Ibu

Jauh dari “kehidupan Baru” dalam arti terlibat di dunia tumbuh kembang balita membuat saya mempunyai pemikiran yang praktis selama ini bahwa wanita dan pria mempunyai beban yang sama utamanya dalam merawat anak. Beban yang sama berat meski punya dimensi aplikasi yang berbeda. Saya salah! dan harus mengakui itu. Meski dibilang tanggung jawab merawat anak sama besar namun nyatanya seorang ibu mempunyai beban fisik dan psikis yang jauh lebih berat dibanding seorang ayah. Bahkan kondisi ini mulai berlangsung begitu dini saat anak mulai membentuk dirinya sebagai janin dalam rahim. Saya selama ini hanya tersenyum bila mendengar keluh seorang ibu yang memaparkan cerita betapa repotnya menyusui, mengasuh anak ataupun berada dalam kondisi hamil. Senyum saya bermakna kata”kenapa repot?” karena bagaimanapun semua itu toh hal yang natural. Hal yag lazim dan sudah menjadi tanggung jawab tak terbantahkan. Saya melihat keluhan itu bagai suatu dalih.

Enam hari ini saya berjumpa dengan “kehidupan baru” itu setelah 39 minggu saya terlibat dalam kondisi kehamilan istri saya. Saya ikut merasakan bagaimana 3 bulan pertama kehamilan merupakan kondisi yang sama-sama serba salah. Ketidakadanya pengalaman karena merupakan satu keluarga yang baru dan kondisi psikis yang terbentuk karena perubahan hormon istri menjadi pemicu dasar yang tak bisa dihindari. Meski bulan selanjutnya sudah mulai beradaptasi tapi menjelang tiga bulan terakhir sebelum melahirkan kembali kondisi itu muncul. Utamanya karena perkembangan janin yang makin besar sudah tidak bisa kembali memberikan kenyamanan fisk bagi seorang ibu. Terlebih bila dihadapkan pada kecemasan menjelang melahirkan, menjadikan situasi makin tidak konduksif.[…….]

Continue Reading

You may also like

Kinanthi Sophia Ambalika Namaku

Hari itu, 02 Januari 2008. Waktu masih menunjukkan pukul 07.45. Ibu Dijemput oleh seorang suster RSB. Asih di kamarnya. Ayah agak kaget karena dijadwalkan pukul 09.00 nanti baru akan dilakukan operasi caesar. Namun suster menerangkan ada persiapan operasi yang memakan waktu 1 jam-an. Ayahpun melepas Bunda dengan peluk dan ciuman sembari menyembunyikan betapa lemasnya kaki Ayah saat itu.

Semalam sebelumnya tepatnya, Bunda telah menginap di kamar 1.3 ini dan beberapa kali menjalani pemeriksaaan medis sebelum operasi caesar. Utamanya pemeriksaan jantung yang dilakukan berulang kali. Sementara ayah disibukkan dengan beberapa berkas yang harus diisi dan ditandatangani. Kakek, Nenek, Oom Mumu & Oom Pik yang mengantar malam itu cukup menemani terutama buat Ayah yang ternyata lebih cemas menghadapi pertemuan kami hari ini. Bisa dibayangkan kalau kemarin Ayah sudah cemas apalagi saat ini. Beberapa kali pikiran ayah jadi tak selaras dengan tindakannya dan beberapa kali pula kamar mandi jadi persinggahannya. Ah … Bunda memang lebih hebat. Menghadapi pertemuan ini dengan senyuman.[…….]

Continue Reading

You may also like