Sophia: Blowing Her 6th Candle

By Be Samyono (08072014-13.15) 

Sophia sepertinya bukan lagi si kecil yang suka berceloteh dan menyanyi dengan suara pelat bukan pula si anak yang tidak percaya diri ataupun si kecil yang bisa berayun ayun di pelukan saya.  Usianya telah 6 tahun awal tahun ini.  Padahal seakan saya baru menemuinya kemarin saat dia hadir diantara kami, dengan tangisnya dan dengan kepintarannya nenen di hari pertama kelahirannya.  Masa itu seakan begitu cepat dan kini saya melihatnya tumbuh dalam kecakapan dan kehebatan yang ada di dirinya.  Dia telah membuat kami bangga dengan budi pekerti dan prestasinya.

Pesta ulang tahun ini akan menjadi yang terakhir dilakukannya di TK karena tahun ini Sophia akan menginjak kelas 1 SD.  Selama 3x dia berulang tahun di sekolah saya seperti melihatnya tumbuh dan berkembang dalam fase yang lebih dari harapan kami.  Ketidak percayaan dirinya seakan tidak saya lihat lagi dan yang terlihat adalah prestasi demi prestasi yang membuat saya berkaca-kaca setiap saya memperoleh beritanya.  Terakhir dalam hitungan saya ada 14 piala yang dia  peroleh selama masa TK.  Di semua ekstra kulikuler dia menunjukkan prestasinya bahkan untuk tingkat antar sekolah.  Termasuk juara pertama lomba multimedia komputer antar sekolah.  Namun tidak untuk menari.  Sophia menunjukkan kemampuan individual daripada team seperti komputer, bahasa inggris, menggambar tapi tidak dengan menari.  Dan dia menyadari itu hingga meminta agar les balletnya diganti dengan les piano.

Hal lain yang lebih membuat saya bangga adalah kematangan dan kebesaran hati Sophia dalam bersosialisasi bersama teman-temannya.  Sering kami dikejutkan dengan cerita-cerita mengenai kebaikan hatinya dari guru-guru ataupun orang tua murid lainnya. Kemampuan individualnyapun tidak mengisolasinya untuk bisa bergaul dengan teman temannya.  Terbukti dari begitu disukainya Sophia diantara teman-temannya.  Tak kecuali beberapa teman yang selalu keep in touch yang menurut ayah bunda mereka ada banyak hal positif yang terjadi selama pertemanan mereka karena Sophia.

Dan hadiah terindah yang diberikan Sophia adalah ketika dia termasuk dalam 16 anak dari 90 anak TK yang bisa menyelesaikan  program qiro’ati di sekolahnya dan kini telah menginjak tahap Al Qur’an.  Itu semua terjadi karena kegigihan dan ketekunannya untuk membangun semangat menyelesaikan program ini.  Bagi saya ini merupakan hadiah terindah buat saya.  Tanpa saya pernah meminta kepadanya saya punya keinginan kecil agar Sophia bisa sampai tahap membaca Al Qur’an saat akan masuk SD nanti.  Dan kini. Sophia memenuhinya.   Saya tidak mempunyai kata-kata lagi untuk berterima kasih kepadanya.  Saya akui terhadap Sophia saya cukup keras dan disiplin dibanding adiknya meski saya tidak pernah memaksakan kehendak kepada dia.  Saya hanya menginginkan dia bisa mandiri dan percaya diri.  Satu hal yang kelak saya harapkan bisa menjadi modal bagi hidupnya.

Dua hari lalu Sophia telah menjalani hari pertamanya di SD.  Doa dan harapan dia semakin besar agar dia bisa memampukan dirinya dan bisa menjadi yang terbaik bagi pencapaian dirinya.  Terima kasih kakak telah menjadi kidung kasih dalam keluarga kita. Terima kasih atas airmata haru kebahagiaan yang bisa kami teteskan karena kebisaanmu.  Terima kasih juga telah menjadi penyejuk dan pengikat keluarga seperti yang ayah sandangkan pada namamu.  Semoga keindahan dan keberkatan akan menjadi payung dalam setiap langkah dan tekatmu.  Doa ayah bunda semoga akan menjadi berkah dan keselamatan bagi dirimu.  Big hug!

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *