Belum Ada Kata Jaya di Jayapura
Lima tahun lalu saat saya berkesempatan untuk mengunjungi propinsi paling barat Indonesia, Nangro Aceh Darusallam. Perasaan saya begitu girang dan tak sabar hari itu datang. Cerita tentang ketakjuban serambi mekkah ini layaknya dongeng di telinga saya. Terlebih saat itu baru genap 1 tahun propinsi di ujung barat ini bangkit dari peristiwa tsunami yang berkategori bencana dunia. Suatu kesempatan luar biasa bisa mengunjungi propinsi paling ujung timur ini. April tahun lalu kesempatan tak diduga datang untuk mengunjungi propinsi paling timur Negeri ini, Papua. Meski sama-sama untuk urusan kerja namun ternyata perasaan saya tak sama saat menerima tawaran ini. Meskipun Bunda Sophie yang telah 2 kali kesana dan selalu memaparkan keindahan propinsi ini namun perjalanan udara selama 8 jam membuat nyali saya mengecil.

Saya bisa jadi termasuk orang yang suka jalan, penikmat keindahan terutama laut dan landscape kota. Saya bisa merelakan apapun untuk sekedar bisa jalan. Satu bakat yang terlihat menurun pada anak kami. Namun bila dihadapkan dengan perjalanan udara, tunggu dulu. Perjalanan ke Jogja atau Singapura selama 1,5 jam sudah terasa begitu lama dan mengerikan. Apalagi 8 jam, di waktu malam!. Saya seperti kehilangan selera untuk kepergian ini. Tak kurang akal Bunda Sophie memberikan pil kina untuk jaga-jaga terhadap malaria serta antimo. Ide yang bagus, pikir saya. Saya tidak pernah mabuk perjalanan namun antimo ini saya rasa akan bisa menyenyakkan saya selama perjalanan. [.......]






