
October 22nd, 2009
Dibilang uban adalah gejala adanya gangguan sintesa protein. Sel melanosit jadi tak mampu lagi menghasilkan pigmen (melanin) sehingga rambut menjadi kehilangan warna, dan dikatakan proses ini akan berlangsung begitu kita menginjak usia 40 tahun. Informasi yang sulit aku amini mengingat saat usiakulepas dari 17 tahun si uban telah menyisip diantara ribuan helai rambut hitamku. Dicabut, itulah langkah awal yang sederhana yang dulu aku lakukan meski efeknya membuta gatal dan merinding. Menginjak kuliah dan kerja temen-teman si uban mulai menyisip dan tak ada yang bisa kulakukan kecuali membiarkan. Hingga puncaknya saat usia 27 an uban ini menjadi tak kepalang. Menolak untuk dicabut dengan alasan sakit semirlah yang akhirnya menjadi solusi. Tak tanggung tanggung warna hitam kebiruan, burgundi, maroon dan dark brownpun pernah diupayakan hanya untuk menutupi si uban. Puncaknya saat wisuda S2 rambutku bener-benar terbakar warna MERAH! Dua tahun terakhir ini rasa insyaf akan semir warna terang membuatku paten memilih Natural Balck sebagai pilihan. Alasan cukup sederhana. Kulit dan mukaku yang dikata lebih mirip orang Nusa Tenggara ini lebih pantas memakai warna hitam daripada warna terang ala koboy yang tak pernah mandi. Kesan kontras lebih nyata daripada terang yang justru membuatku tampak “kumuh”.

Artikel yang mengatakan bahaya menyemir rambut terlalu sering karena mamicu adanya kanker membuatku berfikir ualang akan kebiasaanku yang menyemir rambut tiap 2 bulan. Perlahan aku biarkan semir hitam terakhir memudar seiiring tumbuhnya rambut. Positifnya rambutku menjadi lebih ringan dan lebih mudah diatur karena semir yang biasa melekat hilang, namun disisi lain komentar mulai aku tuai karena teman dan sahabat rupanya takjub melihat rambutku yang sudah memutih hampir sepertiganya dengan tiba-tiba. Bahkan temen-teman di S3 terheran-heran. [.......]
No Comments » | Read on »

October 19th, 2009
Suatu ketika saya lelah sekali dengan kondisi, tidak saja badan saya tapi juga pikiran. Saat seperti ini, kondisi saya tak jauh dari kata autis – tak mampu merespon stimulasi dari luar. Namun sungguh mengherankan, bila stimulasi itu berupa pertanyaan mengenai Baby saya hasilnya akan jauh beda. Entah energi siapa yang membakar, seakan saya tak bisa putus menceritakan baby mungil saya dengan mata terbinar dan kelelahan yang sirna. Mungkin inilah kekuatan semangat yang dibarakan oleh seorang anak yang tak pernah kita sadari saat tersulut.

Cerita mengenai baby sophie selalu indah, selalu membuat tergelak dan gemas meski tak saya pungkiri disisi lain Baby Sophie adalah seorang anak yang kadang tak ubahnya berpolah seperti anak-anak sebayanya, tumbuh dan berkembangan dengan dinamisnya sekurun waktu yang dilaluinya. Ngambek, malas, menangis, mogok ataupun protes merupakan polah lainnya yang juga saya temukan pada sososknya. Dalam menghadapinya reaksi sayapun tak jarang seperti orang tua yang lain yang menjadi jengkel, marah bahkan tak sabaran.[.......]
2 Comments; | Read on »

October 8th, 2009
By Be Samyono (08102009-19.47)
Genap berusia 21 bulan usia Baby Sophie tanggal 2 Oktober lalu. Saya kadang tak sadar akan perkembangan serta perubahannya yang sangat cepat baik fisik maupun pemikirannya. Mungkin hal ini karena saya dan Bundanya selalu bersamanya setiap hari maka taklah terasa perubahan yang terjadi pada dirinya. Baru saya akan terbelalak dan terkaget-kaget bila saya kembali membuka file photo-photo serta video dia yang tersimpan rapi di external disk andalan saya. Terperangah melihat begitu berubah fisiknya tiap bulan dan begitu cepat kebisaannya berkembang. Sepertinya ini menjadi berkah yang sangat saya syukuri dimana saya dan Bunda masih mampu untuk membagi kasih kepadanya melalui tangan kami sendiri serta melihatnya tumbuh dipangkuan kami.

Satu hal yang bohong bila saya tak mempunyai kecemasan terhadap masa depan Baby Sophie. Tidak saja kecemasan bahwa saya tak akan mampu untuk memberikan hal terbaik bagi dirinya, membentuk sesuai dengan kebutuhannya, mendidiknya secara tepat namun juga ketakutan akan banyak hal diluar sana yang tidak bisa selalu kami kendalikan dan awasi.
[.......]
6 Comments; | Read on »

September 3rd, 2009
By Be Samyono (03092009.11.12)
Lebih dari satu tahun ayah tak mengupdet celotehku. Kesibukan kuliah ayah menjadi salah satu penyebab. Agar tidak lupa akan perkembanganku ayah sering menuliskan garis besarnya sebagai note di bukunya. Namun kembali Begitu note itu makin panjang makin tidak sempatlah ayah menuliskannya kembali ke blog. Inginnya ayah menuliskannya secara teratur kembali dari awal, namun melihat kondisi sepertinya itu tidak mungkin. Akhirnya disepakati saja untuk menuliskannya dengan disiplin pelan-pelan maju ke depan walau mungkin itu akan ada flash back pada cerita lama nantinya.

Tanggal 2 september kemarin telah 20 bulan usiaku. Banyak loh yang memuji aku cantik dan pinter. Wah kalau sudah dipuji begini bunda bilang aku suka “caper” ah masa sih. [........]
3 Comments; | Read on »

August 29th, 2009
Bisa dikatakan tennis hanyalah sebuah hoby. Sayangnya permainan ini tidak memungkinkan bagi saya untuk memainkannya sendiri. Harus ada teman. Dan memang itulah yang membuat terasa fun. Meski bila dihitung kini hampir 5 tahun usia Komunitas MHI tennis, namun masih terasa seperti kemarin saja keinginan saya untuk bisa main tenis bisa terlengkapi dengan hadirnya 5 teman main pertama saya. Masih melekat diingatan, waktu itu semuanya sangat

sederhana dan mudah. Kami berlima terkumpul dari milis majalah menshealth, saling bantu mencari lapangan, dapat dan langsung bermain. Se-simple itu. Tak ada hal ribet lain yang harus dipikirkan kecuali bermain. Karena bagaimanapun kami satu hampir satu level permainan dan tak ada masalah administrasi yang dibebankan kecuali iuran per quarter. Hal itu berlangsung hingga 3 bulan kemudian, kami hanya berfikir untuk bisa datang dan bermain itu saja.[........]
No Comments » | Read on »
« Previous Page
Next Page »