<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SamRoads - It&#039;s Just Some Inspiration In My Private Roads</title>
	<atom:link href="http://samroads.be-samyono.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://samroads.be-samyono.com</link>
	<description>private, journey, words, thinking, jurnal, baby, renungan, pengalaman, sophie, perjalanan, kata, inspirasi, opini, catatan, pribadi, pemikiran, oppinion, kinanthi, ayah bunda</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Apr 2010 09:36:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.3</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Rayuan Pagi</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/20/rayuan-pagi/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/20/rayuan-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 09:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pagi itu aku sudah mandi dan bersiap, seperti biasa aku akan mengantar ayah dan bunda kerja sebelum ikut abang Dika sekolah di PAUDnya.  Kelasku sendiri baru akan mulai Juli nanti rasanya tak sabar bila harus menunggu. Ikut kelas abang Dika sedikit banyak bisa menghiburku.  Kulihat pagi ini Bunda telah rapi namun ayah tak pergi bersama Bunda kali ini karena ayah ada pekerjaan di Papua.  Dua hari lagi Ayah akan kembali dan aku telah berpesan untuk membawakanku buku tempel kegemaranku belakangan ini.</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Jerapah" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG00023-20100227-1203.jpg" alt="" width="270" height="360" /></p>

<p style="text-align: justify;">"Bunda nanti aku antar-antar kerja yah" kataku di ruang keluarga.
"Iyah cantik ... duh baik hati sekali kamu" Ujar Bunda menyambut hangat tawaranku. akupun segera berlari masuk kamar untuk mengambil sesuatu.  Kuhampiri kembali Bunda, [........] ,</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (20042010.15.17)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi itu aku sudah mandi dan bersiap, seperti biasa aku akan mengantar ayah dan bunda kerja sebelum ikut abang Dika sekolah di PAUDnya.  Kelasku sendiri baru akan mulai Juli nanti rasanya tak sabar bila harus menunggu. Ikut kelas abang Dika sedikit banyak bisa menghiburku.  Kulihat pagi ini Bunda telah rapi namun ayah tak pergi bersama Bunda kali ini karena ayah ada pekerjaan di Papua.  Dua hari lagi Ayah akan kembali dan aku telah berpesan untuk membawakanku buku tempel kegemaranku belakangan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Jerapah" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG00023-20100227-1203.jpg" alt="" width="270" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bunda nanti aku antar-antar kerja yah&#8221; kataku di ruang keluarga.<br />
&#8220;Iyah cantik &#8230; duh baik hati sekali kamu&#8221; Ujar Bunda menyambut hangat tawaranku. akupun segera berlari masuk kamar untuk mengambil sesuatu.  Kuhampiri kembali Bunda,<br />
&#8220;Bunda aku mau buku ini yah&#8221; Pintaku sembari menyodorkan buku tempel berisi gambar-gambar dinosaurus, &#8220;dibuka, boleh tak?&#8221;<br />
&#8220;Loh katanya, nanti dibuka kalau ada ayah,&#8221;Ujar bunda sembari mengingatkanku, &#8220;nanti saja yah, khan mainnya bareng ayah supaya tempelnya benar.&#8221;<br />
&#8220;Iyah tapi aku mau dibuka sekarang,&#8221; Rayuku.<br />
&#8220;Trus nanti main apa dengan ayah kalau dibuka sekarang,&#8221; Bunda sepertinya tidak mengijinkan aku memainkan buku ini sendiri tanpa didampingi.  Karena seperti biasa aku akan menghabiskan semua tempelan dan menempelkannya di sembarang tempat dengan cepatnya.  Dalam sekejap!</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengalah, aku kembali berlari menaruh buku itu di lemari. sesegera itu aku keluar lagi menemui bunda.<br />
&#8220;Aku akan antar Bunda yah,&#8221; kembali aku menawarkan diri.<br />
&#8220;Iya sayang&#8221; Bunda meneima tawaranku sembari menuju kamar.<br />
&#8220;Bunda sepatunya aku bersihkan yah,&#8221; Kembali aku menawarkan diri begitu melihat sepatu bunda telah siap diluar namun belum dibersihkan.  Biasanya aku akan mencari tissue basah dan membersihkan sepatu ayah bila akan berangkat kerja.<br />
&#8220;Aduuuh kamu baik sekali, terima kasih sayang!&#8221; Ujar bunda menyambut.<br />
Segera kucari tissue basah dengan berlari kecil, mengelapnya dan membuang tissuenya di tempat sampah.  Bunda mengawasiku sambil tersenyum kecil.  Diciumnya aku sebagai rasa terima kasih. Kutinggalkan bunda di ruang tamu untuk masuk kamar mengambil sesuatu dan kembali menghampiri.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bunda &#8230;&#8221; Panggilku<br />
&#8220;Ya &#8230; sayang&#8221;<br />
&#8220;Sekarang Aku boleh buka buku tempel-tempel ini yah!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Tawa Bunda dan kakek nenek pecah mendengar kegigihan dan rayuan pagiku ini.<br />
Ternyata Baby mungil ini telah tahu bagaimana merayu!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/20/rayuan-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Hukuman dari Sophie (Catatan Ayah)</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/05/sebuah-hukuman-dari-sophie-catatan-ayah/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/05/sebuah-hukuman-dari-sophie-catatan-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 15:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tak ada yang lebih menyakitkan selain menghadapi rasa penolakan seorang anak.  Saya tidak pernah membayangkan bila Sophie bisa melakukannya sedini ini.  Saya dan Bundanya mencoba memahami kondisi yang tengah terjadi, mencoba tak membebankan kesalahan namun segera berupaya mencari solusi.  Keyakinan kami cukup sederhana.  Tak ada permasalahan yang tidak bisa dipecahkan.  Itu saja.  Dan lebih jelasnya kami tak ingin terlambat dan  memdapat rasa bersalah yang akan kami tuai nantinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Merenung" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2941.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tak disangka bulan Maret ini jadwal saya dan jadwal Bunda begitu padat.  Beberapa kali kami tak bisa pulang tepat waktu.  Kadang larut dan seringkali tiba disaat Sophie sudah tidur.  Meskipun ada waktu 2 jam dipagi hari untuk bersamanya namun sepertinya tetap ada waktu kebersamaan yang kurang.  Waktu sabtu minggu biasanya kami coba memaksimalkan kebersamaan dengan dirinya, sebagai waktu kompensasi.  Mengajaknya main atau pergi yang memang khusus untuk dirinya.  Harapannya Sophie bisa melihat kondisi ini lebih proporsional dan dia sama sekali tidak merasa di nomor duakan dibandingkan pekerjaaan kami.  Karena kami telah mengajarkan pengertian kenapa kami harus meninggalkannya dan bekerja.  Kembali ternyata semua ini belumlah cukup [........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (24032010-08.41)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tak ada yang lebih menyakitkan selain menghadapi rasa penolakan seorang anak.  Saya tidak pernah membayangkan bila Sophie bisa melakukannya sedini ini.  Saya dan Bundanya mencoba memahami kondisi yang tengah terjadi, mencoba tak membebankan kesalahan namun segera berupaya mencari solusi.  Keyakinan kami cukup sederhana.  Tak ada permasalahan yang tidak bisa dipecahkan.  Itu saja.  Dan lebih jelasnya kami tak ingin terlambat dan  memdapat rasa bersalah yang akan kami tuai nantinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Merenung" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2941.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tak disangka bulan Maret ini jadwal saya dan jadwal Bunda begitu padat.  Beberapa kali kami tak bisa pulang tepat waktu.  Kadang larut dan seringkali tiba disaat Sophie sudah tidur.  Meskipun ada waktu 2 jam dipagi hari untuk bersamanya namun sepertinya tetap ada waktu kebersamaan yang kurang.  Waktu sabtu minggu biasanya kami coba memaksimalkan kebersamaan dengan dirinya, sebagai waktu kompensasi.  Mengajaknya main atau pergi yang memang khusus untuk dirinya.  Harapannya Sophie bisa melihat kondisi ini lebih proporsional dan dia sama sekali tidak merasa di nomor duakan dibandingkan pekerjaaan kami.  Karena kami telah mengajarkan pengertian kenapa kami harus meninggalkannya dan bekerja.  Kembali ternyata semua ini belumlah cukup.</p>
<p style="text-align: justify;">Puncaknya minggu lalu saat kami harus ke Jogja untuk menghadiri pernikahan saudara yang mendadak dimana kemungkinan untuk mengajak Sophie amat tidak memungkinkan.  Kamipun pergi disaat Sophie tertidur lelap kelelahan karena kami mengajaknya jalan-jalan dahulu untuk menghabiskan waktu bersama dia sebelum keberangkatan.  Benak kami mengkawatirkan bahwa sophie akan rewel dan mencari-cari kami.  Untuk itu kamipun berupaya selalu kontak dengan dia lewat telpon guna memantaunya.   Kami bayangkan saat kami pulang dua hari kemudian kami akan melihat Sophie berlari riang ke arah kami dan lengket takkan mau melepaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Moment kepulangan kami sama sekali jauh dari bayangan kami.  Dia memandang kedatangan kami dengan biasa saja, perhatiannya lebih ke arah pesawat terbang.  Malah dikiranya dia akan pergi dengan pesawat saat menjemput kami.  Dan ternyata penolakan lainnya berlanjut. Malamnya dia tak menginginkan untuk tidur bersama kami.  Dia lebih memilih untuk tidur di luar kamar bersama nenek.  Dan semua dilakukannya dengan menangis.  Saat itu saya merasa hampa.  Terkejut sekaligus putus asa.  Saya tiak pernah membayangkan Sophie menjauh dari kami.  Logikanya bila seorang anak ditinggal oleh orang tuanya dia akan merindukan tapi Sophie mengambil sisi yang berbeda.  Saya merasa seperti dihukum.</p>
<p style="text-align: justify;">Biasanya saya akan segera emosi untuk menanggapi hal-hal seperti ini, seperti induk ayam yang mulai bertaji mempertahankan teritorialnya. Namun hukuman ini terasa menyentak.  Saya hanya bisa berkata lirih pada Bunda Sophie.  &#8220;Bunda, ada sesuatu yang salah.  Kita harus segera memperbaikinya,&#8221;  Bunda hanya mengangguk pelan, diikutinya Sophie yang menangis keras sambil keluar kamar mencari neneknya.  Digendongnya dan diserahkan ke saya.  Bunda menemui nenek dikamarnya untuk tidak keluar dan mengulurkan bantuan.  Kami bujuk Sophie mengatakan nenek sudah tidur.  Saya tahu Sophie akan menerima semua alasan bila logis dan dia bisa buktikan.  Meski tangisnya tak reda tapi dia menuruti kata kami.  Malam itu dia tidur bersama kami dengan sesenggukan.  Kami tidak bilang kami memangkan hukuman ini karena jauh dari itu  masih ada pekerjaan rumah yang cukup berat untuk bisa meyakinkan Sophie.  Meyakinkan bahwa keberadaannya mempunyai arti lebih dan tak ada pengabaian atas keberadaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tahu akan sulit mengasuh anak dalam 2 kendali.  Seperti halnya kami yang menyerahkan sebagian besar asuhan Sophie pada Kakek &amp; Neneknya.  Beruntung Kakek &amp; Nenek Sophie cukup kooperatif dalam menerapkan pola asuh.  Namun demikian sangat manusiawi ada perbedaan aturan dan cara.  Sejauh itu terkontrol saya selalu meminta Bunda untuk memakluminya.  Satu hal yang penting untuk menanamkan kepada anak akan perbedaan pola asuh ini sehingga dia tahu akan keragaman lingkungan. Namun saat sesuatu yang tidak bisa di kontrol muncul.  Mungkin peran pengertian untuk bisa mengkomunikasikan dan memahami akar permasalahan untuk mendapatkan solusi amat sangat diperlukan.  Utamanya kerjasama pihak pengasuh sangat penting.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa jadi ini satu problem yang jamak terjadi dalam keluarga modern dimana proses pengasuhan anak tidak bisa di tangani sepenuhnya oleh orang tua.  Kita harus berbagi proses asuh kepada orang tua ataupun kepada tenaga profesional seperti baby sitter.  Masalah seringkali muncul saat anak-anak mulai dekat dengan mereka daripada dengan orang tua.  Pengabaian inilah yang bisa di cerna secara beragam.  Mungkin ini akan berlangsung temporary atau malah selamanya tergantung keinginan kita sejauh mana mengembalikan peran kita sebagai orang tua.  Saya dan Bunda belum bisa memastikan apakah kami bisa segera keluar dari hukuman ini segera. Namun setidaknya kami tidak ingin ini berlangsung lebih lama lagi.  Terlebih hanya memberikan kata jangan dan jangan kepada Kakek dan Nenek yang over perhatian kepada Sophie.  Saatnya kami harus memberikan satu bukti kepedulian dan saatnya kami memberikan esensi lebih dalam menerapkan pola asuh apa lagi kalau bukan <span style="color: #ff6600;">KETELADANAN</span>.  Moga langkah ini kembali menyatukan kami.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/04/05/sebuah-hukuman-dari-sophie-catatan-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anehnya Aku</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/26/anehnya-aku/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/26/anehnya-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 11:03:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beberapa waktu belakangan ini banyak orang yang merevisi pendapatnya mengenai aku.  Tak lagi mengatakan bahwa aku mirip ayah tapi justri sebaliknya Bundalah yang dominan mewariskan kecantikannya.  Ayah hanya menjulurkan lidahnya bila makin banyak yang berpendapat seperti ini dan Bunda terpingkal.  Bisa jadi benar yang mereka katakan.  Namun dibalik itu ternyata beberapa sikap dan sifatku lebih mirip dengan ayah.  Lihat caraku tidur, bengong dan kentut..ups hahaha. Bunda bilang ayah banget. Tidak itu saja kreatifitas dan keusilanku sangat Ayah banget, sampai sampai kakek-Nenek geleng geleng dibuatnya.  Namun ada yang sangat unik yang justru belakangan ini baru nampak di aku yang bisa dibilang aneh seperti:</p>
<p style="text-align: center;"></p>
<p style="text-align: center;"></p>

<p style="text-align: center;"><img class="alignnone" title="susu" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/P3070288.jpg" alt="" width="270" height="360" />
<span style="color: #ff6600;"> </span>

<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">
SUKA MUNTAH:</span>
Soal ini aku mirip banget dengan ayah apalagi kalau bukan soal makanan.  Bisa dibilang selera makan ayah adalah seleraku, bahkan acara makan ayah adalah cara makanku.  Aku suka makan makanan yang beragam, buah dan sayur yang tidak biasa Bunda makan.  Dan kebiasaanku untuk makan makanan tanpa kuah persis seperti Ayah.  Nasi goreng, terutama bubur adalah makanan yang tak ayah nikmati dan aku hindari.  Bila Ayah akan muntah bila saat kenyang lalu membaui makanan maka aku akan muntah bila melihat makanan bayi sebangsa bubur. Lah!  bukan itu saja aku akan sangat kelabakan dan muntah bila melihat muntahku sendiri atau melihat sisa susu di botol susuku.  waduh![.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (17032010-19.38)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa waktu belakangan ini banyak orang yang merevisi pendapatnya mengenai aku.  Tak lagi mengatakan bahwa aku mirip ayah tapi justri sebaliknya Bundalah yang dominan mewariskan kecantikannya.  Ayah hanya menjulurkan lidahnya bila makin banyak yang berpendapat seperti ini dan Bunda terpingkal.  Bisa jadi benar yang mereka katakan.  Namun dibalik itu ternyata beberapa sikap dan sifatku lebih mirip dengan ayah.  Lihat caraku tidur, bengong dan kentut..ups hahaha. Bunda bilang ayah banget. Tidak itu saja kreatifitas dan keusilanku sangat Ayah banget, sampai sampai kakek-Nenek geleng geleng dibuatnya.  Namun ada yang sangat unik yang justru belakangan ini baru nampak di aku yang bisa dibilang aneh seperti:</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone" title="susu" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/P3070288.jpg" alt="" width="270" height="360" /><br />
<span style="color: #ff6600;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><br />
SUKA MUNTAH:</span><br />
Soal ini aku mirip banget dengan ayah apalagi kalau bukan soal makanan.  Bisa dibilang selera makan ayah adalah seleraku, bahkan acara makan ayah adalah cara makanku.  Aku suka makan makanan yang beragam, buah dan sayur yang tidak biasa Bunda makan.  Dan kebiasaanku untuk makan makanan tanpa kuah persis seperti Ayah.  Nasi goreng, terutama bubur adalah makanan yang tak ayah nikmati dan aku hindari.  Bila Ayah akan muntah bila saat kenyang lalu membaui makanan maka aku akan muntah bila melihat makanan bayi sebangsa bubur. Lah!  bukan itu saja aku akan sangat kelabakan dan muntah bila melihat muntahku sendiri atau melihat sisa susu di botol susuku.  waduh!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SUKA JIJIK:</span><br />
Mungkin aku tak akan muntah namun aku akan merengek dan rewel atau menolak dengan  tegas bila berhadapan dengan sesuatu yang kotor.  Sandalku misalnya.  Bila jalan-jalan dan sandalku terkena air dan kotor aku akan langsung melepasnya dan minta gendong selama sandal itu belum bersih.  demikian juga dengan hal kotor lainnya. Aku akan langsung meneriakkan kata kotor.  Dan Ayah Bunda makin terheran saat aku tak mau menginjakkan kakiku ke pasir pantai dangan satu alasan: KOTOR!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SUKA MENCUBIT:</span><br />
Aku tahu Ayah Bunda tak mengijinkan dan sangat tak menyukainya.  Namun aku gemar sekali mencubit mbak Enny pembantu di rumah.  kadang dengan usilnya aku pura-pura mendekatinya dan mulai mencubit saat lengat.  Cubitankupun tak tanggung-tanggung kecil dan sakit.  Utamanya ini aku lakukan saat geregetan.  Ayah Bunda tahu prilakuku ini adalah dampak dari contoh tak baik yang dilakukan teman-temanku. yah mungkin aku harus bisa mengerti kalau hal ini memang tidak diperbolehkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SUKA CENGENG:</span><br />
Hingga umur 1,5 tahun aku bukanlah bayi yang suka menagis namun entah belakangan ini begitu banyak hal membuat aku merengek dan berujung tangisan meski masih terkendali.  Namun perubahan ini membuat Ayah tak sabar dan Bundapun kebingungan.  Semuanya menjadi serba salah. Ayah menyesalkan lingkungan rumah yang suka menggoda aku hanya untuk keisengan supaya aku merengek.  Dan alih-alih ini menjadi satu kebiasaan dan aku terima secara negatif.  Ayah benar benar menyesalkan hal ini.  Terlebih bila ada yang mulai menakut-nakuti aku.   Aku tahu ayah ingin sekali aku menjadi pribadi yang tegar dan mandiri.<br />
<span style="color: #ff6600;"><br />
SUKA AIR:</span><br />
Berenang utamanya.  Tak tanggung-tanggung aku kurang begitu meyukai berenang di air dangkal. Aku lebih suka dibawa Ayah di tempat yang dalam. Kolam air dingin taupun air panas tak masalah aku akan selalu semangat dan enggan untuk keluar air.  Pernah satu hari saat ayah menyiram halaman aku semangat untuk main air di ember besar.  Saat aku slip seluruh badanku masuk air dengan kepala dulu.  Untung Ayah cepat tanggap menolongku.  Tapi semua ini tidak membuatku takut air.<br />
<span style="color: #ff6600;"><br />
SUKA BERES-BERES:</span><br />
Kewajiban pertamaku bila bermain adalah membereskannya. hal ini sejak setahun lalu selalu Ayah Bunda ajarkan. Hingga kini akupun masih konsisten dengan hal itu meski aku kadang suka berpura-pura enggan untuk melakukannya.  Dan sepertinya aku lebih suka mendapat pujian sebagai anak pintar daripada mengabaikan kewajiban ini.  terutama membereskan buku-buku kesukaannku.  jadi aku tahu pasti dimana pensil, pena ataupun buku disimpan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SUKA BERCERMIN:</span><br />
Cermin bagiku sesuatu yang menarik.  Aku suka sekali bercermin. Bukan saja saat berdandan atau berpakaian. saat membaca ataupun bermain sesekali aku pergi ke kamar hanya sekedar untuk bercermin.  Tapi jangan salah aku tak suka mendandani rambutku.  Kucir, jepit akh ..no way!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">JAGO OMONG:</span><br />
Bukan aku kalau gak punya kata-kata bila harus berargumen atau berkomunikasi. Berbekal kefasihanku bicara rasanya semua omonganku hanaya akan bikin gemas orang-orang sekitarku.  Untuk ini memang bisa dibilang ayah banget hahahaha.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayah Bunda mengerti sekali bahwa setiap fase pertumbuhanku akan mengalami berbagai perubahan dan ketidak konsistenan.  Mungkin ada fase dimala aku perlu perhatian, mencari jatidiri ataupun ingin menunjukkan eksistensi.  Meski kawatir dengan beberapa perubahanku namun Ayah Bunda mencoba untuk berfikir positif dan berupaya membawaku pada hal yang semestinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Moga ini bisa membawaku ada pertumbuhan yang tepat dan terarah yah.<br />
<span style="color: #ff6600;">Semoga.</span></p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 60px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden; text-align: center;">http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/P3070288.jpg<img class="aligncenter" title="susu" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/P3070288.jpg" alt="" width="450" height="600" /></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/26/anehnya-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obsesi Sophie</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/18/obsesi-sophie/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/18/obsesi-sophie/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 10:24:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Aku tidak hanya menginginkannya, lebih dari akan mengucapkannya hampir setiap hari. Ya ... aku ingin SEKOLAH! kata sekolah seperti kata ajaib di telingaku.  membuatku bersemangat bangun pagi bahkan melecutku untuk mengerjakan ini dan itu.  Kulihat Bunda beberapa kali survey play group bahkan beberapa telah aku coba free trialnya.  Namun sepertinya ada yang tidak membuat Bunda berkenan.  Tidak saja kurikulumnya tapi juga fee-nya yang kadang membuat dahi mengernyit.  Kuingat bunda menjanjikan aku sekolah kalau aku sudah 2 tahun.  Dan di ulang tahunku yang kedua Bunda benar-benar menepatinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="rebah" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2307.jpg" alt="" width="383" height="256" /></p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari Bunda mendiskusikan masalah sekolah ini dengan ayah.  Sepertinya Ayah menginginkan agar aku sekolah di lembaga formal dengan pemikiran tidak saja kebutuhan sekolahku terpenuhi tapi juga kedisiplinanku bisa diasah.  Dan kembali pertimbangan geografis menjadi penentu pemilihan sekolah nantinya mengingat faktor kemacetan dan transportasi begitu dominan menjadi pemikiran di Jakarta.  Gugurlah sudah alternatif untuk menyekolahkanku di Gymboree atau Tumbletooth. [.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (17032010-18.40)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Aku tidak hanya menginginkannya, lebih dari akan mengucapkannya hampir setiap hari. Ya &#8230; aku ingin SEKOLAH! kata sekolah seperti kata ajaib di telingaku.  membuatku bersemangat bangun pagi bahkan melecutku untuk mengerjakan ini dan itu.  Kulihat Bunda beberapa kali survey play group bahkan beberapa telah aku coba free trialnya.  Namun sepertinya ada yang tidak membuat Bunda berkenan.  Tidak saja kurikulumnya tapi juga fee-nya yang kadang membuat dahi mengernyit.  Kuingat bunda menjanjikan aku sekolah kalau aku sudah 2 tahun.  Dan di ulang tahunku yang kedua Bunda benar-benar menepatinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="rebah" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2307.jpg" alt="" width="383" height="256" /></p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari Bunda mendiskusikan masalah sekolah ini dengan ayah.  Sepertinya Ayah menginginkan agar aku sekolah di lembaga formal dengan pemikiran tidak saja kebutuhan sekolahku terpenuhi tapi juga kedisiplinanku bisa diasah.  Dan kembali pertimbangan geografis menjadi penentu pemilihan sekolah nantinya mengingat faktor kemacetan dan transportasi begitu dominan menjadi pemikiran di Jakarta.  Gugurlah sudah alternatif untuk menyekolahkanku di Gymboree atau Tumbletooth.  Meskipun keduanya cukup dekat dengan rumah tapi keduanya bukanlah sekolah formal. Pilihan di persempit dengan mengambil alternatif Al Azhar  Kemandoran atau Stella Duece di daerah yang sama.  Ayah dan ibu mengakui bahwa sekolah katolik mempunyai kurikulum yang handal, karena dulu ayahpun kuliah di Universitas Kristen dan Katolik.  Namun ternyata Ayah meminta Bunda untuk memilih Al Azhar.  Alasannya sederhana.  Ayah dan Bunda ingin memberikan dasar yang kuat bagi keimananku serta akhlakku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah senangnya aku terlebih akhir Februari lalu dibuka pendaftaran tingkat toddler untuk masuk bulan Juli.  Setiap kali mengurus administrasi Ayah dan Bunda selalu mengajakku.  Tak kusiakan waktu ini untuk berkeliling, mencoba semua mainan yang ada, dan bermain sepuasnya.  Kulihat begitu banyak mainan, alat peraga, kelas bahkan kolam renang! Ayah Bunda tahu aku sudah tak sabar untuk masuk namun bagaimanapun aku tetap harus bersabar untuk bulan Juli nanti.  Selain itu Bunda bilang, aku akan bisa sekolah disini kalau lulus observasi. Oh&#8230;.aku baru 2 tahun harus ditest untuk masuk toddler? yang benar saja.  Ah aku tak takut.  ayah Bunda, Tante Nung dan semua sudah mengajari aku.  Aku yakin bakal lolos seleksi nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat waktu observasi tiba. Aku bangun begitu pagi karena tak sabar untuk segera masuk sekolah.  Namun ternyata Ada surat keterangan dokter untuk pendaftaran  yang harus diurus jadi kami ke rumah sakit dahulu sebelum kesekolah.  Akibatnya aku keburu lelah.  Sampai di Sekolah sudah jam 11.30 semua pendaftar sudah diobservasi dan tinggal guru-guru saja yang ada di kelas. Bunda menggendongku masuk kelas ditemani Tante Nung dan Ayah. Akh hebohlah kelas karena aku tak mau dibangunkan.  Ruangan ber ac dan tempat tidur dalam kelas yang penuh boneka membuatku makin nyenyak.  Ayah Bunda kelabakan membangunkanku.  Guru-guru memberi kelonggaran untuk kembali minggu depan.  Tapi Ayah tolak karena akan sulit mengantar aku di waktu hari kerja.  Akhirnya Ayah ada ide untuk mebangunkanku di kolam renang kesukaanku.  Walaupun ide ayah kliru karena ternyata begitu kami keluar kolam renangnya dikuras!  Dengan sedikit berupaya akhirnya aku bisa bangun meskipun seperti tak sadarkan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat observasipun menit menit pertama responku sangat lamban dan suaraku hampir gak kedengaran.  Ayah melihatku dengan putus asa. beberapa pertanyaan seperti masuk telinga kanan dan kluar telingan kiriku dengan tatapan kosong.  Sungguh aku masih ngantuk!  Namun Test tetap berjalan namun entah kenapa tiba-tiba aku terbangun begitu melihat banyaknya boneka dan mainan.  pertanyaan-pertanyaan beberapa gurupun dengan gampang aku selesaikan dan ujian-ujian kecil terasa terlalu mudah untukku. Kuliahat wajah Ayah Bunda berbinar.  Dan beberapa guru jadi terbahak karena aku malah menanyakan ini dan itu pada mereka.  Bahkan ada yang menyeletuk agar aku dimasukkan TK A saja. Ah!  saat pulang aku mendapat oleh-oleh payung serta beberapa balon yang akan aku bagikan buat abang Dika. Sampai-sampai Bunda menggeleng &#8220;Duh baik bener nih anak&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Hore &#8230; akhirnya aku diterima Di Toddler Al Azhar.  Ayah Bunda mengerti bahwa aku gembira.  Mereka mengijinkanku untuk menggunakan pensil warna, crayon dan buku-buku untuk aku corat-coret yang memang sudah Bunda siapkan jauh hari sebelumnya dan aku simpan di lemariku.  Ayahpun sudah membelikanku tas elmo warna merah. Wah semangatnya aku.  Meski masih 4 bulan lagi tapi aku tak surut semangat.  Bunda Janji akan membawaku ke sekolah untuk pengenalan dan bermain yang memang diijinkan oleh sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kudengar suatu malam Ayah Bunda bercakap.<br />
&#8220;Gak sangka Sophie begitu semangatnya sekolah, walau sebenarnya tanpa sekolah pembekalan dia dirumah cukup terpenuhi&#8221;<br />
Ayah tersenyum mendengar penuturan Bunda.  Ayah tahu bagaimana aku didik di lingkungan rumah ini sudah lebih dari cukup.<br />
&#8220;Yah mungkin dia memang harus kenal dunia luar dan teman-teman sebaya ya Yah?&#8221;<br />
&#8220;Benar &#8230; supaya pikirannya tidak <span style="color: #ff6600;">&#8220;TERLALU TUA&#8221;</span> seperti sekarang&#8221;.<br />
&#8220;Hahahhaha &#8230;&#8221;, Bunda terbahak dan membenarkan.  Lingkungan ini membentukku menjadi sangat mature untuk anak seusiaku.  Membuatku seringkali berfikir dan berbuat terlalu dewasa untuk usiaku,  seperti mempersilahkan orang untuk ini dan itu, memberi alternatif dan lainnya.  Rupanya memang Ayah Bunda tak ingin aku kehilangan masa anak-anakku dan tak ingin aku jadi <span style="color: #ff6600;">BABY TUWIR.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/03/18/obsesi-sophie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keteguhan Sebuah Niat</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/21/keteguhan-niat/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/21/keteguhan-niat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 17:17:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Perhelatan program "Berbagi Kasih" bersama MHI Tennis telah usai.  Penyerahan donasi yang dibarengin dengan acara penanda 5 tahun MHI tennispun telah selesai.  Demikian juga dengan pengiriman pertanggungjawaban atas donasi dan sponsorship telah di penuhi.  Bila dikata cukup singkat program ini disiapkan dan berjalan.  Seminggu untuk persiapan dan selebihnya 3 minggu untuk pelaksanaan. Tak ada kata selain ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus pada rekan se-team, rekan MHI donatur, sponsor serta supporter atas kolaborasi dan bantuannya dalam bentuk apapun. Tak ada kontribusi yang tidak konstruktif tak ada pula bantuan yang tak membangun.  Saya pribadi yakin sekecil apapun bantuan yang diberikan saling tertaut dan memberikan makna dalam program ini.</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="logo" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/LogoBday5.jpg" alt="" width="307" height="307" /></p>
<p style="text-align: justify;">Pemakluman saya sedemikian lebar akan kepesimisan berbagai pihak merujuk pada hasil maksimal program ini nantinya mengacu pada keterbatasan waktu serta pengalaman dalam mengelola acara semacam ini.  Namun saya dan beberapa rekan tetap berambisi untuk membuktikan bahwa masih banyak kepedulian yang dipunyai oleh sebagian besar teman-teman MHI Tennis.  Bukan keinginan untuk jumawa tapi pembuktian bahwa pasti ada jalan untuk sebuah niat tulus dalam berbagi kepada sesama.  Jujur ketika kami menawarkan keinginan untuk membantu Panti asuhan Kampung Melayu tak ada yang kami punya kecuali 200% ketulusan dan keiklasan untuk menyisihkan waktu dan tenaga untuk program acara ini.[.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (21022010-21.18) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Perhelatan program &#8220;Berbagi Kasih&#8221; bersama MHI Tennis telah usai.  Penyerahan donasi yang dibarengin dengan acara penanda 5 tahun MHI tennispun telah selesai.  Demikian juga dengan pengiriman pertanggungjawaban atas donasi dan sponsorship telah di penuhi.  Bila dikata cukup singkat program ini disiapkan dan berjalan.  Seminggu untuk persiapan dan selebihnya 3 minggu untuk pelaksanaan. Tak ada kata selain ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus pada rekan se-team, rekan MHI donatur, sponsor serta supporter atas kolaborasi dan bantuannya dalam bentuk apapun. Tak ada kontribusi yang tidak konstruktif tak ada pula bantuan yang tak membangun.  Saya pribadi yakin sekecil apapun bantuan yang diberikan saling tertaut dan memberikan makna dalam program ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="logo" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/LogoBday5.jpg" alt="" width="307" height="307" /></p>
<p style="text-align: justify;">Pemakluman saya sedemikian lebar akan kepesimisan berbagai pihak merujuk pada hasil maksimal program ini nantinya mengacu pada keterbatasan waktu serta pengalaman dalam mengelola acara semacam ini.  Namun saya dan beberapa rekan tetap berambisi untuk membuktikan bahwa masih banyak kepedulian yang dipunyai oleh sebagian besar teman-teman MHI Tennis.  Bukan keinginan untuk jumawa tapi pembuktian bahwa pasti ada jalan untuk sebuah niat tulus dalam berbagi kepada sesama.  Jujur ketika kami menawarkan keinginan untuk membantu Panti asuhan Kampung Melayu tak ada yang kami punya kecuali 200% ketulusan dan keiklasan untuk menyisihkan waktu dan tenaga untuk program acara ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya akui 3 minggu adalah masa yang sangat menguras tenaga dan waktu untuk menjalankan program berbagi kasih ini sebagai panitia.  Tidak saja sebagai penjaga gawang menampung donasi yang bisa datang kapan saja namun juga upaya keras untuk mensosialisasikan program ini tidak saja kepada donor, sponsor tapi juga volunteer, belum lagi kami harus menyiapkan acara penyerahan yang dikemas dalam bentuk tennis coaching. Sebagai penggelontor Ide sayapun harus berkomitmen penuh terhadap jalannya program ini meski di minggu terakhir saya bagai terdehidrasi hingga minta bantuan seorang rekan untuk mentake over kerjaan tugas saya sementara saya harus recovery.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini semuanya telah terbayar &amp; syukur saya tak terbatas.  Melihat senyum dan kegembiraan anak-anak panti asuhan yang menerima upaya kecil kami rasanya semua beban telah terangkat.  Saya benar-benar mensyukuri moment itu.  Terlebih kami telah disupport oleh  donatur perseorangan hingga mencapai angka donasi Rp 10.650.000,-.  Tak luput, beberapa sponsorpun turut memberi andil seperti Majalah Menshealth Indonesia, mead Johnson, KFC, Arnotts, dan juga Nestle. Satu hal yang luar biasa semua ini terjadi tepat pada waktunya dan begitu indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali saya mengamini kekuatan sebuah niat, kedalaman sebuah keihklasan serta keindahan sebuah syukur.  Saya yakin perhelatan ini tidak saja memberi kita pelajaran berarti mengenai makna berbagi namun juga <span style="color: #ff6600;">makna keteguhan niat untuk menjalankan satu proses kehidupan! </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Note:</strong></span> laporan lengkap mengenai pertanggungjawaban program &#8220;berbagi Kasih&#8221; bisa di lihat <a href="http://docs.google.com/fileview?id=0B-hMbIwUC9WCNTViMWZlZDAtMmVlZS00Zjk3LTkxMmYtNjU5MWEyZjFmZDZi&amp;hl=en" target="_blank">disini</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/21/keteguhan-niat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenalkan Tenis di Usia Dini</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/16/237/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/16/237/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 10:25:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[MHI Tennis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Media Release:</span> “Mengenalkan sejak dini”  mungkin inilah kata yang tepat untuk bisa dipikirkan lebih mendalam dan dijabarkan dalam tindakan kongkrit guna mengatasi keterpurukan dunia olah raga Indonesia.  Tenis salah satu contoh olah raga tersebut.  Pandangan tenis sebagai olah raga mahal dan teruntuk manula menghasilkan pembibitan yang gersang dan prestasi yang tumpul.  Sejak era Yayuk Basuki dan Angelique Widjaja tak ada catatan anak negeri ini berhasil menapak 100 besar peringkat petenis dunia.  Satu hal yang ironis padahal tennis merupakan olahraga yang menjanjikan serta mempunyai apresiasi serta struktur yang mapan bagi seorang atlet.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Coaching" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2461.jpg" alt="" width="383" height="256" /></p>
<p style="text-align: justify;">Berpijak pada kondisi itu di ulang tahunnya yang ke 5, MHI Tennis mengajak 40 anak Panti Asuhan kampung Melayu  untuk mengikuti acara Tennis Coaching.  Anak-anak setingkat SD dan SMP itu akan diperkenalkan pada tenis dan dibekali cara-cara bermain tennis secara langsung Pelatih.  Serunya lagi anak-anak ini akan dipandu langsung oleh kakak-kakak MHI tennis dan akan dipadukan dengan fun game[........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (14022010-00.00) </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Media Release:</span> “Mengenalkan sejak dini”  mungkin inilah kata yang tepat untuk bisa dipikirkan lebih mendalam dan dijabarkan dalam tindakan kongkrit guna mengatasi keterpurukan dunia olah raga Indonesia.  Tenis salah satu contoh olah raga tersebut.  Pandangan tenis sebagai olah raga mahal dan teruntuk manula menghasilkan pembibitan yang gersang dan prestasi yang tumpul.  Sejak era Yayuk Basuki dan Angelique Widjaja tak ada catatan anak negeri ini berhasil menapak 100 besar peringkat petenis dunia.  Satu hal yang ironis padahal tennis merupakan olahraga yang menjanjikan serta mempunyai apresiasi serta struktur yang mapan bagi seorang atlet.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Coaching" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_2461.jpg" alt="" width="276" height="184" /></p>
<p style="text-align: justify;">Berpijak pada kondisi itu di ulang tahunnya yang ke 5, MHI Tennis mengajak 40 anak Panti Asuhan kampung Melayu  untuk mengikuti acara Tennis Coaching.  Anak-anak setingkat SD dan SMP itu akan diperkenalkan pada tenis dan dibekali cara-cara bermain tennis secara langsung Pelatih.  Serunya lagi anak-anak ini akan dipandu langsung oleh kakak-kakak MHI tennis dan akan dipadukan dengan fun game.  Tennis  coaching ini merupakan salah satu dari serangkaian acara social yang diadakan oleh MHI tennis.   Selama sebulan MHI tennis menggulirkan program “Berbagi Kasih” bersama MHI Tennis, satu program penggalangan dana bagi anak-anak Panti Asuhan Kampung Melayu.  Pengumpulan dana per Rp 50.000,- yang diapresiasi dengan 1 buah pin ini telah berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp. 10.650.000,- dari donatur perseorangan yang umumnya merupakan anggota tenis, rekan dan sahabat di area Jawa dan Nusa Tenggara.  Keseluruhan donasi ini tanpa kecuali akan diserahkan seluruhnya kepada panti asuhan tersebut dalam bentuk cash (Rp 5 Juta rupiah), sembako serta peralatan operasional (Kulkas, kompor gas, setrika listrik) yang mereka butuhkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tennis Coaching sendiri dikemas dalam acara penyerahan donasi dan syukuran 5 tahun MHI Tennis.  Tidak saja anak-anak panti asuhan yang diikut sertakan dalam acara ini namun juga undangan serta pada donator dan sukarelawan yang telah terlibat dalam acara penggalangan dana ini.  Yang luar biasa undangan akan diajak berbaur dengan anak-anak panti asuhan untuk bersama berbagi kebahagiaan dalam permainan outbound mini.  Kesempatan terbuka bagi undangan untuk membawa keluarga dan anak guna berbaur dalam acara ini.  Beberapa sponsor juga ikut berpartisipasi dalam acara tennis coaching ini seperti Majalah Menshealth (Femina), KFC, Mead Johnson, serta Arnotts.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi Tunggu apalagi mari bergabung bersama-anak-anak panti asuhan dalam tennis coaching pada:</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Tanggal   :  14 Februari 2010</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Pukul      	:  09.00-12.00</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Tempat  	:  Lapangan tennis Indoor Pertamina Simprug</p>
<p style="padding-left: 120px; text-align: justify;">Jl Teuku Nyak Arif &#8211; Simprug</p>
<p style="padding-left: 120px; text-align: justify;">Jakarta Selatan Indonesia</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">Acara    	:  “Berbagi Kasih” Bersama MHI Tennis</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Akan digelar:</span></p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">1.   Tennis Coaching &amp; Tennis exhibition bagi anak-anak panti asuhan</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">2.   Fun Games anak-anak panti asuhan &amp; peserta yang hadir</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">3.   Penyerahan hasil donasi “Berbagi Kasih”</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">4.   Syukuran 5th Anniversary MHI Tennis</p>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;">5.   Hiburan &amp; ramah tamah</p>
<p style="text-align: justify;">Besar harapan bahwa Program “Berbagi kasih” yang digulirkan ini tidak saja memberi guna dan meringankan mereka namun juga utamanya bisa menumbuhkan minat, keinginan dan pengetahuan anak-anak usia dini mengenai olah raga tennis.  Nantinya diharapkan muncul prestasi yang membanggakan dari dari apa yang telah tertebar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Salam Ace ….!</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/16/237/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2 Januariku (catatan ayah)</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/03/2-januariku-catatan-ayah/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/03/2-januariku-catatan-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 18:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tak ada keajaiban bagi saya selain melihat Sophie tumbuh dengan segala kebisaannya serta berkembang dengan segala sifat dan raga yang mencerminkan paduan antara saya dan bundanya.  Bundanyalah yang mengisi ragawinya dengan kecantikan, kulit putih dan daya tahan tubuh yang luar biasa.  Sementara banyak sifat dirinya yang merefleksikan sifat kecil saya seperti banyak omong, keras kepala, sensitif, smart dan amat sangat kreatif.  Paduan yang membuat kami sebagai orang tua tak perlu lagi memperebutkan kehakikian kemiripannya dengan kami.  Karena bagaimanapun kehadiran dia di sisi kami sudah lebih dari kata rahmat yang harus kami syukuri dan kami pertanggungjawabkan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="tiup" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_1779.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tepat 2 januari kemarin genap 2 tahun usia Sophie.  Seperti tahun lalu, ulang tahunnyapun diadakan di Jogja dan Jakarta.  Bedanya tahun lalu ulang tahun di Yogya harus di dahului dengan sakit panas karena tumbuh gigi,  semeantara kali ini ulang tahun di Jakarta justru yang harus diundur karena sophie kelelahan selama roadshow pulang kampung dan tertularnya virus yang menyerupai cacar air selama 3 hari [.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (02022010-20.49) </span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tak ada keajaiban bagi saya selain melihat Sophie tumbuh dengan segala kebisaannya serta berkembang dengan segala sifat dan raga yang mencerminkan paduan antara saya dan bundanya.  Bundanyalah yang mengisi ragawinya dengan kecantikan, kulit putih dan daya tahan tubuh yang luar biasa.  Sementara banyak sifat dirinya yang merefleksikan sifat kecil saya seperti banyak omong, keras kepala, sensitif, smart dan amat sangat kreatif.  Paduan yang membuat kami sebagai orang tua tak perlu lagi memperebutkan kehakikian kemiripannya dengan kami.  Karena bagaimanapun kehadiran dia di sisi kami sudah lebih dari kata rahmat yang harus kami syukuri dan kami pertanggungjawabkan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="tiup" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_1779.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tepat 2 januari kemarin genap 2 tahun usia Sophie.  Seperti tahun lalu, ulang tahunnyapun diadakan di Jogja dan Jakarta.  Bedanya tahun lalu ulang tahun di Yogya harus di dahului dengan sakit panas karena tumbuh gigi,  semeantara kali ini ulang tahun di Jakarta justru yang harus diundur karena sophie kelelahan selama roadshow pulang kampung dan tertularnya virus yang menyerupai cacar air selama 3 hari.  Meski Sophie sangat antusias untuk menyambut acara tiup lilinnya namun dengan terpaksa saya meminta bundanya untuk memundurkan acara.  Karena bagaimanapun saya ingin Sophie bisa nyaman dan menikmati acaranya sendiri dan bukan menuruti keingina keluarganya semata.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak dapat dipungkiri usia 2 tahun sophie merupakan waktu yang menjungkir balikkan kesabaran dan emosi saya sebagai orang tua dalam mendidiknya.  Jika sebelumnya saya cukup tenang bagai memainkan layang-layang dengan kendali ditangan, kini semuanya serba labil.  Tak hanya layang-layang itu sendiri yang sudah punya kemauan namun anginpun memberi kemungkinan bergoyang.  Kini Sophie bukan lagi baby yang bisa  digendong dan di arahkan kemana kita mau.  Adanya keinginan, kemauan dan segala akal serta upayanya membuat semuanya harus di negosiasikan dan dikomunikasikan dengan tepat.  Bukan itu saja pengaruh lingkungan dan keluarga dalam rumah sangat memberi andil yang cukup besar bagi pertumbuhan dan daya nalarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin sesal saya dialami juga oleh hampir semua orang tua.  Kondisi kerja, lingkungan kota dan aktifitas membuat kita sebagai orang tua tidak bisa lagi mendidik dan merawatnya selama 24 jam penuh.  Tanggung jawab itu dengan terpaksa harus terbagikan.  Mungkin kami beruntung karena Kakek-Nenek Sophie cukup sehat dan mampu untuk mengambil tanggung jawab itu.  Namun bagaimanapun kondisi ini cukup berat karena kembali pola asuh dan pendidikannya di rumah harus dikompromikan dengan cara-cara orang tua kita yang bisa jadi kurang tepat untuk masa sekarang. Saya sendiri sadar bukanlah pendidik yang sempurna untuk Sophie.  Saya hanya selalu berusaha menyempurnakan di tengah keterbatasan saya dan Bunda Sophiepun tak kurang berupaya juga mendukung pola asuh yang kami sepakati.  Kami tak ingin timpang dan bersebrangan dalam menerapkan policy bagi Sophie.</p>
<p style="text-align: justify;">Masih segar dalam ingatan saya bagaimana saya mengajari Sophie untuk tidak takut terhadap apapun, seperti  listrik mati, serangga, hantu atau hal-hal yang tak masuk akan lainnya.  Segalanya berjalan lancar namun belakangan ini kadang kala ketakutan itu muncul. Usut punya usut hal ini terjadi karena dia menirukan reaksi sepupunya yang selalu di takut-takuti apapun oleh orang tuanya untuk meredam kenakalannya.  Pun ketika kami mengajarkan dia untuk tidak memakai bahasa tangisan atau rengekan bila meminta sesuatu terlebih  dengan paksaan.  Semuanya berjalan lancar namun belakangan kami cukup dipusingkan dengan kecengengan Sophie.  Kembali usut punya usut ternyata dia suka digodain oleh orang rumah. Mungkin terbilang remeh seperti mau ditinggal pergi, digoda saat asyik nonton dan sebagainya.  Bisa dibilang lucu mendengar rengekan anak kecil namun amat sangat tidak lucu bila hal ini mengubah tabiatnya menjadi cengeng.  Kasihan nantinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sendiri cukup keras untuk mengajar Sophie mandiri dan Bundanyapun sepakat untuk itu.  Bahkan  di umur 2 tahun sophie tahu memilih baju dan memakainya, menyalakan DVD yang akan di tontonnya, menyikat gigi juga merapikan mainannya.  Saya pernah di protes bahwa ini &#8220;memperbudak&#8221; anak.  Namun saya bantah karena semua tindakan ini adalah untuk membentuk habit.  Bila semuanya terbiasa maka akan otomatis menjadi budaya positif. Bahkan harusnya orang tua bangga anak bisa mandiri tanpa tergantung pada siapapun.  Ternyata  hal ini kadang sulit dipertahankan karena rasa kasihan atau sayang dari orang rumah membuat dia harus diladenin terus menerus.  Akibatnya habitnya terbengkalai dan anak mulai tergantung pada orang tua.  Rasa sayang seharusnya justru akan memandirikan bukan menjerumuskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari itu semua kami belajar dan berfikir positif.  Dunia anak tidaklah selalu steril bisa orang tua kendalikan, justru keragaman pola asuh ini benar-benar jadi warna dan bisa dikomunikasikan ke anak hingga anak tahu mana yang tepat dan tidak untuk dirinya.  Pun mengenai prilaku anak, yakinilah bahwa anak harus diperkenalkan dengan berbagai macam hal, makanan dan aktifitas. Bisa jadi hari ini dia menolak namun usahakan untuk tak jera memperkenalkan dan mencobakan hal tersebut pada anak.  Saya hanya bisa berfikir logis saja bahwa masa-masa ini anak harus punya bekal, harus tahu banyak dan mencoba semua pengalaman hingga satu saat dia bisa tepat memilih untuk dirinya. Satu pilihan yang benar-benar dia inginkan hasil dari &#8220;pengalaman&#8221;nya, bukan karena ingin kita atau mau kita sebagai orang tua belaka.  Kembali harus disadari bahwa dia bersama kita, bukan untuk jadi milik kita &#8230; namun menjadi tanggung jawab kita untuk menjadikan dia seperti dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">&#8220;Anakku .. Tiada doa kami kecuali untuk harapan akan terbekati segala langkah dan pintamu, dan selalu tercukupkan bekal yang kami beri&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Amien!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/02/03/2-januariku-catatan-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayah Yang Aneh</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2010/01/11/ayah-yang-aneh/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2010/01/11/ayah-yang-aneh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 08:24:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ayah pernah bilang ke aku bahwa kami beruntung atas hadirnya Bunda.  Dan ayah selalu bilang bahwa dia berterima kasih kepada bunda yang bisa diandalkan dalam merawatku.  Tidak hanya tahu bagaimana merawat tapi juga punya strategi bagaimana mendidikku.  Cerita ayah, beliau sebenarnya tak berharap banyak akan kebisaan bunda ini mengingat betapa tomboy dan cueknya Bunda.  Hingga apa yang telah Bunda berikan kini bisa dikatakan sebagai hal luar biasa yang ayah dan aku terima.  Tak bisa dibayangkan bagaimana bila hanya ayah yang harus mengambil alih peran itu? aku yakin tak hanya berantakan tapi juga kekalangkabutan akan terjadi setiap harinya.  Bayangkan saja selama ini hanya sekali ayah mencebokiku.  Selebihnya ayah hanya bisa teriak memohon "Bundaaaaaa!" begitu aku bikin Creamy.  Pun kalau aku lagi sakit dan muntah, jangan harap bisa di bantu ayah. Karena ayah akan ikutan muntah dengan tidak kalah hebat.  Ayah benar-benar ayah yang aneh yah hahahaha.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="ngakak" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Senyum.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Apakah ayah memang benar-benar aneh seperti kataku? yaiyalah.  Kadang kakak, nenek atau tante suka geleng kepala melihat bagaimana cara ayah mengajakku bermain juga cara aku diajak belajar.  Pendek kata ayah mengajarku bermain dengan caranya sendiri.  Mungkin karena unik inilah aku lebih suka bermain dengan ayah daripada dengan bunda.  Ayah tak segan untuk bertingkah diluar nalar atau menirukan hal yang tak lazim untuk membuatku tertawa atau mengembangkan imajinasiku. Ayahpun jarang mencontohkan memainkan mainanku secara standart.  Biar kreatif begitulah dalihnya [........] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>By Be Samyono (29102009-11.14)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ayah pernah bilang ke aku bahwa kami beruntung atas hadirnya Bunda.  Dan ayah selalu bilang bahwa dia berterima kasih kepada bunda yang bisa diandalkan dalam merawatku.  Tidak hanya tahu bagaimana merawat tapi juga punya strategi bagaimana mendidikku.  Cerita ayah, beliau sebenarnya tak berharap banyak akan kebisaan bunda ini mengingat betapa tomboy dan cueknya Bunda.  Hingga apa yang telah Bunda berikan kini bisa dikatakan sebagai hal luar biasa yang ayah dan aku terima.  Tak bisa dibayangkan bagaimana bila hanya ayah yang harus mengambil alih peran itu? aku yakin tak hanya berantakan tapi juga kekalangkabutan akan terjadi setiap harinya.  Bayangkan saja selama ini hanya sekali ayah mencebokiku.  Selebihnya ayah hanya bisa teriak memohon &#8220;Bundaaaaaa!&#8221; begitu aku bikin Creamy.  Pun kalau aku lagi sakit dan muntah, jangan harap bisa di bantu ayah. Karena ayah akan ikutan muntah dengan tidak kalah hebat.  Ayah benar-benar ayah yang aneh yah hahahaha.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="ngakak" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Senyum.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Apakah ayah memang benar-benar aneh seperti kataku? yaiyalah.  Kadang kakak, nenek atau tante suka geleng kepala melihat bagaimana cara ayah mengajakku bermain juga cara aku diajak belajar.  Pendek kata ayah mengajarku bermain dengan caranya sendiri.  Mungkin karena unik inilah aku lebih suka bermain dengan ayah daripada dengan bunda.  Ayah tak segan untuk bertingkah diluar nalar atau menirukan hal yang tak lazim untuk membuatku tertawa atau mengembangkan imajinasiku. Ayahpun jarang mencontohkan memainkan mainanku secara standart.  Biar kreatif begitulah dalihnya.  Dan memang benar aku akhirnya terbiasa menggunakan imajinasiku untuk bermain.  Bukan itu saja ayah suka sekali mempelesetkan lagu ataupun dongeng yang dia bacakan dari buku.  Bunda suka jengkel kalo ayah lakukan ini karena tiba tiba cerita binatang jadinya cerita horor. Ah aku hanya tertawa-tawa saja.  Tapi sepertinya ayah sengaja lakukan ini supaya aku bisa melihat banyak sisi dalam satu hal. Bisa menghubung-hubungakan banyak hal secara logis.  Dan sepertinyapun aku terbawa dalam pola pikir ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam banyak hal sepertinya ayah dan bunda bisa berbagi dan saling mengisi memperkaya kebisaanku.  Namun soal rambutku kayaknya ini mutlak kekuasaan ayah.  Saat aku digundul umur 6 bulan ayahlah yang menggundul dan mengerok rambutku hingga licin.  Pun soal poniku yang tumbuh tiap bulan.  Disaat semua orang meributkan rambutku yang makin panjang dan membuatku gatal kena ujung rambut, ayah malah bilang anak perempuan harus terbiasa dengan rambut panjang.  Ayah tahu rambutku yang coklat dan ikal diujung membuatku tampak beda dan lucu.  Inilah yang ayah coba pertahankan.  Kemarin saat nenek menyarankan untuk memotong bob rambutku malah ayah secara sengaja membuat layer ekstrem di rambutku.  Hasilnya memang lucu sih, rambutku tetap panjang dan ikalnya tetap nampak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sini aku menyadari, mungkin ayah memang ayah yang berbeda dari ayah-ayah teman-temanku.  Ayah yang aneh dan unik.  Tapi bagaimanapun dia adalah ayahku yang aku tahu selalu ada ALASAN dibalik KEANEHAN-nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2010/01/11/ayah-yang-aneh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Aku Ingin Sekolah</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/12/23/227/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/12/23/227/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 06:20:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">"Bunda aku mau sekolah" Demikian rengekku. Dan kalang kabutlah Bundaku dibuatnya.  ini bukan permintaanku yang pertama juga bukan ke tiga.  Ini kesekian kalinya.  Dan keinginan ini makin besar tiap kali aku melihat kakak-kakak berbaju seragam atau ayah pamit untuk mengajar. Dan aku begitu riang begitu Bunda berjanji akan mencarikan tempat sekolah untukku.  Aku pikir keinginanku bersekolah tak berlebihan karena aku punya banyak buku, tas sekolah dan aku suka menyanyi.  Meski tante bilang sekolah itu melelahkan tapi aku melihat kegembiraan disana.</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Nulis" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Nulis.jpg" alt="" width="269" height="362" /></p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: justify;">Kakek dan nenek ikut meributkan hal ini.  Berbeda dari yang diharapkan mereka justru kawatir kalau aku ke sekolah.  Terlalu kecil itu alasannya disamping ketakutan bahwa aku akan menghadapi kebosanan.  Beda persepsi mungkin menjadi penyebabnya.  Di benak kakek-nenek sekolah adalah duduk dibelakang meja dengan setumpuk PR. sekolah ada kegiatan yang akan membuat anak makin tertekan dan menjadi jera bila masuk sekolah.  Mungkin mereka belum paham bahwa system pendidikan terus berkembangdan disesuaikan dengan kebutuhan anak.  Inilah yang harus Ayah Bunda komunikasikan hingga keinginanku untuk sekolah bisa direspon dengan tepat [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (09122009-11.19)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bunda aku mau sekolah&#8221; Demikian rengekku. Dan kalang kabutlah Bundaku dibuatnya.  ini bukan permintaanku yang pertama juga bukan ke tiga.  Ini kesekian kalinya.  Dan keinginan ini makin besar tiap kali aku melihat kakak-kakak berbaju seragam atau ayah pamit untuk mengajar. Dan aku begitu riang begitu Bunda berjanji akan mencarikan tempat sekolah untukku.  Aku pikir keinginanku bersekolah tak berlebihan karena aku punya banyak buku, tas sekolah dan aku suka menyanyi.  Meski tante bilang sekolah itu melelahkan tapi aku melihat kegembiraan disana.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Nulis" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Nulis.jpg" alt="" width="269" height="362" /></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kakek dan nenek ikut meributkan hal ini.  Berbeda dari yang diharapkan mereka justru kawatir kalau aku ke sekolah.  Terlalu kecil itu alasannya disamping ketakutan bahwa aku akan menghadapi kebosanan.  Beda persepsi mungkin menjadi penyebabnya.  Di benak kakek-nenek sekolah adalah duduk dibelakang meja dengan setumpuk PR. sekolah ada kegiatan yang akan membuat anak makin tertekan dan menjadi jera bila masuk sekolah.  Mungkin mereka belum paham bahwa system pendidikan terus berkembangdan disesuaikan dengan kebutuhan anak.  Inilah yang harus Ayah Bunda komunikasikan hingga keinginanku untuk sekolah bisa direspon dengan tepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kulihat beberapa hari kemudian bunda pulang kerja dengan menunjukkan beberapa brosur preschool pada ayah.  Bunda berniat akan mengajakku untuk trial di Tumblee Toot &amp; Gymboree.  Akupun makin tak sabar untuk menunggu libur bunda di weekend untuk bisa mengantarku sekolah.  Untuk mengisi hari Bunda mengijinkan aku untuk ikut Bang Dika sepupuku untuk ikut sekolah di PAUD-pendidikan anak usia dini dekat rumah.  Bang Dika sekolah seminggu 3 kali (senin-rabu dan jumat).  Akupun tidak dari awal mengikuti.  Hanya ikut sesaat menjemput Abang Dika dan mengikuti permainannya disana sebentar.  Sengaja demikian karena PAUD ini mengajarkan pendidikan yang belum sesuai dengan umurku.  Seperti membaca dan menulis.  Sementara kebutuhanku lebih mengarah ke permainan untuk mengembangkan sensorik dan motorikku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mencoba dan membandingkan pendidikan di Gymboree Pondok Indah dan Tumble Toot Permata hijau, akhirnya bunda memutuskan untuk memasukkanku nantinya di Gymboree dengan berbagai alasan yang lebih mengarah pada kebutuhanku dan keunggulan metode belajar yang ada.  Bunda sepertinya masih penasaran dengan pertanyaan &#8220;Tepatkah menyekolahkan ku di usia dini?&#8221;.  Ternyata dari Psikolog rekan bunda diperoleh jawaban bahwa preschool sebenarnya di desain untuk memenuhi kebutuhan anak.  Bila memang kebutuhan anak akan pengembangan motorik, sensorik dan kebutuhan sosialnya tidak bisa dipenuhi di rumah, sekolah mejadi satu alternatif yang tepat.  Namun demikian bila kebutuhan itu telah di penuhi di rumah sepertinya pendidikan dirumah akan jauh lebih baik daripada sekedar bersekolah yang hanya berdurasi 45 menit perpertemuan dan 3 kali seminggu saja.  Karena bagaimanapun bukan biaya yang murah untuk memasukkan anak ke preschool.  Bahkan saat ayah menghitung-hitung biayanya lebih besar 3 kali lipat dari biaya kuliah persemester mahasiswa ayah! waaaaahhhhh!.</p>
<p style="text-align: justify;">Menelaah tentang diriku sebenarnya tak ada masalah dengan perkembangan motorik dan sensorikku.  Permainan yang ada di rumah cukup mendukung dan beragam. Buku dan nyanyian menjadi hal yang tak asing bagiku.  Bukan itu saja temen-temenku juga banyak hingga tak mengganggu sosialisasiku.  Kondisi ini akhirnya memberi kesimpulan buat Bunda untuk menunda mmasukkanku ke sekolah hingga usia 2 tahun nanti.  Karena apa yang didapat di rumah melebihi apa yang akan diberikan di sekolah nantinya.  Sebagai konpensasinya Aku masih bisa menikuti PAUD bang Dika di sesi main-main dan Ayah Bundapun lebih meluangkan waktu untuk mengajakku bermain-main lebih variatif.  semua ini tentunya tak akan memadamkan keinginanku untuk sekolah.  Namun aku mengerti Ayah dan Bunda Tahu yang terbaik buatku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/12/23/227/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liburan &#8220;Seronok&#8221; (KL Trip) #2</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/12/10/liburan-seronok-kl-trip-2/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/12/10/liburan-seronok-kl-trip-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 03:56:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Lupakan untuk naik jejantas penghubung 2 menara kembar petronas.  Kami bangun kesiangan, atau tepatnya dibangunkan oleh sophie saat sudah siang.  Kami menikmati saja acara dikamar sambil main main dengan sophie yang tak mau melewatkan acara kesukaannya, mandi shower.  Ada lega juga tak jadi naik ke petronas walau tiket gratis. apalagi kalau bukan ketakutanku soal ketinggian.  Pukul 09.30 kami kumpul di restauran hotel untuk breakfast.  Mengejutkannya rasa  makanan disini lumayan enak.  Saya pilih ala american karena tergoda sup kacang polong kesukaan saya  dan menghindari nasi lemak yang berbumbu kari yang kembali "sangat India"!.  Pukul 10.30 kami telah berada di KLCC twins tower.  Niatan untuk naik jejantas kami urungkan dan kami ganti dengan mengambil photo siang hari di halaman depan dan belakang petronas sembari menunggu sholat jumat.  Kamipun ada janji lain dengan Khatty untuk mengantar kami "pusing-pusing" dengan car rental yang akan kami sewa 2 hari.</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Genting" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9692.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: center;"></p>
<p style="text-align: justify;">Sholat jumat menjadi bagian yang menarik karena berlangsung mulai pukul 01.30 pm waktu setempat.  Masjid KLCC yang berada 500 meter di belakang Twins tower cukup representatif, sejuk dan hijau.  Arsitekturnya cukup modern, tak hanya bagian utama masjid yang didinginkan dengan AC.  selasar terbukapun tak luput dari hembusan AC. Tak perlu kawatir untuk menaruh sepatu dan sandal di rak yang disediakan.  Meski terbuka kasus kehilangan rasanya jauh dari kata mungkin.  tatacaranyapun sedikit berbeda.  Sebelum adzan terlebih dahulu diisi siraman rohani.  Begitu selesai adzan bersama solat sunah dan selanjutnya dengan tata cara seperti yang kita lakukan.  Hanya menariknya doa untuk keselamatan negara dan kesultanan amat dominan selain penggunaan LCD berlayar besar yang menayangkan isi ceramah yang disampaikan khotib.  Satu sholat jumat yang sangat menambah wawasan [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (13112009-10.54)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Meski menggiurkan jalan-jalan malam di Bukit Bintang akhirnya saya tolak.  Saya lebih menaruh harapan besok bisa berjalan dengan nyaman dan bisa merebahkan kaki saya malam ini daripada sebaliknya.  Padahal bukit Bintang pada waktu malam cukup hidup.  Hangout disini cukup menyenangkan dan banyak ruang terbuka untuk sekedar berchit-chat atau menikmati secangkir minuman hangat. Jauh dari gangguan tak diundang dari pengemis ataupun pengamen yang biasa kita dapati bila nongkrong di kaki lima di &#8220;rumah&#8221; kita.  Traffick lalu lintaspun masih tergolong dapat ditolerir hingga tak mengusik kenyamanan untuk berkongkow-kongkow.  Belum lagi pilihan tempat dan suasananyapun tak bisa dibilang sedikit. Akhirnya saya membiarkan hal itu.  saya lihat sophie sudah pulas sejak turun dari taksi tadi. Bunda Sophie  Sedang menggantikan baju tidur padanya.  Dan serta merta saya telah berada di mimpi.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SERONOK DAY 2</span></p>
<p style="text-align: justify;">Lupakan untuk naik jejantas penghubung 2 menara kembar petronas.  Kami bangun kesiangan, atau tepatnya dibangunkan oleh sophie saat sudah siang.  Kami menikmati saja acara dikamar sambil main main dengan sophie yang tak mau melewatkan acara kesukaannya, mandi shower.  Ada lega juga tak jadi naik ke petronas walau tiket gratis. apalagi kalau bukan ketakutanku soal ketinggian.  Pukul 09.30 kami kumpul di restauran hotel untuk breakfast.  Mengejutkannya rasa  makanan disini lumayan enak.  Saya pilih ala american karena tergoda sup kacang polong kesukaan saya  dan menghindari nasi lemak yang berbumbu kari yang kembali &#8220;sangat India&#8221;!.  Pukul 10.30 kami telah berada di KLCC twins tower.  Niatan untuk naik jejantas kami urungkan dan kami ganti dengan mengambil photo siang hari di halaman depan dan belakang petronas sembari menunggu sholat jumat.  Kamipun ada janji lain dengan Khatty untuk mengantar kami &#8220;pusing-pusing&#8221; dengan car rental yang akan kami sewa 2 hari.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Genting" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9692.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Sholat jumat menjadi bagian yang menarik karena berlangsung mulai pukul 01.30 pm waktu setempat.  Masjid KLCC yang berada 500 meter di belakang Twins tower cukup representatif, sejuk dan hijau.  Arsitekturnya cukup modern, tak hanya bagian utama masjid yang didinginkan dengan AC.  selasar terbukapun tak luput dari hembusan AC. Tak perlu kawatir untuk menaruh sepatu dan sandal di rak yang disediakan.  Meski terbuka kasus kehilangan rasanya jauh dari kata mungkin.  tatacaranyapun sedikit berbeda.  Sebelum adzan terlebih dahulu diisi siraman rohani.  Begitu selesai adzan bersama solat sunah dan selanjutnya dengan tata cara seperti yang kita lakukan.  Hanya menariknya doa untuk keselamatan negara dan kesultanan amat dominan selain penggunaan LCD berlayar besar yang menayangkan isi ceramah yang disampaikan khotib.  Satu sholat jumat yang sangat menambah wawasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Petaka terjadi saat HP oom mamat tiba2 lowbad setelah sholat jumat.  Kami kehilangan jejak rombongan yang telah bergabung dengan Khatty.  Upaya pencarian seluruh mall pun gagal.  Kemungkinan menggunakan telpon publik sangat kecil untuk international call.  Akhirnya saya putuskan mencari toko Apple  untuk minta bantuan mencharge HP milik oom mamat. Begitu kembali kami berkumpul waktu telah demikian terlambat.  Kami tak sempat lagi untuk pergi ke Sogo hingga diputuskan untuk keluar KL menuju IKEA tepat pukul 03.00pm.  Perjalanan yang memakan waktu hampir 45 menit cukup lancar terbantu dengan traffic yang tidak macet dan keteraturan jalan serta banyaknya jalan layang di KL yang memungkinkan kami menghindari traffic light.  Sepanjang jalan tak henti kami bercanda karena banyak musik indonesia yang diputar disana serta lucunya pemakaian bahasa melayu yang terkesan asing di telinga kami.</p>
<p style="text-align: justify;">IKEA cukup besar dan lapang bagi konsumen yang akan melakukan swalayan membeli perabot berukuran besar.  Dan sekali lahi IKEA selalu menjadi tempat belanja favorite sekaligus inspiratif bagi rumah kami yang semakin mini.  Tak kecuali IKEA KL ini.  Letaknya yang bedekatan dengan Curve &amp; Ikano mall di pinggiran kota KL menjadi daya tarik tersendiri.  saya sendiri lebih terpikat pada show room serta system yang diterapkan bagi konsumen. Tak hanya bagaimana mengedukasi konsumen untuk bisa memilah dan memilih produk yang tepat namun juga memberikan begitu banyak detail. Petaka komunikasipun terulang.  kami erpech dalam 2 rombongan yang takbisa saling komunikasi.  2 jam kami terkatung-katung saling mencari.   Meski pada akhirnya saling bertemu tapi terlalu banyak waktu terbuang. Kembali ke Bukit bintang dan mengunjungi mall baru Pavilion-lah keputusah akhir kami.  Selebihnya saya ingin kembali merebah!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Monorail" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9551.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Memang tak ada habis asyiknya bila mengajak jalan Sophie.  Selalu saja ada cara supaya dia suka dan menikmati suasana.  Ketika yang lain berbelanja saya dan dia cukup bermain petak umpet dan berkeliling menghitung patung manekin.  Kegembiraannya tak habis.  Pun ketika semua tak belanja terkumpul.  Tak sabar dia untuk membawa salah satunya meski dia tahu kalau harus menyeret tas yang lebih besar daripada ukuran badannya.  Bisa dibilang mall di jakarta tak kalah dengan yang ada di KL.  Bakhan lebih besar dan ekslusif.  Bedanya mereka mampu merawat fasilitas umum yang ada dan tidak saja menjadikan mall sebagai surga tapi juga lingkungan sekitar yang ada.  Itu keunggulan yang ada.  Keadaan inilah yang membuat saya cukup relax melepas Sophie untuk kesana kemari dengan bebasnya.  Menikmati dunianya tanpa harus memngikuti keinginan rombongan lain untuk berbelanja.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SERONOK DAY 3</span></p>
<p style="text-align: justify;">Hari seperti dipercepat. Hari ini kami akan kembali petang nanti.  Kami bangun lebih awal dan benar-benar menikmati sarapan pagi.  Kamipun langsung cek out dan mengemasi barang di mobil Carnival sewaan kami. Tas sudah mulai beranak.  Beberapa Barang terpaksa di pangku. Beruntung Catty cukup piawai.  tempat parkir hotel yang sempit dan curam ini bisa di taklukkan.  Berhubung Catty ada acara keluarga maka kami akan meninggalkan kami lebih dahulu di Miles mall.  Dan akan dijemput kembali begitu usai.  Rencananya kami akan ke Putrajaya.  Beruntung Rumah Catty ada di Serdang yang searah dengan putrajaya dan LCCT tempat kami nanti meninggalkan KL.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak ubahnya seperti mall lain, Miles termasuk ramai untuk ukuran maal yang berada di luar KL, yang tergolong kabupaten.  Menariknya Mall ini menjadikan danau kecil di sebelahnya sebagai daya tarik.  Mall ini menjadi penghubung 2 danau.  Dan terdapat aliran sungai di tengah-tengah mall.  sayang sekali pengunjung harus merogoh 100 ribu/orang untuk bisa naik perahu boat mengelilingi danau selama 30 menitan.  Mahal!  Kami hanya makan dan berkeliling sembari menunggu jemputan.  Selang 2 jam Catty telah menjemput dan kami berencana untuk mampir ke rumahnya sekalian repacking bawaan kami.  Inilah pertama kalinya kami berkunjung ke rumah catty setelah lebih dari 5 tahun pertemanan kami.  Seperti tak canggung kami berada di rumah catty karena kami cukup mengenal Ibunya bahkan pernah bertemu sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Us" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9924.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Cuaca yang terik menjadi mendung dengan tiba-tiba.  Kami cepat-cepat pamit untuk menuju bandara dengan singgah di putrajaya lebih dahulu. Putrajaya adalah bandar baru tempat pemerintah mengendalikan roda  pemerintahan.  Kota cantik di sisi danau luas ini begitu menkjubkan dengan lanskap yang teratur dan aksitektur bangunan yang megah.  Beberapa Icon masjidpun menjulang memberi hiasan yang cukup religius.  Saya terpesona.  sayang sekali kami harus berfoto dalam kejaran mendung yang mulai menitikkan hujan hingga kami semua serba terburu-buru.  Meski tak puas hati tapi ini adalah upaya maksimal.  Kami hanya dapat berputar di gelapnya cuaca dan terpaan hujan yang jatuh di kaca mobil.  LCCT kami capai setengahjam kemudian.  Jalanan yang lengang dan serba tol mempercepat perjalanan.  Berat hati meninggalkan keseronokan beberapa hari ini.  Tapi sepertinya waktu memang tidak bisa diminta diam ditempat.  Pukul 19.00 kami terbang dengan membawa Sophie yang telah terlelap.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali perasaan saya merasaka ketidak enakan begitu liburan usai.  Bukan karena harus menghadapi rutinitas esok hari tapi kembali bagai dibenturkan pada kenyataan pahit.  Banyak surga yang bisa diberikan negara lain bagi rakyatnya namun kenapa tak cukup kenikmatan yang dirasakan rakyat kita dari pemimpinnya ditengah bumi yang dikatakan surganya dunia?. Bisa jadi banyak hal negatif yang timbul di benak rakyat indonesia tenang malaysia.  Namun kunjungan terakhir ini kembali harus saya akui banyak yang harus kita pelajari dari Malaysia untuk mengelola negeri ini. Saya tak tahu apakah pepatah <span style="color: #ff6600;">&#8220;hujan batu di negeri sendiri lebih nikmat dari hujan emas di negara lain&#8221; </span>masih berlaku melihat kenyataan ini.  Karena pada nyatanya terlalu banyak effort dan pengobanan untuk kehidupan kita sehari hari sementara kesejahteraan masih diangan-angan.  Karena kesejahteraan hanya dipunyai sebagian orang saja!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/12/10/liburan-seronok-kl-trip-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Udel, Buku, Jalan-jalan Dan Kerupuk</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/30/antara-udel-buku-jalan-jalan-dan-kerupuk/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/30/antara-udel-buku-jalan-jalan-dan-kerupuk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 11:12:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kalau ditanya apakah hal yang aku sukai, ach...aku kebingungan menjawabnya karena ternyata banyak sekali.  Ayah dan bunda benera-benar membebaskanku untuk menyukai apa saja yang aku ingini tanpa mendoktrin ini dan itu.  semuanya ditawarkan padaku dan aku mempunyai hak untuk memilih.  Tentunya da rambu-rambunya. selama yang aku pilih  datau inginkan tidak tepat atau membahayakan.  Ayah dan Bunda akan cukup tegas bilang "TIdak".  Pun sama halnya bila aku ditanya apa yang aku takuti.  Aku tidak bisa menjawab spesifik.  Karena utamanya ayah sanagt tidak suka bisa aku ditakut-takuti dengan berbagai hal yang tidak masuk akal.  Entah itu binatang, benda-banda tertentu, kesendirian, apalagi setan.  Hal ini membuatku cukup berani dengan hewan apapun kalaupun aku takut karena aku bisa menilainya entah karena binatang itu jorok atau aku geli memegangnya.  Terhadap gelappun demikian.  Mungkin yang agak aku takutkan adalah orang asing terutama lelaki.  hahahaha entah aku mau bilang apa soal ini.  Kembali ke soal kesukaan ternyata ada yang benar-benar aku sukai hingga hampir tiap hari aku tak bisa melewatkannya, Yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Nan &#38; Bunda" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/NanBunda.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">UDEL:</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi malu aku kalau bercerita,  Kebiasaanku memegang udel akan muncul saat aku mikcu (mimik susu) atau nenen.  Mulanya bukan udel yang aku pegang, tapi janggut Ayah atau bunda.  Setelah satu tahun karena lebih didik mandiri maka kesukaan itu turun ke udel.  Parahnya aku tidak hanya suka mengelus tapi juga menarik-narik.  Aku sangat geram kalau bajuku tak bisa dibuka saat ritual itu akan kumulai.  Padahal Bunda yang sangat cerewet soal ini, beliau kawatir aku masuk angin karena sepanjang malam aku akan menyibakkan baju tidur sampai terangkat separuh perut.  Dan kekawatiran lain yaitu takutnya aku akan bodong karena udelku selalu kutarik... hah segitunyakah?</p>[........]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (22102009-19.55) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau ditanya apakah hal yang aku sukai, ach&#8230;aku kebingungan menjawabnya karena ternyata banyak sekali.  Ayah dan bunda benera-benar membebaskanku untuk menyukai apa saja yang aku ingini tanpa mendoktrin ini dan itu.  semuanya ditawarkan padaku dan aku mempunyai hak untuk memilih.  Tentunya da rambu-rambunya. selama yang aku pilih  datau inginkan tidak tepat atau membahayakan.  Ayah dan Bunda akan cukup tegas bilang &#8220;TIdak&#8221;.  Pun sama halnya bila aku ditanya apa yang aku takuti.  Aku tidak bisa menjawab spesifik.  Karena utamanya ayah sanagt tidak suka bisa aku ditakut-takuti dengan berbagai hal yang tidak masuk akal.  Entah itu binatang, benda-banda tertentu, kesendirian, apalagi setan.  Hal ini membuatku cukup berani dengan hewan apapun kalaupun aku takut karena aku bisa menilainya entah karena binatang itu jorok atau aku geli memegangnya.  Terhadap gelappun demikian.  Mungkin yang agak aku takutkan adalah orang asing terutama lelaki.  hahahaha entah aku mau bilang apa soal ini.  Kembali ke soal kesukaan ternyata ada yang benar-benar aku sukai hingga hampir tiap hari aku tak bisa melewatkannya, Yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Nan &amp; Bunda" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/NanBunda.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">UDEL:</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jadi malu aku kalau bercerita,  Kebiasaanku memegang udel akan muncul saat aku mikcu (mimik susu) atau nenen.  Mulanya bukan udel yang aku pegang, tapi janggut Ayah atau bunda.  Setelah satu tahun karena lebih didik mandiri maka kesukaan itu turun ke udel.  Parahnya aku tidak hanya suka mengelus tapi juga menarik-narik.  Aku sangat geram kalau bajuku tak bisa dibuka saat ritual itu akan kumulai.  Padahal Bunda yang sangat cerewet soal ini, beliau kawatir aku masuk angin karena sepanjang malam aku akan menyibakkan baju tidur sampai terangkat separuh perut.  Dan kekawatiran lain yaitu takutnya aku akan bodong karena udelku selalu kutarik&#8230; hah segitunyakah?</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>BUKU:</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak usiaku dibawah 1 tahun sepertinya buku menjadi mainan yang paling aku suka.  Terlebih lagi bunda suka membelikan buku-buku kecil dalam bentuk hardcover  yang berisi gambar binatang untuk mengenal huruf dan angka.  Buku itu itu selalu menjadi temanku sebelum bobo. Aku akan meminta ayah atau bunda untuk menunjukkan gambar-gambar yang ada.  Lambat laun aku hapal dengan berbagai binatang disana.  Dan tak hanya bila pergi keuar negri saat pulangpun buku selalu dibawa dan selalu menjadi oleh-oleh.  Biasanya aku akan tenang sepanjang perjalanan bila ada buku.  Dan sekarang bundapun suka membawakan buku-buku majalah untuk balita.  Mungkin sebagian aku belum tahu sehingga aku selain asyik membaca dan menempel selain mengorek-orek akupun masih suka meyobeknya.  Buku tertentu memang diperkenankan untuk disobek oleh bunda tapi bila buku yang punya suara atau hard cover bunda akan berhati-hati memberikannya padaku.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>JALAN-JALAN:</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tak ada hari tanpa jalan-jalan, mungkin inilah motoku.  Sampai Bunda pernah memarahiku karena disaat sakit aku tetep kekeuh untuk jalan-jalan.  Biasanya jalan-jalan ini aku lakukan pagi dan sore hari.  Pagi saat selesai mengantar Ayah dan Bunda berangkat kantor, aku akan meneruskan untuk berjalan-jalan untuk melihat kambing, monyet atau ikan atau sekedar bersosialisasi dengan teman-teman sebaya.  Demikian juga sore harinya.  Kadangpun akan naik odong-odong bila kebetulan ada yang lewat.  Aturan yang keras diterapkan Bunda adalah tidak boleh makan sambil jalan-jalan.  Makan terlebih dahulu harus diselesaikan dirumah baru boleh keluar jalan-jalan.  namun yang sangat aku sukai adalah jalan jalan dengan motor oom mumu atau mobil ayah.  kalau ini sudah dijanjikan wah jangan tanya aku akan menjadi sangat tidak sabar untuk memberi dadah ke semua orang.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>KERUPUK</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sering aku lafalkan dengan TEYUPUK adalah makanan favoritku.  Padahal bunda amat sangat melarangku makan kerupuk saat usia dibawah 1 tahun.  Dan begitu sudah lebih aturan itu lebih diperlonggar.  Mungkin alasan Bunda sangat masuk akal.  Kerupuk sama sekali tidak bergisi sehingga bunda lebih suka menyediakanku biskuit rasa plain dan berisi sayur kesukaanku.  Alasan lain adalah kerupuk menimbulkan batuk, dan ini memang benar adanya sehingga kerupuk yang lolos aku makan adalah kerupuk yang digoreng sendiri.  Yah mau bagaimana lagi bunda ini bener-benar favorite</p>
<p style="text-align: justify;">Beruntunglah Ayah dan Bunda selalu memantau apa yang aku suka atau tidak,  seiring perkembanganku bisa jadi akan ada perubahan.  Ayah ingin kesukaanku ataupun ketidak sukaanku ini mempunyai alasan yang jelas dan tahu konsekwensinya masing-masing.  Mungkin cara inilah yang diterapkan Ayah Bunda agar aku bisa mengenal bagitu beragamnya isi dunia ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/30/antara-udel-buku-jalan-jalan-dan-kerupuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liburan &#8220;Seronok&#8221; (KL Trip) #1</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/12/liburan-seronok-kl-trip-1/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/12/liburan-seronok-kl-trip-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 07:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jalan-jalan seakan menjadi satu prioritas tersendiri bagi saya dan utamanya buat Bunda Sophie.  Bahkan kami sepakat untuk selalu mengalokasikan dana dan   waktu 2-3 kali setahun untuk jalan-jalan entah keluar kota atau keluar negeri. Rupanya memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.  Sophie anak kami ternyata   amat menyukai jalan-jalan.  Kondisi sakitpun akan dia abaikan bila mendengar kata jalan-jalan.  Tidak hanya perjalanan keluar kota yang dia nikmati, ke   luarnegeripun dia lalui dengan keriangan.  Sepertinya Sophie amat mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru serta hebatnya dia bisa menciptakan   kegembiraan tersendiri dari setiap suasana yang tercipta.  Untuk itulah kami sangat enggan dan tak rela jika meninggalkan dia disaat ada renacana untuk jalan   karena kami yakin dia cukup menikmati setiap perjalanan ini.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Together" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9555.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sedikit cerita ketika pertama kami mengajaknya pergi ke Singapore di usia 14 bulan. Keraguan mulanya kami temui.  Kekawatiran akan ribetnya membawa baby dan   tak adanya bala bantuan di negeri orang membuat kami berfikir berulang.  Namun kembali kami kuatkan diri bahwa perjalanan ini adalah pembelajaran bagi kami   untuk mengurus Sophie tanpa bantuan siapapun.  Mungkin menjadi berlebihan bila pada akhirnya kami membawa hampir semua barang keperluan dia secara   berlebihan. Mulai dari stroller, obat-obatan, makanan, pampers dan segala macamnya.  Bagasi kamipun menggelembung.  Waktu 4 hari  disana ternyata tak   mengkawatirkan meski perjalanan lumayan melelahkan karena via Batam untuk sekalian menengok saudara.  Sophie tetap ceria dan asyik menikmati perjalanan pun   ketika kami harus antri dan berdesakan 3 jam lebih untuk bisa mencapai Johor Baru. Beruntung ada stroller dan buku, teman perjalanan Sophie yang amat sangat   bermanfaat bagi dia.  Belajar dari pengalaman itu kami tak ragu untuk kembali jalan dengan mengajak Sophie. [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (10112009-09.03) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jalan-jalan seakan menjadi satu prioritas tersendiri bagi saya dan utamanya buat Bunda Sophie.  Bahkan kami sepakat untuk selalu mengalokasikan dana dan   waktu 2-3 kali setahun untuk jalan-jalan entah keluar kota atau keluar negeri. Rupanya memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.  Sophie anak kami ternyata   amat menyukai jalan-jalan.  Kondisi sakitpun akan dia abaikan bila mendengar kata jalan-jalan.  Tidak hanya perjalanan keluar kota yang dia nikmati, ke   luarnegeripun dia lalui dengan keriangan.  Sepertinya Sophie amat mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru serta hebatnya dia bisa menciptakan   kegembiraan tersendiri dari setiap suasana yang tercipta.  Untuk itulah kami sangat enggan dan tak rela jika meninggalkan dia disaat ada renacana untuk jalan   karena kami yakin dia cukup menikmati setiap perjalanan ini.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Together" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9555.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sedikit cerita ketika pertama kami mengajaknya pergi ke Singapore di usia 14 bulan. Keraguan mulanya kami temui.  Kekawatiran akan ribetnya membawa baby dan   tak adanya bala bantuan di negeri orang membuat kami berfikir berulang.  Namun kembali kami kuatkan diri bahwa perjalanan ini adalah pembelajaran bagi kami   untuk mengurus Sophie tanpa bantuan siapapun.  Mungkin menjadi berlebihan bila pada akhirnya kami membawa hampir semua barang keperluan dia secara   berlebihan. Mulai dari stroller, obat-obatan, makanan, pampers dan segala macamnya.  Bagasi kamipun menggelembung.  Waktu 4 hari  disana ternyata tak   mengkawatirkan meski perjalanan lumayan melelahkan karena via Batam untuk sekalian menengok saudara.  Sophie tetap ceria dan asyik menikmati perjalanan pun   ketika kami harus antri dan berdesakan 3 jam lebih untuk bisa mencapai Johor Baru. Beruntung ada stroller dan buku, teman perjalanan Sophie yang amat sangat   bermanfaat bagi dia.  Belajar dari pengalaman itu kami tak ragu untuk kembali jalan dengan mengajak Sophie.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini Kuala Lumpur kami pilih sebagai tujuan.  Pertimbangan   utamanya adalah Bunda Sophie belum pernah kesana, memperoleh tiket &#8220;no Fuel Charge&#8221;, serta adanya sahabat lama disana.  Persiapanpun tidak seheboh   sebelumnya.  Untuk perjalanan 3 hari, kami bertiga cukup menggunakan 1 koper ukuran medium dan 1 stroller untuk dimasukkan ke bagasi.  Sisanya tas tenteng   sebagai tas &#8216;doraemon&#8217; keperluan Sophie serta 1 tas kamera keperluan saya.  Padat dan praktis!.  Memang urusan makan akan menjadi hal tersulit jika membawa   baby untuk itu beberapa biskuit kami siapkan berikut susu dan makanan praktis lainnya. Yang penting disana adalah ketersediaan buah, makanan favorite sophie.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">PERJALANAN JAMAAH </span></p>
<p style="text-align: justify;">Sophie ternyata menjadi magnet. Beberapa rekan &amp; saudara akhirnya memutuskan karena sophie-pun ikut.  Bertujuhlah (saya, bunda Sophie, Sophie, Papa Thotho,   Mama Tyas, oom mamat dan oom syarif) akhirnya kami berangkat pukul 06.30 dengan Airasia QZ 111.  Berbeda dengan perjalanan saya beberapa kali ke KL yang   biasanya saya capai dengan menggunakan bus langsung dari Singapore kali ini kami menggunakan pesawat.  Beruntung beberapa kali bertukar email dengan sahabat   lama saya di sana (Khatty) saya memperoleh panduan yang cukup lengkap sehingga saya bisa menyusun itinery  serta budget yang cukup detail akurat.  Rombongan   besarpun bisa sekata dalam perjalanan.  Dan yang terpenting karena saya beberapa kali pernah ke KL setidaknya kami cukup terhindar dari kata <span style="color: #ff6600;">TERSESAT </span>atau   <span style="color: #ff6600;">KEBINGUNGAN.</span> Bedanya bila dahulu saya terima beres kini saya dan oom mamat yang menjadi pemandunya.  Dan kami ingin perjalanan ini lebih terkontrol dan   teratur untuk meminimalisasi efek dari &#8220;banyak orang banyak kemauan&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Obyek wisata yang vital saya prioritaskan bagi rombongan seperti Twins Tower, Genting, Central Market, Bukit Bintang, IKEA serta putrajaya.  Kepadatan   perjalanapun saya kurangi untuk memberi waktu santai dan main-main untuk sophie.  Termasuk menghapus perjalanan ke Malaka.  Satu berkah muncul di last minute   kala Khatty mengatakan bisa off selama 2 hari untuk bisa mengantar kami &#8216;pusing-pusing&#8217; dengan mobil sewaan.  Ini kebetulan yang sangat di syukuri.  Meski   tak senyaman Singapore Kl tak terbilang susah dengan angkutan umum.  Masalahnya tak ada taksi argo.  semuanya tarif kuda!  Pantas keluangan waktu Khatty   menjadi berkah.  Karena itung punya itung sewa mobil plus sopir dan gasoline terbandrol tiga kali lipat dari harga Jakarta.  Meski terbilang lebih mahal tapi   kenyamanan dan pengaturan waktu akan lebih mudah dengan mobil sewaan.  Namun jangan terkaget bila parkir di KLCC argo parkirnya sudah mencapai RM 10 = Rp   30.000/jam. Mantap!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Genting" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9768.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Karena ini adalah perjalanan jamaah, akhirnya saya menyingkirkan ego saya untuk bisa benar-benar berlibur.  Dalam benak saya berlibur adalah menikmati   lingkungan dan memanjakan diri. Saya bayangkan saya bisa berada di bawah pohon disebuah bangku taman samping Merlion Park sambil membaca buku dan menulis   seharian atau bercengkerama bermain lari-larian dengan parkit kecil saya. Sophie!  Atau berada dipantai merebahkan diri sambil berbincang tentang banyak hal   dengan bunda Sophie tanpa terpikir masuk mall, belanja ini dan itu.  orang akan bilang ini bukan liburan yang populer, bukan liburan gaya &#8220;orang kita&#8221;. tapi   memang itulah liburan impian saya!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">SERONOK DAY 1 </span></p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan dengan pesawat selalu terasa lama untuk saya.  Bagi saya yang takut ketinggian, sulit untuk bertenang hati.  Padahal saya coba untuk meletihkan   diri dan bangun pagi-pagi agar terasa lelah dan bisa tidur di pesawat, namun percuma.  Sebaliknya Sophie sangat menikamti perjalanan.  Hidangan pesawat   maunya dimakan sendiri bahkan tak henti minta ballpoint untuk bisa menggambar di kertas itinery perjalanan saya. Pun begitu ribut dengan bundanya untuk   melihat awan.    Keberangkatan pukul 6.25 sedikit tertunda seperempat jam.  Beruntung satu setengah jam kemudian saya sudah bisa melihat lanskap penjamu sebelum kami tiba di   LCCT, bandara Low Cost Center Terminal tempat Airasia bermarkas. Hijau, tertata dan asri begitu  pemandangan sawit di sekitar bandara itu menjamu dan bagai   gudang berarsitektur modern LCCT ini menerima kami.  Perjalananpun terlanjut dengan bus bertarif RM 8 yang akan mengantar kami selama 1,5 jam ke KL Central   di jantung Kuala Lumpur.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali jalan tol yang lengang, tertata dan mulus ini menjadi pemandangan kami.  Bagi saya liburan ini telah dimulai, saya tak   hendak untuk menidurkan diri dan melewatkan setiap hal diluar jendela sana. Terlalu mubazir, karena disinilah keasyikan satu liburan didapat. Tiba di KL   Central kami segera mencari ujung monorail untuk mengantar kami ke Hotel Bintang Warisan yang tak jauh dari stasiun Bukit Bintang, Stasiun yang hanya   berjarak 5 pemberhentian dari KL central ini.  Dengan menukar RM 2.10 kami menggunakan kartu magnetik sebagai tiket masuk.  Kartupun keluar lagi setelah   terotorisasi untuk kami pegang begitu kami akan masuk kereta monorail.  Namun saat keluar stasiun dengan otomatis kartu akan tertelan.  Setelah perjalanan 10   menit kamipun keluar dari stasiun yang berkonstruksi bentang lebar untuk atapnya ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Check in pukul 01.00 pm tak membutuhkan waktu lama.  Pencarian hotel ini di internet ternyata cukup sesuai keinginan.  Meski aroma &#8220;India&#8221; terasa menyengat   saat tiba namun saya lega karena hotel ini lebih berwarna China.  Sebagai Budget hotel fasilitas standart yang ada lumayan cukup. Kamar mandi dan tidurpun   tidak mengecewakan.  Kami tak berlama-lama untuk menaruh barang dan masuk hotel yang kami lakukan secara swalayan karena kami akan mengunjungi Genting.    Namun sebelumnya kami mampir sebentar di KFC untuk makan siang.  Sengaja KFC dipilih karena menurut pengalaman rasa makanan di KL sangat kacau, kami tak   ingin memberikan kejutan berlebihan pada perut kami.  Benar juga ternyata KFC disini tak menyediakan nasi putih melainkan nasi lemak!.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 04.00 pm kami berangkat dengan bus ke Genting highland dari KL central.  Mulanya saya ingin terus dengan menggunakan bus saja tanpa transit memakai   cable car hingga Genting.  Pengalaman  terombang ambil dalam cabel car yang mati selama 5 menit di atas laut antara Singapore-Sentosa sudah cukup membuat aku   kapok. Tapi ternyata semua perjalanan kini harus mengunakan cable car. Mau apa lagi. perjalanan menapak genting tak ubahnya seperti menuju puncak, namun   hebatnya jalan disini cukup lebar dan memudahkan bus-bus besar untuk melaju.  Hutan di sekeliling jalan tampak tak terjaman dan masih asri, tak ada lapak   dipinggir jurang juga tak ada rambu menyesatkan.  Semua penumpang terkantuk kantuk dibawah semburan ac yang dingin dan bus yang nyaman seharga RM 9.30 sekali   jalan plus akomodasi cablecar.  saya segera bangunkan bunda sophie.  Saya tahu sebelumnya di enggan kemari, tapi saya yakin perjalanan ini akan mengubah   keenggannya.  Benar, ketertarikannya makin tersemangati.  Utamanya saat tiba di terminal transit saat kami harus berganti akomodasi dengan menggunakan   cablecar.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="cablecar" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/IMG_9656.jpg" alt="" width="240" height="360" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan menggunakan tiket terusan, kami langsung naik cablecar yang berkapasitas 8 orang di lantai 4 terminal ini. Kengerian saat cablecar meluncur menuju   puncak Genting dengan menyusuri kemiringan punggung gunung selama 20 menit sirna melihat eloknya hijaunya hutan dan  asyiknya pemandangan dari jendela   cablecar.  Sophie yang terpana pun mulai mengoceh kegirangan.  Kejutan terakhir terjadi saat kurang lebih 1 kilo mendekati Genting kabut mulai turun. Jarak   10 meter sudah memutih tertutup kabut dan semua berakhir saat kami masuk gate stasiun di Genting.  Benar-benar pengalaman yang elok dan mendebarkan!  seru!   tak banyak yang kami lakukan disini karena kabut telah menutub theme park, selain itu pukul 07.00 pm kami harus turun untuk mengejar bus keberangkatan pukul   07.30.  Kami meluangkan waktu dengan jalan dan bermain ala timezone bersama sophie.  Saat kembali turun dengan cable car suasana lebih mencekam karena malam,   beruntung penerangan yang di setiap tiang cable card cukup terang sehingga kamipun maih bisa menikmati pemandangan sekitar.  Kabutpun kami tinggalkan   disambut turunnya matahari si ufuk barat yang samar.</p>
<p style="text-align: justify;">Taksi RM 100? itu tawaran terburuk saaat kami tiba kembali di terminal transit.  Bus ke KL Central telah habis tiketnya hingga kami harus menunggu   keberangkatan jam 09.00 pm.  Oom mamat meminta pendapat saya.  Saya enggan dengan tawaran ini karena berombongan mau tak mau kami harus ambil 2 taksi. Saya   minta oom mamat mencari bus jurusan mana saja yang siap berangkat jam 07.30 pm ini.  Sebuah bus sudah hampir berangkat ke terminal Pasarakyat akhirnya kami   pilih.  Ini pilihan terbaik daripada kami tak ada kegiatan di terminal ini.   Toh terminal Pasarakyat tak jauh dari KLCC tujuan kami berikutnya. sekitar   pukul 09.00 kami tiba di terminal pasarakyat dan dengan 2 taksi nonargo RM 18 kami melaju ke KLCC untuk makan malam, belanja dan tentunya berfoto di depan   twins tower dimalam hari.  Kelelahan menumpuk, kaki dan pundak terasa tak mau kompromi lagi.  Kamipun meninggalkan KLCC dengan van taksi berkapasitas 7   seater RM 15 pukul 11.00. saya menggendong Sophie masuk kamar diikuti Bunda sophie.  Kaki saya pegal.  Entahlah besok masih BISA jalan lagi atau TIDAK!</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Ljburan KL" href="http://www.facebook.com/album.php?aid=121287&amp;id=729063369" target="_blank"><span style="color: #ff6600;">PHOTO disini</span></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/12/liburan-seronok-kl-trip-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Namaku Inan</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/04/namaku-inan/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/04/namaku-inan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 14:07:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">“<span style="color: #ff6600;">Kinanthi Sophia Ambalika</span>” mestinya begitu aku dipanggil secara lengkap. Ayah Bunda ingin namaku khas Jawa maka diambillah kata <span style="color: #ff6600;">KINANTHI</span> yang artinya tembang cinta/penuntun kehidupan, <span style="color: #ff6600;">AMBALIKA</span> diambil dari nama seorang dewi dalam pewayangan yang menurunkan generasi pandawa sementara <span style="color: #ff6600;">SOPHIA</span> mempunyai arti Bijaksana. Jadi kira-kira makna <span style="color: #ff6600;">KINANTHI SOPHIA AMBALIKA</span> = putri bijaksana yang menyenandungkan tembang cinta. Sengaja ayah merancang namaku dengan menggabungkan 3 kata.  Alasannya sederhana, supaya aku punya nama awal, tengah dan akhir.  Nama awal diambil dari bahasa kawi, tengah dari bahasa latin dan akhirku akan diberikan nama wayang.  Ayah berencana akan memakai dalil pada adekku kelak. Insyaallah!</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Ngakak" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Senyum.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Nama Kinanthi Sophia Ambalika yang melekat di aku ternyata berpinak saat kata panggil di tujukan padaku.  Banyak yang memanggilku Sophie, namun tak kalah banyak yang memanggilku Kinan kependekan dari Kinanthi.  Belum lagi yang memanggil Phiphie, Mpok Nan, Tembluk, Genduk dan seabrek-abrek panggilan lain yang beralasan merupakan panggilan sayang.  Lalu bagaimana aku memanggil diriku? [.......]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (21102009-15.39) </span><br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">“<span style="color: #ff6600;">Kinanthi Sophia Ambalika</span>” mestinya begitu aku dipanggil secara lengkap. Ayah Bunda ingin namaku khas Jawa maka diambillah kata <span style="color: #ff6600;">KINANTHI</span> yang artinya tembang cinta/penuntun kehidupan, <span style="color: #ff6600;">AMBALIKA</span> diambil dari nama seorang dewi dalam pewayangan yang menurunkan generasi pandawa sementara <span style="color: #ff6600;">SOPHIA</span> mempunyai arti Bijaksana. Jadi kira-kira makna <span style="color: #ff6600;">KINANTHI SOPHIA AMBALIKA</span> = putri bijaksana yang menyenandungkan tembang cinta. Sengaja ayah merancang namaku dengan menggabungkan 3 kata.  Alasannya sederhana, supaya aku punya nama awal, tengah dan akhir.  Nama awal diambil dari bahasa kawi, tengah dari bahasa latin dan akhirku akan diberikan nama wayang.  Ayah berencana akan memakai dalil pada adekku kelak. Insyaallah!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Ngakak" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Senyum.jpg" alt="" width="360" height="240" /></p>
<p style="text-align: justify;">Nama Kinanthi Sophia Ambalika yang melekat di aku ternyata berpinak saat kata panggil di tujukan padaku.  Banyak yang memanggilku Sophie, namun tak kalah banyak yang memanggilku Kinan kependekan dari Kinanthi.  Belum lagi yang memanggil Phiphie, Mpok Nan, Tembluk, Genduk dan seabrek-abrek panggilan lain yang beralasan merupakan panggilan sayang.  Lalu bagaimana aku memanggil diriku?</p>
<p style="text-align: justify;">Lepas dari satu tahun aku sudah bisa menyebutkan namaku.  Bila ditanya siapa namaku maka aku akan segera jawab <span style="color: #ff6600;">&#8220;Inan!&#8221;</span>, bila mereka tidak puas dan kembali bertanya &#8220;Nan siapa?&#8221;.  Maka aku akan kembali menjawan dengan lengkap, &#8220;Nan Ndut-ndut!&#8221;  Nama NAN melekat karena di rumah Nenek nama Kinan lebih familier dipanggilkan ke aku oleh semua anggota keluarga.  Sementara nama NDUT-NDUT mengingatkan aku pada photoku saat usia 6 bulan yang sangatlah cuby.  Namun ini menjadi lain soal kalau aku ditanya nama lengkapku. Serta merta aku akan menjawab dengan faseh &#8220;Kinanthi Sophia Ambalika&#8221; dengan huruf &#8220;K&#8221; yang berubah menjadi &#8220;T&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam bercerita atau meminta sesuatupun aku selalu memakai kata ganti &#8220;Inan&#8221;.  Namun belakangan aku lebih suka memanggil diriku dengan &#8220;Aku&#8221;.  Bukan itu saja aku ternyata juga cukup fasih menyebut nama nama orang disekitarku secara lengkap.  Mulai dari nama panjang ayah, bunda, tante, kakek, nenek bahkan Mbah Ti.  Karena hal inilah aku seringkali memanggil mereka dengan lengkap antar sebutan dan namanya semisal, &#8220;ayah Bambang&#8221;, &#8220;Bunda Yeni&#8221;, &#8220;Papa Thotho&#8221;, &#8220;Mama Tyas&#8221;, &#8220;Mbak Nik&#8221; dan lainnya.  Karena kebiasaan memanggilku yang unik akhirnya ayah kadang memanggilku <span style="color: #ff6600;">&#8220;Anak Kinan&#8221;</span> akh &#8230;ayah selalu saja ikut-ikutan gak mau kalah!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/11/04/namaku-inan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Si Baby Ini &amp; Itu?</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/30/si-baby-ini-itu/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/30/si-baby-ini-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 03:20:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dibanding dengan Baby lain seusiaku  atau malah dengan sepupu ku yang seumur mungkin berkah yang terberi padaku adalah kemampuan bicara.  Di umur 21 bulan aku cukup fasih untuk diajak komunikasi, bercerita ataupun bernyanyi juga berdoa. Bagi Ayah bunda ini cukup menghibur setelah masalah berat badanku yang cukup "ringan" dibanding rekan lain sebayaku. Soal omong aku tak tahu kenapa secepat ini aku bisa bisa berkomunikasi dengan tutur yang fasih dan tepat.  Apakah lingkunganku yang memang mendukung budaya tutur atau karena Ayah Bunda tak pernah menerimaku menggunakan bahasa tangis sehingga aku lebih banyak diajak komunikasi secara verbal.  Usil punya usul ternyata Ayah dan Bunda paling bisa memilah dan memperhatikan sikapku.</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Sosialita" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Sosialita.jpg" alt="" width="213" height="283" /></p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya Aku Baby TUWIR:</span></p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana tidak aku suka mengucapkan kalimat yang mereka pandang sangat tua untuk umurku misalkan saat aku mulai berlagak tuwir dengan kata-kata yang aku punya seperti. "Hati-hati ya bunda, be carefull" atau "hati-hati, jangan di jalan nanti ada motor" kala aku ucapkan di depan rumah sebelum Ayah dan Bunda berangkat kerja.  Kalimat mempersilahkanpun mereka terima dengan geleng-geleng padahal aku cuman bilang "Ayo papa thotho makan dulu" atau "Ayah kaos kakinya lepas dulu" begitu papa thotho bertandang ke rumah atau Ayah baru pulang dari kantor.  Tak jarang Nenekpun sering dapat nasehat dari aku saat aku sakit "nek makannya sudah, nanti aku muntah loh!" atau "gak mau minum susu nenek, nanti muntah" atau malah pernah mendengar ayah batuk aku langsung mengambilkan air minum buat ayah sembari bilang "Ayah batuk, minum dulu ya"[.......]</p> ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (21102009-16.25) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dibanding dengan Baby lain seusiaku  atau malah dengan sepupu ku yang seumur mungkin berkah yang terberi padaku adalah kemampuan bicara.  Di umur 21 bulan aku cukup fasih untuk diajak komunikasi, bercerita ataupun bernyanyi juga berdoa. Bagi Ayah bunda ini cukup menghibur setelah masalah berat badanku yang cukup &#8220;ringan&#8221; dibanding rekan lain sebayaku. Soal omong aku tak tahu kenapa secepat ini aku bisa bisa berkomunikasi dengan tutur yang fasih dan tepat.  Apakah lingkunganku yang memang mendukung budaya tutur atau karena Ayah Bunda tak pernah menerimaku menggunakan bahasa tangis sehingga aku lebih banyak diajak komunikasi secara verbal.  Usil punya usul ternyata Ayah dan Bunda paling bisa memilah dan memperhatikan sikapku.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Sosialita" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Sosialita.jpg" alt="" width="213" height="283" /></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya Aku Baby TUWIR:</span></p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana tidak aku suka mengucapkan kalimat yang mereka pandang sangat tua untuk umurku misalkan saat aku mulai berlagak tuwir dengan kata-kata yang aku punya seperti. &#8220;Hati-hati ya bunda, be carefull&#8221; atau &#8220;hati-hati, jangan di jalan nanti ada motor&#8221; kala aku ucapkan di depan rumah sebelum Ayah dan Bunda berangkat kerja.  Kalimat mempersilahkanpun mereka terima dengan geleng-geleng padahal aku cuman bilang &#8220;Ayo papa thotho makan dulu&#8221; atau &#8220;Ayah kaos kakinya lepas dulu&#8221; begitu papa thotho bertandang ke rumah atau Ayah baru pulang dari kantor.  Tak jarang Nenekpun sering dapat nasehat dari aku saat aku sakit &#8220;nek makannya sudah, nanti aku muntah loh!&#8221; atau &#8220;gak mau minum susu nenek, nanti muntah&#8221; atau malah pernah mendengar ayah batuk aku langsung mengambilkan air minum buat ayah sembari bilang &#8220;Ayah batuk, minum dulu ya&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya Aku Baby LEBAY:</span></p>
<p style="text-align: justify;">Kata-kata antusias yang suka aku ucapkan seperti &#8220;Waowww .. waaooowww&#8221; saat aku menerima hadiah atau bingkisan apapun membuat Ayah menjulukiku lebai.  Terlebih bila aku berucap &#8220;Yaahhh .. semua pulang!&#8221; dengan mimik sedih atau &#8220;Yaaaah jatuh bonekanya&#8221;, &#8220;mmmmmm enak!&#8221; amat sok  melebih-lebihkan karena dipadu mimik yang menggemaskan.  Konyolnya aku suka sekali dadah dan melambai tangan bila akan pergi.  Tak cuma anggota keluaraga yang dapat dadah dari aku tapi juga benda-benda di sekitarku &#8220;dadah elmo, dadah meong, dadah bunga &#8230;dadah sampah!&#8221; lah bener lebay khan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya Aku Baby EYEL:</span></p>
<p style="text-align: justify;">Aku ternyata termasuk yang keras kepala menurut bunda.  Karena kalau aku sudah bilang &#8220;Nggak Mau&#8221;, &#8220;yang ini atau yang itu aja&#8221; , &#8220;sama ini atau itu ajah&#8221; maka tak ada yang bisa membelokkan.  Termasuk juga kalau aku menginginkan sesuatu atau ketidaktakutanku pada binatang seperti cacing, kecoa, cicak dan lainnya.  memang ayah sangat melarang aku ditakut-takuti dengan berbagai hal yang konyol.  Untungnya aku jarang menangis bila menginginkan sesuatu karena aku bisa mengatakannya sendiri.  Kalaupun pada akhirnya Ayah dan bunda tak setuju dan memberi alasan yang jelas akupun biasanya tak memaksakannya kok.  Nah kalo gini salah kali yah kalau bunda bilang aku bayi eyel.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya Aku Baby PERAYU.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Soal merayu mungkin aku termasuk ulung seperti yang dikatakan Ayah.  Bunda sangat hapal bila aku mulai mengatakan &#8220;Bunda, baca buku yuk&#8221; sembari mengajak bunda ke kamar.  Pasti 10 menit habis baca buku aku pasti akan mengatakan &#8220;nenen aja yuk bunda!&#8221;.  Atau kalau aku meminta sesuatu sama ayah atau papa thotho maka aku akan berkata dengan mesranya &#8220;gendong dong&#8221; lepas itu Aku akan mengatakan &#8220;Ayah ambilin buku&#8221;, &#8220;ayah lihat wayang dong&#8221; atau Papa thotho tabung tabung yuk!&#8221;ketahuan deh mauku kemana.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya Aku Baby RAJIN:</span></p>
<p style="text-align: justify;">ya ya ya aku memang baby yang rajin.  Sejak gigiku tumbuh 2 diusia 13 bulan aku sudah rajin gosok gigi.  Bahkan kalau bunda lupapun aku tak segan untuk memintanya sendiri.  Ritual malampun tak pernah lewat dengan memberesi semua mainan, membaca buku, ganti baju bobo, sikat gigi dan bobo.  Malah sekarangpun aku sudah bisa di suruh suruh Ayah Bunda seperti mengambilkan ini dan itu.  Kalau pagi tak jarang aku yang menyiapkan Sepatu Ayah Bunda yang telah aku semir sebisaku. Narsisnya aku seneng sekali kalau dipuji cantik dan pintar hahaha.  Kebisaanku yang baru adalah suka memilih baju sendiri dan bisa memakai celana sendiri. Wah hebat khan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya aku Baby BAWEL:</span></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak sedang main, makan, mimik susu apalagi kalo nonton elmo, barney atau starkid mulutku tak bisa diam untuk berkomentar atau bertanya.  &#8220;apa ini&#8221;, &#8220;apa Itu&#8221;, atau berkomentar tentang ini dan itu.  Namun yang paling aku suka adalah main sendiri dikamar dengan banyak bantal untuk rumah-rumahan dan banyak boneka yang dijajar. Kalau sudah begini betahlah aku berlama-lama dikanmar sambil berkhayal dan menyanyi.  Kakek tinggal tungguin di depan kamar sambil beraktifitas. Dijamin bawelku tak akan memusingkannya.  Lucunya aku suka mengigau dimalam hari.  Tanpa sadar aku ngomong sendiri satu atau dua kalimat setelah itu tidur.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Katanya aku Baby USIL:</span></p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana tidak, ternyata aku sudah bisa mengusili kakek atau nenek dengan memanggil nama mereka, namun di saat mereka merespon aku yang menunjukkan wajah cuek.  Tidak itu saja.  Akupun suka menyamakan karakter di buku atau TV seperti orang-orang yang aku kenal.  &#8220;Papa Thotho seperti beruang Mogli&#8221;, &#8220;Ayah seperti Boncu&#8221; atau yang lainnya sambil tertawa genit.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun benernya yang ingin aku akui adalah bahwa aku adalah baby yang cukup sensitif. Kalau ada hal yang tidak membuatku berkenan karena dimarahi, karena kebandelanku atau aku takut akan sesuatu aku tidak pernah menangis keras.  Seperti halnya saat bayi aku jarang sekali menangis.  Kalau ini terjadi maka aku akan segera menuju kamar, tiduran menghadap dinding dan terisak sendiri. Menyedihkan memang.  Aku tahu Ayah dan Bunda tak menyukai sikapku ini dan sering kudengar bunda memberi nasehat &#8220;Ada apa cantik, yuk bilang ke bunda&#8221; atau support dari ayah &#8220;Wah masa anak ayah suka nangis, yuk jadi berani dan kuat!&#8221;.  Sepertinya mereka memang selalu menginginkan yang terbaik untukku disamping membuatku nyaman menjalani hidup, dibalik semua hal bagaimana diri dan polah lakuku.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/30/si-baby-ini-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reuni Offline</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/24/reuni-offline/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/24/reuni-offline/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 16:14:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah lebaran kemarin begitu banyak photo rekan-rekan jaman SMA maupun Kuliah yang bertebaran di Facebook dalam acara reuni.  Komentarpun saling menimpali mulai dari pernyataan mengenai perubahan dalam 15-20 tahunan yang terjadi hingga candaan ala kebersamaan tempo doeloe.  Tidak itu saja.  ketakjuban, keheranan dan rasa kangenpun campur aduk menciptakan canda dan rasa terima kasih.  Sayang aku tak ada di semua event itu, aku hanya bisa terbatas mengomentari sekaligus menerima kritikan kenapa justru tidak datang di acara yang aku sendiri usulkan.  Nah!</p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Banner" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Spanduk1.jpg" alt="" width="360" height="95" /></p>
<p style="text-align: justify;"></p>
<p style="text-align: justify;">Kekuatan Facebook memang luar biasa, karenanyalah dalam kurang dari 2 bulan sebagian besar teman seangkatan di SMA 1 Magetan dan semua teman seangkatan Arsitektur Petra kembali bertemu.  Reuni online-pun terjadi dengan saling bergosip dan mengaduk-aduk ingatan lama saat jaman bersama sekaligus perburuan mencari temen-teman yang hilang.  Groups dan Fansbookpun segera dibuat untuk mewadahi semua teman yang mulai terberai.  Waktu seakan kembali berputar bagai baru kemarin semua itu terjadi.  Dan sedetik kemudian bagai tersentak betapa waktu itu semua hampir terkubur dan betapa berubahnya kami kini.  Tak hanya fisik yang mulai berkerut dan melebar kesamping, kehidupan kamipun sudah tak banyak yang sendiri, berkeluarga dan mempunyai junior.</p>[.......]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (21102009-11.45)</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah lebaran kemarin begitu banyak photo rekan-rekan jaman SMA maupun Kuliah yang bertebaran di Facebook dalam acara reuni.  Komentarpun saling menimpali mulai dari pernyataan mengenai perubahan dalam 15-20 tahunan yang terjadi hingga candaan ala kebersamaan tempo doeloe.  Tidak itu saja.  ketakjuban, keheranan dan rasa kangenpun campur aduk menciptakan canda dan rasa terima kasih.  Sayang aku tak ada di semua event itu, aku hanya bisa terbatas mengomentari sekaligus menerima kritikan kenapa justru tidak datang di acara yang aku sendiri usulkan.  Nah!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Banner" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/Spanduk1.jpg" alt="" width="360" height="95" /></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kekuatan Facebook memang luar biasa, karenanyalah dalam kurang dari 2 bulan sebagian besar teman seangkatan di SMA 1 Magetan dan semua teman seangkatan Arsitektur Petra kembali bertemu.  Reuni online-pun terjadi dengan saling bergosip dan mengaduk-aduk ingatan lama saat jaman bersama sekaligus perburuan mencari temen-teman yang hilang.  Groups dan Fansbookpun segera dibuat untuk mewadahi semua teman yang mulai terberai.  Waktu seakan kembali berputar bagai baru kemarin semua itu terjadi.  Dan sedetik kemudian bagai tersentak betapa waktu itu semua hampir terkubur dan betapa berubahnya kami kini.  Tak hanya fisik yang mulai berkerut dan melebar kesamping, kehidupan kamipun sudah tak banyak yang sendiri, berkeluarga dan mempunyai junior.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah bagaimana teman lama melihat diriku yang kini.  Berubahkah atau stagnant masih seperti yang dulu.  Seorang teman SMA terkaget2 gak sangka itu saya orang yang dia pernah taksir dulu.  Namun teman yang lainpun dengan cepat meng-add aku tanpa ragu.  Aku hanya bisa katakan kini bahwa aku tidak dipanggil dan menggunakan nama panjangku lagi yang memang &#8220;terlalu populer&#8221; dan terancukan dengan nama sejenis dan sama.  Soal muka, badan dan ketinggian aku jamin sama.  Dengan proporsiku yang kecil sedikit perubahan berat badan dan kerutan sama sekali tak membuat orang lupa padaku.  Mungkin yang membedakan hanyalah gayaku yang tak lagi menganut rambut ala kadarnya atau ala Andy Lau yang ngetrend waktu itu. Akupun telah meninggalkan celana baggy dan baju yang dilinting diujung lengan dan di ujung kaki. Secara psikologis aku masih ingin tetap dikenal sebagai aku yang dulu.  Yang tetap usil, banyak omong dan dan rame. Dan karena pekerjaanku yang informal dan menuntut kreatifitas maka semua itu sepertinya masih tetap bisa aku pertahankan.  Di sisi lain mungkin menjadi keuntungan karena aku tak pernah terbungkus dengan seragam atau baju kerja yang justru membuat aku lerlihat lebih usur. Dan begitulah aku pada nyatanya, kondisi lahir yang sulit untuk dibelokkan apalagi diubah.</p>
<p style="text-align: justify;">Reuni Offline akhirnya aku lontarkan kepada rekan-rekan yang segera mereka tangkap dan realisasikan.  Dengan alasan kemudahan mengumpulkan teman-teman di saat lebaran seperti ini.  Kalimat maafpun sebelumnya telah aku lempar karena tidak mungkin bila aku hadir saat itu.  Selain reuninya diadakan di surabaya dan magetan akupun memang jauh hari sebelumnya tidak merencanakan untuk mengunjugi 2 kota yang telah lama aku tinggalkan itu.  Sangat terlambat untuk memperoleh tiket di saat lebaran seperti ini.  Kalaupun menyesal tentunya itu ada dipihakku yang hanya bisa kembali melakukan reunian dengan temen2 dengan cara online.  Bagiku pribadi reuni adalah silaturahmi pertemanan. Apapun yang terjadi pada kami dan bagaimanapun kami sekarang aku pikir dulu kami pernah berada disatu tempat yang sama dan didik dengan cara yang sama hingga terbangun pertemanan.  Dan hal itu tidak ada yang bisa mengubah bentuk pertemanan yang ada.  Hingga satu hal yang salah bila disaat reuni kita tak bisa datang.  <span style="color: #ff6600;">Apapun alasannya!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/24/reuni-offline/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Uban Telanjang</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/22/uban-telanjang/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/22/uban-telanjang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 09:44:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Rebel Thinking]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dibilang uban adalah gejala adanya gangguan sintesa protein. Sel melanosit jadi tak mampu lagi menghasilkan pigmen (melanin) sehingga rambut menjadi kehilangan warna, dan dikatakan proses ini akan berlangsung begitu kita menginjak usia 40 tahun.  Informasi yang sulit aku amini mengingat saat usiakulepas dari 17 tahun si uban telah menyisip diantara ribuan helai rambut hitamku. Dicabut, itulah langkah awal yang sederhana yang dulu aku lakukan meski efeknya membuta gatal dan merinding.  Menginjak kuliah dan kerja temen-teman si uban mulai menyisip dan tak ada yang bisa kulakukan kecuali membiarkan.  Hingga puncaknya saat usia 27 an uban ini menjadi tak kepalang.  Menolak untuk dicabut dengan alasan sakit semirlah yang akhirnya menjadi solusi.  Tak tanggung tanggung warna hitam kebiruan, burgundi, maroon dan dark brownpun pernah diupayakan hanya untuk menutupi si uban.  Puncaknya saat wisuda S2 rambutku bener-benar terbakar warna MERAH!  Dua tahun terakhir ini rasa insyaf akan semir warna terang membuatku paten memilih Natural Balck sebagai pilihan.  Alasan cukup sederhana.  Kulit dan mukaku yang dikata lebih mirip orang Nusa Tenggara ini lebih pantas memakai warna hitam daripada warna terang ala koboy yang tak pernah mandi. Kesan kontras lebih nyata daripada terang yang justru membuatku tampak "kumuh".</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Uban" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/images.jpg" alt="" width="125" height="86" /></p>
<p style="text-align: justify;">Artikel yang mengatakan bahaya menyemir rambut terlalu sering karena mamicu adanya kanker membuatku berfikir ualang akan kebiasaanku yang menyemir rambut tiap 2 bulan.  Perlahan aku biarkan semir hitam terakhir memudar seiiring tumbuhnya rambut.  Positifnya rambutku menjadi lebih ringan dan lebih mudah diatur karena semir yang biasa melekat hilang, namun disisi lain komentar mulai aku tuai karena teman dan sahabat rupanya takjub melihat rambutku yang sudah memutih hampir sepertiganya dengan tiba-tiba. Bahkan temen-teman di S3 terheran-heran. [.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (21102009-13.13) </span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dibilang uban adalah gejala adanya gangguan sintesa protein. Sel melanosit jadi tak mampu lagi menghasilkan pigmen (melanin) sehingga rambut menjadi kehilangan warna, dan dikatakan proses ini akan berlangsung begitu kita menginjak usia 40 tahun.  Informasi yang sulit aku amini mengingat saat usiakulepas dari 17 tahun si uban telah menyisip diantara ribuan helai rambut hitamku. Dicabut, itulah langkah awal yang sederhana yang dulu aku lakukan meski efeknya membuta gatal dan merinding.  Menginjak kuliah dan kerja temen-teman si uban mulai menyisip dan tak ada yang bisa kulakukan kecuali membiarkan.  Hingga puncaknya saat usia 27 an uban ini menjadi tak kepalang.  Menolak untuk dicabut dengan alasan sakit semirlah yang akhirnya menjadi solusi.  Tak tanggung tanggung warna hitam kebiruan, burgundi, maroon dan dark brownpun pernah diupayakan hanya untuk menutupi si uban.  Puncaknya saat wisuda S2 rambutku bener-benar terbakar warna MERAH!  Dua tahun terakhir ini rasa insyaf akan semir warna terang membuatku paten memilih Natural Balck sebagai pilihan.  Alasan cukup sederhana.  Kulit dan mukaku yang dikata lebih mirip orang Nusa Tenggara ini lebih pantas memakai warna hitam daripada warna terang ala koboy yang tak pernah mandi. Kesan kontras lebih nyata daripada terang yang justru membuatku tampak &#8220;kumuh&#8221;.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Uban" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/images.jpg" alt="" width="125" height="86" /></p>
<p style="text-align: justify;">Artikel yang mengatakan bahaya menyemir rambut terlalu sering karena mamicu adanya kanker membuatku berfikir ualang akan kebiasaanku yang menyemir rambut tiap 2 bulan.  Perlahan aku biarkan semir hitam terakhir memudar seiiring tumbuhnya rambut.  Positifnya rambutku menjadi lebih ringan dan lebih mudah diatur karena semir yang biasa melekat hilang, namun disisi lain komentar mulai aku tuai karena teman dan sahabat rupanya takjub melihat rambutku yang sudah memutih hampir sepertiganya dengan tiba-tiba. Bahkan temen-teman di S3 terheran-heran.  Mereka tak menyadari bahwa selama ini semirlah yang berperan.  Kurang nyaman juga mendengarnya namun justru lambat laun rasa &#8220;beda&#8221; itu ternyata menyenangkan. Saat di keramaian dan aku coba mencari teman yang senasib denganku, kusimpulkan aku gak perlu merasa sendiri.  Banyak usia muda dengan rambut memutih meski tidak separah apa yang aku punya. yang menarik dari Browsing aku temukan beberapa Mitos dan fakta mengenai uban:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">1. &#8220;Uban usia dini&#8221; bisa dicegah.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Fakta: Tak seorang pun yang bisa memprediksi munculnya uban. Tidak juga ahli medis. Setiap manusia punya moment berbeda kapan tepatnya ia akan beruban. Rata-rata, manusia normal mulai beruban saat berusia 40 tahun atau lebih. Cepat atau lambat nya &#8212; kecuali bila terdapat penyakit kelainan genetik&#8211; penyebabnya sangatlah multifaktor. Masalahnya, sekarang ini mulai banyak perempuan yang sudah beruban meski usia masih di awal 30-an. Tidak mungkin dicegah, tapi bisa diperlambat. Asal Anda menyuplai tonikum, moisturizing serum dan ektra nutrisi secara intensif pada akar dan batang rambut.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">2. Setiap orang punya risiko terkena uban lebih cepat.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Fakta: Meski hingga saat ini belum ada penelitian yang bisa memastikan penyebab munculnya uban prematur ini, namun bila kelenjar rambut terganggu dan folikel rambut telah berhenti memproduksi melanin alias tidak menghasilkan pigment, bisa dipastikan rambut akan memutih dengan sendirinya. Diagnosa medis sementara yang mungkin bisa dijadikan pegangan adalah kenyataan bahwa uban tidak akan tumbuh tanpa sebab. Kelainan genetik, kekurangan gizi, degradasi melanosit, faktor bawaan atau pernah mengalami penyakit tertentu bisa menjadi penyebab utama tumbuhnya uban lebih cepat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">3. Bleaching, coloring dan rebonding bisa menyebabkan rambut beruban.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Fakta: Zat peroxide, baik dari senyawa hydrogen atau alkaline yang biasa terdapat dalam produk pewarna rambut hanya akan menyerang di permukaan, lapisan kutikula, cortex dan medula rambut. Meski memang berpengaruh terhadap elastisitas rambut, namun peroxide tidak mengganggu kerja produksi melanin. Artinya, pigment rambut tetaplah bekerja memproduksi zat warna rambut seperti biasa, sampai saatnya ia melemah dan berhenti dengan sendirinya. Begitupun dengan produk hairstyling lainnya. Daya kerjanya tidak berhubungan dengan siklus pertumbuhan uban.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">4. Uban gejala awal kebotakan.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Fakta: Jika Anda sudah mendapat uban saat berusia di bawah usia 20 tahun sebaiknya perlu waspada. Sebab, saat Anda memasuki usia kepala tiga, biasanya uban akan tumbuh lebih banyak dan intensitas warna putihnya bertambah solid. Selain itu, kondisi kulit kepala biasanya jadi sangat sensitif dan rawan komplikasi.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">5. Makanan olahan, makanan cepat saji dan makanan yang diawetkan bisa meningkatkan risiko tumbuhnya uban lebih cepat.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Fakta: Banyak penyebab timbulnya uban dini yang masih belum tuntas diselidiki. Namun, makanan olahan yang mengandung bahan pengawet atau yang dibiakkan dari hasil rekayasa teknologi hormonal, bisa mengganggu metabolisme. Hal ini juga akan mempengaruhi sirkulasi oksigen dan nutrisi ke jaringan kulit kepala yang idealnya menyokong kerja melanin di sel-sel rambut.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">6. Makin sering ditutup, uban semakin banyak.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Fakta: Idealnya, Anda hanya perlu menyemir uban dua bulan sekali. Karena, setelah 60 hari akar rambut yang baru biasanya akan mulai terlihat mata. Jika mengganggu penampilan, lakukan re-coloring secara berkala. Periode ini juga berguna untuk memberi jeda pada permukaan kulit agar kondisi akar rambut kembali normal. Menutup uban dengan topi, hanyalah bertujuan menangkal efek buruk sinar Matahari. Uban memang tidak bisa menjadi lebih buruk atau bertambah banyak. Hanya, warna rambut saja perlahan akan memudar.Soal mencabut uban, menurut ahli dermatologi dari New York, Debra Jaliman, M.D, hal ini tidak berdampak tumbuhnya uban lebih banyak. Hanya saja, selain akan merusak folikel dan saraf rambut, uban juga akan terlihat lebih outstanding karena berkurangnya jumlah rambut di sekitarnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">7. Kloning rambut cara ampuh atasi uban?</span></p>
<p style="text-align: justify;">Fakta: Penelitian terakhir di Univ. Pennsylvania School of Medicine menyebutkan, hair multiplication atau penanaman rambut bukan untuk mengatasi uban. Namun, bila jumlah rambut sehat yang ditanam lebih banyak, otomatis sel rambut baru ini bisa menutup uban agar lebih tersamar. Treatment yang bekerja dengan mengembangbiakkan sel folikel rambut yang sehat (dan tidak beruban) di laboratorium khusus ini, sampai sekarang masih terus dikembangkan. Meski terbilang revolusioner, teknik ini masih perlu penyempurnaan dan kemungkinan baru layak digunakan 2-3 tahun lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya saya hanya mengambil kesimpulan biarlah alam yang mengatur kinerja anggota tubuh saya.  saya yakin ada kelebihan ada kekurangan.  Kalau sekarang Rambut saya yang melemah mungkin bagaian lain yang justru menguat.  Ambil contoh kekecangan kulit saya.  kalau sudah seperti ini apalagi yang akan kita perbuat kecuali menjaga yang ada sembari terus mensyukuri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/22/uban-telanjang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pribadi Unik Seorang Baby (oleh Ayah)</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/19/pribadi-unik-seorang-baby-oleh-ayah/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/19/pribadi-unik-seorang-baby-oleh-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 16:35:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify; ">Suatu ketika saya lelah sekali dengan kondisi, tidak saja badan saya tapi juga pikiran.  Saat seperti ini, kondisi saya tak jauh dari kata autis - tak mampu merespon stimulasi dari luar.  Namun sungguh mengherankan, bila stimulasi itu berupa pertanyaan mengenai Baby saya hasilnya akan jauh beda.  Entah energi siapa yang membakar, seakan saya  tak bisa putus menceritakan baby mungil saya dengan mata terbinar dan kelelahan yang sirna.  Mungkin inilah kekuatan semangat yang dibarakan oleh seorang anak yang tak pernah kita sadari saat tersulut.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/01102009172RS.jpg" alt="" width="200" height="302" /></p>
<p style="text-align: justify; ">Cerita mengenai baby sophie selalu indah, selalu membuat tergelak dan gemas meski tak saya pungkiri disisi lain Baby Sophie adalah seorang anak yang kadang tak ubahnya berpolah seperti anak-anak sebayanya, tumbuh dan berkembangan dengan dinamisnya sekurun waktu yang dilaluinya.  Ngambek, malas, menangis, mogok ataupun protes  merupakan polah lainnya yang juga saya temukan pada sososknya.  Dalam menghadapinya reaksi sayapun tak jarang seperti orang tua yang lain yang menjadi jengkel, marah bahkan tak sabaran.[.......] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify; ">By Be Samyono (19102009-14.20)</p>
<p style="text-align: justify; ">Suatu ketika saya lelah sekali dengan kondisi, tidak saja badan saya tapi juga pikiran.  Saat seperti ini, kondisi saya tak jauh dari kata autis &#8211; tak mampu merespon stimulasi dari luar.  Namun sungguh mengherankan, bila stimulasi itu berupa pertanyaan mengenai Baby saya hasilnya akan jauh beda.  Entah energi siapa yang membakar, seakan saya  tak bisa putus menceritakan baby mungil saya dengan mata terbinar dan kelelahan yang sirna.  Mungkin inilah kekuatan semangat yang dibarakan oleh seorang anak yang tak pernah kita sadari saat tersulut.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/01102009172RS.jpg" alt="" width="200" height="302" /></p>
<p style="text-align: justify; ">Cerita mengenai baby sophie selalu indah, selalu membuat tergelak dan gemas meski tak saya pungkiri disisi lain Baby Sophie adalah seorang anak yang kadang tak ubahnya berpolah seperti anak-anak sebayanya, tumbuh dan berkembangan dengan dinamisnya sekurun waktu yang dilaluinya.  Ngambek, malas, menangis, mogok ataupun protes  merupakan polah lainnya yang juga saya temukan pada sososknya.  Dalam menghadapinya reaksi sayapun tak jarang seperti orang tua yang lain yang menjadi jengkel, marah bahkan tak sabaran.  Terlebih bila dia menunjukkan reaksi yang berlebihan dan mengada-ada.  Beruntung sejauh ini saya dan bunda Sophie bagai ada perjanjian dalam menghadapi kondisi force majeur seperti ini.  Yaitu kesepakatan kecil untuk bersikap dingin dan lebih mementingkan komunikasi.  Sikap dingin untuk tidak terpancing tingkah polahnya selalu berusaha mengajaknya komunikasi baby Sophie di segala kesempatan.  Saya dan Bunda Sophie percaya bahwa Sophie bisa diajak komunikasi layaknya orang dewasa tentunya dengan bahasa dan penalarannya.  Kami juga yakin baby Sophie bertindak atas dasar reaksi spontan dan duplikasi atas apa yang dirasa dan apa yang tiap hari dilihatnya.  Untuk itu koreksi atas benar dan salah atas apa yang dilakukan itulah yang paling penting untuk ditanamkan.  Dan yang lebih penting lagi bisa memposisikan diri atas gejolak emosi yang dia rasakan.</p>
<p style="text-align: justify; ">Saya Ingat sekali saat menjelang ulang tahunnya yang pertama dia sakit panas dengan suhu yang sangat tinggi.  Upaya ke dokter telah dilakukan obat-obatan tradisionalpun juga telah di buatkan.  Namun panasnya tak kunjung turun.  Kami cukup panik karena saat kejadian kami berada di jogja di rumah Nenek untuk liburan akhir tahun sekaligus merayakan ulang tahunnya.  Sehari menjelang ulang tahunnya secara drastis panasnya menghilang.  Neneknya meyakinkan bahwa panas ini karena Sophie akan bertambah kebisaannya.  Dan mungkin benar karena saat itu gigi Sophie yang lambat tumbuh, bertambah menjadi 2.  Malamnyapun Sophie seperti mendapat angin.  Meski Jam telah menunjukkan pukul 21.50 dia masih keasyikan berceloteh dan tertawa menggoda sepupunya yang lain tak hentinya.</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Phiphie boleh main sampai jam 10 yah, habis itu nanti bobo loh&#8221;. Ujar Bunda Sophie segera mengambil alih keadaan dengan mengajaknya bicara. Sophie meneruskan hahahihinya hingga jam 10 lewat, dan kembali Bunda Sophie mengajaknya tidur sesuai waktu yang dijanjikan.  Namun sepertinya ajakan ini tak mempan. Sayapun turun tangan dengan memangkunya dan mengajaknya bicara dengan menatap matanya.  Meski kosakata dan bahasanya belumlah mumpuni untuk merangkai kalimat namun saya yakin dia akan mengerti apa yang saya ucapkan.</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Phihie waktu main dah habis, bobo dulu yah!  besok boleh main&#8221;, Perlahan saya katakan, &#8220;Kau khan baru sembuh sakit, buat istirahat dulu badannya biar besok bisa tiup lilin sama teman-teman, ok.  Bobok yah!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify; ">Sedetik kemudian Sophie memandang saya dengan tajamtajam dan tangannya meniruka gerakan saya sambil bilang &#8220;Bobo!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify; ">Serta merta dia berguling turun dari pangkuan saya dan beringsut mendekati bundanya dengan kembali bilang &#8220;Bobo!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify; ">Antara heran dan takjub dengan reaksi ini saya dan bunda Sophiepun menahan geli.  Dari sinilah kami diyakinkan bahwa suatu yang salah bila kita menganggap bayi adalah makhluk yang lemah dan belum mampu merespon omongan dan prilaku kita.  Karena pada nyatanya dia bisa mengerti selama kita bisa mengkomunikasikannya dan menunjukkan alasan logis tanpa selalu menekankan kata <span style="color: #ff6600;">&#8220;JANGAN&#8221;</span>.</p>
<p style="text-align: justify; ">Pun ketika semalam menjelang tidur, ritual Sophie sudah dijalankan seperti biasa.  Mulai dari gosok gigi ganti baju tidur hingga berdoa dan minum susu.  Namun ditengah jalan matanya menemukan gampar tempel di meja.</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Ayah mau tempel-tempel&#8221;. Dia merajuk.</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Minta ijin Bunda ya!&#8221; jawab Saya</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Bunda boleh ya tempel-tempel,&#8221; Rajuknya manja.</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Boleh,&#8221; Ujar bundanya dilanjutkan dengan memberinya syarat, &#8220;Tiga gambar saja yah habis itu bobok&#8221;</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Iyah,&#8221; Jawab Sophie cepat sembari meminta dibukakan plastik pembungkus gambar tempel winnie the pooh kesukaannya.  Saya membiarkan dia berinisiatif menempelnya di dinding kamar diatas ranjang. Begitu tiga gambar usai ditempel tiba-tiba dia mempunyai inisiatif untuk memindahkan 3 gambar tersebut ke bagian dinding yang lain.</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Sophie khan janjinya tadi hanya tiga gambar, Yuk bobo sekarang!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify; ">Tak sangka Sophie bereaksi beda.  Dijatuhkannya badannya ke ranjang sembari memulai tangisnya. Hanya terisak tapi airmatanya mengucur deras.  Dalam keterkejutan atas reaksinya kami coba tenang dan saya berinisiatif bereaksi dengan mendekatinya serta memandang matanya mengajak bicara.</p>
<p style="text-align: justify; ">&#8220;Bukannya tadi janjinya hanya sampai menempel 3 gambar.  mainnya sudahan yah.  Gak usah pakai menangis.  Besok kita akan bangun pagi untuk ke rumah kakek.  Di sana mainannya bisa dilanjutkan. Tapi malam ini harus istirahat dulu!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify; ">Bunda Sophiepun berkomentar mendukung pernyataan saya.  Terlihat tangis Sophie mereda menjadi isakan kecil dan bulir menetes dari pelupuknya.  Tak tega. tapi peraturan adalah peraturan.  Hingga Sophie membuka kalimat, &#8220;Bunda nenen ajah, aku mau bobo!&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify; ">Saya dan bunda Sophie saling berpandangan.  Memahami!</p>
<p style="text-align: justify; ">Sadar atau tidak fluktuasi perkembangan anak diusia batita sungguh dinamis dan mencengangkan.  Respon akan apa yang ditanggap oleh pancainderanya serta merta tercopy  sedemikian cepat dan diekspresikan.  Untuk itu rule model mutlak dilakukan secara benar.  Terlepas dari perkembangan reaksinya itu  pembelajaran akan hidup harus terus dijalankan dengan konsisten, sembari kita  ingat untuk selalu menyesuaikan keadaan karena bagaimanapun tiap anak adalah satu <span style="color: #ff6600;">pribadi yang unik</span>!.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/19/pribadi-unik-seorang-baby-oleh-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sophie di Usia 21 Bulan (Oleh Ayah)</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/08/sophie-di-usia-21-bulan/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/08/sophie-di-usia-21-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 16:40:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[<strong><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (08102009-19.47) </span></strong>
<p style="text-align: justify;">Genap berusia 21 bulan usia Baby Sophie tanggal 2 Oktober lalu.  Saya kadang tak sadar akan perkembangan serta perubahannya yang sangat cepat baik fisik maupun pemikirannya. Mungkin hal ini karena saya dan Bundanya selalu bersamanya setiap hari maka taklah terasa perubahan yang terjadi pada dirinya.  Baru saya akan terbelalak dan terkaget-kaget bila saya kembali membuka file photo-photo serta video dia yang tersimpan rapi di external disk andalan saya.  Terperangah melihat begitu berubah fisiknya tiap bulan dan begitu cepat kebisaannya berkembang.  Sepertinya ini menjadi berkah yang sangat saya syukuri  dimana saya dan Bunda masih mampu untuk membagi kasih kepadanya melalui tangan kami sendiri serta melihatnya tumbuh dipangkuan kami.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Sophie in Green" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/5368_99469553369_729063369_2080770_.jpg" alt="" width="197" height="296" /></p>
<p style="text-align: justify;">Satu hal yang bohong bila saya tak mempunyai kecemasan terhadap masa depan Baby Sophie.  Tidak saja kecemasan bahwa saya tak akan mampu untuk memberikan hal terbaik bagi dirinya, membentuk sesuai dengan kebutuhannya, mendidiknya secara tepat  namun juga ketakutan akan banyak hal diluar sana yang tidak bisa selalu kami kendalikan dan awasi. </p> [.......]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #ff0000;">By Be Samyono (08102009-19.47) </span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Genap berusia 21 bulan usia Baby Sophie tanggal 2 Oktober lalu.  Saya kadang tak sadar akan perkembangan serta perubahannya yang sangat cepat baik fisik maupun pemikirannya. Mungkin hal ini karena saya dan Bundanya selalu bersamanya setiap hari maka taklah terasa perubahan yang terjadi pada dirinya.  Baru saya akan terbelalak dan terkaget-kaget bila saya kembali membuka file photo-photo serta video dia yang tersimpan rapi di external disk andalan saya.  Terperangah melihat begitu berubah fisiknya tiap bulan dan begitu cepat kebisaannya berkembang.  Sepertinya ini menjadi berkah yang sangat saya syukuri  dimana saya dan Bunda masih mampu untuk membagi kasih kepadanya melalui tangan kami sendiri serta melihatnya tumbuh dipangkuan kami.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Sophie in Green" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/5368_99469553369_729063369_2080770_.jpg" alt="" width="197" height="296" /></p>
<p style="text-align: justify;">Satu hal yang bohong bila saya tak mempunyai kecemasan terhadap masa depan Baby Sophie.  Tidak saja kecemasan bahwa saya tak akan mampu untuk memberikan hal terbaik bagi dirinya, membentuk sesuai dengan kebutuhannya, mendidiknya secara tepat  namun juga ketakutan akan banyak hal diluar sana yang tidak bisa selalu kami kendalikan dan awasi. Namun kembali berulang saya yakinkan diri saya dan selalu meminta penguatan dari Bunda Sophie bahwa:</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Anak adalah kasih yang Allah titipkan.  Melalui dirinyalah seharusnya syukur dan tanggung jawab kami sebagai orang tua harus kami penuhi.  Tak perlu ada kecemasan selama selalu bersikap yakin dan menanamkan keihklasan disetiap langkah dalam memeliharanya tanpa mengharap balasan.  Hingga pada akhirnya tak pernah ada  beban dan hutang budi diantara kami.  Karena bagaimanapun hubungan antar anak dan orang tua adalah hubungan kasih dalam hak dan kewajiban serta pertanggungjawaban bukanlah hubungan hutang-piutang yang harus terlunasi.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Karena anak adalah titipan, dia bukanlah saya, bukan pula bundanya.  Dia adalah dirinya.  Kesadaran akan hal ini saya upayakan untuk dibawa dalam cara mendidiknya.  Kami hanya berperan sebagai pengarah dan pembentuk serta pemberi rambu, biarlah dia yang menentukan langkah dan inginnya.  Anak juga satu pribadi yang unik hingga wajar setiap cara didik haruslah berbeda pendekatannya dan metodenya.</p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">Dan terakhir, keluarga adalah pendidik paling utama agar dia bisa  menentukan sikap di lingkuangan luar.  Prinsip hidup diupayakan ditanamkan sedari dini.  Dan dari keluargalah yang harus mempersiapkan semua itu hingga anak mengerti antara hak-kewajiban, salah-benar juga memahami kemana tujuan hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga hal ini bisa selalu saya sadari &#8230;.Semoga doa sederhana saya untuk selalu bisa bersyukur akan hadirnya serta pinta untuk selalu diberi keikhlasan dan kekuatan sebagai orang tua yang bisa memberi hal terbaik bagi langkahnya, bisa di dengarnya.  Tak lupa pinta agar dia bisa selalu meletakkan bunga seroja di telapak bundanya &#8230;&#8230;. tuk mengharumkan <span style="color: #ff6600;">SURGANYA</span> kelak.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;">Amin!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/10/08/sophie-di-usia-21-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aminnya Sophie</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/09/03/161/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/09/03/161/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 06:06:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh Sophie]]></category>
		<category><![CDATA[baby sophie]]></category>
		<category><![CDATA[celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (03092009.11.12) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lebih dari satu tahun ayah tak mengupdet celotehku.  Kesibukan kuliah ayah menjadi salah satu penyebab.  Agar tidak lupa akan perkembanganku ayah sering   menuliskan garis besarnya sebagai note di bukunya.  Namun kembali Begitu note itu makin panjang makin tidak sempatlah ayah menuliskannya kembali ke blog.    Inginnya ayah menuliskannya secara teratur kembali dari awal, namun melihat kondisi sepertinya itu tidak mungkin.  Akhirnya disepakati saja untuk   menuliskannya dengan disiplin pelan-pelan maju ke depan walau mungkin itu akan ada flash back pada cerita lama nantinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="copy" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/5_renamed_19351.jpg" alt="" width="237" height="179" /></p>
<p style="text-align: center;"></p>
<p style="text-align: justify;">Tanggal 2 september kemarin telah 20 bulan usiaku. Banyak loh yang memuji aku cantik dan pinter. Wah kalau sudah dipuji begini bunda bilang aku suka <span style="color: #ff6600;">"caper" </span>ah masa   sih. [........] </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (03092009.11.12) </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lebih dari satu tahun ayah tak mengupdet celotehku.  Kesibukan kuliah ayah menjadi salah satu penyebab.  Agar tidak lupa akan perkembanganku ayah sering   menuliskan garis besarnya sebagai note di bukunya.  Namun kembali Begitu note itu makin panjang makin tidak sempatlah ayah menuliskannya kembali ke blog.    Inginnya ayah menuliskannya secara teratur kembali dari awal, namun melihat kondisi sepertinya itu tidak mungkin.  Akhirnya disepakati saja untuk   menuliskannya dengan disiplin pelan-pelan maju ke depan walau mungkin itu akan ada flash back pada cerita lama nantinya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="copy" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/5_renamed_19351.jpg" alt="" width="237" height="179" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Tanggal 2 september kemarin telah 20 bulan usiaku. Banyak loh yang memuji aku cantik dan pinter. Wah kalau sudah dipuji begini bunda bilang aku suka <span style="color: #ff6600;">&#8220;caper&#8221; </span>ah masa   sih. Yang pasti beberapa kebiasaan yang diajarkan bunda sudah bisa aku kerjakan secara rutin sekarang.  Bahkan kalau bunda lupa aku sering mengingatkan   dengan  memintanya sendiri.  Kalau sudah begini Tante Nur yang kan terkekeh sambil bilang &#8220;Tua banget sih kamu mikirnya!&#8221;.  Kebiasaan rutin malam yang tak   pernah aku lupakan sebelum tidur adalah sikat gigi, cuci kaki, ganti baju tidur dan berdoa.  Sikat gigi sudah aku lakukan saat umurku masih 13 bulan, waktu gigiku masih 4 buah.  Perkembangan gigiku memang lambat.  Umur satu tahun baru ada satu gigi   namun seiring umur, gigiku lumayan cepat tumbuh. Malah sekarang sudah hampir lengkap. Bunda memebelikan satu set sikat gigi yang bermacam-macam ujungnya.    Mulai yang berujung karet dan berujung sikat sesuai dengan penggunaan.  Tak ada penolakan dariku saat gosok gigi karena akupun sangat menyukai.  Biasanya   Bunda dulu yang menggosokkan gigiku baru selanjutnya aku yang menggosok sendiri atau mengigit-gigit tepatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah cuci kaki, bunda selalu menggantikan bajuku dengan baju tidur.  Ayahpun sering melakukannya.  Namun belakangan ini aku lebih senang mengambil sendiri   dan memakaikannya sendiri walau selalu ada teriakan &#8220;Wah &#8230; bajunya dilemari jadi berantakan deh&#8221;. Teriakan yang pada akhirya menyuruhku untuk membantu   mengemasi. Gak papa deh namanya juga sedang belajar.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdoa yang diajarkan bunda adalah membaca basmalah dan mengakirinya dengan kata amin.  Seringkali aku tak sabaran untuk mengakhirinya dengan amin karena   ingin cepat-cepat nenen.  Kalau sudah begini Bunda suka tertawa dan meminta aku mengulangnya kembali. Ah bunda khan dah ngantuk!  Aku tahu kalau amin itu   selalu diakhiri dengan mengusapkan dua telapak tangan di muka.  Itu yang sering aku lihat dan aku tirukan saat ayah bunda melakukan solat.  Aku khan sering   ikut-ikutan sholat makanya bunda menyediakan mukena kecil pula untuk aku pakai.  Biasanya abis sholat aku dipangku sama ayah bunda dan membaca basmallah   serta diakhiri dengan amin.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun kejadian lucu terjadi saat aku diajak bunda solat tarawih di rumah kemarin. Setelah sholat Isya&#8217; bunda memangku aku karena imam sedang membacakan doa.    setiap kalimat yang dibacakan imam disahut dengan kata <span style="color: #ff6600;">AMIN</span> oleh para jemaah, olehku, juga oleh bunda berulang-ulang.  Namun karena ingatku kalau selesai   bilang amin harus mengusap muka dengan dua belah telapak tangan, maka aku usapkanlah telapak tanganku berulang ulang begitu disebut kata amin.  Bunda tak   menyadari hal ini sampe beberapa saat hingga terpingkallah bunda begitu melihat!</p>
<p style="text-align: justify;">Kudengar bunda cerita ke ayah sambil terbahak &#8220;Bunda hanya bisa nahan geli saja, Abis bagaimana menjelaskannya yah soal amin ini!&#8221; Akh bunda aku khan malu &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/09/03/161/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Profesionalisme Di Sebuah Hoby</title>
		<link>http://samroads.be-samyono.com/2009/08/29/profesionalisme-di-sebuah-hoby/</link>
		<comments>http://samroads.be-samyono.com/2009/08/29/profesionalisme-di-sebuah-hoby/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 14:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besamyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://samroads.be-samyono.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bisa dikatakan tennis hanyalah sebuah hoby.  Sayangnya permainan ini tidak memungkinkan bagi saya untuk memainkannya sendiri.  Harus ada teman. Dan memang itulah yang membuat terasa fun.  Meski bila dihitung kini hampir 5 tahun usia Komunitas MHI tennis, namun masih terasa seperti kemarin saja keinginan saya untuk bisa main tenis bisa terlengkapi dengan hadirnya 5 teman main pertama saya. Masih melekat diingatan, waktu itu semuanya sangat</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Logo MHI" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/MHITennisLogo2.jpg" alt="" width="227" height="131" /></p>
<p style="text-align: center;"></p>
<p style="text-align: justify;">sederhana  dan mudah. Kami berlima terkumpul dari milis majalah menshealth, saling bantu mencari lapangan, dapat dan langsung bermain. Se-simple itu.  Tak ada hal ribet lain yang harus dipikirkan kecuali bermain.  Karena bagaimanapun kami satu hampir satu level permainan dan tak ada masalah administrasi yang dibebankan kecuali iuran per quarter.  Hal itu berlangsung hingga 3 bulan kemudian, kami hanya berfikir untuk bisa datang dan bermain itu saja.[........]</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>By Be Samyono (27032009.20.03)</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Bisa dikatakan tennis hanyalah sebuah hoby.  Sayangnya permainan ini tidak memungkinkan bagi saya untuk memainkannya sendiri.  Harus ada teman. Dan memang itulah yang membuat terasa fun.  Meski bila dihitung kini hampir 5 tahun usia Komunitas MHI tennis, namun masih terasa seperti kemarin saja keinginan saya untuk bisa main tenis bisa terlengkapi dengan hadirnya 5 teman main pertama saya. Masih melekat diingatan, waktu itu semuanya sangat</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Logo MHI" src="http://img.photobucket.com/albums/v246/be_samyono/MHITennisLogo2.jpg" alt="" width="227" height="131" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">sederhana dan mudah. Kami berlima terkumpul dari milis majalah menshealth, saling bantu mencari lapangan, dapat dan langsung bermain. Se-simple itu.  Tak ada hal ribet lain yang harus dipikirkan kecuali bermain.  Karena bagaimanapun kami satu hampir satu level permainan dan tak ada masalah administrasi yang dibebankan kecuali iuran per quarter.  Hal itu berlangsung hingga 3 bulan kemudian, kami hanya berfikir untuk bisa datang dan bermain itu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ketika kami pada akhirnya membuka diri dengan mengundang rekan-rekan lain untuk bergabung hingga waktu berjalan 3 tahun berikutnya. Kami masih berfikir sederhana untuk menjalani ini semua. maunya hanya datang dan bermain kami masih mengelola komunitas ini dengan mengetengahkan pertemanan yang kental meski pada akhirnya kami sendiri yang harus babak belur menanggung akibatnya.   Tak dipungkiri kondisi ini justru menciptakan ketidak disiplinan yang merembet pada terpuruknya komunitas.  Bahkan kami hanya tinggal 5 orang yang masih bertahan dari 24 orang yang biasanya hadir.  Kondisi sedemikian parah hingga mau tak mau kami harus membuat keputusan dan tidak berfikir sederhana lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayapun masih ingat kepindahan ke lapangan Patra adalah moment awal perubahan tersebut. Disepakati bahwa MHI tennis harus dikelola dengan satu manajemen.  Yang artinya ada aturan permainan bagi para anggotanya dan berbagai hal yang tentunya ini sangat jauh bila dikatakan sederhana.  Alasan perubahan ini tak lain karena kami ingin meletakkan MHI Tennis pada pijakannya semula, pada motto <span style="color: #ff6600;">FUN, FRIENDLY &amp; HEALTHY.</span> Pijakan ini memberi penegasan bahwa MHI Tennis mempunyai keanggotaan yang terbuka tidak memandang latar belakang ataupun level permainannya.  Siapapun diperkenankan masuk dengan batasan quota jumlah pemain bukan pada skill levellnya.  Selain itu ada keinginan MHI TEnnis untuk tetap eksis sebagai satu komunitas bagi pemain dan penggemar tennis.  Tentunya mau tak mau semua ini membutuhkan profesionalisme dalam pengelolaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir satu tahun manajemen MHI Tennis berjalan dengan penerapan profesionalisme.  Tak hanya kemajuan minor yang didapat namun juga progres mayor seperti bertambahnya keanggotaan dan skill level permainan anggota menjadi satu pencapaian tersendiri.  Dibalik kebanggaan saya dan beberapa rekan yang mengendalikan komunitas ini agaknya kembali permasalahan klasik muncul.  hal ini sangan memukul terlebih bagi saya yang merupakan satu-satunya founder yang masih bertahan disini.  Ini merupakan tantangan berat yang tak hanya harus dihadapi tapi mestinya bisa saling dikomunikasikan.</p>
<p style="text-align: justify;">masalah klasik ini adalah munculnya anggapan bahwa MHI Tennis mengebiri prestasi anggotanya. Kembali ke awal, satu konsekwensi dari terbukanya keanggotaan MHI tennis adalah munculnya HETEROGENITAS yang sangat lebar antar anggota.  Keragaman ini bukan hanya terpaku pada hal pokok seperti skill level tapi juga usia serta latar belakang.  Hal inilah yang membuat aspirasi dan keinginan anggota semakin beragam utamanya menyoroti masalah skill level permainan.  Jalan tengah yang bisa dilakukan koordinator adalah mendesain pelatihan yang sesuai dengan keragaman skill ini ditambah kesempatan diadakannya event pertandingan intern dan ekstern.  Mungkin bagi anggota pemula hal ini lebih dari cukup namun berbeda pemikiran bagi yang memiliki kemampuan advance.</p>
<p style="text-align: justify;">MHI tennis tidak mempermasalahkan anggotanya berlatih diluar jadwal latihan resmi dimana saja dengan siapa saja untuk meningkatkan kemampuan level individu bagi yang menginginkannya.  Karena kembali MHI Tennis tidak terikat keanggotaannya dan MHI Tennispun menyadari program pelatihan yang ditawarkan tidak bisa terfokus hanya untuk satu level saja.  Bila pada akhirnya seleksi alam akan terjadi dimana anggota dengan level advance mengundurkan diri dan membentuk komunitas baru, MHI Tennis sama sekali tidak mempermasalahkan dan justru mendukung.  Karena bagaimanapun Segmentasi dan Positioning MHI Tennis telah jelas untuk siapa.  Kebanggaan kami justru membubung kami menganggapnya sebagai &#8220;alumni&#8221; yang telah mampu membentuk komunitas baru sesuai dengan tujuan pelatihannya atau kesamaan level permainannya.  Pun tak ada keberatan pula bagi kami jika beberapa anggota kami &#8220;dibajak&#8221; untuk bergabung di komunitas lain.  Karena disisi lain kamipun tak kalah bangga melihat beberapa rekan yang sebelumnya tak mampu bermain tenis dan sulit untuk menemukan komunitas yang bisa membuat mereka bisa bermain kini menunjukkan progres permainan yang patut diacungi jempol.</p>
<p style="text-align: justify;">Terbetik juga keluhan beberapa anggota baru yang menyatakan  bahwa banyaknya aturan di MHI Tennis. saya yakin keluhan itu akan sirna bila rekan baru tersebut mau sedikit melihat MHI Tennis dari pandangan yang lebih detail.  Menyadari akan keragaman yang ada dalam komunitas yang mau tak mau harus ada aturan untuk mengakomodir semua kepentingan.  Saya selalu berusaha untuk menyeimbangkan semua kepentingan  dan tentunya kami tidak mau kembali seperti kondisi awal dimana justru kesimpelan menjadi bumerang bagi komunitas. Mungkin kembali kesadaran harus ditumbuhkan bahwa peraturan ini tak lebih dari instrumen agar ada rambu bagi keragaman keinginan dan kepentingan yang ada dalam komunitas ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya masih punya keyakinan kesimpang siuran diatas hanyalah perbedaan cara pandang belaka.  Saya masih meyakini itu adalah buah perhatian dari anggota untuk memberikan yang terbaik pada komunitas.  Meski pada akhirnya kembali pada pijakan kita semua itu diletakkan dan diputuskan.  Komunitas ini tak ubahnya kini seperti sebuah lokomotif Organisasi profesional yang mempunya cara pandang dan tujuan kedepan.  Bisa jadi penumpang didalamnya akan turun dan naik sesuai dengan kenyamanan dan tujuan mereka bermain, apakah sejurusan atau tidak.  Namun bagaimanapun itu tidak menyurutkan MHI Tennis untuk berhenti mencapai tujuannya.  MHI Tennis akan tetap terus berjalan dan berpijak pada keyakinannya selama ini.  Dan selalu berupaya memberi nilai lebih bagi pecinta olahraga ini melalui caranya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Seperti pernah seorang rekan senior di MHI tennis mempertanyakan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sam kenapa mengatur MHI tennis sekarang lebih merepotkan daripada dulu ya&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">saya hanya bisa menyabarkan dan berdalih.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wajarlah kita kini tidak berangkat dari homogenitas anggota.  Kita sekarang heterogen&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya ya &#8230; yang mainpun tak banyak yang seumuran kita lagi, semakin beregenerasi&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kini kita baru menyadari ketuaan kita yah&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hahahahaha&#8221; rekan saya tersipu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Saya bisa katakan sistem telah berjalan di komunitas MHI.  Tak peduli siapa yang menjalankan dan sampai kapan akan berjalan.  Selama sistem tersebut berfungsi dengan baik.  Bukan saya atau junior saya yang pada akhirnya menentukan perjalanan MHi Tennis.  <span style="color: #ff6600;">Tapi MHI Tennis Itu sendiri.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://samroads.be-samyono.com/2009/08/29/profesionalisme-di-sebuah-hoby/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
