Rahasia 7 Tahun MHI Tennis
Tujuh tahun, usia yang teramat muda untuk seorang anak. Namun tidak demikian untuk sebuah komunitas. Tujuh tahun berada dalam masa fluktuatif, pembelajaran dan juga pencapaian merupakan perjalanan panjang yang mestinya patut di syukuri. Meletakkan rasa terima kasih pada banyak hal dan pihak hingga membuat komunitas ini masih bertahan dan menunjukkan eksistensinya. Banyak yang terheran bahwa komunitas ini masih mampu menebarkan eksistensinya hingga hitungan ke tujuh tahun ini. Bila ini di tanyakan ke saya. Saya hanya bisa tersenyum dan memikirkan. Membawanya kerumah dan menuliskannya beberapa rahasia yang nantinya bukan rahasia lagi untuk dibahas.

KOMUNITAS = PERUSAHAAN
Komunitas bukanlah perusahaan. Itu pasti. Tak adanya hak dan kewajiban antar atasan dan bawahan membuat korelasi antar member di dalamnya menjadi sangat cair. Kondisi ini tentunya memudahkan orang datang dan pergi serta rentan adanya satu loyalitas. Pengalaman mengajarkan meski komunitas bukanlah perusahaan namun ternyata pembelajaran dalam mengelola usaha sama esensinya dengan mengelola komunitas [........]
Saya & MHI Tennis
Hari ini 9 januari, hujan taklah datang, mendungpun tidak meradang, sama seperti yang terjadi enam tahun lalu … di hari minggu satu jam lebih awal. Saya sampai lebih dahulu ke lapangan tenis. Meski tidak datang di lapangan yang sama dan bermain dengan rekan-rekan yang serupa namun saya mempunyai semangat yang sama seperti yang saya miliki kala itu. Semangat yang membuat saya tetap mencintai olah raga ini dan semangat yang membakar keteguhan saya untuk tetap berjalan bersama MHI Tennis semampu yang saya bisa. Satu semangat yang sandarkan pada alasan yang cukup sederhana. Apalagi kalau bukan karena MHI tennis adalah rumah yang kami berlima bangun dari mula. Dan saya selalu percaya pada rumah ini. Atapnya akan selalu bisa menjadi peneduh dan ruangnya akan bisa menjadi wadah berkiprah bagi orang2 yang punya hasrat dan kecintaan pada tennis seperti kami.

Kesadaran saya yang terdalam berucap syukur bahwa banyak hal yang bisa saya pelajari selama kebersamaan dengan MHI tennis. Pembelajaran akan nilai hidup maupun pembelajaran mengenai kepemimpinan dan manajerial. Mencengangkan karena semula logika saya tidak cukup paham untuk mengamini bahwa banyak pelajaran yang berharga di komunitas ini. Namun perjalanan selama 6 tahun ini membuktikan. Tidak ada kesia-siaan [.......]
Keteguhan Sebuah Niat
Perhelatan program “Berbagi Kasih” bersama MHI Tennis telah usai. Penyerahan donasi yang dibarengin dengan acara penanda 5 tahun MHI tennispun telah selesai. Demikian juga dengan pengiriman pertanggungjawaban atas donasi dan sponsorship telah di penuhi. Bila dikata cukup singkat program ini disiapkan dan berjalan. Seminggu untuk persiapan dan selebihnya 3 minggu untuk pelaksanaan. Tak ada kata selain ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus pada rekan se-team, rekan MHI donatur, sponsor serta supporter atas kolaborasi dan bantuannya dalam bentuk apapun. Tak ada kontribusi yang tidak konstruktif tak ada pula bantuan yang tak membangun. Saya pribadi yakin sekecil apapun bantuan yang diberikan saling tertaut dan memberikan makna dalam program ini.

Pemakluman saya sedemikian lebar akan kepesimisan berbagai pihak merujuk pada hasil maksimal program ini nantinya mengacu pada keterbatasan waktu serta pengalaman dalam mengelola acara semacam ini. Namun saya dan beberapa rekan tetap berambisi untuk membuktikan bahwa masih banyak kepedulian yang dipunyai oleh sebagian besar teman-teman MHI Tennis. Bukan keinginan untuk jumawa tapi pembuktian bahwa pasti ada jalan untuk sebuah niat tulus dalam berbagi kepada sesama. Jujur ketika kami menawarkan keinginan untuk membantu Panti asuhan Kampung Melayu tak ada yang kami punya kecuali 200% ketulusan dan keiklasan untuk menyisihkan waktu dan tenaga untuk program acara ini.[.......]
Reuni Offline
Setelah lebaran kemarin begitu banyak photo rekan-rekan jaman SMA maupun Kuliah yang bertebaran di Facebook dalam acara reuni. Komentarpun saling menimpali mulai dari pernyataan mengenai perubahan dalam 15-20 tahunan yang terjadi hingga candaan ala kebersamaan tempo doeloe. Tidak itu saja. ketakjuban, keheranan dan rasa kangenpun campur aduk menciptakan canda dan rasa terima kasih. Sayang aku tak ada di semua event itu, aku hanya bisa terbatas mengomentari sekaligus menerima kritikan kenapa justru tidak datang di acara yang aku sendiri usulkan. Nah!

Kekuatan Facebook memang luar biasa, karenanyalah dalam kurang dari 2 bulan sebagian besar teman seangkatan di SMA 1 Magetan dan semua teman seangkatan Arsitektur Petra kembali bertemu. Reuni online-pun terjadi dengan saling bergosip dan mengaduk-aduk ingatan lama saat jaman bersama sekaligus perburuan mencari temen-teman yang hilang. Groups dan Fansbookpun segera dibuat untuk mewadahi semua teman yang mulai terberai. Waktu seakan kembali berputar bagai baru kemarin semua itu terjadi. Dan sedetik kemudian bagai tersentak betapa waktu itu semua hampir terkubur dan betapa berubahnya kami kini. Tak hanya fisik yang mulai berkerut dan melebar kesamping, kehidupan kamipun sudah tak banyak yang sendiri, berkeluarga dan mempunyai junior.
[.......]
Uban Telanjang
Dibilang uban adalah gejala adanya gangguan sintesa protein. Sel melanosit jadi tak mampu lagi menghasilkan pigmen (melanin) sehingga rambut menjadi kehilangan warna, dan dikatakan proses ini akan berlangsung begitu kita menginjak usia 40 tahun. Informasi yang sulit aku amini mengingat saat usiakulepas dari 17 tahun si uban telah menyisip diantara ribuan helai rambut hitamku. Dicabut, itulah langkah awal yang sederhana yang dulu aku lakukan meski efeknya membuta gatal dan merinding. Menginjak kuliah dan kerja temen-teman si uban mulai menyisip dan tak ada yang bisa kulakukan kecuali membiarkan. Hingga puncaknya saat usia 27 an uban ini menjadi tak kepalang. Menolak untuk dicabut dengan alasan sakit semirlah yang akhirnya menjadi solusi. Tak tanggung tanggung warna hitam kebiruan, burgundi, maroon dan dark brownpun pernah diupayakan hanya untuk menutupi si uban. Puncaknya saat wisuda S2 rambutku bener-benar terbakar warna MERAH! Dua tahun terakhir ini rasa insyaf akan semir warna terang membuatku paten memilih Natural Balck sebagai pilihan. Alasan cukup sederhana. Kulit dan mukaku yang dikata lebih mirip orang Nusa Tenggara ini lebih pantas memakai warna hitam daripada warna terang ala koboy yang tak pernah mandi. Kesan kontras lebih nyata daripada terang yang justru membuatku tampak “kumuh”.

Artikel yang mengatakan bahaya menyemir rambut terlalu sering karena mamicu adanya kanker membuatku berfikir ualang akan kebiasaanku yang menyemir rambut tiap 2 bulan. Perlahan aku biarkan semir hitam terakhir memudar seiiring tumbuhnya rambut. Positifnya rambutku menjadi lebih ringan dan lebih mudah diatur karena semir yang biasa melekat hilang, namun disisi lain komentar mulai aku tuai karena teman dan sahabat rupanya takjub melihat rambutku yang sudah memutih hampir sepertiganya dengan tiba-tiba. Bahkan temen-teman di S3 terheran-heran. [.......]






