Gundul ” Buang Sial”
“Jadi di gundul Yah?” Tanya Bunda di minggu pagi 20 Juli 2009 lalu.
“Jadilah”
“Bukan untuk membuang sial khan”
“Haha bukan, tapi buat mempercantik dia kok”
Ah ayah bagaimana bisa, gundul khan tidak membuat aku makin cantik. Tapi bener juga mungkin. Setelah umur empat puluh hari yang lalu aku di gundul saat upacara kekhahan, hingga hampir 7 bulan ini rambutku belum dipotong sama sekali. Bagaimana akan dipotong, panjang rambutku seakan berhenti dan tumbuh tak merata. Mau tak mau harus dirapikan dan cara yang paling tepat adalah dengan menggundulku kembali. Dan biasanya dengan cara menggunduli kembali rambut akan tumbuh lebih lebat dan rata.
“Tapi ini yang terakhir yah” Ujar ayah menyampaikan syarat. “Ayah gak tega melihat dia tanpa rambut”.
Jadilah minggu pagi itu ayah menyiapkan pisau cukur Gillete dan gunting. Ayah yakin sekali akan menggundulku sendiri. Kalau ditanya apakah berani dan tega, sepertinya ayah sudah bertekat bulat untuk melakukan itu sendiri. Dan menggantikan peran Nenek yang tempo hari mencukur aku. Bunda kebagian tugas menggendong aku sementara Ayah lebih dahulu mencukur semua rambutku dengan gunting.[.......]
Jogja Trip: Part 2 (Bad Journey)
Lima tas! ayah terpekik. itupun masih ada car seat yang harus dibawa di gerbong. Padahal hanya ayah, Bunda dan Tante Nung yang akan pulang dengan kereta bersama. Ayah hanya membayangkan bagaimana membawa tas-tas ini. Akhirnya ayah pikir gampang, toh ada porter yang akan bantu nanti di stasiun. Jadi berangkatlah kami menggunakan kereta Tatsaka pagi untuk mengakhiri liburan selama seminggu ini di Jogja dan Magetan. Seperti juga keberangkatan kami, kepulangan kamipun aku lewati dengan gembira. Malah aku jarang tidur. Ayah saja yang agak kebingungan karena Car-seatnya susah untuk diletakkan dibagasi. tahu gitu ayah akan membeli 4 seat agar aku bisa duduk sendiri.
Tak ada masalah hingga perjalanan kami sampai disatu stasiun kecil di daerah subang tepat pukul 5 sore. Tiba-tiba kereta berhenti lama hingga muncul satu pengumuman bila ada kereta terguling di depan sehingga kami harus menunggu selama 2 jam. Aku lihat ayah jadi gelisah. Ayah membicarakan hal terburuk dalam perjalanan ini. Apalagi kalau bukan tiba-tiba kami harus dioper karena biasanya kereta terguling akan lama penangannanya. Kalau dioper ayah bingung bagaimana membawa semua tas ini belum lagi mengatasi kegaduhan selama proses oper. Bunda menenangkan ayah dan berharap ini tak terjadi. Sayangnya Tepat pukul 7 malam terbetik berita kalau proses evakuasi kereta masih lama sehingga penumpang akan dipindahkan ke 5 bus yang akan disediakan oleh PJKA. Nah![........]
Jogja Trip: Part 1 (Great Journey)
Ada acara pernikahan! begitu girang bunda menyambut acara milik mas Banu dan Mbak Novi ini karena bila dihitung-hitung aku sudah lebih dari 6 bulan yang artinya aku sudah bisa diajak pergi perjalanan jauh. Bunda makin bersemangat karena acara ini juga sekaligus bisa digunakan untuk memperkenalkanku pada keluarga di Jogja dan Magetan. Bunda telah ambil cuti panjang demikian juga dengan ayah sudah jauh hari mempersiapkannya. Utamanya undangan dan photo-photo preweding pengantin yang ayah sendiri kerjakan.
JOGJA … KULONUWUN
Rencananya tak hanya aku, ayah dan Bunda yang akan berangkat. kakek-Nenek juga tante Nungpun akan diajak serta. Kami akan berangkat naik kereta dalam rombongan besar. Selain kami ada Papa & Mama Koko, Juga keluarga Oom Mamat yang sekalian ikut untuk berlibur. Mereka ber-lima. Wah bakalan rame di kereta. Dan pastinya akan sesak karena bawaan kami saja banyaknya bikin pusing mata. Ayah bawa tas kamera serta 1 koper ukuran besar. bunda bawa tas koper sedang dengan beberapa tas jinjing. Belum yang dibawa tante Nung juga nenek. Itung-itung ada 7 tas besar. itupun setelah dikurangi karena Kakek mendadak tak bisa ikut karena sakit. Untung saja Strolerku bisa di ikutkan di mobil yang juga ke berangkat ke jogja. Kalo tidak. Pusing pasti. Ayah cuman geleng-geleng karena katanya separuh barang adalah untuk kebutuhanku!.[..........]
Uyut Meninggal
Setelah meninggalnya Uyut Uti beberapa bulan lalu, tanggal 17 Juni 2008 Uyut Kakung dipanggil Allah. Sedih rasanya. Kami semua berencana pergi ke Subang untuk pemakaman. Namun kembali ayah terbentur jadwal kuliah sehingga tidak bisa berangkat malam itu bersama-sama yang lain. Akhirnya kami menyusul keesokan harinya diantar pak Ratno dengan jazzy merah. Wah ini adalah perjalanan jauh pertama aku. Mulanya Ayah dan Bunda kawatir aku akan rewel tapi jangan salah. Aku paling suka AC mobil. Jadi begitu masuk mobil bobok deh. Bangun-bangun sudah sampai Subang, sayang sekali aku melewatkan pemandangan selama perjalanan ke rumah Uyut padahal menurut ayah pemandangannya bagus banget karena melewati beberapa perkebunan karet.
Kami hanya berada di Subang selama setengah hari. Kakek dan nenek masih tinggal sementara kami semua kembali ke Jakarta siang harinya. Kami terbagi dalam 2 mobil. Ayah, bunda, aku dan tante Nung ada di mobil jazzy merah sementara yang lain termasuk baby kemal kemil ada di “alpart”nya oom iwan. Kebut-kebutan deh kami saling mendahului. Cuman malangnya ban belakang mobil oom Iwan kempes di tol. Terpaksa kami berhenti dan Pak Ratno membantu menggantinya. Untung kami berada belakangan bila tidak, bisa sampai tengah malam mereka baru sampai di rumah. Kasihan khan.[.......]
Makan Pertama
Pagi-pagi Bunda sudah sibuk mempersiapkan sesuatu yang baru untukku. Makan siangku – makan pertamaku!. Hari ini tanggal 12 Juni 2008 Bunda sudah meminta nenek untuk membelikan pisang untukku. Rencananya siang nanti adalah waktu makan siang pertamaku. Jauh sebelumnya Bunda sudah konsultasi dengan dokter Rini tentang makanku dan sepertinya aku telah siap untuk makan, mengingat “rakus”nya aku belakangan ini … Hehehe. Dan pisang adalah makanan yang akan pertama aku coba. Selain aman juga gak ada efek samping. Bunda memilih waktu makan ini tak hanya karena kesiapan aku tapi juga karena sebulan lagi aku akan ke Jogja menengok Eyang Ti. Aku harus belajar makan, jangan sampai adaptasiku terlambat sehingga saat perjalanan malah bermasalah. Bener juga rencana Bunda.
Inginnya ayah berangkat siang hari ini untuk melihatku pertama kali makan tapi karena ada kuliah mau tak mau Ayah titip pesan pada Bunda untuk memfoto atau memvideokan aku. tetap yah!. Tepatnya setengah satuan siang Bunda langsung menelephon ayah mengabarkan acara makanku. Bunda panjang lebar cerita bagaimana ekspresi wajahku yang merasa aneh dengan pisang tapi tak berapa lama kemudian langsung tak sabar untuk menanti suapan-suapan berikutnya. wah Rakus begitu komentar terakhir Bunda. Ayah hanya tertawa terlebih setelah tahu aku dibiasakan makan di kursi specialku. Pasti lucu!.[.......]






