
February 21st, 2010
Perhelatan program “Berbagi Kasih” bersama MHI Tennis telah usai. Penyerahan donasi yang dibarengin dengan acara penanda 5 tahun MHI tennispun telah selesai. Demikian juga dengan pengiriman pertanggungjawaban atas donasi dan sponsorship telah di penuhi. Bila dikata cukup singkat program ini disiapkan dan berjalan. Seminggu untuk persiapan dan selebihnya 3 minggu untuk pelaksanaan. Tak ada kata selain ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus pada rekan se-team, rekan MHI donatur, sponsor serta supporter atas kolaborasi dan bantuannya dalam bentuk apapun. Tak ada kontribusi yang tidak konstruktif tak ada pula bantuan yang tak membangun. Saya pribadi yakin sekecil apapun bantuan yang diberikan saling tertaut dan memberikan makna dalam program ini.

Pemakluman saya sedemikian lebar akan kepesimisan berbagai pihak merujuk pada hasil maksimal program ini nantinya mengacu pada keterbatasan waktu serta pengalaman dalam mengelola acara semacam ini. Namun saya dan beberapa rekan tetap berambisi untuk membuktikan bahwa masih banyak kepedulian yang dipunyai oleh sebagian besar teman-teman MHI Tennis. Bukan keinginan untuk jumawa tapi pembuktian bahwa pasti ada jalan untuk sebuah niat tulus dalam berbagi kepada sesama. Jujur ketika kami menawarkan keinginan untuk membantu Panti asuhan Kampung Melayu tak ada yang kami punya kecuali 200% ketulusan dan keiklasan untuk menyisihkan waktu dan tenaga untuk program acara ini.[.......]
No Comments » | Read on »

February 16th, 2010
Media Release: “Mengenalkan sejak dini” mungkin inilah kata yang tepat untuk bisa dipikirkan lebih mendalam dan dijabarkan dalam tindakan kongkrit guna mengatasi keterpurukan dunia olah raga Indonesia. Tenis salah satu contoh olah raga tersebut. Pandangan tenis sebagai olah raga mahal dan teruntuk manula menghasilkan pembibitan yang gersang dan prestasi yang tumpul. Sejak era Yayuk Basuki dan Angelique Widjaja tak ada catatan anak negeri ini berhasil menapak 100 besar peringkat petenis dunia. Satu hal yang ironis padahal tennis merupakan olahraga yang menjanjikan serta mempunyai apresiasi serta struktur yang mapan bagi seorang atlet.

Berpijak pada kondisi itu di ulang tahunnya yang ke 5, MHI Tennis mengajak 40 anak Panti Asuhan kampung Melayu untuk mengikuti acara Tennis Coaching. Anak-anak setingkat SD dan SMP itu akan diperkenalkan pada tenis dan dibekali cara-cara bermain tennis secara langsung Pelatih. Serunya lagi anak-anak ini akan dipandu langsung oleh kakak-kakak MHI tennis dan akan dipadukan dengan fun game[........]
No Comments » | Read on »

February 3rd, 2010
Tak ada keajaiban bagi saya selain melihat Sophie tumbuh dengan segala kebisaannya serta berkembang dengan segala sifat dan raga yang mencerminkan paduan antara saya dan bundanya. Bundanyalah yang mengisi ragawinya dengan kecantikan, kulit putih dan daya tahan tubuh yang luar biasa. Sementara banyak sifat dirinya yang merefleksikan sifat kecil saya seperti banyak omong, keras kepala, sensitif, smart dan amat sangat kreatif. Paduan yang membuat kami sebagai orang tua tak perlu lagi memperebutkan kehakikian kemiripannya dengan kami. Karena bagaimanapun kehadiran dia di sisi kami sudah lebih dari kata rahmat yang harus kami syukuri dan kami pertanggungjawabkan.

Tepat 2 januari kemarin genap 2 tahun usia Sophie. Seperti tahun lalu, ulang tahunnyapun diadakan di Jogja dan Jakarta. Bedanya tahun lalu ulang tahun di Yogya harus di dahului dengan sakit panas karena tumbuh gigi, semeantara kali ini ulang tahun di Jakarta justru yang harus diundur karena sophie kelelahan selama roadshow pulang kampung dan tertularnya virus yang menyerupai cacar air selama 3 hari [.......]
1 Comment » | Read on »

January 11th, 2010
Ayah pernah bilang ke aku bahwa kami beruntung atas hadirnya Bunda. Dan ayah selalu bilang bahwa dia berterima kasih kepada bunda yang bisa diandalkan dalam merawatku. Tidak hanya tahu bagaimana merawat tapi juga punya strategi bagaimana mendidikku. Cerita ayah, beliau sebenarnya tak berharap banyak akan kebisaan bunda ini mengingat betapa tomboy dan cueknya Bunda. Hingga apa yang telah Bunda berikan kini bisa dikatakan sebagai hal luar biasa yang ayah dan aku terima. Tak bisa dibayangkan bagaimana bila hanya ayah yang harus mengambil alih peran itu? aku yakin tak hanya berantakan tapi juga kekalangkabutan akan terjadi setiap harinya. Bayangkan saja selama ini hanya sekali ayah mencebokiku. Selebihnya ayah hanya bisa teriak memohon “Bundaaaaaa!” begitu aku bikin Creamy. Pun kalau aku lagi sakit dan muntah, jangan harap bisa di bantu ayah. Karena ayah akan ikutan muntah dengan tidak kalah hebat. Ayah benar-benar ayah yang aneh yah hahahaha.

Apakah ayah memang benar-benar aneh seperti kataku? yaiyalah. Kadang kakak, nenek atau tante suka geleng kepala melihat bagaimana cara ayah mengajakku bermain juga cara aku diajak belajar. Pendek kata ayah mengajarku bermain dengan caranya sendiri. Mungkin karena unik inilah aku lebih suka bermain dengan ayah daripada dengan bunda. Ayah tak segan untuk bertingkah diluar nalar atau menirukan hal yang tak lazim untuk membuatku tertawa atau mengembangkan imajinasiku. Ayahpun jarang mencontohkan memainkan mainanku secara standart. Biar kreatif begitulah dalihnya [........]
No Comments » | Read on »

December 23rd, 2009
“Bunda aku mau sekolah” Demikian rengekku. Dan kalang kabutlah Bundaku dibuatnya. ini bukan permintaanku yang pertama juga bukan ke tiga. Ini kesekian kalinya. Dan keinginan ini makin besar tiap kali aku melihat kakak-kakak berbaju seragam atau ayah pamit untuk mengajar. Dan aku begitu riang begitu Bunda berjanji akan mencarikan tempat sekolah untukku. Aku pikir keinginanku bersekolah tak berlebihan karena aku punya banyak buku, tas sekolah dan aku suka menyanyi. Meski tante bilang sekolah itu melelahkan tapi aku melihat kegembiraan disana.

Kakek dan nenek ikut meributkan hal ini. Berbeda dari yang diharapkan mereka justru kawatir kalau aku ke sekolah. Terlalu kecil itu alasannya disamping ketakutan bahwa aku akan menghadapi kebosanan. Beda persepsi mungkin menjadi penyebabnya. Di benak kakek-nenek sekolah adalah duduk dibelakang meja dengan setumpuk PR. sekolah ada kegiatan yang akan membuat anak makin tertekan dan menjadi jera bila masuk sekolah. Mungkin mereka belum paham bahwa system pendidikan terus berkembangdan disesuaikan dengan kebutuhan anak. Inilah yang harus Ayah Bunda komunikasikan hingga keinginanku untuk sekolah bisa direspon dengan tepat [.......]
2 Comments; | Read on »
« Previous Page