandingkan 20 M hasil jarahannya dengan aset pribadinya yang supersize 20 Kg itu.  Tak pelak guyonan berbahasa indonesia ini memancing tawa lebih dari 800orang yang hadir di pertunjukan perdana malam 13 Mei di TIM Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa mengurangi gegap gempita pujian akan besutan ini saya sebagai pecinta seni memberi catatan pinggir Bahwa sangat disayangkan bahwa pertunjukan ini tidak bisa maksimal di gelar di negri sendiri.  Gedung TIM yang baru rasanya masih kurang sempurna tata suaranya sehingga rentak gamelan dan suara pelatun terkesan tidak maksimal.  Pun suporting gedung seperti hall untuk menunggu ataupun tempat parkir masih jauh dari yang diharapkan.  Hingga antrian panjang dan kurangnya parkir menjadi hambatan tersendiri.  Dan hal ini ditambah dengan atitude penonton kita yang belum bisa mengapresiasi sebuah pertunjukan secara utuh.  Misalnya dengan datang terlambat, sibuk memotret saat pertunjukan ataupun tak disiplin dalam hal antrian.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa dibayangkan selama apresiasi kita masih minim dan dukungan gedung pertunjukan yang tidak layak secara standar internasional jangan harap seni pertunjukan akan hidup di negeri sendiri.  Hingga efek konyol terjadi dimana pertunjukan lebih mengorbankan bidang olahraga dengan diambilnya tempat stadion atau lapangan tennis sebagai arena pertunjukan.  Dan matah ati-atah ati yang lain yang telah berjuang memodernkan diri tak akan bisa dihargai di negerinya sendiri.  Alangkah memalukannya bila malah negera lain justru lebih mengapresiasikannya.  Dan jangan kecewa bila satu saat nanti justru mereka yang merasa berhak memiliki.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2011/05/20/matah-ati-langendriyan-yang-dibesut-ala-broadway/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Voyage De La Vie – RWS</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2011/04/19/voyage-de-la-vie-%e2%80%93-rws/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2011/04/19/voyage-de-la-vie-%e2%80%93-rws/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 09:32:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Semasa kecil mata saya selalu terpesona dan menggantungkan tanda tanya yang besar setiap kali menyaksikan pertunjukan sirkus di kota kecil saya.  Sirkus yang di gelar di kubah raksasa dengan serangkaian atraksi yang mengalir satu persatu dan diseling kelucuan si badut amat sangat menghibur.  Hari ini 02 April 2011 bayangan saya akan sirkus tradisional itu sirna.  Pertunjukan sirkus modern <span style="color: #ff6600;"><strong>“Voyage de La Vie”</strong></span> yang di gelar di Festive Grand Theater area <a href="http://www.rwsentosa.com">Resort World Sentosa</a> Singapore memberi perspective yang beda mengenai seni pertunjukan utamanya sirkus.</p>

<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/8Ob7EXq4f6o" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/8Ob7EXq4f6o"></embed></object>
<p style="text-align: justify;">“Voyage de La Vie” adalah pertunjukan yang memadukan sirkus dengan theater yang ditata apik berskenario oleh bintang internasional. Tarian, nyanyian, atraksi, sulap dan acrobat maut berpadu menjadi pertunjukan utama selama 2 setengah jam tanpa jeda.  Segenap ide kreatif di tuangkan Mark Fisher arsitek dan desainer panggung yang pernah menggarap pembukaan olimpiade Beijing  untuk menampilkan keajaiban di tengah panggung Festive Grand Theater yang berkapasitas hingga 1.600 orang ini [.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff6600;">By Be Samyono [02042011-13.13]</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Semasa kecil mata saya selalu terpesona dan menggantungkan tanda tanya yang besar setiap kali menyaksikan pertunjukan sirkus di kota kecil saya.  Sirkus yang di gelar di kubah raksasa dengan serangkaian atraksi yang mengalir satu persatu dan diseling kelucuan si badut amat sangat menghibur.  Hari ini 02 April 2011 bayangan saya akan sirkus tradisional itu sirna.  Pertunjukan sirkus modern <span style="color: #ff6600;"><strong>“Voyage de La Vie”</strong></span> yang di gelar di Festive Grand Theater area <a href="http://www.rwsentosa.com">Resort World Sentosa</a> Singapore memberi perspective yang beda mengenai seni pertunjukan utamanya sirkus.</p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/8Ob7EXq4f6o" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/8Ob7EXq4f6o"></embed></object></p>
<p style="text-align: justify;">“Voyage de La Vie” adalah pertunjukan yang memadukan sirkus dengan theater yang ditata apik berskenario oleh bintang internasional. Tarian, nyanyian, atraksi, sulap dan acrobat maut berpadu menjadi pertunjukan utama selama 2 setengah jam tanpa jeda.  Segenap ide kreatif di tuangkan Mark Fisher arsitek dan desainer panggung yang pernah menggarap pembukaan olimpiade Beijing  untuk menampilkan keajaiban di tengah panggung Festive Grand Theater yang berkapasitas hingga 1.600 orang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski tanpa badut atau hewan-hewan buas namun “Voyage de La Vie” tanpil solit dengan tata panggung nan apik dan busana yang eksotik.  Gambaran sirkus tradisional hampir tak ada tergantikan dengan decak kagung akan kepiawaian menggelar pertunjukan dengan kemasan yang imajinatif.  Saya begitu terpukau dengan manajemen pertunjukan dan bagaimana ice breaking sebelum pertunjukan selalu menjadi pengumpul perhatian hingga penonton dibawa pada alur cerita tanpa terpaksa.  Seakan ada penyatuan antara pemain dan penonton untuk bersama-sama menjalin mutualisme selama pertunjukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Efek pengalihan kala pergantian property panggung juga dipikirkan dengan rapi hingga penonton tak menyadari dan merasa seakan-akan semua telah siap dan mengalir tanpa jeda.  Di deret depan saya cukup bisa menikmati cara kerja panggung dan efek-efek yang disuguhkan.  Semua ini membuat penampil sungguh maksimal atraksinya seperti: seperti Viktor Kee, yang dikenal sebagai salah satu juggler terbaik dunia; Aurelia Cats, penari trapeze (akrobatik tali) dari Perancis, dan artis handstand (penari dengan kekuatan satu tangan), Melanie Chy dari Swiss. Juga ada ahli atraksi panah dari Finlandia, Martti Peltonen; Linna Aunola, penari akrobat tali asal Finlandia yang aksinya sungguh mendebarkan jantung; juga manusia karet nan-ajaib dari Rusia, Alexey Goloborodko, yang baru berusia 15 tahun; serta dua pesulap asal Las Vegas, Jarret dan Raja.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="RWS" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_0620.jpg" alt="" width="383" height="256" /></p>
<p style="text-align: justify;">Rasanya tak sayang menyaksikan proyek ambisius Singapore untuk memproduksi pertunjukan sirkus internasional pertamanya.  Harga tiket yang dilego <a href="http://www.sistic.com/">www.sistic.com</a> dengan harga S$  68-168 [antara 500 ribu hingga 1.2 juta] terasa terbayar dengan pertunjukan spektakuler serta gedung pertunjukan yang sangat mumpuni ini.  Satu hal yang apresiatif sekali kala tepuk berkepanjangan mengakhiri penampilan para akrobatik professional ini berlaga dengan taburan balon, bola dan kertas berbentuk kupu-kupu.  Indah dan mengesankan.  Satu selebrasi yang mempesona.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan keluar theater saya berfikir begitu banyaknya seniman hebat tanah air yang mampu menyajikan tontonan tidak kalah hebat.  Namun tak ada hitungan sebelah jari yang mampu mengemas pertunjukan secara professional dan termanajemeni dengan level internasional.  Rasanya penantian untuk melihat kiprah anak bangsa untuk menjadikan seni pertunjukan tradisional muncul di tataran seni dunia masih jauh dari angan.  Obat kangen hanya sesekali bisa menengok pentas mereka di panggung Explanade yang notabene bukan anak bangsa sendiri yang bisa menikmati dan mengapresiasikannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2011/04/19/voyage-de-la-vie-%e2%80%93-rws/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Lion King Musical Theater &#8211; MBS</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2011/04/19/the-lion-king-musical-theater-mbs/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2011/04/19/the-lion-king-musical-theater-mbs/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 09:20:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Spectacular … begitu benak saya memberi pujian pada icon komplek entertainment baru di Singapore : <strong><a href="http://marinabaysands.com">Marina Bay Sands</a></strong>.  Seperti  slogan “tak pernah usai”.  Singapore terus mengexplore sumberdaya non alaminya untuk menunjukkan peradaban dan memberi surga baru dalam jagat wisata.  Marina Bay Sands merupakan icon terpadu antara hotel megah bertopping perahu raksasa: Sands Skypark, art museum berbentuk teratai, casino, Sand Art Parth dan beragam fasilitas perkantoran serta belanja mewah lainnya.   Satu  icon yang terintegrated dan menyatu dengan icon wisata terdahulu seperti Explanade, fullerton ataupun merlion park. Bagi saya yang bermata “arsitektur” ini merupakan kemanjaan yang memuaskan, terlebih saya berkesempatan untuk menikmati satu dari 2 theater kelas dunia: Sands theater yang mengelar <span style="color: #ff6600;"><strong>The Lion King Musical Theater</strong>.</span></p>

<p style="text-align: center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=fnNY55nb-Q0&#38;feature=related"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/fnNY55nb-Q0&#38;feature" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/fnNY55nb-Q0&#38;feature"></embed></object></a>
<p style="text-align: justify;">The Lion King Musical  ditampilkan di Sands Theater yang menjadi pusat pertunjukan broadway dan mampu menampung hingga 1.680 orang di dua lantainya.  Theater ini lebih kecil dibanding dengan Grand Theater di sebelahnya yang mampu menampung hingga 2.155 orang di 3 lantainya.  Sebagai wahana baru theater ini sarat dengan kemewahan tidak saja interiornya namun juga teknologi dan efek digital yang diusungnya.  Satu jagad lain yang belum pernah ada di belahan asia tenggara [.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff6600;">By Be Samyono [19042011-14.14)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Spectacular … begitu benak saya memberi pujian pada icon komplek entertainment baru di Singapore : <strong><a href="http://marinabaysands.com">Marina Bay Sands</a></strong>.  Seperti  slogan “tak pernah usai”.  Singapore terus mengexplore sumberdaya non alaminya untuk menunjukkan peradaban dan memberi surga baru dalam jagat wisata.  Marina Bay Sands merupakan icon terpadu antara hotel megah bertopping perahu raksasa: Sands Skypark, art museum berbentuk teratai, casino, Sand Art Parth dan beragam fasilitas perkantoran serta belanja mewah lainnya.   Satu  icon yang terintegrated dan menyatu dengan icon wisata terdahulu seperti Explanade, fullerton ataupun merlion park. Bagi saya yang bermata “arsitektur” ini merupakan kemanjaan yang memuaskan, terlebih saya berkesempatan untuk menikmati satu dari 2 theater kelas dunia: Sands theater yang mengelar <span style="color: #ff6600;"><strong>The Lion King Musical Theater</strong>.</span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=fnNY55nb-Q0&amp;feature=related"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/fnNY55nb-Q0&amp;feature" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/fnNY55nb-Q0&amp;feature"></embed></object></a></p>
<p style="text-align: justify;">The Lion King Musical  ditampilkan di Sands Theater yang menjadi pusat pertunjukan broadway dan mampu menampung hingga 1.680 orang di dua lantainya.  Theater ini lebih kecil dibanding dengan Grand Theater di sebelahnya yang mampu menampung hingga 2.155 orang di 3 lantainya.  Sebagai wahana baru theater ini sarat dengan kemewahan tidak saja interiornya namun juga teknologi dan efek digital yang diusungnya.  Satu jagad lain yang belum pernah ada di belahan asia tenggara.</p>
<p style="text-align: justify;">“Can You Feel The love To Night” yang menjadi original sound track The Lion King  menjadi magnet hingga lebih dari 51 juta orang menontonnya.  Dan Singapore mempagelarkan pertama kali saat pembukaan Marina Bay Sand.   Karya spektakular yang memenangkan lebih dari 70 penghargaan ini disutradarai oleh Julie Taymor memang pantas mendapat pujian.  Selama 2 setengah jam lebih penonton disuguhi imajinasi hutan Afrika dengan karakter Disney yang begitu real dan mengundang decak kagum.  Tidak saja kehebatan tekbologi yang di paparkan namun juga profesionalisme pemain, tata busana, desain panggung hingga tata musiknya yang tanpa cela.  Ticket yang bisa dibeli di <a href="http://www.sistic.com/">www.sistic.com</a> dan dibandrol antara S$ 65-240 (500 ribu &#8211; 1.7 juta!) per pertunjukan sabtu 1 April 2011 lalu telah fully book!</p>
<p style="text-align: justify;">Saya masih terkesan dengan tata panggung yang amat rapi dan membawa imajinasi saya begitu hidup hingga beberapa kali tak sadar mengucap “wooo”.  Panggung seluas 20m X 30 M sekan disulap menjadi dunia kecil 3 dimensi yang mampu bergerak dinamis dan mempesona.  Pun pada tata busananya, perancang begitu smart melekatkan karakter berbagai hewan pada pelakon tanpa mengubah persepsi bahwa itu semua orang yang menjalankannya.  Baik itu hewan yang berukuran besar ataupun pada hewan kecil dan bisa terbang.  Indah!.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="MBS" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_0563.jpg" alt="" width="383" height="256" /></p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya yang penggemar pagelaran, pertunjukan dan orchestra ini merupakan pengalaman baru.  Tidak saja baru dalam menikmati pertunjukan kelas dunia namun juga pengalaman baru untuk sadar menjaga tata krama menonton pertunjukan.  Bisa jadi saya mempertanyakan kenapa pertunjukan dibatasi bagi anak2 usia dibawah 7 tahun tidak diperkenankan, terlebih merekam ataupun memotret selama pertunjukan sangat dilarang.  Mungkin pemikiran kita sangat tidak asyik tidak bisa membawa anak2 di pertunjukan “segala”umur” dan lebih-lebih amat tidak asyik tidak bisa melaporkan secara live pertunjukan melalui media social yang kita punya macam facebook atau twitter.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun inilah makna pertunjukan dimana kita dibawa pada situasi untuk menikmati suguhan dengan segenap panca indra kita dengan focus.  Merasai setiap detail sajian dengan kenyamanan dan etika.  Hal ini tidak saja berlaku bagi kita namun juga penonton lain membutuhkan kepentingan dan suasana yang sama. Sederhananya saling membagi kenyamanan untuk menikmati pertunjukan bersama.  Penghargaanpun seyogyanya kita berikan dengan tidak merekam ataupun memfoto seijin pelaksana untuk menghormati hak property pertunjukan.  Disinilah etika di sematkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2011/04/19/the-lion-king-musical-theater-mbs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sophie Di 3 Tahunnya</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2011/03/03/sophie-di-3-tahunnya/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2011/03/03/sophie-di-3-tahunnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Mar 2011 15:17:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Baby kecil itu seakan bermetamorfosa.  Si kecil yang tembluk, menggemaskan menjadi sosok kecil yang tahu apa maunya, banyak bicara dan amat menggemari musik.  Bukan sesekali saya terbawa emosi untuk bisa merasakan masa-masa menggendong dia dan menggodanya, atau membawanya jalan serta mendandaninya. Tak terasa waktu itu telah berjalan 3 tahun ini. Saya sangat merindukannya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Sophie in3" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Us6.jpg" alt="" width="384" height="307" /></p>
<p style="text-align: justify;">Terselip rasa sesal bahwa saya tidak bisa secara konsisten untuk terus menuliskan fase-fase perkembangannya.  Menuliskan hal kecil kesehariannya yang akan menjadi kado indah saat dia belum mampu mengingat masa kecilnya nanti.  Setahun kefakuman tentunya banyak hal yang terjadi dan patut untuk diingat.  Sayangnya semua terlewatkan, satu-satunya hiburan banyak photo yang tersimpan.  Moga itu bisa bercerita banyak untuknya kelak [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff0000;">Catatan Ayah (1)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">By Be samyono (03032011-19.10)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Baby kecil itu seakan bermetamorfosa.  Si kecil yang tembluk, menggemaskan menjadi sosok kecil yang tahu apa maunya, banyak bicara dan amat menggemari musik.  Bukan sesekali saya terbawa emosi untuk bisa merasakan masa-masa menggendong dia dan menggodanya, atau membawanya jalan serta mendandaninya. Tak terasa waktu itu telah berjalan 3 tahun ini. Saya sangat merindukannya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Sophie in3" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Us6.jpg" alt="" width="384" height="307" /></p>
<p style="text-align: justify;">Terselip rasa sesal bahwa saya tidak bisa secara konsisten untuk terus menuliskan fase-fase perkembangannya.  Menuliskan hal kecil kesehariannya yang akan menjadi kado indah saat dia belum mampu mengingat masa kecilnya nanti.  Setahun kefakuman tentunya banyak hal yang terjadi dan patut untuk diingat.  Sayangnya semua terlewatkan, satu-satunya hiburan banyak photo yang tersimpan.  Moga itu bisa bercerita banyak untuknya kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Keberadaan Sophie menjadi pelajaran berharga bagi saya dan Bunda mengenai apa arti cinta dan merawat titipan.  Bagi saya, keberadaannya merupakan terima kasih dan kepercayaan karena Allah menitipkan dirinya di asuhan kami.  Tak putus harapan dan upaya untuk menjadikan dirinya sesuai apa yang dia ingin. Menjadikan dia sebagai pribadi yang mandiri dan bijak untuk pijakan hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di jeda saya mengingat setahun kebelakang, tidak sedikit peristiwa yang saya harus garis bawahi.  Saat manis, indah, menakjubkan juga sedih.  Saat-saat hal kecil terjadi dan menjadi pengikat kebersamaan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">PELAJARAN BAGI SEORANG AYAH</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saya akui banyak hal yang saya harus perbaiki sebagai ayah. Mungkin saya sudah melakukan semua hal untuk Sophie.  Namun saya belum bisa membantunya menceboki kala buang air besar atau membantu bundanya saat Sophie muntah.  Saya menyerah untuk dua hal itu.  Namun sepertinya semua ada saat pertama.  Kala hanya kami berdua dan Sophie harus BAB tak ada pilihan lain kecuali membantunya.  Ditengah semua campur aduk perasaan yang tertinggal Cuma lega karena proses awal ini tak lagi menjadi beban saat kejadian yang sama berulang.</p>
<p style="text-align: justify;">Justru hal yang membekas adalah pendapat bahwa anak adalah pribadi yang unik dan perkembanganya tidak selalu bisa disamakan dengan garis lurus.  Tidaklah tepat mendidik anak yang berbeda dengan  cara yang sama itulah yang saya pelajari.  Anak membutuhkan sentuhan dan penalaran yang berbeda tiap individunya.  Pemahaman kita akan perbedaan ini akan membawa kita pada pemahaman akan arti kelebihan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing anak.  Sama halnya dengan kenyataan yang saya hadapi ternyata perkembangan anak tidaklah selalu maju dan lurus, kadangkala berbelok bahkan mengalami kemunduran.  Sebelumnya saya melihat hal ini sebagai kegagalan dalam mendidik.  Tapi ternyata saya keliru.  Ada kalanya anak mempunyai fase-fase yang memang harus kita mengerti.  Pemahaman akan membawa kita pada upaya untuk selalu memotivasi anak untuk kembali maju dan berada di tracknya yang benar.  Tidak malah mengintimidasinya dan membuat perbandingan hingga melemahkan kepercayaan dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini dialami Sophie.  Cengeng itulah salah satu kemundurannya.  Saya hampir frustasi melihat makin lemahnya kepercayaan diri dan kemandirian dia.  Bunda mengingatkan saya akan fase itu dan kami mencoba untuk selalu menanggapi kecengengannya dengan bijak.  Pun meminta keluarga besar untuk lebih memberi dukungan positif saat sifat ini muncul.  Sejauh ini upaya ini nampaknya berhasil.  Pun demikian juga dengan kemunduran lainnya.  Kuncinya selalu mencari upaya dan metode yang tepat untuk mengantisipasinya dan kembali kepemahaman bahwa tiap anak adalah unik.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>AKTIF SEKOLAH</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sekolah adalah obsesi dan mau Sophie.  Akhirnya Juli 2010 dia resmi menjadi murid toddler Al Azhar Kemandoran.  Menyenangkan melihat semangat dan antusias dia sekolah dan les nari disekolah.  Dibalik semangat sekolah dan kepribadiannya yang rame saya tidak menyangka bahwa ternyata Sophie amat pendiam dan pasif di sekolah.  Informasi dari guru mengatakan bahwa memang beginilah perilaku anak-anak toddler.  Mereka biasanya diam dan memperhatikan, sisanya akan merealisasikannya dirumah.  Sophie demikian namun saya tak sepenuhnya percaya dengan ini.  Saya berpendapat Sophie kurang mampu untuk berinteraksi dengan teman sebaya.  Utamanya mereka yang belum mampu untuk berbicara lancar.   Kebanyakan lingkungannya adalah anak besar atau orang tua yng bisa memacu daya bicaranya.  Selain itu sikapnya yang analitikal dan pemalu memberi hambatan lain dalam interaksi ini.  Tak ada kata lain selalu berpesan padanya untuk enjoy dan menikmati lingkungan barunya.  Dan tak perlu waktu lama.  Sophie sudah membuktikannya dengan 1 piala pertamanya yang dibawa pulang!  Tidak itu saja dia juga menjadi role model bagi teman-temannya atas  keberanian dan kemandiriannya di kelas.  Ini sangat membanggakan ayah bunda.</p>
<p style="text-align: justify;">Keasyikan Sekolah bagi Sophie juga merupakan keasyikan menjemput sekolah bagi papa koko di hari hari tertentu.  Jum’at biasanya merupakan hari menyenangkan bagi Sophie untuk jalan sepulang Sekolah ke tempat yang sepele, apalagi kalau tidak ke Carefour ITC permata hijau.  Di tempat yang lumayan dekat dengan sekolahnya ini dia biasa ke game zone sebentar dan pulang dengan membawa makanan kesukaaanya: HOKA-HOKA BENTO!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">[bersambung]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2011/03/03/sophie-di-3-tahunnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MHI Tennis 6th Anniversary</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2011/02/16/mhi-tennis-6th-anniversary/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2011/02/16/mhi-tennis-6th-anniversary/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 03:27:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[MHI Tennis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hujan telah menyingkir, menyisakan terik dan serta kecerahan yang diharapkan.  Lapangan tenis Patra nampak didominasi warna outfit putih-putih yang memberi penguat kesegaran wajah-wajah undangan yang datang.  Reuni, begitu yang kita inginkan pada hajatan MHI Tennis 6<sup>th</sup> anniversari kali ini.  6 tahun bukanlah perjalanan yang pendek.  Bila kita bermain dengan matematika dengan mengasumsikan ada 5 orang anggota baru rata per quarternya maka akan ada 120 orang yang pernah bermain bersama MHI tennis.  Artinya sejumlah itulah alumni MHI tennis yang ada.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="MHI Tennis #6" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_4120copy.jpg" alt="" width="360" height="241" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tema reuni yang dibuat untuk hajatan ulang tahun kali ini bukan kenaifan untuk mengumpulkan sejumlah orang diatas.  Undangan terbuka disebarkan, lebih untuk memberi momentum bagi rekan-rekan yang pernah bersentuhan dengan MHI Tennis  guna datang dan mengingat kebersamaan tersebut.  4 founder (arie, derry, yudha &#38; sam) bisa dikumpulkan, termasuk rekan-rekan angkatan awal (dyna, oi, koko) dan rekan milist (Husni) lengkap dengan keluarga mereka. Dengan total sejumlah 43 orang acara sederhana khas MHI tennis berlangsung hangat dan meriah [.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">By Be Samyono (08022011-13.25)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hujan telah menyingkir, menyisakan terik dan serta kecerahan yang diharapkan.  Lapangan tenis Patra nampak didominasi warna outfit putih-putih yang memberi penguat kesegaran wajah-wajah undangan yang datang.  Reuni, begitu yang kita inginkan pada hajatan MHI Tennis 6<sup>th</sup> anniversari kali ini.  6 tahun bukanlah perjalanan yang pendek.  Bila kita bermain dengan matematika dengan mengasumsikan ada 5 orang anggota baru rata per quarternya maka akan ada 120 orang yang pernah bermain bersama MHI tennis.  Artinya sejumlah itulah alumni MHI tennis yang ada.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="MHI Tennis #6" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_4120copy.jpg" alt="" width="360" height="241" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tema reuni yang dibuat untuk hajatan ulang tahun kali ini bukan kenaifan untuk mengumpulkan sejumlah orang diatas.  Undangan terbuka disebarkan, lebih untuk memberi momentum bagi rekan-rekan yang pernah bersentuhan dengan MHI Tennis  guna datang dan mengingat kebersamaan tersebut.  4 founder (arie, derry, yudha &amp; sam) bisa dikumpulkan, termasuk rekan-rekan angkatan awal (dyna, oi, koko) dan rekan milist (Husni) lengkap dengan keluarga mereka. Dengan total sejumlah 43 orang acara sederhana khas MHI tennis berlangsung hangat dan meriah.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa team dari majalah Mens’health turun berkontribusi memberikan sejumlah goodybag, doorprice dan hadiah utama bagi penerima penghargaan dari MHI Tennis.  Tak ketinggalan sharing dari rekan-rekan undanganpun mengalir entah dalam bentuk makanan, minuman, doorprize atau berbagai bentuk partisipasi lainnya.  Saya merasa kembali ingat, beginilah culture MHI Tennis sebenarnya. Kebersamaan dalam perbedaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak hal yang telah berubah selama 6 tahun ini. Tidak saja member dilapangan yang telah berbeda dari kondisi yang hampir homogen menjadi amat sangat heterogen, lokasi lapangan hingga banyak status ex member yang telah berkeluaraga.  Sisi sentimentil saya seakan dibawa pada kenyataan bahwa MHI tennis tidak saja sekedar aktifitas setiap minggu namun lebih dari itu begitu banyak kehidupan yang bersentuhan dengan keberadaan MHI tennis.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah bentuk persahabatan yang membuat saya bersyukur.  Utamanya setelah sebuah email terlayang melalui milist MHI tennis keesokan harinya.  Email dari Pak Husni, member milist MHI tennis yang sebelumnya belum pernah ikut kegiatan dan bertemu rekan-rekan MHI tennis secara langsung:</p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #ffff00;">Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih atas penerimaan anggota MHI Tenis yang luar biasa. Padahal baru kali inilah saya bertemu secara fisik dengan rekan2, kecuali dengan Kang Ade pernah ketemu 2x masalah bisnis .  Selama ini saya cuma sesekali ikut ngasih komentar di milis saja . Terus terang anak saya agak ragu dgn pertemuan ini, tadinya malah mau nunggu di mobil saja. Dia bilang ,&#8221;Emangnya ayah udah kenal berapa lama, dan pernah bertemu ?&#8221;. Waktu saya jawab belum, dia agak kaget sambil komentar : &#8220;Gimana kalau nanti di-cuekkin dong&#8221;. Saya jawab &#8220;ya udah Bismillah aja, gak mungkin lah kita di-cuekkin, wong kita tamu kan &#8220;.</span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #ffff00;">Ternyata ,setelah selesai, komentar anakku &#8220;LUAR BIASA, ramah-ramah ya orangnya, suka bercanda, walau baru ketemu tapi kok kayak yang udah lama kenal dan langsung KLIK ya &#8230;. &#8221; Memang MHI-Tenis sesuai dengan mottonya FUN, FRIENDLY &amp; HEALTHY . Kalau saja dekat, saya ingin sekali bergabung &#8230; Cuma jaraknya lumayan jauh &#8230;. Sekali lagi terima kasih rekan2 MHI Tenis dan Selamat Ulang Tahun yg ke-6 &#8230;</span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #ffff00;">Husni &amp; Keluarga</span></em></p>
<p style="text-align: justify;">Atau email lain dari salah satu member tennis:</p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #ffff00;">Temans, Terima kasih atas partisipasi dan kedatangannya di acara MHI Tennis anniversary kemarin.<br />
Menyenangkan bisa melihat kita bisa berkumpul kembali.  Secara pribadi saya ingin mengucapkan selamat dan terima kasih kepada :</span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #ffff00;"> </span><span style="color: #ffff00;">- The founding father : Derry, Ari, Sam, Yudha, minus Edwin.<br />
- Peserta Q1 2011.<br />
- Para &#8220;alumni&#8221; : Dyna, Oi, Ade, Wibi,<br />
- Team Men&#8217;s Health Indonesia.<br />
- Fotografer dadakan dan gratisan : Chatri.<br />
- Dan semua rekan, keluarga besar MHI Tennis, yang bersedia meluangkan waktunya.<br />
- ucapan selamat untuk Diki (most unbeatable), Pak Ben (most inspiring) dan Nike (most improved).<br />
- Buat Sam dan Asrizal yang sudah meluangkan waktunya untuk mengurus MHI Tennis.</span></em></p>
<p><em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ffff00;">Semoga kita tetap bisa menjaga kebersamaan ini.</span></p>
<p></em></p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #ffff00;">Salam Ace<br />
Mamat</span></em></p>
<p style="text-align: justify;">Jelaslah MHI tennis bukanlah sekedar komunitas lebih dari itu MHI Tennis adalah <strong><span style="color: #ff6600;">KELUARGA</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Happy Anniversari MHI Tennis!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2011/02/16/mhi-tennis-6th-anniversary/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenalkan Tenis di Usia Dini</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/16/237/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/16/237/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 10:25:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[MHI Tennis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Media Release:</span> “Mengenalkan sejak dini”  mungkin inilah kata yang tepat untuk bisa dipikirkan lebih mendalam dan dijabarkan dalam tindakan kongkrit guna mengatasi keterpurukan dunia olah raga Indonesia.  Tenis salah satu contoh olah raga tersebut.  Pandangan tenis sebagai olah raga mahal dan teruntuk manula menghasilkan pembibitan yang gersang dan prestasi yang tumpul.  Sejak era Yayuk Basuki dan Angelique Widjaja tak ada catatan anak negeri ini berhasil menapak 100 besar peringkat petenis dunia.  Satu hal yang ironis padahal tennis merupakan olahraga yang menjanjikan serta mempunyai apresiasi serta struktur yang mapan bagi seorang atlet.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Coaching" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2461.jpg" alt="" width="383" height="256" /></p>
<p style="text-align: justify;">Berpijak pada kondisi itu di ulang tahunnya yang ke 5, MHI Tennis mengajak 40 anak Panti Asuhan kampung Melayu  untuk mengikuti acara Tennis Coaching.  Anak-anak setingkat SD dan SMP itu akan diperkenalkan pada tenis dan dibekali cara-cara bermain tennis secara langsung Pelatih.  Serunya lagi anak-anak ini akan dipandu langsung oleh kakak-kakak MHI tennis dan akan dipadukan dengan fun game[........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (14022010-00.00) </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Media Release:</span> “Mengenalkan sejak dini”  mungkin inilah kata yang tepat untuk bisa dipikirkan lebih mendalam dan dijabarkan dalam tindakan kongkrit guna mengatasi keterpurukan dunia olah raga Indonesia.  Tenis salah satu contoh olah raga tersebut.  Pandangan tenis sebagai olah raga mahal dan teruntuk manula menghasilkan pembibitan yang gersang dan prestasi yang tumpul.  Sejak era Yayuk Basuki dan Angelique Widjaja tak ada catatan anak negeri ini berhasil menapak 100 besar peringkat petenis dunia.  Satu hal yang ironis padahal tennis merupakan olahraga yang menjanjikan serta mempunyai apresiasi serta struktur yang mapan bagi seorang atlet.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Coaching" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2461.jpg" alt="" width="276" height="184" /></p>
<p style="text-align: justify;">Berpijak pada kondisi itu di ulang tahunnya yang ke 5, MHI Tennis mengajak 40 anak Panti Asuhan kampung Melayu  untuk mengikuti acara Tennis Coaching.  Anak-anak setingkat SD dan SMP itu akan diperkenalkan pada tenis dan dibekali cara-cara bermain tennis secara langsung Pelatih.  Serunya lagi anak-anak ini akan dipandu langsung oleh kakak-kakak MHI tennis dan akan dipadukan dengan fun game.  Tennis  coaching ini merupakan salah satu dari serangkaian acara social yang diadakan oleh MHI tennis.   Selama sebulan MHI tennis menggulirkan program “Berbagi Kasih” bersama MHI Tennis, satu program penggalangan dana bagi anak-anak Panti Asuhan Kampung Melayu.  Pengumpulan dana per Rp 50.000,- yang diapresiasi dengan 1 buah pin ini telah berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp. 10.650.000,- dari donatur perseorangan yang umumnya merupakan anggota tenis, rekan dan sahabat di area Jawa dan Nusa Tenggara.  Keseluruhan donasi ini tanpa kecuali akan diserahkan seluruhnya kepada panti asuhan tersebut dalam bentuk cash (Rp 5 Juta rupiah), sembako serta peralatan operasional (Kulkas, kompor gas, setrika listrik) yang mereka butuhkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tennis Coaching sendiri dikemas dalam acara penyerahan donasi dan syukuran 5 tahun MHI Tennis.  Tidak saja anak-anak panti asuhan yang diikut sertakan dalam acara ini namun juga undangan serta pada donator dan sukarelawan yang telah terlibat dalam acara penggalangan dana ini.  Yang luar biasa undangan akan diajak berbaur dengan anak-anak panti asuhan untuk bersama berbagi kebahagiaan dalam permainan outbound mini.  Kesempatan terbuka bagi undangan untuk membawa keluarga dan anak guna berbaur dalam acara ini.  Beberapa sponsor juga ikut berpartisipasi dalam acara tennis coaching ini seperti Majalah Menshealth (Femina), KFC, Mead Johnson, serta Arnotts.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi Tunggu apalagi mari bergabung bersama-anak-anak panti asuhan dalam tennis coaching pada:</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Tanggal   :  14 Februari 2010</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Pukul      	:  09.00-12.00</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Tempat  	:  Lapangan tennis Indoor Pertamina Simprug</p>
<p style="padding-left: 120px; text-align: justify;">Jl Teuku Nyak Arif &#8211; Simprug</p>
<p style="padding-left: 120px; text-align: justify;">Jakarta Selatan Indonesia</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Acara    	:  “Berbagi Kasih” Bersama MHI Tennis</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Akan digelar:</span></p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">1.   Tennis Coaching &amp; Tennis exhibition bagi anak-anak panti asuhan</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">2.   Fun Games anak-anak panti asuhan &amp; peserta yang hadir</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">3.   Penyerahan hasil donasi “Berbagi Kasih”</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">4.   Syukuran 5th Anniversary MHI Tennis</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">5.   Hiburan &amp; ramah tamah</p>
<p style="text-align: justify;">Besar harapan bahwa Program “Berbagi kasih” yang digulirkan ini tidak saja memberi guna dan meringankan mereka namun juga utamanya bisa menumbuhkan minat, keinginan dan pengetahuan anak-anak usia dini mengenai olah raga tennis.  Nantinya diharapkan muncul prestasi yang membanggakan dari dari apa yang telah tertebar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Salam Ace ….!</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/16/237/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liburan &#8220;Seronok&#8221; (KL Trip) #2</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/12/10/liburan-seronok-kl-trip-2/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/12/10/liburan-seronok-kl-trip-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 03:56:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Lupakan untuk naik jejantas penghubung 2 menara kembar petronas.  Kami bangun kesiangan, atau tepatnya dibangunkan oleh sophie saat sudah siang.  Kami menikmati saja acara dikamar sambil main main dengan sophie yang tak mau melewatkan acara kesukaannya, mandi shower.  Ada lega juga tak jadi naik ke petronas walau tiket gratis. apalagi kalau bukan ketakutanku soal ketinggian.  Pukul 09.30 kami kumpul di restauran hotel untuk breakfast.  Mengejutkannya rasa  makanan disini lumayan enak.  Saya pilih ala american karena tergoda sup kacang polong kesukaan saya  dan menghindari nasi lemak yang berbumbu kari yang kembali "sangat India"!.  Pukul 10.30 kami telah berada di KLCC twins tower.  Niatan untuk naik jejantas kami urungkan dan kami ganti dengan mengambil photo siang hari di halaman depan dan belakang petronas sembari menunggu sholat jumat.  Kamipun ada janji lain dengan Khatty untuk mengantar kami "pusing-pusing" dengan car rental yang akan kami sewa 2 hari.</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Genting" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9692.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: center;"></p>
<p style="text-align: justify;">Sholat jumat menjadi bagian yang menarik karena berlangsung mulai pukul 01.30 pm waktu setempat.  Masjid KLCC yang berada 500 meter di belakang Twins tower cukup representatif, sejuk dan hijau.  Arsitekturnya cukup modern, tak hanya bagian utama masjid yang didinginkan dengan AC.  selasar terbukapun tak luput dari hembusan AC. Tak perlu kawatir untuk menaruh sepatu dan sandal di rak yang disediakan.  Meski terbuka kasus kehilangan rasanya jauh dari kata mungkin.  tatacaranyapun sedikit berbeda.  Sebelum adzan terlebih dahulu diisi siraman rohani.  Begitu selesai adzan bersama solat sunah dan selanjutnya dengan tata cara seperti yang kita lakukan.  Hanya menariknya doa untuk keselamatan negara dan kesultanan amat dominan selain penggunaan LCD berlayar besar yang menayangkan isi ceramah yang disampaikan khotib.  Satu sholat jumat yang sangat menambah wawasan [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (13112009-10.54)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Meski menggiurkan jalan-jalan malam di Bukit Bintang akhirnya saya tolak.  Saya lebih menaruh harapan besok bisa berjalan dengan nyaman dan bisa merebahkan kaki saya malam ini daripada sebaliknya.  Padahal bukit Bintang pada waktu malam cukup hidup.  Hangout disini cukup menyenangkan dan banyak ruang terbuka untuk sekedar berchit-chat atau menikmati secangkir minuman hangat. Jauh dari gangguan tak diundang dari pengemis ataupun pengamen yang biasa kita dapati bila nongkrong di kaki lima di &#8220;rumah&#8221; kita.  Traffick lalu lintaspun masih tergolong dapat ditolerir hingga tak mengusik kenyamanan untuk berkongkow-kongkow.  Belum lagi pilihan tempat dan suasananyapun tak bisa dibilang sedikit. Akhirnya saya membiarkan hal itu.  saya lihat sophie sudah pulas sejak turun dari taksi tadi. Bunda Sophie  Sedang menggantikan baju tidur padanya.  Dan serta merta saya telah berada di mimpi.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SERONOK DAY 2</span></p>
<p style="text-align: justify;">Lupakan untuk naik jejantas penghubung 2 menara kembar petronas.  Kami bangun kesiangan, atau tepatnya dibangunkan oleh sophie saat sudah siang.  Kami menikmati saja acara dikamar sambil main main dengan sophie yang tak mau melewatkan acara kesukaannya, mandi shower.  Ada lega juga tak jadi naik ke petronas walau tiket gratis. apalagi kalau bukan ketakutanku soal ketinggian.  Pukul 09.30 kami kumpul di restauran hotel untuk breakfast.  Mengejutkannya rasa  makanan disini lumayan enak.  Saya pilih ala american karena tergoda sup kacang polong kesukaan saya  dan menghindari nasi lemak yang berbumbu kari yang kembali &#8220;sangat India&#8221;!.  Pukul 10.30 kami telah berada di KLCC twins tower.  Niatan untuk naik jejantas kami urungkan dan kami ganti dengan mengambil photo siang hari di halaman depan dan belakang petronas sembari menunggu sholat jumat.  Kamipun ada janji lain dengan Khatty untuk mengantar kami &#8220;pusing-pusing&#8221; dengan car rental yang akan kami sewa 2 hari.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Genting" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9692.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Sholat jumat menjadi bagian yang menarik karena berlangsung mulai pukul 01.30 pm waktu setempat.  Masjid KLCC yang berada 500 meter di belakang Twins tower cukup representatif, sejuk dan hijau.  Arsitekturnya cukup modern, tak hanya bagian utama masjid yang didinginkan dengan AC.  selasar terbukapun tak luput dari hembusan AC. Tak perlu kawatir untuk menaruh sepatu dan sandal di rak yang disediakan.  Meski terbuka kasus kehilangan rasanya jauh dari kata mungkin.  tatacaranyapun sedikit berbeda.  Sebelum adzan terlebih dahulu diisi siraman rohani.  Begitu selesai adzan bersama solat sunah dan selanjutnya dengan tata cara seperti yang kita lakukan.  Hanya menariknya doa untuk keselamatan negara dan kesultanan amat dominan selain penggunaan LCD berlayar besar yang menayangkan isi ceramah yang disampaikan khotib.  Satu sholat jumat yang sangat menambah wawasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Petaka terjadi saat HP oom mamat tiba2 lowbad setelah sholat jumat.  Kami kehilangan jejak rombongan yang telah bergabung dengan Khatty.  Upaya pencarian seluruh mall pun gagal.  Kemungkinan menggunakan telpon publik sangat kecil untuk international call.  Akhirnya saya putuskan mencari toko Apple  untuk minta bantuan mencharge HP milik oom mamat. Begitu kembali kami berkumpul waktu telah demikian terlambat.  Kami tak sempat lagi untuk pergi ke Sogo hingga diputuskan untuk keluar KL menuju IKEA tepat pukul 03.00pm.  Perjalanan yang memakan waktu hampir 45 menit cukup lancar terbantu dengan traffic yang tidak macet dan keteraturan jalan serta banyaknya jalan layang di KL yang memungkinkan kami menghindari traffic light.  Sepanjang jalan tak henti kami bercanda karena banyak musik indonesia yang diputar disana serta lucunya pemakaian bahasa melayu yang terkesan asing di telinga kami.</p>
<p style="text-align: justify;">IKEA cukup besar dan lapang bagi konsumen yang akan melakukan swalayan membeli perabot berukuran besar.  Dan sekali lahi IKEA selalu menjadi tempat belanja favorite sekaligus inspiratif bagi rumah kami yang semakin mini.  Tak kecuali IKEA KL ini.  Letaknya yang bedekatan dengan Curve &amp; Ikano mall di pinggiran kota KL menjadi daya tarik tersendiri.  saya sendiri lebih terpikat pada show room serta system yang diterapkan bagi konsumen. Tak hanya bagaimana mengedukasi konsumen untuk bisa memilah dan memilih produk yang tepat namun juga memberikan begitu banyak detail. Petaka komunikasipun terulang.  kami erpech dalam 2 rombongan yang takbisa saling komunikasi.  2 jam kami terkatung-katung saling mencari.   Meski pada akhirnya saling bertemu tapi terlalu banyak waktu terbuang. Kembali ke Bukit bintang dan mengunjungi mall baru Pavilion-lah keputusah akhir kami.  Selebihnya saya ingin kembali merebah!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Monorail" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9551.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Memang tak ada habis asyiknya bila mengajak jalan Sophie.  Selalu saja ada cara supaya dia suka dan menikmati suasana.  Ketika yang lain berbelanja saya dan dia cukup bermain petak umpet dan berkeliling menghitung patung manekin.  Kegembiraannya tak habis.  Pun ketika semua tak belanja terkumpul.  Tak sabar dia untuk membawa salah satunya meski dia tahu kalau harus menyeret tas yang lebih besar daripada ukuran badannya.  Bisa dibilang mall di jakarta tak kalah dengan yang ada di KL.  Bakhan lebih besar dan ekslusif.  Bedanya mereka mampu merawat fasilitas umum yang ada dan tidak saja menjadikan mall sebagai surga tapi juga lingkungan sekitar yang ada.  Itu keunggulan yang ada.  Keadaan inilah yang membuat saya cukup relax melepas Sophie untuk kesana kemari dengan bebasnya.  Menikmati dunianya tanpa harus memngikuti keinginan rombongan lain untuk berbelanja.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SERONOK DAY 3</span></p>
<p style="text-align: justify;">Hari seperti dipercepat. Hari ini kami akan kembali petang nanti.  Kami bangun lebih awal dan benar-benar menikmati sarapan pagi.  Kamipun langsung cek out dan mengemasi barang di mobil Carnival sewaan kami. Tas sudah mulai beranak.  Beberapa Barang terpaksa di pangku. Beruntung Catty cukup piawai.  tempat parkir hotel yang sempit dan curam ini bisa di taklukkan.  Berhubung Catty ada acara keluarga maka kami akan meninggalkan kami lebih dahulu di Miles mall.  Dan akan dijemput kembali begitu usai.  Rencananya kami akan ke Putrajaya.  Beruntung Rumah Catty ada di Serdang yang searah dengan putrajaya dan LCCT tempat kami nanti meninggalkan KL.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak ubahnya seperti mall lain, Miles termasuk ramai untuk ukuran maal yang berada di luar KL, yang tergolong kabupaten.  Menariknya Mall ini menjadikan danau kecil di sebelahnya sebagai daya tarik.  Mall ini menjadi penghubung 2 danau.  Dan terdapat aliran sungai di tengah-tengah mall.  sayang sekali pengunjung harus merogoh 100 ribu/orang untuk bisa naik perahu boat mengelilingi danau selama 30 menitan.  Mahal!  Kami hanya makan dan berkeliling sembari menunggu jemputan.  Selang 2 jam Catty telah menjemput dan kami berencana untuk mampir ke rumahnya sekalian repacking bawaan kami.  Inilah pertama kalinya kami berkunjung ke rumah catty setelah lebih dari 5 tahun pertemanan kami.  Seperti tak canggung kami berada di rumah catty karena kami cukup mengenal Ibunya bahkan pernah bertemu sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Us" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9924.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Cuaca yang terik menjadi mendung dengan tiba-tiba.  Kami cepat-cepat pamit untuk menuju bandara dengan singgah di putrajaya lebih dahulu. Putrajaya adalah bandar baru tempat pemerintah mengendalikan roda  pemerintahan.  Kota cantik di sisi danau luas ini begitu menkjubkan dengan lanskap yang teratur dan aksitektur bangunan yang megah.  Beberapa Icon masjidpun menjulang memberi hiasan yang cukup religius.  Saya terpesona.  sayang sekali kami harus berfoto dalam kejaran mendung yang mulai menitikkan hujan hingga kami semua serba terburu-buru.  Meski tak puas hati tapi ini adalah upaya maksimal.  Kami hanya dapat berputar di gelapnya cuaca dan terpaan hujan yang jatuh di kaca mobil.  LCCT kami capai setengahjam kemudian.  Jalanan yang lengang dan serba tol mempercepat perjalanan.  Berat hati meninggalkan keseronokan beberapa hari ini.  Tapi sepertinya waktu memang tidak bisa diminta diam ditempat.  Pukul 19.00 kami terbang dengan membawa Sophie yang telah terlelap.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali perasaan saya merasaka ketidak enakan begitu liburan usai.  Bukan karena harus menghadapi rutinitas esok hari tapi kembali bagai dibenturkan pada kenyataan pahit.  Banyak surga yang bisa diberikan negara lain bagi rakyatnya namun kenapa tak cukup kenikmatan yang dirasakan rakyat kita dari pemimpinnya ditengah bumi yang dikatakan surganya dunia?. Bisa jadi banyak hal negatif yang timbul di benak rakyat indonesia tenang malaysia.  Namun kunjungan terakhir ini kembali harus saya akui banyak yang harus kita pelajari dari Malaysia untuk mengelola negeri ini. Saya tak tahu apakah pepatah <span style="color: #ff6600;">&#8220;hujan batu di negeri sendiri lebih nikmat dari hujan emas di negara lain&#8221; </span>masih berlaku melihat kenyataan ini.  Karena pada nyatanya terlalu banyak effort dan pengobanan untuk kehidupan kita sehari hari sementara kesejahteraan masih diangan-angan.  Karena kesejahteraan hanya dipunyai sebagian orang saja!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/12/10/liburan-seronok-kl-trip-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liburan &#8220;Seronok&#8221; (KL Trip) #1</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/12/liburan-seronok-kl-trip-1/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/12/liburan-seronok-kl-trip-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 07:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jalan-jalan seakan menjadi satu prioritas tersendiri bagi saya dan utamanya buat Bunda Sophie.  Bahkan kami sepakat untuk selalu mengalokasikan dana dan   waktu 2-3 kali setahun untuk jalan-jalan entah keluar kota atau keluar negeri. Rupanya memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.  Sophie anak kami ternyata   amat menyukai jalan-jalan.  Kondisi sakitpun akan dia abaikan bila mendengar kata jalan-jalan.  Tidak hanya perjalanan keluar kota yang dia nikmati, ke   luarnegeripun dia lalui dengan keriangan.  Sepertinya Sophie amat mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru serta hebatnya dia bisa menciptakan   kegembiraan tersendiri dari setiap suasana yang tercipta.  Untuk itulah kami sangat enggan dan tak rela jika meninggalkan dia disaat ada renacana untuk jalan   karena kami yakin dia cukup menikmati setiap perjalanan ini.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Together" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9555.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sedikit cerita ketika pertama kami mengajaknya pergi ke Singapore di usia 14 bulan. Keraguan mulanya kami temui.  Kekawatiran akan ribetnya membawa baby dan   tak adanya bala bantuan di negeri orang membuat kami berfikir berulang.  Namun kembali kami kuatkan diri bahwa perjalanan ini adalah pembelajaran bagi kami   untuk mengurus Sophie tanpa bantuan siapapun.  Mungkin menjadi berlebihan bila pada akhirnya kami membawa hampir semua barang keperluan dia secara   berlebihan. Mulai dari stroller, obat-obatan, makanan, pampers dan segala macamnya.  Bagasi kamipun menggelembung.  Waktu 4 hari  disana ternyata tak   mengkawatirkan meski perjalanan lumayan melelahkan karena via Batam untuk sekalian menengok saudara.  Sophie tetap ceria dan asyik menikmati perjalanan pun   ketika kami harus antri dan berdesakan 3 jam lebih untuk bisa mencapai Johor Baru. Beruntung ada stroller dan buku, teman perjalanan Sophie yang amat sangat   bermanfaat bagi dia.  Belajar dari pengalaman itu kami tak ragu untuk kembali jalan dengan mengajak Sophie. [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (10112009-09.03) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jalan-jalan seakan menjadi satu prioritas tersendiri bagi saya dan utamanya buat Bunda Sophie.  Bahkan kami sepakat untuk selalu mengalokasikan dana dan   waktu 2-3 kali setahun untuk jalan-jalan entah keluar kota atau keluar negeri. Rupanya memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.  Sophie anak kami ternyata   amat menyukai jalan-jalan.  Kondisi sakitpun akan dia abaikan bila mendengar kata jalan-jalan.  Tidak hanya perjalanan keluar kota yang dia nikmati, ke   luarnegeripun dia lalui dengan keriangan.  Sepertinya Sophie amat mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru serta hebatnya dia bisa menciptakan   kegembiraan tersendiri dari setiap suasana yang tercipta.  Untuk itulah kami sangat enggan dan tak rela jika meninggalkan dia disaat ada renacana untuk jalan   karena kami yakin dia cukup menikmati setiap perjalanan ini.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Together" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9555.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sedikit cerita ketika pertama kami mengajaknya pergi ke Singapore di usia 14 bulan. Keraguan mulanya kami temui.  Kekawatiran akan ribetnya membawa baby dan   tak adanya bala bantuan di negeri orang membuat kami berfikir berulang.  Namun kembali kami kuatkan diri bahwa perjalanan ini adalah pembelajaran bagi kami   untuk mengurus Sophie tanpa bantuan siapapun.  Mungkin menjadi berlebihan bila pada akhirnya kami membawa hampir semua barang keperluan dia secara   berlebihan. Mulai dari stroller, obat-obatan, makanan, pampers dan segala macamnya.  Bagasi kamipun menggelembung.  Waktu 4 hari  disana ternyata tak   mengkawatirkan meski perjalanan lumayan melelahkan karena via Batam untuk sekalian menengok saudara.  Sophie tetap ceria dan asyik menikmati perjalanan pun   ketika kami harus antri dan berdesakan 3 jam lebih untuk bisa mencapai Johor Baru. Beruntung ada stroller dan buku, teman perjalanan Sophie yang amat sangat   bermanfaat bagi dia.  Belajar dari pengalaman itu kami tak ragu untuk kembali jalan dengan mengajak Sophie.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini Kuala Lumpur kami pilih sebagai tujuan.  Pertimbangan   utamanya adalah Bunda Sophie belum pernah kesana, memperoleh tiket &#8220;no Fuel Charge&#8221;, serta adanya sahabat lama disana.  Persiapanpun tidak seheboh   sebelumnya.  Untuk perjalanan 3 hari, kami bertiga cukup menggunakan 1 koper ukuran medium dan 1 stroller untuk dimasukkan ke bagasi.  Sisanya tas tenteng   sebagai tas &#8216;doraemon&#8217; keperluan Sophie serta 1 tas kamera keperluan saya.  Padat dan praktis!.  Memang urusan makan akan menjadi hal tersulit jika membawa   baby untuk itu beberapa biskuit kami siapkan berikut susu dan makanan praktis lainnya. Yang penting disana adalah ketersediaan buah, makanan favorite sophie.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">PERJALANAN JAMAAH </span></p>
<p style="text-align: justify;">Sophie ternyata menjadi magnet. Beberapa rekan &amp; saudara akhirnya memutuskan karena sophie-pun ikut.  Bertujuhlah (saya, bunda Sophie, Sophie, Papa Thotho,   Mama Tyas, oom mamat dan oom syarif) akhirnya kami berangkat pukul 06.30 dengan Airasia QZ 111.  Berbeda dengan perjalanan saya beberapa kali ke KL yang   biasanya saya capai dengan menggunakan bus langsung dari Singapore kali ini kami menggunakan pesawat.  Beruntung beberapa kali bertukar email dengan sahabat   lama saya di sana (Khatty) saya memperoleh panduan yang cukup lengkap sehingga saya bisa menyusun itinery  serta budget yang cukup detail akurat.  Rombongan   besarpun bisa sekata dalam perjalanan.  Dan yang terpenting karena saya beberapa kali pernah ke KL setidaknya kami cukup terhindar dari kata <span style="color: #ff6600;">TERSESAT </span>atau   <span style="color: #ff6600;">KEBINGUNGAN.</span> Bedanya bila dahulu saya terima beres kini saya dan oom mamat yang menjadi pemandunya.  Dan kami ingin perjalanan ini lebih terkontrol dan   teratur untuk meminimalisasi efek dari &#8220;banyak orang banyak kemauan&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Obyek wisata yang vital saya prioritaskan bagi rombongan seperti Twins Tower, Genting, Central Market, Bukit Bintang, IKEA serta putrajaya.  Kepadatan   perjalanapun saya kurangi untuk memberi waktu santai dan main-main untuk sophie.  Termasuk menghapus perjalanan ke Malaka.  Satu berkah muncul di last minute   kala Khatty mengatakan bisa off selama 2 hari untuk bisa mengantar kami &#8216;pusing-pusing&#8217; dengan mobil sewaan.  Ini kebetulan yang sangat di syukuri.  Meski   tak senyaman Singapore Kl tak terbilang susah dengan angkutan umum.  Masalahnya tak ada taksi argo.  semuanya tarif kuda!  Pantas keluangan waktu Khatty   menjadi berkah.  Karena itung punya itung sewa mobil plus sopir dan gasoline terbandrol tiga kali lipat dari harga Jakarta.  Meski terbilang lebih mahal tapi   kenyamanan dan pengaturan waktu akan lebih mudah dengan mobil sewaan.  Namun jangan terkaget bila parkir di KLCC argo parkirnya sudah mencapai RM 10 = Rp   30.000/jam. Mantap!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Genting" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9768.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Karena ini adalah perjalanan jamaah, akhirnya saya menyingkirkan ego saya untuk bisa benar-benar berlibur.  Dalam benak saya berlibur adalah menikmati   lingkungan dan memanjakan diri. Saya bayangkan saya bisa berada di bawah pohon disebuah bangku taman samping Merlion Park sambil membaca buku dan menulis   seharian atau bercengkerama bermain lari-larian dengan parkit kecil saya. Sophie!  Atau berada dipantai merebahkan diri sambil berbincang tentang banyak hal   dengan bunda Sophie tanpa terpikir masuk mall, belanja ini dan itu.  orang akan bilang ini bukan liburan yang populer, bukan liburan gaya &#8220;orang kita&#8221;. tapi   memang itulah liburan impian saya!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SERONOK DAY 1 </span></p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan dengan pesawat selalu terasa lama untuk saya.  Bagi saya yang takut ketinggian, sulit untuk bertenang hati.  Padahal saya coba untuk meletihkan   diri dan bangun pagi-pagi agar terasa lelah dan bisa tidur di pesawat, namun percuma.  Sebaliknya Sophie sangat menikamti perjalanan.  Hidangan pesawat   maunya dimakan sendiri bahkan tak henti minta ballpoint untuk bisa menggambar di kertas itinery perjalanan saya. Pun begitu ribut dengan bundanya untuk   melihat awan.    Keberangkatan pukul 6.25 sedikit tertunda seperempat jam.  Beruntung satu setengah jam kemudian saya sudah bisa melihat lanskap penjamu sebelum kami tiba di   LCCT, bandara Low Cost Center Terminal tempat Airasia bermarkas. Hijau, tertata dan asri begitu  pemandangan sawit di sekitar bandara itu menjamu dan bagai   gudang berarsitektur modern LCCT ini menerima kami.  Perjalananpun terlanjut dengan bus bertarif RM 8 yang akan mengantar kami selama 1,5 jam ke KL Central   di jantung Kuala Lumpur.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali jalan tol yang lengang, tertata dan mulus ini menjadi pemandangan kami.  Bagi saya liburan ini telah dimulai, saya tak   hendak untuk menidurkan diri dan melewatkan setiap hal diluar jendela sana. Terlalu mubazir, karena disinilah keasyikan satu liburan didapat. Tiba di KL   Central kami segera mencari ujung monorail untuk mengantar kami ke Hotel Bintang Warisan yang tak jauh dari stasiun Bukit Bintang, Stasiun yang hanya   berjarak 5 pemberhentian dari KL central ini.  Dengan menukar RM 2.10 kami menggunakan kartu magnetik sebagai tiket masuk.  Kartupun keluar lagi setelah   terotorisasi untuk kami pegang begitu kami akan masuk kereta monorail.  Namun saat keluar stasiun dengan otomatis kartu akan tertelan.  Setelah perjalanan 10   menit kamipun keluar dari stasiun yang berkonstruksi bentang lebar untuk atapnya ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Check in pukul 01.00 pm tak membutuhkan waktu lama.  Pencarian hotel ini di internet ternyata cukup sesuai keinginan.  Meski aroma &#8220;India&#8221; terasa menyengat   saat tiba namun saya lega karena hotel ini lebih berwarna China.  Sebagai Budget hotel fasilitas standart yang ada lumayan cukup. Kamar mandi dan tidurpun   tidak mengecewakan.  Kami tak berlama-lama untuk menaruh barang dan masuk hotel yang kami lakukan secara swalayan karena kami akan mengunjungi Genting.    Namun sebelumnya kami mampir sebentar di KFC untuk makan siang.  Sengaja KFC dipilih karena menurut pengalaman rasa makanan di KL sangat kacau, kami tak   ingin memberikan kejutan berlebihan pada perut kami.  Benar juga ternyata KFC disini tak menyediakan nasi putih melainkan nasi lemak!.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 04.00 pm kami berangkat dengan bus ke Genting highland dari KL central.  Mulanya saya ingin terus dengan menggunakan bus saja tanpa transit memakai   cable car hingga Genting.  Pengalaman  terombang ambil dalam cabel car yang mati selama 5 menit di atas laut antara Singapore-Sentosa sudah cukup membuat aku   kapok. Tapi ternyata semua perjalanan kini harus mengunakan cable car. Mau apa lagi. perjalanan menapak genting tak ubahnya seperti menuju puncak, namun   hebatnya jalan disini cukup lebar dan memudahkan bus-bus besar untuk melaju.  Hutan di sekeliling jalan tampak tak terjaman dan masih asri, tak ada lapak   dipinggir jurang juga tak ada rambu menyesatkan.  Semua penumpang terkantuk kantuk dibawah semburan ac yang dingin dan bus yang nyaman seharga RM 9.30 sekali   jalan plus akomodasi cablecar.  saya segera bangunkan bunda sophie.  Saya tahu sebelumnya di enggan kemari, tapi saya yakin perjalanan ini akan mengubah   keenggannya.  Benar, ketertarikannya makin tersemangati.  Utamanya saat tiba di terminal transit saat kami harus berganti akomodasi dengan menggunakan   cablecar.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="cablecar" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9656.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan menggunakan tiket terusan, kami langsung naik cablecar yang berkapasitas 8 orang di lantai 4 terminal ini. Kengerian saat cablecar meluncur menuju   puncak Genting dengan menyusuri kemiringan punggung gunung selama 20 menit sirna melihat eloknya hijaunya hutan dan  asyiknya pemandangan dari jendela   cablecar.  Sophie yang terpana pun mulai mengoceh kegirangan.  Kejutan terakhir terjadi saat kurang lebih 1 kilo mendekati Genting kabut mulai turun. Jarak   10 meter sudah memutih tertutup kabut dan semua berakhir saat kami masuk gate stasiun di Genting.  Benar-benar pengalaman yang elok dan mendebarkan!  seru!   tak banyak yang kami lakukan disini karena kabut telah menutub theme park, selain itu pukul 07.00 pm kami harus turun untuk mengejar bus keberangkatan pukul   07.30.  Kami meluangkan waktu dengan jalan dan bermain ala timezone bersama sophie.  Saat kembali turun dengan cable car suasana lebih mencekam karena malam,   beruntung penerangan yang di setiap tiang cable card cukup terang sehingga kamipun maih bisa menikmati pemandangan sekitar.  Kabutpun kami tinggalkan   disambut turunnya matahari si ufuk barat yang samar.</p>
<p style="text-align: justify;">Taksi RM 100? itu tawaran terburuk saaat kami tiba kembali di terminal transit.  Bus ke KL Central telah habis tiketnya hingga kami harus menunggu   keberangkatan jam 09.00 pm.  Oom mamat meminta pendapat saya.  Saya enggan dengan tawaran ini karena berombongan mau tak mau kami harus ambil 2 taksi. Saya   minta oom mamat mencari bus jurusan mana saja yang siap berangkat jam 07.30 pm ini.  Sebuah bus sudah hampir berangkat ke terminal Pasarakyat akhirnya kami   pilih.  Ini pilihan terbaik daripada kami tak ada kegiatan di terminal ini.   Toh terminal Pasarakyat tak jauh dari KLCC tujuan kami berikutnya. sekitar   pukul 09.00 kami tiba di terminal pasarakyat dan dengan 2 taksi nonargo RM 18 kami melaju ke KLCC untuk makan malam, belanja dan tentunya berfoto di depan   twins tower dimalam hari.  Kelelahan menumpuk, kaki dan pundak terasa tak mau kompromi lagi.  Kamipun meninggalkan KLCC dengan van taksi berkapasitas 7   seater RM 15 pukul 11.00. saya menggendong Sophie masuk kamar diikuti Bunda sophie.  Kaki saya pegal.  Entahlah besok masih BISA jalan lagi atau TIDAK!</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Ljburan KL" href="http://www.facebook.com/album.php?aid=121287&amp;id=729063369" target="_blank"><span style="color: #ff6600;">PHOTO disini</span></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/12/liburan-seronok-kl-trip-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Profesionalisme Di Sebuah Hoby</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/08/29/profesionalisme-di-sebuah-hoby/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/08/29/profesionalisme-di-sebuah-hoby/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 14:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bisa dikatakan tennis hanyalah sebuah hoby.  Sayangnya permainan ini tidak memungkinkan bagi saya untuk memainkannya sendiri.  Harus ada teman. Dan memang itulah yang membuat terasa fun.  Meski bila dihitung kini hampir 5 tahun usia Komunitas MHI tennis, namun masih terasa seperti kemarin saja keinginan saya untuk bisa main tenis bisa terlengkapi dengan hadirnya 5 teman main pertama saya. Masih melekat diingatan, waktu itu semuanya sangat</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Logo MHI" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/MHITennisLogo2.jpg" alt="" width="227" height="131" /></p>
<p style="text-align: center;"></p>
<p style="text-align: justify;">sederhana  dan mudah. Kami berlima terkumpul dari milis majalah menshealth, saling bantu mencari lapangan, dapat dan langsung bermain. Se-simple itu.  Tak ada hal ribet lain yang harus dipikirkan kecuali bermain.  Karena bagaimanapun kami satu hampir satu level permainan dan tak ada masalah administrasi yang dibebankan kecuali iuran per quarter.  Hal itu berlangsung hingga 3 bulan kemudian, kami hanya berfikir untuk bisa datang dan bermain itu saja.[........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (27032009.20.03)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bisa dikatakan tennis hanyalah sebuah hoby.  Sayangnya permainan ini tidak memungkinkan bagi saya untuk memainkannya sendiri.  Harus ada teman. Dan memang itulah yang membuat terasa fun.  Meski bila dihitung kini hampir 5 tahun usia Komunitas MHI tennis, namun masih terasa seperti kemarin saja keinginan saya untuk bisa main tenis bisa terlengkapi dengan hadirnya 5 teman main pertama saya. Masih melekat diingatan, waktu itu semuanya sangat</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Logo MHI" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/MHITennisLogo2.jpg" alt="" width="227" height="131" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">sederhana dan mudah. Kami berlima terkumpul dari milis majalah menshealth, saling bantu mencari lapangan, dapat dan langsung bermain. Se-simple itu.  Tak ada hal ribet lain yang harus dipikirkan kecuali bermain.  Karena bagaimanapun kami satu hampir satu level permainan dan tak ada masalah administrasi yang dibebankan kecuali iuran per quarter.  Hal itu berlangsung hingga 3 bulan kemudian, kami hanya berfikir untuk bisa datang dan bermain itu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ketika kami pada akhirnya membuka diri dengan mengundang rekan-rekan lain untuk bergabung hingga waktu berjalan 3 tahun berikutnya. Kami masih berfikir sederhana untuk menjalani ini semua. maunya hanya datang dan bermain kami masih mengelola komunitas ini dengan mengetengahkan pertemanan yang kental meski pada akhirnya kami sendiri yang harus babak belur menanggung akibatnya.   Tak dipungkiri kondisi ini justru menciptakan ketidak disiplinan yang merembet pada terpuruknya komunitas.  Bahkan kami hanya tinggal 5 orang yang masih bertahan dari 24 orang yang biasanya hadir.  Kondisi sedemikian parah hingga mau tak mau kami harus membuat keputusan dan tidak berfikir sederhana lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayapun masih ingat kepindahan ke lapangan Patra adalah moment awal perubahan tersebut. Disepakati bahwa MHI tennis harus dikelola dengan satu manajemen.  Yang artinya ada aturan permainan bagi para anggotanya dan berbagai hal yang tentunya ini sangat jauh bila dikatakan sederhana.  Alasan perubahan ini tak lain karena kami ingin meletakkan MHI Tennis pada pijakannya semula, pada motto <span style="color: #ff6600;">FUN, FRIENDLY &amp; HEALTHY.</span> Pijakan ini memberi penegasan bahwa MHI Tennis mempunyai keanggotaan yang terbuka tidak memandang latar belakang ataupun level permainannya.  Siapapun diperkenankan masuk dengan batasan quota jumlah pemain bukan pada skill levellnya.  Selain itu ada keinginan MHI TEnnis untuk tetap eksis sebagai satu komunitas bagi pemain dan penggemar tennis.  Tentunya mau tak mau semua ini membutuhkan profesionalisme dalam pengelolaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir satu tahun manajemen MHI Tennis berjalan dengan penerapan profesionalisme.  Tak hanya kemajuan minor yang didapat namun juga progres mayor seperti bertambahnya keanggotaan dan skill level permainan anggota menjadi satu pencapaian tersendiri.  Dibalik kebanggaan saya dan beberapa rekan yang mengendalikan komunitas ini agaknya kembali permasalahan klasik muncul.  hal ini sangan memukul terlebih bagi saya yang merupakan satu-satunya founder yang masih bertahan disini.  Ini merupakan tantangan berat yang tak hanya harus dihadapi tapi mestinya bisa saling dikomunikasikan.</p>
<p style="text-align: justify;">masalah klasik ini adalah munculnya anggapan bahwa MHI Tennis mengebiri prestasi anggotanya. Kembali ke awal, satu konsekwensi dari terbukanya keanggotaan MHI tennis adalah munculnya HETEROGENITAS yang sangat lebar antar anggota.  Keragaman ini bukan hanya terpaku pada hal pokok seperti skill level tapi juga usia serta latar belakang.  Hal inilah yang membuat aspirasi dan keinginan anggota semakin beragam utamanya menyoroti masalah skill level permainan.  Jalan tengah yang bisa dilakukan koordinator adalah mendesain pelatihan yang sesuai dengan keragaman skill ini ditambah kesempatan diadakannya event pertandingan intern dan ekstern.  Mungkin bagi anggota pemula hal ini lebih dari cukup namun berbeda pemikiran bagi yang memiliki kemampuan advance.</p>
<p style="text-align: justify;">MHI tennis tidak mempermasalahkan anggotanya berlatih diluar jadwal latihan resmi dimana saja dengan siapa saja untuk meningkatkan kemampuan level individu bagi yang menginginkannya.  Karena kembali MHI Tennis tidak terikat keanggotaannya dan MHI Tennispun menyadari program pelatihan yang ditawarkan tidak bisa terfokus hanya untuk satu level saja.  Bila pada akhirnya seleksi alam akan terjadi dimana anggota dengan level advance mengundurkan diri dan membentuk komunitas baru, MHI Tennis sama sekali tidak mempermasalahkan dan justru mendukung.  Karena bagaimanapun Segmentasi dan Positioning MHI Tennis telah jelas untuk siapa.  Kebanggaan kami justru membubung kami menganggapnya sebagai &#8220;alumni&#8221; yang telah mampu membentuk komunitas baru sesuai dengan tujuan pelatihannya atau kesamaan level permainannya.  Pun tak ada keberatan pula bagi kami jika beberapa anggota kami &#8220;dibajak&#8221; untuk bergabung di komunitas lain.  Karena disisi lain kamipun tak kalah bangga melihat beberapa rekan yang sebelumnya tak mampu bermain tenis dan sulit untuk menemukan komunitas yang bisa membuat mereka bisa bermain kini menunjukkan progres permainan yang patut diacungi jempol.</p>
<p style="text-align: justify;">Terbetik juga keluhan beberapa anggota baru yang menyatakan  bahwa banyaknya aturan di MHI Tennis. saya yakin keluhan itu akan sirna bila rekan baru tersebut mau sedikit melihat MHI Tennis dari pandangan yang lebih detail.  Menyadari akan keragaman yang ada dalam komunitas yang mau tak mau harus ada aturan untuk mengakomodir semua kepentingan.  Saya selalu berusaha untuk menyeimbangkan semua kepentingan  dan tentunya kami tidak mau kembali seperti kondisi awal dimana justru kesimpelan menjadi bumerang bagi komunitas. Mungkin kembali kesadaran harus ditumbuhkan bahwa peraturan ini tak lebih dari instrumen agar ada rambu bagi keragaman keinginan dan kepentingan yang ada dalam komunitas ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya masih punya keyakinan kesimpang siuran diatas hanyalah perbedaan cara pandang belaka.  Saya masih meyakini itu adalah buah perhatian dari anggota untuk memberikan yang terbaik pada komunitas.  Meski pada akhirnya kembali pada pijakan kita semua itu diletakkan dan diputuskan.  Komunitas ini tak ubahnya kini seperti sebuah lokomotif Organisasi profesional yang mempunya cara pandang dan tujuan kedepan.  Bisa jadi penumpang didalamnya akan turun dan naik sesuai dengan kenyamanan dan tujuan mereka bermain, apakah sejurusan atau tidak.  Namun bagaimanapun itu tidak menyurutkan MHI Tennis untuk berhenti mencapai tujuannya.  MHI Tennis akan tetap terus berjalan dan berpijak pada keyakinannya selama ini.  Dan selalu berupaya memberi nilai lebih bagi pecinta olahraga ini melalui caranya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Seperti pernah seorang rekan senior di MHI tennis mempertanyakan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sam kenapa mengatur MHI tennis sekarang lebih merepotkan daripada dulu ya&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">saya hanya bisa menyabarkan dan berdalih.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wajarlah kita kini tidak berangkat dari homogenitas anggota.  Kita sekarang heterogen&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya ya &#8230; yang mainpun tak banyak yang seumuran kita lagi, semakin beregenerasi&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kini kita baru menyadari ketuaan kita yah&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hahahahaha&#8221; rekan saya tersipu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Saya bisa katakan sistem telah berjalan di komunitas MHI.  Tak peduli siapa yang menjalankan dan sampai kapan akan berjalan.  Selama sistem tersebut berfungsi dengan baik.  Bukan saya atau junior saya yang pada akhirnya menentukan perjalanan MHi Tennis.  <span style="color: #ff6600;">Tapi MHI Tennis Itu sendiri.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/08/29/profesionalisme-di-sebuah-hoby/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Qelaran In-Ship Q1-2009</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/08/28/qelaran-in-ship-q1-2009/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/08/28/qelaran-in-ship-q1-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 02:51:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beda format! Itu yang terasa di gelaran Internal Championship Quarter 1-2009 (Inship Q1-2009) yang diadakan Minggu, 22 Maret lalu. Perebutan tempat sebagai ganda terbaik seperti Inship sebelumnya diubah formatnya menjadi perebutan team terbaik.  Sesuai dengan jumlah anggota intern maka gelaran kali ini terbagi dalam dua team yang masing-masing team akan berebut angka melalui 4 pasangan gandanya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="MHI Q1" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Inship-MHI-Tenis-2200309-287.jpg" alt="" width="280" height="186" /></p>
<p style="text-align: center;"></p>
<p style="text-align: justify;">Sengaja format ini diubah dengan tujuan penyegaran dan variasi hingga kemonotonan bermain berpasangan bisa dihindarkan.  Penentuan peringkat dan pasanganpun diatur supaya kekuatan berimbang serta tetap seru di pertandingan. Tak terkecuali hadiah cash pun disediakan untuk pemacu semangat.  Gelaran inship kali ini makin istimewa karena bersamaan dengan launching logo dan kaos MHI tennis.  dari awal pemesanan kaos Supporter Team telah kualahan dengan banyaknya pesahan hingga total order kaos hingga akhir sebanyak lebih dari 3 x jumlah anggota MHI tennis sendiri yang hanya berjumlah 17 orang!</p></p>[.......]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (03042009.15.24)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Beda format! Itu yang terasa di gelaran Internal Championship Quarter 1-2009 (Inship Q1-2009) yang diadakan Minggu, 22 Maret lalu. Perebutan tempat sebagai ganda terbaik seperti Inship sebelumnya diubah formatnya menjadi perebutan team terbaik.  Sesuai dengan jumlah anggota intern maka gelaran kali ini terbagi dalam dua team yang masing-masing team akan berebut angka melalui 4 pasangan gandanya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="MHI Q1" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Inship-MHI-Tenis-2200309-287.jpg" alt="" width="280" height="186" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Sengaja format ini diubah dengan tujuan penyegaran dan variasi hingga kemonotonan bermain berpasangan bisa dihindarkan.  Penentuan peringkat dan pasanganpun diatur supaya kekuatan berimbang serta tetap seru di pertandingan. Tak terkecuali hadiah cash pun disediakan untuk pemacu semangat.  Gelaran inship kali ini makin istimewa karena bersamaan dengan launching logo dan kaos MHI tennis.  dari awal pemesanan kaos Supporter Team telah kualahan dengan banyaknya pesahan hingga total order kaos hingga akhir sebanyak lebih dari 3 x jumlah anggota MHI tennis sendiri yang hanya berjumlah 17 orang!</p>
<p style="text-align: justify;">Seminggu sebelum pelaksanaan aura kompetisi terlihat mulai memanas. Masing masing team berupaya mencari strategi terlebih dari undian telah ditentukan siapa yang harus dilawan.  Baik team A maupun B bahkan mengupayakan berlatih intensif diluar waktu resmi latihan.  Alhasil usai jam kantor kesibukan cari lapangan kosong untuk berlatih mulai rame diupayakan.  Sementara Team B melakukan beberapa kali latihan Team A tak mau kalah langkah dengan melakukan simulasi latihan seluruh team after hour di Lapangan senayan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di hari pelaksanaan tiap group berusaha menampilkan kemampuan terbaiknya.  Pada akhirnya pertandingan memang mengharuskan ada yang menang dan kalah.  Dan hasilnya Team B memetik kemenangan atas Team A.  Semua larut dalam gembira. Karena bagaimanapun ini moment bersama. Kita tunggu minggu depan untuk makan-makannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/08/28/qelaran-in-ship-q1-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hajatan 4 tahun MHI Tennis</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/01/21/hajatan-4-tahun-mhi-tennis/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/01/21/hajatan-4-tahun-mhi-tennis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 07:53:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di awal tahun 2008 lalu MHI Tennis dipersimpangan jalan, tidak saja karena makin menurunnya anggota komunitas namun juga munculnya sebuah pertanyaan besar, akan dibawa kemana komunitas ini.   Menilik sisi operasional MHI Tennis sebenarnya tidak masalah dengan jumlah anggota yang hanya tersisa 6 orang dari 20 orang quota normalnya. Cash flow dengan sendirinya akan menyesuaikan dengan kebutuhan.   Namun sisi historis komunitas pernah mencatat beberapa tahun belumnya perkembangan komunitas ini cukup dinamis dan berkembang bagus. Bila ternyata ada penurunan pasti ada hal-hal yang perlu dibenahi.   Dalam keyakinan moderator dan crew kondisi ini pasti akan bisa segera dipulihkan, untuk itu upaya untuk mencari penyebabnyapun mulai dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pembicaraan intern mengindikasikan bahwa kondisi lapangan Brojosumantri yang telah rusak menjadi salah satu sebab enggannya member meneruskan keanggotaan.   Disamping itu adanya faktor yang paling utama berupa makin pudarnya kedisiplinan berkomunitas serta melemahnya komitmen pengelola komunitas ini menjadikan kondisi makin terpuruk.   Untuk pertama kalinya sejak 3 tahun keberadaan MHI Tennis, baru kali ini komunitas ini mengambil cuti untuk tidak mengadakan kegiatan di lapangan selama 1 bulan (April).   Waktu ini akhirnya dimanfaatkan oleh moderator &#38; Crew untuk melakukan konsolidasi perbaikan manajemen komunitas, mencari lapangan alternatif lapangan baru serta yang paling penting mencari calon member baru di berbagai milis dan situs komunitas lainnya.   Tak berhenti disitu  upaya untuk mempromosikan komunitas lewat milist MHI Tennis &#38; Meanshealth, web serta blog-pun gencar dilakukan.</p>[.......]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (19012009.12.12)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Di awal tahun 2008 lalu MHI Tennis dipersimpangan jalan, tidak saja karena makin menurunnya anggota komunitas namun juga munculnya sebuah pertanyaan besar, akan dibawa kemana komunitas ini.   Menilik sisi operasional MHI Tennis sebenarnya tidak masalah dengan jumlah anggota yang hanya tersisa 6 orang dari 20 orang quota normalnya. Cash flow dengan sendirinya akan menyesuaikan dengan kebutuhan.   Namun sisi historis komunitas pernah mencatat beberapa tahun belumnya perkembangan komunitas ini cukup dinamis dan berkembang bagus. Bila ternyata ada penurunan pasti ada hal-hal yang perlu dibenahi.   Dalam keyakinan moderator dan crew kondisi ini pasti akan bisa segera dipulihkan, untuk itu upaya untuk mencari penyebabnyapun mulai dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pembicaraan intern mengindikasikan bahwa kondisi lapangan Brojosumantri yang telah rusak menjadi salah satu sebab enggannya member meneruskan keanggotaan.   Disamping itu adanya faktor yang paling utama berupa makin pudarnya kedisiplinan berkomunitas serta melemahnya komitmen pengelola komunitas ini menjadikan kondisi makin terpuruk.   Untuk pertama kalinya sejak 3 tahun keberadaan MHI Tennis, baru kali ini komunitas ini mengambil cuti untuk tidak mengadakan kegiatan di lapangan selama 1 bulan (April).   Waktu ini akhirnya dimanfaatkan oleh moderator &amp; Crew untuk melakukan konsolidasi perbaikan manajemen komunitas, mencari lapangan alternatif lapangan baru serta yang paling penting mencari calon member baru di berbagai milis dan situs komunitas lainnya.   Tak berhenti disitu  upaya untuk mempromosikan komunitas lewat milist MHI Tennis &amp; Meanshealth, web serta blog-pun gencar dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah diatas tak lepas dari komitmen moderator dan crew untuk ingin tetap menghidupkan komunitas tenis ini dengan motto fundamentalnya: <span style="color: #ff6600;">FUN, FRIENDLY &amp; HEALTHY</span>. Komunitas ini akan tetap menjadi komunitas yang terbuka bagi penggemar tenis untuk bersama bermain tenis dan bersosialisasi, tidak akan ada upaya mengarahkan pada komunitas eksklusif yang menyeleksi anggotanya berdasarkan referensi ataupun kemampuan bermain tenisnya semata.Â  Perlahan usaha perbaikan itupun menunjukkan hasil yang menggembirakan.   4 orang anggota baru mulai bergabung di Q2 dan di Q3 terdapat 12 member yang separonya adalah anggota baru semua dimana kami menyebutnya <span style="color: #ff6600;">&#8220;generasi fresh blood&#8221;</span>.   Di akhir tahun (Q4) 20 orang quota yang ditetapkan terisi penuh dan atas kesepakatan pindahlah homebase MHI Tennis dari lapangan Tenis Brojosumantri ke Lapangan Tenis Patra Kuningan. Hingga Q1 2009 inipun kembali quota terpenuhi. Sejauh ini ternyata hasil positif bukan hanya berdampak pada jumlah member saja yang meningkat namun budaya komunitaspun berupa kedisiplinan serta kebersamaanpun mulai terlihat mengakar. Hal ini memberikan kontribusi yang sangat segar dan konduktif bagi perkembangan Komunitas secara menyeluruh. Semangat dan kenyamanan dalam berolahraga dan bersosialisasipun kembali didapatkan.   Terlebih sekarang mulai digulirkannya pertandingan internal (Internal Championship) sebagai agenda rutin kegiatan perquarter.</p>
<p style="text-align: justify;">Bertolak dari pembelajaran ini, hajatan 4 tahun MHI Tennis (Note: MHI Tennis Bday &#8211; 9 januari) yang dilaksanakan tanggal 18 Januari 2009 ini terasa sangat istimewa.Â  Tidak saja memberikan bukti keeksisan selama 4 tahun ini namun juga menunjukkan pembelajaran bahwa mengelolaan suatu komunitas tidak bisa setengah-setengah.   Satu komitmen yang teguh dari orang-orang yang berada dibalik layar mutlak diperlukan demikian pula dengan dukungan penuh dari semua membernya.   Dan yang penting dari itu semua adalah kesepakatan kemana satu komunitas akan dilabuhkan tujuannya.   Sehingga semangat dan pandangan akan komunitas tetap akan terjaga siapapun nanti yang akan memegang komando.  Untuk itulah di acara hajatan kecil ini MHI Tennis ini berbagi kegembiraan dengan mengundang Crew Majalah Menshealth, para founder, anggota MHI Tennis milist maupun yang aktif dilapangan untuk bersama mensyukuri perjalanan ini di Lapangan Patra Kuningan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kekawatiran akan adanya hujan tertepis dengan cerahnya cuaca. Duapuluhan orang hadir di hajatan tersebut termasuk perwakilan dari Menshealth (Regi &amp; Nuzul), founder (Arie, Edwin &amp; Sam), Anggota court (Grenadi, Faozan, Dikki, Nike, Woro, retnani, Agus, Asrizal, Wibi, Taqin, Mamat, Ivan, Ade dan Ario), Anggota milis (fajar, Koko &amp; Oi) serta sponsor (Bareta + 2 friends, Yeni, Sophie, Joko &amp; intyas).   Acara sore itupun mengalir dalam keteduhan dan keasrian photon-pohon pinus disekitar lapangan serta dalam balutan tradisi MHI Tennis. Tradisi potong tumpeng dan tukar kado buta yang selalu membuat jeboh dan kelucuan tak ditinggalkan termasuk juga pembagian doorprise dari sponsor (termasuk menshealth yang memberikan tas menarik serta jam tangan dalam goodybagnya plus tambahan voucher bowling, voucher makan, payung, ballpen parker dan lainnya dari sponsor) tak kalah riuh.   Dan acara penting lainnya kali ini adalah pemberian Kenang-kenangan kepada Majalah Menshealth oleh MHI Tennis.Â  Kenang-kenangan ini merupakan ucapan terima kasih MHI Tennis kepada Menshealth karena melalui media milisnyalah MHI Tennis terbentuk 4 tahun lalu serta atas berbagai support yang dilakukan selama ini.Â  Acarapun tak lengkap bila tidak diteruskan dengan makan bersama dan photo-photo penuh kenarcist-an.   Hingga pukul 20.00 acara baru usai karena acara tenis kembali diteruskan dan ditambah waktunya karena terpotong acara hajatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedepannya MHI Tennis berencana untuk menambah jadwal kegiatan baik internal ataupun external seperti melakukan friendly match.   Termasuk juga mengupayakan pengkaderan serta regenerasi kepengurusan. Bagaimanapun kebutuhan akan MHI Tennis kini bukanlah kebutuhan perseorangan untuk sekedar bermain tenis bersama. Lebih dari itu keberadaan MHI Tennis telah dipandang sebagai kebutuhan akan satu wadah komunitas yang bisa membangun hubungan sosial disamping menyalurkan hoby.   Semoga keberadaan dan perjalanan MHI Tennis bisa menjadi inspirasi bagi terbentuknya komunitas-komunitas sport yang aktif terlebih dalam tubuh menshealth.</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih terucap untuk Crew Majalah Menshealth, para founder, anggota MHI Tennis milist maupun yang aktif dilapangan atas kebersamaan serta supportnya selama ini.<br />
Selamat Ulang tahun &#8230; dan <span style="color: #ff6600;"><strong>S</strong><strong>alam ACE !!</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Moderator</p>
<p style="text-align: justify;">Photo-photo <a href="http://mhitennis.multiply.com" target="_blank">disini</a> dan <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=33489972486#/event.php?eid=112821270227" target="_blank">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/01/21/hajatan-4-tahun-mhi-tennis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelaran In-Ship Q4 2008</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/01/21/gelaran-in-ship-q4-2008/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/01/21/gelaran-in-ship-q4-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 03:18:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beberapa aktifitas melonjak padat beberapa hari menjelang pertandingan internal yang digelar MHI Tennis 14 Desember 2008 lalu.  Email dan sms saling beredar diantara anggota untuk sekedar menanyakan siapa pasangan ataupun hal sepele lain seperti konsumsi apa yang akan disediakan atau kostum apa yang digunakan.  Ketika pertandingan internal ini pertama kali digulirkan, event ini tak lebih dari event pertandingan biasa yang hanya digelar untuk memeriahkan acara 17-an. Tak disangka event ini menjadi ajang pembuktian yang fun antar anggota untuk unjuk kemampuannya.  Hingga rasanya tak rela jika gelar juara tak hinggap ditangan.  Dan moment inipun menjadi tantangn bagi moderator dan crew untuk menjadikan event ini sebagai daya tarik dari dinamika team.  Terlebih dari lebih dari 3 tahun komunitas ini berdiri bisa dihitung dengan sebelah jari tangan berapa kali pertandingan digelar.  Wajar bila event ini menjadi sesuatu yang demikian memikat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertandingan internal yang baru kedua kalinya ini di adakaan akhirnya disepakati menjadi kalender resmi kegiatan rutin dengan laber Internal Championship (In-Ship) per quarternya.  Format pelaksanaaanya dibuat berpasangan dengan pembagian kelas Advance dan beginner.  Sementara pasangan ditentukan dengan undian memakai sistem unggulan dan non unggulan. Dengan jumlah anggota yang memnuhi 20 kuota per quarternya rasanya tidak menjadi masalah untuk membuat event ini seru dan menarik.  Terlebih ada alokasi dana yang selalu disisihkan untuk konsumsi selama event serta hadiah bagi pemenangnya. Kedepan sudah ada rancangan untuk membuat event ini lebih menarik entah formatnya akan diubah atau hadiahnya.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (12012009.10.57)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa aktifitas melonjak padat beberapa hari menjelang pertandingan internal yang digelar MHI Tennis 14 Desember 2008 lalu.  Email dan sms saling beredar diantara anggota untuk sekedar menanyakan siapa pasangan ataupun hal sepele lain seperti konsumsi apa yang akan disediakan atau kostum apa yang digunakan.  Ketika pertandingan internal ini pertama kali digulirkan, event ini tak lebih dari event pertandingan biasa yang hanya digelar untuk memeriahkan acara 17-an. Tak disangka event ini menjadi ajang pembuktian yang fun antar anggota untuk unjuk kemampuannya.  Hingga rasanya tak rela jika gelar juara tak hinggap ditangan.  Dan moment inipun menjadi tantangn bagi moderator dan crew untuk menjadikan event ini sebagai daya tarik dari dinamika team.  Terlebih dari lebih dari 3 tahun komunitas ini berdiri bisa dihitung dengan sebelah jari tangan berapa kali pertandingan digelar.  Wajar bila event ini menjadi sesuatu yang demikian memikat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertandingan internal yang baru kedua kalinya ini di adakaan akhirnya disepakati menjadi kalender resmi kegiatan rutin dengan laber Internal Championship (In-Ship) per quarternya.  Format pelaksanaaanya dibuat berpasangan dengan pembagian kelas Advance dan beginner.  Sementara pasangan ditentukan dengan undian memakai sistem unggulan dan non unggulan. Dengan jumlah anggota yang memnuhi 20 kuota per quarternya rasanya tidak menjadi masalah untuk membuat event ini seru dan menarik.  Terlebih ada alokasi dana yang selalu disisihkan untuk konsumsi selama event serta hadiah bagi pemenangnya. Kedepan sudah ada rancangan untuk membuat event ini lebih menarik entah formatnya akan diubah atau hadiahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini enam pasangan advance dan dua pasangan beginner beradu kemampuan memperebutkan voucher Centro ditengah hiruk pikuk dukungan pro dan kontra.   Hasil akhir munculah. Danan &amp; Nike yang menyabet gelar di pasangan beginner.   Sementara Dikki &amp; Faozan meraih gelar setelah melakukan pertandingan panjang dan alot melawan Sam &amp; Grenadi.   Event ini ditutup photo session ala MHI Tennis dengan aplaus panjang karena Danan untuk ke dua kalinya In-Ship ini di gelar mampu mempertahankan juara.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat bagi juara-juara baru, Selamat bagi semua partisipant yang telah mempertahankan tradisi komunitas ini dengan sesuatu yang Fun, Friendly &amp; Healthy!<br />
<span style="color: #ff6600;">(hadiah akan diberikan bertepatan dengan MHI Tennis anniversary 09 Januari 2009 nanti)</span></p>
<p style="text-align: justify;">Salam Ace<br />
Moderator</p>
<p style="text-align: justify;">PHOTO-PHOTO <a href="http://mhitennis.multiply.com/photos/album/9/In-Ship_Q4_2008" target="_blank">DISINI </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/01/21/gelaran-in-ship-q4-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencuri Kenarcist-an Blogger Photografer Di PB2008</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/11/24/mencuri-kenarcist-an-blogger-photografer-di-pb2008/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/11/24/mencuri-kenarcist-an-blogger-photografer-di-pb2008/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 06:30:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sejak kamera Canon DSLR-ku menjadi tentengan wajib di setiap kegiatan dan perjalanku. Sejak itu pula istriku bilang bahwa kamera dan peralatannya yang tersatukan dalam satu ranselku itu sejatinya adalah istri pertamaku.  Konsekwensinya selain aku harus menjadi suami yang adil bagi mereka berdua, akupun harus rela untuk tidak lagi narcist!.   Tidak seperti kamera pocket tentenganku dulu yang dengan mudah aku meminta bantuan orang untuk difotokan selagi penyakit akutku ini kambuh, kali ini beda.  Dengan kamera ini tak menjamin siapapun bisa memotret diriku dengan hasil yang kuinginkan.   Terlebih dengan penampakanku yang jauh dari photo"genit" ini.   Alhasil kepasrahan dan kerelaan untuk tidak narcist sudah pasti jadi pilihan utuk aku pertebal kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Prinsip inipun terpegang saat digelarnya Pesta Blogger 2008 lalu di gedung BPPT-Thamrin Jakarta.   Berbekal pengalaman PB2007 lalu, aku bisa pastikan bahwa ajang temu blogger ini tak lebih dari acara temu arisan atau reunian antar sesama blogger. Meski ada harapan lebih tapi aku tak berani menanggung kecewa. Terlebih akupun membawa misi sendiri yang tak jauh beda dari hanya sekedar kumpul mengingat hampir setahun ini kegiatan bloggingku tak lebih dari satu kerutinan yang dipaksakan ada sebagai kompensasi kegiatanku kuliah. Jadi benar-benar tak adil bila mengharap ajang ini jadi forum yang lebih, sementara tujuanku datang demikian bertolak belakang.   Ajang kali ini perlahan menguburkan tujuanku untuk kumpul dengan teman-teman blogger sekomunitas.   Waktu ternyata membuat beberapa rekan blogger tak lagi satu bendera. Terlebih lagi alasan kesibukan membuatnya menjadi satu kendala kedatangan.   Apa boleh buat.   Memang mau tak mau prinsip narcist itu harus aku tanam lebih dalam.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (24112008.11.16)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak kamera Canon DSLR-ku menjadi tentengan wajib di setiap kegiatan dan perjalanku. Sejak itu pula istriku bilang bahwa kamera dan peralatannya yang tersatukan dalam satu ranselku itu sejatinya adalah istri pertamaku.  Konsekwensinya selain aku harus menjadi suami yang adil bagi mereka berdua, akupun harus rela untuk tidak lagi narcist!.   Tidak seperti kamera pocket tentenganku dulu yang dengan mudah aku meminta bantuan orang untuk difotokan selagi penyakit akutku ini kambuh, kali ini beda.  Dengan kamera ini tak menjamin siapapun bisa memotret diriku dengan hasil yang kuinginkan.   Terlebih dengan penampakanku yang jauh dari photo&#8221;genit&#8221; ini.   Alhasil kepasrahan dan kerelaan untuk tidak narcist sudah pasti jadi pilihan utuk aku pertebal kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Prinsip inipun terpegang saat digelarnya Pesta Blogger 2008 lalu di gedung BPPT-Thamrin Jakarta.   Berbekal pengalaman PB2007 lalu, aku bisa pastikan bahwa ajang temu blogger ini tak lebih dari acara temu arisan atau reunian antar sesama blogger. Meski ada harapan lebih tapi aku tak berani menanggung kecewa. Terlebih akupun membawa misi sendiri yang tak jauh beda dari hanya sekedar kumpul mengingat hampir setahun ini kegiatan bloggingku tak lebih dari satu kerutinan yang dipaksakan ada sebagai kompensasi kegiatanku kuliah. Jadi benar-benar tak adil bila mengharap ajang ini jadi forum yang lebih, sementara tujuanku datang demikian bertolak belakang.   Ajang kali ini perlahan menguburkan tujuanku untuk kumpul dengan teman-teman blogger sekomunitas.   Waktu ternyata membuat beberapa rekan blogger tak lagi satu bendera. Terlebih lagi alasan kesibukan membuatnya menjadi satu kendala kedatangan.   Apa boleh buat.   Memang mau tak mau prinsip narcist itu harus aku tanam lebih dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Konyolnya suasana ini terbawa hingga makan siang, aku kelimpungan karena tak ada gambar dalam hitungan jari di kedua tangaku.   Hingga iseng-iseng aku perhatikan polah tingkah berpuluh rekan yang dadakan jadi Photografer Amatiran melakukan aksi jeprat-jepret khas dengan gayanya.   Aku bisa bayangkan betapa tersiksanya untuk tidak narcist apalagi kebagian menjadi pemotret.   Dan sedikit jepretanku ini mungkin bisa jadi penghibur bagi rekan blogger yang siang itu memotret.   Karena kebaikan mereka yang berkorban untuk tidak narcist menggerakkan efek domino yang mengenaiku untuk memotret mereka.   Anggaplah aku mengerti perasaan itu berkorban untuk kenarcistan teman itu.   Jujur akupun tidak mengenal mereka (baca: anda-anda) secara pribadi selain sesama teman dalam satu label: blogger!.  Aku hanya ingin sedikit berbagi kreatifitas dan selebihnya aku minta maaf atas kelancangan mencuri kenarcisan anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Diantara 37 image yang aku tampilkan, aku sangat favorite dengan photo No: 9. Photo seorang blogger-(wati) yang mencoba mencuri gambar Iman Brotoseno dibalik pintu Ruang komisi 1 dengan memanfaatkan flip LCD yang ada di kameranya. Omong-omong aku jadi ingin berkenalan untuk belajar trik-trik ini dari dia. Image no: 10 juga dari favorite aku, setidaknya kita bisa belajar <span style="color: #ff6600;">&#8220;Taking picture with style&#8221;</span> darinya.   Dan kembali gaya wanita memukauku, terlihat dari image no: 7 mengajarkan pada kita <span style="color: #ff6600;">&#8220;bagaimana memotret dengan Bird View&#8221;</span> hanya dengan mengandalkan feeling.   Selebihnya tak hanya gaya yang bisa saya tiru tapi mungkin akupun bisa mengintip kamera &amp; aksesoris yang bisa jadi aku butuhkan nantinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Sampe Jumpa di PB2009 <img src='http://samroads.be-samyono.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p style="text-align: justify;">Photo Bisa Dilihat di <a title="Photografer PB2008" href="http://besamyono.multiply.com/photos/album/7" target="_blank">SINI </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/11/24/mencuri-kenarcist-an-blogger-photografer-di-pb2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bedol Lapangan</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/11/03/bedol-lapangan/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/11/03/bedol-lapangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 04:28:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tiga tahun 10 bulan.  Bukan waktu yang singkat! Selama itu MHI-Tennis nyaman denga home-basenya di lapangan tennis Brojosoemantri, Pasar festival Kuningan.   Meski sempat hijrah 1 quarter ditahun ke 2 di lapangan yang lebih elit Klub Rasuna tapi tak urung kami kembali ke sarangnya yang sudah dianggap zona nyaman. Letaknya yang strategis berada ditengah kota merupakan keuntungan terbesar mengingat anggota team tersebar di Jakarta, Bekasi dan Tangerang.   Hal lain berupa fleksibilitas penggunaan 3 lapangan, sarana yang dekat dengan mall, dan yang utama faktor kekeluargaan yang ada membuat kami hampir tutup mata dengan kondisi lapangan yang mulai tak rata atau tepatnya <span style="color: #ff6600;">"bagai jalur Pantura"</span>.   Beberapa kali diupayakan untuk mencari lapangan alternatif namun kembali hasilnya ternisbikan keinginan anggotanya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Q3 2008 merupakan satu titik perubahan pengelolaan team MHI Tennis.  Dengan tetap memegang Motto Team: <span style="color: #ff6600;">Akrab, Fun &#38; Sehat,</span> MHI Tennis tetap terbuka keanggotannya bagi semua penggemar olahraga tennis mulai dari pemula hingga tingkat mahir sekalipun.  Sengaja team tidak mensegmentasi anggotanya karena titik berat team berada pada kualitas soasialisasinya. Team tetap akan memberi ruang bagi semua segman dan meski yakin adanya seleksi alam namun terbukti dengan strategi ini kami tetap mampu bertahan hingga hampir 4 tahun ini.   Karena MHI tennis tidak saja melakukan kegiatan di lapangan saja tapi juga di milist dan juga kegiatan offline diluar lapangan.   Hal lain berupa manajemen keuangan, jalur komunikasi dan jaring sosialisasi dibentuk dan diperbaiki.   Utamanya hal yang menyangkut keuangan adalah point yang paling penting.   Karena bagaimanapun kegiatan tennis dilapangan bergulir karena adanya support financial dan keinginan anggota.   Para moderator dan crew hanya sebagai seksi sibuk semata untuk mengelolanya dan menjadi penjembatan antara anggota dan pihak manajemen lapangan hingga mereka bisa bermain dengan nyaman dan leluasa.[........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (03112008.10.12)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tiga tahun 10 bulan.  Bukan waktu yang singkat! Selama itu MHI-Tennis nyaman denga home-basenya di lapangan tennis Brojosoemantri, Pasar festival Kuningan.   Meski sempat hijrah 1 quarter ditahun ke 2 di lapangan yang lebih elit Klub Rasuna tapi tak urung kami kembali ke sarangnya yang sudah dianggap zona nyaman. Letaknya yang strategis berada ditengah kota merupakan keuntungan terbesar mengingat anggota team tersebar di Jakarta, Bekasi dan Tangerang.   Hal lain berupa fleksibilitas penggunaan 3 lapangan, sarana yang dekat dengan mall, dan yang utama faktor kekeluargaan yang ada membuat kami hampir tutup mata dengan kondisi lapangan yang mulai tak rata atau tepatnya <span style="color: #ff6600;">&#8220;bagai jalur Pantura&#8221;</span>.   Beberapa kali diupayakan untuk mencari lapangan alternatif namun kembali hasilnya ternisbikan keinginan anggotanya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Q3 2008 merupakan satu titik perubahan pengelolaan team MHI Tennis.  Dengan tetap memegang Motto Team: <span style="color: #ff6600;">Akrab, Fun &amp; Sehat,</span> MHI Tennis tetap terbuka keanggotannya bagi semua penggemar olahraga tennis mulai dari pemula hingga tingkat mahir sekalipun.  Sengaja team tidak mensegmentasi anggotanya karena titik berat team berada pada kualitas soasialisasinya. Team tetap akan memberi ruang bagi semua segman dan meski yakin adanya seleksi alam namun terbukti dengan strategi ini kami tetap mampu bertahan hingga hampir 4 tahun ini.   Karena MHI tennis tidak saja melakukan kegiatan di lapangan saja tapi juga di milist dan juga kegiatan offline diluar lapangan.   Hal lain berupa manajemen keuangan, jalur komunikasi dan jaring sosialisasi dibentuk dan diperbaiki.   Utamanya hal yang menyangkut keuangan adalah point yang paling penting.   Karena bagaimanapun kegiatan tennis dilapangan bergulir karena adanya support financial dan keinginan anggota.   Para moderator dan crew hanya sebagai seksi sibuk semata untuk mengelolanya dan menjadi penjembatan antara anggota dan pihak manajemen lapangan hingga mereka bisa bermain dengan nyaman dan leluasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Q4 2008 merupakan quarter tersingkat selama ini karena dimulai dari bulan Nopember-Desember 2008. Cuma 2 bulan! Sekaligus tercatat sebagai Quarter paling Revolusioner.   Baru kali ini MHI tennis berani menerima anggota overkuota (hingga 20 orang) dan memutuskan untuk<span style="color: #ff6600;"> BEDOL LAPANGAN! (pindah lapangan).</span> Akhirnya dengan suara bulat MHI tennis Pindah Home Base di Lapangan tennis Patra Kuningan &#8211; Patra Residence.   Dengan mengambil 2 lapangan untuk latihan, MHI tennis memulai kegiatannya pukul 17.00 hingga 20.00 plus pukul 15.00-17.00 untuk latihan bersama coach di satu lapangan.   Total ada 8 jam untuk latihan hari minggu. Dan hingga quarter ini dimulai telah banyak usulan untuk memberi warna pada team mulai dari variasi latihan ataupun kegiatan lain yang akan dilakukan bersama dalam lingkup dan semangat kebersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Minggu 02 Nopember kemarin merupakan latihan perdana MHI Tennis untuk Q4 di lapangan baru.   14 anggota hadir dan 6 lainnya absen karena kesibukan.   Cuaca yang mendukung serta lapangan yang teduh diantara pohon cemara menjadi penyemangat lain bagi anggota.   Selamat bergabung anggota baru: Nike, Adhi, Pendy, Diki dan Ardhian. Selamat datang kembali anggota lama dengan cassing baru: Ade, ivan,Laura &amp; Arie. Selamat meneruskan bagi angkatan Q3-2008 yang semuanya ikut latihan hingga quarter ini: Grenadi, Faozan, Darfan, Danan, Zaldy, Taqim, Wibi.   Dan selamat bertahan bagi angkatan awal yang masih bergabung : Retnani, woro, mamat, dan Sam. MHI tennis mohon maaf karena beberapa anggota susulan terpaksa tidak bisa diikut sertakan karena pertimbangan rasio lapangan:Pemain telah cukup padat dan tak mungkin kouta yang telah over dibuat makin over lagi.   Kami akan selalu informasikan bila ada pendaftaran untuk quarter terbaru tahun depan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Have Fun!</span></p>
<p style="text-align: justify;">Salam Ace<br />
Moderator &amp; Crew.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/11/03/bedol-lapangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembali Tertangkap Di Negeri Orang</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/23/kembali-tertangkap-di-negeri-orang/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/23/kembali-tertangkap-di-negeri-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 13:38:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tas kameraku dipundak aku letakkan di sebelah kakiku, tinggal ini saja yang tersisa karena lainnya telah masuk bagasi pesawat. Didepanku beberapa orang petugas imigrasi bermata sipit mengamati wajah dan dokumenku bergantian sembari menanyakan hal umum. Ini bukan penangkapanku yang pertama terjadi di negri ini. Aku sudah terbiasa. Tak perlu takut.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">*******</span></p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 2003 tepatnya aku dan kakakku mempunyai masalah di kantor imigrasi Tuas saat kami akan meninggalkan Singapore menuju Malaysia dimana sialnya kakakku menghilangkan secarik kertas leave form yang saat masuk ke Singapura ini telah kami isi. Urusan jadi lebih lama di Imigrasi karena kami harus diinterogasi secara khusus di ruang tersendiri sementara penumpang lain menanti dengan tak sabar di Bus Continent. Kejadian Berulang 2 tahun kemudian. Perjalanan tengah malam dengan segebok oleh-oleh berupa peralatan logam justru membuahkan kesulitan saat menuju Singapore dari Malaysia. Entah kenapa data kami jadi sulit diakses sehingga hampir setengah jam kami tercekal di imigrasi. Bus yang hanya berisi 8 orang itupun terpaksa menunggu lama. Kapok! mungkin kata itulah yang tepat di katakan. April tahun ini beberapa kejadian terulang dan lebih buruk malah. Tertangkap 2 kali dan passpor hilang. Memang tak ada yang lebih buruk daripada kehilangan passpor di negri orang.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (17092008.14.24)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tas kameraku dipundak aku letakkan di sebelah kakiku, tinggal ini saja yang tersisa karena lainnya telah masuk bagasi pesawat. Didepanku beberapa orang petugas imigrasi bermata sipit mengamati wajah dan dokumenku bergantian sembari menanyakan hal umum. Ini bukan penangkapanku yang pertama terjadi di negri ini. Aku sudah terbiasa. Tak perlu takut.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">*******</span></p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 2003 tepatnya aku dan kakakku mempunyai masalah di kantor imigrasi Tuas saat kami akan meninggalkan Singapore menuju Malaysia dimana sialnya kakakku menghilangkan secarik kertas leave form yang saat masuk ke Singapura ini telah kami isi. Urusan jadi lebih lama di Imigrasi karena kami harus diinterogasi secara khusus di ruang tersendiri sementara penumpang lain menanti dengan tak sabar di Bus Continent. Kejadian Berulang 2 tahun kemudian. Perjalanan tengah malam dengan segebok oleh-oleh berupa peralatan logam justru membuahkan kesulitan saat menuju Singapore dari Malaysia. Entah kenapa data kami jadi sulit diakses sehingga hampir setengah jam kami tercekal di imigrasi. Bus yang hanya berisi 8 orang itupun terpaksa menunggu lama. Kapok! mungkin kata itulah yang tepat di katakan. April tahun ini beberapa kejadian terulang dan lebih buruk malah. Tertangkap 2 kali dan passpor hilang. Memang tak ada yang lebih buruk daripada kehilangan passpor di negri orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian berawal dari keinginanku untuk menikmati MRT rute melingkar dari Marina bay ke Jurong East via woodlands guna membunuh ketidakadanya kegiatan hari itu di sana. Berbekal sepatu sport, kaos polo dan celana pendek serta seransel kamera aku mengambil rute mulai dari Orchard MRT karena stasiun itu berada paling dekat dengan Park Hotel dimana aku menginap. Semua sesuai dengan rencana, namun keinginanku yang tiba-tiba untuk sarapan terlebih dahulu di Northpoint Woodlandsmengubah keadaan. Dari sini timbul keinginanku menyeberang ke Johor Bahru tak terelakkan. Dengan alasan dekat, pingin tahu dan ingin menemui saudara yang disana, berangkatlah aku ke Johor BAhru dengan Bus. Tak sampai seperempat jam aku telah sampai di Johor bahru tempat kebanyakan TKI kita bermukim. Tak familier dengan suasana kotanya aku lebih memilih untuk masuk ke mall terbesar disana. Selang 3 jam setelah hujan reda aku kembali ke Singapore. Disinilah penangkapan pertamaku terjadi. Durasi In-Out-ku yang hanya 3 jam menimbulkan kecurigaan pihak imigrasi sehingga hampir seperempat jam aku dipajang di belakang tempat duduk petugas imigrasi dibawah tontonan orang-orang yang melintas sebelum ditanyai lebih detail. Mati deh! Beruntung mereka cukup kooperatif hingga cukup bisa melihat kondisiku sebagai wisatawan yang &#8220;hanya ingin tahu&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Terbawa capek, saat makan malam di Lucky Plaza menikmati rawon Indonesia passporku terjatuh. Dan itu baru aku sadari saat jelang tengah malam di hotel. Dalam kepanikan aku meminta bantuan hotel, menelusuri lucky plaza dan akhirnya disarankan lapor pos polisi terdekat. Meski harus berputar-putar dengan taksi rupanya gambaran kantor polisi di Singapura jauh berbeda dengan Indonesia. Aku diterima baik, dibantu dan diarahkan bahkan bonus keramahan dan free service menempatkan pelayanan mereka dalam pujianku. Esoknyapun saya pergi ke kedutaan untuk mengurus surat laksana perjalanan pengganti passpor. Sayangnya aku hanya punya waktu 3 jam untuk mengurus surat rujukan dulu dari kantor imigrasi singapura untuk bisa di proses di kedutaan. Sayang pula pelayanan yang singkat ini lebih terasa tak se-exelent layanan publik di singapura. Padahal ini Kedutaan kita sendiri yang melayani orang sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tergopoh aku menuju gedung imigrasi dan kependudukan yang letaknya tak kalah jauh di pinggir kota. waktuku berkurang banyak. dan rasanya lemas melihat bangunan hampir sepuluh lantai dimana semua urusan kependudukan mulai bayi lahir hingga pindah alamat berpusat disini. Tak kubayangkan berapa lama aku akan menyelesaikan masalahku sementara saat ini tiketku telah hangus dan aku harus kembali ke jakarta hari ini juga. aku keliru. Dengan sistem antrian yang tertib dan komputerisasi urusanku tak sampai 1 jam usai. Aku lega dan segera kembali ke Kedutaan. Beruntung passportku terkabar ketemu di tempat aku makan semalam. Aku memutar arah mengambil passport, membeli tiket dan kembali ke imigrasi untuk melaporkan ditemukannya passportku kembali. Bisa saja aku tak perlu melapor. tapi ini bukan Indonesia. aku yakin semuanya terecord dalam komputer. aku tak mau ambil resiko. Dengan segenap kegembiraan akhirnya urusanku di imigrasi terselesaikan dengan memuaskan dan cepat. Segera aku meluncur ke airport.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">********</span></p>
<p style="text-align: justify;">Dan akhirnya mata sipit itu memberikan passportku dengan senyuman dan satu kalimat,&#8221;You have already found Your paspor, Right! Congratulation,&#8221;. Aku tersenyum dan kembali memanggul tas kameraku menuju ruang tunggu sembari menerima passpor itu. Lega sekaligus mengacungi jempol atas semua sistem yang berlaku di negara ini. Yang jelas-jelas memudahkan dan penuh dengan kontrol. Semuanya serba online dan terintegrasi menjadi satu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi ini jauh berbeda dengan pemandangan saat melintasi imigrasi di bandara Soekarno-Hatta. Betapa mudahnya kami masuk negara ini belum lagi dengan mudahnya kami meloloskan barang bawaan tanpa di scan. Dimana keamanan nasional diletakkan? Aku pikir ini bukan karena petugas itu malas atau tak becus bekerja. Mereka justru tahu bagaimana bekerja secara efektif dan efisien. Sudah pasti saat kami baru keluar dari singapura telah ketat melakukan pemeriksaan jadi untuk apa harus diperiksa lagi untuk masuk ke dalam negri ini khan. Bikin capek!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">(entah hati siapa yang akhirnya capek melihat praktek seperti ini)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/23/kembali-tertangkap-di-negeri-orang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Back To School</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/02/back-to-school/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/02/back-to-school/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 05:12:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Satu kesempatan saya peroleh untuk melanjutkan studi saya ke jenjang S3 di dengan program Doktoral MSDM.  Kesempatan berupa waktu yang longgar dan adanya dukungan financial.  Namun yang lebih saya syukuri dan mensuport keinginan ini adalah dukungan my Hunny.  Saya menyadari bahwa studi ini berat mengingat adanya waktu yang harus kami korbankan dimana saya harus terpisah dengan keluarga selama hari-hari kuliah karena akses kampus yang lebih dekat ke rumah daripada ke rumah mertua dimana anak istri saya tinggal untuk sementara.  Selain itupun adanya beberapa tugas memaksa saya untuk kerepotan membagi waktu antara kerjaaan saya yang multi tasking dan study yang lebih mengarah ke banyak tugas take home. Saya beruntung karena menjadi segelintir orang yang mengambil program doktoral ini selagi usia masih dibawah 35 tahun.  Setidaknya tenaga dan pikiran saya cukup fresh dan terbuka.  Namun rupanya keberuntungan saya ini tidaklah begitu saja menjadi modal utama karena jelas setelah satu semester saya jalani perkuliahan ini saya malah tertatih-tatih.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru kali ini saya kuliah di Universitas negeri (Universitas Negri Jakarta).  Satu institusi dengan budaya yang jauh berbeda dengan saat-saat saya kuliah di perguruan swasta yang sangat kompetitif dan penerapan satu layanan prima.  Tidak itu saja, metode pendidikan serta lingkup pergaulannyapun merupakan satu yang asing bagi saya.  Rupanya disini saya harus lebih banyak effort untuk menghadapi tantangan secara eksternal daripada dari internal diri saya sendiri.  Ini tidak mudah.  Meski disebut tantangan tak urung saya sempat hampir menyerah dengan prinsip-prinsip saya yang selama ini saya terapkan dalam belajar.  Satu semester sebenernya merupakan waktu yang lama untuk satu adaptasi, namun saya tak bisa mempersingkatnya.  Hingga kini tanpa mengalahkan prinsip dan motivasi saya untuk tetap meraih keinginan saya berupaya untuk fight.  Setidaknya saya tetap menjadi jatidiri saya tanpa mengorbankan prinsip yang saya junjung.  Ibarat pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.  Karena bagaimanapun saya menyadari yang bisa memagang kendali terhadap diri saya adalah saya sendiri bukan lingkungan ataupun orang lain.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (28082008.10.15)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Satu kesempatan saya peroleh untuk melanjutkan studi saya ke jenjang S3 di dengan program Doktoral MSDM.  Kesempatan berupa waktu yang longgar dan adanya dukungan financial.  Namun yang lebih saya syukuri dan mensuport keinginan ini adalah dukungan my Hunny.  Saya menyadari bahwa studi ini berat mengingat adanya waktu yang harus kami korbankan dimana saya harus terpisah dengan keluarga selama hari-hari kuliah karena akses kampus yang lebih dekat ke rumah daripada ke rumah mertua dimana anak istri saya tinggal untuk sementara.  Selain itupun adanya beberapa tugas memaksa saya untuk kerepotan membagi waktu antara kerjaaan saya yang multi tasking dan study yang lebih mengarah ke banyak tugas take home. Saya beruntung karena menjadi segelintir orang yang mengambil program doktoral ini selagi usia masih dibawah 35 tahun.  Setidaknya tenaga dan pikiran saya cukup fresh dan terbuka.  Namun rupanya keberuntungan saya ini tidaklah begitu saja menjadi modal utama karena jelas setelah satu semester saya jalani perkuliahan ini saya malah tertatih-tatih.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru kali ini saya kuliah di Universitas negeri (Universitas Negri Jakarta).  Satu institusi dengan budaya yang jauh berbeda dengan saat-saat saya kuliah di perguruan swasta yang sangat kompetitif dan penerapan satu layanan prima.  Tidak itu saja, metode pendidikan serta lingkup pergaulannyapun merupakan satu yang asing bagi saya.  Rupanya disini saya harus lebih banyak effort untuk menghadapi tantangan secara eksternal daripada dari internal diri saya sendiri.  Ini tidak mudah.  Meski disebut tantangan tak urung saya sempat hampir menyerah dengan prinsip-prinsip saya yang selama ini saya terapkan dalam belajar.  Satu semester sebenernya merupakan waktu yang lama untuk satu adaptasi, namun saya tak bisa mempersingkatnya.  Hingga kini tanpa mengalahkan prinsip dan motivasi saya untuk tetap meraih keinginan saya berupaya untuk fight.  Setidaknya saya tetap menjadi jatidiri saya tanpa mengorbankan prinsip yang saya junjung.  Ibarat pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.  Karena bagaimanapun saya menyadari yang bisa memagang kendali terhadap diri saya adalah saya sendiri bukan lingkungan ataupun orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang yang paling melegakan saya adalah bagaimana kompaknya 30 rekan sekelas sekelas yang berasal dari berbagai profesi, instansi serta jabatan.  Di usia mereka yang rata-rata jauh diatas saya dan jam terbang yang matang kadang memang saya tak mampu menandingi basa basi serta pendekatan personal mereka namun setidaknya saya bisa belajar untuk membuat diri saya lebih sabar dan lebih lunak menjaga kekerasan hati saya.  Setidaknya semester awal ini telah berakhir Juni lalu dimana saya tidak saja mendapatkan apa yang saya inginkan, namun juga memperjelas eksistensi diri saya.</p>
<p>Masih ada 2 semester lagi dengan tugas akhir disertasi.</p>
<p>Saya tak akan menyerah! Dan saya akan berusaha untuk menikmati perjalanan menyenangkan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/02/back-to-school/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merah Putih Di Brojo Soemantri</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/08/20/merah-putih-di-brojo-soemantri/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/08/20/merah-putih-di-brojo-soemantri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 04:32:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pukul tiga.  Masih satu jam untuk menanti waktu latihan tenis seperti minggu-minggu biasanya.  Tapi pojok lapangan tenis Brojosumantri telah ramai.  Setidaknya ada Mamat, Grenadi, Faozan dan Danan yang sibuk merangkai bendera.  Bendera plastik merah putih itu mereka ikat dengan benang dan di hiaskan di bangku beratap di pinggir lapangan sekalian memanjang diantara net.  Meriah. Sebuah mejapun disiapkan lengkap dengan hiasan bendera yang langsung penuh dengan makanan, jajanan, buah dan berbagai minuman.  Sampai terfikir akankah semua ini bisa dihabiskan.  Tak ketinggalan hadiah lomba juga disiapkan dengan rapi dan dibungkus mendadak di tribun.  Benar-benar proyek swadaya khas komunitas ini.  Selamatankah? syukurankah? atau perayaan? Yang benar kami mempersiapkan pertandingan!</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah 3,5 tahun lebih berdiri, MHI-Tennis hampir pasti tidak pernah melakukan tanding resmi secara intern.  Bertepatan dengan peringatan 17-an tahun ini dan kebetulan juga jatuh di hari minggu, satu usulan bertanding secara intern dan peringatan 17-an dengan potluck dimunculkan dan diamini semua anggota.  Dengan waktu persiapan hanya seminggu melalui milist, hari ini semua anggota tenis yang aktif dilapangan datang dengan dresscode merah putih plus tentengan berbagai ragam mkanan dan minuman untuk potluck.  Tak ketinggalan beberapa anggota milist dan keluargapun hadir termasuk Edwin salah satu founder team ini.  Bisa dibilang member tenis ini adalah "<em>The New Wave</em>".  dari 12 orang yang tercatat separuh dari angka itu adalah anggota baru yang tak berkorelasi dengan anggota lama.  Meski sebagian masih pemula tapi semangat dan kebersamaannya patut diacungin 2 jempol.  Perbedaan kemampuan bermain ini tentunya akan mengubah komposisi kekuatan team secara keseluruhan.  Tapi sejak mula MHI tenis punya motto: <span style="color: #ff6600;"><strong>akrab, fun &#38; sehat</strong>.</span> Jadi tak ada alasan untuk kawatir mengenai performa team. Karena bukan prestasi yang dikejar komunitas ini melainkan rasa kekeluargaan!.  Dan inilah yang membuat kami bertahan hingga sekarang.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (19082008.17.07)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul tiga.  Masih satu jam untuk menanti waktu latihan tenis seperti minggu-minggu biasanya.  Tapi pojok lapangan tenis Brojosumantri telah ramai.  Setidaknya ada Mamat, Grenadi, Faozan dan Danan yang sibuk merangkai bendera.  Bendera plastik merah putih itu mereka ikat dengan benang dan di hiaskan di bangku beratap di pinggir lapangan sekalian memanjang diantara net.  Meriah. Sebuah mejapun disiapkan lengkap dengan hiasan bendera yang langsung penuh dengan makanan, jajanan, buah dan berbagai minuman.  Sampai terfikir akankah semua ini bisa dihabiskan.  Tak ketinggalan hadiah lomba juga disiapkan dengan rapi dan dibungkus mendadak di tribun.  Benar-benar proyek swadaya khas komunitas ini.  Selamatankah? syukurankah? atau perayaan? Yang benar kami mempersiapkan pertandingan!</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah 3,5 tahun lebih berdiri, MHI-Tennis hampir pasti tidak pernah melakukan tanding resmi secara intern.  Bertepatan dengan peringatan 17-an tahun ini dan kebetulan juga jatuh di hari minggu, satu usulan bertanding secara intern dan peringatan 17-an dengan potluck dimunculkan dan diamini semua anggota.  Dengan waktu persiapan hanya seminggu melalui milist, hari ini semua anggota tenis yang aktif dilapangan datang dengan dresscode merah putih plus tentengan berbagai ragam mkanan dan minuman untuk potluck.  Tak ketinggalan beberapa anggota milist dan keluargapun hadir termasuk Edwin salah satu founder team ini.  Bisa dibilang member tenis ini adalah &#8220;<em>The New Wave</em>&#8220;.  dari 12 orang yang tercatat separuh dari angka itu adalah anggota baru yang tak berkorelasi dengan anggota lama.  Meski sebagian masih pemula tapi semangat dan kebersamaannya patut diacungin 2 jempol.  Perbedaan kemampuan bermain ini tentunya akan mengubah komposisi kekuatan team secara keseluruhan.  Tapi sejak mula MHI tenis punya motto: <span style="color: #ff6600;"><strong>akrab, fun &amp; sehat</strong>.</span> Jadi tak ada alasan untuk kawatir mengenai performa team. Karena bukan prestasi yang dikejar komunitas ini melainkan rasa kekeluargaan!.  Dan inilah yang membuat kami bertahan hingga sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Jelang pukul empat, enam pasang ganda telah dibentuk dengan mengkombinasikan member yang mahir dengan tandemnya melalui undian yang alot.  Tercatat pasangan Mamat + Danan, Faozan + Ahmad, Grenadi + Zaldi, Sam + Retnani, Wibi + woro dan Rully + Darfan saling berhadapan dengan sistem gugur serta the best 3 games.  Pertarungan berjalan cukup rame, konyol dan mengarah kacau.  Dan tiap pasangan sama-sama ngotot memperoleh kemenangan.  Hasilnya 3 pasangan ganda campuran yang melaju, Sam + Retnani, Wibi + woro serta Mamat + Danan (Loh ini yang campur apanya!).  Hingga akhirnya pasangan Mamat + Danan meraih juara setelah membabat lawan-lawannya dengan skor telak dan pasangan Sam + retnani membuntuti.  Hadiah tidak saja diberikan pada pasangan yang menang.  Ada bingkisan lain dari sponsor yang berbaik hati dengan memberikan 6 paket doorprise yang diambil secara undian. Dan yang heboh, ada hadiah untuk kategori best costum yang jatuh ke tangan Ahmad.  menurut sumber yang layak dipercaya untuk tanding perdananya ini dia tak segan-segan merogoh kocek dengan tampil serba baru sesuai dengan dress code.  Selamat atas niatnya!. Dan kembali acara dilanjutkan dengan makan-makan serta free style photo session diremang petang yang mulai turun. Acara belum berakhir, sebagian besar member mulai mempersiapkan diri untuk adu babak 2, apalagi kalau bukan adu kemampuan vokal di Inul Viesta.  Acara penutup yang selalu ada dan tidak dilewatkan karena biasanya selalu ada kehebohan disini.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu memang baru di 3 pertemuan rutin kami kumpul tapi member quarter 3 ini yang bisa dikata sebagai <em>&#8220;the fresh blood&#8221;</em> punya semangat dan kebersamaan yang luar biasa. Selama ini member MHI tenis selalu berasal dari relasi sesama member sebelumnya.  Dan baru di 2 quarter belangan ini manajemen komunitas diperbaiki utamanya mengenai membership rules hingga  sedikit banyak hal ini yang memberikan kontribusi perubahan. Salah satunya banyak anggota baru yang berasal dari lingkungan luar.  ini merupakan angin segar yang konduktif karena membawa komunitas team keluar dari stagnasi.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>Terima kasih atas semangat &amp; kebersamaannya<br />
&#8220;Enjoy your tennis&#8221; &amp; tetap &#8220;fun, sehat dan Akrab&#8221;</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>MERDEKA!</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">photo ada di <a href="http://samlens.blogspot.com" target="_blank">sini </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/08/20/merah-putih-di-brojo-soemantri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>rank</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/01/24/rank/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/01/24/rank/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 23:23:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[
Pagerank:
10
Technorati Rank:/li>
Alexa Rank:/li>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol>
<li><strong>Pagerank:</strong><br />
0/10</li>
<li><strong>Technorati Rank:</strong> 0</li>
<li><strong>Alexa Rank:</strong> 0</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/01/24/rank/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

