Sering kali saat menggendong Baby Sophie anak saya, setiap jengkal muka dan rambutnya tak pernah luput dari pandangan saya. Saya selalu takjub dengan keberadaan dia di gendongan saya. Merasakan bagian lain dari diri dan cinta saya menjelma menjadi seorang bayi. Tidak saja ketakjuban saya berhenti karena melihat kondisi fisiknya yang sehat dan menduplikasi fisik saya dan Bundanya tapi juga melihat kondisi psikisnya yang sering kali membuat saya tertawa juga terkadang kawatir berlebihan. Satu hal yang saya syukuri adalah keberadaan dan kelonggaran waktu bagi kami untuk selalu bisa bertemu dan berkumpul hingga saya selalu bisa melihat perkembangan Baby Sophie dari waktu kewaktu. Kalaupun saya dikantor Bundanya tak pernah lupa untuk mengirimkan photo-photo si kecil bersama perkembangannya lewat MMS. Dan moment keajaiban itu selalu tak luput saya dapatkan.
Saat 10 menit setelah Baby Sophie lahir dan saya menemuinya, saya menemui keajaiban saya yang pertama. Baby Sophie tersenyum pada saya sembari mengeluarkan suara dan meraih uluran saya lewat tangannya yang lemah. Diapun seakan bahagia hadir diantara kami. Saya meneteskan airmata! Pun ketika saya keluarkan HP untuk memotretnya dan Baby Sophie tak melepaskan pandangan dari kamera, saya jadi tergelak. Menemui perangai Baby Sophie yang tak jauh dari sikap sadar kamera yang ada pada saya.[.......]
Jauh dari “kehidupan Baru” dalam arti terlibat di dunia tumbuh kembang balita membuat saya mempunyai pemikiran yang praktis selama ini bahwa wanita dan pria mempunyai beban yang sama utamanya dalam merawat anak. Beban yang sama berat meski punya dimensi aplikasi yang berbeda. Saya salah! dan harus mengakui itu. Meski dibilang tanggung jawab merawat anak sama besar namun nyatanya seorang ibu mempunyai beban fisik dan psikis yang jauh lebih berat dibanding seorang ayah. Bahkan kondisi ini mulai berlangsung begitu dini saat anak mulai membentuk dirinya sebagai janin dalam rahim. Saya selama ini hanya tersenyum bila mendengar keluh seorang ibu yang memaparkan cerita betapa repotnya menyusui, mengasuh anak ataupun berada dalam kondisi hamil. Senyum saya bermakna kata”kenapa repot?” karena bagaimanapun semua itu toh hal yang natural. Hal yag lazim dan sudah menjadi tanggung jawab tak terbantahkan. Saya melihat keluhan itu bagai suatu dalih.
Enam hari ini saya berjumpa dengan “kehidupan baru” itu setelah 39 minggu saya terlibat dalam kondisi kehamilan istri saya. Saya ikut merasakan bagaimana 3 bulan pertama kehamilan merupakan kondisi yang sama-sama serba salah. Ketidakadanya pengalaman karena merupakan satu keluarga yang baru dan kondisi psikis yang terbentuk karena perubahan hormon istri menjadi pemicu dasar yang tak bisa dihindari. Meski bulan selanjutnya sudah mulai beradaptasi tapi menjelang tiga bulan terakhir sebelum melahirkan kembali kondisi itu muncul. Utamanya karena perkembangan janin yang makin besar sudah tidak bisa kembali memberikan kenyamanan fisk bagi seorang ibu. Terlebih bila dihadapkan pada kecemasan menjelang melahirkan, menjadikan situasi makin tidak konduksif.[.......]
Meski hari raya telah lewat tapi ternyata urusan belanja tetap harus dilakukan. Terlebih belanja bulanan yang selalu datang di akhir bulan atau tepatnya menjelang gajian. Seperti bulan-bulan belakangan ini, satu troli akan penuh dengan berbagai keperluan untuk tiga puluh hari mulai dari urusan kaki sampai kepala melebar dari urusan penampilan hingga kesehatan. Berbeda dengan saat aku masih bujang rupanya setelah berkeluarga urusan belanja bulanan lebih bisa terkontrol dan benar-benar antri dari keperluan pokok terlebih dulu. Mungkin itu positifnya. Namun tetap saja belanja banyak ataupun sedikit aku selalu dihadapkan dilema begitu sampai di depan kasir. Bukan perkara bayar tapi perkara pembungkus! Dilema untuk membiarkan barang-barang saya dikemas oleh kasir dalam berbelas kantung plastik atau bersikap ekstrem untuk membungkus dan menganggkut sendiri barang saya dengan wadah yang telah saya siapkan dari rumah.
Belakangan saya sadari keberadaan kantong-kantong plastik itu sangat mengganggu tidak saja mata saya tapi juga kepedulian saya. Terlepas bahwa kantung plastik telah memberikan solusi dalam memberikan alternatif material yang awet, ringan dan murah sebagai pembungkus namun ada sisi lain yang membuat kita harus bijak memakai material ini. Apalagi kalau bukan masalah sulitnya material ini terurai di tanah hingga menimbulkan polusi. Terlebih lagi kota ini belum memiliki sistem pengelolaan limbah yang terpadu hingga bisa mendaur ulang sampah non organik serta belum tertanamnya kesadaran masyarakat akan kepedulian mengenai polusi plastik ini.[.......]
Konsep Integrated Blog yang aku gulirkan untuk mendapatkan media dengan segmen yang tepat bagi tulisan dan pic-ku pada akhirnya sampai di satu titik. Titik dimana semua konsep telah berada di akhir perjalanan tinggal menunggu hasil terjemahannya ke real medianya. Dan tidak ingin menunggu waktu lama secara paralel web developmentpun telah mulai dikerjakan oleh Kerlip Bintang dan kini bola panas
kembali terlempar ke aku sebagai pengisi konten media ini untuk mulai aktif dan tidak membiarkan media yang ada hanya sebagai wadah tanpa isi juga tanpa makna. Titik itu juga tiba pada satu keputusan untuk lebih men-segmen semua tulisan. Dengan Merujuk ilmu marketing, aku berupaya membuat diferensiasi produk dari produk yang dulunya general tercampur dalam satu media. Tujuannya satu hal yang jelas yaitu tercapainya satu produk yang segmented dan mengambil ceruk yang spesifik hingga tercipta satu keunikan. Bila dulunya hanya ada SAMWORDS untuk berbagai macam konten, sekarang masing-masing konten terdifersifikasi di beberapa web yang spesifik secara terintegrated. Artinya telah ada SAMLENS, SAMBIZZ, dan SAMROADS yang menyusul dan terhimpun dalam satu gerbang website BE-SAMYONO.COM. Artinya konsumen dalam hal ini pembaca/pengunjung sebenarnya tidak perlu pusing dengan banyaknya produk yang ada, karena masing-masing web yang spesifik bisa diakses lewat satu gerbang website (BE-SAMYONO.COM), selain adanya kemudahan untuk berjalan dari satu web spesifik ke web spesifik lainnya karena masing-masing telah di-link dalam satu menu.[.......]






