Perhelatan program “Berbagi Kasih” bersama MHI Tennis telah usai. Penyerahan donasi yang dibarengin dengan acara penanda 5 tahun MHI tennispun telah selesai. Demikian juga dengan pengiriman pertanggungjawaban atas donasi dan sponsorship telah di penuhi. Bila dikata cukup singkat program ini disiapkan dan berjalan. Seminggu untuk persiapan dan selebihnya 3 minggu untuk pelaksanaan. Tak ada kata selain ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus pada rekan se-team, rekan MHI donatur, sponsor serta supporter atas kolaborasi dan bantuannya dalam bentuk apapun. Tak ada kontribusi yang tidak konstruktif tak ada pula bantuan yang tak membangun. Saya pribadi yakin sekecil apapun bantuan yang diberikan saling tertaut dan memberikan makna dalam program ini.

Pemakluman saya sedemikian lebar akan kepesimisan berbagai pihak merujuk pada hasil maksimal program ini nantinya mengacu pada keterbatasan waktu serta pengalaman dalam mengelola acara semacam ini. Namun saya dan beberapa rekan tetap berambisi untuk membuktikan bahwa masih banyak kepedulian yang dipunyai oleh sebagian besar teman-teman MHI Tennis. Bukan keinginan untuk jumawa tapi pembuktian bahwa pasti ada jalan untuk sebuah niat tulus dalam berbagi kepada sesama. Jujur ketika kami menawarkan keinginan untuk membantu Panti asuhan Kampung Melayu tak ada yang kami punya kecuali 200% ketulusan dan keiklasan untuk menyisihkan waktu dan tenaga untuk program acara ini.[.......]
Setelah lebaran kemarin begitu banyak photo rekan-rekan jaman SMA maupun Kuliah yang bertebaran di Facebook dalam acara reuni. Komentarpun saling menimpali mulai dari pernyataan mengenai perubahan dalam 15-20 tahunan yang terjadi hingga candaan ala kebersamaan tempo doeloe. Tidak itu saja. ketakjuban, keheranan dan rasa kangenpun campur aduk menciptakan canda dan rasa terima kasih. Sayang aku tak ada di semua event itu, aku hanya bisa terbatas mengomentari sekaligus menerima kritikan kenapa justru tidak datang di acara yang aku sendiri usulkan. Nah!

Kekuatan Facebook memang luar biasa, karenanyalah dalam kurang dari 2 bulan sebagian besar teman seangkatan di SMA 1 Magetan dan semua teman seangkatan Arsitektur Petra kembali bertemu. Reuni online-pun terjadi dengan saling bergosip dan mengaduk-aduk ingatan lama saat jaman bersama sekaligus perburuan mencari temen-teman yang hilang. Groups dan Fansbookpun segera dibuat untuk mewadahi semua teman yang mulai terberai. Waktu seakan kembali berputar bagai baru kemarin semua itu terjadi. Dan sedetik kemudian bagai tersentak betapa waktu itu semua hampir terkubur dan betapa berubahnya kami kini. Tak hanya fisik yang mulai berkerut dan melebar kesamping, kehidupan kamipun sudah tak banyak yang sendiri, berkeluarga dan mempunyai junior.
[.......]
Dibilang uban adalah gejala adanya gangguan sintesa protein. Sel melanosit jadi tak mampu lagi menghasilkan pigmen (melanin) sehingga rambut menjadi kehilangan warna, dan dikatakan proses ini akan berlangsung begitu kita menginjak usia 40 tahun. Informasi yang sulit aku amini mengingat saat usiakulepas dari 17 tahun si uban telah menyisip diantara ribuan helai rambut hitamku. Dicabut, itulah langkah awal yang sederhana yang dulu aku lakukan meski efeknya membuta gatal dan merinding. Menginjak kuliah dan kerja temen-teman si uban mulai menyisip dan tak ada yang bisa kulakukan kecuali membiarkan. Hingga puncaknya saat usia 27 an uban ini menjadi tak kepalang. Menolak untuk dicabut dengan alasan sakit semirlah yang akhirnya menjadi solusi. Tak tanggung tanggung warna hitam kebiruan, burgundi, maroon dan dark brownpun pernah diupayakan hanya untuk menutupi si uban. Puncaknya saat wisuda S2 rambutku bener-benar terbakar warna MERAH! Dua tahun terakhir ini rasa insyaf akan semir warna terang membuatku paten memilih Natural Balck sebagai pilihan. Alasan cukup sederhana. Kulit dan mukaku yang dikata lebih mirip orang Nusa Tenggara ini lebih pantas memakai warna hitam daripada warna terang ala koboy yang tak pernah mandi. Kesan kontras lebih nyata daripada terang yang justru membuatku tampak “kumuh”.

Artikel yang mengatakan bahaya menyemir rambut terlalu sering karena mamicu adanya kanker membuatku berfikir ualang akan kebiasaanku yang menyemir rambut tiap 2 bulan. Perlahan aku biarkan semir hitam terakhir memudar seiiring tumbuhnya rambut. Positifnya rambutku menjadi lebih ringan dan lebih mudah diatur karena semir yang biasa melekat hilang, namun disisi lain komentar mulai aku tuai karena teman dan sahabat rupanya takjub melihat rambutku yang sudah memutih hampir sepertiganya dengan tiba-tiba. Bahkan temen-teman di S3 terheran-heran. [.......]
Era disket telah usai, Flash disk kini menggantikannya. Dan karena begitu mudahnya mencolak-colok flash disk, jadilah kebiasaan untuk mengambil file melalui flash disk tanpa mengingat resiko penularan virus. Praktek inipun terjadi di setiap akhir kuliah di Kampusku. Tiap ada teman presentasi ataupun dosen mengajar pasti lusinan flashdisk sudah antri untuk meminta copy file. Melelahkan dan tidak praktis memang karena beberapa teman dengan entengnya menitipkan flashdisk begitu saja. Padahal bila mau bersabar file cukup di copy beberapa orang yang kemudian di share. Namun rupanya pepatah makin tua makin bisa bersabar tak berlaku di kelas ini. Hingga pemandangan seperti ini menjadi jamak. Dan akupun sebagai orang yang dianggap melek teknologi selalu mendapat peran melakukan tugas ini. Padahal kadang aku heran apakah setiap copy-an ini sempat untuk dibaca! Bukannya malah menumpuk menjadi sampah digital. Tapi begitulah. Rupanya pepatah yang berlaku disini adalah makin tua makin pikun, karena habis ngopy selalu minta copy lagi karena lupa. Maklumlah!. Bukankah salah satu indikator seorang doktor itu adalah pelupa.
Beberapa dosen dengan senang hati akan mengijinkan kami mengcopy baik lewat assistennya atau kami kerjakan sendiri. Selebihnya mereka enggan memberikan karena toh hard copy telah dibagikan selain alasan malasnya melihat tumpukan flashdisk yang sudah antri di depan mereka. Atau bisa jadi mereka mengerti apa resiko “sodomi Masal” seperti ini. Aku sendiri lebih suka mempersiapkan file berbasis PDF bila ada indikasi rekan meminta copy file. Alasannya cukup sederhana, apalagi kalau bukan karena alasan kompability? Karena perbedaan versi seringkali rekan-rekan minta copy lagi gara-gara file yang dicopy tak bisa dibuka. Sepele memang tapi bila tak cukup seorang yang meminta dan tak cukup sekali dilakukan bikin bete juga. Tapi mau dikata apa kebanyakan dari temen-temen adalah gaptek mania, jadi mau tak mau keadaan ini ditelan saja.[.......]
Dalam perjalanan kereta saat saya berlibur bersama keluarga untuk memperkenalkan Baby Sophie kepada sanak kerabat kami tersela dengan berita mengenai semester pendek. Nafas saya seakan menjadi pendek membayangkan bahwa saya harus mengajar di Universitas Al Azhar selama 3 minggu berturut dan dalam waktu yang bersamaan sayapun harus masuk kuliah di UNJ dalam semester pendek pula. Bedanya Semester Pendek di UAI saya harus mengajar 20 anak yang mengulang mata kuliah Dasar-dasar manajemen sementara di UNJ saya harus menguasai matakuliah Inter Cultural Management & Leadership. Mengenai kesamaannya adalah bahwa saya harus bertemu dengan orang yang sama dalam waktu tiga-empat minggu terus menerus. Akhirnya saya mempertanyakan keefektifan adanya Semester Pendek. Bukan karena kebosanan saya bertemu dengan orang yang sama tapi peran saya sebagai dosen sekaligus mahasiswa pada akhirnya bisa berkaca untuk menjawab pertanyaan saya sendiri.
Sebagai dosen yang kejar tayang ada hal yang hilang disaat saya harus mengajar Semester Pendek. Sulit bagi saya menjaga animo dan motivasi mahasiswa untuk tetap konsisten mengikuti kuliah disamping faktor kebosanan bahwa sebenarnya mereka telah beberapa kali mengambil matakuliah ini walau tidak lulus.Selain itupun saya sulit untuk mendidik karena saya lebih ditekankan untuk mengajar. Mengajar agar target mereka untuk lulus dimata kuliah ini bisa terpenuhi. Ini satu kehilangan bagi saya karena saya lebih suka memposisikan diri saya sebagai pendidik bukan pengajar. Terlebih pengajar yang kejar tayang.[.......]






