<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SamRoads - It&#039;s Just Some Inspiration In My Private Roads &#187; My Journey</title>
	<atom:link href="http://samroads.be-samyono.com/category/my-journey/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://samroads.be-samyono.com</link>
	<description>private, journey, words, thinking, jurnal, baby, renungan, pengalaman, sophie, perjalanan, kata, inspirasi, opini, catatan, pribadi, pemikiran, oppinion, kinanthi, ayah bunda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Apr 2010 09:36:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.3</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sebuah Hukuman dari Sophie (Catatan Ayah)</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/05/sebuah-hukuman-dari-sophie-catatan-ayah/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/05/sebuah-hukuman-dari-sophie-catatan-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 15:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tak ada yang lebih menyakitkan selain menghadapi rasa penolakan seorang anak.  Saya tidak pernah membayangkan bila Sophie bisa melakukannya sedini ini.  Saya dan Bundanya mencoba memahami kondisi yang tengah terjadi, mencoba tak membebankan kesalahan namun segera berupaya mencari solusi.  Keyakinan kami cukup sederhana.  Tak ada permasalahan yang tidak bisa dipecahkan.  Itu saja.  Dan lebih jelasnya kami tak ingin terlambat dan  memdapat rasa bersalah yang akan kami tuai nantinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Merenung" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2941.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tak disangka bulan Maret ini jadwal saya dan jadwal Bunda begitu padat.  Beberapa kali kami tak bisa pulang tepat waktu.  Kadang larut dan seringkali tiba disaat Sophie sudah tidur.  Meskipun ada waktu 2 jam dipagi hari untuk bersamanya namun sepertinya tetap ada waktu kebersamaan yang kurang.  Waktu sabtu minggu biasanya kami coba memaksimalkan kebersamaan dengan dirinya, sebagai waktu kompensasi.  Mengajaknya main atau pergi yang memang khusus untuk dirinya.  Harapannya Sophie bisa melihat kondisi ini lebih proporsional dan dia sama sekali tidak merasa di nomor duakan dibandingkan pekerjaaan kami.  Karena kami telah mengajarkan pengertian kenapa kami harus meninggalkannya dan bekerja.  Kembali ternyata semua ini belumlah cukup [........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (24032010-08.41)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tak ada yang lebih menyakitkan selain menghadapi rasa penolakan seorang anak.  Saya tidak pernah membayangkan bila Sophie bisa melakukannya sedini ini.  Saya dan Bundanya mencoba memahami kondisi yang tengah terjadi, mencoba tak membebankan kesalahan namun segera berupaya mencari solusi.  Keyakinan kami cukup sederhana.  Tak ada permasalahan yang tidak bisa dipecahkan.  Itu saja.  Dan lebih jelasnya kami tak ingin terlambat dan  memdapat rasa bersalah yang akan kami tuai nantinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Merenung" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2941.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tak disangka bulan Maret ini jadwal saya dan jadwal Bunda begitu padat.  Beberapa kali kami tak bisa pulang tepat waktu.  Kadang larut dan seringkali tiba disaat Sophie sudah tidur.  Meskipun ada waktu 2 jam dipagi hari untuk bersamanya namun sepertinya tetap ada waktu kebersamaan yang kurang.  Waktu sabtu minggu biasanya kami coba memaksimalkan kebersamaan dengan dirinya, sebagai waktu kompensasi.  Mengajaknya main atau pergi yang memang khusus untuk dirinya.  Harapannya Sophie bisa melihat kondisi ini lebih proporsional dan dia sama sekali tidak merasa di nomor duakan dibandingkan pekerjaaan kami.  Karena kami telah mengajarkan pengertian kenapa kami harus meninggalkannya dan bekerja.  Kembali ternyata semua ini belumlah cukup.</p>
<p style="text-align: justify;">Puncaknya minggu lalu saat kami harus ke Jogja untuk menghadiri pernikahan saudara yang mendadak dimana kemungkinan untuk mengajak Sophie amat tidak memungkinkan.  Kamipun pergi disaat Sophie tertidur lelap kelelahan karena kami mengajaknya jalan-jalan dahulu untuk menghabiskan waktu bersama dia sebelum keberangkatan.  Benak kami mengkawatirkan bahwa sophie akan rewel dan mencari-cari kami.  Untuk itu kamipun berupaya selalu kontak dengan dia lewat telpon guna memantaunya.   Kami bayangkan saat kami pulang dua hari kemudian kami akan melihat Sophie berlari riang ke arah kami dan lengket takkan mau melepaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Moment kepulangan kami sama sekali jauh dari bayangan kami.  Dia memandang kedatangan kami dengan biasa saja, perhatiannya lebih ke arah pesawat terbang.  Malah dikiranya dia akan pergi dengan pesawat saat menjemput kami.  Dan ternyata penolakan lainnya berlanjut. Malamnya dia tak menginginkan untuk tidur bersama kami.  Dia lebih memilih untuk tidur di luar kamar bersama nenek.  Dan semua dilakukannya dengan menangis.  Saat itu saya merasa hampa.  Terkejut sekaligus putus asa.  Saya tiak pernah membayangkan Sophie menjauh dari kami.  Logikanya bila seorang anak ditinggal oleh orang tuanya dia akan merindukan tapi Sophie mengambil sisi yang berbeda.  Saya merasa seperti dihukum.</p>
<p style="text-align: justify;">Biasanya saya akan segera emosi untuk menanggapi hal-hal seperti ini, seperti induk ayam yang mulai bertaji mempertahankan teritorialnya. Namun hukuman ini terasa menyentak.  Saya hanya bisa berkata lirih pada Bunda Sophie.  &#8220;Bunda, ada sesuatu yang salah.  Kita harus segera memperbaikinya,&#8221;  Bunda hanya mengangguk pelan, diikutinya Sophie yang menangis keras sambil keluar kamar mencari neneknya.  Digendongnya dan diserahkan ke saya.  Bunda menemui nenek dikamarnya untuk tidak keluar dan mengulurkan bantuan.  Kami bujuk Sophie mengatakan nenek sudah tidur.  Saya tahu Sophie akan menerima semua alasan bila logis dan dia bisa buktikan.  Meski tangisnya tak reda tapi dia menuruti kata kami.  Malam itu dia tidur bersama kami dengan sesenggukan.  Kami tidak bilang kami memangkan hukuman ini karena jauh dari itu  masih ada pekerjaan rumah yang cukup berat untuk bisa meyakinkan Sophie.  Meyakinkan bahwa keberadaannya mempunyai arti lebih dan tak ada pengabaian atas keberadaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tahu akan sulit mengasuh anak dalam 2 kendali.  Seperti halnya kami yang menyerahkan sebagian besar asuhan Sophie pada Kakek &amp; Neneknya.  Beruntung Kakek &amp; Nenek Sophie cukup kooperatif dalam menerapkan pola asuh.  Namun demikian sangat manusiawi ada perbedaan aturan dan cara.  Sejauh itu terkontrol saya selalu meminta Bunda untuk memakluminya.  Satu hal yang penting untuk menanamkan kepada anak akan perbedaan pola asuh ini sehingga dia tahu akan keragaman lingkungan. Namun saat sesuatu yang tidak bisa di kontrol muncul.  Mungkin peran pengertian untuk bisa mengkomunikasikan dan memahami akar permasalahan untuk mendapatkan solusi amat sangat diperlukan.  Utamanya kerjasama pihak pengasuh sangat penting.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa jadi ini satu problem yang jamak terjadi dalam keluarga modern dimana proses pengasuhan anak tidak bisa di tangani sepenuhnya oleh orang tua.  Kita harus berbagi proses asuh kepada orang tua ataupun kepada tenaga profesional seperti baby sitter.  Masalah seringkali muncul saat anak-anak mulai dekat dengan mereka daripada dengan orang tua.  Pengabaian inilah yang bisa di cerna secara beragam.  Mungkin ini akan berlangsung temporary atau malah selamanya tergantung keinginan kita sejauh mana mengembalikan peran kita sebagai orang tua.  Saya dan Bunda belum bisa memastikan apakah kami bisa segera keluar dari hukuman ini segera. Namun setidaknya kami tidak ingin ini berlangsung lebih lama lagi.  Terlebih hanya memberikan kata jangan dan jangan kepada Kakek dan Nenek yang over perhatian kepada Sophie.  Saatnya kami harus memberikan satu bukti kepedulian dan saatnya kami memberikan esensi lebih dalam menerapkan pola asuh apa lagi kalau bukan <span style="color: #ff6600;">KETELADANAN</span>.  Moga langkah ini kembali menyatukan kami.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/05/sebuah-hukuman-dari-sophie-catatan-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenalkan Tenis di Usia Dini</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/16/237/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/16/237/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 10:25:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[MHI Tennis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Media Release:</span> “Mengenalkan sejak dini”  mungkin inilah kata yang tepat untuk bisa dipikirkan lebih mendalam dan dijabarkan dalam tindakan kongkrit guna mengatasi keterpurukan dunia olah raga Indonesia.  Tenis salah satu contoh olah raga tersebut.  Pandangan tenis sebagai olah raga mahal dan teruntuk manula menghasilkan pembibitan yang gersang dan prestasi yang tumpul.  Sejak era Yayuk Basuki dan Angelique Widjaja tak ada catatan anak negeri ini berhasil menapak 100 besar peringkat petenis dunia.  Satu hal yang ironis padahal tennis merupakan olahraga yang menjanjikan serta mempunyai apresiasi serta struktur yang mapan bagi seorang atlet.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Coaching" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2461.jpg" alt="" width="383" height="256" /></p>
<p style="text-align: justify;">Berpijak pada kondisi itu di ulang tahunnya yang ke 5, MHI Tennis mengajak 40 anak Panti Asuhan kampung Melayu  untuk mengikuti acara Tennis Coaching.  Anak-anak setingkat SD dan SMP itu akan diperkenalkan pada tenis dan dibekali cara-cara bermain tennis secara langsung Pelatih.  Serunya lagi anak-anak ini akan dipandu langsung oleh kakak-kakak MHI tennis dan akan dipadukan dengan fun game[........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (14022010-00.00) </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Media Release:</span> “Mengenalkan sejak dini”  mungkin inilah kata yang tepat untuk bisa dipikirkan lebih mendalam dan dijabarkan dalam tindakan kongkrit guna mengatasi keterpurukan dunia olah raga Indonesia.  Tenis salah satu contoh olah raga tersebut.  Pandangan tenis sebagai olah raga mahal dan teruntuk manula menghasilkan pembibitan yang gersang dan prestasi yang tumpul.  Sejak era Yayuk Basuki dan Angelique Widjaja tak ada catatan anak negeri ini berhasil menapak 100 besar peringkat petenis dunia.  Satu hal yang ironis padahal tennis merupakan olahraga yang menjanjikan serta mempunyai apresiasi serta struktur yang mapan bagi seorang atlet.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Coaching" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2461.jpg" alt="" width="276" height="184" /></p>
<p style="text-align: justify;">Berpijak pada kondisi itu di ulang tahunnya yang ke 5, MHI Tennis mengajak 40 anak Panti Asuhan kampung Melayu  untuk mengikuti acara Tennis Coaching.  Anak-anak setingkat SD dan SMP itu akan diperkenalkan pada tenis dan dibekali cara-cara bermain tennis secara langsung Pelatih.  Serunya lagi anak-anak ini akan dipandu langsung oleh kakak-kakak MHI tennis dan akan dipadukan dengan fun game.  Tennis  coaching ini merupakan salah satu dari serangkaian acara social yang diadakan oleh MHI tennis.   Selama sebulan MHI tennis menggulirkan program “Berbagi Kasih” bersama MHI Tennis, satu program penggalangan dana bagi anak-anak Panti Asuhan Kampung Melayu.  Pengumpulan dana per Rp 50.000,- yang diapresiasi dengan 1 buah pin ini telah berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp. 10.650.000,- dari donatur perseorangan yang umumnya merupakan anggota tenis, rekan dan sahabat di area Jawa dan Nusa Tenggara.  Keseluruhan donasi ini tanpa kecuali akan diserahkan seluruhnya kepada panti asuhan tersebut dalam bentuk cash (Rp 5 Juta rupiah), sembako serta peralatan operasional (Kulkas, kompor gas, setrika listrik) yang mereka butuhkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tennis Coaching sendiri dikemas dalam acara penyerahan donasi dan syukuran 5 tahun MHI Tennis.  Tidak saja anak-anak panti asuhan yang diikut sertakan dalam acara ini namun juga undangan serta pada donator dan sukarelawan yang telah terlibat dalam acara penggalangan dana ini.  Yang luar biasa undangan akan diajak berbaur dengan anak-anak panti asuhan untuk bersama berbagi kebahagiaan dalam permainan outbound mini.  Kesempatan terbuka bagi undangan untuk membawa keluarga dan anak guna berbaur dalam acara ini.  Beberapa sponsor juga ikut berpartisipasi dalam acara tennis coaching ini seperti Majalah Menshealth (Femina), KFC, Mead Johnson, serta Arnotts.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi Tunggu apalagi mari bergabung bersama-anak-anak panti asuhan dalam tennis coaching pada:</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Tanggal   :  14 Februari 2010</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Pukul      	:  09.00-12.00</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Tempat  	:  Lapangan tennis Indoor Pertamina Simprug</p>
<p style="padding-left: 120px; text-align: justify;">Jl Teuku Nyak Arif &#8211; Simprug</p>
<p style="padding-left: 120px; text-align: justify;">Jakarta Selatan Indonesia</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Acara    	:  “Berbagi Kasih” Bersama MHI Tennis</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Akan digelar:</span></p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">1.   Tennis Coaching &amp; Tennis exhibition bagi anak-anak panti asuhan</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">2.   Fun Games anak-anak panti asuhan &amp; peserta yang hadir</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">3.   Penyerahan hasil donasi “Berbagi Kasih”</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">4.   Syukuran 5th Anniversary MHI Tennis</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">5.   Hiburan &amp; ramah tamah</p>
<p style="text-align: justify;">Besar harapan bahwa Program “Berbagi kasih” yang digulirkan ini tidak saja memberi guna dan meringankan mereka namun juga utamanya bisa menumbuhkan minat, keinginan dan pengetahuan anak-anak usia dini mengenai olah raga tennis.  Nantinya diharapkan muncul prestasi yang membanggakan dari dari apa yang telah tertebar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Salam Ace ….!</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/16/237/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liburan &#8220;Seronok&#8221; (KL Trip) #2</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/12/10/liburan-seronok-kl-trip-2/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/12/10/liburan-seronok-kl-trip-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 03:56:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Lupakan untuk naik jejantas penghubung 2 menara kembar petronas.  Kami bangun kesiangan, atau tepatnya dibangunkan oleh sophie saat sudah siang.  Kami menikmati saja acara dikamar sambil main main dengan sophie yang tak mau melewatkan acara kesukaannya, mandi shower.  Ada lega juga tak jadi naik ke petronas walau tiket gratis. apalagi kalau bukan ketakutanku soal ketinggian.  Pukul 09.30 kami kumpul di restauran hotel untuk breakfast.  Mengejutkannya rasa  makanan disini lumayan enak.  Saya pilih ala american karena tergoda sup kacang polong kesukaan saya  dan menghindari nasi lemak yang berbumbu kari yang kembali "sangat India"!.  Pukul 10.30 kami telah berada di KLCC twins tower.  Niatan untuk naik jejantas kami urungkan dan kami ganti dengan mengambil photo siang hari di halaman depan dan belakang petronas sembari menunggu sholat jumat.  Kamipun ada janji lain dengan Khatty untuk mengantar kami "pusing-pusing" dengan car rental yang akan kami sewa 2 hari.</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Genting" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9692.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: center;"></p>
<p style="text-align: justify;">Sholat jumat menjadi bagian yang menarik karena berlangsung mulai pukul 01.30 pm waktu setempat.  Masjid KLCC yang berada 500 meter di belakang Twins tower cukup representatif, sejuk dan hijau.  Arsitekturnya cukup modern, tak hanya bagian utama masjid yang didinginkan dengan AC.  selasar terbukapun tak luput dari hembusan AC. Tak perlu kawatir untuk menaruh sepatu dan sandal di rak yang disediakan.  Meski terbuka kasus kehilangan rasanya jauh dari kata mungkin.  tatacaranyapun sedikit berbeda.  Sebelum adzan terlebih dahulu diisi siraman rohani.  Begitu selesai adzan bersama solat sunah dan selanjutnya dengan tata cara seperti yang kita lakukan.  Hanya menariknya doa untuk keselamatan negara dan kesultanan amat dominan selain penggunaan LCD berlayar besar yang menayangkan isi ceramah yang disampaikan khotib.  Satu sholat jumat yang sangat menambah wawasan [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (13112009-10.54)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Meski menggiurkan jalan-jalan malam di Bukit Bintang akhirnya saya tolak.  Saya lebih menaruh harapan besok bisa berjalan dengan nyaman dan bisa merebahkan kaki saya malam ini daripada sebaliknya.  Padahal bukit Bintang pada waktu malam cukup hidup.  Hangout disini cukup menyenangkan dan banyak ruang terbuka untuk sekedar berchit-chat atau menikmati secangkir minuman hangat. Jauh dari gangguan tak diundang dari pengemis ataupun pengamen yang biasa kita dapati bila nongkrong di kaki lima di &#8220;rumah&#8221; kita.  Traffick lalu lintaspun masih tergolong dapat ditolerir hingga tak mengusik kenyamanan untuk berkongkow-kongkow.  Belum lagi pilihan tempat dan suasananyapun tak bisa dibilang sedikit. Akhirnya saya membiarkan hal itu.  saya lihat sophie sudah pulas sejak turun dari taksi tadi. Bunda Sophie  Sedang menggantikan baju tidur padanya.  Dan serta merta saya telah berada di mimpi.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SERONOK DAY 2</span></p>
<p style="text-align: justify;">Lupakan untuk naik jejantas penghubung 2 menara kembar petronas.  Kami bangun kesiangan, atau tepatnya dibangunkan oleh sophie saat sudah siang.  Kami menikmati saja acara dikamar sambil main main dengan sophie yang tak mau melewatkan acara kesukaannya, mandi shower.  Ada lega juga tak jadi naik ke petronas walau tiket gratis. apalagi kalau bukan ketakutanku soal ketinggian.  Pukul 09.30 kami kumpul di restauran hotel untuk breakfast.  Mengejutkannya rasa  makanan disini lumayan enak.  Saya pilih ala american karena tergoda sup kacang polong kesukaan saya  dan menghindari nasi lemak yang berbumbu kari yang kembali &#8220;sangat India&#8221;!.  Pukul 10.30 kami telah berada di KLCC twins tower.  Niatan untuk naik jejantas kami urungkan dan kami ganti dengan mengambil photo siang hari di halaman depan dan belakang petronas sembari menunggu sholat jumat.  Kamipun ada janji lain dengan Khatty untuk mengantar kami &#8220;pusing-pusing&#8221; dengan car rental yang akan kami sewa 2 hari.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Genting" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9692.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Sholat jumat menjadi bagian yang menarik karena berlangsung mulai pukul 01.30 pm waktu setempat.  Masjid KLCC yang berada 500 meter di belakang Twins tower cukup representatif, sejuk dan hijau.  Arsitekturnya cukup modern, tak hanya bagian utama masjid yang didinginkan dengan AC.  selasar terbukapun tak luput dari hembusan AC. Tak perlu kawatir untuk menaruh sepatu dan sandal di rak yang disediakan.  Meski terbuka kasus kehilangan rasanya jauh dari kata mungkin.  tatacaranyapun sedikit berbeda.  Sebelum adzan terlebih dahulu diisi siraman rohani.  Begitu selesai adzan bersama solat sunah dan selanjutnya dengan tata cara seperti yang kita lakukan.  Hanya menariknya doa untuk keselamatan negara dan kesultanan amat dominan selain penggunaan LCD berlayar besar yang menayangkan isi ceramah yang disampaikan khotib.  Satu sholat jumat yang sangat menambah wawasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Petaka terjadi saat HP oom mamat tiba2 lowbad setelah sholat jumat.  Kami kehilangan jejak rombongan yang telah bergabung dengan Khatty.  Upaya pencarian seluruh mall pun gagal.  Kemungkinan menggunakan telpon publik sangat kecil untuk international call.  Akhirnya saya putuskan mencari toko Apple  untuk minta bantuan mencharge HP milik oom mamat. Begitu kembali kami berkumpul waktu telah demikian terlambat.  Kami tak sempat lagi untuk pergi ke Sogo hingga diputuskan untuk keluar KL menuju IKEA tepat pukul 03.00pm.  Perjalanan yang memakan waktu hampir 45 menit cukup lancar terbantu dengan traffic yang tidak macet dan keteraturan jalan serta banyaknya jalan layang di KL yang memungkinkan kami menghindari traffic light.  Sepanjang jalan tak henti kami bercanda karena banyak musik indonesia yang diputar disana serta lucunya pemakaian bahasa melayu yang terkesan asing di telinga kami.</p>
<p style="text-align: justify;">IKEA cukup besar dan lapang bagi konsumen yang akan melakukan swalayan membeli perabot berukuran besar.  Dan sekali lahi IKEA selalu menjadi tempat belanja favorite sekaligus inspiratif bagi rumah kami yang semakin mini.  Tak kecuali IKEA KL ini.  Letaknya yang bedekatan dengan Curve &amp; Ikano mall di pinggiran kota KL menjadi daya tarik tersendiri.  saya sendiri lebih terpikat pada show room serta system yang diterapkan bagi konsumen. Tak hanya bagaimana mengedukasi konsumen untuk bisa memilah dan memilih produk yang tepat namun juga memberikan begitu banyak detail. Petaka komunikasipun terulang.  kami erpech dalam 2 rombongan yang takbisa saling komunikasi.  2 jam kami terkatung-katung saling mencari.   Meski pada akhirnya saling bertemu tapi terlalu banyak waktu terbuang. Kembali ke Bukit bintang dan mengunjungi mall baru Pavilion-lah keputusah akhir kami.  Selebihnya saya ingin kembali merebah!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Monorail" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9551.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Memang tak ada habis asyiknya bila mengajak jalan Sophie.  Selalu saja ada cara supaya dia suka dan menikmati suasana.  Ketika yang lain berbelanja saya dan dia cukup bermain petak umpet dan berkeliling menghitung patung manekin.  Kegembiraannya tak habis.  Pun ketika semua tak belanja terkumpul.  Tak sabar dia untuk membawa salah satunya meski dia tahu kalau harus menyeret tas yang lebih besar daripada ukuran badannya.  Bisa dibilang mall di jakarta tak kalah dengan yang ada di KL.  Bakhan lebih besar dan ekslusif.  Bedanya mereka mampu merawat fasilitas umum yang ada dan tidak saja menjadikan mall sebagai surga tapi juga lingkungan sekitar yang ada.  Itu keunggulan yang ada.  Keadaan inilah yang membuat saya cukup relax melepas Sophie untuk kesana kemari dengan bebasnya.  Menikmati dunianya tanpa harus memngikuti keinginan rombongan lain untuk berbelanja.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SERONOK DAY 3</span></p>
<p style="text-align: justify;">Hari seperti dipercepat. Hari ini kami akan kembali petang nanti.  Kami bangun lebih awal dan benar-benar menikmati sarapan pagi.  Kamipun langsung cek out dan mengemasi barang di mobil Carnival sewaan kami. Tas sudah mulai beranak.  Beberapa Barang terpaksa di pangku. Beruntung Catty cukup piawai.  tempat parkir hotel yang sempit dan curam ini bisa di taklukkan.  Berhubung Catty ada acara keluarga maka kami akan meninggalkan kami lebih dahulu di Miles mall.  Dan akan dijemput kembali begitu usai.  Rencananya kami akan ke Putrajaya.  Beruntung Rumah Catty ada di Serdang yang searah dengan putrajaya dan LCCT tempat kami nanti meninggalkan KL.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak ubahnya seperti mall lain, Miles termasuk ramai untuk ukuran maal yang berada di luar KL, yang tergolong kabupaten.  Menariknya Mall ini menjadikan danau kecil di sebelahnya sebagai daya tarik.  Mall ini menjadi penghubung 2 danau.  Dan terdapat aliran sungai di tengah-tengah mall.  sayang sekali pengunjung harus merogoh 100 ribu/orang untuk bisa naik perahu boat mengelilingi danau selama 30 menitan.  Mahal!  Kami hanya makan dan berkeliling sembari menunggu jemputan.  Selang 2 jam Catty telah menjemput dan kami berencana untuk mampir ke rumahnya sekalian repacking bawaan kami.  Inilah pertama kalinya kami berkunjung ke rumah catty setelah lebih dari 5 tahun pertemanan kami.  Seperti tak canggung kami berada di rumah catty karena kami cukup mengenal Ibunya bahkan pernah bertemu sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Us" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9924.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Cuaca yang terik menjadi mendung dengan tiba-tiba.  Kami cepat-cepat pamit untuk menuju bandara dengan singgah di putrajaya lebih dahulu. Putrajaya adalah bandar baru tempat pemerintah mengendalikan roda  pemerintahan.  Kota cantik di sisi danau luas ini begitu menkjubkan dengan lanskap yang teratur dan aksitektur bangunan yang megah.  Beberapa Icon masjidpun menjulang memberi hiasan yang cukup religius.  Saya terpesona.  sayang sekali kami harus berfoto dalam kejaran mendung yang mulai menitikkan hujan hingga kami semua serba terburu-buru.  Meski tak puas hati tapi ini adalah upaya maksimal.  Kami hanya dapat berputar di gelapnya cuaca dan terpaan hujan yang jatuh di kaca mobil.  LCCT kami capai setengahjam kemudian.  Jalanan yang lengang dan serba tol mempercepat perjalanan.  Berat hati meninggalkan keseronokan beberapa hari ini.  Tapi sepertinya waktu memang tidak bisa diminta diam ditempat.  Pukul 19.00 kami terbang dengan membawa Sophie yang telah terlelap.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali perasaan saya merasaka ketidak enakan begitu liburan usai.  Bukan karena harus menghadapi rutinitas esok hari tapi kembali bagai dibenturkan pada kenyataan pahit.  Banyak surga yang bisa diberikan negara lain bagi rakyatnya namun kenapa tak cukup kenikmatan yang dirasakan rakyat kita dari pemimpinnya ditengah bumi yang dikatakan surganya dunia?. Bisa jadi banyak hal negatif yang timbul di benak rakyat indonesia tenang malaysia.  Namun kunjungan terakhir ini kembali harus saya akui banyak yang harus kita pelajari dari Malaysia untuk mengelola negeri ini. Saya tak tahu apakah pepatah <span style="color: #ff6600;">&#8220;hujan batu di negeri sendiri lebih nikmat dari hujan emas di negara lain&#8221; </span>masih berlaku melihat kenyataan ini.  Karena pada nyatanya terlalu banyak effort dan pengobanan untuk kehidupan kita sehari hari sementara kesejahteraan masih diangan-angan.  Karena kesejahteraan hanya dipunyai sebagian orang saja!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/12/10/liburan-seronok-kl-trip-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liburan &#8220;Seronok&#8221; (KL Trip) #1</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/12/liburan-seronok-kl-trip-1/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/12/liburan-seronok-kl-trip-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 07:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jalan-jalan seakan menjadi satu prioritas tersendiri bagi saya dan utamanya buat Bunda Sophie.  Bahkan kami sepakat untuk selalu mengalokasikan dana dan   waktu 2-3 kali setahun untuk jalan-jalan entah keluar kota atau keluar negeri. Rupanya memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.  Sophie anak kami ternyata   amat menyukai jalan-jalan.  Kondisi sakitpun akan dia abaikan bila mendengar kata jalan-jalan.  Tidak hanya perjalanan keluar kota yang dia nikmati, ke   luarnegeripun dia lalui dengan keriangan.  Sepertinya Sophie amat mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru serta hebatnya dia bisa menciptakan   kegembiraan tersendiri dari setiap suasana yang tercipta.  Untuk itulah kami sangat enggan dan tak rela jika meninggalkan dia disaat ada renacana untuk jalan   karena kami yakin dia cukup menikmati setiap perjalanan ini.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Together" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9555.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sedikit cerita ketika pertama kami mengajaknya pergi ke Singapore di usia 14 bulan. Keraguan mulanya kami temui.  Kekawatiran akan ribetnya membawa baby dan   tak adanya bala bantuan di negeri orang membuat kami berfikir berulang.  Namun kembali kami kuatkan diri bahwa perjalanan ini adalah pembelajaran bagi kami   untuk mengurus Sophie tanpa bantuan siapapun.  Mungkin menjadi berlebihan bila pada akhirnya kami membawa hampir semua barang keperluan dia secara   berlebihan. Mulai dari stroller, obat-obatan, makanan, pampers dan segala macamnya.  Bagasi kamipun menggelembung.  Waktu 4 hari  disana ternyata tak   mengkawatirkan meski perjalanan lumayan melelahkan karena via Batam untuk sekalian menengok saudara.  Sophie tetap ceria dan asyik menikmati perjalanan pun   ketika kami harus antri dan berdesakan 3 jam lebih untuk bisa mencapai Johor Baru. Beruntung ada stroller dan buku, teman perjalanan Sophie yang amat sangat   bermanfaat bagi dia.  Belajar dari pengalaman itu kami tak ragu untuk kembali jalan dengan mengajak Sophie. [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (10112009-09.03) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jalan-jalan seakan menjadi satu prioritas tersendiri bagi saya dan utamanya buat Bunda Sophie.  Bahkan kami sepakat untuk selalu mengalokasikan dana dan   waktu 2-3 kali setahun untuk jalan-jalan entah keluar kota atau keluar negeri. Rupanya memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.  Sophie anak kami ternyata   amat menyukai jalan-jalan.  Kondisi sakitpun akan dia abaikan bila mendengar kata jalan-jalan.  Tidak hanya perjalanan keluar kota yang dia nikmati, ke   luarnegeripun dia lalui dengan keriangan.  Sepertinya Sophie amat mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru serta hebatnya dia bisa menciptakan   kegembiraan tersendiri dari setiap suasana yang tercipta.  Untuk itulah kami sangat enggan dan tak rela jika meninggalkan dia disaat ada renacana untuk jalan   karena kami yakin dia cukup menikmati setiap perjalanan ini.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Together" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9555.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sedikit cerita ketika pertama kami mengajaknya pergi ke Singapore di usia 14 bulan. Keraguan mulanya kami temui.  Kekawatiran akan ribetnya membawa baby dan   tak adanya bala bantuan di negeri orang membuat kami berfikir berulang.  Namun kembali kami kuatkan diri bahwa perjalanan ini adalah pembelajaran bagi kami   untuk mengurus Sophie tanpa bantuan siapapun.  Mungkin menjadi berlebihan bila pada akhirnya kami membawa hampir semua barang keperluan dia secara   berlebihan. Mulai dari stroller, obat-obatan, makanan, pampers dan segala macamnya.  Bagasi kamipun menggelembung.  Waktu 4 hari  disana ternyata tak   mengkawatirkan meski perjalanan lumayan melelahkan karena via Batam untuk sekalian menengok saudara.  Sophie tetap ceria dan asyik menikmati perjalanan pun   ketika kami harus antri dan berdesakan 3 jam lebih untuk bisa mencapai Johor Baru. Beruntung ada stroller dan buku, teman perjalanan Sophie yang amat sangat   bermanfaat bagi dia.  Belajar dari pengalaman itu kami tak ragu untuk kembali jalan dengan mengajak Sophie.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini Kuala Lumpur kami pilih sebagai tujuan.  Pertimbangan   utamanya adalah Bunda Sophie belum pernah kesana, memperoleh tiket &#8220;no Fuel Charge&#8221;, serta adanya sahabat lama disana.  Persiapanpun tidak seheboh   sebelumnya.  Untuk perjalanan 3 hari, kami bertiga cukup menggunakan 1 koper ukuran medium dan 1 stroller untuk dimasukkan ke bagasi.  Sisanya tas tenteng   sebagai tas &#8216;doraemon&#8217; keperluan Sophie serta 1 tas kamera keperluan saya.  Padat dan praktis!.  Memang urusan makan akan menjadi hal tersulit jika membawa   baby untuk itu beberapa biskuit kami siapkan berikut susu dan makanan praktis lainnya. Yang penting disana adalah ketersediaan buah, makanan favorite sophie.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">PERJALANAN JAMAAH </span></p>
<p style="text-align: justify;">Sophie ternyata menjadi magnet. Beberapa rekan &amp; saudara akhirnya memutuskan karena sophie-pun ikut.  Bertujuhlah (saya, bunda Sophie, Sophie, Papa Thotho,   Mama Tyas, oom mamat dan oom syarif) akhirnya kami berangkat pukul 06.30 dengan Airasia QZ 111.  Berbeda dengan perjalanan saya beberapa kali ke KL yang   biasanya saya capai dengan menggunakan bus langsung dari Singapore kali ini kami menggunakan pesawat.  Beruntung beberapa kali bertukar email dengan sahabat   lama saya di sana (Khatty) saya memperoleh panduan yang cukup lengkap sehingga saya bisa menyusun itinery  serta budget yang cukup detail akurat.  Rombongan   besarpun bisa sekata dalam perjalanan.  Dan yang terpenting karena saya beberapa kali pernah ke KL setidaknya kami cukup terhindar dari kata <span style="color: #ff6600;">TERSESAT </span>atau   <span style="color: #ff6600;">KEBINGUNGAN.</span> Bedanya bila dahulu saya terima beres kini saya dan oom mamat yang menjadi pemandunya.  Dan kami ingin perjalanan ini lebih terkontrol dan   teratur untuk meminimalisasi efek dari &#8220;banyak orang banyak kemauan&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Obyek wisata yang vital saya prioritaskan bagi rombongan seperti Twins Tower, Genting, Central Market, Bukit Bintang, IKEA serta putrajaya.  Kepadatan   perjalanapun saya kurangi untuk memberi waktu santai dan main-main untuk sophie.  Termasuk menghapus perjalanan ke Malaka.  Satu berkah muncul di last minute   kala Khatty mengatakan bisa off selama 2 hari untuk bisa mengantar kami &#8216;pusing-pusing&#8217; dengan mobil sewaan.  Ini kebetulan yang sangat di syukuri.  Meski   tak senyaman Singapore Kl tak terbilang susah dengan angkutan umum.  Masalahnya tak ada taksi argo.  semuanya tarif kuda!  Pantas keluangan waktu Khatty   menjadi berkah.  Karena itung punya itung sewa mobil plus sopir dan gasoline terbandrol tiga kali lipat dari harga Jakarta.  Meski terbilang lebih mahal tapi   kenyamanan dan pengaturan waktu akan lebih mudah dengan mobil sewaan.  Namun jangan terkaget bila parkir di KLCC argo parkirnya sudah mencapai RM 10 = Rp   30.000/jam. Mantap!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Genting" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9768.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Karena ini adalah perjalanan jamaah, akhirnya saya menyingkirkan ego saya untuk bisa benar-benar berlibur.  Dalam benak saya berlibur adalah menikmati   lingkungan dan memanjakan diri. Saya bayangkan saya bisa berada di bawah pohon disebuah bangku taman samping Merlion Park sambil membaca buku dan menulis   seharian atau bercengkerama bermain lari-larian dengan parkit kecil saya. Sophie!  Atau berada dipantai merebahkan diri sambil berbincang tentang banyak hal   dengan bunda Sophie tanpa terpikir masuk mall, belanja ini dan itu.  orang akan bilang ini bukan liburan yang populer, bukan liburan gaya &#8220;orang kita&#8221;. tapi   memang itulah liburan impian saya!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SERONOK DAY 1 </span></p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan dengan pesawat selalu terasa lama untuk saya.  Bagi saya yang takut ketinggian, sulit untuk bertenang hati.  Padahal saya coba untuk meletihkan   diri dan bangun pagi-pagi agar terasa lelah dan bisa tidur di pesawat, namun percuma.  Sebaliknya Sophie sangat menikamti perjalanan.  Hidangan pesawat   maunya dimakan sendiri bahkan tak henti minta ballpoint untuk bisa menggambar di kertas itinery perjalanan saya. Pun begitu ribut dengan bundanya untuk   melihat awan.    Keberangkatan pukul 6.25 sedikit tertunda seperempat jam.  Beruntung satu setengah jam kemudian saya sudah bisa melihat lanskap penjamu sebelum kami tiba di   LCCT, bandara Low Cost Center Terminal tempat Airasia bermarkas. Hijau, tertata dan asri begitu  pemandangan sawit di sekitar bandara itu menjamu dan bagai   gudang berarsitektur modern LCCT ini menerima kami.  Perjalananpun terlanjut dengan bus bertarif RM 8 yang akan mengantar kami selama 1,5 jam ke KL Central   di jantung Kuala Lumpur.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali jalan tol yang lengang, tertata dan mulus ini menjadi pemandangan kami.  Bagi saya liburan ini telah dimulai, saya tak   hendak untuk menidurkan diri dan melewatkan setiap hal diluar jendela sana. Terlalu mubazir, karena disinilah keasyikan satu liburan didapat. Tiba di KL   Central kami segera mencari ujung monorail untuk mengantar kami ke Hotel Bintang Warisan yang tak jauh dari stasiun Bukit Bintang, Stasiun yang hanya   berjarak 5 pemberhentian dari KL central ini.  Dengan menukar RM 2.10 kami menggunakan kartu magnetik sebagai tiket masuk.  Kartupun keluar lagi setelah   terotorisasi untuk kami pegang begitu kami akan masuk kereta monorail.  Namun saat keluar stasiun dengan otomatis kartu akan tertelan.  Setelah perjalanan 10   menit kamipun keluar dari stasiun yang berkonstruksi bentang lebar untuk atapnya ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Check in pukul 01.00 pm tak membutuhkan waktu lama.  Pencarian hotel ini di internet ternyata cukup sesuai keinginan.  Meski aroma &#8220;India&#8221; terasa menyengat   saat tiba namun saya lega karena hotel ini lebih berwarna China.  Sebagai Budget hotel fasilitas standart yang ada lumayan cukup. Kamar mandi dan tidurpun   tidak mengecewakan.  Kami tak berlama-lama untuk menaruh barang dan masuk hotel yang kami lakukan secara swalayan karena kami akan mengunjungi Genting.    Namun sebelumnya kami mampir sebentar di KFC untuk makan siang.  Sengaja KFC dipilih karena menurut pengalaman rasa makanan di KL sangat kacau, kami tak   ingin memberikan kejutan berlebihan pada perut kami.  Benar juga ternyata KFC disini tak menyediakan nasi putih melainkan nasi lemak!.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 04.00 pm kami berangkat dengan bus ke Genting highland dari KL central.  Mulanya saya ingin terus dengan menggunakan bus saja tanpa transit memakai   cable car hingga Genting.  Pengalaman  terombang ambil dalam cabel car yang mati selama 5 menit di atas laut antara Singapore-Sentosa sudah cukup membuat aku   kapok. Tapi ternyata semua perjalanan kini harus mengunakan cable car. Mau apa lagi. perjalanan menapak genting tak ubahnya seperti menuju puncak, namun   hebatnya jalan disini cukup lebar dan memudahkan bus-bus besar untuk melaju.  Hutan di sekeliling jalan tampak tak terjaman dan masih asri, tak ada lapak   dipinggir jurang juga tak ada rambu menyesatkan.  Semua penumpang terkantuk kantuk dibawah semburan ac yang dingin dan bus yang nyaman seharga RM 9.30 sekali   jalan plus akomodasi cablecar.  saya segera bangunkan bunda sophie.  Saya tahu sebelumnya di enggan kemari, tapi saya yakin perjalanan ini akan mengubah   keenggannya.  Benar, ketertarikannya makin tersemangati.  Utamanya saat tiba di terminal transit saat kami harus berganti akomodasi dengan menggunakan   cablecar.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="cablecar" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9656.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan menggunakan tiket terusan, kami langsung naik cablecar yang berkapasitas 8 orang di lantai 4 terminal ini. Kengerian saat cablecar meluncur menuju   puncak Genting dengan menyusuri kemiringan punggung gunung selama 20 menit sirna melihat eloknya hijaunya hutan dan  asyiknya pemandangan dari jendela   cablecar.  Sophie yang terpana pun mulai mengoceh kegirangan.  Kejutan terakhir terjadi saat kurang lebih 1 kilo mendekati Genting kabut mulai turun. Jarak   10 meter sudah memutih tertutup kabut dan semua berakhir saat kami masuk gate stasiun di Genting.  Benar-benar pengalaman yang elok dan mendebarkan!  seru!   tak banyak yang kami lakukan disini karena kabut telah menutub theme park, selain itu pukul 07.00 pm kami harus turun untuk mengejar bus keberangkatan pukul   07.30.  Kami meluangkan waktu dengan jalan dan bermain ala timezone bersama sophie.  Saat kembali turun dengan cable car suasana lebih mencekam karena malam,   beruntung penerangan yang di setiap tiang cable card cukup terang sehingga kamipun maih bisa menikmati pemandangan sekitar.  Kabutpun kami tinggalkan   disambut turunnya matahari si ufuk barat yang samar.</p>
<p style="text-align: justify;">Taksi RM 100? itu tawaran terburuk saaat kami tiba kembali di terminal transit.  Bus ke KL Central telah habis tiketnya hingga kami harus menunggu   keberangkatan jam 09.00 pm.  Oom mamat meminta pendapat saya.  Saya enggan dengan tawaran ini karena berombongan mau tak mau kami harus ambil 2 taksi. Saya   minta oom mamat mencari bus jurusan mana saja yang siap berangkat jam 07.30 pm ini.  Sebuah bus sudah hampir berangkat ke terminal Pasarakyat akhirnya kami   pilih.  Ini pilihan terbaik daripada kami tak ada kegiatan di terminal ini.   Toh terminal Pasarakyat tak jauh dari KLCC tujuan kami berikutnya. sekitar   pukul 09.00 kami tiba di terminal pasarakyat dan dengan 2 taksi nonargo RM 18 kami melaju ke KLCC untuk makan malam, belanja dan tentunya berfoto di depan   twins tower dimalam hari.  Kelelahan menumpuk, kaki dan pundak terasa tak mau kompromi lagi.  Kamipun meninggalkan KLCC dengan van taksi berkapasitas 7   seater RM 15 pukul 11.00. saya menggendong Sophie masuk kamar diikuti Bunda sophie.  Kaki saya pegal.  Entahlah besok masih BISA jalan lagi atau TIDAK!</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Ljburan KL" href="http://www.facebook.com/album.php?aid=121287&amp;id=729063369" target="_blank"><span style="color: #ff6600;">PHOTO disini</span></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/12/liburan-seronok-kl-trip-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Si Baby Ini &amp; Itu?</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/30/si-baby-ini-itu/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/30/si-baby-ini-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 03:20:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dibanding dengan Baby lain seusiaku  atau malah dengan sepupu ku yang seumur mungkin berkah yang terberi padaku adalah kemampuan bicara.  Di umur 21 bulan aku cukup fasih untuk diajak komunikasi, bercerita ataupun bernyanyi juga berdoa. Bagi Ayah bunda ini cukup menghibur setelah masalah berat badanku yang cukup "ringan" dibanding rekan lain sebayaku. Soal omong aku tak tahu kenapa secepat ini aku bisa bisa berkomunikasi dengan tutur yang fasih dan tepat.  Apakah lingkunganku yang memang mendukung budaya tutur atau karena Ayah Bunda tak pernah menerimaku menggunakan bahasa tangis sehingga aku lebih banyak diajak komunikasi secara verbal.  Usil punya usul ternyata Ayah dan Bunda paling bisa memilah dan memperhatikan sikapku.</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Sosialita" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Sosialita.jpg" alt="" width="213" height="283" /></p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya Aku Baby TUWIR:</span></p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana tidak aku suka mengucapkan kalimat yang mereka pandang sangat tua untuk umurku misalkan saat aku mulai berlagak tuwir dengan kata-kata yang aku punya seperti. "Hati-hati ya bunda, be carefull" atau "hati-hati, jangan di jalan nanti ada motor" kala aku ucapkan di depan rumah sebelum Ayah dan Bunda berangkat kerja.  Kalimat mempersilahkanpun mereka terima dengan geleng-geleng padahal aku cuman bilang "Ayo papa thotho makan dulu" atau "Ayah kaos kakinya lepas dulu" begitu papa thotho bertandang ke rumah atau Ayah baru pulang dari kantor.  Tak jarang Nenekpun sering dapat nasehat dari aku saat aku sakit "nek makannya sudah, nanti aku muntah loh!" atau "gak mau minum susu nenek, nanti muntah" atau malah pernah mendengar ayah batuk aku langsung mengambilkan air minum buat ayah sembari bilang "Ayah batuk, minum dulu ya"[.......]</p> ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (21102009-16.25) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dibanding dengan Baby lain seusiaku  atau malah dengan sepupu ku yang seumur mungkin berkah yang terberi padaku adalah kemampuan bicara.  Di umur 21 bulan aku cukup fasih untuk diajak komunikasi, bercerita ataupun bernyanyi juga berdoa. Bagi Ayah bunda ini cukup menghibur setelah masalah berat badanku yang cukup &#8220;ringan&#8221; dibanding rekan lain sebayaku. Soal omong aku tak tahu kenapa secepat ini aku bisa bisa berkomunikasi dengan tutur yang fasih dan tepat.  Apakah lingkunganku yang memang mendukung budaya tutur atau karena Ayah Bunda tak pernah menerimaku menggunakan bahasa tangis sehingga aku lebih banyak diajak komunikasi secara verbal.  Usil punya usul ternyata Ayah dan Bunda paling bisa memilah dan memperhatikan sikapku.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Sosialita" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Sosialita.jpg" alt="" width="213" height="283" /></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya Aku Baby TUWIR:</span></p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana tidak aku suka mengucapkan kalimat yang mereka pandang sangat tua untuk umurku misalkan saat aku mulai berlagak tuwir dengan kata-kata yang aku punya seperti. &#8220;Hati-hati ya bunda, be carefull&#8221; atau &#8220;hati-hati, jangan di jalan nanti ada motor&#8221; kala aku ucapkan di depan rumah sebelum Ayah dan Bunda berangkat kerja.  Kalimat mempersilahkanpun mereka terima dengan geleng-geleng padahal aku cuman bilang &#8220;Ayo papa thotho makan dulu&#8221; atau &#8220;Ayah kaos kakinya lepas dulu&#8221; begitu papa thotho bertandang ke rumah atau Ayah baru pulang dari kantor.  Tak jarang Nenekpun sering dapat nasehat dari aku saat aku sakit &#8220;nek makannya sudah, nanti aku muntah loh!&#8221; atau &#8220;gak mau minum susu nenek, nanti muntah&#8221; atau malah pernah mendengar ayah batuk aku langsung mengambilkan air minum buat ayah sembari bilang &#8220;Ayah batuk, minum dulu ya&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya Aku Baby LEBAY:</span></p>
<p style="text-align: justify;">Kata-kata antusias yang suka aku ucapkan seperti &#8220;Waowww .. waaooowww&#8221; saat aku menerima hadiah atau bingkisan apapun membuat Ayah menjulukiku lebai.  Terlebih bila aku berucap &#8220;Yaahhh .. semua pulang!&#8221; dengan mimik sedih atau &#8220;Yaaaah jatuh bonekanya&#8221;, &#8220;mmmmmm enak!&#8221; amat sok  melebih-lebihkan karena dipadu mimik yang menggemaskan.  Konyolnya aku suka sekali dadah dan melambai tangan bila akan pergi.  Tak cuma anggota keluaraga yang dapat dadah dari aku tapi juga benda-benda di sekitarku &#8220;dadah elmo, dadah meong, dadah bunga &#8230;dadah sampah!&#8221; lah bener lebay khan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya Aku Baby EYEL:</span></p>
<p style="text-align: justify;">Aku ternyata termasuk yang keras kepala menurut bunda.  Karena kalau aku sudah bilang &#8220;Nggak Mau&#8221;, &#8220;yang ini atau yang itu aja&#8221; , &#8220;sama ini atau itu ajah&#8221; maka tak ada yang bisa membelokkan.  Termasuk juga kalau aku menginginkan sesuatu atau ketidaktakutanku pada binatang seperti cacing, kecoa, cicak dan lainnya.  memang ayah sangat melarang aku ditakut-takuti dengan berbagai hal yang konyol.  Untungnya aku jarang menangis bila menginginkan sesuatu karena aku bisa mengatakannya sendiri.  Kalaupun pada akhirnya Ayah dan bunda tak setuju dan memberi alasan yang jelas akupun biasanya tak memaksakannya kok.  Nah kalo gini salah kali yah kalau bunda bilang aku bayi eyel.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya Aku Baby PERAYU.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Soal merayu mungkin aku termasuk ulung seperti yang dikatakan Ayah.  Bunda sangat hapal bila aku mulai mengatakan &#8220;Bunda, baca buku yuk&#8221; sembari mengajak bunda ke kamar.  Pasti 10 menit habis baca buku aku pasti akan mengatakan &#8220;nenen aja yuk bunda!&#8221;.  Atau kalau aku meminta sesuatu sama ayah atau papa thotho maka aku akan berkata dengan mesranya &#8220;gendong dong&#8221; lepas itu Aku akan mengatakan &#8220;Ayah ambilin buku&#8221;, &#8220;ayah lihat wayang dong&#8221; atau Papa thotho tabung tabung yuk!&#8221;ketahuan deh mauku kemana.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya Aku Baby RAJIN:</span></p>
<p style="text-align: justify;">ya ya ya aku memang baby yang rajin.  Sejak gigiku tumbuh 2 diusia 13 bulan aku sudah rajin gosok gigi.  Bahkan kalau bunda lupapun aku tak segan untuk memintanya sendiri.  Ritual malampun tak pernah lewat dengan memberesi semua mainan, membaca buku, ganti baju bobo, sikat gigi dan bobo.  Malah sekarangpun aku sudah bisa di suruh suruh Ayah Bunda seperti mengambilkan ini dan itu.  Kalau pagi tak jarang aku yang menyiapkan Sepatu Ayah Bunda yang telah aku semir sebisaku. Narsisnya aku seneng sekali kalau dipuji cantik dan pintar hahaha.  Kebisaanku yang baru adalah suka memilih baju sendiri dan bisa memakai celana sendiri. Wah hebat khan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya aku Baby BAWEL:</span></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak sedang main, makan, mimik susu apalagi kalo nonton elmo, barney atau starkid mulutku tak bisa diam untuk berkomentar atau bertanya.  &#8220;apa ini&#8221;, &#8220;apa Itu&#8221;, atau berkomentar tentang ini dan itu.  Namun yang paling aku suka adalah main sendiri dikamar dengan banyak bantal untuk rumah-rumahan dan banyak boneka yang dijajar. Kalau sudah begini betahlah aku berlama-lama dikanmar sambil berkhayal dan menyanyi.  Kakek tinggal tungguin di depan kamar sambil beraktifitas. Dijamin bawelku tak akan memusingkannya.  Lucunya aku suka mengigau dimalam hari.  Tanpa sadar aku ngomong sendiri satu atau dua kalimat setelah itu tidur.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya aku Baby USIL:</span></p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana tidak, ternyata aku sudah bisa mengusili kakek atau nenek dengan memanggil nama mereka, namun di saat mereka merespon aku yang menunjukkan wajah cuek.  Tidak itu saja.  Akupun suka menyamakan karakter di buku atau TV seperti orang-orang yang aku kenal.  &#8220;Papa Thotho seperti beruang Mogli&#8221;, &#8220;Ayah seperti Boncu&#8221; atau yang lainnya sambil tertawa genit.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun benernya yang ingin aku akui adalah bahwa aku adalah baby yang cukup sensitif. Kalau ada hal yang tidak membuatku berkenan karena dimarahi, karena kebandelanku atau aku takut akan sesuatu aku tidak pernah menangis keras.  Seperti halnya saat bayi aku jarang sekali menangis.  Kalau ini terjadi maka aku akan segera menuju kamar, tiduran menghadap dinding dan terisak sendiri. Menyedihkan memang.  Aku tahu Ayah dan Bunda tak menyukai sikapku ini dan sering kudengar bunda memberi nasehat &#8220;Ada apa cantik, yuk bilang ke bunda&#8221; atau support dari ayah &#8220;Wah masa anak ayah suka nangis, yuk jadi berani dan kuat!&#8221;.  Sepertinya mereka memang selalu menginginkan yang terbaik untukku disamping membuatku nyaman menjalani hidup, dibalik semua hal bagaimana diri dan polah lakuku.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/30/si-baby-ini-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Profesionalisme Di Sebuah Hoby</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/08/29/profesionalisme-di-sebuah-hoby/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/08/29/profesionalisme-di-sebuah-hoby/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 14:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bisa dikatakan tennis hanyalah sebuah hoby.  Sayangnya permainan ini tidak memungkinkan bagi saya untuk memainkannya sendiri.  Harus ada teman. Dan memang itulah yang membuat terasa fun.  Meski bila dihitung kini hampir 5 tahun usia Komunitas MHI tennis, namun masih terasa seperti kemarin saja keinginan saya untuk bisa main tenis bisa terlengkapi dengan hadirnya 5 teman main pertama saya. Masih melekat diingatan, waktu itu semuanya sangat</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Logo MHI" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/MHITennisLogo2.jpg" alt="" width="227" height="131" /></p>
<p style="text-align: center;"></p>
<p style="text-align: justify;">sederhana  dan mudah. Kami berlima terkumpul dari milis majalah menshealth, saling bantu mencari lapangan, dapat dan langsung bermain. Se-simple itu.  Tak ada hal ribet lain yang harus dipikirkan kecuali bermain.  Karena bagaimanapun kami satu hampir satu level permainan dan tak ada masalah administrasi yang dibebankan kecuali iuran per quarter.  Hal itu berlangsung hingga 3 bulan kemudian, kami hanya berfikir untuk bisa datang dan bermain itu saja.[........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (27032009.20.03)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bisa dikatakan tennis hanyalah sebuah hoby.  Sayangnya permainan ini tidak memungkinkan bagi saya untuk memainkannya sendiri.  Harus ada teman. Dan memang itulah yang membuat terasa fun.  Meski bila dihitung kini hampir 5 tahun usia Komunitas MHI tennis, namun masih terasa seperti kemarin saja keinginan saya untuk bisa main tenis bisa terlengkapi dengan hadirnya 5 teman main pertama saya. Masih melekat diingatan, waktu itu semuanya sangat</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Logo MHI" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/MHITennisLogo2.jpg" alt="" width="227" height="131" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">sederhana dan mudah. Kami berlima terkumpul dari milis majalah menshealth, saling bantu mencari lapangan, dapat dan langsung bermain. Se-simple itu.  Tak ada hal ribet lain yang harus dipikirkan kecuali bermain.  Karena bagaimanapun kami satu hampir satu level permainan dan tak ada masalah administrasi yang dibebankan kecuali iuran per quarter.  Hal itu berlangsung hingga 3 bulan kemudian, kami hanya berfikir untuk bisa datang dan bermain itu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ketika kami pada akhirnya membuka diri dengan mengundang rekan-rekan lain untuk bergabung hingga waktu berjalan 3 tahun berikutnya. Kami masih berfikir sederhana untuk menjalani ini semua. maunya hanya datang dan bermain kami masih mengelola komunitas ini dengan mengetengahkan pertemanan yang kental meski pada akhirnya kami sendiri yang harus babak belur menanggung akibatnya.   Tak dipungkiri kondisi ini justru menciptakan ketidak disiplinan yang merembet pada terpuruknya komunitas.  Bahkan kami hanya tinggal 5 orang yang masih bertahan dari 24 orang yang biasanya hadir.  Kondisi sedemikian parah hingga mau tak mau kami harus membuat keputusan dan tidak berfikir sederhana lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayapun masih ingat kepindahan ke lapangan Patra adalah moment awal perubahan tersebut. Disepakati bahwa MHI tennis harus dikelola dengan satu manajemen.  Yang artinya ada aturan permainan bagi para anggotanya dan berbagai hal yang tentunya ini sangat jauh bila dikatakan sederhana.  Alasan perubahan ini tak lain karena kami ingin meletakkan MHI Tennis pada pijakannya semula, pada motto <span style="color: #ff6600;">FUN, FRIENDLY &amp; HEALTHY.</span> Pijakan ini memberi penegasan bahwa MHI Tennis mempunyai keanggotaan yang terbuka tidak memandang latar belakang ataupun level permainannya.  Siapapun diperkenankan masuk dengan batasan quota jumlah pemain bukan pada skill levellnya.  Selain itu ada keinginan MHI TEnnis untuk tetap eksis sebagai satu komunitas bagi pemain dan penggemar tennis.  Tentunya mau tak mau semua ini membutuhkan profesionalisme dalam pengelolaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir satu tahun manajemen MHI Tennis berjalan dengan penerapan profesionalisme.  Tak hanya kemajuan minor yang didapat namun juga progres mayor seperti bertambahnya keanggotaan dan skill level permainan anggota menjadi satu pencapaian tersendiri.  Dibalik kebanggaan saya dan beberapa rekan yang mengendalikan komunitas ini agaknya kembali permasalahan klasik muncul.  hal ini sangan memukul terlebih bagi saya yang merupakan satu-satunya founder yang masih bertahan disini.  Ini merupakan tantangan berat yang tak hanya harus dihadapi tapi mestinya bisa saling dikomunikasikan.</p>
<p style="text-align: justify;">masalah klasik ini adalah munculnya anggapan bahwa MHI Tennis mengebiri prestasi anggotanya. Kembali ke awal, satu konsekwensi dari terbukanya keanggotaan MHI tennis adalah munculnya HETEROGENITAS yang sangat lebar antar anggota.  Keragaman ini bukan hanya terpaku pada hal pokok seperti skill level tapi juga usia serta latar belakang.  Hal inilah yang membuat aspirasi dan keinginan anggota semakin beragam utamanya menyoroti masalah skill level permainan.  Jalan tengah yang bisa dilakukan koordinator adalah mendesain pelatihan yang sesuai dengan keragaman skill ini ditambah kesempatan diadakannya event pertandingan intern dan ekstern.  Mungkin bagi anggota pemula hal ini lebih dari cukup namun berbeda pemikiran bagi yang memiliki kemampuan advance.</p>
<p style="text-align: justify;">MHI tennis tidak mempermasalahkan anggotanya berlatih diluar jadwal latihan resmi dimana saja dengan siapa saja untuk meningkatkan kemampuan level individu bagi yang menginginkannya.  Karena kembali MHI Tennis tidak terikat keanggotaannya dan MHI Tennispun menyadari program pelatihan yang ditawarkan tidak bisa terfokus hanya untuk satu level saja.  Bila pada akhirnya seleksi alam akan terjadi dimana anggota dengan level advance mengundurkan diri dan membentuk komunitas baru, MHI Tennis sama sekali tidak mempermasalahkan dan justru mendukung.  Karena bagaimanapun Segmentasi dan Positioning MHI Tennis telah jelas untuk siapa.  Kebanggaan kami justru membubung kami menganggapnya sebagai &#8220;alumni&#8221; yang telah mampu membentuk komunitas baru sesuai dengan tujuan pelatihannya atau kesamaan level permainannya.  Pun tak ada keberatan pula bagi kami jika beberapa anggota kami &#8220;dibajak&#8221; untuk bergabung di komunitas lain.  Karena disisi lain kamipun tak kalah bangga melihat beberapa rekan yang sebelumnya tak mampu bermain tenis dan sulit untuk menemukan komunitas yang bisa membuat mereka bisa bermain kini menunjukkan progres permainan yang patut diacungi jempol.</p>
<p style="text-align: justify;">Terbetik juga keluhan beberapa anggota baru yang menyatakan  bahwa banyaknya aturan di MHI Tennis. saya yakin keluhan itu akan sirna bila rekan baru tersebut mau sedikit melihat MHI Tennis dari pandangan yang lebih detail.  Menyadari akan keragaman yang ada dalam komunitas yang mau tak mau harus ada aturan untuk mengakomodir semua kepentingan.  Saya selalu berusaha untuk menyeimbangkan semua kepentingan  dan tentunya kami tidak mau kembali seperti kondisi awal dimana justru kesimpelan menjadi bumerang bagi komunitas. Mungkin kembali kesadaran harus ditumbuhkan bahwa peraturan ini tak lebih dari instrumen agar ada rambu bagi keragaman keinginan dan kepentingan yang ada dalam komunitas ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya masih punya keyakinan kesimpang siuran diatas hanyalah perbedaan cara pandang belaka.  Saya masih meyakini itu adalah buah perhatian dari anggota untuk memberikan yang terbaik pada komunitas.  Meski pada akhirnya kembali pada pijakan kita semua itu diletakkan dan diputuskan.  Komunitas ini tak ubahnya kini seperti sebuah lokomotif Organisasi profesional yang mempunya cara pandang dan tujuan kedepan.  Bisa jadi penumpang didalamnya akan turun dan naik sesuai dengan kenyamanan dan tujuan mereka bermain, apakah sejurusan atau tidak.  Namun bagaimanapun itu tidak menyurutkan MHI Tennis untuk berhenti mencapai tujuannya.  MHI Tennis akan tetap terus berjalan dan berpijak pada keyakinannya selama ini.  Dan selalu berupaya memberi nilai lebih bagi pecinta olahraga ini melalui caranya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Seperti pernah seorang rekan senior di MHI tennis mempertanyakan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sam kenapa mengatur MHI tennis sekarang lebih merepotkan daripada dulu ya&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">saya hanya bisa menyabarkan dan berdalih.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wajarlah kita kini tidak berangkat dari homogenitas anggota.  Kita sekarang heterogen&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya ya &#8230; yang mainpun tak banyak yang seumuran kita lagi, semakin beregenerasi&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kini kita baru menyadari ketuaan kita yah&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hahahahaha&#8221; rekan saya tersipu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Saya bisa katakan sistem telah berjalan di komunitas MHI.  Tak peduli siapa yang menjalankan dan sampai kapan akan berjalan.  Selama sistem tersebut berfungsi dengan baik.  Bukan saya atau junior saya yang pada akhirnya menentukan perjalanan MHi Tennis.  <span style="color: #ff6600;">Tapi MHI Tennis Itu sendiri.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/08/29/profesionalisme-di-sebuah-hoby/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Qelaran In-Ship Q1-2009</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/08/28/qelaran-in-ship-q1-2009/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/08/28/qelaran-in-ship-q1-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 02:51:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beda format! Itu yang terasa di gelaran Internal Championship Quarter 1-2009 (Inship Q1-2009) yang diadakan Minggu, 22 Maret lalu. Perebutan tempat sebagai ganda terbaik seperti Inship sebelumnya diubah formatnya menjadi perebutan team terbaik.  Sesuai dengan jumlah anggota intern maka gelaran kali ini terbagi dalam dua team yang masing-masing team akan berebut angka melalui 4 pasangan gandanya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="MHI Q1" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Inship-MHI-Tenis-2200309-287.jpg" alt="" width="280" height="186" /></p>
<p style="text-align: center;"></p>
<p style="text-align: justify;">Sengaja format ini diubah dengan tujuan penyegaran dan variasi hingga kemonotonan bermain berpasangan bisa dihindarkan.  Penentuan peringkat dan pasanganpun diatur supaya kekuatan berimbang serta tetap seru di pertandingan. Tak terkecuali hadiah cash pun disediakan untuk pemacu semangat.  Gelaran inship kali ini makin istimewa karena bersamaan dengan launching logo dan kaos MHI tennis.  dari awal pemesanan kaos Supporter Team telah kualahan dengan banyaknya pesahan hingga total order kaos hingga akhir sebanyak lebih dari 3 x jumlah anggota MHI tennis sendiri yang hanya berjumlah 17 orang!</p></p>[.......]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (03042009.15.24)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Beda format! Itu yang terasa di gelaran Internal Championship Quarter 1-2009 (Inship Q1-2009) yang diadakan Minggu, 22 Maret lalu. Perebutan tempat sebagai ganda terbaik seperti Inship sebelumnya diubah formatnya menjadi perebutan team terbaik.  Sesuai dengan jumlah anggota intern maka gelaran kali ini terbagi dalam dua team yang masing-masing team akan berebut angka melalui 4 pasangan gandanya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="MHI Q1" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Inship-MHI-Tenis-2200309-287.jpg" alt="" width="280" height="186" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Sengaja format ini diubah dengan tujuan penyegaran dan variasi hingga kemonotonan bermain berpasangan bisa dihindarkan.  Penentuan peringkat dan pasanganpun diatur supaya kekuatan berimbang serta tetap seru di pertandingan. Tak terkecuali hadiah cash pun disediakan untuk pemacu semangat.  Gelaran inship kali ini makin istimewa karena bersamaan dengan launching logo dan kaos MHI tennis.  dari awal pemesanan kaos Supporter Team telah kualahan dengan banyaknya pesahan hingga total order kaos hingga akhir sebanyak lebih dari 3 x jumlah anggota MHI tennis sendiri yang hanya berjumlah 17 orang!</p>
<p style="text-align: justify;">Seminggu sebelum pelaksanaan aura kompetisi terlihat mulai memanas. Masing masing team berupaya mencari strategi terlebih dari undian telah ditentukan siapa yang harus dilawan.  Baik team A maupun B bahkan mengupayakan berlatih intensif diluar waktu resmi latihan.  Alhasil usai jam kantor kesibukan cari lapangan kosong untuk berlatih mulai rame diupayakan.  Sementara Team B melakukan beberapa kali latihan Team A tak mau kalah langkah dengan melakukan simulasi latihan seluruh team after hour di Lapangan senayan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di hari pelaksanaan tiap group berusaha menampilkan kemampuan terbaiknya.  Pada akhirnya pertandingan memang mengharuskan ada yang menang dan kalah.  Dan hasilnya Team B memetik kemenangan atas Team A.  Semua larut dalam gembira. Karena bagaimanapun ini moment bersama. Kita tunggu minggu depan untuk makan-makannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/08/28/qelaran-in-ship-q1-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hajatan 4 tahun MHI Tennis</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/01/21/hajatan-4-tahun-mhi-tennis/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/01/21/hajatan-4-tahun-mhi-tennis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 07:53:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Di awal tahun 2008 lalu MHI Tennis dipersimpangan jalan, tidak saja karena makin menurunnya anggota komunitas namun juga munculnya sebuah pertanyaan besar, akan dibawa kemana komunitas ini.   Menilik sisi operasional MHI Tennis sebenarnya tidak masalah dengan jumlah anggota yang hanya tersisa 6 orang dari 20 orang quota normalnya. Cash flow dengan sendirinya akan menyesuaikan dengan kebutuhan.   Namun sisi historis komunitas pernah mencatat beberapa tahun belumnya perkembangan komunitas ini cukup dinamis dan berkembang bagus. Bila ternyata ada penurunan pasti ada hal-hal yang perlu dibenahi.   Dalam keyakinan moderator dan crew kondisi ini pasti akan bisa segera dipulihkan, untuk itu upaya untuk mencari penyebabnyapun mulai dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pembicaraan intern mengindikasikan bahwa kondisi lapangan Brojosumantri yang telah rusak menjadi salah satu sebab enggannya member meneruskan keanggotaan.   Disamping itu adanya faktor yang paling utama berupa makin pudarnya kedisiplinan berkomunitas serta melemahnya komitmen pengelola komunitas ini menjadikan kondisi makin terpuruk.   Untuk pertama kalinya sejak 3 tahun keberadaan MHI Tennis, baru kali ini komunitas ini mengambil cuti untuk tidak mengadakan kegiatan di lapangan selama 1 bulan (April).   Waktu ini akhirnya dimanfaatkan oleh moderator &#38; Crew untuk melakukan konsolidasi perbaikan manajemen komunitas, mencari lapangan alternatif lapangan baru serta yang paling penting mencari calon member baru di berbagai milis dan situs komunitas lainnya.   Tak berhenti disitu  upaya untuk mempromosikan komunitas lewat milist MHI Tennis &#38; Meanshealth, web serta blog-pun gencar dilakukan.</p>[.......]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (19012009.12.12)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Di awal tahun 2008 lalu MHI Tennis dipersimpangan jalan, tidak saja karena makin menurunnya anggota komunitas namun juga munculnya sebuah pertanyaan besar, akan dibawa kemana komunitas ini.   Menilik sisi operasional MHI Tennis sebenarnya tidak masalah dengan jumlah anggota yang hanya tersisa 6 orang dari 20 orang quota normalnya. Cash flow dengan sendirinya akan menyesuaikan dengan kebutuhan.   Namun sisi historis komunitas pernah mencatat beberapa tahun belumnya perkembangan komunitas ini cukup dinamis dan berkembang bagus. Bila ternyata ada penurunan pasti ada hal-hal yang perlu dibenahi.   Dalam keyakinan moderator dan crew kondisi ini pasti akan bisa segera dipulihkan, untuk itu upaya untuk mencari penyebabnyapun mulai dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pembicaraan intern mengindikasikan bahwa kondisi lapangan Brojosumantri yang telah rusak menjadi salah satu sebab enggannya member meneruskan keanggotaan.   Disamping itu adanya faktor yang paling utama berupa makin pudarnya kedisiplinan berkomunitas serta melemahnya komitmen pengelola komunitas ini menjadikan kondisi makin terpuruk.   Untuk pertama kalinya sejak 3 tahun keberadaan MHI Tennis, baru kali ini komunitas ini mengambil cuti untuk tidak mengadakan kegiatan di lapangan selama 1 bulan (April).   Waktu ini akhirnya dimanfaatkan oleh moderator &amp; Crew untuk melakukan konsolidasi perbaikan manajemen komunitas, mencari lapangan alternatif lapangan baru serta yang paling penting mencari calon member baru di berbagai milis dan situs komunitas lainnya.   Tak berhenti disitu  upaya untuk mempromosikan komunitas lewat milist MHI Tennis &amp; Meanshealth, web serta blog-pun gencar dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah diatas tak lepas dari komitmen moderator dan crew untuk ingin tetap menghidupkan komunitas tenis ini dengan motto fundamentalnya: <span style="color: #ff6600;">FUN, FRIENDLY &amp; HEALTHY</span>. Komunitas ini akan tetap menjadi komunitas yang terbuka bagi penggemar tenis untuk bersama bermain tenis dan bersosialisasi, tidak akan ada upaya mengarahkan pada komunitas eksklusif yang menyeleksi anggotanya berdasarkan referensi ataupun kemampuan bermain tenisnya semata.Â  Perlahan usaha perbaikan itupun menunjukkan hasil yang menggembirakan.   4 orang anggota baru mulai bergabung di Q2 dan di Q3 terdapat 12 member yang separonya adalah anggota baru semua dimana kami menyebutnya <span style="color: #ff6600;">&#8220;generasi fresh blood&#8221;</span>.   Di akhir tahun (Q4) 20 orang quota yang ditetapkan terisi penuh dan atas kesepakatan pindahlah homebase MHI Tennis dari lapangan Tenis Brojosumantri ke Lapangan Tenis Patra Kuningan. Hingga Q1 2009 inipun kembali quota terpenuhi. Sejauh ini ternyata hasil positif bukan hanya berdampak pada jumlah member saja yang meningkat namun budaya komunitaspun berupa kedisiplinan serta kebersamaanpun mulai terlihat mengakar. Hal ini memberikan kontribusi yang sangat segar dan konduktif bagi perkembangan Komunitas secara menyeluruh. Semangat dan kenyamanan dalam berolahraga dan bersosialisasipun kembali didapatkan.   Terlebih sekarang mulai digulirkannya pertandingan internal (Internal Championship) sebagai agenda rutin kegiatan perquarter.</p>
<p style="text-align: justify;">Bertolak dari pembelajaran ini, hajatan 4 tahun MHI Tennis (Note: MHI Tennis Bday &#8211; 9 januari) yang dilaksanakan tanggal 18 Januari 2009 ini terasa sangat istimewa.Â  Tidak saja memberikan bukti keeksisan selama 4 tahun ini namun juga menunjukkan pembelajaran bahwa mengelolaan suatu komunitas tidak bisa setengah-setengah.   Satu komitmen yang teguh dari orang-orang yang berada dibalik layar mutlak diperlukan demikian pula dengan dukungan penuh dari semua membernya.   Dan yang penting dari itu semua adalah kesepakatan kemana satu komunitas akan dilabuhkan tujuannya.   Sehingga semangat dan pandangan akan komunitas tetap akan terjaga siapapun nanti yang akan memegang komando.  Untuk itulah di acara hajatan kecil ini MHI Tennis ini berbagi kegembiraan dengan mengundang Crew Majalah Menshealth, para founder, anggota MHI Tennis milist maupun yang aktif dilapangan untuk bersama mensyukuri perjalanan ini di Lapangan Patra Kuningan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kekawatiran akan adanya hujan tertepis dengan cerahnya cuaca. Duapuluhan orang hadir di hajatan tersebut termasuk perwakilan dari Menshealth (Regi &amp; Nuzul), founder (Arie, Edwin &amp; Sam), Anggota court (Grenadi, Faozan, Dikki, Nike, Woro, retnani, Agus, Asrizal, Wibi, Taqin, Mamat, Ivan, Ade dan Ario), Anggota milis (fajar, Koko &amp; Oi) serta sponsor (Bareta + 2 friends, Yeni, Sophie, Joko &amp; intyas).   Acara sore itupun mengalir dalam keteduhan dan keasrian photon-pohon pinus disekitar lapangan serta dalam balutan tradisi MHI Tennis. Tradisi potong tumpeng dan tukar kado buta yang selalu membuat jeboh dan kelucuan tak ditinggalkan termasuk juga pembagian doorprise dari sponsor (termasuk menshealth yang memberikan tas menarik serta jam tangan dalam goodybagnya plus tambahan voucher bowling, voucher makan, payung, ballpen parker dan lainnya dari sponsor) tak kalah riuh.   Dan acara penting lainnya kali ini adalah pemberian Kenang-kenangan kepada Majalah Menshealth oleh MHI Tennis.Â  Kenang-kenangan ini merupakan ucapan terima kasih MHI Tennis kepada Menshealth karena melalui media milisnyalah MHI Tennis terbentuk 4 tahun lalu serta atas berbagai support yang dilakukan selama ini.Â  Acarapun tak lengkap bila tidak diteruskan dengan makan bersama dan photo-photo penuh kenarcist-an.   Hingga pukul 20.00 acara baru usai karena acara tenis kembali diteruskan dan ditambah waktunya karena terpotong acara hajatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedepannya MHI Tennis berencana untuk menambah jadwal kegiatan baik internal ataupun external seperti melakukan friendly match.   Termasuk juga mengupayakan pengkaderan serta regenerasi kepengurusan. Bagaimanapun kebutuhan akan MHI Tennis kini bukanlah kebutuhan perseorangan untuk sekedar bermain tenis bersama. Lebih dari itu keberadaan MHI Tennis telah dipandang sebagai kebutuhan akan satu wadah komunitas yang bisa membangun hubungan sosial disamping menyalurkan hoby.   Semoga keberadaan dan perjalanan MHI Tennis bisa menjadi inspirasi bagi terbentuknya komunitas-komunitas sport yang aktif terlebih dalam tubuh menshealth.</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih terucap untuk Crew Majalah Menshealth, para founder, anggota MHI Tennis milist maupun yang aktif dilapangan atas kebersamaan serta supportnya selama ini.<br />
Selamat Ulang tahun &#8230; dan <span style="color: #ff6600;"><strong>S</strong><strong>alam ACE !!</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Moderator</p>
<p style="text-align: justify;">Photo-photo <a href="http://mhitennis.multiply.com" target="_blank">disini</a> dan <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=33489972486#/event.php?eid=112821270227" target="_blank">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/01/21/hajatan-4-tahun-mhi-tennis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelaran In-Ship Q4 2008</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/01/21/gelaran-in-ship-q4-2008/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/01/21/gelaran-in-ship-q4-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 03:18:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beberapa aktifitas melonjak padat beberapa hari menjelang pertandingan internal yang digelar MHI Tennis 14 Desember 2008 lalu.  Email dan sms saling beredar diantara anggota untuk sekedar menanyakan siapa pasangan ataupun hal sepele lain seperti konsumsi apa yang akan disediakan atau kostum apa yang digunakan.  Ketika pertandingan internal ini pertama kali digulirkan, event ini tak lebih dari event pertandingan biasa yang hanya digelar untuk memeriahkan acara 17-an. Tak disangka event ini menjadi ajang pembuktian yang fun antar anggota untuk unjuk kemampuannya.  Hingga rasanya tak rela jika gelar juara tak hinggap ditangan.  Dan moment inipun menjadi tantangn bagi moderator dan crew untuk menjadikan event ini sebagai daya tarik dari dinamika team.  Terlebih dari lebih dari 3 tahun komunitas ini berdiri bisa dihitung dengan sebelah jari tangan berapa kali pertandingan digelar.  Wajar bila event ini menjadi sesuatu yang demikian memikat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertandingan internal yang baru kedua kalinya ini di adakaan akhirnya disepakati menjadi kalender resmi kegiatan rutin dengan laber Internal Championship (In-Ship) per quarternya.  Format pelaksanaaanya dibuat berpasangan dengan pembagian kelas Advance dan beginner.  Sementara pasangan ditentukan dengan undian memakai sistem unggulan dan non unggulan. Dengan jumlah anggota yang memnuhi 20 kuota per quarternya rasanya tidak menjadi masalah untuk membuat event ini seru dan menarik.  Terlebih ada alokasi dana yang selalu disisihkan untuk konsumsi selama event serta hadiah bagi pemenangnya. Kedepan sudah ada rancangan untuk membuat event ini lebih menarik entah formatnya akan diubah atau hadiahnya.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (12012009.10.57)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa aktifitas melonjak padat beberapa hari menjelang pertandingan internal yang digelar MHI Tennis 14 Desember 2008 lalu.  Email dan sms saling beredar diantara anggota untuk sekedar menanyakan siapa pasangan ataupun hal sepele lain seperti konsumsi apa yang akan disediakan atau kostum apa yang digunakan.  Ketika pertandingan internal ini pertama kali digulirkan, event ini tak lebih dari event pertandingan biasa yang hanya digelar untuk memeriahkan acara 17-an. Tak disangka event ini menjadi ajang pembuktian yang fun antar anggota untuk unjuk kemampuannya.  Hingga rasanya tak rela jika gelar juara tak hinggap ditangan.  Dan moment inipun menjadi tantangn bagi moderator dan crew untuk menjadikan event ini sebagai daya tarik dari dinamika team.  Terlebih dari lebih dari 3 tahun komunitas ini berdiri bisa dihitung dengan sebelah jari tangan berapa kali pertandingan digelar.  Wajar bila event ini menjadi sesuatu yang demikian memikat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertandingan internal yang baru kedua kalinya ini di adakaan akhirnya disepakati menjadi kalender resmi kegiatan rutin dengan laber Internal Championship (In-Ship) per quarternya.  Format pelaksanaaanya dibuat berpasangan dengan pembagian kelas Advance dan beginner.  Sementara pasangan ditentukan dengan undian memakai sistem unggulan dan non unggulan. Dengan jumlah anggota yang memnuhi 20 kuota per quarternya rasanya tidak menjadi masalah untuk membuat event ini seru dan menarik.  Terlebih ada alokasi dana yang selalu disisihkan untuk konsumsi selama event serta hadiah bagi pemenangnya. Kedepan sudah ada rancangan untuk membuat event ini lebih menarik entah formatnya akan diubah atau hadiahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini enam pasangan advance dan dua pasangan beginner beradu kemampuan memperebutkan voucher Centro ditengah hiruk pikuk dukungan pro dan kontra.   Hasil akhir munculah. Danan &amp; Nike yang menyabet gelar di pasangan beginner.   Sementara Dikki &amp; Faozan meraih gelar setelah melakukan pertandingan panjang dan alot melawan Sam &amp; Grenadi.   Event ini ditutup photo session ala MHI Tennis dengan aplaus panjang karena Danan untuk ke dua kalinya In-Ship ini di gelar mampu mempertahankan juara.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat bagi juara-juara baru, Selamat bagi semua partisipant yang telah mempertahankan tradisi komunitas ini dengan sesuatu yang Fun, Friendly &amp; Healthy!<br />
<span style="color: #ff6600;">(hadiah akan diberikan bertepatan dengan MHI Tennis anniversary 09 Januari 2009 nanti)</span></p>
<p style="text-align: justify;">Salam Ace<br />
Moderator</p>
<p style="text-align: justify;">PHOTO-PHOTO <a href="http://mhitennis.multiply.com/photos/album/9/In-Ship_Q4_2008" target="_blank">DISINI </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/01/21/gelaran-in-ship-q4-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencuri Kenarcist-an Blogger Photografer Di PB2008</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/11/24/mencuri-kenarcist-an-blogger-photografer-di-pb2008/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/11/24/mencuri-kenarcist-an-blogger-photografer-di-pb2008/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 06:30:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sejak kamera Canon DSLR-ku menjadi tentengan wajib di setiap kegiatan dan perjalanku. Sejak itu pula istriku bilang bahwa kamera dan peralatannya yang tersatukan dalam satu ranselku itu sejatinya adalah istri pertamaku.  Konsekwensinya selain aku harus menjadi suami yang adil bagi mereka berdua, akupun harus rela untuk tidak lagi narcist!.   Tidak seperti kamera pocket tentenganku dulu yang dengan mudah aku meminta bantuan orang untuk difotokan selagi penyakit akutku ini kambuh, kali ini beda.  Dengan kamera ini tak menjamin siapapun bisa memotret diriku dengan hasil yang kuinginkan.   Terlebih dengan penampakanku yang jauh dari photo"genit" ini.   Alhasil kepasrahan dan kerelaan untuk tidak narcist sudah pasti jadi pilihan utuk aku pertebal kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Prinsip inipun terpegang saat digelarnya Pesta Blogger 2008 lalu di gedung BPPT-Thamrin Jakarta.   Berbekal pengalaman PB2007 lalu, aku bisa pastikan bahwa ajang temu blogger ini tak lebih dari acara temu arisan atau reunian antar sesama blogger. Meski ada harapan lebih tapi aku tak berani menanggung kecewa. Terlebih akupun membawa misi sendiri yang tak jauh beda dari hanya sekedar kumpul mengingat hampir setahun ini kegiatan bloggingku tak lebih dari satu kerutinan yang dipaksakan ada sebagai kompensasi kegiatanku kuliah. Jadi benar-benar tak adil bila mengharap ajang ini jadi forum yang lebih, sementara tujuanku datang demikian bertolak belakang.   Ajang kali ini perlahan menguburkan tujuanku untuk kumpul dengan teman-teman blogger sekomunitas.   Waktu ternyata membuat beberapa rekan blogger tak lagi satu bendera. Terlebih lagi alasan kesibukan membuatnya menjadi satu kendala kedatangan.   Apa boleh buat.   Memang mau tak mau prinsip narcist itu harus aku tanam lebih dalam.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (24112008.11.16)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak kamera Canon DSLR-ku menjadi tentengan wajib di setiap kegiatan dan perjalanku. Sejak itu pula istriku bilang bahwa kamera dan peralatannya yang tersatukan dalam satu ranselku itu sejatinya adalah istri pertamaku.  Konsekwensinya selain aku harus menjadi suami yang adil bagi mereka berdua, akupun harus rela untuk tidak lagi narcist!.   Tidak seperti kamera pocket tentenganku dulu yang dengan mudah aku meminta bantuan orang untuk difotokan selagi penyakit akutku ini kambuh, kali ini beda.  Dengan kamera ini tak menjamin siapapun bisa memotret diriku dengan hasil yang kuinginkan.   Terlebih dengan penampakanku yang jauh dari photo&#8221;genit&#8221; ini.   Alhasil kepasrahan dan kerelaan untuk tidak narcist sudah pasti jadi pilihan utuk aku pertebal kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Prinsip inipun terpegang saat digelarnya Pesta Blogger 2008 lalu di gedung BPPT-Thamrin Jakarta.   Berbekal pengalaman PB2007 lalu, aku bisa pastikan bahwa ajang temu blogger ini tak lebih dari acara temu arisan atau reunian antar sesama blogger. Meski ada harapan lebih tapi aku tak berani menanggung kecewa. Terlebih akupun membawa misi sendiri yang tak jauh beda dari hanya sekedar kumpul mengingat hampir setahun ini kegiatan bloggingku tak lebih dari satu kerutinan yang dipaksakan ada sebagai kompensasi kegiatanku kuliah. Jadi benar-benar tak adil bila mengharap ajang ini jadi forum yang lebih, sementara tujuanku datang demikian bertolak belakang.   Ajang kali ini perlahan menguburkan tujuanku untuk kumpul dengan teman-teman blogger sekomunitas.   Waktu ternyata membuat beberapa rekan blogger tak lagi satu bendera. Terlebih lagi alasan kesibukan membuatnya menjadi satu kendala kedatangan.   Apa boleh buat.   Memang mau tak mau prinsip narcist itu harus aku tanam lebih dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Konyolnya suasana ini terbawa hingga makan siang, aku kelimpungan karena tak ada gambar dalam hitungan jari di kedua tangaku.   Hingga iseng-iseng aku perhatikan polah tingkah berpuluh rekan yang dadakan jadi Photografer Amatiran melakukan aksi jeprat-jepret khas dengan gayanya.   Aku bisa bayangkan betapa tersiksanya untuk tidak narcist apalagi kebagian menjadi pemotret.   Dan sedikit jepretanku ini mungkin bisa jadi penghibur bagi rekan blogger yang siang itu memotret.   Karena kebaikan mereka yang berkorban untuk tidak narcist menggerakkan efek domino yang mengenaiku untuk memotret mereka.   Anggaplah aku mengerti perasaan itu berkorban untuk kenarcistan teman itu.   Jujur akupun tidak mengenal mereka (baca: anda-anda) secara pribadi selain sesama teman dalam satu label: blogger!.  Aku hanya ingin sedikit berbagi kreatifitas dan selebihnya aku minta maaf atas kelancangan mencuri kenarcisan anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Diantara 37 image yang aku tampilkan, aku sangat favorite dengan photo No: 9. Photo seorang blogger-(wati) yang mencoba mencuri gambar Iman Brotoseno dibalik pintu Ruang komisi 1 dengan memanfaatkan flip LCD yang ada di kameranya. Omong-omong aku jadi ingin berkenalan untuk belajar trik-trik ini dari dia. Image no: 10 juga dari favorite aku, setidaknya kita bisa belajar <span style="color: #ff6600;">&#8220;Taking picture with style&#8221;</span> darinya.   Dan kembali gaya wanita memukauku, terlihat dari image no: 7 mengajarkan pada kita <span style="color: #ff6600;">&#8220;bagaimana memotret dengan Bird View&#8221;</span> hanya dengan mengandalkan feeling.   Selebihnya tak hanya gaya yang bisa saya tiru tapi mungkin akupun bisa mengintip kamera &amp; aksesoris yang bisa jadi aku butuhkan nantinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Sampe Jumpa di PB2009 <img src='http://samroads.be-samyono.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p style="text-align: justify;">Photo Bisa Dilihat di <a title="Photografer PB2008" href="http://besamyono.multiply.com/photos/album/7" target="_blank">SINI </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/11/24/mencuri-kenarcist-an-blogger-photografer-di-pb2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bedol Lapangan</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/11/03/bedol-lapangan/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/11/03/bedol-lapangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 04:28:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tiga tahun 10 bulan.  Bukan waktu yang singkat! Selama itu MHI-Tennis nyaman denga home-basenya di lapangan tennis Brojosoemantri, Pasar festival Kuningan.   Meski sempat hijrah 1 quarter ditahun ke 2 di lapangan yang lebih elit Klub Rasuna tapi tak urung kami kembali ke sarangnya yang sudah dianggap zona nyaman. Letaknya yang strategis berada ditengah kota merupakan keuntungan terbesar mengingat anggota team tersebar di Jakarta, Bekasi dan Tangerang.   Hal lain berupa fleksibilitas penggunaan 3 lapangan, sarana yang dekat dengan mall, dan yang utama faktor kekeluargaan yang ada membuat kami hampir tutup mata dengan kondisi lapangan yang mulai tak rata atau tepatnya <span style="color: #ff6600;">"bagai jalur Pantura"</span>.   Beberapa kali diupayakan untuk mencari lapangan alternatif namun kembali hasilnya ternisbikan keinginan anggotanya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Q3 2008 merupakan satu titik perubahan pengelolaan team MHI Tennis.  Dengan tetap memegang Motto Team: <span style="color: #ff6600;">Akrab, Fun &#38; Sehat,</span> MHI Tennis tetap terbuka keanggotannya bagi semua penggemar olahraga tennis mulai dari pemula hingga tingkat mahir sekalipun.  Sengaja team tidak mensegmentasi anggotanya karena titik berat team berada pada kualitas soasialisasinya. Team tetap akan memberi ruang bagi semua segman dan meski yakin adanya seleksi alam namun terbukti dengan strategi ini kami tetap mampu bertahan hingga hampir 4 tahun ini.   Karena MHI tennis tidak saja melakukan kegiatan di lapangan saja tapi juga di milist dan juga kegiatan offline diluar lapangan.   Hal lain berupa manajemen keuangan, jalur komunikasi dan jaring sosialisasi dibentuk dan diperbaiki.   Utamanya hal yang menyangkut keuangan adalah point yang paling penting.   Karena bagaimanapun kegiatan tennis dilapangan bergulir karena adanya support financial dan keinginan anggota.   Para moderator dan crew hanya sebagai seksi sibuk semata untuk mengelolanya dan menjadi penjembatan antara anggota dan pihak manajemen lapangan hingga mereka bisa bermain dengan nyaman dan leluasa.[........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (03112008.10.12)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tiga tahun 10 bulan.  Bukan waktu yang singkat! Selama itu MHI-Tennis nyaman denga home-basenya di lapangan tennis Brojosoemantri, Pasar festival Kuningan.   Meski sempat hijrah 1 quarter ditahun ke 2 di lapangan yang lebih elit Klub Rasuna tapi tak urung kami kembali ke sarangnya yang sudah dianggap zona nyaman. Letaknya yang strategis berada ditengah kota merupakan keuntungan terbesar mengingat anggota team tersebar di Jakarta, Bekasi dan Tangerang.   Hal lain berupa fleksibilitas penggunaan 3 lapangan, sarana yang dekat dengan mall, dan yang utama faktor kekeluargaan yang ada membuat kami hampir tutup mata dengan kondisi lapangan yang mulai tak rata atau tepatnya <span style="color: #ff6600;">&#8220;bagai jalur Pantura&#8221;</span>.   Beberapa kali diupayakan untuk mencari lapangan alternatif namun kembali hasilnya ternisbikan keinginan anggotanya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Q3 2008 merupakan satu titik perubahan pengelolaan team MHI Tennis.  Dengan tetap memegang Motto Team: <span style="color: #ff6600;">Akrab, Fun &amp; Sehat,</span> MHI Tennis tetap terbuka keanggotannya bagi semua penggemar olahraga tennis mulai dari pemula hingga tingkat mahir sekalipun.  Sengaja team tidak mensegmentasi anggotanya karena titik berat team berada pada kualitas soasialisasinya. Team tetap akan memberi ruang bagi semua segman dan meski yakin adanya seleksi alam namun terbukti dengan strategi ini kami tetap mampu bertahan hingga hampir 4 tahun ini.   Karena MHI tennis tidak saja melakukan kegiatan di lapangan saja tapi juga di milist dan juga kegiatan offline diluar lapangan.   Hal lain berupa manajemen keuangan, jalur komunikasi dan jaring sosialisasi dibentuk dan diperbaiki.   Utamanya hal yang menyangkut keuangan adalah point yang paling penting.   Karena bagaimanapun kegiatan tennis dilapangan bergulir karena adanya support financial dan keinginan anggota.   Para moderator dan crew hanya sebagai seksi sibuk semata untuk mengelolanya dan menjadi penjembatan antara anggota dan pihak manajemen lapangan hingga mereka bisa bermain dengan nyaman dan leluasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Q4 2008 merupakan quarter tersingkat selama ini karena dimulai dari bulan Nopember-Desember 2008. Cuma 2 bulan! Sekaligus tercatat sebagai Quarter paling Revolusioner.   Baru kali ini MHI tennis berani menerima anggota overkuota (hingga 20 orang) dan memutuskan untuk<span style="color: #ff6600;"> BEDOL LAPANGAN! (pindah lapangan).</span> Akhirnya dengan suara bulat MHI tennis Pindah Home Base di Lapangan tennis Patra Kuningan &#8211; Patra Residence.   Dengan mengambil 2 lapangan untuk latihan, MHI tennis memulai kegiatannya pukul 17.00 hingga 20.00 plus pukul 15.00-17.00 untuk latihan bersama coach di satu lapangan.   Total ada 8 jam untuk latihan hari minggu. Dan hingga quarter ini dimulai telah banyak usulan untuk memberi warna pada team mulai dari variasi latihan ataupun kegiatan lain yang akan dilakukan bersama dalam lingkup dan semangat kebersamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Minggu 02 Nopember kemarin merupakan latihan perdana MHI Tennis untuk Q4 di lapangan baru.   14 anggota hadir dan 6 lainnya absen karena kesibukan.   Cuaca yang mendukung serta lapangan yang teduh diantara pohon cemara menjadi penyemangat lain bagi anggota.   Selamat bergabung anggota baru: Nike, Adhi, Pendy, Diki dan Ardhian. Selamat datang kembali anggota lama dengan cassing baru: Ade, ivan,Laura &amp; Arie. Selamat meneruskan bagi angkatan Q3-2008 yang semuanya ikut latihan hingga quarter ini: Grenadi, Faozan, Darfan, Danan, Zaldy, Taqim, Wibi.   Dan selamat bertahan bagi angkatan awal yang masih bergabung : Retnani, woro, mamat, dan Sam. MHI tennis mohon maaf karena beberapa anggota susulan terpaksa tidak bisa diikut sertakan karena pertimbangan rasio lapangan:Pemain telah cukup padat dan tak mungkin kouta yang telah over dibuat makin over lagi.   Kami akan selalu informasikan bila ada pendaftaran untuk quarter terbaru tahun depan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Have Fun!</span></p>
<p style="text-align: justify;">Salam Ace<br />
Moderator &amp; Crew.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/11/03/bedol-lapangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembali Tertangkap Di Negeri Orang</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/23/kembali-tertangkap-di-negeri-orang/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/23/kembali-tertangkap-di-negeri-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 13:38:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tas kameraku dipundak aku letakkan di sebelah kakiku, tinggal ini saja yang tersisa karena lainnya telah masuk bagasi pesawat. Didepanku beberapa orang petugas imigrasi bermata sipit mengamati wajah dan dokumenku bergantian sembari menanyakan hal umum. Ini bukan penangkapanku yang pertama terjadi di negri ini. Aku sudah terbiasa. Tak perlu takut.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">*******</span></p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 2003 tepatnya aku dan kakakku mempunyai masalah di kantor imigrasi Tuas saat kami akan meninggalkan Singapore menuju Malaysia dimana sialnya kakakku menghilangkan secarik kertas leave form yang saat masuk ke Singapura ini telah kami isi. Urusan jadi lebih lama di Imigrasi karena kami harus diinterogasi secara khusus di ruang tersendiri sementara penumpang lain menanti dengan tak sabar di Bus Continent. Kejadian Berulang 2 tahun kemudian. Perjalanan tengah malam dengan segebok oleh-oleh berupa peralatan logam justru membuahkan kesulitan saat menuju Singapore dari Malaysia. Entah kenapa data kami jadi sulit diakses sehingga hampir setengah jam kami tercekal di imigrasi. Bus yang hanya berisi 8 orang itupun terpaksa menunggu lama. Kapok! mungkin kata itulah yang tepat di katakan. April tahun ini beberapa kejadian terulang dan lebih buruk malah. Tertangkap 2 kali dan passpor hilang. Memang tak ada yang lebih buruk daripada kehilangan passpor di negri orang.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (17092008.14.24)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tas kameraku dipundak aku letakkan di sebelah kakiku, tinggal ini saja yang tersisa karena lainnya telah masuk bagasi pesawat. Didepanku beberapa orang petugas imigrasi bermata sipit mengamati wajah dan dokumenku bergantian sembari menanyakan hal umum. Ini bukan penangkapanku yang pertama terjadi di negri ini. Aku sudah terbiasa. Tak perlu takut.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">*******</span></p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 2003 tepatnya aku dan kakakku mempunyai masalah di kantor imigrasi Tuas saat kami akan meninggalkan Singapore menuju Malaysia dimana sialnya kakakku menghilangkan secarik kertas leave form yang saat masuk ke Singapura ini telah kami isi. Urusan jadi lebih lama di Imigrasi karena kami harus diinterogasi secara khusus di ruang tersendiri sementara penumpang lain menanti dengan tak sabar di Bus Continent. Kejadian Berulang 2 tahun kemudian. Perjalanan tengah malam dengan segebok oleh-oleh berupa peralatan logam justru membuahkan kesulitan saat menuju Singapore dari Malaysia. Entah kenapa data kami jadi sulit diakses sehingga hampir setengah jam kami tercekal di imigrasi. Bus yang hanya berisi 8 orang itupun terpaksa menunggu lama. Kapok! mungkin kata itulah yang tepat di katakan. April tahun ini beberapa kejadian terulang dan lebih buruk malah. Tertangkap 2 kali dan passpor hilang. Memang tak ada yang lebih buruk daripada kehilangan passpor di negri orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian berawal dari keinginanku untuk menikmati MRT rute melingkar dari Marina bay ke Jurong East via woodlands guna membunuh ketidakadanya kegiatan hari itu di sana. Berbekal sepatu sport, kaos polo dan celana pendek serta seransel kamera aku mengambil rute mulai dari Orchard MRT karena stasiun itu berada paling dekat dengan Park Hotel dimana aku menginap. Semua sesuai dengan rencana, namun keinginanku yang tiba-tiba untuk sarapan terlebih dahulu di Northpoint Woodlandsmengubah keadaan. Dari sini timbul keinginanku menyeberang ke Johor Bahru tak terelakkan. Dengan alasan dekat, pingin tahu dan ingin menemui saudara yang disana, berangkatlah aku ke Johor BAhru dengan Bus. Tak sampai seperempat jam aku telah sampai di Johor bahru tempat kebanyakan TKI kita bermukim. Tak familier dengan suasana kotanya aku lebih memilih untuk masuk ke mall terbesar disana. Selang 3 jam setelah hujan reda aku kembali ke Singapore. Disinilah penangkapan pertamaku terjadi. Durasi In-Out-ku yang hanya 3 jam menimbulkan kecurigaan pihak imigrasi sehingga hampir seperempat jam aku dipajang di belakang tempat duduk petugas imigrasi dibawah tontonan orang-orang yang melintas sebelum ditanyai lebih detail. Mati deh! Beruntung mereka cukup kooperatif hingga cukup bisa melihat kondisiku sebagai wisatawan yang &#8220;hanya ingin tahu&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Terbawa capek, saat makan malam di Lucky Plaza menikmati rawon Indonesia passporku terjatuh. Dan itu baru aku sadari saat jelang tengah malam di hotel. Dalam kepanikan aku meminta bantuan hotel, menelusuri lucky plaza dan akhirnya disarankan lapor pos polisi terdekat. Meski harus berputar-putar dengan taksi rupanya gambaran kantor polisi di Singapura jauh berbeda dengan Indonesia. Aku diterima baik, dibantu dan diarahkan bahkan bonus keramahan dan free service menempatkan pelayanan mereka dalam pujianku. Esoknyapun saya pergi ke kedutaan untuk mengurus surat laksana perjalanan pengganti passpor. Sayangnya aku hanya punya waktu 3 jam untuk mengurus surat rujukan dulu dari kantor imigrasi singapura untuk bisa di proses di kedutaan. Sayang pula pelayanan yang singkat ini lebih terasa tak se-exelent layanan publik di singapura. Padahal ini Kedutaan kita sendiri yang melayani orang sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tergopoh aku menuju gedung imigrasi dan kependudukan yang letaknya tak kalah jauh di pinggir kota. waktuku berkurang banyak. dan rasanya lemas melihat bangunan hampir sepuluh lantai dimana semua urusan kependudukan mulai bayi lahir hingga pindah alamat berpusat disini. Tak kubayangkan berapa lama aku akan menyelesaikan masalahku sementara saat ini tiketku telah hangus dan aku harus kembali ke jakarta hari ini juga. aku keliru. Dengan sistem antrian yang tertib dan komputerisasi urusanku tak sampai 1 jam usai. Aku lega dan segera kembali ke Kedutaan. Beruntung passportku terkabar ketemu di tempat aku makan semalam. Aku memutar arah mengambil passport, membeli tiket dan kembali ke imigrasi untuk melaporkan ditemukannya passportku kembali. Bisa saja aku tak perlu melapor. tapi ini bukan Indonesia. aku yakin semuanya terecord dalam komputer. aku tak mau ambil resiko. Dengan segenap kegembiraan akhirnya urusanku di imigrasi terselesaikan dengan memuaskan dan cepat. Segera aku meluncur ke airport.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">********</span></p>
<p style="text-align: justify;">Dan akhirnya mata sipit itu memberikan passportku dengan senyuman dan satu kalimat,&#8221;You have already found Your paspor, Right! Congratulation,&#8221;. Aku tersenyum dan kembali memanggul tas kameraku menuju ruang tunggu sembari menerima passpor itu. Lega sekaligus mengacungi jempol atas semua sistem yang berlaku di negara ini. Yang jelas-jelas memudahkan dan penuh dengan kontrol. Semuanya serba online dan terintegrasi menjadi satu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi ini jauh berbeda dengan pemandangan saat melintasi imigrasi di bandara Soekarno-Hatta. Betapa mudahnya kami masuk negara ini belum lagi dengan mudahnya kami meloloskan barang bawaan tanpa di scan. Dimana keamanan nasional diletakkan? Aku pikir ini bukan karena petugas itu malas atau tak becus bekerja. Mereka justru tahu bagaimana bekerja secara efektif dan efisien. Sudah pasti saat kami baru keluar dari singapura telah ketat melakukan pemeriksaan jadi untuk apa harus diperiksa lagi untuk masuk ke dalam negri ini khan. Bikin capek!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">(entah hati siapa yang akhirnya capek melihat praktek seperti ini)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/23/kembali-tertangkap-di-negeri-orang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Back To School</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/02/back-to-school/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/02/back-to-school/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 05:12:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Satu kesempatan saya peroleh untuk melanjutkan studi saya ke jenjang S3 di dengan program Doktoral MSDM.  Kesempatan berupa waktu yang longgar dan adanya dukungan financial.  Namun yang lebih saya syukuri dan mensuport keinginan ini adalah dukungan my Hunny.  Saya menyadari bahwa studi ini berat mengingat adanya waktu yang harus kami korbankan dimana saya harus terpisah dengan keluarga selama hari-hari kuliah karena akses kampus yang lebih dekat ke rumah daripada ke rumah mertua dimana anak istri saya tinggal untuk sementara.  Selain itupun adanya beberapa tugas memaksa saya untuk kerepotan membagi waktu antara kerjaaan saya yang multi tasking dan study yang lebih mengarah ke banyak tugas take home. Saya beruntung karena menjadi segelintir orang yang mengambil program doktoral ini selagi usia masih dibawah 35 tahun.  Setidaknya tenaga dan pikiran saya cukup fresh dan terbuka.  Namun rupanya keberuntungan saya ini tidaklah begitu saja menjadi modal utama karena jelas setelah satu semester saya jalani perkuliahan ini saya malah tertatih-tatih.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru kali ini saya kuliah di Universitas negeri (Universitas Negri Jakarta).  Satu institusi dengan budaya yang jauh berbeda dengan saat-saat saya kuliah di perguruan swasta yang sangat kompetitif dan penerapan satu layanan prima.  Tidak itu saja, metode pendidikan serta lingkup pergaulannyapun merupakan satu yang asing bagi saya.  Rupanya disini saya harus lebih banyak effort untuk menghadapi tantangan secara eksternal daripada dari internal diri saya sendiri.  Ini tidak mudah.  Meski disebut tantangan tak urung saya sempat hampir menyerah dengan prinsip-prinsip saya yang selama ini saya terapkan dalam belajar.  Satu semester sebenernya merupakan waktu yang lama untuk satu adaptasi, namun saya tak bisa mempersingkatnya.  Hingga kini tanpa mengalahkan prinsip dan motivasi saya untuk tetap meraih keinginan saya berupaya untuk fight.  Setidaknya saya tetap menjadi jatidiri saya tanpa mengorbankan prinsip yang saya junjung.  Ibarat pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.  Karena bagaimanapun saya menyadari yang bisa memagang kendali terhadap diri saya adalah saya sendiri bukan lingkungan ataupun orang lain.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (28082008.10.15)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Satu kesempatan saya peroleh untuk melanjutkan studi saya ke jenjang S3 di dengan program Doktoral MSDM.  Kesempatan berupa waktu yang longgar dan adanya dukungan financial.  Namun yang lebih saya syukuri dan mensuport keinginan ini adalah dukungan my Hunny.  Saya menyadari bahwa studi ini berat mengingat adanya waktu yang harus kami korbankan dimana saya harus terpisah dengan keluarga selama hari-hari kuliah karena akses kampus yang lebih dekat ke rumah daripada ke rumah mertua dimana anak istri saya tinggal untuk sementara.  Selain itupun adanya beberapa tugas memaksa saya untuk kerepotan membagi waktu antara kerjaaan saya yang multi tasking dan study yang lebih mengarah ke banyak tugas take home. Saya beruntung karena menjadi segelintir orang yang mengambil program doktoral ini selagi usia masih dibawah 35 tahun.  Setidaknya tenaga dan pikiran saya cukup fresh dan terbuka.  Namun rupanya keberuntungan saya ini tidaklah begitu saja menjadi modal utama karena jelas setelah satu semester saya jalani perkuliahan ini saya malah tertatih-tatih.</p>
<p style="text-align: justify;">Baru kali ini saya kuliah di Universitas negeri (Universitas Negri Jakarta).  Satu institusi dengan budaya yang jauh berbeda dengan saat-saat saya kuliah di perguruan swasta yang sangat kompetitif dan penerapan satu layanan prima.  Tidak itu saja, metode pendidikan serta lingkup pergaulannyapun merupakan satu yang asing bagi saya.  Rupanya disini saya harus lebih banyak effort untuk menghadapi tantangan secara eksternal daripada dari internal diri saya sendiri.  Ini tidak mudah.  Meski disebut tantangan tak urung saya sempat hampir menyerah dengan prinsip-prinsip saya yang selama ini saya terapkan dalam belajar.  Satu semester sebenernya merupakan waktu yang lama untuk satu adaptasi, namun saya tak bisa mempersingkatnya.  Hingga kini tanpa mengalahkan prinsip dan motivasi saya untuk tetap meraih keinginan saya berupaya untuk fight.  Setidaknya saya tetap menjadi jatidiri saya tanpa mengorbankan prinsip yang saya junjung.  Ibarat pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.  Karena bagaimanapun saya menyadari yang bisa memagang kendali terhadap diri saya adalah saya sendiri bukan lingkungan ataupun orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang yang paling melegakan saya adalah bagaimana kompaknya 30 rekan sekelas sekelas yang berasal dari berbagai profesi, instansi serta jabatan.  Di usia mereka yang rata-rata jauh diatas saya dan jam terbang yang matang kadang memang saya tak mampu menandingi basa basi serta pendekatan personal mereka namun setidaknya saya bisa belajar untuk membuat diri saya lebih sabar dan lebih lunak menjaga kekerasan hati saya.  Setidaknya semester awal ini telah berakhir Juni lalu dimana saya tidak saja mendapatkan apa yang saya inginkan, namun juga memperjelas eksistensi diri saya.</p>
<p>Masih ada 2 semester lagi dengan tugas akhir disertasi.</p>
<p>Saya tak akan menyerah! Dan saya akan berusaha untuk menikmati perjalanan menyenangkan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/02/back-to-school/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merah Putih Di Brojo Soemantri</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/08/20/merah-putih-di-brojo-soemantri/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/08/20/merah-putih-di-brojo-soemantri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 04:32:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pukul tiga.  Masih satu jam untuk menanti waktu latihan tenis seperti minggu-minggu biasanya.  Tapi pojok lapangan tenis Brojosumantri telah ramai.  Setidaknya ada Mamat, Grenadi, Faozan dan Danan yang sibuk merangkai bendera.  Bendera plastik merah putih itu mereka ikat dengan benang dan di hiaskan di bangku beratap di pinggir lapangan sekalian memanjang diantara net.  Meriah. Sebuah mejapun disiapkan lengkap dengan hiasan bendera yang langsung penuh dengan makanan, jajanan, buah dan berbagai minuman.  Sampai terfikir akankah semua ini bisa dihabiskan.  Tak ketinggalan hadiah lomba juga disiapkan dengan rapi dan dibungkus mendadak di tribun.  Benar-benar proyek swadaya khas komunitas ini.  Selamatankah? syukurankah? atau perayaan? Yang benar kami mempersiapkan pertandingan!</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah 3,5 tahun lebih berdiri, MHI-Tennis hampir pasti tidak pernah melakukan tanding resmi secara intern.  Bertepatan dengan peringatan 17-an tahun ini dan kebetulan juga jatuh di hari minggu, satu usulan bertanding secara intern dan peringatan 17-an dengan potluck dimunculkan dan diamini semua anggota.  Dengan waktu persiapan hanya seminggu melalui milist, hari ini semua anggota tenis yang aktif dilapangan datang dengan dresscode merah putih plus tentengan berbagai ragam mkanan dan minuman untuk potluck.  Tak ketinggalan beberapa anggota milist dan keluargapun hadir termasuk Edwin salah satu founder team ini.  Bisa dibilang member tenis ini adalah "<em>The New Wave</em>".  dari 12 orang yang tercatat separuh dari angka itu adalah anggota baru yang tak berkorelasi dengan anggota lama.  Meski sebagian masih pemula tapi semangat dan kebersamaannya patut diacungin 2 jempol.  Perbedaan kemampuan bermain ini tentunya akan mengubah komposisi kekuatan team secara keseluruhan.  Tapi sejak mula MHI tenis punya motto: <span style="color: #ff6600;"><strong>akrab, fun &#38; sehat</strong>.</span> Jadi tak ada alasan untuk kawatir mengenai performa team. Karena bukan prestasi yang dikejar komunitas ini melainkan rasa kekeluargaan!.  Dan inilah yang membuat kami bertahan hingga sekarang.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (19082008.17.07)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul tiga.  Masih satu jam untuk menanti waktu latihan tenis seperti minggu-minggu biasanya.  Tapi pojok lapangan tenis Brojosumantri telah ramai.  Setidaknya ada Mamat, Grenadi, Faozan dan Danan yang sibuk merangkai bendera.  Bendera plastik merah putih itu mereka ikat dengan benang dan di hiaskan di bangku beratap di pinggir lapangan sekalian memanjang diantara net.  Meriah. Sebuah mejapun disiapkan lengkap dengan hiasan bendera yang langsung penuh dengan makanan, jajanan, buah dan berbagai minuman.  Sampai terfikir akankah semua ini bisa dihabiskan.  Tak ketinggalan hadiah lomba juga disiapkan dengan rapi dan dibungkus mendadak di tribun.  Benar-benar proyek swadaya khas komunitas ini.  Selamatankah? syukurankah? atau perayaan? Yang benar kami mempersiapkan pertandingan!</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah 3,5 tahun lebih berdiri, MHI-Tennis hampir pasti tidak pernah melakukan tanding resmi secara intern.  Bertepatan dengan peringatan 17-an tahun ini dan kebetulan juga jatuh di hari minggu, satu usulan bertanding secara intern dan peringatan 17-an dengan potluck dimunculkan dan diamini semua anggota.  Dengan waktu persiapan hanya seminggu melalui milist, hari ini semua anggota tenis yang aktif dilapangan datang dengan dresscode merah putih plus tentengan berbagai ragam mkanan dan minuman untuk potluck.  Tak ketinggalan beberapa anggota milist dan keluargapun hadir termasuk Edwin salah satu founder team ini.  Bisa dibilang member tenis ini adalah &#8220;<em>The New Wave</em>&#8220;.  dari 12 orang yang tercatat separuh dari angka itu adalah anggota baru yang tak berkorelasi dengan anggota lama.  Meski sebagian masih pemula tapi semangat dan kebersamaannya patut diacungin 2 jempol.  Perbedaan kemampuan bermain ini tentunya akan mengubah komposisi kekuatan team secara keseluruhan.  Tapi sejak mula MHI tenis punya motto: <span style="color: #ff6600;"><strong>akrab, fun &amp; sehat</strong>.</span> Jadi tak ada alasan untuk kawatir mengenai performa team. Karena bukan prestasi yang dikejar komunitas ini melainkan rasa kekeluargaan!.  Dan inilah yang membuat kami bertahan hingga sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Jelang pukul empat, enam pasang ganda telah dibentuk dengan mengkombinasikan member yang mahir dengan tandemnya melalui undian yang alot.  Tercatat pasangan Mamat + Danan, Faozan + Ahmad, Grenadi + Zaldi, Sam + Retnani, Wibi + woro dan Rully + Darfan saling berhadapan dengan sistem gugur serta the best 3 games.  Pertarungan berjalan cukup rame, konyol dan mengarah kacau.  Dan tiap pasangan sama-sama ngotot memperoleh kemenangan.  Hasilnya 3 pasangan ganda campuran yang melaju, Sam + Retnani, Wibi + woro serta Mamat + Danan (Loh ini yang campur apanya!).  Hingga akhirnya pasangan Mamat + Danan meraih juara setelah membabat lawan-lawannya dengan skor telak dan pasangan Sam + retnani membuntuti.  Hadiah tidak saja diberikan pada pasangan yang menang.  Ada bingkisan lain dari sponsor yang berbaik hati dengan memberikan 6 paket doorprise yang diambil secara undian. Dan yang heboh, ada hadiah untuk kategori best costum yang jatuh ke tangan Ahmad.  menurut sumber yang layak dipercaya untuk tanding perdananya ini dia tak segan-segan merogoh kocek dengan tampil serba baru sesuai dengan dress code.  Selamat atas niatnya!. Dan kembali acara dilanjutkan dengan makan-makan serta free style photo session diremang petang yang mulai turun. Acara belum berakhir, sebagian besar member mulai mempersiapkan diri untuk adu babak 2, apalagi kalau bukan adu kemampuan vokal di Inul Viesta.  Acara penutup yang selalu ada dan tidak dilewatkan karena biasanya selalu ada kehebohan disini.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu memang baru di 3 pertemuan rutin kami kumpul tapi member quarter 3 ini yang bisa dikata sebagai <em>&#8220;the fresh blood&#8221;</em> punya semangat dan kebersamaan yang luar biasa. Selama ini member MHI tenis selalu berasal dari relasi sesama member sebelumnya.  Dan baru di 2 quarter belangan ini manajemen komunitas diperbaiki utamanya mengenai membership rules hingga  sedikit banyak hal ini yang memberikan kontribusi perubahan. Salah satunya banyak anggota baru yang berasal dari lingkungan luar.  ini merupakan angin segar yang konduktif karena membawa komunitas team keluar dari stagnasi.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>Terima kasih atas semangat &amp; kebersamaannya<br />
&#8220;Enjoy your tennis&#8221; &amp; tetap &#8220;fun, sehat dan Akrab&#8221;</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>MERDEKA!</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">photo ada di <a href="http://samlens.blogspot.com" target="_blank">sini </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/08/20/merah-putih-di-brojo-soemantri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>rank</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/01/24/rank/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/01/24/rank/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 23:23:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[
Pagerank:
10
Technorati Rank:/li>
Alexa Rank:/li>

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br />
<b>Warning</b>:  number_format() expects parameter 1 to be double, string given in <b>/home/besamyo/public_html/samroads/wp-content/plugins/blog-stats/blog-stats.php</b> on line <b>66</b><br />
<ol>
<li><strong>Pagerank:</strong><br />
/10</li>
<li><strong>Technorati Rank:</strong> 600,161</li>
<li><strong>Alexa Rank:</strong> 1,530,355</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/01/24/rank/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PB2007 Live: Catatan Sukarelawan Yang Terisolir</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2007/11/05/pb2007-live-catatan-sukarelawan-yang-terisolir/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2007/11/05/pb2007-live-catatan-sukarelawan-yang-terisolir/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2007 17:13:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">KEPAGIAN YANG TAK MENOLONG </span></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan memakai properti celana jeans warna khaki, kaos lengan panjang putih bertuliskan "I'am BLOGFAMous", sepatu sport ditambah ransel yang berisi kamera dan laptop bukanlah hal yang lazim bagiku untuk menghadiri satu pesta. Namun bila ini pestanya para blogger kelaziman itu  bisa dipupuskan.  Terlebih event ini adalah pesta blogger 2007 (PB2007) . Hajatan blogger berskala nasional yang baru pertama digelar.  Dengan alasan tak ingin ketinggalan moment penting terpaksa kamera SLR aku bawa lengkap berikut laptop,headset dan webcamnya mengingat tugasku di pesta ini sebagai Remote Participant Coordinator.  Singkatnya melalui chanel Yahoo Messenger panitia PB2007 membuka akses bagi rekan blogger yang tidak bisa datang terutama yang berada di luar kota untuk ikut berpartisipasi dan menyaksikan langsung jalannya pesta.  Disini sebagai koordinator tugasku berada di depan laptop menayangkan siaran "live" serta memberikomentar akan jalannya PB2007 melalui YM ID: Pesta Blogger.  Ada rekan lain pula yang bertugas sama sepertiku namun menggunakan chanel MIRC.</p>
<p style="text-align: justify;">Ide dan penawaran adanya siaran langsung menggunakan dua chanel ini baru digulirkan 2 hari menjelang eventberlangsung.  Dan melalui Enda Nasution - Bapak Blogger Indonesia, aku mengajukan diri untuk secara sukarela membantu menjadi koordinatornya.  Meski demikian singkat waktunya namun hebatnya telah ada kurang lebih 80 account YM yang minta di-add untuk dapat berpartisipasi, untuk akhirnya akan aku invite ke conference room saat acara berlangsung. [.......]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (03112007.22.59) &#8211; Journey</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">KEPAGIAN YANG TAK MENOLONG </span></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan memakai properti celana jeans warna khaki, kaos lengan panjang putih bertuliskan &#8220;I&#8217;am BLOGFAMous&#8221;, sepatu sport ditambah ransel yang berisi kamera dan laptop bukanlah hal yang lazim bagiku untuk menghadiri satu pesta. Namun bila ini pestanya para blogger kelaziman itu  bisa dipupuskan.  Terlebih event ini adalah pesta blogger 2007 (PB2007) . Hajatan blogger berskala nasional yang baru pertama digelar.  Dengan alasan tak ingin ketinggalan moment penting terpaksa kamera SLR aku bawa lengkap berikut laptop,headset dan webcamnya mengingat tugasku di pesta ini sebagai Remote Participant Coordinator.  Singkatnya melalui chanel Yahoo Messenger panitia PB2007 membuka akses bagi rekan blogger yang tidak bisa datang terutama yang berada di luar kota untuk ikut berpartisipasi dan menyaksikan langsung jalannya pesta.  Disini sebagai koordinator tugasku berada di depan laptop menayangkan siaran &#8220;live&#8221; serta memberikomentar akan jalannya PB2007 melalui YM ID: Pesta Blogger.  Ada rekan lain pula yang bertugas sama sepertiku namun menggunakan chanel MIRC.</p>
<p style="text-align: justify;">Ide dan penawaran adanya siaran langsung menggunakan dua chanel ini baru digulirkan 2 hari menjelang eventberlangsung.  Dan melalui Enda Nasution &#8211; Bapak Blogger Indonesia, aku mengajukan diri untuk secara sukarela membantu menjadi koordinatornya.  Meski demikian singkat waktunya namun hebatnya telah ada kurang lebih 80 account YM yang minta di-add untuk dapat berpartisipasi, untuk akhirnya akan aku invite ke conference room saat acara berlangsung. Kendala pertama yang aku temui mulai muncul dari sistem Yahoo sendiri yang tidak bisa meng-add puluhan account secara bersamaan sehingga berapa kalipun aku lakukan approval terhadap adding request yang masuk, tetap saja sebagian besar account masih menggantung belum bisa di approved. Akupun tidak bisa mengatur hanya remote participant yang telah di add hingga sebelum acara saja, yang bisa di invite ke conference room.  Perkiraanku nantinya pasti akan banyak blogger muncul  dan minta di add untuk bisa join ke conference room saat acara dimulai, tentu saja ini akan menghambat kinerja.  Karena mestinya aku harus konsentrasi ke acara dan melaporkannya bukan justru sibuk dengan permintaan-permintaan baru untuk di add dan minta join ke conference room.  Namun inilah resiko dari persiapan yang mepet dan sejak dini telah aku sadari akan muncul.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedatanganku yang kepagian ke Blitz Megaplex Grand Indonesia tanggal 27 Oktober 2007 ternyata tidak menolong banyak bagi persiapanku untuk online di studio 1 tempat pesta berlangsung.  Karena waktu masuk harus berbarengan serentak dengan peserta lain, hingga semua peralatanku tidak bisa kupersiapkan sebelumnya. Kesulitan mulai aku dapatkan karena di dalam studio panitia tidak menyediakan tempat khusus untukku dimana aku bisa mengakses internet dengan leluasa juga untuk mengambil gambar melalui webcam, termasuk tidak tersedianya koneksi internet di dalam studio yang bisa dipakai.  Kalaupun menggunakan wifi harus pinjam komputer panitia yang tak ada program YM-nya.  Itupun memakan waktu lama karena harus dicarikan komputer yang tak terpakai dan harus disetting lebih dahulu menggunakan koneksi Pro XL sebagai sponsor acara.  Satu-satunya jalan aku pilih adalah tetap memakai laptopku dengan koneksi menggunakan wimodeku sendiri.  Lebih praktis dan cepat!  Tempat yang di deretan paling depan pojok akhirnya menjadi alternatif  terakhir dimana aku bisa memulai online.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">LIVE &#8230; LIVE&#8230;.!</span></p>
<p style="text-align: justify;">Lima menit setelah acara dimulai dari jam keterlambatan YM ID: pestablogger telah diakses lebih dari 40 participant sementara webcam hingga 20 peminat.  Kesemua participant mulai berbincang dan berkomentar melalui conference room sambil melihat webcam yang terpaksa hanya bisa aku arahkan pada siaran langsung yang dipantulkan pada layar perak studio.  Sesekali aku berpaling dari aktifitas laptopku mengingat aku merasa jauh dari kegiatan pesta sebenarnya, mengingat aku diruangan ini aku lebih banyak tersita perhatianku pada berbagai komentar dan pertanyaan yang muncul di YM Conference room. Hingga gemuruh pesta seakan luput dari perhatianku.  Bahkan kadang merasa ngiri juga karena rekan-rekan yang lain bisa saling heboh berkenalan dan berfoto bersama antar sesama peserta ataupun dengan para seleb blog sementara aku terisolir dipojok tanpa bisa berdiri. Satu yang membuatku cukup puas adalah besarnya sambutan dan minat remote participant untuk aktif berpartisipasi, bertegur sapa dan menyaksikan acara siaran langsung ini.  Bisa dimengerti karena ini adalah salah satu cara bagi mereka untuk bisa mengikuti jalannya PB2007 dibalik kendala kedatangan mereka ke jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir satu jam session pertama PB2007 berlangsung dengan acara formal mulai dari sambutan Enda nasution selaku empunya hajat, Menteri Komunikasi &amp; Informasi, bincang-bingcang ala talkshow dengan blogger pioner yang dipandu wimar witular hingga proses pemilihan blog-blog favorite sesuai dengan kategori yang ditentukan.  YM ID: pestablogger mengcover semua jalannya acara dengan selingan koneksi YM yang kadang tak stabil hingga mesti harus restart ulang dan kembali memulai proses dari awal yang jelas memakan waktu.  Belum lagi apa yang telah aku kawatirkan terjadi juga.  Apalagi kalau bukan munculnya account-account baru disaat acara berlangsung yang minta di add dan diinvite ke conference room.  Di paruh waktu kondisi lumayan parah karena beberapa peserta mengalami ketidak stabilan YMnya sehingga berulang kali minta di invite kembali ke conference room dan adanya beberapa blogger yang kurang bisa menggunakan YM sehingga perlu di dipandu bagaimana mengakses webcam dan masuk ke conference room. Suasana ini membuat beberapa peserta menjadi kurang sabar hingga berulang kali mengirimkan PM beruntun. Ada yang tak sabar karena belum menerima invitation masuk room, marah-marah karena gak bisa akses webcam bahkan marah-marah karena tak diundang di pestablogger ini. Wah!  Yang kesemuanya maunya minta dilayani dahulu dengan cepat.  Aku sendiri sempat kerepotan dan keringetan dengan situasi yang tak konduksif ini.  Namun bagaimana lagi kebanyakan masalah justru berasal dari sistem yahoo mesenger yang tidak stabil bila diakses begitu banyak orang, termasuk fasilitas voicenya juga. Selain itu koneksi masing-masing remote participant sendiri amat sangat pengaruh terhadap cepat tidaknya mengakses webcam.  Beberapa note aku kirim untuk memberi pengertian terhadap peserta akan kondisi YM serta koneksi mereka cukup bisa meredakan situasi.  Hingga menuju akhir sesion pertama kondisi mulai normal walau beberapa orang tetap tak bisa masuk conference room meski telah di invite berulang kali setiap 5 menit sekali. Termasuk account istri Bung Enda sendiri.  Maaf!</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya tak hanya kejadian dipanggung saja yang menarik wartawan untuk memotret. Saat ada seorang wartawan yang memotret aku yang terisolir dipojok, beberapa wartawan lain mengikuti.  Aku menjadi salah tingkah karena mereka tidak saja sekedar memotret tapi juga mulai mengarahkan.  Mulai dari bagaimana aku duduk sampai memposisikan laptop yang aku pangku.  Belum lagi memposisikan seorang panitia disisiku untuk mendapatkan gambar yang diinginkan. Cukup melelahkan melayani permintaan mereka sembari membagi waktu untuk fokus di YM.   Saat jeda mau tak mau siaran langsung ini harus dihentikan karena ruangan harus dikosongkan untuk istirahat makan selama 1 jam meski beberapa peserta keberatan.  Kesepakatan untuk kembali online pukul 2 akhirnya diterima.  Beruntung seorang rekan blogfam banyak membantu hingga aku tak sendiri mengepak kembali peralatanku termasuk menyelamatkan goody bag PB2007-ku yang berisi hampir 17 item pernak-pernik.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">AKHIR YANG ANTI KLIMAKS</span></p>
<p style="text-align: justify;">Kembali acara makan molor dari jadwal karena terbatasnya tempat hingga peserta harus antri panjang.  Akupun sebagai orang terakhir yang makan harus bersabar karena semua menu ludes. Acara diskusi bertema terfokus yang mengambil tempat di berbagai tempat berbeda di sekitar studio 1 tak bisa aku siarkan Lewat YM.  Karena keterbatasan tempat. Hingga akhirnya aku mengambil tempat di loby dan kembali terhubung dengan remote participant.  Saat acara beralih kembali ke studio 1, YM tak banyak mendapatkan kendala karena traficnya tidaklah sepadat sebelumnya.  tercatat hanya 25-an peserta di dalan conference dan setengahnya mengakses webcam.  Suasana mulai riuh karena remote participant mempertanyakan gambar yang tertayang di webcam.  Suasana riuh inipun merambat ke studio karena dengan jelas layar perak menyorot seorang wanita muda dengan pakaian cukup terbuka sebagai nara sumber. Maylafayza!.  Keriuhan kembali hadir karena remote participant merasa para pemenang blog favorite yang terpilih sangat jauh dari ekspektasi dan sangat tidak mereka kenal.  Penutupan pesta blogger yang sangat terburu buru karena berakhirnya masa sewa tempat merupakan anti klimaks acara.  Sayapun ikut buru-buru mengucap terima kasih dan maaf pada para remote participant yang telah meramaikan acara. Akankah ada lagi pestablogger tahun depan?  kemungkinan itu terlalu dini dipertanyakan namun setidaknya bila kembali  dihadirkan peran remote participant hendaknya telah dikonsep jauh hari sebelumnya hingga beberapa kendala yangterjadi tahun ini bisa di eliminasi.  Peran remote participantpun bisa diperdalam tak sekedar hanya peserta pengintip namun juga bisa didengar &#8220;suaranya!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Sukses untuk Hajatan PB2007.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini juga di Link pada official website: <a href="http://pestablogger.com/2007/11/05/catatan-sukarelawan/#comments" target="_blank">PestaBlogger 2007</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2007/11/05/pb2007-live-catatan-sukarelawan-yang-terisolir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku, si Buruk Rupa &amp; WWF</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2007/10/05/aku-si-buruk-rupa-wwf/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2007/10/05/aku-si-buruk-rupa-wwf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 09:17:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sudah mulai 2006 lalu secara tak resmi aku menjadi kontributor tulisan di media WWF.   Bersama 3 teman lain secara berkala pihak WWF menghubungi kami dengan satu tema tulisan untuk kami tulis dan publikasikan di media WWF entah itu Salam (sahabat Alam) online maupun yang newsletter.   Setelah tulisan tentang Sampah pada News letter WWF <a href="http://samwords.blogspot.com/2006/11/salam-lestari-dari-samwords.html#links" target="_blank">[DI SINI],</a> kali ini pada Buletin Salam Online aku menulis tentang ikan Napoleon.   Tulisan lengkap ada <a href="http://rafflesia.wwf.or.id/enews/page.php?cat=7&#38;id_menu=19" target="_blank">[Di SINI].</a> Dan berikut petikannya:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>Ikan Napoleon: Si Buruk Rupa yang Tak Ternilai</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kontributor: Be Samyono</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan menilai buku dari kulitnya, mungkin pepatah ini tepat dialamatkan pada ikan terumbu ini. Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) yang kerap dipanggil ikan menami oleh penduduk daerah Wakatobi ini memiliki gerakan lamban menakutkan, warna biru gelap, kening besar serta ukuran yang bisa mencapai panjang 2,29 cm dan bobot 191 kg. Di balik fisiknya, ternyata ikan ini sangat populer sebagai sajian istimewa. Di Hongkong, hidangan ikan Napoleon dibandrol hingga 80 dollar US perkilonya. Sehingga ia tidak saja diagungkan karena kelezatan dan kemahalannya namun memakan Napoleon juga sebagai lambang status sosial.[........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Sam (05102007.15.50)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sudah mulai 2006 lalu secara tak resmi aku menjadi kontributor tulisan di media WWF.   Bersama 3 teman lain secara berkala pihak WWF menghubungi kami dengan satu tema tulisan untuk kami tulis dan publikasikan di media WWF entah itu Salam (sahabat Alam) online maupun yang newsletter.   Setelah tulisan tentang Sampah pada News letter WWF <a href="http://samwords.blogspot.com/2006/11/salam-lestari-dari-samwords.html#links" target="_blank">[DI SINI],</a> kali ini pada Buletin Salam Online aku menulis tentang ikan Napoleon.   Tulisan lengkap ada <a href="http://rafflesia.wwf.or.id/enews/page.php?cat=7&amp;id_menu=19" target="_blank">[Di SINI].</a> Dan berikut petikannya:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>Ikan Napoleon: Si Buruk Rupa yang Tak Ternilai</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kontributor: Be Samyono</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan menilai buku dari kulitnya, mungkin pepatah ini tepat dialamatkan pada ikan terumbu ini. Ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) yang kerap dipanggil ikan menami oleh penduduk daerah Wakatobi ini memiliki gerakan lamban menakutkan, warna biru gelap, kening besar serta ukuran yang bisa mencapai panjang 2,29 cm dan bobot 191 kg. Di balik fisiknya, ternyata ikan ini sangat populer sebagai sajian istimewa. Di Hongkong, hidangan ikan Napoleon dibandrol hingga 80 dollar US perkilonya. Sehingga ia tidak saja diagungkan karena kelezatan dan kemahalannya namun memakan Napoleon juga sebagai lambang status sosial.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Sulit Berkembang Biak Diluar Habitat Alami</span></p>
<p style="text-align: justify;">Wilayah terumbu karang perairan Indo Pasifik di kedalaman 2 &#8211; 100 m adalah habitat ikan Napoleon.  Kepadatan populasinya tidak pernah tinggi dan tersebar dalam jumlah sedikit setiap kelompoknya.  Kelompok ikan dewasa biasanya terdiri dari 1 &#8211; 10 ekor per 5000 m2 terumbu karang. Ikan dewasa hidup di sekitar dinding terumbu karang yang curam, laguna-laguna karang dan di perairan selat yang dalam. Hingga saat ini pengembangbiakan ikan Napoleon di luar habitat alaminya sangat sulit dilakukan.  Laporan dari Loka Budidaya Air Payau Situbondo mengungkapkan bahwa tingkat kelulushidupan ikan Napoleon yang dibudidayakan di kolam percobaan hanya mencapai 2-3%.  Artinya, hanya 2-3 ekor ikan dari 100 ikan Napoleon yang menetas, mampu bertahan hidup.  Kemungkinan besar ikan Napoleon membutuhkan lingkungan yang spesifik untuk berkembang biak. Kalau hanya untuk hidup, akuarium miniatur habitat seperti yang ada di Sea World Indonesia mungkin cukup, tetapi belum bisa untuk pengembangbiakan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Primadona Perburuan yang Hemaphrodite</span></p>
<p style="text-align: justify;">Ikan ini dikenal juga sebagai Humphead Wrasse, yang merupakan anggota terbesar familia wrasse (Labridae) dan mampu bertahan hidup hingga 30 tahun dengan memasuki usia dewasa seksual antara 5–7 tahun. Sayangnya pertumbuhan polulasi Napoleon sangat lamban karenanya ikan ini sangat rentan terhadap kepunahan bila terjadi penangkapan yang berlebihan. Keunikan Napoleon adalah siklus hidupnya sebagai binatang hermaphrodite protogynus. Jenis jantannya ada dua tipe, yaitu terlahir sebagai jantan dan tetap jantan sampai akhir hayat; serta terlahir betina lalu dalam masa kehidupan berikutnya berubah fungsi sebagai jantan. Perubahan menjadi jantan biasanya terjadi setelah berumur 5 &#8211; 10 tahun atau berbobot badan kurang dari 10 &#8211; 15 kg.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Obyek Buruan Orang Tak Bertanggungjawab</span></p>
<p style="text-align: justify;">Mengacu pada nilai ekonomis, banyak masyarakat lokal terpacu untuk memburu Ikan Napoleon. Permintaan pasar yang makin meningkat akibat pemasaran yang luas dan daya beli yang makin tinggi membuat akses terpencil ikan Napoleon lebih mudah dijangkau dan diekspoitasi sebesar-besarnya dengan menggunakan kapal-kapal yang lebih modern. Keresahan makin meningkat mengingat banyaknya praktek perburuan ikan Napoleon yang tidak lagi mengindahkan dampaknya terhadap lingkungan seperti penggunaan peledak serta potasium sianida untuk membiusnya.  Para pemburu juga tak segan menghancurkan karang untuk menjangkau tempat dimana ikan Napoleon bersembunyi.  Bila habitatnya terus dibiarkan rusak, sementara populasinya lambat, maka maka kecil kemungkinan kelangsungan hidup dan perkembangbiakannya diselamatkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Bergandengan Tangan Memulai Penyelamatan</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pemerintah telah mengeluarkan SK Menteri Pertanian yang mengatur bahwa penangkapan hanya diizinkan oleh Menteri Pertanian untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan serta pembudidayaannya. Nelayan tradisional juga diberi ijin untuk menangkap sejauh menggunakan alat dan tata cara yang tidak merusak sumber daya alam. Sedangkan dalam SK Menteri Perdagangan dicantumkan larangan mengekspor ikan Napoleon dalam keadaan hidup atau mati, bagian-bagiannya, maupun barang-barang yang terbuat dari ikan tersebut. Tidak cukup itu, dalam Convention on International Trade of Endangered Species of Fauna and Flora (CITES) &#8211; sebuah perjanjian atau konvensi international yang mengatur perdagangan satwa langka dan dilindungi, ikan Napoleon, dimasukkan dalam Appendix II satwa dilindungi, sehingga perdagangannya diatur berdasarkan kuota. Indonesia ikut meratifikasi CITES sehingga perlu mengikuti aturan perdanganan internasional yang berlaku. Di Indonesia, perdagangan ikan Napoleon diatur berdasarkan SK Dirjen Perikanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun sepertinya peraturan yang ada ini jauh dari harapan untuk diimplementasikan apalagi dipatuhi.  Masih banyak pihak yang mencoba mencari celah dan berpikiran pintas tanpa memikirkan kelangsungan hidup dan kelestarian ikan Napoleon.  WWF mengajak berbagai pihak bergandengan tangan untuk mengambil langkah yang bertumpu pada meningkatkan pengelolaan dan pengawasan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Melalui Kampanye Laut Sehat Seafood Sehat, WWF mengeluarkan  brosur panduan memilih seafood ramah lingkungan, dimana Napoleon masuk kategori hindari karena pengembiakannya lambat dan cara penangkapannya merusak habitat. Melestarikan Napelon perlu dilakukan setidaknya bila kita tidak ingin melihat si buruk rupa yang telah menjadi primadona ini tinggal nama. (disarikan dari berbagai sumber)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">* Penulis adalah Konsultan Bisnis, Dosen dan Fotografer.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Email: be-samyono@indo.net.id</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Web: www.be-samyono.com</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2007/10/05/aku-si-buruk-rupa-wwf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemasan Unik Sebuah Oleh-oleh</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2007/09/25/kemasan-unik/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2007/09/25/kemasan-unik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 08:05:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Keiko salah satu rekan Jepangku pernah mengirimkan email tahun lalu bahwa kemungkinan tahun itu adalah tahun terakhir dia mengunjungi Indonesia karena research projectnya hampir berakhir. Namun perkiraannya ternyata keliru, bahkan seperti tahun-tahun sebelumnya dia masih aktif datang ke Indonesia dua hingga tiga kali setahun. Tetap dengan kebiasaan lamanya Keiko selalu menanyakan oleh-oleh apa yang mesti dia bawa. Wah! Rupanya dia trauma karena keliru membawa oleh-oleh. Dimana permintaanku berupa <span style="color: #ff0000;"><strong>"Something To Hang"</strong> </span>diartikan lugas sebagai gantungan serbet yang notabene amat sangat banyak ditemui di kaki lima disini. Padahal niatnya meminta hiasan dinding.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan orang Jepang kebanyakan yang agak peka terhadap menu. Keiko bisa memakan segalanya termasuk makanan yang pedas sekalipun. Sepertinya ini menjadi satu ke klop-an karena akupun merupakan member dari Penikmat Makanan. Bagi Keiko masakan Menado OK, makanan jawa hayuk, sunda tidak nolak, padangpun apalagi. Benar-benar mudah untuk membawanya makan diluar. Satu makanan yang tak bisa dilupakannya adalah duren. Semula dia bersikukuh manggislah buah terenak di dunia hingga satu malam kakakku mengajak dia mencicipi durian. Seperti biasa aku menjauh untuk acara pesta buah ini. Dan benar begitu durian dicicipi pendapat dia langsung berubah. Durenlah buah yang terenak di dunia. Meski aku tak bisa mengamini karena bagaimanapun aku tidak doyan duren.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Sam (25092007.12.20)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Keiko salah satu rekan Jepangku pernah mengirimkan email tahun lalu bahwa kemungkinan tahun itu adalah tahun terakhir dia mengunjungi Indonesia karena research projectnya hampir berakhir. Namun perkiraannya ternyata keliru, bahkan seperti tahun-tahun sebelumnya dia masih aktif datang ke Indonesia dua hingga tiga kali setahun. Tetap dengan kebiasaan lamanya Keiko selalu menanyakan oleh-oleh apa yang mesti dia bawa. Wah! Rupanya dia trauma karena keliru membawa oleh-oleh. Dimana permintaanku berupa <span style="color: #ff0000;"><strong>&#8220;Something To Hang&#8221;</strong> </span>diartikan lugas sebagai gantungan serbet yang notabene amat sangat banyak ditemui di kaki lima disini. Padahal niatnya meminta hiasan dinding.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbeda dengan orang Jepang kebanyakan yang agak peka terhadap menu. Keiko bisa memakan segalanya termasuk makanan yang pedas sekalipun. Sepertinya ini menjadi satu ke klop-an karena akupun merupakan member dari Penikmat Makanan. Bagi Keiko masakan Menado OK, makanan jawa hayuk, sunda tidak nolak, padangpun apalagi. Benar-benar mudah untuk membawanya makan diluar. Satu makanan yang tak bisa dilupakannya adalah duren. Semula dia bersikukuh manggislah buah terenak di dunia hingga satu malam kakakku mengajak dia mencicipi durian. Seperti biasa aku menjauh untuk acara pesta buah ini. Dan benar begitu durian dicicipi pendapat dia langsung berubah. Durenlah buah yang terenak di dunia. Meski aku tak bisa mengamini karena bagaimanapun aku tidak doyan duren.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu hal yang menjadi kesenanganku dengan oleh-oleh yang dibawa Keiko adalah KEMASAN-nya. Sepertinya sudah menjadi budaya di Jepang bahwa buah tangan adalah hal yang lazim dan amat sangat dihargai hingga perkara kemasan/bungkusnya tak tanggung-tanggung menghiasnya. Tidak saja unik tapi kesannya yang minimalis sangat elegan dan sampai-sampai terbersit pikiran sayang untuk membukanya apalagi memakannya bila itu adalah makanan. Bahkan akupun beberapa kali masih menyimpan bungkus kado bekasnya karena selain desainnya yang unik materialnyapun tidak ditemui disini. Tiga minggu lalu sebelum ke Jakarta kembali Keiko menanyakan mengenai oleh-oleh itu. Dan langsung aku sebutkan 2 makanan yang bener-benar khas Jepang. Dorayaki (kuenya Doraemon) dan Miso Soup. Keiko memberi note kalau dia akan membawa Dorayaki dalam berbagai rasa termasuk misonya. Agak surprise dia karena aku meminta miso soup. Sebenernya tidak mengherankan dibanding beberapa miso soup yang disajikan di beberapa restoran Jepang di Jakarta, Miso soup instant yang pernah dibawa Keiko jauh-jauh lebih lezat rasanya. Meski hanya berupa soup instant yang cukup diseduh dengan air panas. Untuk inilah aku berkenan memintanya membawa lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh imutnya, sayang banget kalau dimakan ya,&#8221; Begitu Huny-ku berkomentar saat oleh-oleh dari Keiko telah tiba di rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat itu tidak berlebihan karena dibalik kantong kertas dengan desain khusus terbungkus sekotak dorayaki aneka warna yang berbalut kertas kado menawan dan berlilitkan tali warna senada yang amat elegan. Tidak saja memberikan sentuhan indah namun juga sangat higienis dengan adanya silica gel dan plastik kedap udara. Kami bener-bener takjub melihat kreatifitas orang Jepang dalam hal kemasan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Simpen aja dulu Be!,&#8221; Usul Huny-ku.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Akh keburu lapar pingin makan dorayaki lagi,&#8221; Kamipun tertawa.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jangan-jangan bisa mahalan bungkusnya ya daripada isinya!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mmmm &#8230; &#8221; Aku jadi memikirkan pertanyaan itu! Laparku jadi hilang. Benarkah?.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2007/09/25/kemasan-unik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
