image
sambooks

Belum Ada Kata Jaya di Jayapura

October 9th, 2011

By Be Samyono (15042010.08-30)

Lima tahun lalu saat saya berkesempatan untuk mengunjungi propinsi paling barat Indonesia, Nangro Aceh Darusallam.  Perasaan saya begitu girang dan tak sabar hari itu datang.  Cerita tentang ketakjuban serambi mekkah ini layaknya dongeng di telinga saya.  Terlebih saat itu baru genap 1 tahun propinsi di ujung barat ini bangkit dari peristiwa tsunami yang berkategori bencana dunia. Suatu kesempatan luar biasa bisa mengunjungi propinsi paling ujung timur ini.  April tahun lalu kesempatan tak diduga datang untuk mengunjungi propinsi paling timur Negeri ini, Papua.  Meski sama-sama untuk urusan kerja namun ternyata perasaan saya tak sama saat menerima tawaran ini.  Meskipun Bunda Sophie yang telah 2 kali kesana dan selalu memaparkan keindahan propinsi ini namun perjalanan udara selama 8 jam membuat nyali saya mengecil.

Saya bisa jadi termasuk orang yang suka jalan, penikmat keindahan terutama laut dan landscape kota.  Saya bisa merelakan apapun untuk sekedar bisa jalan.  Satu bakat yang terlihat menurun pada anak kami.  Namun bila dihadapkan dengan perjalanan udara, tunggu dulu.  Perjalanan ke Jogja atau Singapura selama 1,5 jam sudah terasa begitu lama dan mengerikan.  Apalagi 8 jam, di waktu malam!.  Saya seperti kehilangan selera untuk kepergian ini. Tak kurang akal Bunda Sophie memberikan pil kina untuk jaga-jaga terhadap malaria serta antimo.  Ide yang bagus, pikir saya.  Saya tidak pernah mabuk perjalanan namun antimo ini saya rasa akan bisa menyenyakkan saya selama perjalanan.

Saat check in di counter garuda saya memperoleh informasi, pesawat GA yang saya tumpangi akan dua kali transit di Makasar dan Biak.  Sembari menunggu boarding pukul 20.50 saya bergegas ke executive lounge Bank Mandiri untuk charging blackberry dan mencari kesempatan meminum antimo saya, dua pekerjaan penting yang tak boleh saya lewatkan malam itu.  Televisi ramai menyiarkan penangkapan Susno Duadji yang terjadi sorenya.  Saya menyimaknya tak lebih dari melihat tayangan sinetron. Menggelikan.  Saya lebih tertarik untuk menelephon Sophie dan Bundanya.  Sophie mengerti keberangkatan saya dan dia hanya menginginkan saya membawakan buku tempel-tempel sepulang saya nanti.  Satu rule, saya tidak akan menyebutkan kepergian saya dengan pesawat terbang, karena sudah pasti dia tak akan merelakan saya berangkat ini tanpa keikutsertaannya.

Pesawat Boing 737 800 berisikan beberapa orang air crew setengah umur ramah menyambut kami yang rata-rata adalah pejabat daerah, expatriat dan pekerja tambang.  Saya duduk nyaman di kursi 8B.  Saya selalu bilang kursi pesawat didesain menganut badan saya yang kecil ini, jadi permintaan  maaf sedalamnya bila ada yang mempunyai badan lebih besar dari saya.  Tak berapa lamapun akhirnya saya tertidur dan terbangun saat mendarat di makasar.  Terulang kembali saat mendarat di biak dan kembali terulang saat akan mendarat di Jayapura.  Gangguan yang saya dapatkan hanyalah kegiatan pramugari yang membagikan makanan di dini hari.  Selebihnya antimo memang benar-benar bisa melelapkan saya.

Menjelang pendaratan di pelabuhan Udara Sentani nampak gugusan lebatnya hutan dan luasnya danau sentani begitu menawan berbaur dengan kabut pagi.  Keindahan terelok yang tak terkatakan.  Saya bisa mengamini bahwa surga memang diletakkan di bumi ini.  Sayang pengaminan saya sepertinya sesaat terucap.  Saat pintu pesawat terbuka kekontrasan menyeruak.  Realitas dihamparkan.  Jayapura bukanlah kota yang indah.  Tak lebih dari kota-kota pelosok di pulau jawa yang tertinggal dan tak terawat.  Kesimpulan yang ingin saya katakan bukanlah suatu kritik tapi satu keprihatinan.  Bagai melihat kilau permata yang terbuang di kubangan.  Bukan waktu yang singkat untuk menjuk siapa yang bertanggung jawab tentunya.

Tak bisa dipungkiri bagaimana indah dan uniknya Danau Sentani, eloknya pahatan teluk yang menebarkan gugusan pulau kecil di hamparan pantai jayapura serta kontur pegunungan yang menakjubkan. Namun kembali itu serasa memprihatinkan bila dibandingkan dengan kondisi tata kota, kemajuan, sarana dan prasarana serta perawatan kota yang sangat minim.  Dan bukanlah hal yang murah untuk mendapatkan kebutuhan pokok disana. Tak dibantah, bagi saya ini bukanlah kota yang saya inginkan dan akan saya pertanyakan bagaimana saya bisa menikmati hidup disini.  Satu satunya kondisi yang membuat saya mampu mempertimbangkan adalah keragaman masakan asli papua yang sangat beragam dan kaya rasa.  Bahkan rasa kakap merah bakar yang saya santap dalam porsi besar disana belumlah tergantikan hingga sekarang.

Tiga hari tinggal di hotel Matoa saya mencoba meresapkan semua pengalaman dan kehidupan kota ini dalam nadi saya.  Sayangnya kemauan saya menolaknya.  Pagi buta dihari ke 4 saya mengakhiri perjalanan di kota ini.  Berita tentang perang suku, pertikaian di perbatasan dan penembakan serta pesawat jatuh  seakan masih terus menjadi santapan harian selama disini, ditengah kondisi yang kita sebut kemerdekaan ini.  Dalam perjalanan di pesawat saya memikirkan kondisi disana, mengibaratkan melihat orang kelaparan di lumbung sendiri.  Lapar akan kemajuan yang belum sepenuhnya diberikan.

Filed under: My Journey


Leave a Reply

(required)

(required)


« Matah Ati: Langendriyan Yang Dibesut Ala Broadway - Tanjung Pinang Bukanlah Pangkal Pinang »

About Me



About Mine

    RSS SamBizz

    • Membangun KMB berbasis Coaching
      Terlihat satu pasangan tergelak tawa, yang lain begitu bersemangat saling tanya dan sebagian lainnya terlihat kebingungan dengan apa yang diperbuat.  Komentarpun bermunculan.  Mulai dari  kata sulit, bingung dengan pertanyaan yang akan dilempar hingga kesulitan untuk mengetahui permasalahan rekan pasangannya.  Itulah sekelumit gambaran yang terjadi  saat aca […]
    • Self Coaching Practice
      Tak dipungkiri beberapa kali tercatat ketidak konsistenan merambah pada penulisan blog ini semenjak dibuat.  Alasan klasik, sibuk. Dan alasan yang tak dapat ditolerir adalah kemalasan.  Sementara kebosanan menjadi alasan yang menggantung menginat tulis menulis adalah sebuah passion bagi saya.  Saya tak ingin mencari kambing hitam.  Selain menerimanya sebagai […]

    RSS SamWords [Fiction]

    • Patok
      By Be Samyono (28082009-13.34)Kepalaku sudah dalam peciku, tubuhkupun telah berada dalam sarungku. Dan kini seperti beberapa tahun yang lalu aku kembali berada disini. Di Musholla ini. Musholla persinggahan. Tempat menumpang saat tarawih ramadhan datang.Tak ada yang berubah. Pilar kokoh berukir masihlah menaungi, muram berbalut tarikan benang jaring laba- […]
    • Aku “Dipaku Priaku” Mengucap
      By Be Samyono (17112008-09.30)Hanya terinspirasi begitu saat aku menuliskan fiksi “Dipaku Priaku”. Inspirasi dari beberapa teman dengan pengalaman serupa dan terispirasi dari rekan yang terlepas pasungnya. Sebaris email minggu aku terima dari seorang diantara mereka. Dari seorang AKU “DIPAKU PRIAKU” yang berucap:Hai Sahabatku yang Memahami Hatiku….Setelah se […]

    RSS SamLens [Photography]



My Bizz



My Networks



Category



Recently Writing

Recent Comments

  1. acep: komentar pertama nih, donasi yang bisa di berikan selain uang ap lagi ya???
  2. imgar: mas, apa kabar ? udah lama gak mampir di sini.. hehe..
  3. besamyo: sabar yah tante sepulang jalan-jalan after weekend ini :)
  4. retno hemawati: aku menanti sambungannya, ayo dong segera! hehe
  5. tante mitha ayu: sophie dah diceritain dongeng ny.luma blum sm ayah…:)
  6. sam: iyah nih bunda abin….. betul-betul minggu yang menguras emosi
  7. yna: duh kinan ngambek ya… skr dah ga lagi kan? :) tuk papa-mama, tetap semangat ya, itu wujud protes si kecil...
  8. Susan Noerina: Salam kenal yah Ka Sophie dari Zahia :-) Toss dulu ah Zahia juga ga suka sama yang kotor2. Hihihi,...
  9. koekoeh: happy b’day to sophie ^^!
  10. yaya: maaf kelebihan 1 huruf ;)
  11. yaya: Sophie dah gede aja :D
  12. tuteh: update… :P
  13. tuteh: Wew, buah jatuh nggak jauh dari pohon.. gitu ya, mas Sam? Hehehehe… salam buat keluarga (Sophie dan...
  14. bunda zikra: sophie, kamu lucu banget sih. iya tante setuju deh kalo kamu baby tuwir haha. zikra juga bisa dibilang...
  15. motik: halo sophie… salam kenal juga ya :) ya ampun sophie pinter banget nih ngomongnya udah lancar banget....
  16. bunda kimi: salam kenal kembali dari Mas Akhtar dan adik kimi, waduh..waduh…mbak Sophie sudah pinter banget...
  17. rahasiabunda: cerita yang indah dan menggelitik… luv u baby sophie

Syndicate

  1. RSS 2.0
  2. Atom
  3. RSS 2.0 (Comments)

Statbadge

I am:

Kunjungan:

  • 5 currently online
  • 26 maximum concurrent
  • 83853 total visitors


Socialite


    Komunitas MHI Tennis

    Promote Your Page Too