<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SamRoads - It&#039;s Just Some Inspiration In My Private Roads &#187; My Rebel Thinking</title>
	<atom:link href="http://samroads.be-samyono.com/category/my-rebel-thinking/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://samroads.be-samyono.com</link>
	<description>private, journey, words, thinking, jurnal, baby, renungan, pengalaman, sophie, perjalanan, kata, inspirasi, opini, catatan, pribadi, pemikiran, oppinion, kinanthi, ayah bunda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Jan 2012 09:06:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.3</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Rahasia 7 Tahun MHI Tennis</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2012/01/10/rahasia-7-tahun-mhi-tennis/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2012/01/10/rahasia-7-tahun-mhi-tennis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 09:04:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[MHI Tennis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify; ">Tujuh tahun, usia yang teramat muda untuk seorang anak.  Namun tidak demikian untuk sebuah komunitas. Tujuh tahun berada dalam masa fluktuatif, pembelajaran dan juga pencapaian merupakan perjalanan panjang yang mestinya patut di syukuri.  Meletakkan rasa terima kasih pada banyak hal dan pihak hingga membuat komunitas ini masih bertahan dan menunjukkan eksistensinya.  Banyak yang terheran bahwa komunitas ini masih mampu menebarkan eksistensinya hingga hitungan ke tujuh tahun ini.  Bila ini di tanyakan ke saya. Saya hanya bisa tersenyum dan memikirkan.  Membawanya kerumah dan menuliskannya beberapa rahasia yang nantinya bukan rahasia lagi untuk dibahas.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="MHI Tennis" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/170794_484932115963_112469360963_6294994_6423238_o.jpg" alt="" width="461" height="306" /></p>
<p style="text-align: justify; "><strong><span style="color: #ff0000;">KOMUNITAS = PERUSAHAAN</span></strong></p>
<p style="text-align: justify; ">Komunitas bukanlah perusahaan.  Itu pasti.  Tak adanya hak dan kewajiban antar atasan dan bawahan membuat korelasi antar member di dalamnya menjadi sangat cair.  Kondisi ini tentunya memudahkan orang datang dan pergi serta rentan adanya satu loyalitas.  Pengalaman mengajarkan meski komunitas bukanlah perusahaan namun ternyata pembelajaran dalam mengelola usaha sama esensinya dengan mengelola komunitas [........] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify; "><span style="color: #ff6600;"><strong>By Be Samyono (09012012.12.21) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify; ">Tujuh tahun, usia yang teramat muda untuk seorang anak.  Namun tidak demikian untuk sebuah komunitas. Tujuh tahun berada dalam masa fluktuatif, pembelajaran dan juga pencapaian merupakan perjalanan panjang yang mestinya patut di syukuri.  Meletakkan rasa terima kasih pada banyak hal dan pihak hingga membuat komunitas ini masih bertahan dan menunjukkan eksistensinya.  Banyak yang terheran bahwa komunitas ini masih mampu menebarkan eksistensinya hingga hitungan ke tujuh tahun ini.  Bila ini di tanyakan ke saya. Saya hanya bisa tersenyum dan memikirkan.  Membawanya kerumah dan menuliskannya beberapa rahasia yang nantinya bukan rahasia lagi untuk dibahas.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="MHI Tennis" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/170794_484932115963_112469360963_6294994_6423238_o.jpg" alt="" width="461" height="306" /></p>
<p style="text-align: justify; "><strong><span style="color: #ff0000;">KOMUNITAS = PERUSAHAAN</span></strong></p>
<p style="text-align: justify; ">Komunitas bukanlah perusahaan.  Itu pasti.  Tak adanya hak dan kewajiban antar atasan dan bawahan membuat korelasi antar member di dalamnya menjadi sangat cair.  Kondisi ini tentunya memudahkan orang datang dan pergi serta rentan adanya satu loyalitas.  Pengalaman mengajarkan meski komunitas bukanlah perusahaan namun ternyata pembelajaran dalam mengelola usaha sama esensinya dengan mengelola komunitas.  Bisa dikatakan komunitas harus dikelola professional juga layaknya satu usaha.  Untuk itu selain membangun dan meletakkan pondasi yang kokoh untuk komunitas seperti menetapkan tujuan, membangun hubungan antar personal dan kepemimpinan,  System dan rule di dalamnya pun juga dibangun.  Dan yang lebih penting media komunikasi juga dibenahi.  Dimana Mailist dan groups FB menjadi kekuatan platformnya.  Semua itu dilakukan dengan tujuan kemudahan,  tidak saja bagi member namun juga calon member dan moderator untuk mengelola komunitas.  Dan secara berulang hal ini terus  ditanamkan kepada member agar saling tahu budaya dan aturan dalam komunitas.  Caranya cukup sederhana, mensosialisasikannya di setiap awal quarter ataupun mencantumkannya di milist dan group FB.  Meskipun secara organisasi struktur MHI tennis hanya mengenal member dan moderator namun masing-masing punya peran yang jelas akan hak dan kewajibannya.</p>
<p style="text-align: justify; "><span style="color: #ff0000;"><strong>MAKNA ESSENSIAL NEED YANG MENGIKAT</strong></span></p>
<p style="text-align: justify; ">Bermain TENNIS sudah pasti menjadi essensial need yang menjadi tujuan member untuk berkumpul dan tetap loyal.  Disinilah MHI tennis menetapkan standart dan segmen untuk menentukan siapa saja member yang bisa bermain di MHI Tennis.  Kesepakatan dengan founder dan berdasarkan pengalaman, MHI Tennis memilih terbuka untuk siapa saja yang gemar akan tennis untuk bermain.  Bisa jadi ini memberikan range yang luas bagi siapa saja untuk bergabung terlepas apakah dia bisa atau belum bisa.  Heterogenitas akan menjadi hal terbesar yang akan menjadi tantangan.  Ini tidak menjadi persoalan besar mengingat Visi MHI Tennis adalah memberikan wadah bagi semua penggemar tennis untuk menikmati tennis tanpa satu batasan.  Untuk itulah moto MHI dalah FUN, FRIENDLY &amp; HEALTHY diambil untuk memberikan karakter bagi Komunitas ini.</p>
<p style="text-align: justify; ">Segmentasi inilah yang membuat MHI tennis terus beregenerasi sejak 7 tahun yang lalu. Mencetak rekan-rekan yang belum mahir bermain hingga meningkat permainannya.  Dan bagi rekan-rekan yang telah advance diberi kesempatan untuk membuat groups yang homogen, yang setara kemahirannya agar memperoleh partner yang sepadan diluar MHI bila mereka ingin menuju ke goal yang lebih advance.    MHI tennis berupaya tidak melihat tennis sekedar dari sisi olah raga, kalah atau menang namun juga sisi social dan berbagi kegiatan hingga terasa bagaimana tennis dibuat lebih menyenangkan dan bisa dinikmatinya bersama.</p>
<p style="text-align: justify; "><span style="color: #ff0000;"><strong>BUDAYA YANG MENGAKAR</strong></span></p>
<p style="text-align: justify; ">Kekeluargaan mungkin inilah budaya yang tidak hilang selama 7 tahun berlaku di MHI tennis.  Meskipun kondisi MHI tennis yang dulunya homogen karena berangkat pada akar yang sama, kini menjadi semakin heterogen namun rasa kekeluargaan masih terus dipelihara baik melalui media online maupun offline.  Kasta junior-senior, pemula-mahir sepertinya tidak terasa ada di MHI tennis karena masing-masing member berusaha memberi kenyamanan dan cara tersendiri untuk menikmati tennis.  Demikian juga moderator yang dipegang oleh rekan-rekan volentir, mereka menjalankan manajemen dan operasional komunitas dengan berbekal kesenangan dalam berkontribusi pada komunitas semata.   Dalam hal pengelolaan keuanganpun murni untuk kepentingan member dan rapi tercatat secara transparan.  Tidak itu saja.  suasana yang terbangun di lapangan pun diusahakan konduktif antar member, pengelola lapangan, bahkan dengan ballboy.  Mereka semua selalu  dilibatkan bila ada acara-acara MHI tennis baik saat ulang tahun ataupun gelaran Inship hingga suasana yang tercipta sedemikian nyaman.</p>
<p style="text-align: justify; ">
<p style="text-align: justify; ">Itulah 3 rahasia yang saya yang bisa saya ungkapkan.  Bagi saya ini bukanlah rahasia dan saya tak patut untuk menyembunyikannya.  Setiap orang silahkan untuk meng-copy paste rahasia ini bila berguna.  Seperti juga MHI tennis yang suka berbagi, sayapun demikian.  Saya akan lebih senang melihat begitu banyaknya komunitas positif yang tumbuh utamanya di bidang olahraga atau tennis itu sendiri.  Tak banyak orang yang menggemari namun mempunyai keterbatasan untuk melakukan hanya karena tak adanya wadah untuk menampung hoby mereka yang tanpa keahlian sama sekali dalam bermain.</p>
<p style="text-align: justify; "><span style="color: #ff6600;">Happy Anniversary MHI Tennis</span></p>
<p style="text-align: justify; "><span style="color: #ff6600;">Keep your “fun, friendly &amp; healthy” as your character</span></p>
<p style="text-align: justify; ">Terima kasih pada milist Majalah Men’sHealth Indonesia yang mewadahi founder untuk merealisasikan Komunitas ini 7 tahun lalu.  Kami masih menunggu munculnya komunitas olahraga lain di milist ini. semoga tulisan ini mencerahkan.</p>
<p style="text-align: justify; ">
<p style="text-align: justify; "><strong>Salam Ace</strong></p>
<p style="text-align: justify; "><strong>Moderator</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2012/01/10/rahasia-7-tahun-mhi-tennis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya &amp; MHI Tennis</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2011/02/11/saya-mhi-tennis/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2011/02/11/saya-mhi-tennis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 09:25:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>
		<category><![CDATA[MHI Tennis]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hari ini 9 januari, hujan taklah datang, mendungpun tidak meradang, sama seperti yang terjadi enam tahun lalu ... di hari minggu satu jam lebih awal. Saya sampai lebih dahulu ke lapangan tenis.  Meski tidak datang di lapangan yang sama dan bermain dengan rekan-rekan yang serupa namun saya mempunyai semangat yang sama seperti yang saya miliki kala itu.  Semangat yang membuat saya tetap mencintai olah raga ini dan semangat yang membakar keteguhan saya untuk tetap berjalan bersama MHI Tennis semampu yang saya bisa.  Satu semangat yang sandarkan pada alasan yang cukup sederhana.  Apalagi kalau bukan karena MHI tennis adalah rumah yang kami berlima bangun dari mula. Dan saya selalu percaya pada rumah ini. Atapnya akan selalu bisa menjadi peneduh dan ruangnya akan bisa menjadi wadah berkiprah bagi orang2 yang punya hasrat dan kecintaan pada tennis seperti kami.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Logo MHI" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/LogoKaos.jpg" alt="" width="307" height="238" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kesadaran saya yang terdalam berucap syukur bahwa banyak hal yang bisa saya pelajari selama kebersamaan dengan MHI tennis.  Pembelajaran akan nilai hidup maupun pembelajaran mengenai kepemimpinan dan manajerial.  Mencengangkan karena semula logika saya tidak cukup paham untuk mengamini bahwa banyak pelajaran yang berharga di komunitas ini.  Namun perjalanan selama 6 tahun ini membuktikan.  Tidak ada kesia-siaan [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff0000;">Catatan Pinggir di Ulang tahun ke 6 MHI Tennis</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff9900;">By Be Samyono (11012011.22.52)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini 9 januari, hujan taklah datang, mendungpun tidak meradang, sama seperti yang terjadi enam tahun lalu &#8230; di hari minggu satu jam lebih awal. Saya sampai lebih dahulu ke lapangan tenis.  Meski tidak datang di lapangan yang sama dan bermain dengan rekan-rekan yang serupa namun saya mempunyai semangat yang sama seperti yang saya miliki kala itu.  Semangat yang membuat saya tetap mencintai olah raga ini dan semangat yang membakar keteguhan saya untuk tetap berjalan bersama MHI Tennis semampu yang saya bisa.  Satu semangat yang sandarkan pada alasan yang cukup sederhana.  Apalagi kalau bukan karena MHI tennis adalah rumah yang kami berlima bangun dari mula. Dan saya selalu percaya pada rumah ini. Atapnya akan selalu bisa menjadi peneduh dan ruangnya akan bisa menjadi wadah berkiprah bagi orang2 yang punya hasrat dan kecintaan pada tennis seperti kami.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Logo MHI" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/LogoKaos.jpg" alt="" width="307" height="238" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kesadaran saya yang terdalam berucap syukur bahwa banyak hal yang bisa saya pelajari selama kebersamaan dengan MHI tennis.  Pembelajaran akan nilai hidup maupun pembelajaran mengenai kepemimpinan dan manajerial.  Mencengangkan karena semula logika saya tidak cukup paham untuk mengamini bahwa banyak pelajaran yang berharga di komunitas ini.  Namun perjalanan selama 6 tahun ini membuktikan.  Tidak ada kesia-siaan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff9900;"><strong>BELAJAR DARI KERAGAMAN</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">MHI Tennis tidak akan pernah ada.  Hal itu bisa dipastikan bila kala itu keragaman yang kami punya ternyata menjadi masalah antara satu dengan yang lainnya.  Mengingat hanya 2 diantara kami yang punya kemampuan tenis terbaik.  Selebihnya layaknya anggota partai penggembira.  Namun kami berjalan dan mencari solusi bagaimana untuk tetap nyaman dalam perbedaan. Dan itu bukan omong kosong karena pada quarter yang kemudian berjalan selalu dibanjiri oleh peminat untuk bergabung.  Dan bisa dikata setelah 6 tahun kemudian, keragaman itu tidak malah menghilang tapi justru subur dan menjadi identitas yang melekat pada komunitas ini.  Hingga akhirnya terlihat dalam keragaman inilah kekuatan kami tumbuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan bukan tanpa kendala bila satu keragaman menjadi pilihan untuk dipijak dalam satu komunitas. Tercatat tak cukup sekali masalah muncul dan perpecahan mengurai.  Namun itulah satu konsekwensi yang sudah dipikirkan.  Keyakinan bahwa komunitas akan tetap mempunyai pangsa pasar adalah penguat menghadapi permasalahan ini.  Menjadikan keragaman sebagai pondasi komunitas merupakan langkah yang tidak populer.  Terlebih dalam satu komunitas olahraga dimana pencapaian dan prestasi menjadi tolok ukur.  Ceruk pasar adalah target MHI tennis dan moral responsibility adalah pegangan kami.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff9900;"><strong>BELAJAR MENGHARGAI INDIVIDU</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Mind set untuk melihat individu hanya sebatas dari kemampuan bermain tenis ternyata adalah satu kedangkalan.  Keragaman anggota dalam satu komunitas mengajarkan nilai lebih untuk bisa melihat individu lebih dari itu.  Sportifitas, semangat memperbaiki skill, loyalitas juga keteladanan sangat penting untuk dilihat.  Tidak sedikit kemampuan potensial tumbuh karena ketekunan dan penghargaan yang diberikan.  Saya beruntung menemukan teman-teman yang bisa mensupport satu sama lain untuk tumbuh dan berkembang disini.  Kontribusi dan dorongan semangat banyak diberikan pada pemain level pemula untuk lebih mengasah permainannya.  Dan tidak sedikit progres yang ditunjukkan mereka sebagai timbal baliknya.  Saya percaya tak lain ini adalah buah dari iklim mutualisme yang telah membudaya di MHI tennis.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff9900;"><strong>BELAJAR MANAJERIAL</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam benak semula yang tergambar adalah begitu cair dan dinamisnya satu organisasi hingga kepemimpinan cukup sebagai jembatan untuk mengaturnya.  Ternyata ini tidaklah tepat.  Butuh manajerial skill dan juga system agar kegiatan dalam komunitas berjalan dengan lancar siapapun yang akan menjalankannya.  Perkembangan menunjukkan saat MHI Tennis dalam kondisi homogen dan dalam hitungan tangan jumlahnya kemudahan didapat dalam menjalani rutinitas mingguannya.  Namun begitu dihadapkan dengan kondisi sebaliknya kompleksitas harus ditaklukkan dengan pengorganisasian dan pengimplementasian system.  Tidak hanya itu pemahaman anggota akan tujuan dan culture komunitas juga sangat mutlak untuk selalu di berikan.  Tanpa terasa menjalankan komunitas hampir sama penanganannya dengan  mengurus perusahaan.  Bedanya komunitas tidak mempunyai keterikatan seperti perusahaaan sehingga pemahaman akan perbedaan, dinamika  inisiatif serta partisipasi anggota menjadi faktor yang mutlak untuk diutamakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menarik benang merah atas pembelajaran saya di komunitas ini.  Saya melihat bahwa keindahan akan berkembang dalam kebersamaan bila kita mampu untuk menumbuhkan kekuatan untuk berbagi dan memampukan.  Bukan sebaliknya, untuk mengalahkan dan menunjukkan sisi superior kita.  Saya selalu berharap pembelajaran ini tidak hanya berhanti disini dan disatu sisi semoga makin banyak sahabat yang bisa memetik pembelajaran dari keberadaan komunitas ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff9900;">Happy 6th Anniversary MHI Tennis!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2011/02/11/saya-mhi-tennis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keteguhan Sebuah Niat</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/21/keteguhan-niat/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/21/keteguhan-niat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 17:17:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Perhelatan program "Berbagi Kasih" bersama MHI Tennis telah usai.  Penyerahan donasi yang dibarengin dengan acara penanda 5 tahun MHI tennispun telah selesai.  Demikian juga dengan pengiriman pertanggungjawaban atas donasi dan sponsorship telah di penuhi.  Bila dikata cukup singkat program ini disiapkan dan berjalan.  Seminggu untuk persiapan dan selebihnya 3 minggu untuk pelaksanaan. Tak ada kata selain ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus pada rekan se-team, rekan MHI donatur, sponsor serta supporter atas kolaborasi dan bantuannya dalam bentuk apapun. Tak ada kontribusi yang tidak konstruktif tak ada pula bantuan yang tak membangun.  Saya pribadi yakin sekecil apapun bantuan yang diberikan saling tertaut dan memberikan makna dalam program ini.</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="logo" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/LogoBday5.jpg" alt="" width="307" height="307" /></p>
<p style="text-align: justify;">Pemakluman saya sedemikian lebar akan kepesimisan berbagai pihak merujuk pada hasil maksimal program ini nantinya mengacu pada keterbatasan waktu serta pengalaman dalam mengelola acara semacam ini.  Namun saya dan beberapa rekan tetap berambisi untuk membuktikan bahwa masih banyak kepedulian yang dipunyai oleh sebagian besar teman-teman MHI Tennis.  Bukan keinginan untuk jumawa tapi pembuktian bahwa pasti ada jalan untuk sebuah niat tulus dalam berbagi kepada sesama.  Jujur ketika kami menawarkan keinginan untuk membantu Panti asuhan Kampung Melayu tak ada yang kami punya kecuali 200% ketulusan dan keiklasan untuk menyisihkan waktu dan tenaga untuk program acara ini.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (21022010-21.18) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Perhelatan program &#8220;Berbagi Kasih&#8221; bersama MHI Tennis telah usai.  Penyerahan donasi yang dibarengin dengan acara penanda 5 tahun MHI tennispun telah selesai.  Demikian juga dengan pengiriman pertanggungjawaban atas donasi dan sponsorship telah di penuhi.  Bila dikata cukup singkat program ini disiapkan dan berjalan.  Seminggu untuk persiapan dan selebihnya 3 minggu untuk pelaksanaan. Tak ada kata selain ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus pada rekan se-team, rekan MHI donatur, sponsor serta supporter atas kolaborasi dan bantuannya dalam bentuk apapun. Tak ada kontribusi yang tidak konstruktif tak ada pula bantuan yang tak membangun.  Saya pribadi yakin sekecil apapun bantuan yang diberikan saling tertaut dan memberikan makna dalam program ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="logo" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/LogoBday5.jpg" alt="" width="307" height="307" /></p>
<p style="text-align: justify;">Pemakluman saya sedemikian lebar akan kepesimisan berbagai pihak merujuk pada hasil maksimal program ini nantinya mengacu pada keterbatasan waktu serta pengalaman dalam mengelola acara semacam ini.  Namun saya dan beberapa rekan tetap berambisi untuk membuktikan bahwa masih banyak kepedulian yang dipunyai oleh sebagian besar teman-teman MHI Tennis.  Bukan keinginan untuk jumawa tapi pembuktian bahwa pasti ada jalan untuk sebuah niat tulus dalam berbagi kepada sesama.  Jujur ketika kami menawarkan keinginan untuk membantu Panti asuhan Kampung Melayu tak ada yang kami punya kecuali 200% ketulusan dan keiklasan untuk menyisihkan waktu dan tenaga untuk program acara ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya akui 3 minggu adalah masa yang sangat menguras tenaga dan waktu untuk menjalankan program berbagi kasih ini sebagai panitia.  Tidak saja sebagai penjaga gawang menampung donasi yang bisa datang kapan saja namun juga upaya keras untuk mensosialisasikan program ini tidak saja kepada donor, sponsor tapi juga volunteer, belum lagi kami harus menyiapkan acara penyerahan yang dikemas dalam bentuk tennis coaching. Sebagai penggelontor Ide sayapun harus berkomitmen penuh terhadap jalannya program ini meski di minggu terakhir saya bagai terdehidrasi hingga minta bantuan seorang rekan untuk mentake over kerjaan tugas saya sementara saya harus recovery.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini semuanya telah terbayar &amp; syukur saya tak terbatas.  Melihat senyum dan kegembiraan anak-anak panti asuhan yang menerima upaya kecil kami rasanya semua beban telah terangkat.  Saya benar-benar mensyukuri moment itu.  Terlebih kami telah disupport oleh  donatur perseorangan hingga mencapai angka donasi Rp 10.650.000,-.  Tak luput, beberapa sponsorpun turut memberi andil seperti Majalah Menshealth Indonesia, mead Johnson, KFC, Arnotts, dan juga Nestle. Satu hal yang luar biasa semua ini terjadi tepat pada waktunya dan begitu indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali saya mengamini kekuatan sebuah niat, kedalaman sebuah keihklasan serta keindahan sebuah syukur.  Saya yakin perhelatan ini tidak saja memberi kita pelajaran berarti mengenai makna berbagi namun juga <span style="color: #ff6600;">makna keteguhan niat untuk menjalankan satu proses kehidupan! </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Note:</strong></span> laporan lengkap mengenai pertanggungjawaban program &#8220;berbagi Kasih&#8221; bisa di lihat <a href="http://docs.google.com/fileview?id=0B-hMbIwUC9WCNTViMWZlZDAtMmVlZS00Zjk3LTkxMmYtNjU5MWEyZjFmZDZi&amp;hl=en" target="_blank">disini</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/21/keteguhan-niat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reuni Offline</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/24/reuni-offline/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/24/reuni-offline/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 16:14:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah lebaran kemarin begitu banyak photo rekan-rekan jaman SMA maupun Kuliah yang bertebaran di Facebook dalam acara reuni.  Komentarpun saling menimpali mulai dari pernyataan mengenai perubahan dalam 15-20 tahunan yang terjadi hingga candaan ala kebersamaan tempo doeloe.  Tidak itu saja.  ketakjuban, keheranan dan rasa kangenpun campur aduk menciptakan canda dan rasa terima kasih.  Sayang aku tak ada di semua event itu, aku hanya bisa terbatas mengomentari sekaligus menerima kritikan kenapa justru tidak datang di acara yang aku sendiri usulkan.  Nah!</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Banner" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Spanduk1.jpg" alt="" width="360" height="95" /></p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: justify;">Kekuatan Facebook memang luar biasa, karenanyalah dalam kurang dari 2 bulan sebagian besar teman seangkatan di SMA 1 Magetan dan semua teman seangkatan Arsitektur Petra kembali bertemu.  Reuni online-pun terjadi dengan saling bergosip dan mengaduk-aduk ingatan lama saat jaman bersama sekaligus perburuan mencari temen-teman yang hilang.  Groups dan Fansbookpun segera dibuat untuk mewadahi semua teman yang mulai terberai.  Waktu seakan kembali berputar bagai baru kemarin semua itu terjadi.  Dan sedetik kemudian bagai tersentak betapa waktu itu semua hampir terkubur dan betapa berubahnya kami kini.  Tak hanya fisik yang mulai berkerut dan melebar kesamping, kehidupan kamipun sudah tak banyak yang sendiri, berkeluarga dan mempunyai junior.</p>[.......]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (21102009-11.45)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah lebaran kemarin begitu banyak photo rekan-rekan jaman SMA maupun Kuliah yang bertebaran di Facebook dalam acara reuni.  Komentarpun saling menimpali mulai dari pernyataan mengenai perubahan dalam 15-20 tahunan yang terjadi hingga candaan ala kebersamaan tempo doeloe.  Tidak itu saja.  ketakjuban, keheranan dan rasa kangenpun campur aduk menciptakan canda dan rasa terima kasih.  Sayang aku tak ada di semua event itu, aku hanya bisa terbatas mengomentari sekaligus menerima kritikan kenapa justru tidak datang di acara yang aku sendiri usulkan.  Nah!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Banner" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Spanduk1.jpg" alt="" width="360" height="95" /></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kekuatan Facebook memang luar biasa, karenanyalah dalam kurang dari 2 bulan sebagian besar teman seangkatan di SMA 1 Magetan dan semua teman seangkatan Arsitektur Petra kembali bertemu.  Reuni online-pun terjadi dengan saling bergosip dan mengaduk-aduk ingatan lama saat jaman bersama sekaligus perburuan mencari temen-teman yang hilang.  Groups dan Fansbookpun segera dibuat untuk mewadahi semua teman yang mulai terberai.  Waktu seakan kembali berputar bagai baru kemarin semua itu terjadi.  Dan sedetik kemudian bagai tersentak betapa waktu itu semua hampir terkubur dan betapa berubahnya kami kini.  Tak hanya fisik yang mulai berkerut dan melebar kesamping, kehidupan kamipun sudah tak banyak yang sendiri, berkeluarga dan mempunyai junior.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah bagaimana teman lama melihat diriku yang kini.  Berubahkah atau stagnant masih seperti yang dulu.  Seorang teman SMA terkaget2 gak sangka itu saya orang yang dia pernah taksir dulu.  Namun teman yang lainpun dengan cepat meng-add aku tanpa ragu.  Aku hanya bisa katakan kini bahwa aku tidak dipanggil dan menggunakan nama panjangku lagi yang memang &#8220;terlalu populer&#8221; dan terancukan dengan nama sejenis dan sama.  Soal muka, badan dan ketinggian aku jamin sama.  Dengan proporsiku yang kecil sedikit perubahan berat badan dan kerutan sama sekali tak membuat orang lupa padaku.  Mungkin yang membedakan hanyalah gayaku yang tak lagi menganut rambut ala kadarnya atau ala Andy Lau yang ngetrend waktu itu. Akupun telah meninggalkan celana baggy dan baju yang dilinting diujung lengan dan di ujung kaki. Secara psikologis aku masih ingin tetap dikenal sebagai aku yang dulu.  Yang tetap usil, banyak omong dan dan rame. Dan karena pekerjaanku yang informal dan menuntut kreatifitas maka semua itu sepertinya masih tetap bisa aku pertahankan.  Di sisi lain mungkin menjadi keuntungan karena aku tak pernah terbungkus dengan seragam atau baju kerja yang justru membuat aku lerlihat lebih usur. Dan begitulah aku pada nyatanya, kondisi lahir yang sulit untuk dibelokkan apalagi diubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Reuni Offline akhirnya aku lontarkan kepada rekan-rekan yang segera mereka tangkap dan realisasikan.  Dengan alasan kemudahan mengumpulkan teman-teman di saat lebaran seperti ini.  Kalimat maafpun sebelumnya telah aku lempar karena tidak mungkin bila aku hadir saat itu.  Selain reuninya diadakan di surabaya dan magetan akupun memang jauh hari sebelumnya tidak merencanakan untuk mengunjugi 2 kota yang telah lama aku tinggalkan itu.  Sangat terlambat untuk memperoleh tiket di saat lebaran seperti ini.  Kalaupun menyesal tentunya itu ada dipihakku yang hanya bisa kembali melakukan reunian dengan temen2 dengan cara online.  Bagiku pribadi reuni adalah silaturahmi pertemanan. Apapun yang terjadi pada kami dan bagaimanapun kami sekarang aku pikir dulu kami pernah berada disatu tempat yang sama dan didik dengan cara yang sama hingga terbangun pertemanan.  Dan hal itu tidak ada yang bisa mengubah bentuk pertemanan yang ada.  Hingga satu hal yang salah bila disaat reuni kita tak bisa datang.  <span style="color: #ff6600;">Apapun alasannya!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/24/reuni-offline/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Uban Telanjang</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/22/uban-telanjang/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/22/uban-telanjang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 09:44:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dibilang uban adalah gejala adanya gangguan sintesa protein. Sel melanosit jadi tak mampu lagi menghasilkan pigmen (melanin) sehingga rambut menjadi kehilangan warna, dan dikatakan proses ini akan berlangsung begitu kita menginjak usia 40 tahun.  Informasi yang sulit aku amini mengingat saat usiakulepas dari 17 tahun si uban telah menyisip diantara ribuan helai rambut hitamku. Dicabut, itulah langkah awal yang sederhana yang dulu aku lakukan meski efeknya membuta gatal dan merinding.  Menginjak kuliah dan kerja temen-teman si uban mulai menyisip dan tak ada yang bisa kulakukan kecuali membiarkan.  Hingga puncaknya saat usia 27 an uban ini menjadi tak kepalang.  Menolak untuk dicabut dengan alasan sakit semirlah yang akhirnya menjadi solusi.  Tak tanggung tanggung warna hitam kebiruan, burgundi, maroon dan dark brownpun pernah diupayakan hanya untuk menutupi si uban.  Puncaknya saat wisuda S2 rambutku bener-benar terbakar warna MERAH!  Dua tahun terakhir ini rasa insyaf akan semir warna terang membuatku paten memilih Natural Balck sebagai pilihan.  Alasan cukup sederhana.  Kulit dan mukaku yang dikata lebih mirip orang Nusa Tenggara ini lebih pantas memakai warna hitam daripada warna terang ala koboy yang tak pernah mandi. Kesan kontras lebih nyata daripada terang yang justru membuatku tampak "kumuh".</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Uban" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/images.jpg" alt="" width="125" height="86" /></p>
<p style="text-align: justify;">Artikel yang mengatakan bahaya menyemir rambut terlalu sering karena mamicu adanya kanker membuatku berfikir ualang akan kebiasaanku yang menyemir rambut tiap 2 bulan.  Perlahan aku biarkan semir hitam terakhir memudar seiiring tumbuhnya rambut.  Positifnya rambutku menjadi lebih ringan dan lebih mudah diatur karena semir yang biasa melekat hilang, namun disisi lain komentar mulai aku tuai karena teman dan sahabat rupanya takjub melihat rambutku yang sudah memutih hampir sepertiganya dengan tiba-tiba. Bahkan temen-teman di S3 terheran-heran. [.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (21102009-13.13) </span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dibilang uban adalah gejala adanya gangguan sintesa protein. Sel melanosit jadi tak mampu lagi menghasilkan pigmen (melanin) sehingga rambut menjadi kehilangan warna, dan dikatakan proses ini akan berlangsung begitu kita menginjak usia 40 tahun.  Informasi yang sulit aku amini mengingat saat usiakulepas dari 17 tahun si uban telah menyisip diantara ribuan helai rambut hitamku. Dicabut, itulah langkah awal yang sederhana yang dulu aku lakukan meski efeknya membuta gatal dan merinding.  Menginjak kuliah dan kerja temen-teman si uban mulai menyisip dan tak ada yang bisa kulakukan kecuali membiarkan.  Hingga puncaknya saat usia 27 an uban ini menjadi tak kepalang.  Menolak untuk dicabut dengan alasan sakit semirlah yang akhirnya menjadi solusi.  Tak tanggung tanggung warna hitam kebiruan, burgundi, maroon dan dark brownpun pernah diupayakan hanya untuk menutupi si uban.  Puncaknya saat wisuda S2 rambutku bener-benar terbakar warna MERAH!  Dua tahun terakhir ini rasa insyaf akan semir warna terang membuatku paten memilih Natural Balck sebagai pilihan.  Alasan cukup sederhana.  Kulit dan mukaku yang dikata lebih mirip orang Nusa Tenggara ini lebih pantas memakai warna hitam daripada warna terang ala koboy yang tak pernah mandi. Kesan kontras lebih nyata daripada terang yang justru membuatku tampak &#8220;kumuh&#8221;.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Uban" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/images.jpg" alt="" width="125" height="86" /></p>
<p style="text-align: justify;">Artikel yang mengatakan bahaya menyemir rambut terlalu sering karena mamicu adanya kanker membuatku berfikir ualang akan kebiasaanku yang menyemir rambut tiap 2 bulan.  Perlahan aku biarkan semir hitam terakhir memudar seiiring tumbuhnya rambut.  Positifnya rambutku menjadi lebih ringan dan lebih mudah diatur karena semir yang biasa melekat hilang, namun disisi lain komentar mulai aku tuai karena teman dan sahabat rupanya takjub melihat rambutku yang sudah memutih hampir sepertiganya dengan tiba-tiba. Bahkan temen-teman di S3 terheran-heran.  Mereka tak menyadari bahwa selama ini semirlah yang berperan.  Kurang nyaman juga mendengarnya namun justru lambat laun rasa &#8220;beda&#8221; itu ternyata menyenangkan. Saat di keramaian dan aku coba mencari teman yang senasib denganku, kusimpulkan aku gak perlu merasa sendiri.  Banyak usia muda dengan rambut memutih meski tidak separah apa yang aku punya. yang menarik dari Browsing aku temukan beberapa Mitos dan fakta mengenai uban:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">1. &#8220;Uban usia dini&#8221; bisa dicegah.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Fakta: Tak seorang pun yang bisa memprediksi munculnya uban. Tidak juga ahli medis. Setiap manusia punya moment berbeda kapan tepatnya ia akan beruban. Rata-rata, manusia normal mulai beruban saat berusia 40 tahun atau lebih. Cepat atau lambat nya &#8212; kecuali bila terdapat penyakit kelainan genetik&#8211; penyebabnya sangatlah multifaktor. Masalahnya, sekarang ini mulai banyak perempuan yang sudah beruban meski usia masih di awal 30-an. Tidak mungkin dicegah, tapi bisa diperlambat. Asal Anda menyuplai tonikum, moisturizing serum dan ektra nutrisi secara intensif pada akar dan batang rambut.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">2. Setiap orang punya risiko terkena uban lebih cepat.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Fakta: Meski hingga saat ini belum ada penelitian yang bisa memastikan penyebab munculnya uban prematur ini, namun bila kelenjar rambut terganggu dan folikel rambut telah berhenti memproduksi melanin alias tidak menghasilkan pigment, bisa dipastikan rambut akan memutih dengan sendirinya. Diagnosa medis sementara yang mungkin bisa dijadikan pegangan adalah kenyataan bahwa uban tidak akan tumbuh tanpa sebab. Kelainan genetik, kekurangan gizi, degradasi melanosit, faktor bawaan atau pernah mengalami penyakit tertentu bisa menjadi penyebab utama tumbuhnya uban lebih cepat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">3. Bleaching, coloring dan rebonding bisa menyebabkan rambut beruban.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Fakta: Zat peroxide, baik dari senyawa hydrogen atau alkaline yang biasa terdapat dalam produk pewarna rambut hanya akan menyerang di permukaan, lapisan kutikula, cortex dan medula rambut. Meski memang berpengaruh terhadap elastisitas rambut, namun peroxide tidak mengganggu kerja produksi melanin. Artinya, pigment rambut tetaplah bekerja memproduksi zat warna rambut seperti biasa, sampai saatnya ia melemah dan berhenti dengan sendirinya. Begitupun dengan produk hairstyling lainnya. Daya kerjanya tidak berhubungan dengan siklus pertumbuhan uban.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">4. Uban gejala awal kebotakan.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Fakta: Jika Anda sudah mendapat uban saat berusia di bawah usia 20 tahun sebaiknya perlu waspada. Sebab, saat Anda memasuki usia kepala tiga, biasanya uban akan tumbuh lebih banyak dan intensitas warna putihnya bertambah solid. Selain itu, kondisi kulit kepala biasanya jadi sangat sensitif dan rawan komplikasi.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">5. Makanan olahan, makanan cepat saji dan makanan yang diawetkan bisa meningkatkan risiko tumbuhnya uban lebih cepat.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Fakta: Banyak penyebab timbulnya uban dini yang masih belum tuntas diselidiki. Namun, makanan olahan yang mengandung bahan pengawet atau yang dibiakkan dari hasil rekayasa teknologi hormonal, bisa mengganggu metabolisme. Hal ini juga akan mempengaruhi sirkulasi oksigen dan nutrisi ke jaringan kulit kepala yang idealnya menyokong kerja melanin di sel-sel rambut.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">6. Makin sering ditutup, uban semakin banyak.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Fakta: Idealnya, Anda hanya perlu menyemir uban dua bulan sekali. Karena, setelah 60 hari akar rambut yang baru biasanya akan mulai terlihat mata. Jika mengganggu penampilan, lakukan re-coloring secara berkala. Periode ini juga berguna untuk memberi jeda pada permukaan kulit agar kondisi akar rambut kembali normal. Menutup uban dengan topi, hanyalah bertujuan menangkal efek buruk sinar Matahari. Uban memang tidak bisa menjadi lebih buruk atau bertambah banyak. Hanya, warna rambut saja perlahan akan memudar.Soal mencabut uban, menurut ahli dermatologi dari New York, Debra Jaliman, M.D, hal ini tidak berdampak tumbuhnya uban lebih banyak. Hanya saja, selain akan merusak folikel dan saraf rambut, uban juga akan terlihat lebih outstanding karena berkurangnya jumlah rambut di sekitarnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">7. Kloning rambut cara ampuh atasi uban?</span></p>
<p style="text-align: justify;">Fakta: Penelitian terakhir di Univ. Pennsylvania School of Medicine menyebutkan, hair multiplication atau penanaman rambut bukan untuk mengatasi uban. Namun, bila jumlah rambut sehat yang ditanam lebih banyak, otomatis sel rambut baru ini bisa menutup uban agar lebih tersamar. Treatment yang bekerja dengan mengembangbiakkan sel folikel rambut yang sehat (dan tidak beruban) di laboratorium khusus ini, sampai sekarang masih terus dikembangkan. Meski terbilang revolusioner, teknik ini masih perlu penyempurnaan dan kemungkinan baru layak digunakan 2-3 tahun lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya saya hanya mengambil kesimpulan biarlah alam yang mengatur kinerja anggota tubuh saya.  saya yakin ada kelebihan ada kekurangan.  Kalau sekarang Rambut saya yang melemah mungkin bagaian lain yang justru menguat.  Ambil contoh kekecangan kulit saya.  kalau sudah seperti ini apalagi yang akan kita perbuat kecuali menjaga yang ada sembari terus mensyukuri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/22/uban-telanjang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sodomi Masal</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/18/sodomi-masal/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/18/sodomi-masal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 16:19:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Era disket telah usai, Flash disk kini menggantikannya.  Dan karena begitu mudahnya mencolak-colok flash disk, jadilah kebiasaan untuk mengambil file melalui flash disk tanpa mengingat resiko penularan virus.  Praktek inipun terjadi di setiap akhir kuliah di Kampusku.  Tiap ada teman presentasi ataupun dosen mengajar pasti lusinan flashdisk sudah antri untuk meminta copy file.  Melelahkan dan tidak praktis memang karena beberapa teman dengan entengnya menitipkan flashdisk begitu saja.  Padahal bila mau bersabar file cukup di copy beberapa orang yang kemudian di share.  Namun rupanya pepatah makin tua makin bisa bersabar tak berlaku di kelas ini.  Hingga pemandangan seperti ini menjadi jamak.  Dan akupun sebagai orang yang dianggap melek teknologi selalu mendapat peran melakukan tugas ini.  Padahal kadang aku heran apakah setiap copy-an ini sempat untuk dibaca! Bukannya malah menumpuk menjadi sampah digital.  Tapi begitulah.  Rupanya pepatah yang berlaku disini adalah makin tua makin pikun, karena habis ngopy selalu minta copy lagi karena lupa. Maklumlah!.  Bukankah salah satu indikator seorang doktor itu adalah pelupa.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa dosen dengan senang hati akan mengijinkan kami mengcopy baik lewat assistennya atau kami kerjakan sendiri.  Selebihnya mereka enggan memberikan karena toh hard copy telah dibagikan selain alasan malasnya melihat tumpukan flashdisk yang sudah antri di depan mereka. Atau bisa jadi mereka mengerti apa resiko "sodomi Masal" seperti ini.  Aku sendiri lebih suka mempersiapkan file berbasis PDF bila ada indikasi rekan meminta copy file.  Alasannya cukup sederhana, apalagi kalau bukan karena alasan kompability?  Karena perbedaan versi seringkali rekan-rekan minta copy lagi gara-gara file yang dicopy tak bisa dibuka. Sepele memang tapi bila tak cukup seorang yang meminta dan tak cukup sekali dilakukan bikin bete juga.  Tapi mau dikata apa kebanyakan dari temen-temen adalah gaptek mania, jadi mau tak mau keadaan ini ditelan saja.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (03092008.17.43)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Era disket telah usai, Flash disk kini menggantikannya.  Dan karena begitu mudahnya mencolak-colok flash disk, jadilah kebiasaan untuk mengambil file melalui flash disk tanpa mengingat resiko penularan virus.  Praktek inipun terjadi di setiap akhir kuliah di Kampusku.  Tiap ada teman presentasi ataupun dosen mengajar pasti lusinan flashdisk sudah antri untuk meminta copy file.  Melelahkan dan tidak praktis memang karena beberapa teman dengan entengnya menitipkan flashdisk begitu saja.  Padahal bila mau bersabar file cukup di copy beberapa orang yang kemudian di share.  Namun rupanya pepatah makin tua makin bisa bersabar tak berlaku di kelas ini.  Hingga pemandangan seperti ini menjadi jamak.  Dan akupun sebagai orang yang dianggap melek teknologi selalu mendapat peran melakukan tugas ini.  Padahal kadang aku heran apakah setiap copy-an ini sempat untuk dibaca! Bukannya malah menumpuk menjadi sampah digital.  Tapi begitulah.  Rupanya pepatah yang berlaku disini adalah makin tua makin pikun, karena habis ngopy selalu minta copy lagi karena lupa. Maklumlah!.  Bukankah salah satu indikator seorang doktor itu adalah pelupa.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa dosen dengan senang hati akan mengijinkan kami mengcopy baik lewat assistennya atau kami kerjakan sendiri.  Selebihnya mereka enggan memberikan karena toh hard copy telah dibagikan selain alasan malasnya melihat tumpukan flashdisk yang sudah antri di depan mereka. Atau bisa jadi mereka mengerti apa resiko &#8220;sodomi Masal&#8221; seperti ini.  Aku sendiri lebih suka mempersiapkan file berbasis PDF bila ada indikasi rekan meminta copy file.  Alasannya cukup sederhana, apalagi kalau bukan karena alasan kompability?  Karena perbedaan versi seringkali rekan-rekan minta copy lagi gara-gara file yang dicopy tak bisa dibuka. Sepele memang tapi bila tak cukup seorang yang meminta dan tak cukup sekali dilakukan bikin bete juga.  Tapi mau dikata apa kebanyakan dari temen-temen adalah gaptek mania, jadi mau tak mau keadaan ini ditelan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Minggu terakhir seorang dosen mempersilahkan kami mengopy file dari laptopnya yang masih tersambung pada LCD dan terpantulkan dilayar.  Kembali aku dengan enggan menerima job ini didampingin seorang rekan yang begitu antusias namun gaptek.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mana yang dicopy,&#8221; Tanyaku begitu USB flash telah tercolok.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mana aja,&#8221; Jawabnya semangat, &#8220;sekalian aja satu folder itu&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Seius?, Maling dong!,&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Daripada minta-minta melulu,&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Filenya macam-macam disini!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gak papa, cepat mainkan saja!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Icon &#8220;send to&#8221; aku klik dan beberapa mega file dalam satu folder meluncur ke USB Flash-ku. Lama dan lama.  tak aku sangka satu folder ini lumayan besar isinya. Aku jadi penasaran.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sudah Pak?&#8221;  Tanya si dosen menyela.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tinggal download Pak.&#8221;  Jawabku sekenanya.  Sementara rekanku tegang memperhatikan layar LCD yang jelas menginformasikan apa yang kami copy.  Tangankupun segera meraih kabel AV penghubungnya dan mencabutnya.  Layar menjadi Biru.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dia menghela nafas.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">&#8220;Selamat!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Etiskah ini? jangan ditanya karena kami adalah maling yang tentunya akan mencari pembenaran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/18/sodomi-masal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semester Pendek, Memendekkan Nafas</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/02/semester-pendek-memendekkan-nafas/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/02/semester-pendek-memendekkan-nafas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 05:15:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan kereta saat saya berlibur bersama keluarga untuk memperkenalkan Baby Sophie kepada sanak kerabat kami tersela dengan berita mengenai semester pendek.  Nafas saya seakan menjadi pendek membayangkan bahwa saya harus mengajar di Universitas Al Azhar selama 3 minggu berturut dan dalam waktu yang bersamaan sayapun harus masuk kuliah di UNJ dalam semester pendek pula.  Bedanya Semester Pendek di UAI saya harus mengajar 20 anak yang mengulang mata kuliah Dasar-dasar manajemen sementara di UNJ saya harus menguasai matakuliah Inter Cultural Management &#38; Leadership.  Mengenai kesamaannya adalah bahwa saya harus bertemu dengan orang yang sama dalam waktu tiga-empat  minggu terus menerus.  Akhirnya saya mempertanyakan keefektifan adanya Semester Pendek.  Bukan karena kebosanan saya bertemu dengan orang yang sama tapi peran saya sebagai dosen sekaligus mahasiswa pada akhirnya bisa berkaca untuk menjawab pertanyaan saya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai dosen yang kejar tayang ada hal yang hilang disaat saya harus mengajar Semester Pendek.  Sulit bagi saya menjaga animo dan motivasi mahasiswa untuk tetap konsisten mengikuti kuliah disamping faktor kebosanan bahwa sebenarnya mereka telah beberapa kali mengambil matakuliah ini walau tidak lulus.Selain itupun saya sulit untuk mendidik karena saya lebih ditekankan untuk mengajar.  Mengajar agar target mereka untuk lulus dimata kuliah ini bisa terpenuhi.  Ini satu kehilangan bagi saya karena saya lebih suka memposisikan diri saya sebagai pendidik bukan pengajar.  Terlebih pengajar yang kejar tayang.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (02092008.09.36)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan kereta saat saya berlibur bersama keluarga untuk memperkenalkan Baby Sophie kepada sanak kerabat kami tersela dengan berita mengenai semester pendek.  Nafas saya seakan menjadi pendek membayangkan bahwa saya harus mengajar di Universitas Al Azhar selama 3 minggu berturut dan dalam waktu yang bersamaan sayapun harus masuk kuliah di UNJ dalam semester pendek pula.  Bedanya Semester Pendek di UAI saya harus mengajar 20 anak yang mengulang mata kuliah Dasar-dasar manajemen sementara di UNJ saya harus menguasai matakuliah Inter Cultural Management &amp; Leadership.  Mengenai kesamaannya adalah bahwa saya harus bertemu dengan orang yang sama dalam waktu tiga-empat  minggu terus menerus.  Akhirnya saya mempertanyakan keefektifan adanya Semester Pendek.  Bukan karena kebosanan saya bertemu dengan orang yang sama tapi peran saya sebagai dosen sekaligus mahasiswa pada akhirnya bisa berkaca untuk menjawab pertanyaan saya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai dosen yang kejar tayang ada hal yang hilang disaat saya harus mengajar Semester Pendek.  Sulit bagi saya menjaga animo dan motivasi mahasiswa untuk tetap konsisten mengikuti kuliah disamping faktor kebosanan bahwa sebenarnya mereka telah beberapa kali mengambil matakuliah ini walau tidak lulus.Selain itupun saya sulit untuk mendidik karena saya lebih ditekankan untuk mengajar.  Mengajar agar target mereka untuk lulus dimata kuliah ini bisa terpenuhi.  Ini satu kehilangan bagi saya karena saya lebih suka memposisikan diri saya sebagai pendidik bukan pengajar.  Terlebih pengajar yang kejar tayang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai mahasiswa yang mengikuti dua mata kuliah sore hingga jam 8 malam, kuliah semester pendek ini merupakan pengurasan energi tersendiri utamanya karena pagi hingga siang kami semua bekerja.  Matakuliahpun dipadatkan padahal ini bukanlah sesi mengulang.  Pun ditambah tugas yang tak dikurangi untuk mengejar materi.  Akibatnya semua matakuliah berlalu tanpa ada pendalaman kecuali memenuhi absensi dan pengumpulan tugas. Sayang. memang semester pendek di UNJ ini adalah percobaan untuk menyingkat waktu kuliah mahasiswa.  Mungkin bagi rekan-rekan yang masuk program ini dengan tujuan utama mendapatkan gelar hal ini bukanlah masalah besar.  namun bagi beberapa diantara kami yang menginginkan materi ini bisa kami implementasikan dan sharingkan ke anak-didik merupakan satu bencana.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa jadi ini semester pendek tahun ini merupakan hal yang berat bagi saya, karena badan saya tidak mensuport padatnya kegiatan dan banyaknya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.  Namun kembali lagi ini merupakan satu pilihan yang mau-tak mau harus saya ambil, jadi tak pantas untuk menjadi satu sesal.  Justru dibalik itu saya merasa terbiasa untuk menjalani hal berat ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/09/02/semester-pendek-memendekkan-nafas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keajaiban</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/03/03/keajaiban/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/03/03/keajaiban/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Mar 2008 06:05:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sering kali saat menggendong Baby Sophie anak saya, setiap jengkal muka dan rambutnya tak pernah luput dari pandangan saya.  Saya selalu takjub dengan keberadaan dia di gendongan saya.  Merasakan bagian lain dari diri dan cinta saya menjelma menjadi seorang bayi.  Tidak saja ketakjuban saya berhenti karena melihat kondisi fisiknya yang sehat dan menduplikasi fisik saya dan Bundanya tapi juga melihat kondisi psikisnya yang sering kali membuat saya tertawa juga terkadang kawatir berlebihan.  Satu hal yang saya syukuri adalah keberadaan dan kelonggaran waktu bagi kami untuk selalu bisa bertemu dan berkumpul hingga saya selalu bisa melihat perkembangan Baby Sophie dari waktu kewaktu.  Kalaupun saya dikantor Bundanya tak pernah lupa untuk mengirimkan photo-photo si kecil bersama perkembangannya lewat MMS.  Dan moment keajaiban itu selalu tak luput saya dapatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat 10 menit setelah Baby Sophie lahir dan saya menemuinya, saya menemui keajaiban saya yang pertama.  Baby Sophie tersenyum pada saya sembari mengeluarkan suara dan meraih uluran saya lewat tangannya yang lemah.  Diapun seakan bahagia hadir diantara kami.  Saya meneteskan airmata!  Pun ketika saya keluarkan HP untuk memotretnya dan Baby Sophie tak melepaskan pandangan dari kamera, saya jadi tergelak.  Menemui perangai Baby Sophie yang tak jauh dari sikap sadar kamera yang ada pada saya.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (20022008.17.01)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sering kali saat menggendong Baby Sophie anak saya, setiap jengkal muka dan rambutnya tak pernah luput dari pandangan saya.  Saya selalu takjub dengan keberadaan dia di gendongan saya.  Merasakan bagian lain dari diri dan cinta saya menjelma menjadi seorang bayi.  Tidak saja ketakjuban saya berhenti karena melihat kondisi fisiknya yang sehat dan menduplikasi fisik saya dan Bundanya tapi juga melihat kondisi psikisnya yang sering kali membuat saya tertawa juga terkadang kawatir berlebihan.  Satu hal yang saya syukuri adalah keberadaan dan kelonggaran waktu bagi kami untuk selalu bisa bertemu dan berkumpul hingga saya selalu bisa melihat perkembangan Baby Sophie dari waktu kewaktu.  Kalaupun saya dikantor Bundanya tak pernah lupa untuk mengirimkan photo-photo si kecil bersama perkembangannya lewat MMS.  Dan moment keajaiban itu selalu tak luput saya dapatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat 10 menit setelah Baby Sophie lahir dan saya menemuinya, saya menemui keajaiban saya yang pertama.  Baby Sophie tersenyum pada saya sembari mengeluarkan suara dan meraih uluran saya lewat tangannya yang lemah.  Diapun seakan bahagia hadir diantara kami.  Saya meneteskan airmata!  Pun ketika saya keluarkan HP untuk memotretnya dan Baby Sophie tak melepaskan pandangan dari kamera, saya jadi tergelak.  Menemui perangai Baby Sophie yang tak jauh dari sikap sadar kamera yang ada pada saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir sebulan ini begitu banyak keajaiban yang saya temui dan itu semua umumnya adalah hal pertama yang terjadi pada dia.  Seperti keluarnya air mata, usahanya untuk tidur miring, meraih mainan, mendengar suaranya, kemarahannya, hal yang dia suka dan tidak suka, termasuk saat dia mulai digundul.  Saya tak bisa melupakan bagaimana reaksi dia yang dengan cepatnya bisa ngenyot &amp; nenen dengan cepat begitu dilahirkan.  Bagitupun saat dia langsung bisa mengenyot ASI yang dimasukkan ke dalam botol dan tanpa masalah baginya untuk pindah dari nenen ke Bundanya ataupun nenen dari botol.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi tak semua keajaiban yang saya dapat membuat saya bersorak kadang malah saya kawatir seperti saat menangisnya berkepanjangan, lehernya iritasi karena keringat, kulitnya mengelupas karena pergantian, suara nafasnya berat atau saat pusarnya puput.  Untungnya semua dalam batas normal dan merupakan proses alami.  ketidaktahuan sayalah yang justru memicu kekawatiran ini. Bundanyalah yang selalu menenangkan saya begitu kebingungan saya memuncak.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa jadi keajaiban yang saya alami adalah satu proses normal yang berjalan bersama waktu perkembangan seorang anak dan umum terjadi pada anak-anak.  Namun bagi saya itu tetaplah keajaiban yang harus saya syukuri.  Dan tetaplah merupakan keajaiban karena saya tak pernah membayangkan hidup saya akan dilengkapi dan dibawa sejauh ini.  Dihadirkan bersama mereka yang saya cinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Mimpipun saya tak pernah berani membayangkan sebelumnya!<br />
Terima kasih Tuhan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/03/03/keajaiban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2008/01/16/ibu/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2008/01/16/ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jan 2008 09:39:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jauh dari<span style="color: #ff6600;"> "kehidupan Baru"</span> dalam arti terlibat di dunia tumbuh kembang balita membuat saya mempunyai pemikiran yang praktis selama ini bahwa wanita dan pria mempunyai beban yang sama utamanya dalam merawat anak. Beban yang sama berat meski punya dimensi aplikasi yang berbeda.  Saya salah! dan harus mengakui itu.  Meski dibilang tanggung jawab merawat anak sama besar namun nyatanya seorang ibu mempunyai beban fisik dan psikis yang jauh lebih berat dibanding seorang ayah.  Bahkan kondisi ini mulai berlangsung begitu dini saat anak mulai membentuk dirinya sebagai janin dalam rahim. Saya selama ini hanya tersenyum bila mendengar keluh seorang ibu yang memaparkan cerita betapa repotnya menyusui, mengasuh anak ataupun berada dalam kondisi hamil.  Senyum saya bermakna kata"kenapa repot?" karena bagaimanapun semua itu toh hal yang natural. Hal yag lazim dan sudah menjadi tanggung jawab tak terbantahkan.  Saya melihat keluhan itu bagai suatu dalih.</p>
<p style="text-align: justify;">Enam hari ini saya berjumpa dengan "kehidupan baru" itu setelah 39 minggu saya terlibat dalam kondisi kehamilan istri saya.  Saya ikut merasakan bagaimana 3 bulan pertama kehamilan merupakan kondisi yang sama-sama serba salah.  Ketidakadanya pengalaman karena merupakan satu keluarga yang baru dan kondisi psikis yang terbentuk karena perubahan hormon istri menjadi pemicu dasar yang tak bisa dihindari.  Meski bulan selanjutnya sudah mulai beradaptasi tapi menjelang tiga bulan terakhir sebelum melahirkan kembali kondisi itu muncul.   Utamanya karena perkembangan janin yang makin besar sudah tidak bisa kembali memberikan kenyamanan fisk bagi seorang ibu.  Terlebih bila dihadapkan pada kecemasan menjelang melahirkan, menjadikan situasi makin tidak konduksif.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (09012007.17.52)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jauh dari<span style="color: #ff6600;"> &#8220;kehidupan Baru&#8221;</span> dalam arti terlibat di dunia tumbuh kembang balita membuat saya mempunyai pemikiran yang praktis selama ini bahwa wanita dan pria mempunyai beban yang sama utamanya dalam merawat anak. Beban yang sama berat meski punya dimensi aplikasi yang berbeda.  Saya salah! dan harus mengakui itu.  Meski dibilang tanggung jawab merawat anak sama besar namun nyatanya seorang ibu mempunyai beban fisik dan psikis yang jauh lebih berat dibanding seorang ayah.  Bahkan kondisi ini mulai berlangsung begitu dini saat anak mulai membentuk dirinya sebagai janin dalam rahim. Saya selama ini hanya tersenyum bila mendengar keluh seorang ibu yang memaparkan cerita betapa repotnya menyusui, mengasuh anak ataupun berada dalam kondisi hamil.  Senyum saya bermakna kata&#8221;kenapa repot?&#8221; karena bagaimanapun semua itu toh hal yang natural. Hal yag lazim dan sudah menjadi tanggung jawab tak terbantahkan.  Saya melihat keluhan itu bagai suatu dalih.</p>
<p style="text-align: justify;">Enam hari ini saya berjumpa dengan &#8220;kehidupan baru&#8221; itu setelah 39 minggu saya terlibat dalam kondisi kehamilan istri saya.  Saya ikut merasakan bagaimana 3 bulan pertama kehamilan merupakan kondisi yang sama-sama serba salah.  Ketidakadanya pengalaman karena merupakan satu keluarga yang baru dan kondisi psikis yang terbentuk karena perubahan hormon istri menjadi pemicu dasar yang tak bisa dihindari.  Meski bulan selanjutnya sudah mulai beradaptasi tapi menjelang tiga bulan terakhir sebelum melahirkan kembali kondisi itu muncul.   Utamanya karena perkembangan janin yang makin besar sudah tidak bisa kembali memberikan kenyamanan fisk bagi seorang ibu.  Terlebih bila dihadapkan pada kecemasan menjelang melahirkan, menjadikan situasi makin tidak konduksif.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada kata beruntung karena istri saya melahirkan dengan caesar karena kasus <span style="color: #ff6600;">cephalo velvic disportion</span>, hingga masa mules dan pembukaan yang seringkali menjadi masa yang paling menghebohkan tidak dilalui.  Pun ketika melahirkan istri saya tidak mengalami kesakitan.  Namun itu semua harus ditebus di masa pasca melahirkan.  Disaat kondisi pasca operasi yang belum pulih benar dia harus dihadapkan untuk segera memberikan susu kepada anak kami. Kata menyusui adalah kata yang umum dan mudah.  tapi tidaklah demikian prakteknya.  Kondisi ibu yang lemah, belum keluar air susu dan belum berpengalaman berhadapan dengan kondisi bayi yang lapar namun belum mampu untuk bisa menyusu dengan benar.  Hasilnya tak jarang membawa keduanya pada tahap stress.</p>
<p style="text-align: justify;">Asi eklusif menjadi pilihan istri saya untuk si kecil.  Hal ini menjadi tantangan yang luar biasa karena bayi hanya akan mendapat asupan dari ASI saja.  Asupan yang secara rutin harus diberikan 2-3 jam sekali.  Dan, mulailah babak petualangan baru bagi seorang ibu.  Petualangan fisik untuk menahan sakit dari kondisi pasca melahirkan, kelelahan fisik karena kurangnya istirahat, sakitnya payudara karena si bayi belum bisa menyusu dengan benar dan bisa jadi bukan bayi saja yang menjadi fokus pekerjaan seorang ibu.  Wajar bila masa-masa seperti ini muncul baby blues syndrome.   Dalam situasi ini saya bisa membantu meringankan dan memotivasi istri saya namun jelas saya tak mampu untuk menggantikan peran ibu terlebih mengantikan rasa sakitnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kembali saya katakan itu tidak mudah.  Seringkali saya memposisikan diri saya bagaimana bila harus berperan menjadi seorang ibu.  Saya harus katakan saya tak yakin bisa melakukan itu semua dengan baik.  Jauh saya kembali menyadari bagaimana perjuangan seorang ibu untuk memupuk satu kehidupan.  Tak  hanya dengan air mata, peluh dan keikhlasannya namun juga nyawanya.  Deretan kata itu bukanlah satu hal yang klise namun kini kupahami benar makna dan rasanya.  Dan sungguh kuamini Kenapa Rasul menempatkan ibu dalam kemuliaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibu &#8230; terima kasih atas kehidupan ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Huny, I love you &#8230;&#8230;&#8230;&#8230; always!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2008/01/16/ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ranjau Kantong Plastik</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2007/10/22/ranjau-kantong-plastik/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2007/10/22/ranjau-kantong-plastik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Oct 2007 02:23:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Meski hari raya telah lewat tapi ternyata urusan belanja tetap harus dilakukan.   Terlebih belanja bulanan yang selalu datang di akhir bulan atau tepatnya menjelang gajian. Seperti bulan-bulan belakangan ini, satu troli akan penuh dengan berbagai keperluan untuk tiga puluh hari mulai dari urusan kaki sampai kepala melebar dari urusan penampilan hingga kesehatan.   Berbeda dengan saat aku masih bujang rupanya setelah berkeluarga urusan belanja bulanan lebih bisa terkontrol dan benar-benar antri dari keperluan pokok terlebih dulu.   Mungkin itu positifnya.  Namun tetap saja belanja banyak ataupun sedikit aku selalu dihadapkan dilema begitu sampai di depan kasir.   Bukan perkara bayar tapi perkara pembungkus! Dilema untuk membiarkan barang-barang saya dikemas oleh kasir dalam berbelas kantung plastik atau bersikap ekstrem untuk membungkus dan menganggkut sendiri barang saya dengan wadah yang telah saya siapkan dari rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Belakangan saya sadari keberadaan kantong-kantong plastik itu sangat mengganggu tidak saja mata saya tapi juga kepedulian saya.   Terlepas bahwa kantung plastik telah memberikan solusi dalam memberikan alternatif material yang awet, ringan dan murah sebagai pembungkus namun ada sisi lain yang membuat kita harus bijak memakai material ini.   Apalagi kalau bukan masalah sulitnya material ini terurai di tanah hingga menimbulkan polusi.   Terlebih lagi kota ini belum memiliki sistem pengelolaan limbah yang terpadu hingga bisa mendaur ulang sampah non organik serta belum tertanamnya kesadaran masyarakat akan kepedulian mengenai polusi plastik ini.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Sam (21102007.19.19)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Meski hari raya telah lewat tapi ternyata urusan belanja tetap harus dilakukan.   Terlebih belanja bulanan yang selalu datang di akhir bulan atau tepatnya menjelang gajian. Seperti bulan-bulan belakangan ini, satu troli akan penuh dengan berbagai keperluan untuk tiga puluh hari mulai dari urusan kaki sampai kepala melebar dari urusan penampilan hingga kesehatan.   Berbeda dengan saat aku masih bujang rupanya setelah berkeluarga urusan belanja bulanan lebih bisa terkontrol dan benar-benar antri dari keperluan pokok terlebih dulu.   Mungkin itu positifnya.  Namun tetap saja belanja banyak ataupun sedikit aku selalu dihadapkan dilema begitu sampai di depan kasir.   Bukan perkara bayar tapi perkara pembungkus! Dilema untuk membiarkan barang-barang saya dikemas oleh kasir dalam berbelas kantung plastik atau bersikap ekstrem untuk membungkus dan menganggkut sendiri barang saya dengan wadah yang telah saya siapkan dari rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Belakangan saya sadari keberadaan kantong-kantong plastik itu sangat mengganggu tidak saja mata saya tapi juga kepedulian saya.   Terlepas bahwa kantung plastik telah memberikan solusi dalam memberikan alternatif material yang awet, ringan dan murah sebagai pembungkus namun ada sisi lain yang membuat kita harus bijak memakai material ini.   Apalagi kalau bukan masalah sulitnya material ini terurai di tanah hingga menimbulkan polusi.   Terlebih lagi kota ini belum memiliki sistem pengelolaan limbah yang terpadu hingga bisa mendaur ulang sampah non organik serta belum tertanamnya kesadaran masyarakat akan kepedulian mengenai polusi plastik ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Adakala saya iseng untuk mengosongkan wadah tempat dimana keluarga saya menyimpan kantong-kantong plastik bekas untuk jaga-jaga jika perlu pembungkus atau sebagai wadah mengumpulkan sampah sebelum di buang.   Tak ada hitungan jam tempat itu telah menumpuk beberapa kantong plastik lagi.   Entah yang didapat dari pembelian bahan pokok di swalayan ataupun dari pembelian hal-hal yang sepele.   Berbagai ukuran dan warna.   Dari yang polos hingga yang digunakan sebagai promosi. Genap hitungan bulan kantong plastik itu telah menggunung. Ini baru keadaan di satu rumah tangga.   Tinggal dikalikan saja untuk ribuan rumah tangga yang ada di kota ini.  Betapa berlimpahnya sampah kantong plastik yang kita dapat.   Belum terhitung sampah plastik lain tentunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu hal menarik ternyata tukang sampah dikomplek saya yang tiap hari mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah dengan menggunakan gerobak paling enggang mengambil sampah bila sampah itu di letakkan di tempat sampah!   Maunya semua sampah telah diwadah dalam kantong plastik hingga tanpa perlu repot mereka tinggal mengambilnya dan melempar ke gerobak.Â  Praktis memang tapi pernahkah kita berfikir jauh alan efek dominonya? </p>
<p style="text-align: justify;">Sampai detik ini saya hanya bisa dengan berat menenteramkan hati untuk menerima pemahaman bahwa memang baru sampai disinilah pemahaman dan tindakan kota ini dalam menangani maslah sampah terutama sampah non organik.   Mungkin satu titik nanti saya hanya bisa berkata <strong>&#8220;coba kalau ..&#8221;</strong> saat banjir tiba atau tanah ini mulai penuh dengan ranjau plastik!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2007/10/22/ranjau-kantong-plastik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Welcome To SamRoads!</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2007/09/25/welocome-to-samroads/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2007/09/25/welocome-to-samroads/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 04:55:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Konsep Integrated Blog yang aku gulirkan untuk mendapatkan media dengan segmen yang tepat bagi tulisan dan pic-ku pada akhirnya sampai di satu titik.  Titik dimana semua konsep telah berada di akhir perjalanan tinggal menunggu hasil terjemahannya ke real medianya.  Dan tidak ingin menunggu waktu lama secara paralel web developmentpun telah  mulai dikerjakan oleh <a href="http://samroads.be-samyono.com/www.kerlipbintang.com" target="_blank">Kerlip Bintang</a> dan kini bola panas</p>
<p style="text-align: justify;">kembali terlempar ke aku sebagai pengisi konten media ini  untuk mulai aktif dan tidak membiarkan media yang ada hanya sebagai wadah tanpa isi juga tanpa makna. Titik itu juga tiba pada satu keputusan untuk lebih men-segmen semua tulisan.  Dengan Merujuk ilmu marketing, aku berupaya membuat diferensiasi produk dari produk yang dulunya general tercampur dalam satu media.  Tujuannya satu hal yang jelas yaitu tercapainya satu produk yang segmented dan mengambil ceruk yang spesifik hingga tercipta satu keunikan.  Bila dulunya hanya ada <strong>SAMWORDS</strong> untuk berbagai macam konten, sekarang masing-masing konten terdifersifikasi di beberapa web yang spesifik secara terintegrated.  Artinya telah ada <strong>SAMLENS, SAMBIZZ</strong>, dan <strong>SAMROADS</strong> yang menyusul dan terhimpun dalam satu gerbang website <strong>BE-SAMYONO.COM</strong>.  Artinya konsumen dalam hal ini pembaca/pengunjung sebenarnya tidak perlu pusing dengan banyaknya produk yang ada, karena masing-masing web yang spesifik bisa diakses lewat satu gerbang website <strong>(BE-SAMYONO.COM),</strong> selain adanya kemudahan untuk berjalan dari satu web spesifik ke web spesifik lainnya karena masing-masing telah di-link dalam satu menu.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Sam (25092007.10.00)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Konsep Integrated Blog yang aku gulirkan untuk mendapatkan media dengan segmen yang tepat bagi tulisan dan pic-ku pada akhirnya sampai di satu titik.  Titik dimana semua konsep telah berada di akhir perjalanan tinggal menunggu hasil terjemahannya ke real medianya.  Dan tidak ingin menunggu waktu lama secara paralel web developmentpun telah  mulai dikerjakan oleh <a href="http://samroads.be-samyono.com/www.kerlipbintang.com" target="_blank">Kerlip Bintang</a> dan kini bola panas</p>
<p style="text-align: justify;">kembali terlempar ke aku sebagai pengisi konten media ini  untuk mulai aktif dan tidak membiarkan media yang ada hanya sebagai wadah tanpa isi juga tanpa makna. Titik itu juga tiba pada satu keputusan untuk lebih men-segmen semua tulisan.  Dengan Merujuk ilmu marketing, aku berupaya membuat diferensiasi produk dari produk yang dulunya general tercampur dalam satu media.  Tujuannya satu hal yang jelas yaitu tercapainya satu produk yang segmented dan mengambil ceruk yang spesifik hingga tercipta satu keunikan.  Bila dulunya hanya ada <strong>SAMWORDS</strong> untuk berbagai macam konten, sekarang masing-masing konten terdifersifikasi di beberapa web yang spesifik secara terintegrated.  Artinya telah ada <strong>SAMLENS, SAMBIZZ</strong>, dan <strong>SAMROADS</strong> yang menyusul dan terhimpun dalam satu gerbang website <strong>BE-SAMYONO.COM</strong>.  Artinya konsumen dalam hal ini pembaca/pengunjung sebenarnya tidak perlu pusing dengan banyaknya produk yang ada, karena masing-masing web yang spesifik bisa diakses lewat satu gerbang website <strong>(BE-SAMYONO.COM),</strong> selain adanya kemudahan untuk berjalan dari satu web spesifik ke web spesifik lainnya karena masing-masing telah di-link dalam satu menu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perubahan yang mencolok terdapat pada <strong>SAMWORDS</strong>.  Dua tahun <strong>SAMWORDS </strong>jadi media general untuk semua tema tulisan meski di pertengahan tahun pertama akhirnya dipersempit menjadi 3 kategori.  Konsep baru menempatkan <strong>SAMWORDS</strong> sebagai media FIKSI dimana semua konten yang ada di dalamnya hanya berupa karya fiksi.  Konten LIFE STYLE diambil alih oleh <strong>SAMROADS</strong>, konten BISNIS oleh <strong>SAMBIZZ</strong> dan <strong>SAMLENS</strong> tetap pada segmennya untuk memegang konten PHOTOGRAPY.  Bila sebelumnya <strong>SAMWORDS</strong> dan <strong>SAMLENS</strong> memanfaatkan media blogspot yang gratis maka <strong>SAMBIZZ</strong> dan <strong>SAMROADS</strong> menggunakan basis wordspress dengan memakai domain dan hosting tersendiri yang tentunya tidak lagi free.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika menengok kebelakang dua tahun lalu saat <strong>SAMWORDS</strong> di develop aku tak pernah membayangkan bahwa langkahku akan sejauh ini.  Saat itu pikiran sederhana hanya bagaimana menjadi user yang aktif untuk media blog gratisan yang bernama blogspot.  Karena aku berada jauh dari kata tahu apalagi mengerti mengenai semua bentuk sistem ataupun program mengenai website.  Hingga keterlibatanku hanya aku batasi sejauh kata user semata.  Perkembangan akhirnya membawa pada satu kenyataan dan mengaminan bahwa kekuatan media online ini bukanlah satu trend semata tapi juga merupakan satu potensi yang akan merajai bentuk interaksi maupun bisnis dimasa mendatang.  Aku mulai menggeser peranku sebagai user aktif menjadi user pro aktif dimana keingintahuanku mengenai sistem dan pemrograman menjadi pembelajaran secara real.  Sederhananya project personal blog ini adalah project pembelajaranku.  Dan bisnis blog adalah bidikanku selanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>So Welcome to My Life Style Blog,</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Welcome to SAMROADS !!!</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2007/09/25/welocome-to-samroads/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Technorati Claim</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2007/05/30/technorati-claim/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2007/05/30/technorati-claim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 May 2007 05:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[srd5pjutqv
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>srd5pjutqv</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2007/05/30/technorati-claim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

