Hampir sepuluh bulan usiaku. Saatnya Bunda membuka-buka buku untuk mengevaluasi pertumbuhanku. Dan kembali Bunda menanyakan padaku.
“Giginya mana?”
“Hehe” Jawabku tertawa
“Blon juga nongol yah bunda?” Tanya ayah ikut kawatir.

Tak dapat disangkat ocehanku memang dahsyat mulai umur 6 bulan. Bahkan diusia sekarang aku sudah bisa memanggil kata ayah, bilang air, nenek, mimik, dan beberapa kata lain yang dengan amat jelas terucap fasih akupun telah bisa meminta sesuatu dengan menangkupkan tangan dan bilany “wun” atau bertepuk tangan saat aku gembira. Namun untuk urusan gigi rasanya Bunda masih berharap-harap cemas. Bukan itu saja kemampuanku untuk duduk dan merangkakpun menambah kecemasan itu. Aku belum bisa du
[.......]
Lima bulan tepatnya banyak hal mengenai baby sophie yang luput untuk di tuliskan. Meski point-point penting dicatat secara manual olehku. Namun tetap saja kesibukan jadi kambing hitam untuk kealphaanku. Celoteh Sophiepun menjadi sunyi semenjak kepulangan dari libur panjang di jogja bulan Juli lalu. Biasanya aku terlalu jauh menulis mundur mengenai baby Sophie dan saat kesibukan muncul semua jadi terbengkelai. Mestinya aku mesti mengembalikan kebiasaan menulis ini dalam koridor kedisiplinan. Pasti bisa dan harus! Dan berikut rangkumannya:
AWAL AGUSTUS 2008 – KANGEN DOKTER RINI:
Baby Sophie tiba-tiba panas tanpa sebab, ini mencemaskan kami. Namun seperti biasa Sophie terlihat santai jika sakit. Tidak menunjukkan kesakitan ataupun rengekan yang berlebihan. Dia sering tidur dan sesekali merasa kurang nyaman yang akan cepat teratasi begitu dia nenen. Panasnya hingga mencapai 39 derajat. Sayangnya Kompres hanya bisa diberikan saat dia tertidur, selebihnya dia akan membuangnya. Kakek neneknya berkomentar mungkin ini gejala mo tumbuh gigi atau pinter, sementara aku mencemaskan yang tidak-tidak. Hari kedua karena keadaan tidak kunjung reda sementara obat penurun panas tak lagi kebal saya memutuskan membawa ke dokter Rini di RS. Gandaria tanpa Bunda yang mendadak ada pekerjaan kantor urgent. Herannya saat berada di ruang tunggu panas Sophie berangsur turun. Bahkan saat menemui dokter Rini dia sudah tertawa-tawa sembari memainkan sejumlah boneka di ruang praktek tersebut. [.......]
“Jadi di gundul Yah?” Tanya Bunda di minggu pagi 20 Juli 2009 lalu.
“Jadilah”
“Bukan untuk membuang sial khan”
“Haha bukan, tapi buat mempercantik dia kok”
Ah ayah bagaimana bisa, gundul khan tidak membuat aku makin cantik. Tapi bener juga mungkin. Setelah umur empat puluh hari yang lalu aku di gundul saat upacara kekhahan, hingga hampir 7 bulan ini rambutku belum dipotong sama sekali. Bagaimana akan dipotong, panjang rambutku seakan berhenti dan tumbuh tak merata. Mau tak mau harus dirapikan dan cara yang paling tepat adalah dengan menggundulku kembali. Dan biasanya dengan cara menggunduli kembali rambut akan tumbuh lebih lebat dan rata.
“Tapi ini yang terakhir yah” Ujar ayah menyampaikan syarat. “Ayah gak tega melihat dia tanpa rambut”.
Jadilah minggu pagi itu ayah menyiapkan pisau cukur Gillete dan gunting. Ayah yakin sekali akan menggundulku sendiri. Kalau ditanya apakah berani dan tega, sepertinya ayah sudah bertekat bulat untuk melakukan itu sendiri. Dan menggantikan peran Nenek yang tempo hari mencukur aku. Bunda kebagian tugas menggendong aku sementara Ayah lebih dahulu mencukur semua rambutku dengan gunting.[.......]






