Sophie Di 3 Tahunnya
Baby kecil itu seakan bermetamorfosa. Si kecil yang tembluk, menggemaskan menjadi sosok kecil yang tahu apa maunya, banyak bicara dan amat menggemari musik. Bukan sesekali saya terbawa emosi untuk bisa merasakan masa-masa menggendong dia dan menggodanya, atau membawanya jalan serta mendandaninya. Tak terasa waktu itu telah berjalan 3 tahun ini. Saya sangat merindukannya.

Terselip rasa sesal bahwa saya tidak bisa secara konsisten untuk terus menuliskan fase-fase perkembangannya. Menuliskan hal kecil kesehariannya yang akan menjadi kado indah saat dia belum mampu mengingat masa kecilnya nanti. Setahun kefakuman tentunya banyak hal yang terjadi dan patut untuk diingat. Sayangnya semua terlewatkan, satu-satunya hiburan banyak photo yang tersimpan. Moga itu bisa bercerita banyak untuknya kelak [.......]
MHI Tennis 6th Anniversary
Hujan telah menyingkir, menyisakan terik dan serta kecerahan yang diharapkan. Lapangan tenis Patra nampak didominasi warna outfit putih-putih yang memberi penguat kesegaran wajah-wajah undangan yang datang. Reuni, begitu yang kita inginkan pada hajatan MHI Tennis 6th anniversari kali ini. 6 tahun bukanlah perjalanan yang pendek. Bila kita bermain dengan matematika dengan mengasumsikan ada 5 orang anggota baru rata per quarternya maka akan ada 120 orang yang pernah bermain bersama MHI tennis. Artinya sejumlah itulah alumni MHI tennis yang ada.

Tema reuni yang dibuat untuk hajatan ulang tahun kali ini bukan kenaifan untuk mengumpulkan sejumlah orang diatas. Undangan terbuka disebarkan, lebih untuk memberi momentum bagi rekan-rekan yang pernah bersentuhan dengan MHI Tennis guna datang dan mengingat kebersamaan tersebut. 4 founder (arie, derry, yudha & sam) bisa dikumpulkan, termasuk rekan-rekan angkatan awal (dyna, oi, koko) dan rekan milist (Husni) lengkap dengan keluarga mereka. Dengan total sejumlah 43 orang acara sederhana khas MHI tennis berlangsung hangat dan meriah [.......]
Mengenalkan Tenis di Usia Dini
Media Release: “Mengenalkan sejak dini” mungkin inilah kata yang tepat untuk bisa dipikirkan lebih mendalam dan dijabarkan dalam tindakan kongkrit guna mengatasi keterpurukan dunia olah raga Indonesia. Tenis salah satu contoh olah raga tersebut. Pandangan tenis sebagai olah raga mahal dan teruntuk manula menghasilkan pembibitan yang gersang dan prestasi yang tumpul. Sejak era Yayuk Basuki dan Angelique Widjaja tak ada catatan anak negeri ini berhasil menapak 100 besar peringkat petenis dunia. Satu hal yang ironis padahal tennis merupakan olahraga yang menjanjikan serta mempunyai apresiasi serta struktur yang mapan bagi seorang atlet.

Berpijak pada kondisi itu di ulang tahunnya yang ke 5, MHI Tennis mengajak 40 anak Panti Asuhan kampung Melayu untuk mengikuti acara Tennis Coaching. Anak-anak setingkat SD dan SMP itu akan diperkenalkan pada tenis dan dibekali cara-cara bermain tennis secara langsung Pelatih. Serunya lagi anak-anak ini akan dipandu langsung oleh kakak-kakak MHI tennis dan akan dipadukan dengan fun game[........]
Liburan “Seronok” (KL Trip) #2
Lupakan untuk naik jejantas penghubung 2 menara kembar petronas. Kami bangun kesiangan, atau tepatnya dibangunkan oleh sophie saat sudah siang. Kami menikmati saja acara dikamar sambil main main dengan sophie yang tak mau melewatkan acara kesukaannya, mandi shower. Ada lega juga tak jadi naik ke petronas walau tiket gratis. apalagi kalau bukan ketakutanku soal ketinggian. Pukul 09.30 kami kumpul di restauran hotel untuk breakfast. Mengejutkannya rasa makanan disini lumayan enak. Saya pilih ala american karena tergoda sup kacang polong kesukaan saya dan menghindari nasi lemak yang berbumbu kari yang kembali “sangat India”!. Pukul 10.30 kami telah berada di KLCC twins tower. Niatan untuk naik jejantas kami urungkan dan kami ganti dengan mengambil photo siang hari di halaman depan dan belakang petronas sembari menunggu sholat jumat. Kamipun ada janji lain dengan Khatty untuk mengantar kami “pusing-pusing” dengan car rental yang akan kami sewa 2 hari.

Sholat jumat menjadi bagian yang menarik karena berlangsung mulai pukul 01.30 pm waktu setempat. Masjid KLCC yang berada 500 meter di belakang Twins tower cukup representatif, sejuk dan hijau. Arsitekturnya cukup modern, tak hanya bagian utama masjid yang didinginkan dengan AC. selasar terbukapun tak luput dari hembusan AC. Tak perlu kawatir untuk menaruh sepatu dan sandal di rak yang disediakan. Meski terbuka kasus kehilangan rasanya jauh dari kata mungkin. tatacaranyapun sedikit berbeda. Sebelum adzan terlebih dahulu diisi siraman rohani. Begitu selesai adzan bersama solat sunah dan selanjutnya dengan tata cara seperti yang kita lakukan. Hanya menariknya doa untuk keselamatan negara dan kesultanan amat dominan selain penggunaan LCD berlayar besar yang menayangkan isi ceramah yang disampaikan khotib. Satu sholat jumat yang sangat menambah wawasan [.......]
Liburan “Seronok” (KL Trip) #1
Jalan-jalan seakan menjadi satu prioritas tersendiri bagi saya dan utamanya buat Bunda Sophie. Bahkan kami sepakat untuk selalu mengalokasikan dana dan waktu 2-3 kali setahun untuk jalan-jalan entah keluar kota atau keluar negeri. Rupanya memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sophie anak kami ternyata amat menyukai jalan-jalan. Kondisi sakitpun akan dia abaikan bila mendengar kata jalan-jalan. Tidak hanya perjalanan keluar kota yang dia nikmati, ke luarnegeripun dia lalui dengan keriangan. Sepertinya Sophie amat mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru serta hebatnya dia bisa menciptakan kegembiraan tersendiri dari setiap suasana yang tercipta. Untuk itulah kami sangat enggan dan tak rela jika meninggalkan dia disaat ada renacana untuk jalan karena kami yakin dia cukup menikmati setiap perjalanan ini.

Sedikit cerita ketika pertama kami mengajaknya pergi ke Singapore di usia 14 bulan. Keraguan mulanya kami temui. Kekawatiran akan ribetnya membawa baby dan tak adanya bala bantuan di negeri orang membuat kami berfikir berulang. Namun kembali kami kuatkan diri bahwa perjalanan ini adalah pembelajaran bagi kami untuk mengurus Sophie tanpa bantuan siapapun. Mungkin menjadi berlebihan bila pada akhirnya kami membawa hampir semua barang keperluan dia secara berlebihan. Mulai dari stroller, obat-obatan, makanan, pampers dan segala macamnya. Bagasi kamipun menggelembung. Waktu 4 hari disana ternyata tak mengkawatirkan meski perjalanan lumayan melelahkan karena via Batam untuk sekalian menengok saudara. Sophie tetap ceria dan asyik menikmati perjalanan pun ketika kami harus antri dan berdesakan 3 jam lebih untuk bisa mencapai Johor Baru. Beruntung ada stroller dan buku, teman perjalanan Sophie yang amat sangat bermanfaat bagi dia. Belajar dari pengalaman itu kami tak ragu untuk kembali jalan dengan mengajak Sophie. [.......]






