Tak Senarsis Ayah

By Be Samyono (02122007.13.49)

Beginilah resiko bila memilih dokter kandungan yang mempunyai cukup panjang daftar antrian pasien. Meski Dokter Amru harahap di RSB Asih cukup profesional dan sangat ramah namun keterbatasan waktu selalu menjadi kendala untuk konsultasi secara detail ataupun mendiagnosa USG dengan cermat. Hingga Ayah bunda memutuskan untuk secara khusus memeriksakan aku dengan USG 4D di dokter lain yang tak antri namun cukup bisa diajak konsultasi. Dipilihlah dokter Febriansyah di RSB Gandaria. Meski beberapa opini mengatakan bahwa USG 4D hanya merupakan pemeriksaan sekunder/kosmetik belaka namun tak ada salahnya untuk mendeteksi berbagai kemungkinan secara dini. Seharusnya pemeriksaan dengan 4D dilakukan saat aku berumur sekitar 24-29 minggu dengan asumsi besaran baby cukup mudah untuk diperiksa dan telah lengkap organ tubuhnya. Namun hari itu usiaku sudah 32 minggu. Terlambat memangkarena telah cukup besar hingga agak susah untuk dipantau dengan USG. Selain memakan waktu lama memeriksanya gambaryang dihasilkanpun hampir tak ada space. Beruntung dokter Febry melakukan pemeriksaan silang dari 2D ke 4D secara detail sehingga meski beberapa gambar sulit terambil tapi organ-organ tubuh bisa dipantau satu persatu.

Dan seperti biasa aku selalu merasa kurang nyaman dengan pemeriksaan seperti ini. Hingga dokter menyuruh Bunda untuk berulang kali memperbaiki posisi tidur karena aku enggan menunjukkan muka. Berulangkali aku menutup wajah dengan lenganku. Pun saat dokter mulai memeriksa jenis kelaminku kembali aku menyembunyikannya. Dan pemeriksaan kembali menemui kesulitan karena aku mulai menelungkup dengan hanya menunjukkan belakang kepalaku. Wah Ayah bunda jadi tertawa.

“Rupanya dia tak senarcist Ayahnya ya,” Celetuk bunda.

Ayahpun hanya terbahak.

Please follow and like us:
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

You may also like

6 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *