<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SamRoads - It&#039;s Just Some Inspiration In My Private Roads</title>
	<atom:link href="http://samroads.be-samyono.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://samroads.be-samyono.com</link>
	<description>private, journey, words, thinking, jurnal, baby, renungan, pengalaman, sophie, perjalanan, kata, inspirasi, opini, catatan, pribadi, pemikiran, oppinion, kinanthi, ayah bunda</description>
	<lastBuildDate>Mon, 05 Mar 2012 07:40:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Sunway Lagoon: Liburan Khusus Untuk Sophie</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2012/03/05/sunway-lagoon-liburan-khusus-untuk-sophie/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2012/03/05/sunway-lagoon-liburan-khusus-untuk-sophie/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2012 07:38:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Lepas dari Melaka Mei 2010 lalu, saya menyerahkan jadwal liburan kepada anggota perjalanan.  Saya menawarkan untuk memberi waktu yang bebas untuk memilih tempat yang mereka sukai.  Saya sepakat untuk memberikan waktu di KL untuk kesenangan Sophie.  Beberapa kali ke KL membuat saya enggan untuk mengunjungi tempat tujuan standart.  Saya menunjuk sunway lagoon, kolam waterboom untuk memberikan kesenangan buat Sophie sepanjang hari selama hari ke 3 di KL.  Sophie sendiri terlihat bersemangat mendengar kata renang.  Dan mulai tak sabar meski kami baru bisa melakukannya keesokan harinya.  Perjalanan dari Melaka cukup jauh.  Kami menyinggahi Putrajaya dan makan siang disana sebelum merapat di KL dan menginap di Le Meridien, hotel yang terletak tepat di jantung bukit bintang berseberangan dengan Berjaya Time Square.</p>

<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="384" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="name" value="WebshotsSlideshowPlayer" /><param name="flashvars" value="playList=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2Fslideshow%2Fmeta%2F582370607pgTBtP%3Finline%3Dtrue&#38;inlineUrl=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2FinlinePhoto%3FalbumId%3D582370607%26src%3Ds%26referPage%3Dhttp%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370607pgTBtP&#38;postRollContent=http%3A%2F%2Fp.webshots.com%2Fflash%2Fws_postroll.swf&#38;shareUrl=http%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370607pgTBtP&#38;audio=on&#38;audioVolume=33&#38;autoPlay=false&#38;transitionSpeed=5&#38;startIndex=0&#38;panzoom=on&#38;deployed=true" /><param name="src" value="http://p.webshots.com/flash/smallslideshow.swf" /><param name="wmode" value="opaque" /><param name="quality" value="best" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="384" src="http://p.webshots.com/flash/smallslideshow.swf" quality="best" wmode="opaque" flashvars="playList=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2Fslideshow%2Fmeta%2F582370607pgTBtP%3Finline%3Dtrue&#38;inlineUrl=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2FinlinePhoto%3FalbumId%3D582370607%26src%3Ds%26referPage%3Dhttp%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370607pgTBtP&#38;postRollContent=http%3A%2F%2Fp.webshots.com%2Fflash%2Fws_postroll.swf&#38;shareUrl=http%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370607pgTBtP&#38;audio=on&#38;audioVolume=33&#38;autoPlay=false&#38;transitionSpeed=5&#38;startIndex=0&#38;panzoom=on&#38;deployed=true" name="WebshotsSlideshowPlayer"></embed></object>
<p style="text-align: center;"><a href="http://travel.webshots.com/album/582370607pgTBtP">Sunway</a></p>
<p style="text-align: justify;">Inilah kelebihan berwisata di malaysia.  Rate hotel tidaklah segila di Singapore.  Meski pelayanan tidaklah se-exelent di Indonesia namun harganya bisa dibilang lumayan murah.  Sayangnya soal makanan tidak bisa berharap lebih di KL.  Rasanya jauh dibawah rata-rata.  Saya sering pusing terutama saat membawa anak atau harus berhadapan dengan menu India.  Kondisi KL yang tak jauh beda dengan jakarta dalam soal budaya inilah yang cukup membuat mengunjungi KL serasa balik kampung.  Malah bisa dibilang lebih memilih kemari daripada ke jogja malah.  Apalagi kalau bukan harga tiket yang menjadi parameter [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">By Be Samyono (019022012-10:19)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lepas dari Melaka Mei 2010 lalu, saya menyerahkan jadwal liburan kepada anggota perjalanan.  Saya menawarkan untuk memberi waktu yang bebas untuk memilih tempat yang mereka sukai.  Saya sepakat untuk memberikan waktu di KL untuk kesenangan Sophie.  Beberapa kali ke KL membuat saya enggan untuk mengunjungi tempat tujuan standart.  Saya menunjuk sunway lagoon, kolam waterboom untuk memberikan kesenangan buat Sophie sepanjang hari selama hari ke 3 di KL.  Sophie sendiri terlihat bersemangat mendengar kata renang.  Dan mulai tak sabar meski kami baru bisa melakukannya keesokan harinya.  Perjalanan dari Melaka cukup jauh.  Kami menyinggahi Putrajaya dan makan siang disana sebelum merapat di KL dan menginap di Le Meridien, hotel yang terletak tepat di jantung bukit bintang berseberangan dengan Berjaya Time Square.</p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="384" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="name" value="WebshotsSlideshowPlayer" /><param name="flashvars" value="playList=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2Fslideshow%2Fmeta%2F582370607pgTBtP%3Finline%3Dtrue&amp;inlineUrl=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2FinlinePhoto%3FalbumId%3D582370607%26src%3Ds%26referPage%3Dhttp%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370607pgTBtP&amp;postRollContent=http%3A%2F%2Fp.webshots.com%2Fflash%2Fws_postroll.swf&amp;shareUrl=http%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370607pgTBtP&amp;audio=on&amp;audioVolume=33&amp;autoPlay=false&amp;transitionSpeed=5&amp;startIndex=0&amp;panzoom=on&amp;deployed=true" /><param name="src" value="http://p.webshots.com/flash/smallslideshow.swf" /><param name="wmode" value="opaque" /><param name="quality" value="best" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="384" src="http://p.webshots.com/flash/smallslideshow.swf" quality="best" wmode="opaque" flashvars="playList=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2Fslideshow%2Fmeta%2F582370607pgTBtP%3Finline%3Dtrue&amp;inlineUrl=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2FinlinePhoto%3FalbumId%3D582370607%26src%3Ds%26referPage%3Dhttp%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370607pgTBtP&amp;postRollContent=http%3A%2F%2Fp.webshots.com%2Fflash%2Fws_postroll.swf&amp;shareUrl=http%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370607pgTBtP&amp;audio=on&amp;audioVolume=33&amp;autoPlay=false&amp;transitionSpeed=5&amp;startIndex=0&amp;panzoom=on&amp;deployed=true" name="WebshotsSlideshowPlayer"></embed></object></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://travel.webshots.com/album/582370607pgTBtP">Sunway</a></p>
<p style="text-align: justify;">Inilah kelebihan berwisata di malaysia.  Rate hotel tidaklah segila di Singapore.  Meski pelayanan tidaklah se-exelent di Indonesia namun harganya bisa dibilang lumayan murah.  Sayangnya soal makanan tidak bisa berharap lebih di KL.  Rasanya jauh dibawah rata-rata.  Saya sering pusing terutama saat membawa anak atau harus berhadapan dengan menu India.  Kondisi KL yang tak jauh beda dengan jakarta dalam soal budaya inilah yang cukup membuat mengunjungi KL serasa balik kampung.  Malah bisa dibilang lebih memilih kemari daripada ke jogja malah.  Apalagi kalau bukan harga tiket yang menjadi parameter.</p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan ke Sunway lagoon dipagi hari diawali dengan berita buruk karena mobil sewaan kami menabrak penghalang parkir karena tak terlihat.  Cukup parah.  Namun kami ingin segera melupakannya. Takut malah merusak mood kami.  Waktu mengambil arahpun kami keliru mengambil arah menjauh lewat tunel bawah tanah sepanjang lebih dari 10 KM.  Meski satu keputusan yang salah cukup kami syukuri melihat kemampuan negeri jiran ini mampu membangun proyek spektakuler untuk ukuran jakarta ini. Perjalanan 1,5 jam kami tempuh untuk sampai disana.  Rombonganpun terpisah dan kesenagan bersama Sophiepun dimulai.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tiket yang dibandrol antara Rp 200 ribuan perorang untuk menikmati 3 park sophie kembali terlihat tidak sabar untuk segera berenang.  Sejatinya Sunway adalah waterboom terpadu yang memadukan kolam renang hiburan dengan beberapa wahana lain seperti screem park, amusement park, wild life park dan ekstrem park.  Terletak di satu lembah yang dikelilingi hotel dan mall Sunway. Sunways lagoon terkesan sangat menarik, luas dan terpadu.  Sayang beberapa petunjuk kurang jelas hingga kami kebingungan dan tersesat saat di wild park. Belum lagi kurangnya petugas yang memberikan informasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sengaja saya giring Sophie untuk menikmati hewan-hewan jinak yang berkeliaran di wild park.  Saya cukup bangga pola didik kami membuat sophie tak takut akan banyak hal remeh.  Termasuk untuk memegang  beberapa binatang dan serangga.  Taman inipun memebri sentuhan beda.  Bagaimana ayam, unggas, merpati dan merak yang dilepas memberi kebebasan bagi pengunjung untuk berinteraksi.  Puas dengan wild park kami menuju water park.  Tak beda dengan waterpark di jakarta Sunway dilengkapi juga dengan beberapa wahana air yng berbeda-beda bahkan ada kolam yang ditata persis seperti tepi pantai dan beberapa kolam main bertema yang bertebaran. Ini semua dunia sophie.  Seperti tak puas dia menikmati berbagai pancuran dan perosotan meski saya dan bundanya kadang merasakan kekawatiran. Terlnih bila dia memaksa untuk bermain seluncuran di tempat yang seharusnya bukan di usianya.  Kecapeanpun tak terlihat.  Kolam ombak dan kolam pantaipun sudah dicoba semuanya namun Sophie merasa disinilah tempatnya hingga baru setelah tubuhnya menggigil mulai kisut dan biru kesenangan ini harus dihentikan. Meski beberapa teman memberi komentar bahwa Sunway Lagoon tak ada improvement dari beberapa tahun lalu namun sebagai pusat hiburan terpadu Sunway Lagoon punya nilai lebih dalam manajemen dan mampu untuk menjual produknya melebihin batasan regional. Ini kelebihan yang patut dicontoh beberapa pusat hiburan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kembali kemobil hujan menyambut kami hingga perjalanan ke hotel.  Lelah puas dan senang terlihat dari wajah Sophie.  Hebatnya dia mampu untuk menikmati ini semua tanpa rengekan.  Sisa hari ini hanya untuk menikamti makan malam dan berkemas untuk kembali ke jakarta besok sore.  Ada PR untuk menanggung biaya mobil yang rusak hingga memutuskan untuk kembali le LCCT dengan menyewa mobil dari hotel yang memuat bawaan kami yang mulai membengkak dan beranak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada satu agenda kami sebenarnya saat hari terakhir. Menikmati city tour dengan bus hoop on hoop off. Sayang saat kami mencapai tiket box bus barusaja berjalan hingga harus menunggu 1 jam berikutnya untuk bisa naik.  Kami putuskan untuk keliling dengan taksi dan kembali kehotel menunggu waktu di Bandara.  Terlihat Sophie cukup capek menikmati beberapa hari liburan kali.  Dipesawat dia segera tertidur setalah memasangkan sabuk pengaman di pinggangnya.  Dia sudah bisa duduk sendiri dan tahu aturan penerbangan. Tidak takut guncangan pesawat dan sangat menikmati awan di seberang sana.  Mungkin sebentar lagi dia bisa untuk diajak bepergian secara backpacker.  Toss&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2012/03/05/sunway-lagoon-liburan-khusus-untuk-sophie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelaran Il Divo: Jakarta Live Concert</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2012/02/27/gelaran-il-divo-jakarta-live-concert/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2012/02/27/gelaran-il-divo-jakarta-live-concert/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Feb 2012 01:17:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=335</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bila menilik sudah 3 kali Il Divo konser di Jakarta. Bisa dipastikan ada pasar yang kuat akan musik bergenre pop-opera ini di sini.  Sebagai salah satu penggemar saya sangat berharap bisa menontonnya. Namun, Tidak di Jakarta.  Kenapa?.  Ketiga konser itu selalu dilakukan di hotel!.  Di benak saya hanya gedung opera saja yang mampu memberikan kenikmatan optimal menonton pertunjukan langka bin bertiket mahal ini.  Jelas hotel bukanlah tempat yang sempurna.  Tidak saja masalah akustik namun juga layout tempat duduknya.  Beberapa kali saya alami harus pulang dengan membawa kesesalan karena selalu saja tempat menjadi faktor pemoles ketidakmaksimalan performance. Mungkin harapan saya termasuk konyol bila ingin menikmati pertunjukan seperti bayangan saya.  Karena sejauh jakarta tidak mempunyai gedung pertunjukan musik dengan dukungan akustik yang layak, jelas saya hanya bermimpi. Wajar bila tiga kali pertunjukan membuat saya berfikir 3 kali pula untuk merogoh kocek saya.  Ujung-ujungnya saya menunggu konser tersebut digelar di Singapore.  Tempat paling dekat untuk di effort.</p>

<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/W6jWZuq3jLE" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/W6jWZuq3jLE"></embed></object>

<span style="text-align: justify;">Entah hujan darimana tiba-tiba saya mendapatkan 2 tiket Gratis menonton Il Divo di Ritz Carlton 25 Februari lalu.  Antara kesenangan dan raguan saya terima tiket ini sangat berterima kasih.  Saya yakin tak akan tersiakan karena Istri saya sama sukanya dengan Il Divo.  Dirumahpun tak ada album koleksi Il Divo yang luput untuk dibeli. (kecuali album chrismast yang tidak beredar disini).  Saya pribadi lebih memilih melihat konsert seperti ini tidak saja karena musik yang jelas saya suka namun pasti sudah ada kepastian tempat dan juga nomor tempat duduknya.  Satu lagi. Tidak berdiri berdesakan hahahaha [.......]</span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">By Be Samyono (026022012-11:11)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bila menilik sudah 3 kali Il Divo konser di Jakarta. Bisa dipastikan ada pasar yang kuat akan musik bergenre pop-opera ini di sini.  Sebagai salah satu penggemar saya sangat berharap bisa menontonnya. Namun, Tidak di Jakarta.  Kenapa?.  Ketiga konser itu selalu dilakukan di hotel!.  Di benak saya hanya gedung opera saja yang mampu memberikan kenikmatan optimal menonton pertunjukan langka bin bertiket mahal ini.  Jelas hotel bukanlah tempat yang sempurna.  Tidak saja masalah akustik namun juga layout tempat duduknya.  Beberapa kali saya alami harus pulang dengan membawa kesesalan karena selalu saja tempat menjadi faktor pemoles ketidakmaksimalan performance. Mungkin harapan saya termasuk konyol bila ingin menikmati pertunjukan seperti bayangan saya.  Karena sejauh jakarta tidak mempunyai gedung pertunjukan musik dengan dukungan akustik yang layak, jelas saya hanya bermimpi. Wajar bila tiga kali pertunjukan membuat saya berfikir 3 kali pula untuk merogoh kocek saya.  Ujung-ujungnya saya menunggu konser tersebut digelar di Singapore.  Tempat paling dekat untuk di effort.</p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/W6jWZuq3jLE" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/W6jWZuq3jLE"></embed></object></p>
<p><span style="text-align: justify;">Entah hujan darimana tiba-tiba saya mendapatkan 2 tiket Gratis menonton Il Divo di Ritz Carlton 25 Februari lalu.  Antara kesenangan dan raguan saya terima tiket ini sangat berterima kasih.  Saya yakin tak akan tersiakan karena Istri saya sama sukanya dengan Il Divo.  Dirumahpun tak ada album koleksi Il Divo yang luput untuk dibeli. (kecuali album chrismast yang tidak beredar disini).  Saya pribadi lebih memilih melihat konsert seperti ini tidak saja karena musik yang jelas saya suka namun pasti sudah ada kepastian tempat dan juga nomor tempat duduknya.  Satu lagi. Tidak berdiri berdesakan hahahaha.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Kami datang pukul 7,  satu jam sebelum pertunjukan dimulai.  Ritz Carlton Pacific Place Ballroom sudah mulai dipadati penonton.  Tak ketinggalan belasan calo ikut memberi warna muram dunia pertunjukan Indonesia.  Saya tergeleng-geleng.  Penjagaan cukup ketat meski tidak seprofesional pertunjukan Broadway yang pernah saya tonton di Sands Teather MBS. Di lobby branding dan kegiatan salah satu sponsor cukup mencolok untuk event gelaran Big Daddy Organizer ini.  Sayang kami tak menemulan Stand poster pertunjukan yang biasa digunakan untuk berphoto.  Kamipun memutuskan masuk ke Ballroom.  Seperti bayangan saya.  Ballroom ini dipenuhi 1500 tempat duduk dengan tatanan classes menghadap depan.  Separo ruang untuk tiket Gold dan VIP dan selebihnya untuk silver.  Khusus untuk silver tempat duduk ditempatkan di panggung yang ditinggikan 1 M.  Sementara tampak di depan tatanan panggung tak ada yang bisa dibilang spektakuler.</p>
<p style="text-align: justify;">Kursi Silver E28 saya berada di baris ke 5 dari depan dan deret ke 3 dari sisi kiri.  Saya sedikit kecewa.  Pemandangan ke panggung tidaklah maksimal.  Problem yang sama untuk semua kursi silver kecuali yang berada di baris depan.  Termasuk juga bagi kursi gold di ujung belakang.  Maklum semua penataan tidak berbentuk amphitheater.  Satu-satunya penolong hanyalah screen besar di kanan kiri panggung yang karena keterbatasan tinggi ruang menjadikannya tidak maksimal juga.  Harapan selanjutnya hanya pada akustik.  Semoga bisa memberikan kepuasan lebih.  Saya lihat Sinyal HP saya meredup dan mati. Bisa dipastikan pertunjukan akan dimulai sebentar lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Lepas dari keterlambatan 17 menit, konser ini dibuka dengan lagu menawan “come what may” dan diteruskan dari beberapa lagu baru dari album gress mereka “Wicked game”.  Angin pembuka ini terasa sangat adem ayem.  Bisa jadi lagu baru belum memberikan tautan hati yang cukup mendalam bagi penonton, meski secara vokal dan dan kepiawaian harmoni begitu indah tercipta.  Kematangan  Sebastian Izambard (penyanyi pop asal Perancis), Carlos Marin (penyanyi bersuara bariton berkebangsaan Spanyol), David Miller (penyanyi bersuara tenor asal Amerika Serikat), dan Urs Buhler (penyanyi bersuara tenor dari Swiss) sangat padu dan matang di kolaborasi mereka 8 tahun ini.  Saya cukup resah di kursi saya.  Pemandangan kedepan tidak maksimal, juga ke screen.  Akustikpun seakan menempatkan kami diluar ruang.  Meski penampilan mereka sangat sempurna namun jelas ruang ini tidak di desain untuk satu akustik yang sempurna.  Pun background animasi yang ada.  Sama sekali tidak maksimal.  Hasilnya saya hanya bisa berkata “Jangan jangan jalan terbaik menikmatinya adalah duduk sambil memejamkan mata dan meresapi setiap melodinya”. Saya putus asa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kegalauan saya tak lama, saat suasana yang di lead dari pusat panggung semakin cair.  Terlebih munculnya lagu-lagu yang cukup kami kenal seperti passera, halleluyah dan sederet lagu lama lainnya. Penonton semakin panas.  Lagu mama, regresi a mi, hingga kesukaan kami, every time I look at you muncul dalam olahan titi nada yang sangat persis dengan recording baik suara maupun instrumen yang dimainkan.  Sungguh merupakan ketakjuban atas performance yang luar biasa ini, atas keprimaaan kualitas suara mereka.  Saya tak kuasa memberikan tepukan panjang dan beberapa kali berdiri. Setelah jeda 20 menitpun tidak menurunkan performa mereka. Malah dialog dengan penonton mulai mengalir dan berhasil dibangun.   Saya memang tidak menemukan keseluruhan penonton cukup antusias dengan konser ini.  Apakah masalah bahasa yang digunakan (latin) atau memang tidak semua yang hadir  datang dengan satu tujuan, menikmati musik klasik. Sayang konser ini yang menghadirkan 20 an lagu ini harus diakhiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu kalimat penutup yang manis dari Carlos, “Il divo bukanlah musik opera juga bukan pop dia berada (place) diantaranya.  Dan yang lebih penting dari itu adalah bagaimana dia telah berada di satu tempat (place) di hati kita, dihati kita semua” dan mengalumlah lagu Somewhere yang melancolis itu.  Kembali kami bagaikan tersihir dan harus disadari ini lagu terakhir. Tepuk berkepanjangan mengakhiri penampilan mereka namun sepertinya tepukan ini tidak segera usai malah makin gemuruh meneriakkan kata “We want more” berulang.  Panggung yang meredup seperti tak mendengar demikian juga Orkestra yang mengiringi tetap tak bergeming.  Suara saya ikut parau meneriakkannya.  Hingga&#8230; Orkestra kembali mengalun perlahan dari lagu “It’s time to say goodbye” benera-benar menjadi bonus dan memberikan perpisahan terakhir.  Wuah kami terpuaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya hanya berkata kecil kepada istri saya, “kita akan menontonnya lagi, tapi tidak <strong><span style="color: #ff6600;">Di SINI</span></strong>,”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2012/02/27/gelaran-il-divo-jakarta-live-concert/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melaka Si Kota Tua</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2012/02/24/melaka-si-kota-tua/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2012/02/24/melaka-si-kota-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Feb 2012 03:06:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Resiko.  Mesti bisa dibilang murah hingga (Rp 0,-). Namun waktu keberangkatan yang jauh bulan memungkinkan Tiket AirAsia yang sudah kita pegang mempunyai resiko tidak berangkat.  Itulah yang terjadi saat kami mendapat tiket serupa ke Bangkok yang berangkat Mei 2010 lalu. Pergolakan kaos merah yang membuat Thailand keamanannya diragukan  menjadikan penerbangan AirAsia ke negara gajah putih di batalkan.  Pihak Air Asia cukup bertanggungjawab dengan mengembalikan tiket dengan beberapa option seperti re-route, re-schedule ataupun dikembalikan dalam bentuk deposit.  Bukan perkara uang kembali tapi kegembiraan yang hampir setahun ditunggu seakan menguap begitu saja.  Terlebih bisa jadi ini kali terakhir penerbangan low budget ini memberikan promo fantastik seperti ini.  Tak ingin kecewa sayapun mengubah tujuan liburan ke Malaka &#38; KL (lagi) untuk perjalanan  setengah tahun kemudian.</p>

<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="384" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="name" value="WebshotsSlideshowPlayer" /><param name="flashvars" value="playList=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2Fslideshow%2Fmeta%2F582369345VwpZzI%3Finline%3Dtrue&#38;inlineUrl=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2FinlinePhoto%3FalbumId%3D582369345%26src%3Ds%26referPage%3Dhttp%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582369345VwpZzI&#38;postRollContent=http%3A%2F%2Fp.webshots.com%2Fflash%2Fws_postroll.swf&#38;shareUrl=http%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582369345VwpZzI&#38;audio=on&#38;audioVolume=33&#38;autoPlay=false&#38;transitionSpeed=5&#38;startIndex=0&#38;panzoom=on&#38;deployed=true" /><param name="src" value="http://p.webshots.com/flash/smallslideshow.swf" /><param name="wmode" value="opaque" /><param name="quality" value="best" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="384" src="http://p.webshots.com/flash/smallslideshow.swf" quality="best" wmode="opaque" flashvars="playList=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2Fslideshow%2Fmeta%2F582369345VwpZzI%3Finline%3Dtrue&#38;inlineUrl=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2FinlinePhoto%3FalbumId%3D582369345%26src%3Ds%26referPage%3Dhttp%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582369345VwpZzI&#38;postRollContent=http%3A%2F%2Fp.webshots.com%2Fflash%2Fws_postroll.swf&#38;shareUrl=http%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582369345VwpZzI&#38;audio=on&#38;audioVolume=33&#38;autoPlay=false&#38;transitionSpeed=5&#38;startIndex=0&#38;panzoom=on&#38;deployed=true" name="WebshotsSlideshowPlayer"></embed></object>
<p style="text-align: center;"><a href="http://travel.webshots.com/album/582369345VwpZzI">Melaka</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kembali dengan team yang sama kami berangkat Oktober 2010.  Tujuh orang termasuk Sophie dan ditambah Catty. Sahabat Malay kami yang selalu bergabung untuk menjadi juru mudi.  Dan di skenariokan bahwa Catty akan menjemput kami di LCCT dengan mobil sewaan untuk meneruskan perjalanan ke Malaka.  Sengaja Mobil sewaan menjadi pilihan karena masalah fleksbiilitas meskipun cukup mahal dan berlipat 2 harga sewanya dibanding dengan di Jakarta.  Namun setidaknya kami bisa banyak menghemat waktu terlebih bila dalam rombongan besar seperti ini.  Seperti biasa pukul 10 waktu setempat pesawat telah tiba di LCCT.  Cuaca yang cerah dan panas belum mampu menghapus kantuk kami yang harus bangun pukul 3 pagi tadi.  Beruntung Catty tidak perlu pemandu untuk membantunya. Dan butuh waktu 2,5 jam untuk mencapai Malaka.  Waktu bertambah 1 jam untuk istirahat makan di rest area dan memperlambat mobil agar bisa menikmati pemandangan.[.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">By Be Samyono (019022012-09:19)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Resiko.  Mesti bisa dibilang murah hingga (Rp 0,-). Namun waktu keberangkatan yang jauh bulan memungkinkan Tiket AirAsia yang sudah kita pegang mempunyai resiko tidak berangkat.  Itulah yang terjadi saat kami mendapat tiket serupa ke Bangkok yang berangkat Mei 2010 lalu. Pergolakan kaos merah yang membuat Thailand keamanannya diragukan  menjadikan penerbangan AirAsia ke negara gajah putih di batalkan.  Pihak Air Asia cukup bertanggungjawab dengan mengembalikan tiket dengan beberapa option seperti re-route, re-schedule ataupun dikembalikan dalam bentuk deposit.  Bukan perkara uang kembali tapi kegembiraan yang hampir setahun ditunggu seakan menguap begitu saja.  Terlebih bisa jadi ini kali terakhir penerbangan low budget ini memberikan promo fantastik seperti ini.  Tak ingin kecewa sayapun mengubah tujuan liburan ke Malaka &amp; KL (lagi) untuk perjalanan  setengah tahun kemudian.</p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="384" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="name" value="WebshotsSlideshowPlayer" /><param name="flashvars" value="playList=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2Fslideshow%2Fmeta%2F582369345VwpZzI%3Finline%3Dtrue&amp;inlineUrl=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2FinlinePhoto%3FalbumId%3D582369345%26src%3Ds%26referPage%3Dhttp%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582369345VwpZzI&amp;postRollContent=http%3A%2F%2Fp.webshots.com%2Fflash%2Fws_postroll.swf&amp;shareUrl=http%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582369345VwpZzI&amp;audio=on&amp;audioVolume=33&amp;autoPlay=false&amp;transitionSpeed=5&amp;startIndex=0&amp;panzoom=on&amp;deployed=true" /><param name="src" value="http://p.webshots.com/flash/smallslideshow.swf" /><param name="wmode" value="opaque" /><param name="quality" value="best" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="384" src="http://p.webshots.com/flash/smallslideshow.swf" quality="best" wmode="opaque" flashvars="playList=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2Fslideshow%2Fmeta%2F582369345VwpZzI%3Finline%3Dtrue&amp;inlineUrl=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2FinlinePhoto%3FalbumId%3D582369345%26src%3Ds%26referPage%3Dhttp%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582369345VwpZzI&amp;postRollContent=http%3A%2F%2Fp.webshots.com%2Fflash%2Fws_postroll.swf&amp;shareUrl=http%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582369345VwpZzI&amp;audio=on&amp;audioVolume=33&amp;autoPlay=false&amp;transitionSpeed=5&amp;startIndex=0&amp;panzoom=on&amp;deployed=true" name="WebshotsSlideshowPlayer"></embed></object></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://travel.webshots.com/album/582369345VwpZzI">Melaka</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kembali dengan team yang sama kami berangkat Oktober 2010.  Tujuh orang termasuk Sophie dan ditambah Catty. Sahabat Malay kami yang selalu bergabung untuk menjadi juru mudi.  Dan di skenariokan bahwa Catty akan menjemput kami di LCCT dengan mobil sewaan untuk meneruskan perjalanan ke Malaka.  Sengaja Mobil sewaan menjadi pilihan karena masalah fleksbiilitas meskipun cukup mahal dan berlipat 2 harga sewanya dibanding dengan di Jakarta.  Namun setidaknya kami bisa banyak menghemat waktu terlebih bila dalam rombongan besar seperti ini.  Seperti biasa pukul 10 waktu setempat pesawat telah tiba di LCCT.  Cuaca yang cerah dan panas belum mampu menghapus kantuk kami yang harus bangun pukul 3 pagi tadi.  Beruntung Catty tidak perlu pemandu untuk membantunya. Dan butuh waktu 2,5 jam untuk mencapai Malaka.  Waktu bertambah 1 jam untuk istirahat makan di rest area dan memperlambat mobil agar bisa menikmati pemandangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Memasuki Kota Malaka kental sekali terlihat bahwa Melaka adalah sebuah kota tua yang dulunya pernah dijajah oleh 3 negara, Portugis, Belanda dan Inggris. Hal ini terlihat dari arsitektur gedung-gedungnya memiliki gaya arsitektur negara bekas penjajahnya bertebaran temukan di kota ini berbaur dengan bangunan Chinese yang dominan disini.  Hal inipun tentu berpengaruh pada makanannya yang sangat berfariasi dan bisa dibilang surganya kuliner. Saat mencari Hotel Puri yang kami booking sebelumnya tidaklah sulit.  Malaka adalah kota kecil, beberapa jalan satu arah dan berkelok diantara lorong disertai beberapa kemacetan merupakan pemandangan biasa. Sengaja kami pilih Hotel Puri Melaka yang terletak di  No. 114, Jln Tun Tan Cheng Lock, 75200 Melaka.  Selain berada di kawasan turis hotel inipun sarat dengan arsitektur chinanya yang kuno dan masih terawat rapi.  Dan bisa dibilang inilah kelebihan Hotel ini yang mampu mengangkat sejarah dan warisan menjadi kekuatan layanan.  Puas dan tak salah rasanya memilih hotel yang hanya bertarif di bawah Rp 500 ribu ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengingat tak lebih dari 24 jam kami disini, segera jadwal sore kami isi dengan mengunjungi beberapa situs sejarah yang menjadi maskot Melaka.  Lokasinya yang mengumpul dan hanya berjarak kurang lebih 1-2 km membuat pilihan kami untuk berjalanguna mencapainya segera kami putuskan, sembari menikmati kehidupan sekitar Jonker Street yang sedang mempersiapkan ritualnya untuk nanti malam.  St. Francis Xavier’s Church, The Stadthuys  &#8211; Red Building: Bangunan kuno Belanda yang tertua di Asia Tenggara, St. Paus Hill (A Formaosa) menjadi bagian yang tak terlewat untuk dikunjungi.  Beberapa photo narsis dan tak lazimpun tercetak dengan cepat dan bebas.  Bisa dibilang turis mempunyai kemudahan untuk menilmati obyek wisata disini.  Meski sebagian besar obyek wisata hanya berupa situs gereja, bentaeng ataupun markas.  Namun perawatan dan kemudahan mencapainya memberikan daya tarik sendiri.  Menjelajahi Malaka seakan kembali ke era 60-an yang mengasyikkan.  Kembali ke hotel kami mencoba naik becak yang cukup unik disana.  Dengan tarif Rp 30 ribu kami sudah dikembalikan kehotel dengan iringan musik yang cukup meriah.<br />
Sejauh perjalanan ini dan beberapa kali bebergian jauh, patut di syukuri Sophie sebagai anggota termuda dalam rombongan tidak pernah cukup bisa menikmati dan tidak rewel.  Masih saya ingat bagaimana kepergian jauhnya pertama di umur 6 bulan disusul kurang dari satu tahun dia sudah memiliku passport, dan sejak itu kemana kami pergi dia selalu ikut serta.  Sepertinya menurun dari kami.  Jalan-jalan adalah bagian drai kesenangannya.  Tak terkecuali perjalanan kali ini.  Bersyukur rekan-rekan rombongan yang selama ini menemani cukup bisa menciptakan suasanya yang menyenangkan dengan dia dan sangat membantu unttuk mengurusnya selama perjalanan.  Komplit.  Hingga tak ada kata tak menyenangkan saat membawa dia.  Hanya mungkin beberapa penyesuaian saja kami buat.  Saya dan Bunda sudah mulai memilah tempat mana yang bisa dikunjungi bersama dia dan memilih untuk lebih menikmati perjalanan dan tempat yang dikunjungi untuk menciptakan kesenangan bagi Sophie sendiri.  Dan satu kuncinya yaitu membawa mainan kegiatan yang bisa Sophie nikmati: Buku!</p>
<p style="text-align: justify;">Entah darimana info yang diperoleh namun kami mengikuti saran catty untuk makan malam di desa Alay.  Entanh mengkin karena namanya yang membuat kami terpingkal atau karena kelaparan kamipun bagai kerbau dicocok hidung bergegas ke sana.  Cukup jauh tapi perut memberikan sinyal lain.  Kami pilih salah satu tempat makan terbuka  diantara beberapa tempat yang ada, yang menyajikan sea food.  Takjub dengan menu yang murah dan nama makanan yang kembali membuat kami terpingkal. Makan malam ini serasa menyemangati kebersamaan dengan canda dan kesenangan yang tak usai.  Dan tak berhenti disitu malam ini kami habiskan dengan berjalan malam di Jonker Street.  Jonker stret cukup terkenal dan happenig di malam hari karena jalan raya akan ditutup berubah ajang menjadi tempat makan dan berjualan.  Beragam barang, makanan sampai kudapan dijual disana belum lagi dihias pertunjukan dan hingar musik dari bar-bar yang bertebaran.  Jonker street satu tempat yang tak patut dilewatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila harus kembali kemari jelas saya tidak akana menolak.  Waktu sehari belumlah cukup untuk menikmati keunikan kota ini.  Keberadaan kami disini kami tutup denganmenikmati  makan pagi di  teras garden hotel Puri yang menyajikan menu memikat.   Belanja oleh-olehpun kami fokuskan di salah satu publik market di Melaka.  Jelas harga lebih murah dari di KL selain itu kami tak berniat untuk kembali mengunjungi central market.  Pukul 10 kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke KL.  Disini lah memikatnya negara tetangga.  Sarana-dan prasarana yang lebih baik dari negeri sendiri memberikan kenyamanan lebih saat mengadakan traveling.  Saya bayangkan 3-4 jam kedepan akan menyusur jalan tol yang lengang dan mulus.  Beberapa kali mata terpejam dan berulangkali canda mewarnai perjalanan.  KL here we come (again).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2012/02/24/melaka-si-kota-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Johor Bahru Si Kota Niaga Melayu</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2012/02/21/johor-bahru-si-kota-niaga-melayu/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2012/02/21/johor-bahru-si-kota-niaga-melayu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 06:50:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seselip tulisan yang terlupa saat kami escape dari kelompok besar Juli 2010 lalu ketika kami mengantar keluarga besar Jogja untuk jalan-jalan ke Singapore.  Universal Studio adalah tujuan utama, namun karena Sophie belum bisa menikamti permainan disana sementara saya dan Bunda sudah beberapa kali kesana  alhasil kami memilih untuk mengantar Sophie menikmati main air di Vivo City.  Pun saat liburan keluarga Jogja usai, kami meneruskan perjalanan ke Johor Bahru.  Sebenernya bukan sekali kami ke Johor Bahru. Namun tidak lebih jauh dari JB City Squre.  Cerita Bunda mengenai sisi lain dari Johor Bahru cukup memikat.  Terlebih Johor Bahru bisa dicapai dalam hitungan menit dari Singapore dengan biaya hemat dengan menggunakan bus.</p>

<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="384" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="name" value="WebshotsSlideshowPlayer" /><param name="flashvars" value="playList=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2Fslideshow%2Fmeta%2F582370606nnXdbG%3Finline%3Dtrue&#38;inlineUrl=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2FinlinePhoto%3FalbumId%3D582370606%26src%3Ds%26referPage%3Dhttp%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370606nnXdbG&#38;postRollContent=http%3A%2F%2Fp.webshots.com%2Fflash%2Fws_postroll.swf&#38;shareUrl=http%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370606nnXdbG&#38;audio=on&#38;audioVolume=33&#38;autoPlay=false&#38;transitionSpeed=5&#38;startIndex=0&#38;panzoom=on&#38;deployed=true" /><param name="src" value="http://p.webshots.com/flash/smallslideshow.swf" /><param name="wmode" value="opaque" /><param name="quality" value="best" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="384" src="http://p.webshots.com/flash/smallslideshow.swf" quality="best" wmode="opaque" flashvars="playList=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2Fslideshow%2Fmeta%2F582370606nnXdbG%3Finline%3Dtrue&#38;inlineUrl=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2FinlinePhoto%3FalbumId%3D582370606%26src%3Ds%26referPage%3Dhttp%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370606nnXdbG&#38;postRollContent=http%3A%2F%2Fp.webshots.com%2Fflash%2Fws_postroll.swf&#38;shareUrl=http%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370606nnXdbG&#38;audio=on&#38;audioVolume=33&#38;autoPlay=false&#38;transitionSpeed=5&#38;startIndex=0&#38;panzoom=on&#38;deployed=true" name="WebshotsSlideshowPlayer"></embed></object>
<p style="text-align: center;"><a href="http://travel.webshots.com/album/582370606nnXdbG">Johor Bahru</a></p>
<p style="text-align: justify;">Gerbang imigrasi Johor Bahru bukan lagi gedung tua kusam dan tak terawat seperti saat saya berkunjung kesana 2003 silam.  Kemegahan sebagai wajah depan sebuah negara ditunjukkan untuk menandingi gerbang akhir imigrasi Singapore di Woodland.  Saya sempat takjub dengan perubahan yang sangat revolusioner ini.  Berlima kami menyusur lorong-lorong mall yang terhubung dengan pintu imigrasi untuk mencari jalan keluar guna mencari taksi untuk mengantar kami ke hotel Thistle.  Seperti biasa Sophie menikmati perjalanan ini mulai dari MRT hingga pindah ke Bus.  Stroler sebagai senjata utama menjadi andalannya bila dia kecapekan berjalan.  Perjalanan 2 hari 1 malampun akan segera dimulai.[........] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">By Be Samyono (09012012.11.45)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Seselip tulisan yang terlupa saat kami escape dari kelompok besar Juli 2010 lalu ketika kami mengantar keluarga besar Jogja untuk jalan-jalan ke Singapore.  Universal Studio adalah tujuan utama, namun karena Sophie belum bisa menikamti permainan disana sementara saya dan Bunda sudah beberapa kali kesana  alhasil kami memilih untuk mengantar Sophie menikmati main air di Vivo City.  Pun saat liburan keluarga Jogja usai, kami meneruskan perjalanan ke Johor Bahru.  Sebenernya bukan sekali kami ke Johor Bahru. Namun tidak lebih jauh dari JB City Squre.  Cerita Bunda mengenai sisi lain dari Johor Bahru cukup memikat.  Terlebih Johor Bahru bisa dicapai dalam hitungan menit dari Singapore dengan biaya hemat dengan menggunakan bus.</p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="384" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="name" value="WebshotsSlideshowPlayer" /><param name="flashvars" value="playList=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2Fslideshow%2Fmeta%2F582370606nnXdbG%3Finline%3Dtrue&amp;inlineUrl=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2FinlinePhoto%3FalbumId%3D582370606%26src%3Ds%26referPage%3Dhttp%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370606nnXdbG&amp;postRollContent=http%3A%2F%2Fp.webshots.com%2Fflash%2Fws_postroll.swf&amp;shareUrl=http%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370606nnXdbG&amp;audio=on&amp;audioVolume=33&amp;autoPlay=false&amp;transitionSpeed=5&amp;startIndex=0&amp;panzoom=on&amp;deployed=true" /><param name="src" value="http://p.webshots.com/flash/smallslideshow.swf" /><param name="wmode" value="opaque" /><param name="quality" value="best" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="384" src="http://p.webshots.com/flash/smallslideshow.swf" quality="best" wmode="opaque" flashvars="playList=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2Fslideshow%2Fmeta%2F582370606nnXdbG%3Finline%3Dtrue&amp;inlineUrl=http%3A%2F%2Fcommunity.webshots.com%2FinlinePhoto%3FalbumId%3D582370606%26src%3Ds%26referPage%3Dhttp%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370606nnXdbG&amp;postRollContent=http%3A%2F%2Fp.webshots.com%2Fflash%2Fws_postroll.swf&amp;shareUrl=http%3A%2F%2Ftravel.webshots.com%2Fslideshow%2F582370606nnXdbG&amp;audio=on&amp;audioVolume=33&amp;autoPlay=false&amp;transitionSpeed=5&amp;startIndex=0&amp;panzoom=on&amp;deployed=true" name="WebshotsSlideshowPlayer"></embed></object></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://travel.webshots.com/album/582370606nnXdbG">Johor Bahru</a></p>
<p style="text-align: justify;">Gerbang imigrasi Johor Bahru bukan lagi gedung tua kusam dan tak terawat seperti saat saya berkunjung kesana 2003 silam.  Kemegahan sebagai wajah depan sebuah negara ditunjukkan untuk menandingi gerbang akhir imigrasi Singapore di Woodland.  Saya sempat takjub dengan perubahan yang sangat revolusioner ini.  Berlima kami menyusur lorong-lorong mall yang terhubung dengan pintu imigrasi untuk mencari jalan keluar guna mencari taksi untuk mengantar kami ke hotel Thistle.  Seperti biasa Sophie menikmati perjalanan ini mulai dari MRT hingga pindah ke Bus.  Stroler sebagai senjata utama menjadi andalannya bila dia kecapekan berjalan.  Perjalanan 2 hari 1 malampun akan segera dimulai.</p>
<p style="text-align: justify;">Hotel bintang 5 Thistle, tempat kami menginap sangat manawan berada di depan Lapangan City Hall yang disaat sore dan weekend sering digunakan untuk aktifitas warga dan pasar rakyat yang menggelar bazar makanan. Dengan fasilitas lengkap menghadap laut, arsitektur minimalis dan selera khas Hyatt dulunya, hotel ini cukup mengejutkan karena harganya tak lebih dari Rp 700 ribu.  Sungguh merupakan value yang luar biasa yang kami dapatkan untuk libutran ini.  Tak lebih dari 10-15 menit kami telah mencapai hotel ini dengan menggunakan taxi.  Sesaat kami istirahat kami membicarakan cara untuk berkeliling untuk besok.  Sudah menjadi hal yang jamak bila taxi disini bisa di sewa perjam untuk berkeliling.  Masalahnya taksi mana yang akan memberikan tawaran yang terbaik itulah yang kami rundingkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Beruntung saat kami mencari makan keluar hotel menuju Jasco satu mall terbesar di Johor Bahru kami menemukan taxi dengan pengemudi yang cukup bersahabat.  Tidak saja dalam menservise namun juga memberikan rate harga hingga merupakan pilihan yang tepat untuk mengantar kami berkeliling besok. Rupanya keberuntungan kami belum berakhir.  Saat dinnerpun kami menemukan bahwa makanan di Johor Bahru mempunyai cita rasa tepat dilidah yang tak jauh beda dari Indonesia.  Sangat kontras bila membicarakan makanan di KL.  Dan bicara mengenai Johor Bahru yang merupakan ujung negara malaysia terlihat bahwa pembangunan cukup merata dan berkembang.  Terbersit iri melihat kesejahteraan rakyat negeri Jiran lebih banyak diperhatikan daripada berkaca dengan negeri sendiri.  Keberuntungan kami malam ini terlengkapi dengan perjalanan lumayan bebas macet meski biasanya suasana tidaklah begini.</p>
<p style="text-align: justify;">Usai makan pagi yang cukup ramai dan berselera. Kami bersiap menunggu jemputan berkeliling Johor Bahru dengan taksi semalam.  Supaya tidak menghabiskan waktu, kami sekaligus melakukan check out karena rencananya langsung kembali ke Singapore dan balik Jakarta sore harinya.  Sophie tak mempermasalahkan jadwal ini mengingat kemarin sore kami telah memberinya waktu spesial bermain di pool hotel yang lumayan mengasikkan dan lengkap fasilitasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan kami dimulai dari depan hotel.  City Hall Square.  Bangunan menghadap laut yang diapit 2 lapangan yang cukup luas ini nampak megah dan masih teramat. Demikian juga dengan menaranya yang ada.  Pantaslah kalau menjadi landmark jantung kota ini.  Satu hal yang mengejutkan ketika kami menyodorkan gambar bangunan  serupa istana untuk dikunjungi.   Tak disangka itu adalah komplek makam Di raja Mahmoodiah Johor Bahru. Sekilas akan nampak bangunan kolonial dengan dome dan menara kecil serupa gereja yang sangat terawat namun ternyata bangunan ini berada di tengah area pemakaman yang cukup luas.  Sebentar kami mengelilinga keseluruhan bangunan yang kembali tak kami sangka bila ini adalah satu komplek makam.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat tiba di komplek masjid Sultan Abu bakar sekilas kami melihat bangunan besar sangat simetri dengan 2 menara samping dan satu menara utama di tengahnya.  <strong>Masjid Sultan Abu Bakar</strong> yang merupakan satu dari masjid terindah di Malaysia dengan desain arsitektur gabungan antara gaya muslim India, Persia dan gaya Eropa.  Kami sempat masuk ke dalamnya dan mengagumi betapa terawat dan uniknya masjid ini.  Melengkapi perjalanan ini kami singgah di  <strong>Museum Istana Sultan Abu Bakar</strong>, disini dipajang berbagai perlengkapan istana seperti barang antik, furnitur, perlengkapan makan, koleksi mata uang.  Perjalanan berakhir di Sultan Ibrahim Building.  Bangunan yang masih terawat dengan konsep kolonial art deko ini menjadi kantor hingga kami tidak leluasa untuk masuk.  Beruntung si sopir taksi banyak bercerita mengenai sejarah dan cerita tempat-tempat yang kami kunjungi.  Meski dengan dialek melayu yang kental setidaknya kami cukup jelas mengetahui apa maknanya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Seakan sangat cepat perjalanan ini namun sangat mengasikkan menggali budaya dan sejarah satu tempat yang memiliki cerita tersendiri.  Tak terkecuali Johor Bahru karena selain meninggalkan cerita di bangunan yang kami kunjungi, kota niaga laut inipun mempunyai sejarah yang lekat dengan kerajaanmelayu yang ada di Indonesia.  Jelas sesungguhnya kata serumpun itu benar adanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tengah hari kami telah berada di imigrasi untuk kembali ke Singapore.  Via Changi kami kembali lagi ke Jakarta.  Bisa jadi tempat yang kami kunjungi bukanlah tempat tujuan utama dan favorite banyak orang.  Namun ternyata  ketidak favoritan itu justru seringkali memberi sesuatu yang beda dan memberikan nilai ketertarikan lebih dalam.dan inilah yang kami dapatkan di Johor Bahru.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2012/02/21/johor-bahru-si-kota-niaga-melayu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia 7 Tahun MHI Tennis</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2012/01/10/rahasia-7-tahun-mhi-tennis/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2012/01/10/rahasia-7-tahun-mhi-tennis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 09:04:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[MHI Tennis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify; ">Tujuh tahun, usia yang teramat muda untuk seorang anak.  Namun tidak demikian untuk sebuah komunitas. Tujuh tahun berada dalam masa fluktuatif, pembelajaran dan juga pencapaian merupakan perjalanan panjang yang mestinya patut di syukuri.  Meletakkan rasa terima kasih pada banyak hal dan pihak hingga membuat komunitas ini masih bertahan dan menunjukkan eksistensinya.  Banyak yang terheran bahwa komunitas ini masih mampu menebarkan eksistensinya hingga hitungan ke tujuh tahun ini.  Bila ini di tanyakan ke saya. Saya hanya bisa tersenyum dan memikirkan.  Membawanya kerumah dan menuliskannya beberapa rahasia yang nantinya bukan rahasia lagi untuk dibahas.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="MHI Tennis" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/170794_484932115963_112469360963_6294994_6423238_o.jpg" alt="" width="461" height="306" /></p>
<p style="text-align: justify; "><strong><span style="color: #ff0000;">KOMUNITAS = PERUSAHAAN</span></strong></p>
<p style="text-align: justify; ">Komunitas bukanlah perusahaan.  Itu pasti.  Tak adanya hak dan kewajiban antar atasan dan bawahan membuat korelasi antar member di dalamnya menjadi sangat cair.  Kondisi ini tentunya memudahkan orang datang dan pergi serta rentan adanya satu loyalitas.  Pengalaman mengajarkan meski komunitas bukanlah perusahaan namun ternyata pembelajaran dalam mengelola usaha sama esensinya dengan mengelola komunitas [........] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify; "><span style="color: #ff6600;"><strong>By Be Samyono (09012012.12.21) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify; ">Tujuh tahun, usia yang teramat muda untuk seorang anak.  Namun tidak demikian untuk sebuah komunitas. Tujuh tahun berada dalam masa fluktuatif, pembelajaran dan juga pencapaian merupakan perjalanan panjang yang mestinya patut di syukuri.  Meletakkan rasa terima kasih pada banyak hal dan pihak hingga membuat komunitas ini masih bertahan dan menunjukkan eksistensinya.  Banyak yang terheran bahwa komunitas ini masih mampu menebarkan eksistensinya hingga hitungan ke tujuh tahun ini.  Bila ini di tanyakan ke saya. Saya hanya bisa tersenyum dan memikirkan.  Membawanya kerumah dan menuliskannya beberapa rahasia yang nantinya bukan rahasia lagi untuk dibahas.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="MHI Tennis" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/170794_484932115963_112469360963_6294994_6423238_o.jpg" alt="" width="461" height="306" /></p>
<p style="text-align: justify; "><strong><span style="color: #ff0000;">KOMUNITAS = PERUSAHAAN</span></strong></p>
<p style="text-align: justify; ">Komunitas bukanlah perusahaan.  Itu pasti.  Tak adanya hak dan kewajiban antar atasan dan bawahan membuat korelasi antar member di dalamnya menjadi sangat cair.  Kondisi ini tentunya memudahkan orang datang dan pergi serta rentan adanya satu loyalitas.  Pengalaman mengajarkan meski komunitas bukanlah perusahaan namun ternyata pembelajaran dalam mengelola usaha sama esensinya dengan mengelola komunitas.  Bisa dikatakan komunitas harus dikelola professional juga layaknya satu usaha.  Untuk itu selain membangun dan meletakkan pondasi yang kokoh untuk komunitas seperti menetapkan tujuan, membangun hubungan antar personal dan kepemimpinan,  System dan rule di dalamnya pun juga dibangun.  Dan yang lebih penting media komunikasi juga dibenahi.  Dimana Mailist dan groups FB menjadi kekuatan platformnya.  Semua itu dilakukan dengan tujuan kemudahan,  tidak saja bagi member namun juga calon member dan moderator untuk mengelola komunitas.  Dan secara berulang hal ini terus  ditanamkan kepada member agar saling tahu budaya dan aturan dalam komunitas.  Caranya cukup sederhana, mensosialisasikannya di setiap awal quarter ataupun mencantumkannya di milist dan group FB.  Meskipun secara organisasi struktur MHI tennis hanya mengenal member dan moderator namun masing-masing punya peran yang jelas akan hak dan kewajibannya.</p>
<p style="text-align: justify; "><span style="color: #ff0000;"><strong>MAKNA ESSENSIAL NEED YANG MENGIKAT</strong></span></p>
<p style="text-align: justify; ">Bermain TENNIS sudah pasti menjadi essensial need yang menjadi tujuan member untuk berkumpul dan tetap loyal.  Disinilah MHI tennis menetapkan standart dan segmen untuk menentukan siapa saja member yang bisa bermain di MHI Tennis.  Kesepakatan dengan founder dan berdasarkan pengalaman, MHI Tennis memilih terbuka untuk siapa saja yang gemar akan tennis untuk bermain.  Bisa jadi ini memberikan range yang luas bagi siapa saja untuk bergabung terlepas apakah dia bisa atau belum bisa.  Heterogenitas akan menjadi hal terbesar yang akan menjadi tantangan.  Ini tidak menjadi persoalan besar mengingat Visi MHI Tennis adalah memberikan wadah bagi semua penggemar tennis untuk menikmati tennis tanpa satu batasan.  Untuk itulah moto MHI dalah FUN, FRIENDLY &amp; HEALTHY diambil untuk memberikan karakter bagi Komunitas ini.</p>
<p style="text-align: justify; ">Segmentasi inilah yang membuat MHI tennis terus beregenerasi sejak 7 tahun yang lalu. Mencetak rekan-rekan yang belum mahir bermain hingga meningkat permainannya.  Dan bagi rekan-rekan yang telah advance diberi kesempatan untuk membuat groups yang homogen, yang setara kemahirannya agar memperoleh partner yang sepadan diluar MHI bila mereka ingin menuju ke goal yang lebih advance.    MHI tennis berupaya tidak melihat tennis sekedar dari sisi olah raga, kalah atau menang namun juga sisi social dan berbagi kegiatan hingga terasa bagaimana tennis dibuat lebih menyenangkan dan bisa dinikmatinya bersama.</p>
<p style="text-align: justify; "><span style="color: #ff0000;"><strong>BUDAYA YANG MENGAKAR</strong></span></p>
<p style="text-align: justify; ">Kekeluargaan mungkin inilah budaya yang tidak hilang selama 7 tahun berlaku di MHI tennis.  Meskipun kondisi MHI tennis yang dulunya homogen karena berangkat pada akar yang sama, kini menjadi semakin heterogen namun rasa kekeluargaan masih terus dipelihara baik melalui media online maupun offline.  Kasta junior-senior, pemula-mahir sepertinya tidak terasa ada di MHI tennis karena masing-masing member berusaha memberi kenyamanan dan cara tersendiri untuk menikmati tennis.  Demikian juga moderator yang dipegang oleh rekan-rekan volentir, mereka menjalankan manajemen dan operasional komunitas dengan berbekal kesenangan dalam berkontribusi pada komunitas semata.   Dalam hal pengelolaan keuanganpun murni untuk kepentingan member dan rapi tercatat secara transparan.  Tidak itu saja.  suasana yang terbangun di lapangan pun diusahakan konduktif antar member, pengelola lapangan, bahkan dengan ballboy.  Mereka semua selalu  dilibatkan bila ada acara-acara MHI tennis baik saat ulang tahun ataupun gelaran Inship hingga suasana yang tercipta sedemikian nyaman.</p>
<p style="text-align: justify; ">
<p style="text-align: justify; ">Itulah 3 rahasia yang saya yang bisa saya ungkapkan.  Bagi saya ini bukanlah rahasia dan saya tak patut untuk menyembunyikannya.  Setiap orang silahkan untuk meng-copy paste rahasia ini bila berguna.  Seperti juga MHI tennis yang suka berbagi, sayapun demikian.  Saya akan lebih senang melihat begitu banyaknya komunitas positif yang tumbuh utamanya di bidang olahraga atau tennis itu sendiri.  Tak banyak orang yang menggemari namun mempunyai keterbatasan untuk melakukan hanya karena tak adanya wadah untuk menampung hoby mereka yang tanpa keahlian sama sekali dalam bermain.</p>
<p style="text-align: justify; "><span style="color: #ff6600;">Happy Anniversary MHI Tennis</span></p>
<p style="text-align: justify; "><span style="color: #ff6600;">Keep your “fun, friendly &amp; healthy” as your character</span></p>
<p style="text-align: justify; ">Terima kasih pada milist Majalah Men’sHealth Indonesia yang mewadahi founder untuk merealisasikan Komunitas ini 7 tahun lalu.  Kami masih menunggu munculnya komunitas olahraga lain di milist ini. semoga tulisan ini mencerahkan.</p>
<p style="text-align: justify; ">
<p style="text-align: justify; "><strong>Salam Ace</strong></p>
<p style="text-align: justify; "><strong>Moderator</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2012/01/10/rahasia-7-tahun-mhi-tennis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanjung Pinang Bukanlah Pangkal Pinang</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2012/01/09/tanjung-pinang-bukanlah-pangkal-pinang/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2012/01/09/tanjung-pinang-bukanlah-pangkal-pinang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 05:56:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify; ">Sesaat sebelum boarding dengan pesawat Sriwijaya Air awal September lalu di terminal 1 Bandara Sutta saya sempat kecewa.  Saya memikirkan Pangkal Pinang saat saya menerima kesempatan mengajar kali ini.  Saya bayangkan setidaknya saya akan bertemu dengan pantai berpasir putih dan gugusan bebatuan koral yang menjulang.  Persis gambaran film laskar pelangi yang fenomenal itu.  Bahkan bila mungkin saya akan ekstent untuk sekedar mengeksplore kota ini hingga Bangka dan Belitung.  Saya Salah besar.  Di Tiket yang diberikan organizer tercantum Tanjung Pinang bukan PANGKAL PINANG!.</p>
</p>
<p style="text-align: center; "><img class="aligncenter" title="Pantai" src="http://inlinethumb12.webshots.com/48331/2943631670102971300S600x600Q85.jpg" alt="" width="288" height="432" /></p>
<p style="text-align: justify; ">Tak hanya kepanikan karena saya akan menuju tempat asing tapi juga kekecewaan karena peralatan pantai yang telah saya bawa sepertinya akan sia-sia.  Keterkejutan saya bertambah karena ternyata Tanjung Pinang adalah kota kecil di Pulau Bintan yang terletak di sebelah Batam. Kalau begini ceritanya mungkin hal lain yang saya bawa.  Passport misalnya, setidaknya saya bisa melarikan diri ke Singapura.  Panggilan Boarding kini malah terdengar bagaikan satu ejekan atas keteledoran saya [.........] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify; "><span style="color: #ff6600;"><strong>By Be Samyono [</strong><strong>06092011-23.08</strong><strong>]</strong></span><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify; ">Sesaat sebelum boarding dengan pesawat Sriwijaya Air awal September lalu di terminal 1 Bandara Sutta saya sempat kecewa.  Saya memikirkan Pangkal Pinang saat saya menerima kesempatan mengajar kali ini.  Saya bayangkan setidaknya saya akan bertemu dengan pantai berpasir putih dan gugusan bebatuan koral yang menjulang.  Persis gambaran film laskar pelangi yang fenomenal itu.  Bahkan bila mungkin saya akan ekstent untuk sekedar mengeksplore kota ini hingga Bangka dan Belitung.  Saya Salah besar.  Di Tiket yang diberikan organizer tercantum Tanjung Pinang bukan PANGKAL PINANG!.</p>
<p style="text-align: center; "><img class="aligncenter" title="Pantai" src="http://inlinethumb12.webshots.com/48331/2943631670102971300S600x600Q85.jpg" alt="" width="288" height="432" /></p>
<p style="text-align: justify; ">Tak hanya kepanikan karena saya akan menuju tempat asing tapi juga kekecewaan karena peralatan pantai yang telah saya bawa sepertinya akan sia-sia.  Keterkejutan saya bertambah karena ternyata Tanjung Pinang adalah kota kecil di Pulau Bintan yang terletak di sebelah Batam. Kalau begini ceritanya mungkin hal lain yang saya bawa.  Passport misalnya, setidaknya saya bisa melarikan diri ke Singapura.  Panggilan Boarding kini malah terdengar bagaikan satu ejekan atas keteledoran saya.</p>
<p style="text-align: justify; ">Beruntung menu penyambutan malam ini cukup menarik.  Ikan segar sebagai komodoti lokal pulau Bintan menjadi penawar suasana mencekam saat pendaratan tadi.  Saat diatas pesawat hati saya sudah kecil melihat cuaca hujan deras dan kilat yang tak berkesudahan.  Malah sempat diumumkan bahwa pesawat akan didaratkan di Batam bila kondisi cukup rawan.  Bila ini terjadi bisa ditebak akan makin panjangnya perjalanan yang kami tempuh.  Belum lagi jadwal mengajar besok.  Entah apa yang terjadi.</p>
<p style="text-align: justify; ">Hari telah larut saat saya masuk di Hotel Plaza.  Agak kurang menyamankan saya.  Komplek Bintan Plasa ini telah pudar dari masa jayanya.  Hotel yang dulunya adalah sebuah mall menyediakan fasilitas minim meski soal WIFI kita bisa berfoya2.  Pemandangan kanan kiri menyisakan ruko-ruko kosong atau berubah fungsi sebagai tempat karaoke murahan, tempat pijat ataupun rumah sarang wallet.  Konon tempat ini pernah berjaya saat Batam dan Bintan terbuka untuk tempat perjudian dengan segala bisnis kotor runtutannya.  Begitu pemerintah daerah menghentikan operasionalnya maka Bintan tak ubahnya bagai bunga yang luruh.</p>
<p style="text-align: justify; ">Tak banyak yang bisa dilakukan saat tugas mengajar usai.  Informasi minim membuat google menjadi tempat bertanya yang tepat.  Sedianya Batam akan menjadi tempat tujuan.  Namun tujuan kapal yang tidak merapat di Batam Center membuatku mengurungkan niat.  Demikian juga dengan Lagoi. Resort premium di ujung pulau ini tidak bisa dicapai dengan mudah dengan kendaraan umum, alamat saya tak bisa mengunjunginya. Hasilnya saya hanya mencoba membunuh waktu dengan keluar hotel menyewa ojek untuk mengantar saya keliling kota yang kecil ini hingga pelabuhan utama.</p>
<p style="text-align: justify; ">Namun mungkin inilah keajaiban sesuatu yang tak terencana.  Dari tukang ojek banyak tergulir informasi tempat2 yang menarik dikunjungi bahkan tidak itu saja dia bersedia untuk mengantar dan member petunjuk. Nah!.  Sepertinya petualangan dimulai.  Sayapun mengatur waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang disesuaikan dengan keterbatasan waktu yang ada.  Pilihan pertama saya adalah ke pulau Penyengat dan tengah hari kemudian akan meluncur ke pantai Trikora.  Semangat saya terbakar, meski saya harus meninggalkan banyak barang yang biasanya saya bawa kesana kesini.  Tas, kamera dan jaket serta celana renang adalah barang terminim yang sanggup saya bawa. Lupakan sunblock, topi bahkan sisir sekalipun.</p>
<p style="text-align: justify; "><span style="color: #ff0000;"><strong>PULAU PENYENGAT</strong></span></p>
<p style="text-align: justify; ">Pulau Penyengat adalah sebuah <a title="Pulau" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau">pulau</a> kecil yang berjarak kurang lebih 6 km dari <a title="Kota Tanjung Pinang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tanjung_Pinang">Kota Tanjung Pinang</a>, pusat pemerintahan <a title="Kepulauan Riau" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Riau">Provinsi Kepulauan Riau</a>. Pulau ini berukuran kurang lebih 2.500 meter x 750 meter, dan berjarak lebih kurang 35 km dari <a title="Pulau Batam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Batam">Pulau Batam</a>. Perahu bot atau lebih dikenal bot pompon adalah transportasi menuju kesana. Dengan menggunakan bot pompong, memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit dengan tariff 5 ribu sekali jalan.  Perjalanan menggunakan pompon tak kalah menarik. 20 orang akan menjejali perahu kecil ini dan tak akan berangkat bila jumlah kurang dari itu.  Demikian juga saat kembali nanti.</p>
<p style="text-align: justify; ">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Pemyengat" src="http://inlinethumb49.webshots.com/46704/2187133450102971300S600x600Q85.jpg" alt="" width="540" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify; ">Begitu merapat di Pulau Penyengat di gerbang utama telah disambut oleh Masjid raya sultan Riau yang konon terbangun dari campuran putih telur.  Beberapa orang menawarkan transportasi yang biasa digunakan disana, sepeda dan becak motor.  Saya memilih sewa becak motor yang akan membawa saya keliling pulau mengunjungi obyek2 yang ada dengan hanya merogoh 25 ribu.  Pengemudi yang membawa saya tak ubahnya seperti seorang pemandu wisata yang tahu jalan dan arah serta tempat mana yang harus dilewati d jalan kecil turun naik dan berkelok ini agar semua tempat bisa terkunjungi.  Saya menjadi teringat akan wisata di Johor Bahru Malaysia yang kebanyakan berupa makam dan makam. Dan nyata rumpun melayu masih mengkaitkan silsilah Johor dan riau.  Selama hampir satu jam satu-persatu obyek saya kunjungi. Mulai dari benteng, makam, kantor hingga gedung pertemuan yang kesemuanya adalah peninggalan budaya melayu termasuk makam Raja Ali Haji pencipta Gurindam 12, pahlawan nasional kita.  Dan perjalanan berakhir di Masjid raya Sultan Riau yang masih terawat termasuk adanya Al Qur’an kuno didalamnya. Luar biasa pantas bila pemerintah mencalonkan ke <a title="UNESCO" href="http://id.wikipedia.org/wiki/UNESCO">UNESCO</a> untuk dijadikan salah satu <a title="Situs Warisan Dunia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Warisan_Dunia">Situs Warisan Dunia</a>.  Hampir tengah hari saya meninggalkan pulau diiringi dengan music melalu yang mengalun dari rumah hajatan di samping Masjid.  Terasa sangat berbeda berada di  pulau kecil ini.</p>
<p style="text-align: justify; "><strong><span style="color: #ff0000;">PANTAI TRIKORA</span></strong></p>
<p style="text-align: justify; ">Kembali ke Tanjung Pinang saya menelepon ojek saya untuk menjemput saya untuk membawa saya ke Pantai Trikora.  Saya sempatkan makan Roti cane dan gulai kambing makanan yang banyak dijumpai disana.  Matahari belum tergelincir ke barat saat saya mulai duduk di boncengan tukang ojek saya.  Panas menyengat dan debu jalanan menyerbu kulit.  Saat itu pikiran saya hanya membayangkan pantai. Menjauhkan betapa menyengsarakannya duduk sejauh 35 Km di belakang boncengan motor.  Panasnya pantat saya terbayar saat mendekat ujung pantai yang memanjang.  Saya benar-benar kegirangan menyaksikan hamparan pantai memanjang di sisi barat Pulau ini yang sangat eksotik.  Tidak saja ombak setinggi 2 meter yang menerjang tapi juga gugusan batu batu koral yang memberi manik-manik pada bersih dan birunya pantai ini.   Konon Trikora diambil dari kata CORAL yang menjadi cirri pantai ini.  Saya tak sabar untuk meminta motor berhenti namun tukang ojek itu mencegah.  Dia menyarankan agar kita berjalan hingga ujung pantai yang mungkin hingga 5 KM lagi dan dari sana akan kembali.  Bila ada spot menarik dia tak keberatan untuk berhenti mengambil photo atau sekedar menikmati pantai. Saya hanya terbengong saat dikatakan ini baru ujungnya, saya segera menyetujui saran tukang ojek itu.  Pati banyak hal yang lebih mencengangkan didepan sana pikir saya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Trikora" src="http://inlinethumb30.webshots.com/48093/2740353100102971300S600x600Q85.jpg" alt="" width="480" height="320" /></p>
<p style="text-align: justify; ">Ternyata saya tidak salah.  Sepenjang perjalanan tak sadar beberapa kali saya berteriak kegirangan dan tak henti hentinya memberikan komentar kekaguman.  Baru kali ini saya mendapati pantai yang sedemikian bersih dan eksotiknya. Sampai sampai saat diujung perjalanan saya tak sabar untuk mengekspoler pantai yang penuh dengan bebatuan koral raksasa dan mengakhirinya dengan berenag disana. Ini hal yang lebih dari kata puas bagi saya.  Sayang sekali perjalanan ini saya lakukan sendiri.  Hingga terasa kurang lengkap kepuasan ini dibagikan.  Beberapa photo kembali saya ambil dan saya menyudahi permainan saya sebelum matahari condong.  Di jalur balik beberapa pantai yang menarik juga kampung-kampung nelayan menjadi obyek menarik utuk diphoto.  Bila mungkin saya akan meminta agar sore terlambat datang.  Supaya saya lebih puas menikmati keindahan fenomenal ini.</p>
<p style="text-align: justify; ">Menjelang maghrib saya sampai di hotel.  Uang 150 ribu saya berikan dari 75 ribu yang diminta. Saya benar-benar mengucapkan terima kasih telah dibantu menikmati perjalanan menarik ini.  Saya lihat kulit saya terbakar dan dipastikan akan menghitam hingga beberapa bulan kedepan.  Saya tak peduli selama ada PANTAI yang selalu bisa saya nikmat!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2012/01/09/tanjung-pinang-bukanlah-pangkal-pinang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belum Ada Kata Jaya di Jayapura</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2011/10/09/belum-ada-kata-jaya-di-jayapura/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2011/10/09/belum-ada-kata-jaya-di-jayapura/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 17:24:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Lima tahun lalu saat saya berkesempatan untuk mengunjungi propinsi paling barat Indonesia, Nangro Aceh Darusallam.  Perasaan saya begitu girang dan tak sabar hari itu datang.  Cerita tentang ketakjuban serambi mekkah ini layaknya dongeng di telinga saya.  Terlebih saat itu baru genap 1 tahun propinsi di ujung barat ini bangkit dari peristiwa tsunami yang berkategori bencana dunia. Suatu kesempatan luar biasa bisa mengunjungi propinsi paling ujung timur ini.  April tahun lalu kesempatan tak diduga datang untuk mengunjungi propinsi paling timur Negeri ini, Papua.  Meski sama-sama untuk urusan kerja namun ternyata perasaan saya tak sama saat menerima tawaran ini.  Meskipun Bunda Sophie yang telah 2 kali kesana dan selalu memaparkan keindahan propinsi ini namun perjalanan udara selama 8 jam membuat nyali saya mengecil.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Jayapura" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_3585.jpg" alt="" width="298" height="447" /></p>
<p style="text-align: justify;">Saya bisa jadi termasuk orang yang suka jalan, penikmat keindahan terutama laut dan landscape kota.  Saya bisa merelakan apapun untuk sekedar bisa jalan.  Satu bakat yang terlihat menurun pada anak kami.  Namun bila dihadapkan dengan perjalanan udara, tunggu dulu.  Perjalanan ke Jogja atau Singapura selama 1,5 jam sudah terasa begitu lama dan mengerikan.  Apalagi 8 jam, di waktu malam!.  Saya seperti kehilangan selera untuk kepergian ini. Tak kurang akal Bunda Sophie memberikan pil kina untuk jaga-jaga terhadap malaria serta antimo.  Ide yang bagus, pikir saya.  Saya tidak pernah mabuk perjalanan namun antimo ini saya rasa akan bisa menyenyakkan saya selama perjalanan. [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">By Be Samyono (15042010.08-30)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lima tahun lalu saat saya berkesempatan untuk mengunjungi propinsi paling barat Indonesia, Nangro Aceh Darusallam.  Perasaan saya begitu girang dan tak sabar hari itu datang.  Cerita tentang ketakjuban serambi mekkah ini layaknya dongeng di telinga saya.  Terlebih saat itu baru genap 1 tahun propinsi di ujung barat ini bangkit dari peristiwa tsunami yang berkategori bencana dunia. Suatu kesempatan luar biasa bisa mengunjungi propinsi paling ujung timur ini.  April tahun lalu kesempatan tak diduga datang untuk mengunjungi propinsi paling timur Negeri ini, Papua.  Meski sama-sama untuk urusan kerja namun ternyata perasaan saya tak sama saat menerima tawaran ini.  Meskipun Bunda Sophie yang telah 2 kali kesana dan selalu memaparkan keindahan propinsi ini namun perjalanan udara selama 8 jam membuat nyali saya mengecil.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Jayapura" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_3585.jpg" alt="" width="298" height="447" /></p>
<p style="text-align: justify;">Saya bisa jadi termasuk orang yang suka jalan, penikmat keindahan terutama laut dan landscape kota.  Saya bisa merelakan apapun untuk sekedar bisa jalan.  Satu bakat yang terlihat menurun pada anak kami.  Namun bila dihadapkan dengan perjalanan udara, tunggu dulu.  Perjalanan ke Jogja atau Singapura selama 1,5 jam sudah terasa begitu lama dan mengerikan.  Apalagi 8 jam, di waktu malam!.  Saya seperti kehilangan selera untuk kepergian ini. Tak kurang akal Bunda Sophie memberikan pil kina untuk jaga-jaga terhadap malaria serta antimo.  Ide yang bagus, pikir saya.  Saya tidak pernah mabuk perjalanan namun antimo ini saya rasa akan bisa menyenyakkan saya selama perjalanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat check in di counter garuda saya memperoleh informasi, pesawat GA yang saya tumpangi akan dua kali transit di Makasar dan Biak.  Sembari menunggu boarding pukul 20.50 saya bergegas ke executive lounge Bank Mandiri untuk charging blackberry dan mencari kesempatan meminum antimo saya, dua pekerjaan penting yang tak boleh saya lewatkan malam itu.  Televisi ramai menyiarkan penangkapan Susno Duadji yang terjadi sorenya.  Saya menyimaknya tak lebih dari melihat tayangan sinetron. Menggelikan.  Saya lebih tertarik untuk menelephon Sophie dan Bundanya.  Sophie mengerti keberangkatan saya dan dia hanya menginginkan saya membawakan buku tempel-tempel sepulang saya nanti.  Satu rule, saya tidak akan menyebutkan kepergian saya dengan pesawat terbang, karena sudah pasti dia tak akan merelakan saya berangkat ini tanpa keikutsertaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pesawat Boing 737 800 berisikan beberapa orang air crew setengah umur ramah menyambut kami yang rata-rata adalah pejabat daerah, expatriat dan pekerja tambang.  Saya duduk nyaman di kursi 8B.  Saya selalu bilang kursi pesawat didesain menganut badan saya yang kecil ini, jadi permintaan  maaf sedalamnya bila ada yang mempunyai badan lebih besar dari saya.  Tak berapa lamapun akhirnya saya tertidur dan terbangun saat mendarat di makasar.  Terulang kembali saat mendarat di biak dan kembali terulang saat akan mendarat di Jayapura.  Gangguan yang saya dapatkan hanyalah kegiatan pramugari yang membagikan makanan di dini hari.  Selebihnya antimo memang benar-benar bisa melelapkan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjelang pendaratan di pelabuhan Udara Sentani nampak gugusan lebatnya hutan dan luasnya danau sentani begitu menawan berbaur dengan kabut pagi.  Keindahan terelok yang tak terkatakan.  Saya bisa mengamini bahwa surga memang diletakkan di bumi ini.  Sayang pengaminan saya sepertinya sesaat terucap.  Saat pintu pesawat terbuka kekontrasan menyeruak.  Realitas dihamparkan.  Jayapura bukanlah kota yang indah.  Tak lebih dari kota-kota pelosok di pulau jawa yang tertinggal dan tak terawat.  Kesimpulan yang ingin saya katakan bukanlah suatu kritik tapi satu keprihatinan.  Bagai melihat kilau permata yang terbuang di kubangan.  Bukan waktu yang singkat untuk menjuk siapa yang bertanggung jawab tentunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak bisa dipungkiri bagaimana indah dan uniknya Danau Sentani, eloknya pahatan teluk yang menebarkan gugusan pulau kecil di hamparan pantai jayapura serta kontur pegunungan yang menakjubkan. Namun kembali itu serasa memprihatinkan bila dibandingkan dengan kondisi tata kota, kemajuan, sarana dan prasarana serta perawatan kota yang sangat minim.  Dan bukanlah hal yang murah untuk mendapatkan kebutuhan pokok disana. Tak dibantah, bagi saya ini bukanlah kota yang saya inginkan dan akan saya pertanyakan bagaimana saya bisa menikmati hidup disini.  Satu satunya kondisi yang membuat saya mampu mempertimbangkan adalah keragaman masakan asli papua yang sangat beragam dan kaya rasa.  Bahkan rasa kakap merah bakar yang saya santap dalam porsi besar disana belumlah tergantikan hingga sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga hari tinggal di hotel Matoa saya mencoba meresapkan semua pengalaman dan kehidupan kota ini dalam nadi saya.  Sayangnya kemauan saya menolaknya.  Pagi buta dihari ke 4 saya mengakhiri perjalanan di kota ini.  Berita tentang perang suku, pertikaian di perbatasan dan penembakan serta pesawat jatuh  seakan masih terus menjadi santapan harian selama disini, ditengah kondisi yang kita sebut kemerdekaan ini.  Dalam perjalanan di pesawat saya memikirkan kondisi disana, mengibaratkan melihat orang kelaparan di lumbung sendiri.  Lapar akan kemajuan yang belum sepenuhnya diberikan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2011/10/09/belum-ada-kata-jaya-di-jayapura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Matah Ati: Langendriyan Yang Dibesut Ala Broadway</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2011/05/20/matah-ati-langendriyan-yang-dibesut-ala-broadway/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2011/05/20/matah-ati-langendriyan-yang-dibesut-ala-broadway/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 11:59:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Siapa bilang kesenian tradisional Indonesia tidak mempunyai opera? <strong>Langendriyan</strong> adalah buktinya.  Seni berpakem jawa ini memadukan tari dengan nyayian / tembang dalam satu pertunjukan.  Dan ditangan Atilah Suryajaya warga turunan kraton Mangkunegaran Solo ini membesut episode opera jawa kuno langendriyan menjadi tontonan apik yang dibawa pada konteks kekinian.  Konsep yang harus ditampilkan untuk menyelipkan budaya lama ini pada era apresiasi budaya yang mulai pudar.</p>

<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/Q9PBSU8SuC8" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/Q9PBSU8SuC8"></embed></object>
<p style="text-align: justify;">Memadukan sendratari, ketoprak, tari klasik dan pagelaran wayang kulit yang digarap selama 2 tahun terciptalah<span style="color: #ff6600;"><strong> Matah Ati</strong></span>.  Seni kolosal yang pertama digelar di Explanade Singapura Nopember lalu bertepatan dengan pesta budaya Asia Tenggara.  Pertunjukan berdurasi 2,5 jam ini tak saja memperoleh sambutan yang gempita namun juga apresiasi yang bertubi akan kreatifitas menjadikan seni pertunjukan tradisional sejajar dengan pentas broadway si orang bule.  Tak salah bila Atila berupaya memboyong pertunjukan ini untuk di tonton di negrinya sendiri.  6 bulan berselang  barulah anak negri bisa melihat pertunjukan tradisional mereka di TIM yang terjadwal bulan ini selama 4 hari berturut-turut. [......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">By Be Samyono [14052011-00.30-01.30]</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Siapa bilang kesenian tradisional Indonesia tidak mempunyai opera? <strong>Langendriyan</strong> adalah buktinya.  Seni berpakem jawa ini memadukan tari dengan nyayian / tembang dalam satu pertunjukan.  Dan ditangan Atilah Suryajaya warga turunan kraton Mangkunegaran Solo ini membesut episode opera jawa kuno langendriyan menjadi tontonan apik yang dibawa pada konteks kekinian.  Konsep yang harus ditampilkan untuk menyelipkan budaya lama ini pada era apresiasi budaya yang mulai pudar.</p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/Q9PBSU8SuC8" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/Q9PBSU8SuC8"></embed></object></p>
<p style="text-align: justify;">Memadukan sendratari, ketoprak, tari klasik dan pagelaran wayang kulit yang digarap selama 2 tahun terciptalah<span style="color: #ff6600;"><strong> Matah Ati</strong></span>.  Seni kolosal yang pertama digelar di Explanade Singapura Nopember lalu bertepatan dengan pesta budaya Asia Tenggara.  Pertunjukan berdurasi 2,5 jam ini tak saja memperoleh sambutan yang gempita namun juga apresiasi yang bertubi akan kreatifitas menjadikan seni pertunjukan tradisional sejajar dengan pentas broadway si orang bule.  Tak salah bila Atila berupaya memboyong pertunjukan ini untuk di tonton di negrinya sendiri.  6 bulan berselang  barulah anak negri bisa melihat pertunjukan tradisional mereka di TIM yang terjadwal bulan ini selama 4 hari berturut-turut. Dengan tiket yang dibandrol Rp 200 ribu hingga 750 ribu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagelaran yang mengambil epik kisah nyata drama heroik Rubiah dari desa Matah dan bangsawan raden mas Said / Pangeran Samber Nyowo yang kelak akan menurunkan raja-raja Kraton Mangkunegaran Solo dikemas sangat cerdik tidak saja memadukan semua ragam tari, tata busa dan budaya asli solo namun juga penggunaan teknologi dan tata panggung yang cukup high tech.  Lihat saja panggung garapan Jay Subiyakto yang di beri kemiringan 15 derajat demi memanjakan mata penonton yang memberikan efek 3 dimensi.  Tak sekedar miring namun panggungpun bisa terbuka bagian tengahnya berikut efek tali sling dan bahan peledak di beberapa bagian.  Intinya kembali agar paket tradisional ini bisa dirasakan menjadi hal baru yang tidak ketinggalan jaman namun mampu untuk selaras dengan keinginan jaman itu sendiri tanpa meninggalkan hal yang bersifat pakem.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak berhenti disitu.  Update kekinianpun ditampilkan di tengah acara oleh sentilan segar ala “srimulat” yang dikemas apik.  Mengkritik tanpa memanaskan telinga.  Ambil contoh beberapa kasus suap yang marak belakangan ini.  Hingga guyonan fulgar ala Melinda Dee yang membandingkan 20 M hasil jarahannya dengan aset pribadinya yang supersize 20 Kg itu.  Tak pelak guyonan berbahasa indonesia ini memancing tawa lebih dari 800orang yang hadir di pertunjukan perdana malam 13 Mei di TIM Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa mengurangi gegap gempita pujian akan besutan ini saya sebagai pecinta seni memberi catatan pinggir Bahwa sangat disayangkan bahwa pertunjukan ini tidak bisa maksimal di gelar di negri sendiri.  Gedung TIM yang baru rasanya masih kurang sempurna tata suaranya sehingga rentak gamelan dan suara pelatun terkesan tidak maksimal.  Pun suporting gedung seperti hall untuk menunggu ataupun tempat parkir masih jauh dari yang diharapkan.  Hingga antrian panjang dan kurangnya parkir menjadi hambatan tersendiri.  Dan hal ini ditambah dengan atitude penonton kita yang belum bisa mengapresiasi sebuah pertunjukan secara utuh.  Misalnya dengan datang terlambat, sibuk memotret saat pertunjukan ataupun tak disiplin dalam hal antrian.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa dibayangkan selama apresiasi kita masih minim dan dukungan gedung pertunjukan yang tidak layak secara standar internasional jangan harap seni pertunjukan akan hidup di negeri sendiri.  Hingga efek konyol terjadi dimana pertunjukan lebih mengorbankan bidang olahraga dengan diambilnya tempat stadion atau lapangan tennis sebagai arena pertunjukan.  Dan matah ati-atah ati yang lain yang telah berjuang memodernkan diri tak akan bisa dihargai di negerinya sendiri.  Alangkah memalukannya bila malah negera lain justru lebih mengapresiasikannya.  Dan jangan kecewa bila satu saat nanti justru mereka yang merasa berhak memiliki.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2011/05/20/matah-ati-langendriyan-yang-dibesut-ala-broadway/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Voyage De La Vie – RWS</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2011/04/19/voyage-de-la-vie-%e2%80%93-rws/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2011/04/19/voyage-de-la-vie-%e2%80%93-rws/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 09:32:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Semasa kecil mata saya selalu terpesona dan menggantungkan tanda tanya yang besar setiap kali menyaksikan pertunjukan sirkus di kota kecil saya.  Sirkus yang di gelar di kubah raksasa dengan serangkaian atraksi yang mengalir satu persatu dan diseling kelucuan si badut amat sangat menghibur.  Hari ini 02 April 2011 bayangan saya akan sirkus tradisional itu sirna.  Pertunjukan sirkus modern <span style="color: #ff6600;"><strong>“Voyage de La Vie”</strong></span> yang di gelar di Festive Grand Theater area <a href="http://www.rwsentosa.com">Resort World Sentosa</a> Singapore memberi perspective yang beda mengenai seni pertunjukan utamanya sirkus.</p>

<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/8Ob7EXq4f6o" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/8Ob7EXq4f6o"></embed></object>
<p style="text-align: justify;">“Voyage de La Vie” adalah pertunjukan yang memadukan sirkus dengan theater yang ditata apik berskenario oleh bintang internasional. Tarian, nyanyian, atraksi, sulap dan acrobat maut berpadu menjadi pertunjukan utama selama 2 setengah jam tanpa jeda.  Segenap ide kreatif di tuangkan Mark Fisher arsitek dan desainer panggung yang pernah menggarap pembukaan olimpiade Beijing  untuk menampilkan keajaiban di tengah panggung Festive Grand Theater yang berkapasitas hingga 1.600 orang ini [.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff6600;">By Be Samyono [02042011-13.13]</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Semasa kecil mata saya selalu terpesona dan menggantungkan tanda tanya yang besar setiap kali menyaksikan pertunjukan sirkus di kota kecil saya.  Sirkus yang di gelar di kubah raksasa dengan serangkaian atraksi yang mengalir satu persatu dan diseling kelucuan si badut amat sangat menghibur.  Hari ini 02 April 2011 bayangan saya akan sirkus tradisional itu sirna.  Pertunjukan sirkus modern <span style="color: #ff6600;"><strong>“Voyage de La Vie”</strong></span> yang di gelar di Festive Grand Theater area <a href="http://www.rwsentosa.com">Resort World Sentosa</a> Singapore memberi perspective yang beda mengenai seni pertunjukan utamanya sirkus.</p>
<p style="text-align: center;"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/8Ob7EXq4f6o" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/8Ob7EXq4f6o"></embed></object></p>
<p style="text-align: justify;">“Voyage de La Vie” adalah pertunjukan yang memadukan sirkus dengan theater yang ditata apik berskenario oleh bintang internasional. Tarian, nyanyian, atraksi, sulap dan acrobat maut berpadu menjadi pertunjukan utama selama 2 setengah jam tanpa jeda.  Segenap ide kreatif di tuangkan Mark Fisher arsitek dan desainer panggung yang pernah menggarap pembukaan olimpiade Beijing  untuk menampilkan keajaiban di tengah panggung Festive Grand Theater yang berkapasitas hingga 1.600 orang ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski tanpa badut atau hewan-hewan buas namun “Voyage de La Vie” tanpil solit dengan tata panggung nan apik dan busana yang eksotik.  Gambaran sirkus tradisional hampir tak ada tergantikan dengan decak kagung akan kepiawaian menggelar pertunjukan dengan kemasan yang imajinatif.  Saya begitu terpukau dengan manajemen pertunjukan dan bagaimana ice breaking sebelum pertunjukan selalu menjadi pengumpul perhatian hingga penonton dibawa pada alur cerita tanpa terpaksa.  Seakan ada penyatuan antara pemain dan penonton untuk bersama-sama menjalin mutualisme selama pertunjukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Efek pengalihan kala pergantian property panggung juga dipikirkan dengan rapi hingga penonton tak menyadari dan merasa seakan-akan semua telah siap dan mengalir tanpa jeda.  Di deret depan saya cukup bisa menikmati cara kerja panggung dan efek-efek yang disuguhkan.  Semua ini membuat penampil sungguh maksimal atraksinya seperti: seperti Viktor Kee, yang dikenal sebagai salah satu juggler terbaik dunia; Aurelia Cats, penari trapeze (akrobatik tali) dari Perancis, dan artis handstand (penari dengan kekuatan satu tangan), Melanie Chy dari Swiss. Juga ada ahli atraksi panah dari Finlandia, Martti Peltonen; Linna Aunola, penari akrobat tali asal Finlandia yang aksinya sungguh mendebarkan jantung; juga manusia karet nan-ajaib dari Rusia, Alexey Goloborodko, yang baru berusia 15 tahun; serta dua pesulap asal Las Vegas, Jarret dan Raja.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="RWS" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_0620.jpg" alt="" width="383" height="256" /></p>
<p style="text-align: justify;">Rasanya tak sayang menyaksikan proyek ambisius Singapore untuk memproduksi pertunjukan sirkus internasional pertamanya.  Harga tiket yang dilego <a href="http://www.sistic.com/">www.sistic.com</a> dengan harga S$  68-168 [antara 500 ribu hingga 1.2 juta] terasa terbayar dengan pertunjukan spektakuler serta gedung pertunjukan yang sangat mumpuni ini.  Satu hal yang apresiatif sekali kala tepuk berkepanjangan mengakhiri penampilan para akrobatik professional ini berlaga dengan taburan balon, bola dan kertas berbentuk kupu-kupu.  Indah dan mengesankan.  Satu selebrasi yang mempesona.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan keluar theater saya berfikir begitu banyaknya seniman hebat tanah air yang mampu menyajikan tontonan tidak kalah hebat.  Namun tak ada hitungan sebelah jari yang mampu mengemas pertunjukan secara professional dan termanajemeni dengan level internasional.  Rasanya penantian untuk melihat kiprah anak bangsa untuk menjadikan seni pertunjukan tradisional muncul di tataran seni dunia masih jauh dari angan.  Obat kangen hanya sesekali bisa menengok pentas mereka di panggung Explanade yang notabene bukan anak bangsa sendiri yang bisa menikmati dan mengapresiasikannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2011/04/19/voyage-de-la-vie-%e2%80%93-rws/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Lion King Musical Theater &#8211; MBS</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2011/04/19/the-lion-king-musical-theater-mbs/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2011/04/19/the-lion-king-musical-theater-mbs/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 09:20:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Spectacular … begitu benak saya memberi pujian pada icon komplek entertainment baru di Singapore : <strong><a href="http://marinabaysands.com">Marina Bay Sands</a></strong>.  Seperti  slogan “tak pernah usai”.  Singapore terus mengexplore sumberdaya non alaminya untuk menunjukkan peradaban dan memberi surga baru dalam jagat wisata.  Marina Bay Sands merupakan icon terpadu antara hotel megah bertopping perahu raksasa: Sands Skypark, art museum berbentuk teratai, casino, Sand Art Parth dan beragam fasilitas perkantoran serta belanja mewah lainnya.   Satu  icon yang terintegrated dan menyatu dengan icon wisata terdahulu seperti Explanade, fullerton ataupun merlion park. Bagi saya yang bermata “arsitektur” ini merupakan kemanjaan yang memuaskan, terlebih saya berkesempatan untuk menikmati satu dari 2 theater kelas dunia: Sands theater yang mengelar <span style="color: #ff6600;"><strong>The Lion King Musical Theater</strong>.</span></p>

<p style="text-align: center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=fnNY55nb-Q0&#38;feature=related"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/fnNY55nb-Q0&#38;feature" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/fnNY55nb-Q0&#38;feature"></embed></object></a>
<p style="text-align: justify;">The Lion King Musical  ditampilkan di Sands Theater yang menjadi pusat pertunjukan broadway dan mampu menampung hingga 1.680 orang di dua lantainya.  Theater ini lebih kecil dibanding dengan Grand Theater di sebelahnya yang mampu menampung hingga 2.155 orang di 3 lantainya.  Sebagai wahana baru theater ini sarat dengan kemewahan tidak saja interiornya namun juga teknologi dan efek digital yang diusungnya.  Satu jagad lain yang belum pernah ada di belahan asia tenggara [.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff6600;">By Be Samyono [19042011-14.14)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Spectacular … begitu benak saya memberi pujian pada icon komplek entertainment baru di Singapore : <strong><a href="http://marinabaysands.com">Marina Bay Sands</a></strong>.  Seperti  slogan “tak pernah usai”.  Singapore terus mengexplore sumberdaya non alaminya untuk menunjukkan peradaban dan memberi surga baru dalam jagat wisata.  Marina Bay Sands merupakan icon terpadu antara hotel megah bertopping perahu raksasa: Sands Skypark, art museum berbentuk teratai, casino, Sand Art Parth dan beragam fasilitas perkantoran serta belanja mewah lainnya.   Satu  icon yang terintegrated dan menyatu dengan icon wisata terdahulu seperti Explanade, fullerton ataupun merlion park. Bagi saya yang bermata “arsitektur” ini merupakan kemanjaan yang memuaskan, terlebih saya berkesempatan untuk menikmati satu dari 2 theater kelas dunia: Sands theater yang mengelar <span style="color: #ff6600;"><strong>The Lion King Musical Theater</strong>.</span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=fnNY55nb-Q0&amp;feature=related"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="350" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/fnNY55nb-Q0&amp;feature" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="350" src="http://www.youtube.com/v/fnNY55nb-Q0&amp;feature"></embed></object></a></p>
<p style="text-align: justify;">The Lion King Musical  ditampilkan di Sands Theater yang menjadi pusat pertunjukan broadway dan mampu menampung hingga 1.680 orang di dua lantainya.  Theater ini lebih kecil dibanding dengan Grand Theater di sebelahnya yang mampu menampung hingga 2.155 orang di 3 lantainya.  Sebagai wahana baru theater ini sarat dengan kemewahan tidak saja interiornya namun juga teknologi dan efek digital yang diusungnya.  Satu jagad lain yang belum pernah ada di belahan asia tenggara.</p>
<p style="text-align: justify;">“Can You Feel The love To Night” yang menjadi original sound track The Lion King  menjadi magnet hingga lebih dari 51 juta orang menontonnya.  Dan Singapore mempagelarkan pertama kali saat pembukaan Marina Bay Sand.   Karya spektakular yang memenangkan lebih dari 70 penghargaan ini disutradarai oleh Julie Taymor memang pantas mendapat pujian.  Selama 2 setengah jam lebih penonton disuguhi imajinasi hutan Afrika dengan karakter Disney yang begitu real dan mengundang decak kagum.  Tidak saja kehebatan tekbologi yang di paparkan namun juga profesionalisme pemain, tata busana, desain panggung hingga tata musiknya yang tanpa cela.  Ticket yang bisa dibeli di <a href="http://www.sistic.com/">www.sistic.com</a> dan dibandrol antara S$ 65-240 (500 ribu &#8211; 1.7 juta!) per pertunjukan sabtu 1 April 2011 lalu telah fully book!</p>
<p style="text-align: justify;">Saya masih terkesan dengan tata panggung yang amat rapi dan membawa imajinasi saya begitu hidup hingga beberapa kali tak sadar mengucap “wooo”.  Panggung seluas 20m X 30 M sekan disulap menjadi dunia kecil 3 dimensi yang mampu bergerak dinamis dan mempesona.  Pun pada tata busananya, perancang begitu smart melekatkan karakter berbagai hewan pada pelakon tanpa mengubah persepsi bahwa itu semua orang yang menjalankannya.  Baik itu hewan yang berukuran besar ataupun pada hewan kecil dan bisa terbang.  Indah!.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="MBS" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_0563.jpg" alt="" width="383" height="256" /></p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya yang penggemar pagelaran, pertunjukan dan orchestra ini merupakan pengalaman baru.  Tidak saja baru dalam menikmati pertunjukan kelas dunia namun juga pengalaman baru untuk sadar menjaga tata krama menonton pertunjukan.  Bisa jadi saya mempertanyakan kenapa pertunjukan dibatasi bagi anak2 usia dibawah 7 tahun tidak diperkenankan, terlebih merekam ataupun memotret selama pertunjukan sangat dilarang.  Mungkin pemikiran kita sangat tidak asyik tidak bisa membawa anak2 di pertunjukan “segala”umur” dan lebih-lebih amat tidak asyik tidak bisa melaporkan secara live pertunjukan melalui media social yang kita punya macam facebook atau twitter.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun inilah makna pertunjukan dimana kita dibawa pada situasi untuk menikmati suguhan dengan segenap panca indra kita dengan focus.  Merasai setiap detail sajian dengan kenyamanan dan etika.  Hal ini tidak saja berlaku bagi kita namun juga penonton lain membutuhkan kepentingan dan suasana yang sama. Sederhananya saling membagi kenyamanan untuk menikmati pertunjukan bersama.  Penghargaanpun seyogyanya kita berikan dengan tidak merekam ataupun memfoto seijin pelaksana untuk menghormati hak property pertunjukan.  Disinilah etika di sematkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2011/04/19/the-lion-king-musical-theater-mbs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sophie Di 3 Tahunnya</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2011/03/03/sophie-di-3-tahunnya/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2011/03/03/sophie-di-3-tahunnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Mar 2011 15:17:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Baby kecil itu seakan bermetamorfosa.  Si kecil yang tembluk, menggemaskan menjadi sosok kecil yang tahu apa maunya, banyak bicara dan amat menggemari musik.  Bukan sesekali saya terbawa emosi untuk bisa merasakan masa-masa menggendong dia dan menggodanya, atau membawanya jalan serta mendandaninya. Tak terasa waktu itu telah berjalan 3 tahun ini. Saya sangat merindukannya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Sophie in3" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Us6.jpg" alt="" width="384" height="307" /></p>
<p style="text-align: justify;">Terselip rasa sesal bahwa saya tidak bisa secara konsisten untuk terus menuliskan fase-fase perkembangannya.  Menuliskan hal kecil kesehariannya yang akan menjadi kado indah saat dia belum mampu mengingat masa kecilnya nanti.  Setahun kefakuman tentunya banyak hal yang terjadi dan patut untuk diingat.  Sayangnya semua terlewatkan, satu-satunya hiburan banyak photo yang tersimpan.  Moga itu bisa bercerita banyak untuknya kelak [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff0000;">Catatan Ayah (1)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">By Be samyono (03032011-19.10)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Baby kecil itu seakan bermetamorfosa.  Si kecil yang tembluk, menggemaskan menjadi sosok kecil yang tahu apa maunya, banyak bicara dan amat menggemari musik.  Bukan sesekali saya terbawa emosi untuk bisa merasakan masa-masa menggendong dia dan menggodanya, atau membawanya jalan serta mendandaninya. Tak terasa waktu itu telah berjalan 3 tahun ini. Saya sangat merindukannya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Sophie in3" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Us6.jpg" alt="" width="384" height="307" /></p>
<p style="text-align: justify;">Terselip rasa sesal bahwa saya tidak bisa secara konsisten untuk terus menuliskan fase-fase perkembangannya.  Menuliskan hal kecil kesehariannya yang akan menjadi kado indah saat dia belum mampu mengingat masa kecilnya nanti.  Setahun kefakuman tentunya banyak hal yang terjadi dan patut untuk diingat.  Sayangnya semua terlewatkan, satu-satunya hiburan banyak photo yang tersimpan.  Moga itu bisa bercerita banyak untuknya kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Keberadaan Sophie menjadi pelajaran berharga bagi saya dan Bunda mengenai apa arti cinta dan merawat titipan.  Bagi saya, keberadaannya merupakan terima kasih dan kepercayaan karena Allah menitipkan dirinya di asuhan kami.  Tak putus harapan dan upaya untuk menjadikan dirinya sesuai apa yang dia ingin. Menjadikan dia sebagai pribadi yang mandiri dan bijak untuk pijakan hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di jeda saya mengingat setahun kebelakang, tidak sedikit peristiwa yang saya harus garis bawahi.  Saat manis, indah, menakjubkan juga sedih.  Saat-saat hal kecil terjadi dan menjadi pengikat kebersamaan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">PELAJARAN BAGI SEORANG AYAH</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saya akui banyak hal yang saya harus perbaiki sebagai ayah. Mungkin saya sudah melakukan semua hal untuk Sophie.  Namun saya belum bisa membantunya menceboki kala buang air besar atau membantu bundanya saat Sophie muntah.  Saya menyerah untuk dua hal itu.  Namun sepertinya semua ada saat pertama.  Kala hanya kami berdua dan Sophie harus BAB tak ada pilihan lain kecuali membantunya.  Ditengah semua campur aduk perasaan yang tertinggal Cuma lega karena proses awal ini tak lagi menjadi beban saat kejadian yang sama berulang.</p>
<p style="text-align: justify;">Justru hal yang membekas adalah pendapat bahwa anak adalah pribadi yang unik dan perkembanganya tidak selalu bisa disamakan dengan garis lurus.  Tidaklah tepat mendidik anak yang berbeda dengan  cara yang sama itulah yang saya pelajari.  Anak membutuhkan sentuhan dan penalaran yang berbeda tiap individunya.  Pemahaman kita akan perbedaan ini akan membawa kita pada pemahaman akan arti kelebihan dan kelemahan yang dimiliki masing-masing anak.  Sama halnya dengan kenyataan yang saya hadapi ternyata perkembangan anak tidaklah selalu maju dan lurus, kadangkala berbelok bahkan mengalami kemunduran.  Sebelumnya saya melihat hal ini sebagai kegagalan dalam mendidik.  Tapi ternyata saya keliru.  Ada kalanya anak mempunyai fase-fase yang memang harus kita mengerti.  Pemahaman akan membawa kita pada upaya untuk selalu memotivasi anak untuk kembali maju dan berada di tracknya yang benar.  Tidak malah mengintimidasinya dan membuat perbandingan hingga melemahkan kepercayaan dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini dialami Sophie.  Cengeng itulah salah satu kemundurannya.  Saya hampir frustasi melihat makin lemahnya kepercayaan diri dan kemandirian dia.  Bunda mengingatkan saya akan fase itu dan kami mencoba untuk selalu menanggapi kecengengannya dengan bijak.  Pun meminta keluarga besar untuk lebih memberi dukungan positif saat sifat ini muncul.  Sejauh ini upaya ini nampaknya berhasil.  Pun demikian juga dengan kemunduran lainnya.  Kuncinya selalu mencari upaya dan metode yang tepat untuk mengantisipasinya dan kembali kepemahaman bahwa tiap anak adalah unik.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>AKTIF SEKOLAH</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sekolah adalah obsesi dan mau Sophie.  Akhirnya Juli 2010 dia resmi menjadi murid toddler Al Azhar Kemandoran.  Menyenangkan melihat semangat dan antusias dia sekolah dan les nari disekolah.  Dibalik semangat sekolah dan kepribadiannya yang rame saya tidak menyangka bahwa ternyata Sophie amat pendiam dan pasif di sekolah.  Informasi dari guru mengatakan bahwa memang beginilah perilaku anak-anak toddler.  Mereka biasanya diam dan memperhatikan, sisanya akan merealisasikannya dirumah.  Sophie demikian namun saya tak sepenuhnya percaya dengan ini.  Saya berpendapat Sophie kurang mampu untuk berinteraksi dengan teman sebaya.  Utamanya mereka yang belum mampu untuk berbicara lancar.   Kebanyakan lingkungannya adalah anak besar atau orang tua yng bisa memacu daya bicaranya.  Selain itu sikapnya yang analitikal dan pemalu memberi hambatan lain dalam interaksi ini.  Tak ada kata lain selalu berpesan padanya untuk enjoy dan menikmati lingkungan barunya.  Dan tak perlu waktu lama.  Sophie sudah membuktikannya dengan 1 piala pertamanya yang dibawa pulang!  Tidak itu saja dia juga menjadi role model bagi teman-temannya atas  keberanian dan kemandiriannya di kelas.  Ini sangat membanggakan ayah bunda.</p>
<p style="text-align: justify;">Keasyikan Sekolah bagi Sophie juga merupakan keasyikan menjemput sekolah bagi papa koko di hari hari tertentu.  Jum’at biasanya merupakan hari menyenangkan bagi Sophie untuk jalan sepulang Sekolah ke tempat yang sepele, apalagi kalau tidak ke Carefour ITC permata hijau.  Di tempat yang lumayan dekat dengan sekolahnya ini dia biasa ke game zone sebentar dan pulang dengan membawa makanan kesukaaanya: HOKA-HOKA BENTO!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">[bersambung]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2011/03/03/sophie-di-3-tahunnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MHI Tennis 6th Anniversary</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2011/02/16/mhi-tennis-6th-anniversary/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2011/02/16/mhi-tennis-6th-anniversary/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2011 03:27:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[MHI Tennis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hujan telah menyingkir, menyisakan terik dan serta kecerahan yang diharapkan.  Lapangan tenis Patra nampak didominasi warna outfit putih-putih yang memberi penguat kesegaran wajah-wajah undangan yang datang.  Reuni, begitu yang kita inginkan pada hajatan MHI Tennis 6<sup>th</sup> anniversari kali ini.  6 tahun bukanlah perjalanan yang pendek.  Bila kita bermain dengan matematika dengan mengasumsikan ada 5 orang anggota baru rata per quarternya maka akan ada 120 orang yang pernah bermain bersama MHI tennis.  Artinya sejumlah itulah alumni MHI tennis yang ada.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="MHI Tennis #6" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_4120copy.jpg" alt="" width="360" height="241" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tema reuni yang dibuat untuk hajatan ulang tahun kali ini bukan kenaifan untuk mengumpulkan sejumlah orang diatas.  Undangan terbuka disebarkan, lebih untuk memberi momentum bagi rekan-rekan yang pernah bersentuhan dengan MHI Tennis  guna datang dan mengingat kebersamaan tersebut.  4 founder (arie, derry, yudha &#38; sam) bisa dikumpulkan, termasuk rekan-rekan angkatan awal (dyna, oi, koko) dan rekan milist (Husni) lengkap dengan keluarga mereka. Dengan total sejumlah 43 orang acara sederhana khas MHI tennis berlangsung hangat dan meriah [.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">By Be Samyono (08022011-13.25)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hujan telah menyingkir, menyisakan terik dan serta kecerahan yang diharapkan.  Lapangan tenis Patra nampak didominasi warna outfit putih-putih yang memberi penguat kesegaran wajah-wajah undangan yang datang.  Reuni, begitu yang kita inginkan pada hajatan MHI Tennis 6<sup>th</sup> anniversari kali ini.  6 tahun bukanlah perjalanan yang pendek.  Bila kita bermain dengan matematika dengan mengasumsikan ada 5 orang anggota baru rata per quarternya maka akan ada 120 orang yang pernah bermain bersama MHI tennis.  Artinya sejumlah itulah alumni MHI tennis yang ada.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="MHI Tennis #6" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_4120copy.jpg" alt="" width="360" height="241" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tema reuni yang dibuat untuk hajatan ulang tahun kali ini bukan kenaifan untuk mengumpulkan sejumlah orang diatas.  Undangan terbuka disebarkan, lebih untuk memberi momentum bagi rekan-rekan yang pernah bersentuhan dengan MHI Tennis  guna datang dan mengingat kebersamaan tersebut.  4 founder (arie, derry, yudha &amp; sam) bisa dikumpulkan, termasuk rekan-rekan angkatan awal (dyna, oi, koko) dan rekan milist (Husni) lengkap dengan keluarga mereka. Dengan total sejumlah 43 orang acara sederhana khas MHI tennis berlangsung hangat dan meriah.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa team dari majalah Mens’health turun berkontribusi memberikan sejumlah goodybag, doorprice dan hadiah utama bagi penerima penghargaan dari MHI Tennis.  Tak ketinggalan sharing dari rekan-rekan undanganpun mengalir entah dalam bentuk makanan, minuman, doorprize atau berbagai bentuk partisipasi lainnya.  Saya merasa kembali ingat, beginilah culture MHI Tennis sebenarnya. Kebersamaan dalam perbedaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak hal yang telah berubah selama 6 tahun ini. Tidak saja member dilapangan yang telah berbeda dari kondisi yang hampir homogen menjadi amat sangat heterogen, lokasi lapangan hingga banyak status ex member yang telah berkeluaraga.  Sisi sentimentil saya seakan dibawa pada kenyataan bahwa MHI tennis tidak saja sekedar aktifitas setiap minggu namun lebih dari itu begitu banyak kehidupan yang bersentuhan dengan keberadaan MHI tennis.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah bentuk persahabatan yang membuat saya bersyukur.  Utamanya setelah sebuah email terlayang melalui milist MHI tennis keesokan harinya.  Email dari Pak Husni, member milist MHI tennis yang sebelumnya belum pernah ikut kegiatan dan bertemu rekan-rekan MHI tennis secara langsung:</p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #ffff00;">Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih atas penerimaan anggota MHI Tenis yang luar biasa. Padahal baru kali inilah saya bertemu secara fisik dengan rekan2, kecuali dengan Kang Ade pernah ketemu 2x masalah bisnis .  Selama ini saya cuma sesekali ikut ngasih komentar di milis saja . Terus terang anak saya agak ragu dgn pertemuan ini, tadinya malah mau nunggu di mobil saja. Dia bilang ,&#8221;Emangnya ayah udah kenal berapa lama, dan pernah bertemu ?&#8221;. Waktu saya jawab belum, dia agak kaget sambil komentar : &#8220;Gimana kalau nanti di-cuekkin dong&#8221;. Saya jawab &#8220;ya udah Bismillah aja, gak mungkin lah kita di-cuekkin, wong kita tamu kan &#8220;.</span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #ffff00;">Ternyata ,setelah selesai, komentar anakku &#8220;LUAR BIASA, ramah-ramah ya orangnya, suka bercanda, walau baru ketemu tapi kok kayak yang udah lama kenal dan langsung KLIK ya &#8230;. &#8221; Memang MHI-Tenis sesuai dengan mottonya FUN, FRIENDLY &amp; HEALTHY . Kalau saja dekat, saya ingin sekali bergabung &#8230; Cuma jaraknya lumayan jauh &#8230;. Sekali lagi terima kasih rekan2 MHI Tenis dan Selamat Ulang Tahun yg ke-6 &#8230;</span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #ffff00;">Husni &amp; Keluarga</span></em></p>
<p style="text-align: justify;">Atau email lain dari salah satu member tennis:</p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #ffff00;">Temans, Terima kasih atas partisipasi dan kedatangannya di acara MHI Tennis anniversary kemarin.<br />
Menyenangkan bisa melihat kita bisa berkumpul kembali.  Secara pribadi saya ingin mengucapkan selamat dan terima kasih kepada :</span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #ffff00;"> </span><span style="color: #ffff00;">- The founding father : Derry, Ari, Sam, Yudha, minus Edwin.<br />
- Peserta Q1 2011.<br />
- Para &#8220;alumni&#8221; : Dyna, Oi, Ade, Wibi,<br />
- Team Men&#8217;s Health Indonesia.<br />
- Fotografer dadakan dan gratisan : Chatri.<br />
- Dan semua rekan, keluarga besar MHI Tennis, yang bersedia meluangkan waktunya.<br />
- ucapan selamat untuk Diki (most unbeatable), Pak Ben (most inspiring) dan Nike (most improved).<br />
- Buat Sam dan Asrizal yang sudah meluangkan waktunya untuk mengurus MHI Tennis.</span></em></p>
<p><em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ffff00;">Semoga kita tetap bisa menjaga kebersamaan ini.</span></p>
<p></em></p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #ffff00;">Salam Ace<br />
Mamat</span></em></p>
<p style="text-align: justify;">Jelaslah MHI tennis bukanlah sekedar komunitas lebih dari itu MHI Tennis adalah <strong><span style="color: #ff6600;">KELUARGA</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Happy Anniversari MHI Tennis!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2011/02/16/mhi-tennis-6th-anniversary/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya &amp; MHI Tennis</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2011/02/11/saya-mhi-tennis/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2011/02/11/saya-mhi-tennis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 09:25:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>
		<category><![CDATA[MHI Tennis]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hari ini 9 januari, hujan taklah datang, mendungpun tidak meradang, sama seperti yang terjadi enam tahun lalu ... di hari minggu satu jam lebih awal. Saya sampai lebih dahulu ke lapangan tenis.  Meski tidak datang di lapangan yang sama dan bermain dengan rekan-rekan yang serupa namun saya mempunyai semangat yang sama seperti yang saya miliki kala itu.  Semangat yang membuat saya tetap mencintai olah raga ini dan semangat yang membakar keteguhan saya untuk tetap berjalan bersama MHI Tennis semampu yang saya bisa.  Satu semangat yang sandarkan pada alasan yang cukup sederhana.  Apalagi kalau bukan karena MHI tennis adalah rumah yang kami berlima bangun dari mula. Dan saya selalu percaya pada rumah ini. Atapnya akan selalu bisa menjadi peneduh dan ruangnya akan bisa menjadi wadah berkiprah bagi orang2 yang punya hasrat dan kecintaan pada tennis seperti kami.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Logo MHI" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/LogoKaos.jpg" alt="" width="307" height="238" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kesadaran saya yang terdalam berucap syukur bahwa banyak hal yang bisa saya pelajari selama kebersamaan dengan MHI tennis.  Pembelajaran akan nilai hidup maupun pembelajaran mengenai kepemimpinan dan manajerial.  Mencengangkan karena semula logika saya tidak cukup paham untuk mengamini bahwa banyak pelajaran yang berharga di komunitas ini.  Namun perjalanan selama 6 tahun ini membuktikan.  Tidak ada kesia-siaan [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff0000;">Catatan Pinggir di Ulang tahun ke 6 MHI Tennis</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff9900;">By Be Samyono (11012011.22.52)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini 9 januari, hujan taklah datang, mendungpun tidak meradang, sama seperti yang terjadi enam tahun lalu &#8230; di hari minggu satu jam lebih awal. Saya sampai lebih dahulu ke lapangan tenis.  Meski tidak datang di lapangan yang sama dan bermain dengan rekan-rekan yang serupa namun saya mempunyai semangat yang sama seperti yang saya miliki kala itu.  Semangat yang membuat saya tetap mencintai olah raga ini dan semangat yang membakar keteguhan saya untuk tetap berjalan bersama MHI Tennis semampu yang saya bisa.  Satu semangat yang sandarkan pada alasan yang cukup sederhana.  Apalagi kalau bukan karena MHI tennis adalah rumah yang kami berlima bangun dari mula. Dan saya selalu percaya pada rumah ini. Atapnya akan selalu bisa menjadi peneduh dan ruangnya akan bisa menjadi wadah berkiprah bagi orang2 yang punya hasrat dan kecintaan pada tennis seperti kami.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Logo MHI" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/LogoKaos.jpg" alt="" width="307" height="238" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kesadaran saya yang terdalam berucap syukur bahwa banyak hal yang bisa saya pelajari selama kebersamaan dengan MHI tennis.  Pembelajaran akan nilai hidup maupun pembelajaran mengenai kepemimpinan dan manajerial.  Mencengangkan karena semula logika saya tidak cukup paham untuk mengamini bahwa banyak pelajaran yang berharga di komunitas ini.  Namun perjalanan selama 6 tahun ini membuktikan.  Tidak ada kesia-siaan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff9900;"><strong>BELAJAR DARI KERAGAMAN</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">MHI Tennis tidak akan pernah ada.  Hal itu bisa dipastikan bila kala itu keragaman yang kami punya ternyata menjadi masalah antara satu dengan yang lainnya.  Mengingat hanya 2 diantara kami yang punya kemampuan tenis terbaik.  Selebihnya layaknya anggota partai penggembira.  Namun kami berjalan dan mencari solusi bagaimana untuk tetap nyaman dalam perbedaan. Dan itu bukan omong kosong karena pada quarter yang kemudian berjalan selalu dibanjiri oleh peminat untuk bergabung.  Dan bisa dikata setelah 6 tahun kemudian, keragaman itu tidak malah menghilang tapi justru subur dan menjadi identitas yang melekat pada komunitas ini.  Hingga akhirnya terlihat dalam keragaman inilah kekuatan kami tumbuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan bukan tanpa kendala bila satu keragaman menjadi pilihan untuk dipijak dalam satu komunitas. Tercatat tak cukup sekali masalah muncul dan perpecahan mengurai.  Namun itulah satu konsekwensi yang sudah dipikirkan.  Keyakinan bahwa komunitas akan tetap mempunyai pangsa pasar adalah penguat menghadapi permasalahan ini.  Menjadikan keragaman sebagai pondasi komunitas merupakan langkah yang tidak populer.  Terlebih dalam satu komunitas olahraga dimana pencapaian dan prestasi menjadi tolok ukur.  Ceruk pasar adalah target MHI tennis dan moral responsibility adalah pegangan kami.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff9900;"><strong>BELAJAR MENGHARGAI INDIVIDU</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Mind set untuk melihat individu hanya sebatas dari kemampuan bermain tenis ternyata adalah satu kedangkalan.  Keragaman anggota dalam satu komunitas mengajarkan nilai lebih untuk bisa melihat individu lebih dari itu.  Sportifitas, semangat memperbaiki skill, loyalitas juga keteladanan sangat penting untuk dilihat.  Tidak sedikit kemampuan potensial tumbuh karena ketekunan dan penghargaan yang diberikan.  Saya beruntung menemukan teman-teman yang bisa mensupport satu sama lain untuk tumbuh dan berkembang disini.  Kontribusi dan dorongan semangat banyak diberikan pada pemain level pemula untuk lebih mengasah permainannya.  Dan tidak sedikit progres yang ditunjukkan mereka sebagai timbal baliknya.  Saya percaya tak lain ini adalah buah dari iklim mutualisme yang telah membudaya di MHI tennis.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff9900;"><strong>BELAJAR MANAJERIAL</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam benak semula yang tergambar adalah begitu cair dan dinamisnya satu organisasi hingga kepemimpinan cukup sebagai jembatan untuk mengaturnya.  Ternyata ini tidaklah tepat.  Butuh manajerial skill dan juga system agar kegiatan dalam komunitas berjalan dengan lancar siapapun yang akan menjalankannya.  Perkembangan menunjukkan saat MHI Tennis dalam kondisi homogen dan dalam hitungan tangan jumlahnya kemudahan didapat dalam menjalani rutinitas mingguannya.  Namun begitu dihadapkan dengan kondisi sebaliknya kompleksitas harus ditaklukkan dengan pengorganisasian dan pengimplementasian system.  Tidak hanya itu pemahaman anggota akan tujuan dan culture komunitas juga sangat mutlak untuk selalu di berikan.  Tanpa terasa menjalankan komunitas hampir sama penanganannya dengan  mengurus perusahaan.  Bedanya komunitas tidak mempunyai keterikatan seperti perusahaaan sehingga pemahaman akan perbedaan, dinamika  inisiatif serta partisipasi anggota menjadi faktor yang mutlak untuk diutamakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menarik benang merah atas pembelajaran saya di komunitas ini.  Saya melihat bahwa keindahan akan berkembang dalam kebersamaan bila kita mampu untuk menumbuhkan kekuatan untuk berbagi dan memampukan.  Bukan sebaliknya, untuk mengalahkan dan menunjukkan sisi superior kita.  Saya selalu berharap pembelajaran ini tidak hanya berhanti disini dan disatu sisi semoga makin banyak sahabat yang bisa memetik pembelajaran dari keberadaan komunitas ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff9900;">Happy 6th Anniversary MHI Tennis!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2011/02/11/saya-mhi-tennis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rayuan Pagi</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/20/rayuan-pagi/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/20/rayuan-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 09:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pagi itu aku sudah mandi dan bersiap, seperti biasa aku akan mengantar ayah dan bunda kerja sebelum ikut abang Dika sekolah di PAUDnya.  Kelasku sendiri baru akan mulai Juli nanti rasanya tak sabar bila harus menunggu. Ikut kelas abang Dika sedikit banyak bisa menghiburku.  Kulihat pagi ini Bunda telah rapi namun ayah tak pergi bersama Bunda kali ini karena ayah ada pekerjaan di Papua.  Dua hari lagi Ayah akan kembali dan aku telah berpesan untuk membawakanku buku tempel kegemaranku belakangan ini.</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Jerapah" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG00023-20100227-1203.jpg" alt="" width="270" height="360" /></p>

<p style="text-align: justify;">"Bunda nanti aku antar-antar kerja yah" kataku di ruang keluarga.
"Iyah cantik ... duh baik hati sekali kamu" Ujar Bunda menyambut hangat tawaranku. akupun segera berlari masuk kamar untuk mengambil sesuatu.  Kuhampiri kembali Bunda, [........] ,</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (20042010.15.17)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi itu aku sudah mandi dan bersiap, seperti biasa aku akan mengantar ayah dan bunda kerja sebelum ikut abang Dika sekolah di PAUDnya.  Kelasku sendiri baru akan mulai Juli nanti rasanya tak sabar bila harus menunggu. Ikut kelas abang Dika sedikit banyak bisa menghiburku.  Kulihat pagi ini Bunda telah rapi namun ayah tak pergi bersama Bunda kali ini karena ayah ada pekerjaan di Papua.  Dua hari lagi Ayah akan kembali dan aku telah berpesan untuk membawakanku buku tempel kegemaranku belakangan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Jerapah" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG00023-20100227-1203.jpg" alt="" width="270" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bunda nanti aku antar-antar kerja yah&#8221; kataku di ruang keluarga.<br />
&#8220;Iyah cantik &#8230; duh baik hati sekali kamu&#8221; Ujar Bunda menyambut hangat tawaranku. akupun segera berlari masuk kamar untuk mengambil sesuatu.  Kuhampiri kembali Bunda,<br />
&#8220;Bunda aku mau buku ini yah&#8221; Pintaku sembari menyodorkan buku tempel berisi gambar-gambar dinosaurus, &#8220;dibuka, boleh tak?&#8221;<br />
&#8220;Loh katanya, nanti dibuka kalau ada ayah,&#8221;Ujar bunda sembari mengingatkanku, &#8220;nanti saja yah, khan mainnya bareng ayah supaya tempelnya benar.&#8221;<br />
&#8220;Iyah tapi aku mau dibuka sekarang,&#8221; Rayuku.<br />
&#8220;Trus nanti main apa dengan ayah kalau dibuka sekarang,&#8221; Bunda sepertinya tidak mengijinkan aku memainkan buku ini sendiri tanpa didampingi.  Karena seperti biasa aku akan menghabiskan semua tempelan dan menempelkannya di sembarang tempat dengan cepatnya.  Dalam sekejap!</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengalah, aku kembali berlari menaruh buku itu di lemari. sesegera itu aku keluar lagi menemui bunda.<br />
&#8220;Aku akan antar Bunda yah,&#8221; kembali aku menawarkan diri.<br />
&#8220;Iya sayang&#8221; Bunda meneima tawaranku sembari menuju kamar.<br />
&#8220;Bunda sepatunya aku bersihkan yah,&#8221; Kembali aku menawarkan diri begitu melihat sepatu bunda telah siap diluar namun belum dibersihkan.  Biasanya aku akan mencari tissue basah dan membersihkan sepatu ayah bila akan berangkat kerja.<br />
&#8220;Aduuuh kamu baik sekali, terima kasih sayang!&#8221; Ujar bunda menyambut.<br />
Segera kucari tissue basah dengan berlari kecil, mengelapnya dan membuang tissuenya di tempat sampah.  Bunda mengawasiku sambil tersenyum kecil.  Diciumnya aku sebagai rasa terima kasih. Kutinggalkan bunda di ruang tamu untuk masuk kamar mengambil sesuatu dan kembali menghampiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bunda &#8230;&#8221; Panggilku<br />
&#8220;Ya &#8230; sayang&#8221;<br />
&#8220;Sekarang Aku boleh buka buku tempel-tempel ini yah!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tawa Bunda dan kakek nenek pecah mendengar kegigihan dan rayuan pagiku ini.<br />
Ternyata Baby mungil ini telah tahu bagaimana merayu!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/20/rayuan-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Hukuman dari Sophie (Catatan Ayah)</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/05/sebuah-hukuman-dari-sophie-catatan-ayah/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/05/sebuah-hukuman-dari-sophie-catatan-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 15:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tak ada yang lebih menyakitkan selain menghadapi rasa penolakan seorang anak.  Saya tidak pernah membayangkan bila Sophie bisa melakukannya sedini ini.  Saya dan Bundanya mencoba memahami kondisi yang tengah terjadi, mencoba tak membebankan kesalahan namun segera berupaya mencari solusi.  Keyakinan kami cukup sederhana.  Tak ada permasalahan yang tidak bisa dipecahkan.  Itu saja.  Dan lebih jelasnya kami tak ingin terlambat dan  memdapat rasa bersalah yang akan kami tuai nantinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Merenung" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2941.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tak disangka bulan Maret ini jadwal saya dan jadwal Bunda begitu padat.  Beberapa kali kami tak bisa pulang tepat waktu.  Kadang larut dan seringkali tiba disaat Sophie sudah tidur.  Meskipun ada waktu 2 jam dipagi hari untuk bersamanya namun sepertinya tetap ada waktu kebersamaan yang kurang.  Waktu sabtu minggu biasanya kami coba memaksimalkan kebersamaan dengan dirinya, sebagai waktu kompensasi.  Mengajaknya main atau pergi yang memang khusus untuk dirinya.  Harapannya Sophie bisa melihat kondisi ini lebih proporsional dan dia sama sekali tidak merasa di nomor duakan dibandingkan pekerjaaan kami.  Karena kami telah mengajarkan pengertian kenapa kami harus meninggalkannya dan bekerja.  Kembali ternyata semua ini belumlah cukup [........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (24032010-08.41)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tak ada yang lebih menyakitkan selain menghadapi rasa penolakan seorang anak.  Saya tidak pernah membayangkan bila Sophie bisa melakukannya sedini ini.  Saya dan Bundanya mencoba memahami kondisi yang tengah terjadi, mencoba tak membebankan kesalahan namun segera berupaya mencari solusi.  Keyakinan kami cukup sederhana.  Tak ada permasalahan yang tidak bisa dipecahkan.  Itu saja.  Dan lebih jelasnya kami tak ingin terlambat dan  memdapat rasa bersalah yang akan kami tuai nantinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Merenung" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2941.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tak disangka bulan Maret ini jadwal saya dan jadwal Bunda begitu padat.  Beberapa kali kami tak bisa pulang tepat waktu.  Kadang larut dan seringkali tiba disaat Sophie sudah tidur.  Meskipun ada waktu 2 jam dipagi hari untuk bersamanya namun sepertinya tetap ada waktu kebersamaan yang kurang.  Waktu sabtu minggu biasanya kami coba memaksimalkan kebersamaan dengan dirinya, sebagai waktu kompensasi.  Mengajaknya main atau pergi yang memang khusus untuk dirinya.  Harapannya Sophie bisa melihat kondisi ini lebih proporsional dan dia sama sekali tidak merasa di nomor duakan dibandingkan pekerjaaan kami.  Karena kami telah mengajarkan pengertian kenapa kami harus meninggalkannya dan bekerja.  Kembali ternyata semua ini belumlah cukup.</p>
<p style="text-align: justify;">Puncaknya minggu lalu saat kami harus ke Jogja untuk menghadiri pernikahan saudara yang mendadak dimana kemungkinan untuk mengajak Sophie amat tidak memungkinkan.  Kamipun pergi disaat Sophie tertidur lelap kelelahan karena kami mengajaknya jalan-jalan dahulu untuk menghabiskan waktu bersama dia sebelum keberangkatan.  Benak kami mengkawatirkan bahwa sophie akan rewel dan mencari-cari kami.  Untuk itu kamipun berupaya selalu kontak dengan dia lewat telpon guna memantaunya.   Kami bayangkan saat kami pulang dua hari kemudian kami akan melihat Sophie berlari riang ke arah kami dan lengket takkan mau melepaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Moment kepulangan kami sama sekali jauh dari bayangan kami.  Dia memandang kedatangan kami dengan biasa saja, perhatiannya lebih ke arah pesawat terbang.  Malah dikiranya dia akan pergi dengan pesawat saat menjemput kami.  Dan ternyata penolakan lainnya berlanjut. Malamnya dia tak menginginkan untuk tidur bersama kami.  Dia lebih memilih untuk tidur di luar kamar bersama nenek.  Dan semua dilakukannya dengan menangis.  Saat itu saya merasa hampa.  Terkejut sekaligus putus asa.  Saya tiak pernah membayangkan Sophie menjauh dari kami.  Logikanya bila seorang anak ditinggal oleh orang tuanya dia akan merindukan tapi Sophie mengambil sisi yang berbeda.  Saya merasa seperti dihukum.</p>
<p style="text-align: justify;">Biasanya saya akan segera emosi untuk menanggapi hal-hal seperti ini, seperti induk ayam yang mulai bertaji mempertahankan teritorialnya. Namun hukuman ini terasa menyentak.  Saya hanya bisa berkata lirih pada Bunda Sophie.  &#8220;Bunda, ada sesuatu yang salah.  Kita harus segera memperbaikinya,&#8221;  Bunda hanya mengangguk pelan, diikutinya Sophie yang menangis keras sambil keluar kamar mencari neneknya.  Digendongnya dan diserahkan ke saya.  Bunda menemui nenek dikamarnya untuk tidak keluar dan mengulurkan bantuan.  Kami bujuk Sophie mengatakan nenek sudah tidur.  Saya tahu Sophie akan menerima semua alasan bila logis dan dia bisa buktikan.  Meski tangisnya tak reda tapi dia menuruti kata kami.  Malam itu dia tidur bersama kami dengan sesenggukan.  Kami tidak bilang kami memangkan hukuman ini karena jauh dari itu  masih ada pekerjaan rumah yang cukup berat untuk bisa meyakinkan Sophie.  Meyakinkan bahwa keberadaannya mempunyai arti lebih dan tak ada pengabaian atas keberadaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tahu akan sulit mengasuh anak dalam 2 kendali.  Seperti halnya kami yang menyerahkan sebagian besar asuhan Sophie pada Kakek &amp; Neneknya.  Beruntung Kakek &amp; Nenek Sophie cukup kooperatif dalam menerapkan pola asuh.  Namun demikian sangat manusiawi ada perbedaan aturan dan cara.  Sejauh itu terkontrol saya selalu meminta Bunda untuk memakluminya.  Satu hal yang penting untuk menanamkan kepada anak akan perbedaan pola asuh ini sehingga dia tahu akan keragaman lingkungan. Namun saat sesuatu yang tidak bisa di kontrol muncul.  Mungkin peran pengertian untuk bisa mengkomunikasikan dan memahami akar permasalahan untuk mendapatkan solusi amat sangat diperlukan.  Utamanya kerjasama pihak pengasuh sangat penting.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa jadi ini satu problem yang jamak terjadi dalam keluarga modern dimana proses pengasuhan anak tidak bisa di tangani sepenuhnya oleh orang tua.  Kita harus berbagi proses asuh kepada orang tua ataupun kepada tenaga profesional seperti baby sitter.  Masalah seringkali muncul saat anak-anak mulai dekat dengan mereka daripada dengan orang tua.  Pengabaian inilah yang bisa di cerna secara beragam.  Mungkin ini akan berlangsung temporary atau malah selamanya tergantung keinginan kita sejauh mana mengembalikan peran kita sebagai orang tua.  Saya dan Bunda belum bisa memastikan apakah kami bisa segera keluar dari hukuman ini segera. Namun setidaknya kami tidak ingin ini berlangsung lebih lama lagi.  Terlebih hanya memberikan kata jangan dan jangan kepada Kakek dan Nenek yang over perhatian kepada Sophie.  Saatnya kami harus memberikan satu bukti kepedulian dan saatnya kami memberikan esensi lebih dalam menerapkan pola asuh apa lagi kalau bukan <span style="color: #ff6600;">KETELADANAN</span>.  Moga langkah ini kembali menyatukan kami.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/05/sebuah-hukuman-dari-sophie-catatan-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anehnya Aku</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/26/anehnya-aku/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/26/anehnya-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 11:03:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beberapa waktu belakangan ini banyak orang yang merevisi pendapatnya mengenai aku.  Tak lagi mengatakan bahwa aku mirip ayah tapi justri sebaliknya Bundalah yang dominan mewariskan kecantikannya.  Ayah hanya menjulurkan lidahnya bila makin banyak yang berpendapat seperti ini dan Bunda terpingkal.  Bisa jadi benar yang mereka katakan.  Namun dibalik itu ternyata beberapa sikap dan sifatku lebih mirip dengan ayah.  Lihat caraku tidur, bengong dan kentut..ups hahaha. Bunda bilang ayah banget. Tidak itu saja kreatifitas dan keusilanku sangat Ayah banget, sampai sampai kakek-Nenek geleng geleng dibuatnya.  Namun ada yang sangat unik yang justru belakangan ini baru nampak di aku yang bisa dibilang aneh seperti:</p>
<p style="text-align: center;"></p>
<p style="text-align: center;"></p>

<p style="text-align: center;"><img class="alignnone" title="susu" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/P3070288.jpg" alt="" width="270" height="360" />
<span style="color: #ff6600;"> </span>

<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">
SUKA MUNTAH:</span>
Soal ini aku mirip banget dengan ayah apalagi kalau bukan soal makanan.  Bisa dibilang selera makan ayah adalah seleraku, bahkan acara makan ayah adalah cara makanku.  Aku suka makan makanan yang beragam, buah dan sayur yang tidak biasa Bunda makan.  Dan kebiasaanku untuk makan makanan tanpa kuah persis seperti Ayah.  Nasi goreng, terutama bubur adalah makanan yang tak ayah nikmati dan aku hindari.  Bila Ayah akan muntah bila saat kenyang lalu membaui makanan maka aku akan muntah bila melihat makanan bayi sebangsa bubur. Lah!  bukan itu saja aku akan sangat kelabakan dan muntah bila melihat muntahku sendiri atau melihat sisa susu di botol susuku.  waduh![.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (17032010-19.38)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa waktu belakangan ini banyak orang yang merevisi pendapatnya mengenai aku.  Tak lagi mengatakan bahwa aku mirip ayah tapi justri sebaliknya Bundalah yang dominan mewariskan kecantikannya.  Ayah hanya menjulurkan lidahnya bila makin banyak yang berpendapat seperti ini dan Bunda terpingkal.  Bisa jadi benar yang mereka katakan.  Namun dibalik itu ternyata beberapa sikap dan sifatku lebih mirip dengan ayah.  Lihat caraku tidur, bengong dan kentut..ups hahaha. Bunda bilang ayah banget. Tidak itu saja kreatifitas dan keusilanku sangat Ayah banget, sampai sampai kakek-Nenek geleng geleng dibuatnya.  Namun ada yang sangat unik yang justru belakangan ini baru nampak di aku yang bisa dibilang aneh seperti:</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone" title="susu" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/P3070288.jpg" alt="" width="270" height="360" /><br />
<span style="color: #ff6600;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><br />
SUKA MUNTAH:</span><br />
Soal ini aku mirip banget dengan ayah apalagi kalau bukan soal makanan.  Bisa dibilang selera makan ayah adalah seleraku, bahkan acara makan ayah adalah cara makanku.  Aku suka makan makanan yang beragam, buah dan sayur yang tidak biasa Bunda makan.  Dan kebiasaanku untuk makan makanan tanpa kuah persis seperti Ayah.  Nasi goreng, terutama bubur adalah makanan yang tak ayah nikmati dan aku hindari.  Bila Ayah akan muntah bila saat kenyang lalu membaui makanan maka aku akan muntah bila melihat makanan bayi sebangsa bubur. Lah!  bukan itu saja aku akan sangat kelabakan dan muntah bila melihat muntahku sendiri atau melihat sisa susu di botol susuku.  waduh!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SUKA JIJIK:</span><br />
Mungkin aku tak akan muntah namun aku akan merengek dan rewel atau menolak dengan  tegas bila berhadapan dengan sesuatu yang kotor.  Sandalku misalnya.  Bila jalan-jalan dan sandalku terkena air dan kotor aku akan langsung melepasnya dan minta gendong selama sandal itu belum bersih.  demikian juga dengan hal kotor lainnya. Aku akan langsung meneriakkan kata kotor.  Dan Ayah Bunda makin terheran saat aku tak mau menginjakkan kakiku ke pasir pantai dangan satu alasan: KOTOR!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SUKA MENCUBIT:</span><br />
Aku tahu Ayah Bunda tak mengijinkan dan sangat tak menyukainya.  Namun aku gemar sekali mencubit mbak Enny pembantu di rumah.  kadang dengan usilnya aku pura-pura mendekatinya dan mulai mencubit saat lengat.  Cubitankupun tak tanggung-tanggung kecil dan sakit.  Utamanya ini aku lakukan saat geregetan.  Ayah Bunda tahu prilakuku ini adalah dampak dari contoh tak baik yang dilakukan teman-temanku. yah mungkin aku harus bisa mengerti kalau hal ini memang tidak diperbolehkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SUKA CENGENG:</span><br />
Hingga umur 1,5 tahun aku bukanlah bayi yang suka menagis namun entah belakangan ini begitu banyak hal membuat aku merengek dan berujung tangisan meski masih terkendali.  Namun perubahan ini membuat Ayah tak sabar dan Bundapun kebingungan.  Semuanya menjadi serba salah. Ayah menyesalkan lingkungan rumah yang suka menggoda aku hanya untuk keisengan supaya aku merengek.  Dan alih-alih ini menjadi satu kebiasaan dan aku terima secara negatif.  Ayah benar benar menyesalkan hal ini.  Terlebih bila ada yang mulai menakut-nakuti aku.   Aku tahu ayah ingin sekali aku menjadi pribadi yang tegar dan mandiri.<br />
<span style="color: #ff6600;"><br />
SUKA AIR:</span><br />
Berenang utamanya.  Tak tanggung-tanggung aku kurang begitu meyukai berenang di air dangkal. Aku lebih suka dibawa Ayah di tempat yang dalam. Kolam air dingin taupun air panas tak masalah aku akan selalu semangat dan enggan untuk keluar air.  Pernah satu hari saat ayah menyiram halaman aku semangat untuk main air di ember besar.  Saat aku slip seluruh badanku masuk air dengan kepala dulu.  Untung Ayah cepat tanggap menolongku.  Tapi semua ini tidak membuatku takut air.<br />
<span style="color: #ff6600;"><br />
SUKA BERES-BERES:</span><br />
Kewajiban pertamaku bila bermain adalah membereskannya. hal ini sejak setahun lalu selalu Ayah Bunda ajarkan. Hingga kini akupun masih konsisten dengan hal itu meski aku kadang suka berpura-pura enggan untuk melakukannya.  Dan sepertinya aku lebih suka mendapat pujian sebagai anak pintar daripada mengabaikan kewajiban ini.  terutama membereskan buku-buku kesukaannku.  jadi aku tahu pasti dimana pensil, pena ataupun buku disimpan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SUKA BERCERMIN:</span><br />
Cermin bagiku sesuatu yang menarik.  Aku suka sekali bercermin. Bukan saja saat berdandan atau berpakaian. saat membaca ataupun bermain sesekali aku pergi ke kamar hanya sekedar untuk bercermin.  Tapi jangan salah aku tak suka mendandani rambutku.  Kucir, jepit akh ..no way!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">JAGO OMONG:</span><br />
Bukan aku kalau gak punya kata-kata bila harus berargumen atau berkomunikasi. Berbekal kefasihanku bicara rasanya semua omonganku hanaya akan bikin gemas orang-orang sekitarku.  Untuk ini memang bisa dibilang ayah banget hahahaha.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayah Bunda mengerti sekali bahwa setiap fase pertumbuhanku akan mengalami berbagai perubahan dan ketidak konsistenan.  Mungkin ada fase dimala aku perlu perhatian, mencari jatidiri ataupun ingin menunjukkan eksistensi.  Meski kawatir dengan beberapa perubahanku namun Ayah Bunda mencoba untuk berfikir positif dan berupaya membawaku pada hal yang semestinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Moga ini bisa membawaku ada pertumbuhan yang tepat dan terarah yah.<br />
<span style="color: #ff6600;">Semoga.</span></p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 60px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden; text-align: center;">http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/P3070288.jpg<img class="aligncenter" title="susu" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/P3070288.jpg" alt="" width="450" height="600" /></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/26/anehnya-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obsesi Sophie</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/18/obsesi-sophie/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/18/obsesi-sophie/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 10:24:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku tidak hanya menginginkannya, lebih dari akan mengucapkannya hampir setiap hari. Ya ... aku ingin SEKOLAH! kata sekolah seperti kata ajaib di telingaku.  membuatku bersemangat bangun pagi bahkan melecutku untuk mengerjakan ini dan itu.  Kulihat Bunda beberapa kali survey play group bahkan beberapa telah aku coba free trialnya.  Namun sepertinya ada yang tidak membuat Bunda berkenan.  Tidak saja kurikulumnya tapi juga fee-nya yang kadang membuat dahi mengernyit.  Kuingat bunda menjanjikan aku sekolah kalau aku sudah 2 tahun.  Dan di ulang tahunku yang kedua Bunda benar-benar menepatinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="rebah" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2307.jpg" alt="" width="383" height="256" /></p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari Bunda mendiskusikan masalah sekolah ini dengan ayah.  Sepertinya Ayah menginginkan agar aku sekolah di lembaga formal dengan pemikiran tidak saja kebutuhan sekolahku terpenuhi tapi juga kedisiplinanku bisa diasah.  Dan kembali pertimbangan geografis menjadi penentu pemilihan sekolah nantinya mengingat faktor kemacetan dan transportasi begitu dominan menjadi pemikiran di Jakarta.  Gugurlah sudah alternatif untuk menyekolahkanku di Gymboree atau Tumbletooth. [.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (17032010-18.40)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak hanya menginginkannya, lebih dari akan mengucapkannya hampir setiap hari. Ya &#8230; aku ingin SEKOLAH! kata sekolah seperti kata ajaib di telingaku.  membuatku bersemangat bangun pagi bahkan melecutku untuk mengerjakan ini dan itu.  Kulihat Bunda beberapa kali survey play group bahkan beberapa telah aku coba free trialnya.  Namun sepertinya ada yang tidak membuat Bunda berkenan.  Tidak saja kurikulumnya tapi juga fee-nya yang kadang membuat dahi mengernyit.  Kuingat bunda menjanjikan aku sekolah kalau aku sudah 2 tahun.  Dan di ulang tahunku yang kedua Bunda benar-benar menepatinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="rebah" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2307.jpg" alt="" width="383" height="256" /></p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari Bunda mendiskusikan masalah sekolah ini dengan ayah.  Sepertinya Ayah menginginkan agar aku sekolah di lembaga formal dengan pemikiran tidak saja kebutuhan sekolahku terpenuhi tapi juga kedisiplinanku bisa diasah.  Dan kembali pertimbangan geografis menjadi penentu pemilihan sekolah nantinya mengingat faktor kemacetan dan transportasi begitu dominan menjadi pemikiran di Jakarta.  Gugurlah sudah alternatif untuk menyekolahkanku di Gymboree atau Tumbletooth.  Meskipun keduanya cukup dekat dengan rumah tapi keduanya bukanlah sekolah formal. Pilihan di persempit dengan mengambil alternatif Al Azhar  Kemandoran atau Stella Duece di daerah yang sama.  Ayah dan ibu mengakui bahwa sekolah katolik mempunyai kurikulum yang handal, karena dulu ayahpun kuliah di Universitas Kristen dan Katolik.  Namun ternyata Ayah meminta Bunda untuk memilih Al Azhar.  Alasannya sederhana.  Ayah dan Bunda ingin memberikan dasar yang kuat bagi keimananku serta akhlakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah senangnya aku terlebih akhir Februari lalu dibuka pendaftaran tingkat toddler untuk masuk bulan Juli.  Setiap kali mengurus administrasi Ayah dan Bunda selalu mengajakku.  Tak kusiakan waktu ini untuk berkeliling, mencoba semua mainan yang ada, dan bermain sepuasnya.  Kulihat begitu banyak mainan, alat peraga, kelas bahkan kolam renang! Ayah Bunda tahu aku sudah tak sabar untuk masuk namun bagaimanapun aku tetap harus bersabar untuk bulan Juli nanti.  Selain itu Bunda bilang, aku akan bisa sekolah disini kalau lulus observasi. Oh&#8230;.aku baru 2 tahun harus ditest untuk masuk toddler? yang benar saja.  Ah aku tak takut.  ayah Bunda, Tante Nung dan semua sudah mengajari aku.  Aku yakin bakal lolos seleksi nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat waktu observasi tiba. Aku bangun begitu pagi karena tak sabar untuk segera masuk sekolah.  Namun ternyata Ada surat keterangan dokter untuk pendaftaran  yang harus diurus jadi kami ke rumah sakit dahulu sebelum kesekolah.  Akibatnya aku keburu lelah.  Sampai di Sekolah sudah jam 11.30 semua pendaftar sudah diobservasi dan tinggal guru-guru saja yang ada di kelas. Bunda menggendongku masuk kelas ditemani Tante Nung dan Ayah. Akh hebohlah kelas karena aku tak mau dibangunkan.  Ruangan ber ac dan tempat tidur dalam kelas yang penuh boneka membuatku makin nyenyak.  Ayah Bunda kelabakan membangunkanku.  Guru-guru memberi kelonggaran untuk kembali minggu depan.  Tapi Ayah tolak karena akan sulit mengantar aku di waktu hari kerja.  Akhirnya Ayah ada ide untuk mebangunkanku di kolam renang kesukaanku.  Walaupun ide ayah kliru karena ternyata begitu kami keluar kolam renangnya dikuras!  Dengan sedikit berupaya akhirnya aku bisa bangun meskipun seperti tak sadarkan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat observasipun menit menit pertama responku sangat lamban dan suaraku hampir gak kedengaran.  Ayah melihatku dengan putus asa. beberapa pertanyaan seperti masuk telinga kanan dan kluar telingan kiriku dengan tatapan kosong.  Sungguh aku masih ngantuk!  Namun Test tetap berjalan namun entah kenapa tiba-tiba aku terbangun begitu melihat banyaknya boneka dan mainan.  pertanyaan-pertanyaan beberapa gurupun dengan gampang aku selesaikan dan ujian-ujian kecil terasa terlalu mudah untukku. Kuliahat wajah Ayah Bunda berbinar.  Dan beberapa guru jadi terbahak karena aku malah menanyakan ini dan itu pada mereka.  Bahkan ada yang menyeletuk agar aku dimasukkan TK A saja. Ah!  saat pulang aku mendapat oleh-oleh payung serta beberapa balon yang akan aku bagikan buat abang Dika. Sampai-sampai Bunda menggeleng &#8220;Duh baik bener nih anak&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Hore &#8230; akhirnya aku diterima Di Toddler Al Azhar.  Ayah Bunda mengerti bahwa aku gembira.  Mereka mengijinkanku untuk menggunakan pensil warna, crayon dan buku-buku untuk aku corat-coret yang memang sudah Bunda siapkan jauh hari sebelumnya dan aku simpan di lemariku.  Ayahpun sudah membelikanku tas elmo warna merah. Wah semangatnya aku.  Meski masih 4 bulan lagi tapi aku tak surut semangat.  Bunda Janji akan membawaku ke sekolah untuk pengenalan dan bermain yang memang diijinkan oleh sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kudengar suatu malam Ayah Bunda bercakap.<br />
&#8220;Gak sangka Sophie begitu semangatnya sekolah, walau sebenarnya tanpa sekolah pembekalan dia dirumah cukup terpenuhi&#8221;<br />
Ayah tersenyum mendengar penuturan Bunda.  Ayah tahu bagaimana aku didik di lingkungan rumah ini sudah lebih dari cukup.<br />
&#8220;Yah mungkin dia memang harus kenal dunia luar dan teman-teman sebaya ya Yah?&#8221;<br />
&#8220;Benar &#8230; supaya pikirannya tidak <span style="color: #ff6600;">&#8220;TERLALU TUA&#8221;</span> seperti sekarang&#8221;.<br />
&#8220;Hahahhaha &#8230;&#8221;, Bunda terbahak dan membenarkan.  Lingkungan ini membentukku menjadi sangat mature untuk anak seusiaku.  Membuatku seringkali berfikir dan berbuat terlalu dewasa untuk usiaku,  seperti mempersilahkan orang untuk ini dan itu, memberi alternatif dan lainnya.  Rupanya memang Ayah Bunda tak ingin aku kehilangan masa anak-anakku dan tak ingin aku jadi <span style="color: #ff6600;">BABY TUWIR.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/18/obsesi-sophie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keteguhan Sebuah Niat</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/21/keteguhan-niat/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/21/keteguhan-niat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 17:17:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Perhelatan program "Berbagi Kasih" bersama MHI Tennis telah usai.  Penyerahan donasi yang dibarengin dengan acara penanda 5 tahun MHI tennispun telah selesai.  Demikian juga dengan pengiriman pertanggungjawaban atas donasi dan sponsorship telah di penuhi.  Bila dikata cukup singkat program ini disiapkan dan berjalan.  Seminggu untuk persiapan dan selebihnya 3 minggu untuk pelaksanaan. Tak ada kata selain ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus pada rekan se-team, rekan MHI donatur, sponsor serta supporter atas kolaborasi dan bantuannya dalam bentuk apapun. Tak ada kontribusi yang tidak konstruktif tak ada pula bantuan yang tak membangun.  Saya pribadi yakin sekecil apapun bantuan yang diberikan saling tertaut dan memberikan makna dalam program ini.</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="logo" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/LogoBday5.jpg" alt="" width="307" height="307" /></p>
<p style="text-align: justify;">Pemakluman saya sedemikian lebar akan kepesimisan berbagai pihak merujuk pada hasil maksimal program ini nantinya mengacu pada keterbatasan waktu serta pengalaman dalam mengelola acara semacam ini.  Namun saya dan beberapa rekan tetap berambisi untuk membuktikan bahwa masih banyak kepedulian yang dipunyai oleh sebagian besar teman-teman MHI Tennis.  Bukan keinginan untuk jumawa tapi pembuktian bahwa pasti ada jalan untuk sebuah niat tulus dalam berbagi kepada sesama.  Jujur ketika kami menawarkan keinginan untuk membantu Panti asuhan Kampung Melayu tak ada yang kami punya kecuali 200% ketulusan dan keiklasan untuk menyisihkan waktu dan tenaga untuk program acara ini.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (21022010-21.18) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Perhelatan program &#8220;Berbagi Kasih&#8221; bersama MHI Tennis telah usai.  Penyerahan donasi yang dibarengin dengan acara penanda 5 tahun MHI tennispun telah selesai.  Demikian juga dengan pengiriman pertanggungjawaban atas donasi dan sponsorship telah di penuhi.  Bila dikata cukup singkat program ini disiapkan dan berjalan.  Seminggu untuk persiapan dan selebihnya 3 minggu untuk pelaksanaan. Tak ada kata selain ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus pada rekan se-team, rekan MHI donatur, sponsor serta supporter atas kolaborasi dan bantuannya dalam bentuk apapun. Tak ada kontribusi yang tidak konstruktif tak ada pula bantuan yang tak membangun.  Saya pribadi yakin sekecil apapun bantuan yang diberikan saling tertaut dan memberikan makna dalam program ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="logo" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/LogoBday5.jpg" alt="" width="307" height="307" /></p>
<p style="text-align: justify;">Pemakluman saya sedemikian lebar akan kepesimisan berbagai pihak merujuk pada hasil maksimal program ini nantinya mengacu pada keterbatasan waktu serta pengalaman dalam mengelola acara semacam ini.  Namun saya dan beberapa rekan tetap berambisi untuk membuktikan bahwa masih banyak kepedulian yang dipunyai oleh sebagian besar teman-teman MHI Tennis.  Bukan keinginan untuk jumawa tapi pembuktian bahwa pasti ada jalan untuk sebuah niat tulus dalam berbagi kepada sesama.  Jujur ketika kami menawarkan keinginan untuk membantu Panti asuhan Kampung Melayu tak ada yang kami punya kecuali 200% ketulusan dan keiklasan untuk menyisihkan waktu dan tenaga untuk program acara ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya akui 3 minggu adalah masa yang sangat menguras tenaga dan waktu untuk menjalankan program berbagi kasih ini sebagai panitia.  Tidak saja sebagai penjaga gawang menampung donasi yang bisa datang kapan saja namun juga upaya keras untuk mensosialisasikan program ini tidak saja kepada donor, sponsor tapi juga volunteer, belum lagi kami harus menyiapkan acara penyerahan yang dikemas dalam bentuk tennis coaching. Sebagai penggelontor Ide sayapun harus berkomitmen penuh terhadap jalannya program ini meski di minggu terakhir saya bagai terdehidrasi hingga minta bantuan seorang rekan untuk mentake over kerjaan tugas saya sementara saya harus recovery.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini semuanya telah terbayar &amp; syukur saya tak terbatas.  Melihat senyum dan kegembiraan anak-anak panti asuhan yang menerima upaya kecil kami rasanya semua beban telah terangkat.  Saya benar-benar mensyukuri moment itu.  Terlebih kami telah disupport oleh  donatur perseorangan hingga mencapai angka donasi Rp 10.650.000,-.  Tak luput, beberapa sponsorpun turut memberi andil seperti Majalah Menshealth Indonesia, mead Johnson, KFC, Arnotts, dan juga Nestle. Satu hal yang luar biasa semua ini terjadi tepat pada waktunya dan begitu indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali saya mengamini kekuatan sebuah niat, kedalaman sebuah keihklasan serta keindahan sebuah syukur.  Saya yakin perhelatan ini tidak saja memberi kita pelajaran berarti mengenai makna berbagi namun juga <span style="color: #ff6600;">makna keteguhan niat untuk menjalankan satu proses kehidupan! </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Note:</strong></span> laporan lengkap mengenai pertanggungjawaban program &#8220;berbagi Kasih&#8221; bisa di lihat <a href="http://docs.google.com/fileview?id=0B-hMbIwUC9WCNTViMWZlZDAtMmVlZS00Zjk3LTkxMmYtNjU5MWEyZjFmZDZi&amp;hl=en" target="_blank">disini</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/21/keteguhan-niat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenalkan Tenis di Usia Dini</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/16/237/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/16/237/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 10:25:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[MHI Tennis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Media Release:</span> “Mengenalkan sejak dini”  mungkin inilah kata yang tepat untuk bisa dipikirkan lebih mendalam dan dijabarkan dalam tindakan kongkrit guna mengatasi keterpurukan dunia olah raga Indonesia.  Tenis salah satu contoh olah raga tersebut.  Pandangan tenis sebagai olah raga mahal dan teruntuk manula menghasilkan pembibitan yang gersang dan prestasi yang tumpul.  Sejak era Yayuk Basuki dan Angelique Widjaja tak ada catatan anak negeri ini berhasil menapak 100 besar peringkat petenis dunia.  Satu hal yang ironis padahal tennis merupakan olahraga yang menjanjikan serta mempunyai apresiasi serta struktur yang mapan bagi seorang atlet.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Coaching" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2461.jpg" alt="" width="383" height="256" /></p>
<p style="text-align: justify;">Berpijak pada kondisi itu di ulang tahunnya yang ke 5, MHI Tennis mengajak 40 anak Panti Asuhan kampung Melayu  untuk mengikuti acara Tennis Coaching.  Anak-anak setingkat SD dan SMP itu akan diperkenalkan pada tenis dan dibekali cara-cara bermain tennis secara langsung Pelatih.  Serunya lagi anak-anak ini akan dipandu langsung oleh kakak-kakak MHI tennis dan akan dipadukan dengan fun game[........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (14022010-00.00) </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Media Release:</span> “Mengenalkan sejak dini”  mungkin inilah kata yang tepat untuk bisa dipikirkan lebih mendalam dan dijabarkan dalam tindakan kongkrit guna mengatasi keterpurukan dunia olah raga Indonesia.  Tenis salah satu contoh olah raga tersebut.  Pandangan tenis sebagai olah raga mahal dan teruntuk manula menghasilkan pembibitan yang gersang dan prestasi yang tumpul.  Sejak era Yayuk Basuki dan Angelique Widjaja tak ada catatan anak negeri ini berhasil menapak 100 besar peringkat petenis dunia.  Satu hal yang ironis padahal tennis merupakan olahraga yang menjanjikan serta mempunyai apresiasi serta struktur yang mapan bagi seorang atlet.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Coaching" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2461.jpg" alt="" width="276" height="184" /></p>
<p style="text-align: justify;">Berpijak pada kondisi itu di ulang tahunnya yang ke 5, MHI Tennis mengajak 40 anak Panti Asuhan kampung Melayu  untuk mengikuti acara Tennis Coaching.  Anak-anak setingkat SD dan SMP itu akan diperkenalkan pada tenis dan dibekali cara-cara bermain tennis secara langsung Pelatih.  Serunya lagi anak-anak ini akan dipandu langsung oleh kakak-kakak MHI tennis dan akan dipadukan dengan fun game.  Tennis  coaching ini merupakan salah satu dari serangkaian acara social yang diadakan oleh MHI tennis.   Selama sebulan MHI tennis menggulirkan program “Berbagi Kasih” bersama MHI Tennis, satu program penggalangan dana bagi anak-anak Panti Asuhan Kampung Melayu.  Pengumpulan dana per Rp 50.000,- yang diapresiasi dengan 1 buah pin ini telah berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp. 10.650.000,- dari donatur perseorangan yang umumnya merupakan anggota tenis, rekan dan sahabat di area Jawa dan Nusa Tenggara.  Keseluruhan donasi ini tanpa kecuali akan diserahkan seluruhnya kepada panti asuhan tersebut dalam bentuk cash (Rp 5 Juta rupiah), sembako serta peralatan operasional (Kulkas, kompor gas, setrika listrik) yang mereka butuhkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tennis Coaching sendiri dikemas dalam acara penyerahan donasi dan syukuran 5 tahun MHI Tennis.  Tidak saja anak-anak panti asuhan yang diikut sertakan dalam acara ini namun juga undangan serta pada donator dan sukarelawan yang telah terlibat dalam acara penggalangan dana ini.  Yang luar biasa undangan akan diajak berbaur dengan anak-anak panti asuhan untuk bersama berbagi kebahagiaan dalam permainan outbound mini.  Kesempatan terbuka bagi undangan untuk membawa keluarga dan anak guna berbaur dalam acara ini.  Beberapa sponsor juga ikut berpartisipasi dalam acara tennis coaching ini seperti Majalah Menshealth (Femina), KFC, Mead Johnson, serta Arnotts.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi Tunggu apalagi mari bergabung bersama-anak-anak panti asuhan dalam tennis coaching pada:</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Tanggal   :  14 Februari 2010</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Pukul      	:  09.00-12.00</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Tempat  	:  Lapangan tennis Indoor Pertamina Simprug</p>
<p style="padding-left: 120px; text-align: justify;">Jl Teuku Nyak Arif &#8211; Simprug</p>
<p style="padding-left: 120px; text-align: justify;">Jakarta Selatan Indonesia</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Acara    	:  “Berbagi Kasih” Bersama MHI Tennis</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Akan digelar:</span></p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">1.   Tennis Coaching &amp; Tennis exhibition bagi anak-anak panti asuhan</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">2.   Fun Games anak-anak panti asuhan &amp; peserta yang hadir</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">3.   Penyerahan hasil donasi “Berbagi Kasih”</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">4.   Syukuran 5th Anniversary MHI Tennis</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">5.   Hiburan &amp; ramah tamah</p>
<p style="text-align: justify;">Besar harapan bahwa Program “Berbagi kasih” yang digulirkan ini tidak saja memberi guna dan meringankan mereka namun juga utamanya bisa menumbuhkan minat, keinginan dan pengetahuan anak-anak usia dini mengenai olah raga tennis.  Nantinya diharapkan muncul prestasi yang membanggakan dari dari apa yang telah tertebar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Salam Ace ….!</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/16/237/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2 Januariku (catatan ayah)</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/03/2-januariku-catatan-ayah/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/03/2-januariku-catatan-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 18:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tak ada keajaiban bagi saya selain melihat Sophie tumbuh dengan segala kebisaannya serta berkembang dengan segala sifat dan raga yang mencerminkan paduan antara saya dan bundanya.  Bundanyalah yang mengisi ragawinya dengan kecantikan, kulit putih dan daya tahan tubuh yang luar biasa.  Sementara banyak sifat dirinya yang merefleksikan sifat kecil saya seperti banyak omong, keras kepala, sensitif, smart dan amat sangat kreatif.  Paduan yang membuat kami sebagai orang tua tak perlu lagi memperebutkan kehakikian kemiripannya dengan kami.  Karena bagaimanapun kehadiran dia di sisi kami sudah lebih dari kata rahmat yang harus kami syukuri dan kami pertanggungjawabkan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="tiup" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_1779.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tepat 2 januari kemarin genap 2 tahun usia Sophie.  Seperti tahun lalu, ulang tahunnyapun diadakan di Jogja dan Jakarta.  Bedanya tahun lalu ulang tahun di Yogya harus di dahului dengan sakit panas karena tumbuh gigi,  semeantara kali ini ulang tahun di Jakarta justru yang harus diundur karena sophie kelelahan selama roadshow pulang kampung dan tertularnya virus yang menyerupai cacar air selama 3 hari [.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (02022010-20.49) </span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tak ada keajaiban bagi saya selain melihat Sophie tumbuh dengan segala kebisaannya serta berkembang dengan segala sifat dan raga yang mencerminkan paduan antara saya dan bundanya.  Bundanyalah yang mengisi ragawinya dengan kecantikan, kulit putih dan daya tahan tubuh yang luar biasa.  Sementara banyak sifat dirinya yang merefleksikan sifat kecil saya seperti banyak omong, keras kepala, sensitif, smart dan amat sangat kreatif.  Paduan yang membuat kami sebagai orang tua tak perlu lagi memperebutkan kehakikian kemiripannya dengan kami.  Karena bagaimanapun kehadiran dia di sisi kami sudah lebih dari kata rahmat yang harus kami syukuri dan kami pertanggungjawabkan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="tiup" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_1779.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tepat 2 januari kemarin genap 2 tahun usia Sophie.  Seperti tahun lalu, ulang tahunnyapun diadakan di Jogja dan Jakarta.  Bedanya tahun lalu ulang tahun di Yogya harus di dahului dengan sakit panas karena tumbuh gigi,  semeantara kali ini ulang tahun di Jakarta justru yang harus diundur karena sophie kelelahan selama roadshow pulang kampung dan tertularnya virus yang menyerupai cacar air selama 3 hari.  Meski Sophie sangat antusias untuk menyambut acara tiup lilinnya namun dengan terpaksa saya meminta bundanya untuk memundurkan acara.  Karena bagaimanapun saya ingin Sophie bisa nyaman dan menikmati acaranya sendiri dan bukan menuruti keingina keluarganya semata.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak dapat dipungkiri usia 2 tahun sophie merupakan waktu yang menjungkir balikkan kesabaran dan emosi saya sebagai orang tua dalam mendidiknya.  Jika sebelumnya saya cukup tenang bagai memainkan layang-layang dengan kendali ditangan, kini semuanya serba labil.  Tak hanya layang-layang itu sendiri yang sudah punya kemauan namun anginpun memberi kemungkinan bergoyang.  Kini Sophie bukan lagi baby yang bisa  digendong dan di arahkan kemana kita mau.  Adanya keinginan, kemauan dan segala akal serta upayanya membuat semuanya harus di negosiasikan dan dikomunikasikan dengan tepat.  Bukan itu saja pengaruh lingkungan dan keluarga dalam rumah sangat memberi andil yang cukup besar bagi pertumbuhan dan daya nalarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin sesal saya dialami juga oleh hampir semua orang tua.  Kondisi kerja, lingkungan kota dan aktifitas membuat kita sebagai orang tua tidak bisa lagi mendidik dan merawatnya selama 24 jam penuh.  Tanggung jawab itu dengan terpaksa harus terbagikan.  Mungkin kami beruntung karena Kakek-Nenek Sophie cukup sehat dan mampu untuk mengambil tanggung jawab itu.  Namun bagaimanapun kondisi ini cukup berat karena kembali pola asuh dan pendidikannya di rumah harus dikompromikan dengan cara-cara orang tua kita yang bisa jadi kurang tepat untuk masa sekarang. Saya sendiri sadar bukanlah pendidik yang sempurna untuk Sophie.  Saya hanya selalu berusaha menyempurnakan di tengah keterbatasan saya dan Bunda Sophiepun tak kurang berupaya juga mendukung pola asuh yang kami sepakati.  Kami tak ingin timpang dan bersebrangan dalam menerapkan policy bagi Sophie.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih segar dalam ingatan saya bagaimana saya mengajari Sophie untuk tidak takut terhadap apapun, seperti  listrik mati, serangga, hantu atau hal-hal yang tak masuk akan lainnya.  Segalanya berjalan lancar namun belakangan ini kadang kala ketakutan itu muncul. Usut punya usut hal ini terjadi karena dia menirukan reaksi sepupunya yang selalu di takut-takuti apapun oleh orang tuanya untuk meredam kenakalannya.  Pun ketika kami mengajarkan dia untuk tidak memakai bahasa tangisan atau rengekan bila meminta sesuatu terlebih  dengan paksaan.  Semuanya berjalan lancar namun belakangan kami cukup dipusingkan dengan kecengengan Sophie.  Kembali usut punya usut ternyata dia suka digodain oleh orang rumah. Mungkin terbilang remeh seperti mau ditinggal pergi, digoda saat asyik nonton dan sebagainya.  Bisa dibilang lucu mendengar rengekan anak kecil namun amat sangat tidak lucu bila hal ini mengubah tabiatnya menjadi cengeng.  Kasihan nantinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sendiri cukup keras untuk mengajar Sophie mandiri dan Bundanyapun sepakat untuk itu.  Bahkan  di umur 2 tahun sophie tahu memilih baju dan memakainya, menyalakan DVD yang akan di tontonnya, menyikat gigi juga merapikan mainannya.  Saya pernah di protes bahwa ini &#8220;memperbudak&#8221; anak.  Namun saya bantah karena semua tindakan ini adalah untuk membentuk habit.  Bila semuanya terbiasa maka akan otomatis menjadi budaya positif. Bahkan harusnya orang tua bangga anak bisa mandiri tanpa tergantung pada siapapun.  Ternyata  hal ini kadang sulit dipertahankan karena rasa kasihan atau sayang dari orang rumah membuat dia harus diladenin terus menerus.  Akibatnya habitnya terbengkalai dan anak mulai tergantung pada orang tua.  Rasa sayang seharusnya justru akan memandirikan bukan menjerumuskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari itu semua kami belajar dan berfikir positif.  Dunia anak tidaklah selalu steril bisa orang tua kendalikan, justru keragaman pola asuh ini benar-benar jadi warna dan bisa dikomunikasikan ke anak hingga anak tahu mana yang tepat dan tidak untuk dirinya.  Pun mengenai prilaku anak, yakinilah bahwa anak harus diperkenalkan dengan berbagai macam hal, makanan dan aktifitas. Bisa jadi hari ini dia menolak namun usahakan untuk tak jera memperkenalkan dan mencobakan hal tersebut pada anak.  Saya hanya bisa berfikir logis saja bahwa masa-masa ini anak harus punya bekal, harus tahu banyak dan mencoba semua pengalaman hingga satu saat dia bisa tepat memilih untuk dirinya. Satu pilihan yang benar-benar dia inginkan hasil dari &#8220;pengalaman&#8221;nya, bukan karena ingin kita atau mau kita sebagai orang tua belaka.  Kembali harus disadari bahwa dia bersama kita, bukan untuk jadi milik kita &#8230; namun menjadi tanggung jawab kita untuk menjadikan dia seperti dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">&#8220;Anakku .. Tiada doa kami kecuali untuk harapan akan terbekati segala langkah dan pintamu, dan selalu tercukupkan bekal yang kami beri&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Amien!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/03/2-januariku-catatan-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

